Romawi Kuno/Filsafat

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Orang Romawi mulai mempelajari filsafat sejak sekitar 200 SM. Ketika itu, bangsa Romawi menaklukan Yunani, karena itu banyak prajurit dan jendral Romawi yang melakukan kontak dengan para filsuf Yunani.

Bangsa Romawi menyadari bahwa filsuf Yunani semacam Sokrates, Plato, dan Aristoteles telah banyak berkontribusi untuk filsafat. Beberapa orang Romawi menjadi tertarik, dan pada sekitar 50 SM, orang Romawi mulai menulis filsafat mereka sendiri, meskipun sebagian besarnya masih merupakan terjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa latin. Sementara itu Perempuan tidak diperbolehkan belajar filsafat.

Salah satu orang Romawi pertama yang menulis mengenai filsafat adalah Lucretius. Dia mengikuti pandangan filsafat Epikurean Yunani. Dia menulis sebuah syair panjang berjudul Sifat Benda, yang menjelaskan mengenai filsafat Epikurean dalam bahasa latin untuk orang yang tidak bisa berbahasa Yunani.

Filsuf Romawi lainnya adalah Cicero, yang menulis filsafat pada waktu yang hampir sama dengan Lucretius. Cicero merupakan filsuf skeptis. Seperti orang Skeptis lainnya, Cicero berpikir bahwa kita harus mempertanyakan setiap gagasan atau fakta yang kita dapatkan, dan harus selalu bertanya, "Bagaimana mereka tahu itu?" atau "Bagaimana mereka yakin?" atau "Bagaimana dengan hal lainnya?". Cicero mencoba menggunakan filsafat untuk membuat manusia berpikir lebih logis, supaya mereka bisa lebih baik dalam membuat keputusan dalam pemerintahan. Namun Cicero juga mengikuti beberapa gagasan Stoik, terutama bahwa manusia harus mencoba menjadi sebaik mungkin.

Kira-kira seratus tahun kemudian, pada masa kaisar Claudius dan Nero, seorang filsuf bernama Seneca menulis esai mengenai filsafat Stoik. Seneca beranggapan bahwa manusia tidak boleh menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Manusia seharusnya mempergunakan waktunya dengan baik, membuat dunia menjadi lebih baik, dan memperluas pemikiran dengan mempelajari filsafat.

Pada masa-masa akhir Kekaisaran Romawi, banyak pria dan wanita yang mulai berpikir tentang dunia dalam sudut pandang Nasrani. Santo Augustinus dan Santo Ambrosius mempelajari filsafat dari masa sebelumnya dan berusaha menciptakan filsafat Nasrani yang bisa mencakup gagasan Nasrani maupun filsafat Yunani dan Romawi. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, orang-orang tetap berpikir mengenai gagasan tersebut, bahkan ada beberapa perempuan juga. Baik di Kekaisaran Islam maupun Eropa Abad pertengahan, orang-orang seperti Maimonides dan Dante terus berusaha menyatukan agama dengan filsafat.