Sungai dari Eden/Seluruh Afrika dan Anak-anaknya

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bab 2 – Seluruh Afrika dan Anak-anaknya

Pernyataan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak lebih dari mitos asal-usul modern kita sering dianggap pintar. Di bangsa Yahudi ada Adam dan Hawa, di bangsa Sumeria ada Marduk dan Gilgamesh, di bangsa Yunani ada Zeus dan para dewa lain, di bangsa Nordik ada Valhalla. Apa itu evolusi, kata orang pintar, selain dari versi modern kita atas dewa-dewi dan pahlawan kuno, tidak lebih baik atau lebih buruk, tidak lebih benar atau lebih palsu? Ada filsafat kekinian abalabal yang dinamakan relativisme budaya; dalam bentuk ekstremnya, relativisme itu beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tidak lebih benar dari mitos kesukuan: ilmu pengetahuan itu hanyalah mitologi yang lebih disukai oleh suku Barat modern kita. Saya pernah terpancing oleh seorang kolega antropolog sehingga membuat argumen dengan tegas sebagai berikut: andaikan ada suku, kata saya waktu itu, yang menganggap bahwa Bulan itu hanyalah sebuah labu tua yang dilempar ke langit, dan kini bergantung sedikit di luar jangkauan manusia di atas pohon-pohon. Apakah Anda benar-benar mengklaim bahwa kebenaran ilmiah kita – yakni, bahwa Bulan itu berada sekitar seperempat juta mil dari sini, dan bahwa diameternya sekitar seperempat diameter Bumi – tidak lebih benar dari labunya suku itu? “Ya,” kata si antropolog. “Bedanya, kita dibesarkan dalam kebudayaan yang memandang dunia secara ilmiah. Mereka dibesarkan agar memandang dunia dengan cara yang berbeda. Tidak ada cara yang lebih benar dari yang lain.”

Jika Anda memperlihatkan saya seorang relativis budaya di ketinggian 30 ribu kaki, saya akan memperlihatkan Anda seorang munafik. Pesawat udara yang dibuat menurut prinsip ilmiah berfungsi. Mereka mampu terbang dan mengantar kita ke tujuan yang kita pilih. Pesawat yang dibuat menurut prinsip kesukuan atau mitologis, seperti pesawat palsu yang dibuat kultus kargo di cerang rimba atau sayap Ikaros yang dibuat dengan lilin lebah, tidak berfungsi.[1] Jika Anda terbang ke konferensi internasional antropolog atau kritikus sastra, alasan Anda akan sampai di tujuan – alasan Anda tidak jatuh di ladang – adalah banyak insinyur yang dilatih dalam ilmu pengetahuan Barat mampu menghitung dengan benar. Ilmu pengetahuan Barat, berdasarkan bukti yang meyakinkan bahwa Bulan mengorbit Bumi dengan jarak seperempat juta mil, menggunakan komputer dan roket yang dirancang di Barat, telah berhasil mengirimkan manusia ke permukaan Bulan. Ilmu pengetahuan kesukuan, yang percaya bahwa Bulan berada tepat di atas pohon, tidak akan pernah menyentuhnya kecuali di dalam mimpi.

Saya jarang berceramah di publik tanpa adanya salah satu hadirin yang melontarkan pandangan yang serupa dengan apa yang dikemukakan oleh kolega antropolog saya, dan pandangan itu biasanya diterima oleh para hadirin dengan mengangguk-angguk setuju. Tentu saja mereka yang mengangguk itu menganggap dirinya baik dan liberal dan bukan rasis. Pandangan yang lebih mujarab lagi dalam membuat para hadirin mengangguk adalah “Pada dasarnya, kepercayaan Anda akan evolusi hanya merupakan persoalan iman, dan karena itu tidak lebih baik dari kepercayaan orang lain akan Taman Eden.”

Setiap suku memiliki mitos asal-usulnya – ceritanya yang menjelaskan alam semesta, kehidupan dan umat manusia. Dalam arti tertentu, ilmu pengetahuan memang menawarkan penjelasan semacam itu, setidaknya untuk kalangan masyarakat modern yang berpendidikan. Ilmu pengetahuan bahkan dapat dideskripsikan sebagai agama, dan saya pernah, tidak murni bercanda, menerbitkan argumen singkat untuk ilmu pengetahuan sebagai subjek yang layak dimuat dalam mata pelajaran pendidikan agama.[2] (Di Inggris, pendidikan agama adalah mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah, berbeda dengan Amerika Serikat, yang melarang pendidikan agama karena takut adanya penistaan terhadap salah satu dari beraneka ragam agama yang ajarannya tidak dapat disesuaikan satu dengan yang lain.) Baik ilmu pengetahuan maupun agama melontarkan klaim yang sama: kedua-duanya menjawab pertanyaan mendalam mengenai asal-usul, kodrat kehidupan, dan alam semesta. Tetapi hanya sampai di situ. Kepercayaan ilmiah didukung oleh bukti, dan mendapat hasil. Mitos dan agama tidak seperti itu.

Dari semua mitos asal-usul, cerita Yahudi tentang Taman Eden begitu menyebar di kebudayaan kita, sehingga telah memberi namanya pada suatu teori ilmiah penting tentang silsilah kita, teori “Hawa Afrika.” Saya menulis bab ini sebagian agar bisa mengembangkan analogi sungai DNA, tetapi juga karena saya ingin membedakannya, sebagai hipotesis ilmiah, dengan perempuan pertama legendaris itu di Taman Eden. Jika saya berhasil, Anda akan menganggap kebenaran ilmiah itu lebih menarik, dan mungkin bahkan lebih mengharukan, dibandingkan dengan mitos itu. Kita mulai dengan suatu latihan penalaran murni. Relevansinya akan segera jelas.

Anda mempunyai dua orang tua, empat kakek-nenek, delapan buyut, dan seterusnya. Dengan setiap generasi, jumlah leluhur naik dua kali lipat. Mundur g generasi dan jumlah leluhur adalah 2 dikali 2, g kali: 2 dipangkatkan g. Masalahnya, tanpa usaha sedikit pun untuk membuktikannya secara empiris, kita bisa melihat bahwa itu mustahil. Untuk meyakinkan diri kita soal ini, kita hanya perlu menilik sedikit ke belakang – ke zaman Yesus saja, sekitar 2000 tahun yang lalu. Jika kita mengandalkan perkiraan konservatif, empat generasi dalam satu abad – yaitu, bahwa orang beranak rata-rata pada usia 25 – 2000 tahun terdiri atas hanya 80 generasi. Besar kemungkinan jumlah nyatanya jauh lebih besar dari ini (zaman dulu, perempuan cenderung kawin di usia sangat muda), tetapi ini hanyalah perhitungan asal-asalan, dan cukup untuk membuktikan argumen saya. Dua dipangkatkan 80 adalah bilangan yang besar, angka 1 diikuti 24 nol, satu triliun triliun. Anda mempunyai sejuta juta juta juta leluhur di zaman Yesus, dan saya pun juga! Tetapi total populasi dunia saat itu hanya sebagian kecil dari sebagian kecil dari jumlah leluhur yang baru saja kita hitung.

Tentu kita telah membuat kekeliruan, tetapi di mana? Perhitungannya benar. Satusatunya kesalahan kita adalah asumsi kita tentang peningkatan dua kali lipat setiap generasi. Singkatnya, kita lupa bahwa sepupu bisa menikah. Tadi saya mengira bahwa kita semua mempunyai delapan buyut. Tetapi anak dari pernikahan sepupu sekali hanya mempunyai enam buyut, karena kakek-nenek yang sama dari kedua sepupu itu adalah buyut anaknya melalui dua jalan yang berbeda. “Lalu?” Anda barangkali bertanya. Terkadang orang menikahi sepupunya (istrinya Charles Darwin, Emma Wedgwood, adalah sepupu sekalinya), tetapi apakah hal itu cukup sering terjadi, sehingga berdampak pada perhitungan kita? Sebenarnya berdampak, karena “sepupu” di sini termasuk sepupu dua kali, sepupu lima kali, sepupu enam belas kali dan seterusnya. Ketika sepupu dihitung sejauh itu, setiap pernikahan adalah pernikahan antara sepupu. Terkadang ada orang yang menyombongkan diri karena terhitung sebagai saudara jauh Ratu, tetapi itu bukan prestasi karena kita semua adalah saudara jauh Ratu, dan saudara jauh semua orang lain, melalui lebih banyak jalan daripada yang dapat ditelusuri. Satu-satunya hal yang istimewa tentang keluarga raja atau bangsawan adalah mereka mampu menelusuri keturunannya secara eksplisit. Sebagaimana dikatakan Earl (sebuah gelar kebangsawanan Inggris) ke-14 dari Home ketika gelarnya dihina oleh lawan politiknya, “Saya kira Bapak Wilson, kalau dipikir-pikir, adalah Bapak Wilson ke-14.”

Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa kita semua merupakan saudara yang jauh lebih dekat dari biasanya kita sadari, dan kita mempunyai jauh lebih sedikit leluhur dibandingkan dengan yang diperkirakan dari perhitungan sederhana. Dalam usaha membuat seorang murid menalar seperti ini, saya pernah memintanya agar membuat perkiraan tentang berapa lama di masa lalu ada leluhurnya yang juga leluhur saya. Sambil menatap muka saya dengan tajam, dia menjawab tanpa ragu dengan logat pedesaan pelan, “Kembali ke para kera.” Secara intuitif, perkiraan itu mungkin saja benar, tetapi secara kuantitatif itu sekitar 10.000 persen salah. Ini berarti pemisahannya dapat dihitung dalam jumlah jutaan tahun. Sebenarnya, bisa jadi leluhur bersama kami yang terbaru hidup beberapa abad yang lalu, mungkin lama setelah William Sang Penakluk. Lagi pula, kami tentu menjadi sepupu melalui beberapa jalan yang berbeda.

Model keturunan yang menyebabkan perhitungan kita tentang jumlah leluhur jauh terlalu besar adalah pohon yang terus bercabang, bercabang dan bercabang lagi kembali di masa lalu. Tertelungkup, dan tetap salah, adalah model keturunan pohon yang bercabang di masa depan. Seorang individu biasa mempunyai dua anak, empat cucu, delapan cicit dan seterusnya sampai jumlah keturunan yang mencapai triliunan tak terhitungkan dalam waktu beberapa abad. Model silsilah dan keturunan yang jauh lebih realistis adalah sungai gen yang mengalir, yang sudah kita bahas di bab sebelumnya. Di antara tepi sungai itu, gen itu mengalir terus-menerus melalui waktu. Arus-arus berpisah dan bergabung kembali sementara gennya bertukar-tukaran sepanjang sungai waktu. Ambillah satu ember gen pada beberapa interval tertentu sepanjang sungai. Pasangan molekul dalam ember pernah menjadi kawan sebelumnya, pada interval tertentu di sepanjang perjalanannya di sungai, dan akan menjadi kawan lagi. Mereka juga pernah terpisah jauh di masa lalu, dan akan terpisah jauh lagi. Sulit menelusuri titik kontaknya, tetapi kita bisa pasti secara matematis bahwa kontak itu terjadi – pasti secara matematis bahwa jika dua gen tidak berkontak pada titik tertentu, kita tidak perlu berjalan jauh ke hilir atau ke hulu sebelum mereka berkontak lagi.

Barangkali Anda tidak tahu bahwa Anda adalah sepupu suami Anda, tetapi sangat mungkin secara statistik bahwa Anda tidak perlu menelusuri silsilah Anda jauh ke masa lalu sebelum menemukan titik temu dengan silsilah suami Anda. Jika Anda melihat ke arah sebaliknya, ke masa depan, tampaknya jelas ada kemungkinan besar bahwa Anda dan suami atau istri Anda akan mempunyai keturunan yang sama. Tetapi sekarang, mari kita melihat gagasan yang jauh lebih mengusik. Jika Anda bersama orang banyak – misalnya di konser atau pertandingan bola – lihat di sekeliling Anda ke para hadirin dan pikirkan hal ini: jika Anda masih mempunyai keturunan jauh di masa depan, besar kemungkinan ada orang di konser yang sama yang akan menjadi leluhur bagi keturunan yang sama. Anda bisa berjabatan tangan dengannya serta mengucapkan selamat telah menjadi leluhur bersama. Kedua pasangan kakek-nenek dari cucu yang sama biasanya tahu bahwa mereka sudah menjadi leluhur bersama, dan ini pasti memberinya semacam rasa keakraban, kalaupun bukan teman. Mereka bisa saling memandang dan mengatakan, “Saya tidak terlalu suka orang itu, tetapi DNA-nya sudah bersama dengan DNA-ku dalam cucu kita bersama, dan kita bisa berharap mempunyai keturunan bersama di masa depan, setelah kita sudah tidak ada. Tentu ini mengikat kita.” Tetapi maksud saya adalah, seandainya Anda diberkati dengan keturunan jauh di masa depan, besar kemungkinan bahwa beberapa orang yang tidak Anda kenal di ruang konser itu akan menjadi leluhur keturunan itu bersama dengan Anda. Anda bisa meninjau ruang itu dan berspekulasi tentang individu yang mana, lelaki atau perempuan, yang kelak akan “berbagi” keturunan dengan Anda, dan yang mana yang tidak. Anda dan saya, siapa pun Anda dan apa pun warna kulit atau jenis kelamin Anda, bisa saja menjadi leluhur bersama. DNA Anda mungkin ditakdirkan untuk berbaur dengan DNA saya. Selamat!

Andaikan kita menggunakan mesin waktu untuk pergi ke masa lalu, barangkali ke Koloseum di Roma saat ramai, atau lebih jauh, ke pasar di Ur, atau lebih jauh lagi. Lihat para hadirin, sama seperti yang kita bayangkan untuk hadirin konser modern kita. Sadarilah bahwa Anda bisa membagi individu yang sudah lama mati ini menjadi dua, dan hanya dua, kategori: leluhur Anda dan bukan-leluhur Anda. Itu cukup jelas, tetapi sekarang kita sampai pada suatu kebenaran yang menakjubkan. Jika mesin waktu Anda membawa Anda cukup jauh ke masa lalu, Anda bisa membagi individu yang Anda temukan menjadi leluhur setiap orang yang hidup di 1995 dan mereka yang bukan leluhur siapa pun yang hidup di 1995. Tidak ada kategori di tengah. Setiap individu yang Anda lihat saat keluar dari mesin waktu Anda adalah leluhur manusia universal atau bukan leluhur siapa-siapa.

Ini adalah gagasan yang memesona, tetapi mudah sekali dibuktikan. Anda hanya perlu memindahkan mesin waktu mental Anda ke masa lalu yang sungguh lama sekali: misalnya, 350 juta tahun yang lalu, ketika leluhur kita adalah ikan sirip-bercuping dengan paru-paru, sedang keluar dari air dan menjadi amfibia. Jika salah satu ikan partikular adalah leluhur saya, tidak dapat dibayangkan bahwa dia bukan leluhur Anda juga. Jika tidak, berarti garis keturunan yang menghasilkan Anda dan garis keturunan yang menghasilkan saya berevolusi secara mandiri, tanpa saling merujuk, dari ikan melalui amfibia, reptil, mamalia, primata, kera dan hominid, dan berakhir sangat serupa, sehingga kita mampu saling berbicara dan bahkan kawin, jika jenis kelamin kita berbeda. Apa yang benar tentang Anda dan saya juga benar untuk pasangan manusia mana pun.

Kita telah membuktikan bahwa jika kita berjalan cukup jauh ke masa lalu, setiap individu yang kita temukan pasti adalah leluhur kita semua atau sama sekali bukan leluhur kita. Tetapi seberapa jauh itu? Kita jelas tidak perlu sampai ke ikan sirip-bercuping – itu hanyalah reductio ad absurdum – tetapi berapa jauh kita perlu jalan sebelum menemukan leluhur universal setiap manusia yang hidup di 1995? Itu pertanyaan yang jauh lebih sulit, dan itu yang ingin saya angkat sekarang. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan penalaran murni. Kita butuh informasi nyata, ukuran dari dunia keras fakta partikular. Sir Ronald Fisher, seorang ahli genetika dan matematikawan Inggris yang hebat, yang dapat dianggap sebagai penerus warisan Darwin di abad ke-20 yang paling agung serta pencipta ilmu statistika modern, mengatakan ini pada 1930:

Hanya batas geografis dan sebagainya yang menghalangi persetubuhan di antara ras-ras yang berbeda ... dan fakta itulah yang mencegah seluruh manusia mempunyai, kecuali di 1000 tahun terakhir, keturunan yang hampir identik. Keturunan anggota-anggota satu bangsa tidak terlalu berbeda selama 500 tahun terakhir; 2000 tahun yang lalu, perbedaan yang tersisa hanyalah perbedaan di antara ras etnografis yang berbeda; ini ... bisa saja sangat kuno; tetapi hal ini hanya mungkin terjadi jika untuk kurun waktu yang lama penyebaran darah di antara kelompok yang terpisah hampir tidak terjadi sama sekali.

Dalam bahasa analogi sungai kita, Fisher seakan menggunakan fakta bahwa gen dari semua anggota dalam satu ras yang bersatu secara geografis mengalir dalam sungai yang sama. Tetapi dalam jumlah yang dia gunakan – 500 tahun, 2000 tahun, kekunoan pemisahan ras-ras yang berbeda – Fisher hanya mampu menebak. Fakta yang relevan belum ada saat itu. Sekarang, dengan revolusi biologi molekuler, ada banyak sekali fakta. Biologi molekulerlah yang telah memberikan kita Hawa Afrika yang berkarisma itu.

Sungai digital bukan satu-satunya metafora yang pernah digunakan. Kita juga bisa mengibaratkan DNA dalam diri kita masing-masing dengan Alkitab milik keluarga. DNA adalah teks panjang sekali yang ditulis, seperti sudah kita lihat di bab sebelumnya, dengan aksara empat huruf. Hurufnya disalin dengan teliti dari leluhur kita, dan hanya dari leluhur kita, dengan tingkat fidelitas yang menakjubkan, meskipun leluhur itu jauh sekali. Seharusnya, dengan membandingkan teks yang dilestarikan dalam orang yang berbeda, kita mampu merekonstruksi persaudaraannya sampai di leluhur bersama. Sepupu jauh, yang DNA-nya lebih sempat menyimpang – misalnya, orang Norwegia dan orang aborigin Australia – seharusnya memiliki banyak kata yang berbeda. Sarjana-sarjana Alkitab melakukan penelitian seperti ini dengan versi teks-teks Alkitab yang berbeda. Sayangnya, dalam kasus arsip DNA, ada halangan. Seks.

Seks adalah mimpi buruk bagi pengarsip. Alih-alih menjaga kelengkapan teks kuno agar hanya terganggu sesekali oleh kekeliruan yang tidak dapat dihindari, seks masuk sembarangan dan merusak barang bukti. Seks itu benar-benar mengacaukan arsip DNA. Tidak ada hal seperti itu dalam pengkajian Alkitab. Seorang ilmuwan yang berusaha menemukan asalusul Kitab Kidung Agung, misalnya, menyadari bahwa kitab itu tidak persis seperti yang terlihat pada permukaan. Dalam Kitab Kidung Agung ada bagian yang ganjil, sehingga dapat disimpulkan bahwa teks terdiri atas beberapa puisi yang berbeda yang telah disatukan, dan hanya sebagian dari puisi itu bersifat erotis. Teksnya mengandung kekeliruan – mutasi – khususnya ketika diterjemahkan. “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur” adalah terjemahan yang salah, tetapi memiliki keindahan puitis yang telah diperkuat oleh perulangan terus-menerus yang tidak dapat disaingi oleh terjemahan yang lebih tetap, yakni, “Tangkaplah bagi kami codot-codot itu, codot-codot yang kecil ...”

Puisi itu begitu indah, dan itu membuat saya enggan merusaknya dengan mengatakan bahwa itu pasti mutasi. Tetapi itu hanya kekeliruan kecil, degradasi yang tidak terelakkan dan sudah biasa ketika dokumen tidak dicetak ribuan kali atau diukir di cakram komputer fidelitas tinggi tetapi disalin dan disalin ulang oleh manusia dari papirus yang langka dan mudah hancur. Sekarang, biarkan seks masuk. (Dalam arti yang saya maksud, tidak ada seks dalam Kitab Kidung Agung.) Seks, dalam arti yang saya maksud, adalah sama dengan merobek satu dokumen menjadi dua, lalu memilih fragmen-fragmen secara acak dari salah satu bagian itu dan mencampurkan hasilnya dengan separuh dokumen lain yang dihasilkan dengan cara yang sama. Ini terdengar susah dipercaya – bahkan seperti tindakan vandal – tetapi ini yang persis terjadi kapan pun sel seks dibuat. Misalnya, ketika seorang lelaki membuat sebuah sel sperma, kromosom yang dia warisi dari ayahnya berpasangan dengan kromosom yang dia warisi dari ibunya, dan potongan-potongan besar darinya bertukar posisi. Kromosom seorang anak dicampur-aduk secara yang tidak bisa dikembalikan dari kromosom kakek-neneknya dan bahkan sampai ke leluhurnya. Dari teks kuno semu itu, hurufnya, dan barangkali kata-katanya, dapat bertahan lengkap dari generasi ke generasi. Tetapi bab, halaman, bahkan paragraf dirobek dan disatukan kembali dengan efisiensi yang tidak mengenal ampun, sehingga hampir tidak berguna sebagai sarana untuk menelusuri sejarah. Seks menutupi sebagian besar sejarah leluhur.

Kita bisa menggunakan arsip DNA untuk merekonstruksi sejarah di mana pun tidak ada seks. Ada dua contoh yang penting. Salah satunya adalah Hawa Afrika, dan saya akan membahas dia nanti. Kasus yang lain adalah rekonstruksi atas silsilah yang lebih jauh – dengan melihat hubungan di antara spesies yang berbeda daripada di dalam satu spesies saja. Seperti yang sudah kita lihat di bab sebelumnya, percampuran seksual hanya terjadi di dalam spesies. Ketika spesies orang tua menghasilkan spesies anak, sungai gen bercabang menjadi dua. Setelah mereka menyimpang cukup lama, percampuran seksual di dalam masing-masing sungai bukan lagi halangan bagi pengarsip genetik melainkan penolong dalam merekonstruksi silsilah dan persaudaraan di antara spesies-spesies. Seks hanya mengacaukan barang bukti dalam kasus persaudaraan di dalam satu spesies. Dalam kasus persaudaraan di antara lebih dari satu spesies, seks membantu karena cenderung menjamin secara otomatis bahwa setiap individu merupakan sampel genetik yang baik dari seluruh spesiesnya. Air partikular yang diambil dengan ember dari sungai yang mengalir tidak begitu penting; bagaimanapun, air dalam ember itu pasti mewakili air sungai secara keseluruhan.

Teks DNA yang diambil dari wakil-wakil spesies yang berbeda memang pernah dibandingkan, dengan tingkat keberhasilan tinggi, huruf demi huruf, untuk menyusun bagan silsilah spesies. Menurut salah satu aliran pemikiran yang berpengaruh, kita bahkan mampu menetapkan kapan percabangan terjadi. Kesempatan ini dihasilkan oleh gagasan kontroversial mengenai “jam molekuler”: asumsi bahwa mutasi dalam bagian teks genetik tertentu terjadi pada frekuensi yang konstan per juta tahun. Kita akan kembali ke hipotesis jam-molekuler dalam waktu sebentar.

“Paragraf” dalam gen kita yang mendeskripsikan protein bernama sitokrom c terdiri atas 339 huruf. Dua belas perubahan huruf memisahkan sitokrom c manusia dari sitokrom c kuda, saudara kita yang agak jauh. Hanya satu perubahan huruf dalam sitokrom c memisahkan manusia dari monyet (saudara kita yang agak dekat), satu perubahan huruf memisahkan kuda dari keledai (saudara mereka yang sangat dekat), dan tiga perubahan huruf memisahkan kuda dari babi (saudara mereka yang agak lebih jauh). Empat puluh lima perubahan huruf memisahkan manusia dari ragi, dan jumlah perubahan yang sama memisahkan babi dari ragi. Tidak mengherankan bahwa jumlah ini sama, karena ketika kita menelusuri sungai yang menyebabkan manusia kembali ke arah hulu, sungai kita bergabung dengan sungai yang menyebabkan babi jauh sebelum sungai bersama itu bergabung dengan sungai yang menyebabkan ragi. Namun, penjumlahan ini tidak sempurna. Jumlah perubahan huruf dalam sitokrom c yang memisahkan kuda dari ragi bukan 45 melainkan 46. Ini tidak berarti bahwa babi itu lebih dekat dengan ragi daripada kuda. Mereka sama dekatnya dengan ragi, sama seperti semua vertebrata – dan tentunya, semua hewan. Barangkali perubahan tambahan itu menyelinap ke dalam silsilah kuda sejak zaman leluhur bersama kuda dan babi yang agak baru. Itu tidak penting. Pada umumnya, jumlah perubahan huruf sitokrom c yang memisahkan satu makhluk dari yang lain cenderung sesuai dengan apa yang dapat diperkirakan dari ide-ide sebelumnya mengenai pola percabangan pohon evolusi.

Teori jam molekuler, seperti sudah kita lihat, menganggap bahwa frekuensi perubahan dalam satu teks setiap satu juta tahun rata-rata tetap. Dari 46 perubahan huruf sitokrom c yang memisahkan kuda dari ragi, diperkirakan sekitar separuhnya terjadi saat berevolusi dari leluhur bersama menjadi kuda modern dan sekitar separuh terjadi saat berevolusi dari leluhur bersama menjadi ragi modern (tentu, kedua jalan dalam evolusi itu menghabiskan jumlah jutaan tahun yang persis sama). Pada pandangan pertama, perkiraan ini tampak mengejutkan. Kemungkinan besar leluhur bersama itu lebih menyerupai ragi daripada kuda. Rekonsiliasi berada dalam asumsi yang semakin diterima sejak pertama kali dikemukakan oleh ahli genetika Jepang terkemuka, Motoo Kimura, bahwa sebagian besar teks genetik dapat berubah dengan bebas tanpa memengaruhi makna teks itu.

Analogi yang tepat adalah perubahan fon dalam kalimat cetak. “Kuda adalah mamalia.” “Ragi adalah fungi.” Makna kalimat itu tetap jelas, meskipun setiap kata dicetak dengan fon yang berbeda. Jam molekuler tetap berjalan, menghitung waktu dengan perubahan yang sama seperti perubahan fon yang tidak bermakna, sepanjang berlalunya jutaan tahun. Perubahan yang dipengaruhi seleksi alam dan mengonstitusikan perbedaan di antara kuda dengan ragi – perubahan makna kalimat itu – hanyalah ujung gunung es.

Ada molekul-molekul dengan kecepatan jam yang lebih tinggi dari yang lain. Sitokrom c berevolusi relatif pelan: sekitar satu perubahan huruf setiap 25 juta tahun. Besar kemungkinan evolusinya begitu lambat karena bertahan hidupnya organisme sangat bergantung pada bentuk sitokrom c. Kebanyakan perubahan di molekul yang bentuknya kritis seperti itu tidak ditoleransi oleh seleksi alam. Protein-protein lain, seperti fibrinopeptida, meskipun penting, berfungsi dengan baik dalam banyak bentuk yang berbeda. Fibrinopeptida digunakan dalam pembekuan darah, dan kebanyakan detailnya dapat diubah tanpa mengganggu kemampuannya untuk membeku. Kecepatan mutasi dalam protein-protein ini sekitar satu perubahan setiap 600 ribu tahun, lebih dari 40 kali lebih cepat daripada sitokrom c. Karena itu, fibrinopeptida tidak berguna dalam merekonstruksi silsilah kuno, meskipun berguna untuk merekonstruksi silsilah yang lebih baru – misalnya, dalam mamalia. Ada ratusan protein yang berbeda-beda; masing-masing berubah dengan kecepatan per satu juta tahun yang khusus, dan masing-masing dapat digunakan secara mandiri untuk merekonstruksi bagan silsilah. Mereka semua menghasilkan bagan silsilah yang agak sama – dan itu juga merupakan bukti memadai, seandainya bukti itu dibutuhkan, bahwa teori evolusi itu benar.

Kita memasuki diskusi ini karena kesadaran bahwa percampuran seksual mengacaukan catatan historis. Kita membedakan di antara dua cara untuk luput dari akibat seks. Kita baru membahas salah satunya, yang berasal dari fakta bahwa seks tidak mencampurkan gen di antara spesies. Ini membuka kemungkinan untuk menggunakan rangkaian DNA untuk merekonstruksi bagan silsilah leluhur kuno yang hidup jauh sebelum kita dapat dikenali sebagai manusia. Tetapi kita sudah setuju bahwa jika kita berjalan sejauh itu ke masa lalu, semua manusia pasti menurun dari individu yang sama. Kita ingin menemukan kapan tanggal terakhir kita bisa mengklaim keturunan bersama dengan semua manusia lain. Untuk menemukan itu, kita harus menggunakan jenis bukti DNA yang berbeda. Inilah saat Hawa Afrika memasuki cerita kita.

Hawa Afrika terkadang disebut Hawa Mitokondrial. Mitokondria adalah benda kecil berbentuk belah ketupat yang berkerumun dalam jumlah ribuan dalam setiap sel kita. Mereka kosong di dalam tetapi memiliki struktur interior rumit yang terdiri atas membran yang berlipatlipat. Membrannya jauh lebih luas dari apa yang kita akan kira dari tampilan eksternal mitokondria, dan luas itu digunakan. Membran itu merupakan lini perakitan dalam sebuah pabrik kimia – atau lebih tepatnya, sebuah pembangkit listrik. Suatu reaksi berantai yang dikendalikan secara ketat terjadi sepanjang membrannya – reaksi berantai yang melibatkan lebih banyak tahap daripada reaksi apa pun dalam pabrik kimia manusia. Hasilnya adalah energi, yang berasal dari molekul makanan, dilepaskan tahap demi tahap dan disimpan dalam bentuk yang dapat digunakan ulang agar dibakar kemudian, di mana pun ia dibutuhkan, di mana saja di tubuh. Tanpa mitokondria, kita akan mati dalam waktu satu detik.

Itulah fungsi mitokondria, tetapi di sini kita lebih berurusan dengan asal-usulnya. Pada mulanya, dalam sejarah evolusi kuno, mereka adalah bakteri. Inilah teori menakjubkan Lynn Margulis, seorang peneliti hebat di Universitas Massachusetts di Amherst. Dia mempertahankan teorinya dari permulaannya yang heterodoks, melalui tahap ragu-ragu, hingga saat ini sudah mencapai penerimaan yang hampir universal. Dua miliar tahun yang lalu, leluhur jauh mitokondria adalah bakteri yang hidup bebas. Bersama dengan berbagai jenis bakteri lain, mereka mulai hidup dalam sel yang lebih besar. Komunitas bakteri (“prokariota”) yang dihasilkan menjadi sel besar (“eukariota”) yang hidup dalam tubuh kita. Kita masing-masing merupakan komunitas yang terdiri dari seratus juta juta sel eukariota yang saling bergantung satu sama lain. Masing-masing sel itu adalah komunitas yang terdiri dari ribuan bakteri yang dijinakkan secara khusus dan menghabiskan hidupnya dalam sel, tempat mereka berkembang biak, selayaknya bakteri. Telah diperhitungkan bahwa jika semua mitokondria dalam satu tubuh manusia dibariskan, mereka akan mengelilingi Bumi tidak sekali tetapi 2000 kali. Satu hewan atau tumbuhan merupakan komunitas sangat luas yang terdiri dari komunitas-komunitas lain, semua tersusun dalam lapisan yang saling berinteraksi, seperti dalam hutan hujan. Hutan hujan sendiri adalah komunitas yang bergolak dengan barangkali 10 juta spesies organisme, dan setiap anggota spesies itu adalah komunitas yang terdiri dari komunitas-komunitas bakteri jinak. Teori Dr. Margulis tentang asal-usul – sel sebagai kebun bakteri tertutup – tidak hanya jauh lebih menginspirasi, meriah, dan menyemangati daripada cerita Taman Eden. Teori Dr. Margulis juga hampir pasti benar.

Seperti kebanyakan biolog, saya menganggap teori Margulis itu benar, dan saya hanya menyebutnya di bab ini untuk membahas salah satu implikasinya: mitokondria memiliki DNAnya sendiri, yang merupakan kromosom cincin tunggal seperti dalam bakteri lain. Kini, hal yang ingin saya sampaikan yang disiapkan oleh semua pembahasan di atas. DNA mitokondrial tidak ikut serta dalam percampuran seksual dengan DNA “nuklear” utama tubuh atau dengan DNA mitokondria lain. Mitokondria, seperti banyak bakteri lain, bereproduksi dengan membelah-diri. Kapan pun sebuah mitokondria membelah-diri menjadi dua mitokondria anak, masing-masing anak menerima salinan identik – kecuali ada mutasi – atas kromosom aslinya. Kini Anda melihat keindahan ini, dari sudut pandang kita sebagai genealog jarak jauh. Kita sudah mengetahui bahwa dalam teks DNA biasa kita, pada setiap generasi, seks mengacaukan barang bukti, sehingga kontribusi dari garis keturunan paternal dan maternal tidak dapat dibedakan. Syukurlah, DNA mitokondrial itu selibat.

Kita hanya mewarisi mitokondria dari ibu. Sel sperma terlalu kecil untuk mengandung lebih dari beberapa mitokondria yang memberi energi cukup untuk menggerakkan ekornya sambil berenang menuju ovum, dan mitokondria ini dibuang bersama ekor ketika kepala sperma diserap oleh ovum saat pembuahan. Ovum itu besar sekali dibandingkan sperma, dan bagian internalnya penuh dengan cairan dan kultur mitokondria yang subur. Kultur ini menyemai tubuh anak. Jadi, apabila Anda perempuan atau lelaki, mitokondria Anda menurun dari inokulum awal dari mitokindria ibu Anda. Apabila Anda lelaki atau perempuan, mitokondria Anda semua menurun dari mitokondria nenek maternal Anda. Tidak ada dari ayah Anda, kedua kakek Anda, ataupun nenek paternal Anda. Mitokondria merupakan riwayat masa lalu yang mandiri, tidak terkontaminasi oleh DNA nuklir utama, yang sama kemungkinannya berasal dari masing-masing keempat kakek-nenek Anda, masing-masing kedelapan buyut dan seterusnya.

DNA mitokondrial tidak terkontaminasi, tetapi tidak kebal terhadap mutasi – terhadap kekeliruan penyalinan acak. Sebenarnya, mitokondria mengalami mutasi pada kecepatan lebih tinggi dibandingkan dengan DNA “kita sendiri,” karena (sama seperti semua bakteri) mitokondria tidak memiliki peralatan uji-coba canggih yang telah berevolusi dalam sel kita selama bereon-eon. Ada beberapa perbedaan di antara DNA mitokondrial Anda dengan DNA mitokondrial saya, dan jumlah perbedaan adalah cara mengukur seberapa lama di masa lalu leluhur kita bercabang. Tidak semua leluhur kita, tetapi leluhur di garis keturunan perempuan saja. Seandainya ibu Anda adalah seorang aborigin Australia murni, atau orang Tiongkok murni, atau orang suku !Kung San murni dari Gurun Kalahari, akan ada perbedaan di antara DNA mitokondrial kita yang cukup besar. Tidak penting siapa ayah Anda: dia bisa saja seorang bangsawan Inggris atau kepala suku Sioux, dan hal itu tidak memengaruhi mitokondria Anda. Itu juga berlaku untuk semua leluhur lelaki Anda sepanjang sejarah.

Jadi ada Apokrifa mitokondrial terpisah, diwariskan bersama Alkitab keluarga, tetapi untungnya, Apokrifa ini hanya turun melalui garis keturunan perempuan. Ini bukan diskriminasi seksual; Apokrifa itu akan sama berharganya seandainya turun melalui garis keturunan lelaki. Keunggulan teks ini adalah keutuhannya; ia tidak dipenggal-penggal dan dikombinasikan ulang di setiap generasi. Keturunan konsisten melalui salah satu jenis kelamin tetapi tidak melalui kedua-duanya adalah apa yang kita butuhkan sebagai genealog DNA. Kromosom Y yang, sama seperti nama keluarga, hanya diwariskan melalui garis keturunan lelaki, secara teoretis sama layaknya dengan DNA mitokondrial, tetapi kandungan informasinya terlalu sedikit untuk digunakan. Apokrifa mitokondrial itu ideal untuk menetapkan tanggal leluhur bersama di dalam satu spesies.

DNA mitokondrial juga pernah dieksploitasi oleh sekelompok peneliti yang berkaitan dengan almarhum Allan Wilson di Berkeley, California. Pada 1980-an, Wilson dan koleganya menyampelkan rangkaian dari 135 perempuan hidup dari semua belahan dunia – orang aborigin Australia, orang pegunungan Papua Nugini, orang suku Indian, orang Eropa, orang Tiongkok dan wakil dari berbagai suku di Afrika. Para peneliti melihat jumlah perbedaan huruf yang membedakan setiap perempuan dari setiap perempuan lain. Mereka memasukkan hasilnya ke dalam komputer dan menggunakannya untuk menyusun bagan silsilah paling pelit yang dapat ditemukan. “Pelit” di sini berarti meniadakan semua yang hanya bisa dijelaskan secara kebetulan. Hal ini membutuhkan penjelasan.

Ingatlah kembali diskusi kita sebelumnya tentang kuda, babi dan ragi, dan analisis rangkaian huruf sitokrom c. Anda mengingat bahwa kuda hanya berbeda tiga huruf dengan babi, babi berbeda 45 huruf dengan ragi, dan kuda berbeda 46 huruf dengan ragi. Saat itu kita menarik kesimpulan bahwa, secara teoretis, karena kuda dan babi terhubung oleh leluhur bersama yang relatif baru, seharusnya jarak mereka berdua dari ragi itu persis sama. Perbedaan di antara 45 dan 46 adalah anomali, sesuatu yang secara ideal tidak akan ada. Mungkin itu berasal dari mutasi tambahan saat leluhur bersama berevolusi menjadi kuda atau mutasi balik saat berevolusi menjadi babi.

Ide ini terkesan absurd, tetapi fakta bahwa babi itu lebih dekat dengan ragi daripada dengan kuda dapat dibayangkan secara teoretis. Bisa saja secara teoretis bahwa babi dan kuda berevolusi sehingga begitu serupa (teks sitokrom c-nya hanya berbeda tiga huruf, dan tubuhnya dirancang menurut pola mamalia yang hampir identik) secara kebetulan. Kita tidak memercayainya karena ada jauh lebih banyak cara babi menyerupai kuda dibandingkan dengan cara babi menyerupai ragi. Jujur, ada salah satu huruf DNA dalam babi yang lebih dekat dengan ragi daripada kuda, tetapi ini tidak terlalu meyakinkan dibandingkan dengan jutaan kemiripannya dengan kuda. Ini adalah argumen berdasarkan kepelitan. Jika kita berasumsi bahwa babi dekat dengan kuda, kita perlu menerima hanya satu kemiripan yang kebetulan. Jika kita mencoba berasumsi bahwa babi dekat dengan ragi, kita harus membayangkan serentetan kemiripan kebetulan yang sama sekali tidak realistis.

Dalam kasus kuda, babi, dan ragi, argumen kepelitan terlalu kuat untuk diragukan. Tetapi dalam DNA mitokondrial dari ras manusia yang berbeda, tidak ada kemiripan yang begitu dekat. Argumen berdasarkan kepelitan masih berlaku, tetapi di sini argumen itu halus dan kuantitatif, tidak besar dan mematikan. Ini yang secara teoretis harus dilakukan oleh komputernya. Ia harus membuat daftar semua bagan silsilah yang mungkin mengaitkan 135 perempuan itu. Lalu komputer memeriksa bagan-bagan silsilah itu dan memilih yang paling pelit, yakni, yang meminimalkan jumlah kemiripan kebetulan. Kita harus menerima bahwa bahkan bagan silsilah terbaik akan memaksa kita untuk menerima beberapa hal kebetulan, sama seperti kita terpaksa menerima fakta bahwa, mengenai satu huruf DNA, ragi itu lebih dekat dengan babi daripada kuda. Tetapi – setidaknya menurut teori – seharusnya komputer mampu memperhitungkan itu semua dan menyatakan kepada kita bagan silsilah yang mana dari semua itu yang paling pelit, yang paling sedikit mengandung unsur kebetulan.

Itu menurut teorinya. Secara praktis, ada halangan. Jumlah bagan silsilah yang mungkin ternyata lebih besar dari apa yang dapat dibayangkan oleh Anda, atau saya, atau matematikawan siapa pun. Untuk kuda, babi, dan ragi, hanya ada tiga bagan silsilah yang mungkin. Yang jelasjelas benar adalah [[babi kuda] ragi], dengan babi dan kuda dikelompokkan bersama di dalam tanda kurung paling dalam dan ragi sebagai “kelompok luar” yang tidak bersangkutan. Kedua bagan silsilah teoretis yang lain adalah [[babi ragi] kuda] dan [[kuda ragi] babi]. Jika kita menambahkan makhluk keempat – misalnya, cumi – jumlah bagan silsilah naik hingga 15. Saya tidak akan mencatat 15 bagan silsilah itu, tetapi yang benar (paling pelit) adalah [[[babi kuda] cumi] ragi]. Sekali lagi, babi dan kuda, sebagai saudara dekat, dikelompokkan secara berdekatan dalam tanda kurung paling dalam. Kemudian cumi bergabung, karena leluhurnya dalam keturunan babi/kuda lebih baru dari ragi. Semua bagan silsilah yang lain – misalnya, [[babi cumi [kuda ragi]] – jelas kurang pelit. Kemungkinannya sangat kecil bahwa babi dan kuda berevolusi secara mandiri sehingga begitu serupa, seandainya babi itu sebenarnya lebih dekat dengan cumi dan kuda itu sebenarnya lebih dekat dengan ragi.

Jika tiga makhluk menghasilkan tiga bagan silsilah yang mungkin, dan empat makhluk menghasilkan 15 bagan silsilah yang mungkin, berapa bagan silsilah yang mungkin dapat dihasilkan dari 135 perempuan? Jawabannya, bilangan itu amat besar, sehingga tidak perlu ditulis di sini. Jika komputer terbesar dan tercepat di dunia ditugaskan mencatat semua bagan silsilah yang mungkin, kiamat akan datang sebelum ada kemajuan di tugas komputer itu.

Namun, masih ada harapan untuk masalah ini. Kita sudah terbiasa menjinakkan bilangan yang terlalu besar dengan teknik penyampelan yang bijak. Kita tidak bisa menghitung jumlah serangga di Basin Amazon, tetapi kita dapat memperkirakan jumlahnya dengan menyampelkan bidang-bidang kecil di titik-titik acak di hutan itu dan berasumsi bahwa bidang itu representatif. Komputer kita tidak mampu memeriksa semua bagan silsilah yang mungkin menyatukan 135 perempuan itu, tetapi ia mampu mengangkat sampel acak dari semua bagan silsilah yang mungkin itu. Jika, setiap kali kita mengambil sampel dari gigamiliaran bagan silsilah yang mungkin, kita menyadari bahwa anggota sampel yang paling pelit memiliki corak tertentu yang sama, kita bisa menyimpulkan bahwa bagan silsilah paling pelit memiliki corak yang sama.

Ini yang umumnya telah dilakukan. Tetapi cara yang jelas terbaik belum dipastikan. Sama seperti ahli-ahli entomologi bisa berbeda pendapat mengenai cara terbaik untuk mengambil sampel dari hujan hutan Brazil, para genealog DNA telah menggunakan metodemetode penyampelan yang berbeda-beda. Dan sayangnya, hasilnya tidak selalu sama. Walaupun begitu, saya akan mempresentasikan kesimpulan kelompok Berkeley menurut analisis asli mereka atas DNA mitokondrial manusia. Kesimpulan mereka sangat menarik dan provokatif. Menurutnya, bagan silsilah paling pelit ternyata berakar kuat di Afrika. Ini berarti ada orang Afrika yang hubungannya lebih jauh dengan orang Afrika lain dibandingkan dengan siapa pun di seluruh dunia di luar Afrika. Seluruh dunia di luar Afrika – orang Eropa, orang suku Indian, orang aborigin Australia, orang Tiongkok, orang New Guinea, Inuit, dan lain-lain – semua merupakan sekelompok saudara dekat. Ada orang Afrika yang termasuk dalam kelompok dekat ini. Tetapi ada orang Afrika lain yang tidak. Menurut analisis ini, bagan silsilah paling pelit tampak seperti ini: [Orang Afrika tertentu [orang Afrika yang lain [orang Afrika yang lain lagi [orang Afrika yang lain lagi dan semua orang lain]]]] Demikian kelompok Berkeley menyimpulkan bahwa nenek moyang kita semua tinggal di Afrika: “Hawa Afrika.” Seperti yang sudah saya katakan, kesimpulan ini menimbulkan kontroversi. Peneliti-peneliti lain pernah mengklaim bahwa bagan silsilah yang sama pelitnya dapat dirumuskan dengan cabang paling jauhnya terletak di luar Afrika. Mereka juga mengklaim bahwa kelompok Berkeley mendapat hasilnya yang spesifik karena urutan komputer memeriksa bagan silsilah yang mungkin. Tentu, urutan pemeriksaan seharusnya tidak penting. Kebanyakan ahli masih cenderung mendukung kesimpulan bahwa Hawa Mitokondrial adalah orang Afrika, tetapi mereka tidak terlalu percaya diri.

Kesimpulan kedua dari kelompok Berkeley tidak begitu kontroversial. Di mana pun Hawa Mitokondrial hidup, mereka juga dapat memperkirakan kapan. Sudah diketahui seberapa cepat DNA mitokondrial berevolusi; jadi kita bisa menetapkan tanggal perkiraan pada setiap titik percabangan di bagan silsilah penyimpangan DNA mitokondrial. Dan titik percabangan yang menyatukan semua perempuan – tanggal lahir Hawa Mitokondrial – berada di antara 150 ribu dan 250 ribu tahun yang lalu.

Apakah Hawa Mitokondrial adalah orang Afrika atau tidak, tetap penting bahwa kita menghindari suatu kebingungan yang mungkin terjadi dengan arti lain yang menurutnya tidak dapat diragukan bahwa leluhur kita berasal dari Afrika. Hawa Mitokondrial adalah leluhur semua manusia modern yang relatif baru. Dia adalah anggota spesies Homo sapiens. Fosil hominid yang jauh lebih awal, Homo erectus, juga pernah ditemukan di luar dan di dalam Afrika. Fosil leluhur yang bahkan lebih jauh daripada Homo erectus, seperti Homo habilis dan beragam spesies Australopithecus (termasuk salah satu yang baru ditemukan yang umurnya lebih dari 4 juta tahun), hanya pernah ditemukan di Afrika. Jadi jika kita adalah keturunan dari suatu diaspora Afrika yang terjadi paling lama 250 ribu tahun yang lalu, itu adalah diaspora Afrika yang kedua. Ada keluaran lebih awal, barangkali 1,5 juta tahun yang lalu, ketika Homo erectus mengembara dari Afrika untuk menjajah bagian-bagian dari Timur Tengah dan Asia. Teori Hawa Afrika tidak mengklaim bahwa orang Asia yang lebih awal itu tidak ada, tetapi bahwa mereka tidak menghasilkan keturunan yang masih hidup. Bagaimanapun, kita semua, 2 juta tahun di masa lalu, adalah orang Afrika. Teori Hawa Afrika membuat klaim tambahan bahwa semua manusia yang masih hidup sekarang adalah orang Afrika hanya beberapa ratus ribu tahun di masa lalu. Mungkin, dengan dukungan bukti baru, kita dapat menelusuri semua DNA mitokondrial kembali ke seorang leluhur perempuan di luar Afrika (misalnya, “Hawa Asia”), tetapi kita tetap akan setuju bahwa leluhur kita yang lebih jauh hanya dapat ditemukan di Afrika.

Mari kita membuat asumsi sementara bahwa kelompok Berkeley benar, dan memeriksa apa persisnya makna kesimpulan itu. Sebutan “Hawa” itu menyebabkan konsekuensi yang kurang diinginkan. Ada orang yang menyimpulkan dari nama itu bahwa Hawa Afrika adalah perempuan yang kesepian, satu-satunya perempuan di bumi, titik awal genetik, bahkan pembenaran atas kitab Kejadian sebagai sejarah! Ini adalah kesalahpahaman total. Klaim yang benar bukan bahwa dia satu-satunya perempuan di bumi, ataupun bahwa populasi bumi relatif kecil saat itu. Kawannya, baik lelaki maupun perempuan, bisa saja banyak dan subur. Mungkin banyak keturunan mereka masih hidup saat ini. Tetapi semua keturunan mitokondrianya sudah menghilang, karena hubungannya dengan kita pernah melewati seorang lelaki. Dengan cara yang sama, nama keluarga bangsawan (nama keluarga dikaitkan dengan kromosom Y dan hanya diwariskan melalui garis keturunan lelaki, terbalik dengan mitokondria) dapat menghilang, tetapi itu tidak berarti bahwa orang yang memiliki nama itu tidak menghasilkan keturunan. Mereka bisa saja memiliki banyak keturunan melalui garis yang bukan khusus lelaki. Klaim yang benar hanyalah bahwa Hawa Mitokondrial adalah perempuan paling baru yang merupakan leluhur semua manusia modern melalui garis keturunan khusus perempuan. Harus ada seorang perempuan yang tentangnya hal ini dapat diklaim. Hal yang masih dipersoalkan hanyalah apakah dia hidup di sini atau di sana, pada waktu ini atau waktu itu. Fakta bahwa dia hidup, di suatu tempat dan suatu waktu, sudah pasti.

Berikut, kesalahpahaman kedua – yang lebih umum, dan yang saya bahkan pernah dengar dari ilmuwan terkemuka yang bekerja di bidang DNA mitokondrial. Ini adalah kepercayaan bahwa Hawa Mitokondrial adalah leluhur kita bersama yang terbaru. Kepercayaan itu berdasarkan pada kesalahpahaman mengenai perbedaan di antara “leluhur bersama yang terbaru” dengan “leluhur bersama yang terbaru di garis keturunan khusus perempuan.” Hawa Mitokondrial adalah leluhur bersama kita yang terbaru di garis keturunan khusus perempuan, tetapi ada banyak cara lain untuk memiliki keturunan selain dari garis keturunan perempuan itu. Jutaan cara lain. Mari kita angkat kembali perhitungan kita tentang jumlah leluhur (lupakan saja masalah pernikahan sepupu yang sudah dibahas sebelumnya). Anda memiliki delapan buyut, tetapi hanya satu yang berada di garis keturunan murni perempuan. Anda memiliki 16 buyutbuyut, tetapi hanya salah satu dari mereka yang berada di garis keturunan murni perempuan. Bahkan dengan pengakuan bahwa pernikahan sepupu mengurangi jumlah leluhur kita dalam satu generasi, tetap benar bahwa ada jauh lebih banyak cara menjadi leluhur daripada hanya melalui garis keturunan khusus perempuan. Jika kita menelusuri sungai genetik kita kembali melalui zaman kuno sekali, besar kemungkinan ada banyak Hawa dan banyak Adam – individu pusat, yang tentangnya kita mampu mengatakan bahwa semua manusia di 1995 menurun darinya. Hawa Mitokondrial hanyalah salah satu dari individu pusat itu. Tidak ada alasan partikular untuk mengira bahwa dari semua Hawa dan Adam itu, Hawa Mitokondriallah yang terbaru. Sebaliknya. Dia didefinisikan secara partikular: kita semua menurun darinya melalui salah satu jalan partikular di sungai keturunan. Selain dari jalan murni perempuan, ada banyak jalan lain yang mungkin, dan jumlahnya sangat besar, sehingga sangat tidak mungkin secara matematis bahwa Hawa Mitokondrial adalah leluhur terbaru dari semua Hawa dan Adam yang lain. Jalan ini istimewa karena satu alasan (khusus perempuan). Kebetulan sekali jika jalan itu juga istimewa karena alasan lain (yang terbaru).

Salah satu hal lain yang mungkin sedikit menarik adalah, lebih mungkin leluhur bersama kita yang terbaru adalah seorang Adam, bukan seorang Hawa. Harem perempuan lebih mungkin terjadi dibandingkan dengan harem lelaki, hanya karena lelaki mampu secara fisik menghasilkan ratusan anak, bahkan ribuan. Menurut The Guinness Book of Records, rekor dunia melebihi seribu, dicapai oleh Mulay Ismail Si Haus Darah. (Mulay Ismail juga dapat diangkat oleh para feminis sebagai simbol umum kejijikan kejantanan). Katanya, cara dia menaiki kuda adalah mengeluarkan pedang dan melompat ke atas pelana, sekaligus mengalami orgasme dan memenggal kepala budak yang memegang kekangnya. Hal itu sulit dipercaya, tetapi fakta bahwa legenda itu turun kepada kita, bersama dengan reputasinya untuk membunuh 10 ribu orang dengan tangannya sendiri, barangkali memberi kesan mengenai ciri-ciri apa yang dikagumi di antara lelaki macam itu.) Perempuan, bahkan dalam kondisi ideal, tidak bisa melahirkan lebih dari beberapa puluh anak. Perempuan lebih mungkin mempunyai jumlah anak rata-rata daripada lelaki. Beberapa lelaki bisa mempunyai jumlah anak yang amat besar, dan itu berarti ada lelaki lain yang tidak mempunyai anak. Jika ada yang gagal total dalam reproduksi, itu lebih mungkin lelaki daripada perempuan. Jika ada yang mempunyai jumlah anak yang lebih dari rata-rata, itu juga lebih mungkin lelaki. Ini juga berlaku untuk leluhur bersama terbaru semua manusia, yang karena itu lebih mungkin sebagai seorang Adam daripada seorang Hawa. Jika kita mengangkat contoh ekstrem, siapa yang lebih mungkin sebagai leluhur semua orang Maroko masa kini, Mulay Ismail atau salah satu perempuan di haremnya yang malang?

Kita bisa menarik kesimpulan sebagai berikut: pertama, sudah niscaya bahwa ada seorang perempuan, yang dapat kita sebut sebagai Hawa Mitokondrial, yang merupakan leluhur bersama terbaru bagi semua manusia modern melalui garis keturunan khusus perempuan. Juga niscaya bahwa ada seseorang, yang jenis kelaminnya tidak diketahui, yang kita dapat sebut sebagai Leluhur Pusat, yang merupakan leluhur bersama terbaru bagi semua manusia modern melalui garis keturunan apa saja. Ketiga, meskipun mungkin saja bahwa Hawa Mitokondrial dan Leluhur Pusat adalah orang yang sama, kemungkinannya sangat kecil. Keempat, agak lebih mungkin bahwa Leluhur Pusat itu lelaki daripada perempuan. Kelima, besar kemungkinan Hawa Mitokondrial hidup di bawah 250 ribu tahun yang lalu. Keenam, ada pertikaian mengenai tempat Hawa Mitokondrial hidup, tetapi konsensus masih memilih Afrika. Hanya kesimpulan lima dan enam yang bergantung pada pemeriksaan bukti ilmiah. Satu sampai empat dapat diketahui melalui penalaran murni dari pengetahuan umum.

Tetapi saya sudah mengatakan bahwa leluhurlah yang memegang kunci untuk memahami kehidupan itu sendiri. Cerita Hawa Afrika adalah mikrokosmos picik manusia dari suatu cerita epik yang jauh lebih besar dan jauh lebih kuno. Kita akan menggunakan metafora sungai gen kita lagi, sungai kita dari Eden. Tetapi kita akan menelusurinya melalui skala waktu yang jauh lebih tua dari ribuan tahun Hawa dalam mitos dan ratusan ribu tahun Hawa Afrika. Sungai DNA sudah mengaliri leluhur kita dalam garis yang tidak terputus selama tidak kurang dari 3 ribu juta tahun.

  1. Ini bukan pertama kali saya menggunakan argumen tak terbantahkan ini, dan saya harus menegaskan bahwa sasarannya hanyalah orang yang berpikir seperti kolega labu saya. Ada orang lain yang, membingungkan, juga menyebut dirinya sebagai relativis budaya, padahal pandangannya sangat berbeda dan bahkan bijaksana. Bagi mereka, relativisme budaya berarti kita tidak bisa memahami suatu budaya jika kita menafsir kepercayaannya menurut kerangka budaya kita sendiri. Kita harus memandang setiap kepercayaan budaya dalam konteks kepercayaan lain di budaya itu. Saya menduga bahwa versi relativisme budaya bijaksana ini adalah bentuk asli doktrin itu, dan versi yang saya kritik merupakan penyesatan dari versi asli tersebut, yang sayangnya sudah sangat tersebar. Sebaiknya orang relativis yang bijaksana ini berusaha lebih keras untuk menjauh dari orang relativis konyol.
  2. The Spectator (London) 6 Agustus, 1994.