Apakah Ilmu Psikologi Itu?

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Gambar-gambar yang ada pada halaman ini sedang dimodifikasi untuk keselarasan yang lebih baik dengan naskahnya.

Merupakan bagian dari proyek Memahami Kesehatan Jiwa: untuk Masyarakat Awam. Disunting dan dikembangkan dari bagian pertama Mengenal Psikologi Humanistik (versi halaman Wikibuku).

Asal-Usul Kata Psikologi[sunting]

Salah satu pertanyaan paling umum ketika kita menghadapi perilaku orang lain yang kita tidak duga adalah, "Mengapa ia melakukannya?" Pertanyaan umum yang demikian yang bisa muncul dalam benak siapa saja tersebut adalah salah satu asumsi dasariah yang mengarah pada pendapat bahwa pikiran dan perasaan manusia memang menentukan perilakunya.

Kata psikologi nampak lebih mudah ketika yang dibicarakan hanya tentang asal-muasal kata itu. Kata psikologi secara harfiah berarti “ilmu tentang pikiran” yang terdiri atas dua kata dalam Bahasa Yunani psukhê yang artinya “nafas, jiwa, pikiran” (Bahasa Inggris: breath, soul, mind) dan logos yang artinya “ilmu”. Namun masalah nampak menjadi semakin serius ketika kita ingin menemukan penyebab mengapa arti pikiran menjadi demikian penting.

Banyak ahli tertarik kepada apa yang dilakukan oleh manusia, dan terlebih dari itu banyak orang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam: "Mengapa kita melakukannya?" Sejak pikiran dan perilaku diduga banyak berkaitan satu sama lain, atau dalam bahasa yang lebih mudah: ''pikiran menentukan perilaku'', maka sejak saat itulah psikologi menjadi ilmu yang sangat penting. Ringkasnya, dalam perkembangannya, psikologi bukan hanya menjadi ilmu tentang pikiran namun berkembang lebih luas menjadi ilmu tentang perilaku serta proses-proses dalam diri yang melatarinya, termasuk -- dalam hal ini -- pikiran.

Mungkin Anda bertanya-tanya di mana letak perasaan dalam hal ini. Sebagian ahli psikologi menyatakan bahwa perasaan adalah bagian dari pikiran juga. Perasaaan, tidak lain menjadi ada karena proses-proses yang mirip seperti hadirnya pikiran. Pada ranah klinis dalam Psikologi, perasaan diyakini terwujud sebagai hasil dari proses neuro-kimiawi di dalam otak dan jejaring sel saraf manusia.

Suatu konsep Psikologi dalam peradaban Barat akan dianggap sebuah kajian tentang psikologi yang benar secara keilmuan ketika memang bisa dibuktikan dengan pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen) alih-alih hanya merupakan sebuah teori yang berdasarkan logika murni yang abstrak. Karena prasyarat dari science atau ilmu dalam peradaban Barat adalah empirical yang artinya “berbasis-bukti”, “terlihat”, atau “dialami”.

Dengan demikian, maka latar biologis dan neuro-kimiawi menjadi penting dalam telaah mengenai perilaku. Dengan catatan, bahwa hal ini bukanlah pernyataan yang bebas dari perdebatan yang substansial. (Sebagai pengantar, lihat perbedaan Macam-Macam Aliran Psikologi di bawah).

Aspek-Aspek yang Dicakup oleh Psikologi[sunting]

Robin Williams (1951-2014) adalah salah satu aktor terbaik sepanjang masa. Tidak ada yang mempertanyakan apakah dirinya memiliki kadar penderitaan psikis atau tidak karena Williams mahsyur sebagai komedian dunia dan sangat dikenal sebagai orang yang menyenangkan. Namun peristiwa dirinya mengakhiri hidupnya sendiri pada tahun 2014 telah menimbulkan pertanyaan apakah memang Williams memiliki penyakit yang membuatnya menderita secara psikis sehingga ia mengakhiri hidupnya. Pertanyaan mengenal kadar penderitaan psikis (distress) yang bisa dialami manusia tidak pernah menjadi demikian populer hingga Wiiliams diberitakan meninggal karena mengakhiri hidupnya sendiri.

Secara garis besar, psikologi mencakup area keilmuan berikut ini:

  • Binatang dan manusia Banyak orang yang menyangka bahwa psikologi hanya mempelajari manusia, namun dalam percobaan tentang proses-proses dalam diri ini, binatang juga banyak dilibatkan terutama ketika menghadapi masalah etika tentang objek penelitian yang melibatkan manusia, misalnya ketika menguji-coba sebuah zat percobaan di otak yang belum pernah diketahui hasilnya. Maka dalam hal ini binatang-binatang dianggap pengganti yang lebih berterima secara moral daripada menggunakan objek manusia.
  • Keturunan atau lingkungan Di sepanjang sejarah psikologi selalu ada pertentangan akan mana yang lebih berperan, apakah faktor keturunan atau faktor lingkungan. Faktor keturunan merujuk pada apa yang diwariskan secara turun-temurun secara genetis, dari generasi ke generasi. Sementara faktor lingkungan merujuk pada apa yang terjadi di sepanjang hidup termasuk pengetahuan, pengalaman hidup, trauma, atau luka yang diperoleh fisik misalnya karena kecelakaan lalu-lintas. Walaupun banyak penelitian membuktikan bahwa kedua faktor ini berpengaruh, baik secara sendiri-sendiri maupun dengan cara saling berinteraksi, namun kesimpulan ini tidak cukup untuk menghentikan dilakukannya penelitian-penelitian lainnya yang hasilnya mengarah pada memperkuat atau memperlemah kesimpulan ini.
  • Alam sadar dan alam bawah sadar Sebuah perilaku banyak dipengaruhi oleh kesadaran atau alam sadar kita, namun ada banyak konsep psikologi yang berpendapat bahwa alam bawah sadar yaitu sebuah ranah diri manusia yang terletak di bawah pengetahuan kesadaran diri mempengaruhi latar/motif tindakan dan respon seseorang.
  • Normal dan tidak normal Kadar penderitaan (distress) dan keterbatasan/ketidakmampuan (dysfunction) dijadikan ukuran untuk menentukan apakah pikiran dan perilaku seseorang itu termasuk kategori normal atau tidak normal. Ukuran-ukuran tentang kadar keselarasan dengan lingkungan atau apakah menyimpang dari norma (deviant), ketidakteraturan/ ketidakterkelolaan/ ketidakterkendalian (disruptive), atau bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya (dangerousness) terhadap individu atau masyarakat juga dijadikan tolok ukur untuk menentukannya.
  • Rentang usia Karena faktor lingkungan atau faktor perjalanan hidup di atas banyak berpengaruh kepada pembentukan diri pada manusia, maka psikologi mengkaji keseluruhan perjalanan hidup manusia, namun ada banyak penelitian psikologi yang hanya mengkaji rentang usia tertentu saja, misalnya mengenai masa pra-sakit pada gangguan skizofrenia yang sangat banyak terjadi di usia remaja akhir dan dewasa awal. (Skizofrenia adalah semacam gangguan halusinasi yang dialami dalam jangka waktu yang lama).

Kemunculan Psikologi sebagai Bidang Ilmu[sunting]

Wilhelm Wundt (duduk) dikelilingi oleh mitra kerjanya di laboratorium psikologi pertama di dunia.
Wilhelm Wundt (duduk) dikelilingi oleh mitra kerjanya di laboratorium psikologi pertama di dunia.

Psikologi sebenarnya termasuk ilmu yang muncul belakangan, karena banyak ilmu yang lain – seperti fisika, kimia, atau biologi – berawal di zaman kuna. Psikologi baru menjadi suatu ilmu yang mandiri lepas dari kelimuan lain sejak 1879, sejak Wilhelm Wundt (1832-1920) memulai laboratorium penelitian psikologi resmi pertama di Universitas Leipzig, Jerman.

Sebenarnya ada peneliti-peneliti lain yang memulai lebih awal daripada Wundt, namun Wundt-lah yang yang pertama kali menyebut Psikologi sebagai ilmu berdasarkan eksperimen yang mandiri. Dan menamakan fasilitas-fasilitasnya sebagai laboratorium psikologi. Wundt juga adalah pemula dalam mengadakan jurnal psikologi yang berkonsentrasi pada pembahasan fungsi organ-organ tubuh yang berpengaruh pada proses psikologis.

Apakah Psikologi Berbeda dengan Filsafat?[sunting]

Pembahasan tentang pikiran dan perilaku yang menjadi topik psikologi telah banyak dibahas pada zaman kuna, walaupun pada saat itu belum didirikan sebagai ilmu yang mandiri. Salah satu Ilmu yang menjadi landasan dari Psikologi adalah Filsafat yang menekankan pada pemikiran murni. Selain itu, Psikologi juga menjadikan ilmu pengetahuan alam dan kedokteran sebagai landasannya, yang merupakan dasar kelimuan yang agak berbeda karena lebih menekankan pada aspek fisik dan biologis.

Telah sejak zaman Peradaban Babilonia di Mesopotamia (kini merupakan wilayah yang disebut sebagai Irak) bidang Filsafat membahas tentang tautan antara pikiran dan perilaku. Tulisan-tulisan tentang kepribadian, belajar, dan motivasi telah banyak dibahas sejak zaman peradaban tinggi yang sangat awal, termasuk di Tiongkok, Mesir, dan Yunani Kuna.

Yang menjadi perbedaan antara psikologi dan filsafat adalah penekanan pada pengamatan dan eksperimen. Filsafat hingga sekarang tetap pada jalurnya yang lebih banyak mempertahankan pemikiran murni, sementara Psikologi adalah bidang ilmu dengan berbagai pendapat yang majemuk. Di satu sisi ada ilmuwan dalam Psikologi yang menekankan pada pengamatan dan eksperimen, sementara di pihak lain ia adalah sesuatu yang menekankan pada pemikiran-pemikiran yang abstrak. Jika ada yang berpendapat bahwa perbedaan yang demikian diakibatkan karena semata-mata perkembangan zaman, faktanya adalah hal semacam itu tidak selalu merupakan kenyataan dalam ilmu Psikologi itu sendiri.

Apakah Psikologi berdasarkan pemikiran yang murni ataukah berdasarkan pengamatan/observasi di sepanjang sejarah terjadi seperti lingkaran yang berulang. Untuk memperjelas khusus mengenai hal ini, maka Lampiran dari tulisan ini menyajikan sebuah contoh, yang merupakan salah satu topik utama yang sangat utama dalam ilmu Psikologi, yaitu kaitan antara pikiran dan tubuh. Seperti yang dapat dilihat pada contoh tersebut, merupakan hal yang sangat sulit, menganggap pendapat yang berbeda dalam Psikologi sebagai hal yang mutlak salah dan tidak berguna. Berbagai hal yang terjadi dalam sejarah ilmu Psikologi, dapat dilihat sebagai menyumbang peranannya masing-masing yang unik. Pemikiran dan pendapat yang berbeda-beda dan dari masa ke masa tersebut membentuk sebuah dialog antar berbagai gagasan pemikiran, yang justru sangat berguna untuk mencari solusi yang sebenarnya.

Lampiran tersebut, dapat Anda baca di sini.

Macam-Macam Aliran Psikologi[sunting]

Wilhelm Wundt (1832-1920), pendiri Psikologi modern sekaligus pendiri aliran Strukturalisme dalam Psikologi.

Berikut adalah sebagian dari aliran-aliran dalam Psikologi, dengan catatan bahwa hal ini tentu saja tidak mencakup semua yang ada, karena hingga hari ini Psikologi telah berkembang menjadi sebuah telaah yang sangat luas.

Strukturalisme[sunting]

  • Merupakan Aliran psikologi yang dikembangkan oleh Wilhelm Wundt dan kemudian diperluas oleh Edward Titchener (1867-1927).
  • Strukturalisme adalah aliran psikologi yang mempelajari laporan diri (introspective) oleh manusia normal berusia dewasa. Subjek yang telah terlatih melaporkan secara deskriptif apa saja yang merupakan unsur-unsur dari rangsang (stimulus) yang disajikan kepada mereka. Sebagai contoh, dalam eksperimen Strukturalisme Anda diminta menggambarkan isi naskah, berat, warna, dan tipis-tebalnya sebuah buku berjudul “Siti Nurbaya.” Penggambaran yang serta-merta dengan hanya mengatakan bahwa buku itu adalah sebuah novel tanpa penjelasan secara rinci unsur-unsurnya seperti hal-hal di atas tidak akan dianggap sebagai sebuah pernyataan yang valid dalam aliran psikologi Strukturalisme. Kata struktur-alisme menyatakan kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh para ahli kimia dengan melakukan analisa struktur unsur-unsur kimia.

Fungsionalisme[sunting]

  • Fungsionalisme lahir sebagai kritik terhadap Strukturalisme. Fungsionalisme berpendapat bahwa tujuan dari perilaku lebih penting daripada struktur dari pikiran.
  • Fungsionalisme adalah aliran psikologi yang banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809–1882), yang lebih menekankan pada seleksi alamiah dan tetap bertahan hidupnya suatu spesies. Dengan demikian Fungsionalisme lebih banyak menyelidiki penyesuaian atau adaptasi subjek dalam lingkungan yang berbeda-beda. Secara umum Fungsionalisme mengakui pandangan yang lebih luas ketimbang aliran Strukturalisme, yang memungkinkan untuk melahirkan studi yang lebih luas, misalnya dalam motivasi, emosi, dan penelitian soal kondisi psikologis pada anak-anak.

Behaviorisme[sunting]

  • B.F. Skinner (1904-1990) adalah ilmuwan Behavioris selain John B Watson (1878-1958) yang banyak memberikan sumbangan yang sangat berarti kepada ilmu Psikologi. Di antaranya adalah kotak Skinner (Skinnerian box), yaitu sebuah kotak eksperimen di mana perilaku tertentu dari seekor binatang bisa diperkuat dan diperlemah dengan cara diberikan hadiah dan hukuman, sehingga perilaku yang sesuai keinginan bisa dihasilkan..
    Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang menolak terhadap adanya konsep tentang pikiran karena menurut aliran ini, pikiran bukanlah hal yang dapat diamati. Atau dengan kosakata yang lebih tajam: Behaviorisme adalah mazhab dalam ilmu jiwa yang menolak akan adanya jiwa.
  • John Watson (1878-1958), pendiri aliran psikologi ini berkata bahwa yang relevan dalam penelitian psikologi adalah respon-respon yang dapat diamati. Sehingga ketertarikan dalam aliran ini hanyalah gerakan-gerakan muskular yang melibatkan otot-otot dan sekresi-sekresi kelenjar di dalam tubuh. Tujuan mereka hanya terbatas mempelajari keteraturan dan kaidah yang menautkan interaksi antara rangsang/stimulus dan respon pada manusia. Contohnya, seorang Behavioris tidak akan mengatakan bahwa seseorang sedang bahagia namun lebih memilih untuk mengatakan bahwa seseorang tersenyum atau tertawa.

Psikologi Gestalt[sunting]

  • Psikologi Gestalt berkembang di Jerman dengan ketertarikan khusus pada masalah-masalah penerimaan/persepsi yang melibatkan indera-indera manusia serta penafsirannya. Psikologi Gestalt menekankan bahwa penjelasan-penjelasan mengenai penerimaan/persepsi inderawiah (atau masalah perilaku lainnya) dengan upaya-upaya pada mazhab/aliran psikologi lainnya yang dijelaskan di atas hanyalah sebuah hal yang terpisah-pisah (terfragmentasi), dan Psikologi Gestalt berpendapat bahwa penjelasan-penjelasan di atas gagal untuk menjelaskan sebuah lingkungan sebagai sebuah keseluruhan.
  • Psikologi Gestalt berpendapat bahwa “keseluruhan itu lebih dari (atau berbeda dari) penjumlahan bagian-bagiannya.” Sebagai contoh, jika seseorang menonton film di bioskop sebelum teknologi pemutaran softcopy film ditemukan, maka orang tersebut akan menyaksikan suatu gambar yang bergerak secara sinambung daripada bingkai-bingkai film yang individual dan terpisah-pisah.

Psikologi Psikodinamik[sunting]

{{{box_caption}}}
{{{box_caption}}}
Sigmund Freud (sebelah kiri, 1856-1939) dan Carl Jung (kanan, 1875-1961) semula menjalin relasi guru dan murid yang sangat baik, bahkan Freud berniat menjadikan Jung sebagai penerus trah Psikoanalisis yang didirikan oleh Freud. Namun karena perbedaan dalam pemikiran, kemudian keduanya berpisah jalan dalam hal keilmuan. Namun kebesaran nama Sigmund Freud dan Carl Jung, masing-masing, bahkan setelah berpisah jalan, terutama karena penelitian-penelitian mengenai bawah-sadar, tetap merupakan dianggap sebagai dua orang yang dianggap punya jasa pemikiran yang sangat luar biasa dalam ilmu Psikologi. Tidak terbatas hanya di situ, pemikiran-pemikiran Freud dan Jung juga digunakan dalam berbagai ilmu lainnya, termasuk seni, sastra, dan bidang-bidang humaniora lainnya seperti antropologi (yaitu ilmu yang mempelajari tentang manusia). Meskipun sejumlah gagasan pemikiran mereka telah tergantikan oleh hasil penelitian yang ternyata tidak sesuai dengan simpulan-simpulan mereka, namun gagasan mereka tetap merupakan gagasan yang dianggap sangat kuat menancap di benak banyak orang. Freud dan Jung dianggap sebagai bagian dari para pemikir ulung paling berpengaruh dari abad ke-20.

Psikologi Psikodinamik adalah psikologi yang mempelajari kaitan dan interaksi antara alam sadar dan alam bawah sadar – terutama pada masa yang telah berlalu — yang menentukan kepribadian dan motivasi seseorang pada masa sekarang.

  • Psikologi psikodinamik berawal dengan munculnya konsep Psikoanalisis yang ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Freud melakukan penyelidikan secara sangat rinci tentang perkembangan dan terbentuknya kepribadian dengan penekanan pada pengalaman semasa anak-anak dan alam bawah sadar sebagai sumber motivasi dari orang tersebut.
  • Freud adalah tokoh psikologi yang menemukan, atau setidaknya mempopulerkan, istilah bawah sadar; dan karena pencerahannya pada alam yang berada di luar kesadaran manusia itu maka konsep psikoanalisis Freud berpengaruh luas sekali kepada banyak bidang, misalnya pada dunia seni dengan berdirinya aliran Surrealisme di mana bentuk-bentuk seni yang tak lazim tetap dapat diterima karena dianggap sebagai curahan langsung dari alam bawah sadar.
  • Hingga masa sekarang ini, psikoterapi atau terapi wicara yang berdasar pada konsep psikoanalisis Freud merupakan jenis terapi yang sangat umum, bahkan di negara-negara yang sudah maju dunia kesehatan jiwanya, terapi jenis ini kadang-kadang memiliki klinik khusus dengan ditangani oleh ahli-ahli yang khusus pula.
  • Freud memiliki murid yang bernama Carl Gustav Jung (1875-1961) yang kemudian memisahkan diri dan mengembangkan teori psikoanalisis yang agak berbeda dengan penekanan pada alam bawah sadar bersama yang ia sebut sebagai alam bawah sadar kolektif, yaitu sebuah alam di luar kesadaran yang menjadi penyebab mendasar mengapa begitu banyak cerita rakyat atau mitologi pada suku-suku di satu bangsa atau pada bangsa-bangsa yang berdekatan memiliki kemiripan satu sama lain.
  • Banyak para ahli yang berpendapat bahwa upaya-upaya untuk menjelaskan perilaku dengan hanya menggunakan satu pandangan di atas dinilai tidak berhasil dengan baik. Tidak satupun dari aliran-aliran psikologi di atas dapat menjelaskan semua jenis perilaku. Oleh karena itu dalam perkembangannya, setelah era Psikoanalisis, adalah membatasi ranah studi menjadi aspek-aspek tertentu dari perilaku saja.

Macam-Macam Pendekatan atau Sudut Pandang dalam Psikologi[sunting]

Rollo May (1909–1994) adalah pakar terkemuka dunia yang karya-karyanya banyak membahas "makna" dan "nilai" sebagai manusia disertai cara-cara untuk meraih kedua hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Pemikiran-pemikiran Rollo May yang demikian telah membuat dirinya sering dianggap sebagai salah satu ahli Psikologi dalam ranah humanistik.

Jika hanya dilihat dari sudut pandang atau perspektif keilmuan psikologi yang kemudian berkembang itu maka muncullah psikologi dengan perspektif:

  • Biologis, atau mungkin lebih akurat jika dikatakan sebagai berperspektif Fisiologis, yang menjelaskan perilaku berdasarkan fungsi alat-alat tubuh.
  • Evolusioner, dengan penekanan pada pewarisan secara turun-temurun (genetis), evolusi (yaitu perkembangan secara lambat dalam waktu yang lama), dan seleksi alamiah (yaitu seleksi di alam yang menyingkirkan yang tidak selaras dengan alam dan mempertahankan mereka yang paling adaptif) sebagai pusatnya.
  • Humanistik, dengan penekanan pada pencapaian atau pemaksimalan potensi manusia sepenuh-penuhnya, yang sering disebut dengan aktualisasi diri. (Lihat bagian selanjutnya di bawah).
  • Kognitif, dengan penekanan pada proses-proses mental berpikir, pemrosesan informasi, penggunaan logika, dan pemecahan masalah.
  • Sosiokultural, dengan penekanan pada perbandingan-perbandingan antara suku, etnis, ras, atau kelompok budaya yang berbeda lainnya (misalnya perbandingan antara perilaku masyarakat perkotaan dan perdesaan).

Penutup[sunting]

Sebagai sebuah pengantar sederhana yang memperkenalkan Apakah Psikologi Itu? maka hal-hal lainnya yang relevan namun dapat memperumit pemahaman tidak dijelaskan, misalnya saja pembagian Psikologi berdasarkan jenis keahlian, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Forensik, Psikologi Industri, dan sebagainya.

Kami harap pengantar ringkas ini dapat memberikan gambaran yang menyeluruh bagi Anda, sebagai tulisan yang memperkenalkan ilmu Psikologi kepada masyarakat awam.

Lampiran - Kaitan antara Pikiran dan Tubuh sebagai Contoh Pandangan yang Majemuk[sunting]

René Descartes: Pikiran dan Tubuh adalah Dua Hal yang Terpisah[sunting]

René Descartes (1596–1650)

René Descartes (1596-1650) adalah filsuf yang berpendapat bahwa pikiran dan tubuh adalah dua hal yang terpisah. Sehingga jika diuraikan maka akan bisa dijelaskan dengan ciri-cirinya sebagai dua hal yang berbeda seperti berikut ini:

  1. Pikiran adalah sesuatu yang:
    • non-fisik (abstrak);
    • tidak berbentuk ruang, sehingga ukuran panjang, lebar, dan tinggi tidak dapat diterapkan kepadanya;
    • merupakan tempat di mana kesadaran berada.
  2. Tubuh adalah sesuatu yang sebaliknya, yaitu sesuatu yang sifatnya:
    • fisik (badaniah);
    • memiliki bentuk ruang, sehingga ukuran panjang, lebar, dan tinggi dapat diterapkan kepadanya;
    • Merupakan tempat di mana kecerdasan berada.

Phrenology dan Ilmuwan Perilaku: Pikiran Punya Kaitan yang Sangat Erat dengan Tubuh[sunting]

Ivan Pavlov (1849-1936)

Pendapat René Descartes di atas jelas-jelas secara telak bertolak-belakang dengan pendapat segolongan para ahli, yang dalam istilah lama disebut sebagai ranah ilmu phrenology, yang berpendapat bahwa ada kaitan yang sangat erat antara fungsi-fungsi pikiran dengan lokasi-lokasi tertentu pada area otak. Seorang dokter dari Italia yang hidup pada abad ke-19, yang bernama Biagio Miraglia (1814-1885) bukan hanya menyebutkan demikian, namun juga menyarankan bahwa klasifikasi gangguan jiwa hendaknya dibuat berdasarkan fungsi-fungsi pada area otak yang seperti itu. Temuan Paul Broca (1824-1880), seorang ilmuwan dari Perancis, mengenai kaitan antara fungsi bahasa pada manusia dengan area tertentu pada otak -- sekaligus kaitan antara gangguan dari fungsi berbahasa tersebut dengan area otak yang sama -- telah memulai terbukanya sebuah kesempatan bahwa dapat dibuat sebuah peta otak yang dapat menggambarkan secara akurat kaitan antara fungsi mental tertentu dengan lokasi-lokasi tertentu pada otak.

Seorang ilmuwan Soviet yang bernama Ivan Pavlov (1849-1936), antara tahun 1884 hingga 1886 mengadakan percobaan terhadap binatang di sebuah laboratorium di Rusia, dengan melakukan penelitian yang melibatkan faktor makanan sebagai rangsang dan pengamatan pencernaan dari binatang tersebut; yang dikombinasikan dengan berbagai faktor lainnya, seperti pemberian jenis rangsang yang tidak terduga. Sehingga ia berhasil menemukan kaitan antara perilaku binatang dengan fungsi-fungsi tubuhnya. Pavlov, sejak saat itu, dianggap sebagai pelopor dalam hal penyelidikan perilaku dalam Psikologi.

Sebuah contoh dari peta otak (phrenological maps) dengan keterangan spesifik mengenai fungsi-fungsi pikiran yang berkaitan dengannya (yang ditandai dengan nomor-nomor dan keterangan yang rinci). Ilustrasi ini terdapat dalam Webster's Academic Dictionary yang terbit sekitar tahun 1895. Peta otak (phrenological maps) adalah salah satu upaya awal dalam menemukan kaitan antara fungsi pikiran yang abstrak dengan lokasi-lokasi pada otak yang sifatnya badaniah.

Sigmund Freud: Sesuatu yang Abstrak Disebabkan oleh Hal yang Abstrak Pula[sunting]

Jean-Martin Charcot (1825–1893) adalah seorang dokter yang sangat dihormati oleh Sigmund Freud (1856-1939). Gagasan penelitian Freud mengenai pengaruh bawah-sadar dalam perilaku manusia terinspirasi dari eksperimen Charcot seperti dalam lukisan di atas, di mana Charcot berhasil melakukan hipnosis di muka sebuah perkuliahannya yang dilangsungkan di Paris.

Sebaliknya dari hal tersebut, Sigmund Freud (1856-1939), seorang dokter dari Austria, menerbitkan karya-karya yang merupakan kesimpulan dari penelitiannya terhadap pasien-pasiennya sendiri, yang mengungkapkan bahwa permasalahan kejiwaan yang abstrak disebabkan oleh hal-hal yang abstrak pula; terutama berasal dari konflik-konflik orang tersebut di masa lalu, yang ditekan sehingga menjadi konflik-konflik bawah-sadar. Freud tidak hanya menerbitkan buku-buku yang terbatas mengenai gangguan dan masalah kejiwaan, namun juga menerbitkan telaah mengenai agama, masyarakat, budaya, dan kajian mengenai kehidupan berbagai tokoh terkemuka, dengan landasan yang sama. Sehingga bisa dikatakan -- dalam hal pembicaraan mengenai kaitan antara pikiran dan tubuh ini -- Freud membangkitkan Filsafat ketimbang mengungkapkan kaitan antara hal-hal abstrak dengan hal-hal yang badaniah.

Layak diketahui dalam hal ini, Freud bukanlah seorang yang berpendidikan budaya atau ilmu abstrak lainnya, ia adalah seorang dokter (yang tentu saja banyak menemukan kaitan antara penyakit dengan hal-hal yang badaniah); yang selama kariernya sebagai peneliti terlatih untuk melakukan penelitian anatomi dan jaringan tubuh. Bahkan Jean-Martin Charcot (1825-1893) -- tokoh yang menjadi guru yang sangat ia hormati dan menjadi inspirasi awal bagi pemikiran Freud tersebut -- adalah seorang ahli anatomi sekaligus ahli neurologi kelas dunia. Maka jelas-jelas bahwa Freud mengambil penyikapan yang seperti demikian dalam Psikologi bukan disebabkan oleh terasingnya dia dari berbagai temuan ilmiah yang menautkan antara pikiran dengan tubuh. Namun memang demikianlah kesimpulannya sebagai ahli Psikologi.

Psikologi Humanistik: Memahami untuk Memaksimalkan Semua yang Abstrak[sunting]

Pada akhir dasawarsa 1930-an, sejumlah psikolog yang tertarik kepada masalah-masalah psikologi yang unik mendirikan sebuah mazhab Psikologi yang bernama Psikologi Humanistik sebagai reaksi terhadap apa yang dilakukan oleh Ivan Pavlov dan Sigmund Freud di atas. Aliran yang dipelopori oleh Abraham Maslow, Carl Rogers, and Clark Moustakas ini menekankan bahasan-bahasan yang mereka sebut sebagai hal-hal yang akan mengarah pada pemahaman sejati mengenai keberadaan manusia. Karya-karya mereka membahas tentang (perhatikan, semuanya adalah hal yang abstrak) diri, pemaksimalan potensi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, alam, proses menjadi manusia sejati, individualitas, dan makna.

Psikologi Humanistik seringkali dianggap sebagai sebuah mazhab Psikologi yang merupakan perluasan dari sebuah aliran Filsafat yang bernama eksistensialisme, yang menekankan pengalaman manusia sebagai sudut pandangnya.

Psikologi Kognitif: Seluruhnya, untuk Masa Depan[sunting]

Semua yang diungkapkan di atas bukanlah hal-hal yang termutakhir. Sebuah aliran yang bernama Psikologi Kognitif, memisahkan diri dengan aliran perilaku yang dimulai oleh Ivan Pavlov di atas, karena Pavlov dan penerusnya menolak menyelidiki proses-proses mental dan bawah sadar dengan alasan bahwa dalam sebuah penelitian perilaku, pikiran dan perasaan bukanlah hal-hal yang dapat diamati secara objektif.

Aliran Psikologi Kognitif ini menganggap bahwa kaitan antara pikiran dan otak bukan hanya dapat dipelajari dan ditemukan banyak buktinya, namun juga hal tersebut dapat dipelajari untuk kemudian diterapkan pada pembuatan sebuah teknologi supermodern. Para pakar Psikologi Kognitif menganggap bahwa pikiran dan otak manusia dapat dijadikan model untuk penciptaan peranti lunak (software) dan peranti keras (hardware) komputer, dengan demikian pengetahuan Psikologi mengenai pikiran dan otak tersebut dapat dijadikan pengetahuan untuk membuat kecerdasan buatan (artificial intellligence). Sesuatu yang akhir-akhir ini sudah tampak dalam wujud yang nyatanya, bahkan dipergunakan untuk kepentingan banyak orang, misalnya untuk menganalisa penggunaan bahasa manusia pada aplikasi di media sosial.

Setelah menjadi wacana selama berabad-abad, akhirnya perjalanan panjang mengenai kaitan antara pikiran dan otak bukan hanya menemukan banyak solusi bagi permasalahan manusia itu sendiri namun menghasilkan penciptaan sebuah model yang mungkin dapat menjadi cerminan, dan dapat dijadikan refleksi, bagi diri manusia itu sendiri, sebagai pembuatnya.

Daftar Pustaka[sunting]

Halaman Wikibuku ini semula merupakan bagian dari Wikibuku Mengenal Psikologi Humanistik, namun kemudian dibuat halamannya secara mandiri mengingat tautannya dengan berbagai halaman dalam proyek Mengenal Kesehatan Jiwa. Beberapa pengubahan redaksional telah diterapkan untuk penyesuaiannya sebagai halaman yang mandiri.

  • “Behaviorism” dalam Wikipedia Bahasa Inggris (https://en.wikipedia.org/wiki/Behaviorism). Diakses tanggal 2 September 2018 pukul 19.40 WIB.
  • Cheshire, Katherine & David Pilgrim. A Short Introduction to Clinical Psychology. SAGE Publication. London: 2004.
  • Google Definition. Diakses dengan cara mengetikkan “define:katayangdicariapa” (tanpa tanda kutip) pada mesin pencari Google https://www.google.com .
  • McLeod, S. A. (2018, October 08). Pavlov's dogs. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/pavlov.html
  • Moghaddam, Fathali M. Great Ideas in Psychology: A Cultural and Historical Introduction. One World. Oxford: 2005.
  • Pattakos, Alexander Nicholas. Prisoners of Our Thoughts. 2nd Edition, Revised and Updated. Berrett-Koehler Publishers, Inc. San Fransisco: 2010.
  • Wittig, Arno F. Schaum’s Outlines: Theory and Problems of Introduction to Psychology. Edisi ke-2. McGraw-Hill. New York: 2001.