Wayang Orang Sriwedari Riwayatmu Kini

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Wayang Orang Sriwedari Riwayatmu Kini
oleh Fanny Chotimah
Lelaki itu mengenakan kembali kostumnya, kostum tua lusuh yang harus tetap terlihat gemerlap oleh sorotan lampu panggung. Ia merias wajahnya menjadi sebuah sosok yang bukan dirinya lagi, menjadi seorang ‘Raja Buto’. Dalam sebuah pertunjukan wayang orang, sebuah lakon yang terus-menerus ia mainkan setiap malam, di dalam gedung tua yang setiap bagian dari plafon-plafonnya bergantian runtuh, lantunan tembang dari mulutnya ditangkap lemah oleh mikrofon yang tidak lagi peka terhadap bunyi, tata pencahayaan panggung ala kadarnya, kursi yang belum penuh terisi, pemain lain yang datang terlambat. Layar sudah dibuka, pertunjukan harus tetap digelar, ada ataupun tiada penontonnya.
Begitulah Wayang Orang Sriwedari menjalankan perannya sebagai sebuah bentuk kebudayaan ‘adiluhung’ yang menjunjung nilai-nilai luhur tradisi.
Harus tetap ada sebagai sebuah warisan, namun terabaikan seolah-olah tenggelam dalam hingar bingar zaman. Harus pula bertempur dengan tayangan-tayangan televisi yang lebih menarik dan menghipnotis. Usia Wayang Orang Sriwedari sudah menginjak satu abad, dan apakah benar jika masa-masa kejayaannya telah usai dan tak kan terulang?
Wayang orang merupakan salah satu jenis teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Lakon yang dipentaskan bersumber pada cerita-cerita wayang purwa seperti Mahabarata dan Ramayana. Wayang orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya I (1757-1795). Pada mulanya semua penari wayang orang terdiri atas abdi dalem istana yang berkelamin pria, tidak ada penari wanita. Kesenian ini dipentaskan secara terbatas. Pada pemerintahan Mangkunegara V sudah ada upaya untuk memasyarakatkan pertunjukan wayang orang, walaupun masih tetap terbatas hanya bisa dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya.
Pada masa Mangkunegara VI, perekonomian Mangkunegaran benar-benar mengalami kemerosotan. Beberapa kebijakan yang diambilnya berpengaruh juga pada kemunduran seni wayang orang, seperti kebijakan menyederhanakan berbagai kegiatan upacara dan pertunjukan kesenian bahkan meniadakan pertunjukan wayang orang di dalam istana. Dampak dari salah satu kebijakan ini adalah seni wayang orang tidak lagi dimonopoli oleh kalangan istana. Hal ini dikarenakan para abdi dalem yang dulu bekerja sebagai pemain wayang orang diberhentikan oleh Mangkunegara VI karena kebijakannya, mulai membentuk grup wayang orang di luar istana. Seorang pengusaha Tionghoa bernama Gan Kam yang pada masa akhir pemerintahan Mangkunegoro V sekitar tahun 1895, telah muncul sebagai cikal bakal grup wayang orang pertama yang pentas di luar tembok istana. Gan Kam menggelar pertunjukan wayang orang dengan panggung proscenium ala opera Barat dengan menarik bayaran bagi penontonnya.
Usaha memasyarakatkan kesenian ini semakin pesat ketika Sunan Pakubuwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan wayang orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sriwedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.
Karena ternyata kesenian wayang orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, berbagai perkumpulan wayang orang muncul; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang Sriwedari di Surakarta dan wayang orang Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari didirikan pada tahun 1911 dan merupakan kelompok budaya komersial pertama dalam bidang seni wayang orang. Penyelenggaraan pertunjukan wayang orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali wayang orang masuk dalam siaran radio, yaitu Solosche Radio Vereeniging , yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.
Melihat perkembangan yang semakin baik, maka dibangunlah gedung wayang orang yang terletak di lingkungan Taman Sriwedari atau ”Bon Rojo”. Gedung Wayang Orang Sriwedari dibangun secara permanen pada tahun 1928–1930, dengan kapasitas gedung yang dapat menampung sekitar 500 penonton. Di samping itu, penonton yang tidak dapat masuk gedung dapat melihat pertunjukan dari luar gedung melalui anyaman kawat yang dipasang di atas tembok setinggi satu meter. Pertunjukan wayang orang semakin diminati oleh masyarakat luas. Melihat perkembangan itu, pada tahun 1951 dibangun gedung baru yang lebih besar dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 1000 orang.
Wayang Orang Sriwedari semakin terkenal, dan memunculkan bintang-bintang panggung, di antaranya Darsi, Rusman, Soerono dan Mradjak. Nama Darsi, Rusman, dan Soerono mendapat julukan sebagai ”DRS”, kependekan dari nama mereka. Bahkan mereka mendapat perhatian dan menjadi kesayangan Presiden Soekarno pada masa pemerintahannya. Sehingga Wayang Orang Sriwedari menjadi pertunjukan yang dipertontonkan di dalam Istana Negara, dan menjadi salah satu jamuan pertunjukan bagi para tamu negara pada waktu itu. Lakon-lakon wayang orang yang fenomenal kala itu, antara lain fragmen Srikandi Edan dan Gatotkaca Gandrung. Wayang Orang Sriwedari menjadi daya tarik kota Solo. Pertunjukan wayang orang semakin semarak, dan mencapai kejayaannya pada tahun 1970-an. Di tahun-tahun berikutnya, jumlah penonton terus mengalami penurunan. Sempat mati suri dengan jumlah penonton hanya 25-30 orang setiap malam. Terbayang betapa suwungnya keadaan sebuah gedung dengan kapasitas seribu penonton itu.
Pada tahun 2011 pemerintah kota Solo yang ketika itu masih dipimpin oleh Joko Widodo, mewacanakan ihwal revitalisasi Wayang Orang Sriwedari. Maka dibentuklah sebuah Komite Revitalisasi Wayang Orang Sriwedari yang beranggotakan para budayawan, seniman, akademisi, sekaligus praktisi. Gempuran modernisasi dan budaya populer memang tidak bisa dihindari. Tentu Wayang Orang Sriwedari sebagai sebuah kesenian tradisi harus mampu memetakan kembali posisinya saat ini.
Gedung pertunjukan yang tidak representatif, kursi penonton yang kurang nyaman, dan berbagai perlengkapan panggung yang tidak memadai merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dan mendesak untuk segera dibenahi. Namun rencana revitalisasi gedung ini masih terbentur akan status kepemilikan taman Sriwedari yang masih dalam sengketa antara pewaris dari pihak Keraton dan pemerintah kota. Pemerintah berdalih menunggu kejelasan akan status kepemilikan tanah, baru setelah itu akan dibangun sebuah gedung yang representatif. Perbaikan gedung wayang orang terakhir dilakukan tahun 1994 dengan bantuan dana dari pemerintah Jepang.
Kita bisa belajar dari Singapura, Jepang atau Cina yang sangat serius dalam mengurusi seni tradisi dengan tampilan kekinian. Mereka tak main-main dalam menggarap sebuah produksi seni pertunjukan. Mereka berani membangun sebuah gedung pertunjukan megah yang sanggup memberi prestise dan kebanggaan bangsa, belum lagi didukung oleh manajemen yang profesional dan gencarnya promosi dalam berbagai bentuk media, baik cetak dan elektronik.
Sementara itu Wayang Orang Sriwedari masih belum ditangani secara profesional dan sepertinya tertatih-tatih menghadapi tantangan zaman yang berlari cepat. Lakon klasik dan setia pada pakem memang harus dipertahankan. Namun akan sangat disayangkan jika nilai-nilai luhur tersebut tidak bisa tersampaikan. Faktor bahasa memang bisa menjadi salah satu penghalang tapi tentu saja bisa diatasi. Dengan menghadirkan sebuah layar LCD yang menuliskan sinopsis cerita dan keterangan setiap adegan dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris misalnya, sudah dilakukan oleh pihak Wayang Orang Sriwedari dan patut diapresiasi. Hanya saja kondisi teknis seperti kualitas LCD yang masih buruk, alih-alih menambah nilai pada pertunjukan malah sebaliknya menjadi sangat mengganggu. Kemasan pertunjukan wayang orang pun harus disuguhkan lebih kreatif dan lebih dinamis.
Untuk meningkatkan kesejahteraan para pemain Wayang Orang Sriwedari, pemerintah kota Solo telah menetapkan dan mengangkat para pemain tersebut sebagai Pegawai Negeri Sipil. Gaji bulanan beserta tunjangan pensiun cukup membantu dan memberi dampak positif bagi kehidupan para pemain. Namun disinyalir bahwa hal tersebut memberi dampak negatif; etos dan kreatifitas para pemain menjadi stagnan. Meski tidak semua, ada saja beberapa pemain yang tidak memenuhi jadwal pentas ataupun tidak merasa memerlukan latihan karena sudah merasa cukup puas atas performa panggungnya. Pola lama yang masih menggunakan pembagian kasting pemain dan balungan lakon yang akan dipergelarkan, dilakukan sesaat sebelum pertunjukan, juga menjadi penyebab sehingga pemain tidak dapat mempersiapkan perannya lebih baik, termasuk interaksi di antara pemain kurang kompak, karena tidak dilakukan latihan sebelumnya. Penampilan yang tidak maksimal seperti ini menyebabkan sulit munculnya primadona atau bintang panggung yang sangat diperlukan bagi sebuah seni pertunjukan wayang orang.
Dari segi regenerasi tampaknya Pemerintah Kota Solo sudah melakukan beberapa upaya. Dimulai dari regenerasi penonton kalangan usia muda, mulai dari anak-anak pelajar dan mahasiswa, telah digelar pertunjukan pagi hari tanpa dipungut bayaran. Pemerintah pun aktif mengundang sejumah sekolah dan lembaga pendidikan untuk menonton. Biasanya dilakukan dalam lingkup perkecamatan secara berganti-gantian disesuaikan dengan jadwal dan kapasitas gedung. Sedangkan untuk regenerasi dari para pemain, beberapa sanggar budaya masih bertahan diramaikan oleh bocah-bocah yang antusias mempelajari seni tradisi di antaranya Sanggar Metta Budaya, Sanggar Tari Soerya Soemirat GPH Herwasto Kusumo, Sanggar Sono Puspa Budaya, Sanggar Sarwi Retno Budaya, Sanggar Eka Santi Budaya, Sanggar Krida Budaya, dan Sanggar Galuh Art yang juga aktif mengikuti Festival Wayang Bocah yang menjadi agenda rutin pemerintah kota Solo setiap tahun. Dan tentu saja di lingkungan Wayang Orang Sriwedari sendiri sudah dilakukan regenerasi pemain dengan melibatkan pemain-pemain yang lebih muda.
Sementara itu inisiatif warga solo sendiri terlihat di dalam jejaring sosial dengan munculnya Grup Wayang Orang Sriwedari yang rutin mengunggah jadwal dan lakon yang dimainkan setiap hari. Selain sebagai ajang promosi, Grup ini aktif mengadakan diskusi kecil dari para penonton akan lakon yang sudah ditonton, media semacam ini bisa menjadi sarana interaksi antara penonton, para pemain, sutradara juga tim manajemen Wayang Orang Sriwedari.
Dalam segala keterbatasannya setiap pihak yang merasa memiliki Wayang Orang Sriwedari, sudah melakukan apa yang bisa dilakukan untuk kelangsungan hidup Wayang Orang Sriwedari saat ini. Kendati rencana revitalisasi belum bisa terealisasi, dalam kurun 2 tahun ini jumlah penonton mulai memperlihatkan kenaikan meskipun belum cukup signifikan. Setiap harinya 80-100 orang datang untuk menonton sedangkan pada hari sabtu malam bisa mencapai angka 200-300 orang. Dengan harga tiket masuk hanya sebesar 3000 rupiah, kita tidak hanya mendapatkan hiburan. Kita turut pula melestarikan warisan leluhur dan merawat budaya bangsa. (*)

Sumber tulisan:[sunting]

  • Sejarah wayang orang di Jawa, Seni Budaya Indonesia
  • Wayang Wong Sriwedari, dari Seni Istana Manjadi Seni Komersial, karya Hersapandi
  • Menjadi Jawa. Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta pada 1895-1998, karya Rustopo
  • Makalah Analisis Penyebab Kemunduran Wayang Orang Sriwedari, oleh B.Walayu, STP Sahid Surakarta.