Terbungkam dalam Kemerdekaan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Terbungkam dalam Kemerdekaan
(2012) 
oleh Fanny Chotimah

Rambutnya telah memutih, kulit keriput, beberapa gigi sudah tanggal. Ia berbalut kebaya kumal berwarna hitam. Hari itu banyak tamu datang, memintanya untuk mengingat kembali masa lalu. Sementara masa lalu harus ia lupakan. Dirinya telah berganti nama menjadi Muka Lomi seorang istri kepala suku Alifuru di Pulau Buru. Saat ia menikah, ia harus bersumpah untuk melupakan masa lalu, meninggalkan bahasa ibu, dan mengganti namanya. Dia harus mengubur dirinya. Adegan ini terekam dalam sebuah Film dokumenter berjudul Mataoli: Kisah para "Ianfu" (2009) disutradarai oleh Ady Widyarta bekerjasama dengan Eka Hindra, seorang peneliti independen Ianfu Indonesia.

Mataoli diambil dari bahasa buru yang berarti kematian berkali-kali. Judul ini diambil mengingat para Ianfu yang mengalami pengalaman pahit berkali-kali. Sangat pahit hingga jiwa serasa mati, meninggalkan raga yang hidup. Mataoli merupakan konsep empat ‘kematian’ Ianfu, kematian pertama adalah ketika mereka dibawa ke pulau Buru untuk dijadikan budak pelampias nafsu seks tentara Jepang. Kematian yang kedua adalah setelah Jepang kalah, mereka harus atau dipaksa menikah dengan para kepala suku yang masih tinggal di hutan-hutan dan hidup nomaden. Kematian yang ketiga mereka disumpah untuk melupakan masa lalunya untuk selama-lamanya, tidak pernah berbicara lagi dengan bahasa asal mereka. Kematian keempat adalah ketika seorang dari perempuan ini hampir berhasil melarikan diri, tapi sial tertangkap di kapal yang akan berangkat keluar pulau Buru, ia akan kembali dibawa ke hutan.
Kisah lainnya tentang seorang Ianfu ialah perempuan bernama Nya Sembar, yang tinggal di Kampung Utaramalaheng. Dulu ia bernama Siti Fatimah lahir pada 1927, anak asisten Wedana Subang, Singadikarta. Ia pernah menamatkan pendidikan schakelschool (sekolah khusus untuk lulusan SD lima tahun). Pada awal pendudukan Jepang, ia duduk di bangku SMP. Pada tahun 1943, pemerintah Jepang merekrut perempuan-perempuan muda di Jawa yang dijanjikan akan di sekolahkan gratis ke Jepang. Ini merupakan salah satu bentuk tipu daya untuk menjadikan mereka sebagai Ianfu. Modus lain di antaranya berupa lowongan pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, dan pelayan rumah makan.
Siti Fatimah diserahkan oleh ayahnya karena sebagai Wedana sang ayah harus memberikan teladan. Ia dibawa ke Bandung dengan motor Jepang. Dibawa lagi dengan kereta api. Lalu naik kapal ke Flores di daerah Kisar, ia tinggal di rumah papan yang dijadikan sebagai Ianjo (rumah bordir). Disiksa dan diperkosa melayani >lima sampai sepuluh prajurit setiap hari, terus menerus sampai berakhir di pulau Buru dan berganti nama menjadi Nya Sembar. Perempuan inilah yang bertemu Pramoedya Ananta Toer dan para tahanan di pulau Buru, mengajari mereka memasak sagu lempeng. Wawancara Siti Fatimah dan Oking keponakannya bisa kita simak dalam buku Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer (Gramedia, 2001) yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.
Kasus Ianfu menguak ke permukaan ketika tahun 1991 Kim Hak Soon, survivor Ianfu asal Korea Selatan membuka suara di hadapan publik. Setelah itu masalah Jugun Ianfu terbongkar dan satu persatu korban dari berbagai negara angkat suara. Di Indonesia, tahun 1992 seorang Teolog Jepang Dr. Koichi Kimura berhasil mewawancarai Tuminah, Ianfu dari Solo. Diperkirakan 200 sampai 400 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun menjadi korban perbudakan seks. Di Indonesia sendiri kurang lebih ada 20.000 korban Ianfu dan sekitar 4 ribu berasal dari pulau Jawa.
Pemerintah Jepang saat ini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktik perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Ianfu. Namun bukti-bukti keterlibatan militer Jepang sangatlah nyata, di antaranya Iokasi-lokasi Ianjo yang tak jauh dari tangsi militer Jepang, lalu perekrutan para perempuan melalui iklan dan surat resmi dari petinggi militer kepada para pejabat lokal seperti bupati, camat, lurah dan RT. Beberapa kasus perekrutan bahkan sangat tak manusiawi, berupa penculikan seperti kasus di Gunung Kidul, di mana para perempuan yang terlihat di jalanan diangkut secara brutal ke dalam truk lalu dibawa pergi. Menurut kesaksian beberapa Ianfu mereka diperiksa oleh dokter militer lalu diambil keperawanannya dengan diperkosa, kadang beramai-ramai. Ianfu memang istilah yang digunakan untuk perempuan penghibur tentara kekaisaran Jepang di masa perang Asia Pasifik, istilah asing lainnya adalah Comfort Woman. Namun dalam kenyataannya Ianfu bukanlah merupakan perempuan penghibur. Tetapi perbudakan seksual yang brutal, terencana, dan merupakan kejahatan perang.
Sikap pemerintah Indonesia saat ini sudah mulai memiliki perhatian terhadap kasus Ianfu, di antaranya dengan memasukkan materi mengenai Ianfu dalam edisi revisi Buku Sejarah Nasional Indonesia, yang terbit tahun 2009. Selain itu pemberian santunan JSLU (Jaminan Sosial Lanjut Usia) sebagai veteran Jepang sebesar tiga ratus ribu rupiah setiap bulan seumur hidup. Saat ini kebanyakan para survivor sudah renta dan hidup dalam kemiskinan. Para survivor yang sudah ditemukan masih sangat sedikit, dikarenakan minimnya peneliti dari negeri kita sendiri yang peduli mengenai kasus Ianfu dan bersedia melakukan advokasi bagi mereka. Berdasarkan fakta tersebut lembaga akademik perlu mengambil inisiatif dan mendukung para mahasiswa untuk melakukan penelitian dan kajian mendalam mengenai kasus Ianfu.
Beberapa wilayah daerah terpencil yang sulit dijangkau, seperti di pulau-pulau kecil Indonesia bagian timur misalnya, yang menjadi pintu gerbang kedatangan Jepang, di sana keberadaan para Ianfu hampir belum terpetakan. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk bekerjasama dengan pemerintah setempat melakukan pendataan dan juga mengurusi kesejahteraan mereka.
Mengenai bangunan-bangunan peninggalan sejarah, seperti markas militer Jepang atau Ianjo di beberapa daerah sudah hancur dimakan usia atau dihancurkan karena tuntutan zaman. Di kota Solo sendiri, markas Kempeitai yang terletak di Jalan Slamet Riyadi pernah difungsikan oleh Hotel Cakra. Namun saat ini mangkrak menjadi bangunan kosong tak terawat. Sementara Ianjo yang terletak di salah satu lokasi di Pasar Gede tak diketahui keberadaannya. Narasi setiap daerah pun menjadi penting, mengingat modus perekrutan dan perlakuan yang berbeda-beda telah digunakan oleh militer Jepang. Sejarah kota perlu dibangun sebagai perspektif lain menuju sejarah bangsa dan dunia.
Para survivor Ianfu telah memasuki usia senja. Mereka tetap mencoba bertahan menjalani kehidupan dan berdamai dengan trauma. Banyak di antaranya tak bisa memiliki keturunan karena rahim yang telah rusak. Puluhan tahun menutup mulut menyimpan nasib yang harus ditanggung sebagai aib. Kehilangan keluarga, kehilangan diri, kehilangan hidup. Peperangan hanya menyisakan sejarah pahit bagi kemanusiaan. Tuminah, Nya Sembar dan beberapa survivor Ianfu lainnya berguguran meninggalkan dunia. Waktu terus bergerak untuk mengubur sejarah dan membungkamnya selama-lamanya. (*)