Pelayaran Sungai dan Danau/Pelayaran pedalaman

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pelayaran Pedalaman[sunting]

Sejarah pengangkutan sungai di Indonesia dimulai sejak waktu yang cukup lama. Sejak zaman pra sejarah manusia telah melakukan aktivitas transportasi dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pada awal mulanya perahu yang digunakan berupa rakit bambu atau batang kayu besar yang dibentuk dengan membuat lubang ditengah. Perlahan pemikiran manusia semakin maju, berbagai jenis perahu mulai tercipta. Mulai dari rakit bambu (getek), perahu lesung, sampan, sampai perahu boat yang menggunakan tenaga mesin. Pada masa modern pemerintah menggalakkan pengangkutan melalui sungai terutama di daerah pedalaman Kalimantan, Sumatera dan Papua. Sungai dijadikan sarana untuk mengantarkan kayu-kayu hasil tebangan hutan menuju tempat penampungan.

Kegiatan di dermaga sungai Kahayan Kalimantan Tengah

Paskah Suzetta[1] mengatakan bahwa saat ini penyelenggaraan angkutan sungai lebih banyak dilakukan oleh masyarakat terutama di daerah yang belum tersedia prasarana jalan. Transportasi sungai memiliki keunggulan relatif murah, namun pemanfaatannya semakin berkurang terutama pada wilayah yang telah dibangun prasarana jalan dan jembatan.

Banyak sungai yang dapat dimanfaatkan menjadi jaringan transportasi utama di Kalimantan, yang meliputi Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Barito, dan Sungai Mahakam. Di Sumatera meliputi Sungai Musi, Sungai Indragiri, dan Sungai Kampar. Sementara itu di Papua terdapat potensi sungai yang strategis, namun belum dioptimalkan penggunaannya untuk pelayanan transportasi, yakni Sungai Memberamo di bagian selatan Papua Ketiga pulau tersebut juga memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, baik hasil perkebunan maupun hasil tambang. Cadangan batu bara yang cukup besar terdapat di Pulau Sumatera mencapai 27,4 miliar ton, dan di Pulau Kalimantan mencapai 30,1 miliar ton. Di samping itu, ketiga pulau tersebut juga memiliki hasil perkebunan yang cukup besar, seperti kelapa sawit dan komoditas lainnya.

Pengelompokan angkutan sungai[sunting]

Angkutan sungai[2] dan danau bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori sebagai berikut:

  1. Muara sungai dan bagian sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut seperti Palembang, Banjarmasin dan beberapa daerah lain dipengaruhi oleh pasang surut air sungai. Dapat digunakan oleh pelayaran laut sepanjang kedalaman alur mencukupi. Cocok untuk angkutan barang curah, peti kemas.
  2. Sungai besar yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut, bisa dilayari kapal laut sepanjang dilengkapi dengan pintu/lock yang sesuai dengan ukuran kapal.
  3. Perairan lebar atau danau yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut, angkutan dengan kapal khusus sungai, tongkang selalui pintu/lock, masih bisa digunakan untuk angkutan peti kemas.
  4. Terusan/canal sempit merupakan alur pelayaran buatan digunakan untuk angkutan ukuran kecil, tidak cocok untuk peti kemas

Prinsipnya semua perairan bisa dilayari sepanjang kedalaman alur dikendalikan, untuk itu di berbagai negara maju digunakan pintu/lock yang bisa mengendalikan kedalaman alur pelayaran sungai dan danau sehingga daerah yang bisa dihubungkan dengan pelayaran pedalaman menjadi lebih luas. Berdasarkan pengalaman di berbagai Negara di Eropah[3] dimana pemanfaatan alur pelayaran pedalaman di Indonesia perlu dikembangkan, untuk meningkatkan pemanfaatan angkutan pedalaman perlu diambil berbagai langkah :

  • Meningkatkan status angkutan pedalaman pada tingkat local, dalam hal ini kabupaten/kota, pada tingkat regional, dalam hal ini propinsi dan pada tingkat nasional terutama untuk angkutan yang melalui beberapa propinsi ataupun angkutan sungai yang masuk perairan laut.
  • Dengan demikian melakukan investasi infrastruktur angkutan pedalaman sehingga pada gilirannya akan memberikan manfaat jangka panjang dengan peningkatan perekonomian daerah yang terhubung dengan fasilitas perairan pedalaman yang bisa dilayari.

Pelayaran pedalaman dapat dimanfatkan untuk berbagai tujuan, tetapi yang terpenting adalah untuk angkutan barang seperti yang banyak dilakukan di Sungai Musi di Sumatera Selatan, Sungai Barito, Sungai Kahayan, sungai Kapuas. Sungai Membrano, termasuk angkutan penumpang, kegiatan sosial dan budaya serta kegiatan olah raga air yang banyak ditemukan dikota-kota yang dialiri oleh sungai-sungai besar ataupupun arung jeram di hulu sungai yang juga banyak dikembangkan dan dimanfaatkan diberbagai Negara Eropah adalah untuk tujuan wisata air dengan cruise menelusuri sungai yang sangat diminati oleh wisatawan.

Tabel 1. Manfaat alur pelayaran pedalaman[4]

Tujuan Pemanfaatan Manfaat alur pelayaran
Sebagai pembangkit kegiatan
  • Sebagai katalisator pembangunan, ekonomi dan hubungan social masyarakat
  • Meningkatkan nilai pembangunan dan peluang investasi akan meningkat
  • Kontribusi terhadap peningkatan hubungan masyarakat, meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
  • Membangkitkan kegiatan ekonomi jangka panjang dan peluang kesempatan kerja
  • Diversifikasi pembangunan di pedesaan
Olahraga
  • Merupakan tempat yang penting untuk kegiatan olahraga air
  • Meningkatkan kesehatan masyarakat yang berolahraga
  • Jalur olahraga antara perkotaan dengan pedesaan
  • Daerah tepi sungai dapat dijadikan lintasan jogging dan atau bersepeda.
Pariwisata
  • Asset pariwisata yang menarik
  • Menciptakan hubungan antara daerah wisata yang ada dengan daerah wisata baru.
  • Mendukung industri pariwisata
Kebudayaan dan lingkungan alam
  • Merupakan asset budaya yang telah dikembangkan masyarakat setempat, seperti misalnya Pesta Danau Toba
  • Berkontribusi terhadap ruang terbuka
  • Sebagai bagian habitat ikan, hewan atau tanaman tertentu.
Transportasi
  • Merupakan bagian dari sistem transportasi terpadu
  • Menciptakan pilihan rute transport pada tingkat lokal, regional maupun internasional.
  • Merupakan prasarana transportasi air yang penting untuk pergerakan barang dan orang

Dari daftar diatas jelas kelihatan bahwa banyak yang bisa dilakukan untuk pemanfaatan angkutan perairan pedalaman yang di Indonesia belum dikembangkan bahkan ada kegiatan yang belum disentuh sama sekali. Peningkatan pemanfaatan jalur perairan pedalaman akan mendorong perekonomian, kegiatan sosial dan budaya daerah yang dapat terhubungkan dengan jaringan pelayaran pedalaman.

Referensi[sunting]

  1. Pembukaan Seminar Nasional Pembangunan Angkutan Sungai Terpadu (2008)
  2. Department for Transport, Transport Energy Best Practice: Planning for Freight on Inland Waterways. , Office of the Deputy of Prime Minister, London.
  3. Britain's Inland waterways, An Undervalued Asset, Inland Waterways Amenity Advisory Council, London 1996
  4. British Waterways, Waterways & Development plan, London, 2003