Lompat ke isi

Kumpulan Cerita Rakyat/Luhuk Badangsanak

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Baca juga Putri Junjung Buih

Dikisahkan Empu Mandastana mempunyai 2 anak kembar yang bernama Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga. Ketampanan mereka luar biasa sehingga banyak para gadis yang menginginkan mereka.

Pada suatu hari, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga bermain di sekitar Istana Putri. Saat itu, putri melihat mereka berdua dan menjatuhkan sekapur sirih dan sekaki bunga Nagasari sebagai tanda mata. Lambung Mangkurat yang melihat kejadian itu menyuruh mereka berdua untuk meninggalkan istana putri. Dia pun memarahi mereka dan melarang untuk bermain di sana.

Lambung Mangkurat menduga kalau Putri Junjung Buih hendak menikahi salah satu dari mereka. Dia tidak terima kalau Bambang Sukmaraga atau Bambang Patmaraga jadi suami raja putri. Lambung Mangkurat tidak ingin tunduk dengan keponakan sendiri. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan keduanya.


Suatu hari dengan alasan mencari ikan bersama, Lambung Mangkurat mengajak kedua keponakannya, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga untuk ikut. Mereka berdua menduga sang paman memiliki niat jahat. Meskipun demikian, mereka memutuskan untuk ikut. Dengan hati yang iba, mereka memohon dan menyatakan selamat berpisah kepada kedua orang tua mereka.

Sebelum berangkat, mereka menanam bunga yang akan menjadi tanda. Mereka berucap bahwa apabila bunga yang mereka tanam ini mati, begitu pula nasib mereka.

Akhirnya, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga ikut pamannya mencari ikan. Di tengah sungai, terjadilah peristiwa pembunuhan yang dilakukan Lambung Mangkurat. Mereka berdua diceburkan ke sungai kemudian dipukul dengan dayung. Lambung Mangkurat bingung karena jasad keduanya tidak muncul ke permukaan. Sejak kejadian tersebut, tempat itu diberi nama Luhuk Badangsanak.

Empu Mandastana, ayah dari Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga terkejut melihat bunga yang ditanam anaknya mati. Betapa sakit hati Empu Mandastana mengetahui bahwa anaknya telah mati. Dengan diliputi kesedihan, Empu Mandastana dan istrinya memutuskan untuk “menyusul nasib anaknya” dengan membunuh diri menggunakan Keris Parang Sari.