Tipitaka/SuttaPitaka/MajjhimaNikaya/BhaddekarattaSutta

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

MN 131. Bhaddekaratta Sutta: Hari Keberuntungan Adaptasi terjemahan dari Pali oleh Bhikkhu Thanissaro dan Bhikkhuni Upalavanna


Aku mendengar bahwa pada suatu kesempatan Sang Bhagava tinggal di Savatthi, di Hutan Jeta, di biara pemberian Anathapindika. Di sana beliau berbicara pada para bhikkhu:
"Bhikkhu!"
"Ya, Yang Mulia," jawab para bhikkhu.

Sang Bhagava berkata:
"Bhikkhu, aku akan mengajarkan pada kalian ringkasan dan pemaparan bagaimana seseorang menggunakan hari dengan baik (hari keberuntungan). “
"Baiklah, Yang Mulia," jawab para bhikkhu

 Sang Bhagava berkata:
  
Jangan mengejar masa lalu atau merindukan masa depan.
Yang telah berlalu telah lewat. Masa depan belum terjangkau.
Apa pun fenomena yang hadir, lihatlah dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan.
(Realitas masa kini yang timbul di enam gerbang indra dilihat dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan * <1>)
Tidak terhanyut, tak tergoyahkan, itulah bagaimana kalian seharusnya mengembangkan pikiran.
Dengan semangat melakukan apa yang harus dilakukan hari ini, - siapa tahu - esok kematian tiba.
Tidak ada tawar-menawar dengan kematian & bala tentaranya* <2>.
Siapa pun yang hidup dengan penuh semangat, waspada tanpa henti, baik siang maupun malam, telah benar-benar memanfaatkan hari dengan baik (hari keberuntungan)..
Begitulah kata para bijaksana.
  

"Dan bagaimana, bhikkhu, apakah yang menyebabkan seseorang mengejar masa lalu?
Seseorang terhanyut oleh kegairahan atau keinginan 'Di masa lalu aku memiliki jasmani seperti itu... perasaan... persepsi... bentuk-bentuk batin... kesadaran seperti itu. "
Ini disebut mengejar masa lalu.”
  
"Dan bagaimana seseorang tidak mengejar masa lalu?
Seseorang tidak terhanyut oleh kegairahan atau keinginan 'Di masa lalu aku memiliki jasmani seperti itu... perasaan... persepsi... bentuk-bentuk batin... kesadaran seperti itu. "
Ini disebut TIDAK mengejar masa lalu.”
  

"Bagaimana seseorang merindukan masa depan?
Seseorang terhanyut oleh kegairahan atau keinginan 'Di masa depan aku mungkin memiliki jasmani seperti itu... perasaan... persepsi... bentuk-bentuk batin... kesadaran seperti itu.
Ini disebut merindukan masa depan.”

"Dan bagaimana seseorang tidak merindukan masa depan?
Seseorang tidak terhanyut oleh kegairahan atau keinginan 'Di masa depan aku mungkin memiliki jasmani seperti itu... perasaan... persepsi... bentuk-bentuk batin... kesadaran seperti itu. "
Ini disebut TIDAK merindukan masa depan.”

  
"Bagaimana seseorang terhanyut dalam kaitannya dengan saat kini?

"Ada kasus, bhikkhu, di mana orang yang tidak terpelajar, tidak terlatih, tidak mengenal para Yang Tercerahkan, tidak memahami dan berdisiplin dalam Dhamma, mereka yang tidak mengenal para bijaksana yang memiliki keteguhan; menganggap Jasmani (Rupa) sebagai "diri", atau menganggap Jasmani (Rupa) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Jasmani (Rupa) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Jasmani (Rupa).

"Dia menganggap Perasaan (Vedana) sebagai "diri", atau menganggap Perasaan (Vedana) dimiliki oleh "diri" , atau menganggap Perasaan (Vedana) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Perasaan (Vedana).
 
"Dia menganggap Persepsi (Saňňa) sebagai "diri", atau menganggap Persepsi (Saňňa) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Persepsi (Saňňa) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Persepsi (Saňňa).

"Dia menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) sebagai "diri", atau menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara).

"Dia menganggap Kesadaran (Viňňana) sebagai "diri", atau menganggap Kesadaran (Viňňana) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Kesadaran (Viňňana) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Kesadaran (Viňňana).”

Ini disebut terhanyut dalam kaitannya dengan saat kini

"Dan bagaimana seseorang tidak terhanyut dalam kaitannya dengan saat kini?

"Ada kasus, bhikkhu, di mana orang yang terpelajar, terlatih, mengenal para Yang Tercerahkan, memahami dan berdisiplin dalam Dhamma, mereka yang mengenal para bijaksana yang memiliki keteguhan; TIDAK menganggap Jasmani (Rupa) sebagai "diri", atau menganggap Jasmani (Rupa) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Jasmani (Rupa) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Jasmani (Rupa).

"Dia TIDAK menganggap Perasaan (Vedana) sebagai "diri", atau menganggap Perasaan (Vedana) dimiliki oleh "diri" , atau menganggap Perasaan (Vedana) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Perasaan (Vedana).
 
"Dia TIDAK menganggap Persepsi (Saňňa) sebagai "diri", atau menganggap Persepsi (Saňňa) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Persepsi (Saňňa) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Persepsi (Saňňa).

"Dia TIDAK menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) sebagai "diri", atau menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Bentuk-bentuk Pikiran (Sankhara).

"Dia TIDAK menganggap Kesadaran (Viňňana) sebagai "diri", atau menganggap Kesadaran (Viňňana) dimiliki oleh "diri", atau menganggap Kesadaran (Viňňana) berada di dalam "diri", atau menganggap "diri" terkandung atau berada di dalam Kesadaran (Viňňana).”

Ini disebut TIDAK terhanyut dalam kaitannya dengan saat kini

Jangan mengejar masa lalu atau merindukan masa depan.
Yang telah berlalu telah lewat. Masa depan belum terjangkau.
Apa pun fenomena yang hadir, lihatlah dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan.
(Realitas masa kini yang timbul di enam gerbang indra dilihat dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan * <1>)
Tidak terhanyut, tak tergoyahkan, itulah bagaimana kalian seharusnya mengembangkan pikiran.
Dengan semangat melakukan apa yang harus dilakukan hari ini, - siapa tahu - esok kematian tiba.
Tidak ada tawar-menawar dengan kematian & bala tentaranya* <2>.
Siapa pun yang hidup dengan penuh semangat, waspada tanpa henti, baik siang maupun malam, telah benar-benar memanfaatkan hari dengan baik (hari keberuntungan)..
Begitulah kata para bijaksana.

“Bhikkhu, demikianlah ringkasan dan pemaparan bagaimana seseorang menggunakan hari dengan baik (hari keberuntungan),” kata Sang Bhagava. Berterimakasih, para bhikkhu bergembira dengan kata-kata Sang Bhagava.

CATATAN: 
  1. Hal-hal masa kini, melihat mereka dengan pemahaman saat mereka muncul (paccuppanna ¤ ca yo tattha tattha dhammaü vipassati). Hal-hal yang terus-menerus timbul pada saat ini adalah apapun yang timbul di enam gerbang indra, seperti pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan, dan pemikiran, saat mereka kontak dengan kesadaran. Kemudian setelah terjadi kontak, maka perasaan, persepsi dan bentuk-bentuk batin mengikuti. Semua ini harus dilihat dengan pemahaman yang benar, dan gagasan keliru tentang adanya “Aku/Diri/Atta” harus dibasmi. 

2. Tidak ada tawar-menawar dengan kematian & bala tentaranya (na hi no saügaran tena mahàsenena maccunà). Bala tentara kematian yang dimaksud adalah terdiri dari semua kekotoran-kekotoran batin yang mencemari pikiran, seperti nafsu keserakahan, kebencian, kemalasan , kegelisahan, ketakutan, keraguan, kebingungan, kesombongan, membanding-bandingkan diri, dll.

3. Untuk memiliki sebuah hari yang baik (beruntung), kita tidak seharusnya: - Terhanyut oleh MASA LALU: melamun, mengejar, meratapi, atau menyesali masa lalu, - Terhanyut oleh MASA DEPAN: melamun, mengejar, khawatir, atau takut akan masa depan, - Terhanyut oleh MASA KINI: terperdaya, terguncang, menderita, atau kewalahan oleh realitas di saat kini yang bersentuhan dengan keenam indra (menyerang pikiran melalui semua indra).

Terhanyut oleh masa lalu, masa depan, dan masa kini memiliki arti bahwa pikiran kita diliputi atau terbakar oleh nafsu keserakahan (LOBHA), kebencian (DOSA), dan ketidaktahuan termasuk gagasan keliru mengenai “Aku/Diri/Atta”, tidak malu berbuat jahat, tidak takut berbuat jahat, dll. (MOHA). Mereka menghalangi kita menghargai setiap momen, melakukan hal yang bajik dan bermanfaat di jalan yang benar secara efektif & efisien. Mereka melumpuhkan kita dari memberi manfaat kepada masa kini maupun masa yang akan datang, baik secara internal (diri sendiri) maupun eksternal (orang lain).