Habis Gelap Terbitlah Terang/Berilah orang Jawa pendidikan!

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Kartini, diterjemahkan oleh Armijn Pane
Berilah orang Jawa pendidikan!
_______
Peringatan Radèn Ajeng Kartini, yang terlukis dalam suatu surat, yang berkepala:
BERILAH ORANG JAWA PENDIDIKAN!
Jepara, Januari 1903.

Akan memberi suatu bangsa yang banyaknya 27 juta orang pendidikan dengan sekali jalan saja semuanya, itulah suatu hal yang mustahil, tetapi untuk sementara tentulah boléh dididik dan diajar baik-baik orang-orang bangsawan itu dahulu, sehingga boléhlah mendatangkan rahmat untuk meréka orang-orang banyaknya. Orang banyak bangsa Jawa sangat setia kepada bangsa,wann ya; apa saja yang datang dari bangsawan itu mudah sekali diturut oléh orang banyak. Dengan hal yang demikian berapalah besar paédahnya, yang akan menyenangkan hati lagi boléh diterima oléh segala pihak, baik pihak Pemerintah, baik pihak bangsawan, baik pihak orang banyak?

Sampai sekarang yang terutama diusg-hakan hanyalah kesentosaan negeri saja, dan supaya sekalian yang menjadi hasil negeri tetap diterima seperti yang telah d'iaturkan! Dalam hal itu Pemerintah dan orang bangsawan mémanglah banyak mendapat paédahnya, tetapi apakah yang didapat oléh anak-negeri sendiri-? Apakah paédahnya kepada anak-negeri orang-orang bangsawan yang dimuliakan sekian tingginya, yang dipakai oléh Gubernemén untuk memerintahi meréka itu? Sampai sekarang tidak ada apa-apa, atau amat sedikit benarlah kebaikannya; tetapi terbanyaklah kejahatan dari pada kebaikan, kalau sekiranya bangsawan itu salah menggunakan kekuasaannya; hal yang sedemikian bukanlah jarang-jarang terjadinya.

Sekalian itu wajib berubah, orang-orang bangsawan wajib menjadi junjungan anak-negeri hendaklah dengan narganya, yang akan memberi paédah yang tidak berhingga ke­pada anak-negeri.

Kepada keperluan itulah Pemerintah wajib membawa orang-orang bangsawan itu; supaya orang boléh mendapat keperluan yang tersebut, haruslah orang-orang bangsawan itu diberi pendidikan yang senonoh, yaitu pendidikan yang bukan saja bersendi pada `ilmu kepandaian, tetapi juga pendidikan yang sungguh membangunkan tingkah laku, dan budi pekerti yang baik.

PASAR DI JEPARA.

Hal itulah yang harus diingat lebih dulu, kalau hendak memberi orang Jawa pengajaran! Ada orang yang berkata, bahwa budi pekerti yang baik akan datang saja sendiri, apabila orang telah ber'ilmu dan berkepandaian.

tidak terbilanglah contoh-contoh, yang telah menerangkan, bahwa 'ilmu kepandaian yang tinggi itu sekali-kali tidaklah menjadi suatu pengakuan untuk berbudi bahasa yang halus!

Orang tidak boléh menyalahi dengan terburu nafsu apabila méreka yang ber'ilmu dan berpengetahuan tinggi itu beradat kasar dan tidak berbudi pekerti, karena kebanyakan dalam hal itu bukanlah kesalahannya sendiri, hanya salah dari pendidikannya. Orang sangat bersusah payah untuk memajukan 'ilmu kepandaiannya, tetapi apalah yang telah dibuat oleh meréka itu untuk membaiki budi bahasa? tidak ada apa-apa. Ketiadaan pendidikan tingkah laku dan budi-pekerti, maka pelajaran yang sebagus-bagusnyapun tidak sangguplah dapat menghasilkan buah, yang diharap orang kepadanya.

Apalagi untuk didunia Bumiputera amat perlu benar ada suatu sendi yang lebih baik untuk pendidikan budipekerti, sebab apabila sendi itu tidak ada, biarpun berapa jua baiknya atur-aturan Pemerintah hendaknya bagi meréka itu, niscayalah amat sedikit akan memberi paédah atau boléhlah pula sama sekali akan mendatangkan kerugian saja. Dan itulah sebabnya maka orang harus lebih dahulu memperbaiki sendi-sendi pendidikan budi-pekerti untuk Bumiputera itu. Bila sendi yang kukuh telah dibuat dan dipakai, maka barulah boléh orang mendirikan bermacam-macam rumah dengan sejahtera.

Siapakah yang akan membantahi, bahwa dalam hidup bersama-sama itu perlu sekali memikul suatu pekerjaan yang besar untuk pendidikan budi-pekerti? Perempuan, ya, perempuanlah yang layak sekali untuk mengerjakan kerja itu; betul tidaklah sekaliannya, tetapi amat banyak ia dapat menolong mempertinggi kedudukan budi-pekerti Bumiputera dalam hidup bersama-sama.

Alam sendiri telah membahagikan pekerjaan itu kepada perempuan. Bila ia telah menjadi ibu, teruslah ia menjadi pendidik yang pertama untuk kemanusiaan; dalam pangkuannyalah si anak mula-mula belajar merasa, berpikir dan berkatidak'; dan dalam segala hal pendidikan yang pertama-tama itu, bukanlah pendidikan yang tidak ada berarti untuk selama hidup. Tangan bundalah, yang mula-mula sekali meletak- kan biji kebaikan atau biji kejahatan dalam hati manusia, yang acap kali tinggal dan tumbuh disana selama hidupnya. Itulah sebabnya tidak sia-sia orang berkata, bahwa kebaikan atau kejahatan itu telah dicucup orang bersama-sama dengan air susu bundanya. Bagaimanakah bunda-bunda bangsa Jawa akan dapat mendidik anak-anaknya sekarang, kalau ia sendiri tiada dididik? tidak boléhlah kesopanan dan kepandaian bangsa Jawa akan dapat maju kemuka, apabila perempuan dalam hal itu masih tinggal di belakang, dan tidak ada mempunyai kewajiban dalam hal hidup bersama-sama.

Bukakanlah hati dan otak perempuan bangsa Jawa, dan kalau demikian tentulah orang akan mendapat kawan bekerja yang cakap untuk mengerjakan kerja yang amat bagus dan besar, yaitu pekerjaan membaiki kesopanan suatu bangsa yang berjuta-juta banyaknya!

Berilah tanah Jawa bunda-bunda yang cakap dan budiman, dan kalau itu telah ada maka kesopanan dan kehormatan suatu bangsa lambat launnya tentulah akan datang sendiri!

Lebih dahulu didiklah dan ajarlah anak-anak perempuan orang-orang bangsawan, dan dari meréka itu wajiblah kesopanan itu pergi kelak kepada anak-negeri; ajarlah anak-anak perempuan itu sehingga dapat menjadi bunda yang cakap, budiman dan berpikiran yang tetap, dan tentulah nanti dengan sekuat-kuatnya meréka itu akan mengembangkan kesopanan itu kepada bangsanya. Kesopanan dan kepandaiannya itu pastilah akan diberikannya kepada anak-anaknya; anak-anak perempuan meréka itu tentulah akan menjadi ibu pula; dan anak-anaknya yang laki-laki tentulah akan menjaga susah dan senang bangsa itu. Dan lagi dengan beberapa jalan yang lain meréka itu yakni, orang yang telah berbudi pekerti, dapatlah selalu memberi suri teladan yang berguna untuk pembuka hati dan penajamkan pikiran bangsanya dan orang sekelilingja, Sepanjang pengetahuan kami, bahwa Directeur van O. E. en N. yang sekarang, ialah seorang amtenar Pemerintah berpangkat tinggi, yang telah memperhatikan arti perempuan dalam kemajuan bangsa Jawa, dan iapun telah mencoba pula hendak memajukan itu.

Sayang! Percobaannya itu selalu putus ditengah. Hal itu sebabnya, karena keseganan meréka sendiri, meréka yang akan mendapat kebaikan dan keuntungan dari pekerjaan itu, ya, kebaikan dan keuntungan pula untuk sekalian bangsa Jawa. Regén-regén yang diminta akan mengeluarkan pikirannya tentang hal itu boléh dikatakan sama rata menimbang, bahwa waktu akan mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak perempuan regén-regén dan kepala-kepala negeri yang lain, sekarang belumlah datang.

Tetapi apakah yang kelihatan sekarang setiap hari? Regén-regén yang mengatakan waktu itu belum datang, telah menimbang sendiri, bahwa waktu itu sudahlah datang, tetapi hanyalah untuk anak-anak perempuannya saja, sebab itulah diberinya meréka itu pendidikan itu. Hal itu sebabnya ialah: Pendidikan cara Eropa belum lagi menjadi suatu kebiasaan, lebih-lebih pada anak-anak perempuan Bumiputera, dan dalam hal itu masing-masing orang untuk dirinya sendiri, dengan segala sukacita memberi anak-anaknya pendidikan yang terbaik, lagi boléh didapatnya, tetapi tidak mau menyuruhkan orang lain membuat yang sedemikian, atau mengajak orang lain mengerjakan itu, karena yang terutama ia sendiri suka terpelajar, dan tidak suka melihat orang lain menjadi terpelajar pula.

Bila sekolah-sekolah itu didirikan sekarang, tentulah tiap-tiap orang dapat menyuruh anaknya pergi memasuki sekolah itu, dan meréka itu dengan orang banyak tentulah akan mendapat pengajaran yang sama; pada hal ia lebih suka, ia sendiri hendaknya mempunyai kepandaian itu selama-lamanya.

Rupanya kalau demikian, benarlah perkataan yang dikatakan oléh seorang kepala negeri, yang terutama dan terpelajar, yaitu: "Orang Jawa, lebih-lebih orang bangsawannya untuknya sendiri suka sekali memakan nasi, dan orang lain kalau boléh, jangan; dan untuk orang lain nasi beras mérah sudah bagus benar.”

Kebanyakan orang Jawa yang berpangkat tinggi yang amat dengki melihatkan orang-orang lain berduga-duga mencari 'ilmu kepandaian, telah berkata: "Biarkanlah saja orang banyak itu tinggal bodoh, supaya kekuasaan selalu tergenggam ditangan kita.”

Telah masyhurlah sudah, bahwa kebanyakan dukun, yang tahu rahasianya mengobati penyakit ini atau itu, membawa rahasianya bersama-sama kekuburnya, sehingga kepada anak-anaknya tidak maulah membukakan rahasianya itu. Perasaan-kuat, meneguhi janji sekali-kali tidak ada didapati dalam dunia bangsa Bumiputera; perasaan itu wajiblah benar ditanamkan dalam kalbu Bumiputera, kalau tidak ada perasaan itu mustahillah suatu bangsa dapat dimajukan.

Hendak mempunyai yang terbaik dan menyangka hal itu haknya sendiri, yakni menurut sepanjang pikiran orang-orang bangsawan, itulah telah terbit dari hatinya, yang telah berurat berakar dengan pengertian sesat, dan demikianpun meréka itu selalu memandang, bahwa orang-orang bangsawan itu manusia yang lebih baik, dan machluk yang lebih tinggi asalnya dari pada orang banyak, jadi karena itulah maka orang-orang bangsawan itu menyangkakan dirinya berhak memiliki sekalian barang yang terbagus! Akan memusnahkan pengertian yang niengalangi sekalian kemajuan itu dapatlah pula bunda-bunda itu berusaha dengan sebaik-baiknya. Tetapi kelakuan bunda yang bangsawan sekarang, janganlah akan memusnahkan pengertian itu, melainkan selalu dengan sengaja memanjakan anaknya, yang kecil lagi belum pandai berjalan itu dengan mengoyak rahangnya, memanggil-manggil si anak itu dengan golaran bangsawan yang baru didapat oléh anaknya itu!

yang sebenar-benarnya, yang menjadi suatu keperluan besar untuk kesopanan bangsa, ialah kemajuan perempuan bangsa Jawa! Karena itu suatu kewajiban yang pertama sekali pada Pemerintah akan meninggikan kemanusiaan perempuan bangsa Jawa, mendidik, mengajar dan menjadikannya bunda yang cakap dan budiman serta pendidik!

Sekolah-sekolah partikulir dan sekolah-sekolah Gubernemén telah menyatakan, bahwa kepala-kepala negeri makin lama makin banyak pula mengehendaki pendidikan yang baik untuk anak-anaknya yang perempuan.

Sekarang telah kedapatan juga adalah beberapa regén yang menyuruh isterinya bersama-sama dengan anak-anaknya perempuan belajar kèpada guru-guru perempuan bangsa Belanda. Banyaklah lagi orang tua, yang mau menyuruh mengajar anak-anaknya yang perempuan, apabila adalah tempat meréka itu belajar, karena tidaklah pada segala negeri ada didapati sekolah anak perempuan, dan orangpun banyak yang enggan menyuruh anaknya kesekolah yang bercampur anak-anak laki-laki dengan anak-anak perempuan.

di tanah Priangan telah dua tahun lamanya terdiri sebuah sekolah partikulir yang dibantu oléh Pemerintah; sekolah itu semata-mata sekolah anak-anak bangsawan, gurunya seorang guru perempuan bangsa Eropa. Anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan pergi kesekolah itu, tetapi berlain-lainan kelas; dan anak-anak laki-laki lebih dulu disuruh pulang kerumah, sehingga anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan menurut sepanjang adat tiadalah dapat berjumpa.

janganlah kiranya diperbincangkan juga lebih lama, tetapi lihatlah sekarang suatu kejadian dalam dunia Bumiputera, yakni sekolah untuk anak-anak perempuan bangsawan telah ada!

Sifat-sifat sendiri, nama yang baik, kepandaian yang sejati dari pada orang-orang yang mengajar disekolah itu, tentulah akan menanggung kemajuan sekolah itu, dan Pemerintahpun tentulah mempunyai kewajiban pula dalam sekolah itu. Ia dapat menambah kemajuan itu, pertama membantu kekurangan dalam sekolah itu, dan kedua menunjukkan beberapa jalan dengan nyatidak', yang ia mengindahkan kemajuan perempuan bangsa Jawa!

Bangsa Jawa betul seperti bangsa-bangsa yang lain juga, belum terpelajar, masih berperasaan yang tajam untuk kebagusan, keharuman dan keindahan. cukupilah perasaannya itu, tetapi beri meréka itu barang sesuatu yang baik, yang sejati dan yang tahan lama!

Ingatlah betapa halnya anak-anak, yang disuapi orang dengan obat yang menambah keséhatan tubuh meréka itu. Kalau dihadapkan kepadanya pil-pil umpamanya seperti biasa saja, tentulah si anak itu, biarpun dengan tutur kata yang manis, nasihat yang baik dan akhirya ancaman engganlah juga akan menelan obat itu; tetapi berilah pil itu bergula, dan bungkuslah dengan kertas berpérak atau beremas-emas, dalam sepuluh adalah sembilan anak-anak, yang segera akan menunjukkan tangannya hendak melulur pil itu.

Pada anak yang lebih berakal tentulah tidak berguna gula atau bungkus yang indah untuk menelan pil itu, karena ia tahu yang pil itu akan menyembuhkan penyakitnya.

contoh yang diberikan oléh almarhum Pangéran Demak, contoh yang setengah abad lamanya, maukah orang menurutnya, bilamana Pemerintah tidak menunjukkan suatu tanda yang nyata, yang ia menghargakan perbuatan itu? Pangéran Demak, seorang Jawa yang pertama-tama sekali memberi anak-anaknya pendidikan cara Eropa. Empat orang anak dan dua orang cucu Pangéran yang tersebut telah dan masih menjadi regén. Orang-orang yang pandai menimbang hal itu, semuanya memuji keadaan anak-isteri regén-regén itu.

Sebenarnyalah Pemerintah lekas mendapat kebajikan atas perbuatan kepala negeri itu; tetapi tentang paédahnya kemajuan perempuan bangsa Jawa untuk sekalian penduduk Bumiputera sudahlah dinyatakan di atas tadi dengan seterang-terangnya, dan tiap-tiap orang dapatlah mema'lumi hal itu, asal dipikirkannya baik-baik.

Sekolah-sekolah saja tidak dapatlah memajukan dunia Bumiputera, sebab itu ahli rumahpun wajib pula bekerja bersama-sama.

Lebih-lebih dari ahli rumahlah wajib datang kekuatan yang mendidik itu karena bercampur dengan ahli rumah siang dan malam, tetapi dalam sekolah hanyalah beberapa jam saja kami dalam sehari.

Bagaimanakah ahli rumah itu boléh dengan berkat dapat mendidik, apabila orang yang terutama dalam rumah, yakni perempuan, ibu yang tidak cakap mendidik?

jikalau Pemerintah sekarang menunjukkan yang ia dalam bermacam-macam hal mengindahkan bangsa Jawa, demikianpun kemajuan perempuan bangsa Jawa, tentulah ia dengan sekuat-kuatnya akan mengemukakan hal itu. jalan itu tentulah lebih baik lagi dari pada jalan-jalan yang lain, karena hal yang seperti itu menjadi suatu ajakan yang baik. Hal itu tentu lebih banyak dan lebih besar mendatangkan kebajikan dari pada kalau Pemerintah misalnya lekas memberi perintah, yang segala kepala negeri menyuruh anak-anaknya pergi kesekolah, dan itulah suatu perintah, yang sekali-kali tidak perlu dipaksa oléh Pemerintah!

Bilamana orang-orang bangsawan mengetahui, bahwa Pemerintah bersuka hati, kalau anak-anak perempuan meréka itu terpelajar dan berbudi-pekerti, maka bangsawan itu dalam beberapa tahun yang pertama, tentulah menyuruh saja anak-anaknya itu kesekolah dengan tiada mengetahui akan paédahnya, tetapi dari gerakannya sedirilah akan terjadi. Dan ke dalam hal yang demikianlah harus dibawa bangsawan itu!

tidak usahlah dipandang dahulu dengan daya upaya apa juapun orang mau menyuruh anak-anaknya yang perempuan pergi kesekolah. Perkara yang terutama ialah, yang orang itu menyuruh anak-anak perempuannya pergi kesekolah!

Kepada orang-orang yang memberi pengajaran, dipikulkanlah suatu kewajiban akan menjadikan anak-anak perempuan, yang dipercayakan kepada pengajar-pengajar itu, menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya dan dengan segala kekuatannya, yakni perempuan yang berbudi dan terpelajar serta insaf dalam hatinya akan kèwajibannya dalam hidup bersama-sama akan menjadi ibu yang dicintai, pendidik yang budiman dan pandai lagi sanggup berbuat jasa dalam segala hal bagi sesamanya manusia, didunia Bumiputera, yang perlu dalam tiap-tiap hal selalu mendapat pertolongan!

Bagi sementara orang haruslah mendirikan lebih dahulu sebuah sekolah dengan tempat tinggalnya sekali, supaya guru-guru dapat benar mendidik anak-anak itu sebagai yang dikehendaki; tetapi sekolah itu boléh pula hendaknya dimasuki oléh anak-anak yang tinggal diluar.

Bahasa dalam sekolah itu haruslah dipakai bahasa Belanda!

Hanyalah pengetahuan dalam bahasa Eropa, dan terutama tentulah bahasa Belanda, yang dapat membawa bagi sementara orang berbangsa dari penduduk Bumiputera kepadang kemajuan, kepada kebébasan pikiran!

Akal yang sebaik-baiknya untuk mempelajari bahasa itu, ialah banyak berpikir dan bercakap dalam bahasa itu. Tetapi oléh karena itu janganlah pula orang mengabaikan bahasanya sendiri. Dalam hal itu untuk bahasanya sendiri patutlah orang mengusahakan dirinya dengan sebaik-baiknya.

cita-cita hendak menerjemahkan kitab-kitab Eropa kepada bahasa Jawa, yang berisi dengan pengajaran dan pendidikan, tentulah amat besar. Itupun mestilah pula dilakukan! Tetapi itu sekarang belum terjadi, dan untuk sementara belumlah hal itu boléh terjadi.

Wajibkah orang Jawa dalam waktu menantikan itu akan dibiarkan saja tinggal dungu dan bodoh, sedang 'ilmu kepandaian sekarang ini sangat berpaédah untuk dunia Bumiputera, yang mengehendaki sendi kesopanan yang berguna untuk mendapat keselamatan pencaharian yang lebih baik? Saya tidak bermaksud menyuruh sekalian orang Jawa belajar bahasa Belanda; apakah paédahnya pengetahuan bahasa Belanda itu bagi si peladang, tukang pemotong kayu, tukang" rumput d.l.l.? Guru-guru harus mengajarkan bahasa itu hanyalah kepada meréka yang cakap dan terang hatinya untuk belajar bahasa Belanda itu. Guru-guru harus mengajarkan bahasa itu dengan seterang-terangnya, dan mema'lumkan baik-baik kepada murid-muridnya, bahwa mempunyai kepandaian bahasa Belanda itu saja, tidak adalah artinya, dan sekali-kali tidaklah artinya meréka itu telah mempunyai tertib-sopan, karena kesopanan itu tempatnya tidaklah dalam pandai bercakap bahasa Belanda dan tahu sedikit adat-adat Belanda, apalagi kesopanan itu tempatnya tidaklah didalam pakaian meniru cara Belanda. Pengetahuan bahasa Belanda ialah kunci, yang akan membuka gudang perbendaharaan kesopanan dan kepandaian bangsa Eropa. Dan masing-masingnya wajiblah bekerja, supaya boléh mendapat harta benda yang didalam perbendaharaan itu.

Sesungguhnya perlu benar banyaklah Bumiputera yang terpelajar hati dan otaknya, dan mengetahui sungguh-sungguh bahasanya dan hal bangsanya sendiri, dan dalam hal itu lagi mengetahui bahasa Belanda dan 'ilmu kepandaian bangsa Eropa. Meréka itu masing-masing wajiblah memaparkan baik-baik segala yang baru kepada bangsanya, sehingga hal itu boleh dapat disesuaikan oléh meréka itu dengan hal keadaannya!

Terjemahkanlah waktu itu nanti segala kitab-kitab bangsa Eropa yang mengembirakan hati kepada bahasa Jawa, dan hadapkan kepada bangsa Jawa; lihatlah disana betapa orang banyak akan menyukainya!

————

Bagi meréka yang pada waktu kecilnya dan waktu mudanya tiada mendapat pendidikan tertib-sopan yang baik, dan hampir sekalian bangsa Jawa demikianlah halnya, patutlah hal yang sangat penting itu ditambahkan dalam pendidikan meréka itu.

Kadang-kadang terjadinya pendidikan itu tidaklah dengan sengaja; boléh jadi kita bercampur dengan orang-orang pandai dan yang berhati mulia lagi suka memandaikan dan mengajari kita, dan dengan tiada setahu kita orang mendidik kita dengan contoh-contoh yang mulia.

Suatu akal yang baik untuk pendidikan dan yang boléh mendatangkan keselamatan, ialah: "membaca kitab-kitab." Membaca itu suatu pendidik yang bagus. Orang Jawa hampir tidak ada mempunyai kitab-kitab bacaan. yang ada padanya, ialah syair-syair pahlawan, dan nasihat-nasihat hidup, itupun tidak banyak pula orang membacanya, karena ia ditulis dengan tangan; di antara kitab-kitab itu adalah pula harta pusaka, yang telah turun-temurun dari bapa kepada anaknya, pun kurang dibaca orang, karena bahasanya acap kali kiasan dan 'ibarat saja, tidak dapat diartikan oléh orang kebanyakan. Lagi pula orang Jawa selalu memahamkan kebanyakan isi kitab-kitab itu seperti apa yang tersurat saja, karena itulah pengertian dan keperluan isi kitab-kitab itu kepadanya, semuanya atau sebagian besar menjadi hilang.

Dalam syair-syair nasihat Jawa hal keadaan tidak makan dan tidak tidur, amat dipuji benar dan dikatakan, bahwa itulah suatu jalan yang suci dari negeri yang fana kenegeri yang baka. Banyaklah buah pikiran didalamnya yang bagus-bagus kiasannya, tetapi keindahan itu bagi orang banyak telah hilang.

Kalau meréka itu telah puasa, menahan lapar dan berjaga-jaga, maka dalam pikiran meréka itu telah sampailah maksudnya menempuh jalan yang suci itu, dan dalam hal itu buah pikiran yang baik tadi, yang perlu diamalkannya tiap-tiap hari, hilang lenyaplah. "tidak makan, tidak minum dan tidak tidur, itulah sangkanya maksud hidup!………dan………karena penanggungan itu (sabar, menahan diri dan tawakkal) sampailah meréka itu kesurga tempat bersenang-senang!"

Seperti keadaan itu banyaklah lagi yang diperbuat oléh meréka itu. Berilah orang Jawa kitab-kitab, yang tertulis dalam bahasa yang disukai dan yang diketahui oléh orang banyak, janganlah sekali-kali ceritera-ceritera yang sukar, berisi kosong, culas dan tidak berpaédah, tetapi hendaklah ceritera-ceritera yang mudah, baik dan indah, yakni ceritera peri hal hidup yang sebenar-benarnya terjadi, sekarang dan dahulu, boléh juga ceritera-ceritera yang dibuat-buat, asal ujudnya selalu adalah untuk pembaiki tingkah laku dan penambah 'ilmu kepandaian!

Dalam berbincang bercengkerma seboléh-boléhnya hendaklah diberi orang Jawa makanan untuk hati dan otaknya serta nasihat yang berguna untuk hklupnya sehari-hari.

Wajiblah diadakan kitab-kitab kecil dan besar yang berguna untuk meréka yang telah balig, dan untuk anak-anak kecil, dan lagi surat-surat kabar, yang keluar tiap-tiap pekan dan tiap-tiap bulan yang berisi berjenis-jenis hal keadaan, yang meluaskan pemandangan, membukakan pikiran dan mempersuci hati. Sekali-kali surat-surat kabar itu, tidak berguna diisi dengan kabar-kabar yang biasa, seperti kebakaran, kecurian, pembunuhan dan perang péna, yang hina-menghinakan dan cela-mencela orang. Pembaca-pembacanya haruslah boléh bertanya tentang segala hal, yang dijawab oléh juru kabar atau pembaca-pembaca yang lain.

Seboléh-boléhnya surat kabar itu hendaknya untuk memajukan pembaca-pembacanya bertanding dan bertukar pikiran dan timbangan.

Sebagai orang mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan kepala-kepala negeri, yaitu biarlah kecil permulaannya, demikianlah pula wajibnya surat kabar itu didirikan. Pekerjaan itu tentulah nanti mudah dengan perlahan-lahan dibesarkan, tetapi apabila orang memulai dengan yang besar dan kemajuannya tidak berapa, pastilah orang akan lekas berhati kecut.

Kelahiran surat kabar "Bintang Hindia" mémanglah meriangkan hati, itulah baru suatu surat kabar Melayu-Belanda yang diberi bergambar-gambar, dikeluarkan di tanah Belanda dan dikemudikan oléh suatu perserikatan anak muda-muda yang berhaluan kemajuan, dan yang sedang bertapa mencukupi pengajarannya disekolah-sekolah tinggi disana. Meréka itu ialah anak-anak muda yang bercinta dan berhati gembira untuk tanah air dan bangsanya, yang hendak ditolongnya kelak kepadang kemajuan! Saya berharap supaya orang membantu dan menyokong usaha itu!

Pengetahuan yang disukai oléh orang banyak tentang tanah Hindia dan penduduknya, haruslah dikembangkan kepada orang-orang Belanda. Dengan cara demikian barulah da- pat orang mengenal bangsa Jawa dengan sebenar-benarnya, sehmgga karena itu cela dan nista dapatlah hilang hendaknya; dan pada waktu yang akan datang tidaklah orang-orang Belanda yang terpilih-pilih saja, tetapi orang-orang Belanda yang kebanyakanpun hendaklah memandang orang-orang Jawa sebagai sesamanya manusia. Bangsa Jawa itu sekali-kali tidaklah bersalah, yang ia kurang pandai dari pada bangsa Belanda dan berkulit hitam.

Kitab-kitab yang sedemikian, yang dikarang untuk orang-orang Belanda tentulah akan banyak paédahnya, baik untuk tanah Jawa, baik untuk tanah Belanda sendiri. Lebih besar lagi harga dan kekuatan kitab itu, apabila anak Jawa sendirilah yang memperkenalkan bangsa Jawa dengan tanah Belanda. karena itulah pula teramat bagus, yang bahasa Belanda itu diajarkan kepada bangsa Jawa. Orang Belanda tentulah akan mengerti dengan sebaik-baiknya apa yang dikatakan oleh anak Jawa tadi, bilamana ia bercakap dalam bahasa Belanda menceriterakan kehendak, kekurangan dan kesengsaraannya.

Tetapi mengapakah pada waktu orang² Belanda, telah ber'umur, maka kesukaan hati meréka itu untuk tanah Hindia baru dibangunkan? tidak dapatlah hal itu lebih lekas diterbitkan? Sekolah-sekolah itulah suatu tempat yang sebagus-bagusnya untuk mengerjakan itu, baik sekolah di Belanda atau sekolah di Hindia. Orang harus memakai kitab-kitab kecil disekolah-sekolah itu, yakni kitab-kitab yang menguraikan dengan seterang-terangnya hal keadaan tanah, bangsa dan adat-adat Hindia; bukanlah kitab-kitab yang sukar, sangat terpelajar dan tinggi, hanya kitab-kitab yang meriangkan hati, seperti kitab-kitab yang disukai oléh anak-anak membacanya, dan yang berisi pengetahuan yang sejati tentang tanah-tanah kami yang bagus, dengan penduduknya, bangsa yang berkulit hitam dan lemah lembut yang jauh diseberang lautan itu.

Akan memberi pengetahuan yang sejati tentang tanah Hindia untuk anak-anak itu belumlah cukup, apabila orang hanya memakai kitab-kitab pembacaan itu saja, meskipun sekaliannya telah dikarangkan dengan seindah-indahnya, dan dengan pengetahuan yang seluas-luasnya. Tetapi wajiblah lagi guru-guru mempunyai pula pengetahuan tentang tanah Hindia lebih banyak dari pada yang tersebut. Meskipun gunanya ialah sekadar, supaya guru-guru itu tiadalah akan menutup mulutnya, bilamana anak-anak itu bertanya barang sesuatu hal, yang telah dibacanya pada kitab-kitab bacaannya itu.

Tiada baikkah dalam sekolah-sekolah guru ditambah lagi sebuah pengajaran yang baru, yaitu: pengetahuan yang baik dan lanjut tentang tanah Hindia?
O, di tanah Belanda perlu sekali dicari segala daya upaya, lebih-lebih untuk anak muda-muda akan membangunkan kesukaan meréka itu kepada tanah Hindia. Karena anak-anak yang sekarang lagi belajar, meréka itulah nanti, pada waktu yang akan datang, yang akan memerintah tanah Hindia!
yang lebih baik lagi dan pekerjaan yang sebagus-bagusnya akan membangunkan kesukaan kepada tanah Hindia dan penduduknya dinegeri Belanda, ialah dengan memperlihatkan bermacam-macam gambar, perkakas dan lain-lain tentang tanah Hindia dan penduduknya.
umpama: Pertunjukan, seperti yang kerap dibuat oléh perserikatan "Oost en West di den Haag, yaitu pertunjukan barang-barang kepandaian dan perusahaan Bumiputera tanah Hindia, dan kalau dapat ditunjukkan benar-benar bagaimana hidup bangsa Hindia dalam dunia sendiri, umpama: diadakan rumah dengan isinya (orang Jawa sejati) dan gamelannya; dipertunjukkan dalam beberapa negeri-negeri diseluruh tanah Belanda, dan uang bayaran akan masuk ke dalam pertunjukan itu, haruslah diminta semurah-murahnya, supaya sekahan anak negeri dapat masuk melihatnya. Pertunjukan yang seperti itu semuanya dikumpulkan dan disuruhlah menjalani tanah Belanda, dari sebuah negeri kenegeri yang lain.
Sangatlah mendukacitakan bagi tanah Hindia dan 'amat memberi malu bagi tanah Belanda, yang orang-orang Belanda bodoh dan pandai rata-rata, boléhlah dikatakan sekaliannya tidak seberapa, ya, hampir tidak ada mengetahui hal keadaan tanah Hindia.
Sebuah daya upaya yang patut dilakukan oléh Pemerintah yang akan memajukan keselamatan penduduk tanah Jawa, dan yang akan mendatangkan kebaikan kepada tanah Belanda sendiri, ialah mengembangkan pengetahuan tentang Hindia kepada orang-orang Belanda, dan membangkitkan kesukaan mereka itu untuk "Hindia."
Dari orang-orang Belanda boléhlah datang suatu kekuasaan yang memberi berkat kepada anak Bumiputera; masingwtmg oranf Eropa yang terpelajar, lebih-lebih meréka itu karena pangkatnya mestilah bercampur gaul dengan orang bangsawan atau dengan orang banyak, boleh benar menjadi pendidik dan orang yang berbuat baik untuk orang Jawa. Karena mereka itu dapatlah melakukan kekuasaannya yang baik dan membuat kebajikan, bilamana meréka itu suka memberi pertolongan kepada orang-orang sakit dan luka.
Berapalah besarnya dan berkatnya kekuasaan yang dapat 410

dilakukan oléh pegawai-pegawai negeri bangsa Belanda, yang bercampur dengan orang-orang besar Bumiputera, yakni kepala-kepala dan orang2 bangsawan. Apakah kebaikan kekuasaan pegawai itu, yang sekarang boléh dilihat? Pukul rata-rata amat sedikit, ya, terlalu amat sedikit! Dan kepada pegawaipegawai bangsa Eropa, yang menaruh kasihan kepada bangsa kulit hitam, yang diperintahnya, yang memandang pegawaipegawai bangsa Bumiputera yang dibawahnya itu, dalam segala hal bukanlah orang yang hina dan bukanlah akan menyembah-nyembahnya, hanya memandang orang-orang Jawa ini sebagai sesamanya manusia dan sahabatwjaa, selalulah diucapkan terima kasih.

O, saya harap, supaya pergaulan pegawai Eropa dengan pegawai Bumiputera menjadi baik, dan pergaulan yang baik itu akan menjadi suatu adat kebiasaan hendaknya, sehingga perbédaan kedua jenis pegawai itu tidaklah kiranya akan tinggal lama lagi!

Dinding yang menceraikan pegawai Eropa dan Bumipu­tera, ialah "kemegahan" namanya.

Tiadakah lebih baik untuk tanah Belanda dan untuk tanah Hindia jikalau orang-orang Belanda, lebih-lebih pegawaipegawai yang berpangkat kepala negeri mencahari "kemegah­an" meninggikan pangkatnya itu dengan jalan yang lain, dari pada jalan yang diturut sampai sekarang? Lama-kelamaan rupanya hati yang belas kasihan dan tabiat yang baiklah yang lebih bagus, ya, itulah suatu jalan yang sebagus-bagusnya akan memperhubungkan tanah Jawa dengan tanah Belanda, dari pada jika orang2 Belanda, lebih-lebih pegawai-pegawai negeri, yang menerbitkan ketakutan Bu­miputera kepada kekuasaan tanah Belanda, yakni dengan me­ninggikan dirinya "keatas kayangan yang mahatinggi." Pegawai-pegawai Bumiputera menghormati pegawai bangsa Ero­pah, seperti meréka itu menghormati orang-orang besarnya sendiri, karena pegawai-pegawai Jawa tahu, yang tuan-tuan itu dalam hatinya sungguh-sungguh menyukai kehormatan itu; tetapi meréka itu menghormati si tuan itu sedemikian, adakah karena. kemauan hati meréka itu sendiri???!

Moga-moga pegawai Belanda yang sebenarnya akan mening­gikan dirinya, sekali-kali tidak mau menerima kehormatan yang tidak terbit dari hati yang suci!

Dari perempuan bangsa Eropa boléhlah pula didapati suatu berkat yang besar untuk dunia Bumiputera.

Telah kerap kali kejadian, yang anak-anak gadis Bumipu­tera telah ada juga berkepandaian dan pengetahuan sedikitsedikit yang dibawanya dari rumah orang tuan ya. Dan tambahnya pengetahuan itu diperoléhnya ialah dari kebaikan hati perempuan bangsa Eropa, bahwa pengetahuan itu amat berguna kemudian hari untuk dunia Bumiputera adalah dima'lumi oléh anak-anak gadis itu, karena meréka itu telah mengerti pula akan kewajibannya dalam hidup bersama-sama.

Belas kasihan perempuan-perempuan Belanda itu menjadi suatu perbuatan, yang mendatangkan keuntungan kepada tanah Belanda sendiri. Perempuan-perempuan itu dalam hal itu menanamkan cinta dalam hati gadis-gadis Bumi­ putera dan kaum keluarganya untuk tanah dan bangsa Be­landa. Dan perempuan-perempuan itu sendiri telah mengenali pula bangsa Jawa dengan jalan yang lebih baik. jalan itulah yang membimbing perempuan-perempuan Belanda dan Jawa sama-sama mulia-memuliakan, dan sama-sama percaya-mempercayai, yang mendatangkan kebaikan besar untuk kedua belah pihaknya.

Amat banyaklah kebaikan di tanah Hindia, yang boléh diperbuat oléh laki-laki dan perempuan Belanda. Dengan usaha yang baik sedikit saja, dapatlah meréka itu dengan mudahnya menarik hati bangsa Bumiputera. Adalah orang yang berkata, bahwa orang Jawa tidak tahu mengucapkan terima kasih. O, apabila orang mendengarkan "si kurang terima kasih" itu mempercakapkan cintanya yang memilukan hati dan kehormatannya untuk bangsa Eropa, yang telah menyayang mengasihinya, pastilah orang itu akan mengubah katanya.

Orang Jawa berperasaan yang amat tajam untuk mera&ai keramahan dan kesayangan yang terbit dari hati yang ichlas. Orang-orang Eropa haruslah lebih dahulu mendekatkan dirinya kepada orang Jawa, akan orang Jawa sendiri tidak beramlah mendekatkan dirinya dahulu kepada orang Belanda, kaiena ia terlampau pemalu dan penakut; dan lagi orang Ero­pah itu bukankah wajib mengambil hati dan kepercayaan meréka itu lebih dahulu?

Orang barulah sampai ketempat yang dimaksud itu, ialah apabila orang di tanah Belanda telah mengembangkan pengetahuan tentang hal keadaan Hindia yang sejati. Kembangkanlah pengeiahuan itu disekolah dan di rumah kepada anak-anak dan kepada orang-orang- muda, dan masukkanlah ke dalam hatmja, bahwa tanah Belanda itu adalah mempunyai suatu kewajiban budi yang mulia kepada tanah Hindia, tanah yang bagus, kaya dan jauh diseberang lautan, yakni tanah, tempat Groot-Nederland mengucapkan terima kasih, karena ialah yang menyebabkan maka tanah Belanda telah menjadi suatu kerajaan berjajahan yang berarti. di tanah Belanda harus­lah orang belajar, bertanya, dan memikirkan baik baik pertanyaan ini: "Apakah kelak jadinya tanah Belanda. kalau tidak ada lagi bertanah Hindia?"

Dan lagi yang harus pula diajarkan oléh tanah Belanda kepada Hindia: "Apakah jadinya nanti Hindia kalau tidak ada bertanah Belanda?"

Tentang pengajaran anak negeri bacalah buah pikiran Regen Ngawi[1] yang sekarang.

Tambahan lagi niscaya adalah jasanya kalau sekiranya "rang memperhatikan dengan sebaik-baiknya hal keadaan peng­ ajaran, pendidikan, sekolah d.l.l. di Mojowarno dan hasil kebaikan sekolah disitu. Mengapakah maka sekolah-sekolah yang baik seperti di Mojowarno itu tidak didapati juga dinegeri-negeri yang lain di tanah Jawa? jika sekiranya bukanlah perkara agama yang diajarkan dalam sekolah itu, atau tentang perkara agama orang boléh melakukan kehendaknya, tentu tidak adalah mara bahaya yang ditakutkan orang dari pihak-pihak orang yang saléh dalam dunia Bumiputera.

Kalau tidak perkara mengembangkan agama Serani, karena hal itu menimbulkan kebencian bagi orang-orang Jawa yang teguh akan agamanya, tentulah pekerjaan yang bagus itu akan mendatangkan suatu keberkatan untoék tanah Jawa. Orang Jawa mempercayai dalam hatinya, bahwa suatu kehinaanlah bagi bangsanya, yang dulu seagama dengan dia, tetapi sekarang telah murtad menjadi orang Serani. Pekerjaan itu Pada pemandangan orang Islam, dosa yang sebesar-besarnya. Dan ora-ng Jawa yang telah menjadi Serani itupun memandanyi bangsanya, yang masih beragama Islam yang dulu seagama dengan dia itu, hina pula.

Menurut pikirannya ia telah tinggi kedudukannya dari pada mei éka itu, karena ia sekarang seagama dengan orang putih, dan menyangkakan yang kedudukannya telah sama tinggi dengan kedudukan orang putih itu dalam hidup bersama-sama. Didiklah orang Jawa, ajarlah ia pandai berpikir sendiri, dan bila ia telah berpikiran yang sempurna, biarkanlah ia sendiri memilih agama yang disukainya. Biarkanlah ia dengan kepercayaannya sendiri masuk agama Serani, seorangpun ta adalah yang menegahkannya membuat sedemikian. Dengan jalan yang seperti itu, tentulah agama Se­rani akan menang, dan tentulah banyak akan didapati di antara meréka itu orang yang tulus hatinya, saléh dan percaya

Ajarlah orang Jawa dengan perkataan dan perbuatan apa artinya yang sebenar-benarnya budi pekerti dan kasih sayang yang sejati. Tidaklah dalam warna kulit orang, bukanlah pada pakaian, tidaklah pada adat-adat yang dijalan-jalan, bukanlah dalam bahasa yang dicakapkan orang, dan tidaklah pula dalam nama agama yang diimankan, terletaknya budi pekerti yang sebenar-benarnya itu. Budi pekerti yang sejati itu tempatnya ialah dihati orang sendiri, yakni bertingkah laku dan berhati yang mulia!……………

Itulah yang terutama wajib ditanamkan dalam hati segala bangsa dari pada bermacam-macam agama, menyembah dan menjunjung Allah, Tuhan yang esa, Tuhan kita yang sebenar-benarnya.

Saya harap dengan sebesar-besar pengharapan, supaya tanah Belanda mengirim ke Jawa hamba-hamba Allah yang sebenar-benarnya pengasih penyayang, yang boléh mendatangkan berkat untuk bangsa Jawa!

Sekolah-sekolah ménak haruslah ditambah lagi, sebuah di Betawi. sebuah di Semarang, dan sebuah di Surabaya, dan lain dari pada itu sebuah lagi sekolah yang gunanya semata-mata untuk jaksa-jaksa, sekolah tempat anak-anak muda belajar untuk pekerjaan yang tersebut. Bahasa yang dipakai disekolah-sekolah haruslah bahasa Belanda.[2]

Tiap-tiap tahun selalu lebih banyak anak-anak hendak masuk, ya, lima kali lebih banyak dari pada banyaknya anak-anak yang akan diterima untuk sekolah ménak itu. jikalau telah banyak sekolah yang demikian, tentulah pegawai-pegawai untuk hari yang kemudian boléh diambil dari murid-murid yang tammat belajar dari sekolah-sekolah itu. Bahwa hal itu banyak akan mendatangkan kebaikan untuk negeri, tidak usahlah diuraikan lagi. Sekarang pegawai-pegawai negeri asalnya kebanyakan ialah dari magang-magang, yang berpengajaran, tiadalah begitu sempurna.

Hampir sekalian magang hanyalah menerima pengajaran dari sekolah rendah Bumiputera, bila tammat pengajaran disekolah itu, pergilah meréka itu menjadi "magang” kepada pegawai bangsa Eropa atau pegawai Bumiputera, menolong menulis atau menyalin-nyalin surat. Sesudah bekerja yang demikian itu, yang lanianya sampai beberapa tahun, kerap kali tiada bergaji, maka iapun diangkatlah, atas pujian kepalanya "tuan pegawai", yang tersebut tadi; biasanya menjadi jurutulis, seperti pekerjaan yang tadi juga, hanyalah perbédaannya, ia sekarang mendapat gaji dari Gubernemén; jadi setelah bertahun-tahun lamanya ia bekerja pada Gubernemén itu, barulah masuk hitungan perkumpulan pegawai-pegawai dan mempunyai hak-hak yang sangat diingini oléh bangsa kami yang masih seperti anak anak lakunya, ialah: boléh memakai payung dan buah baju letter W! Dengan cara yang demikianlah amat banyak orang yang telah tóea, baru dapat naik keanak janjang yang dibawah sekali dalam golongan pegawai-pegawai itu.

Adakah hal yang seperti itu memberi paédah kepada pekerjaan? Orang yang telah tua barangkali lebih banyak penglihatan dan pendengarannya dari pada orang muda (apakah yang dapat dilihat dan didengar orang, apabila ia selalu tidak boléh campur tangan dalam segala hal?); tetapi yang tidak dapat dibantahi kelebihan orang muda dari pada orang tua, yaitu: "kesegaran." Apabila kesegaran itu bersama-sama deingan kecakapan, apakah yang tidak boléh diharapkan kepada orang muda itu? Oléh karena itu haruslah hendaknya dijadikan suatu peraturan yang tetap, bahwa kenaikan pangkat itu tidaklah akan ditilik dari pada 'umur orang, malainkan dari pada kepandaian dan kecakapan pegawai yang akan diangkat itu.

Peraturan yang diturut oléh Pemerintah dalam waktu yang achir ini, tentang keangkatan pegawai-pegawai Bumiputera yang tertinggi, yaitu regén-regén, sangatlah membesarkan hati.

Tiga orang muda telah dititahkan menjahat pangkat yang tinggi itu; dua orang di antara meréka itu masih terlalu muda dan yang seorangpun tiadalah masuk golongan pegawai-pegawai, tetapi ia seorang yang amat budiman. Ketiganya telah tammat belajar disekolah menengah (H.B.S.), sehingga yang seorangpun di antaranya belajar dulu di tanah Belanda.

Keadaan itu membawa kesegaran ke dalam golongan pegawai-pegawai itu, dan paédahnya yang lain. supaya meréka itu dalam dunia Bumiputra boléh insaf, bahwa kebangsawanan itu tidaklah ada artinya pada masa sekarang, sebab orang yang berbangsa itupun wajiblah pula ada kepandaiannya, supaya boléh memegang pekerjaan yang amat tinggi itu. Hal itu tentulah suatu asutan untuk orang bangsawan dan orang berpangkat tinggi, supaya meréka itu menyuruh anak-anaknya belajar dengan sebaik-baiknya.

Lain dari pada tiga orang regén yang tersebut di atas tadi, ada lagi tiga orang regén lain, yang keluar dari sekolah menengah (H. B. S.) itu.

Lama-kelamaan tentulah akan diadakan suatu peraturan: "Bahwa tidak seorang jua boléh menjadi regén, apabila ia tidak belajar dulu pada sekolah menengah dan tidak terpelajar benar dan tidak cakap betul untuk menjabat pangkat itu.

Telah termasyhur bahwa Hindia ini amat banyak kekurangan pertolongan untuk orang sakit. Pegawai-pegawai dan guru-guru tentulah boléh hendaknya sedikit membantu kekuiangan itu. Pada sekolah ménak dan sekolah guru harus diadakan suatu pengajaran yang baru; yakni: "pengajaran keséhatan tubuh dan bebat membebat orang luka." O, tentulah tidak akan banyak orang akan pulang kerahmatu'llah lagi bilamana adalah orang yang ber'ilmu sedikit-sedikit dalam hal keséhatan tubuh dekat meréka itu.

Acap kalilah sudah terjadi orang-orang yang luka terus meninggalkan dunia, karena darahnya terlatu banyak keluar sebelum dokter, yang datang dari tempat yang berpal-pal jauhnya dapat memberi pertolongan kepada meréka itu.

Adalah seorang anak yang digiling keréta api; dokter yang sedekat-dekatnya dua jam perjalanan jauhnya dari tempat itu, anak itupun dibawa oranglah kepada dokter itu, dan ditengah jalan matilah anak itu, sebab darahnya selalu mencucur keluar, karena tidak seorang jua disana yang tahu membebat luka itu.

Kepala-kepala negeri tentulah boléh mengajarkan pengetahuannya tentang keséhatan tubuh kepada kepala-kepala désa, dan dalam hal itu tentulah didésa désa telah ada orang yang dapat sedikit memberi pertolongan. Guru-guru wajib mengajarkan kepandaian keséhatan tubuh itu disekolah.

Di Magelang yang ada; bersekolah ménak, dan lagi 'banyak berdokter opsir, boléhlah dengan segera orang mengajarkan pengajaran keséhatan tubuh dan bebat-membebat luka kepada murid-murid sekolah itu. Demikian pula di jokja, yang bersekolah guru dan ada pula berdokter opsir, orangpun dapat pula memulai pekerjaan itu.

Pada sekolah-sekolah ménak dan sekolah-sekolah guru haruslah diadakan orang sebuah Chazanatu'lkitab yang kaya seboleh-boléhnya penuh dengan kitab-kitab bahasa Jawa, Meayu dan Belanda, yang bersisi dengan bermacam-macam hal keadaan yang boléh meluaskan pemandangan, menajamkan pikiran dan memuliakan perasaan hati. Guru-guru harusah dengan sedapat-dapatnya berdaya upaya akan menimbulkan nafsu murid-murid untuk membaca kitab2 itu. Dan supaya adalah hasilnya apa-apa yang dibaca itu haruslah kerap kali diperbincangkan. Pertukaran dan pergosokan pikiran bagi murid-murid itu, wajiblah dihidupkan dengan sebaik-baik nya. Murid-murid haruslah umpamanya mengadakan,.malam percakapan" dengan bantuan guru-guru, dan pada malam itu diperkatakan perkara dan kejadian yang penting-penting. Murid-murid itu wajib memikirkan hal yang akan dibicarakannya lebih dahulu dan pada malam percakapan itu dikeluarkannyalah pikirannya itu. Orang janganlah mentertawakannya, bilamana meréka itu mengeluarkan timbangan yang ganjil-ganjil, melainkan tolonglah meréka itu dengan kekuatan, kehalusan dan kesayangan kepada jalan yang benar.

Kalau orang mulai mentertawakan, maka mulut dan hati mereka itu akan tertutuplah saja. Orang wajib mengajar meréka itu berpikir sendiri. Orang telah kerap kali berkata, bahwa guru-guru itu adalah dua pekerjaannya, yaitu: menjadi pengajar dan menjadi pendidik! Sebab guru-guru itu wajib memikul dua macam pendidikan yakni: pendidikan pikiran dan pendidikan kesopanan!

Murid-murid itu mestilah hendaknya insaf akan dirinya, bahwa mereka itu unto bangsanya dalam hidup bersama sama, dalam meréka itu menjalankan jabatannya, adalah mempunyai suatu kewajiban budi dalam hatinya. Demikian juga apabila meréka itu telah keluar dari sekolah, hendak lah perasaan persaudaraan antara murid-murid selalu hidup. Dan supaya hal itu boléh terjadi murid-murid yang lama dan yang masih disekolah, baiklah mengeluarkan sehelai surat kabar yang dikemudikan oleh guru-gurunya dan dibantu oléh murid-murid yang terpandai. Surat kabar itu, baiklah dikarangkan dalam bahasa Belanda, gunanya pertama-tama akan memeliharakan bahasa Belanda masing-masing dan supaya boléh dibaca juga oléh orang-orang Belanda tentang pendapatan dan perasaan murid-murid yang telah tammat belajar dalam pekerjaannya. Hal itu wajib dipercakapkan dan dijawab oléh guru-guru dengan murid-muridnya. Demikianlah selalu diperbuat berturut-turut.

Amatlah bagusnya peraturan yang diadakan oleh Pemerintah telah dua tahun lamanya, yang maksudnya akan memper luas pemandangan guru-guru bangsa Bumiputera. Tiap tiap tahun dalam bulan puasa disuruhlah beberapa orang guru dengan ongkos Gubernemén pergi tamasya melihat-lihat salah suatu dari ketiga ibu negeri di Jawa. Mereka itu wajib membuat sebuah karangan tentang penglihatan dan perjalanannya itu, karangan itu sebaik-baiknya ditulis dalam bahasa Belanda.

Apabila kesopanan dan kepandaian dalam dunia Bumiputera bertambah-tambah maju, pastilah amat berguna sekali orang membukakan bermacam-macam pekerjaan yang baru untuk anak-anak orang bangsawan.

Lagi pula baiklah diingatkan disini, bahwa pekerjaan menjadi pegawai kepala-kepala negeri tiadalah amat disukai oleh anak muda-muda, yang telah dan yang sedang belajar disekolah-sekolah menengah. Hal itu sebabnya ialah karena kebébasan yang dirasainya semasa dalam sekolah itu, yakni kebébasan dalam bekerja dan dalam berpikir, yang telah menjadi darah daging kepadanya, didalam jabatan kepala-kepala negeri bangsa Bumiputera itu, boléh dikatakan tidaklah sekali-kali diindahkan, dan dalam hal itu tidak dapatlah meréka itu akan menyesuaikan dirinya dengan tiada berhati duka dalam men jalankan pekerjaan itu.

Pekerjaan klerk yang menumpulkan dan membunuh pikiran, yakni pekerjaan yang rupanya semata-mata mestilah menjadi jabatan permulaan dalam hidup pegawai-pegawai Bumiputera itu, pekerjaan itupun tidaklah lagi menerbit kan kesukaan bagi anak-anak muda yang baru keluar dari sekolah menengah. Keadaan didapatnya dalam pekerjaan, jikalau ia menjadi pegawai Bumiputera yang rendah itu, per bédaannya dengan waktunya yang bébas masa ia disekolah menengah itu sebagai bumi dengan langit. Ia harus menyimpan sekalian pengetahuan yang dipelajarinya dalam lima tahun dengan rajin, usaha dan susah payah itu dalam sebuah almari kecil, sebab untuk hidupnya dan pekerjaan klerk itu tidak gunalah ia mempunyai pengetahuan yang sebanyak itu.

Berapalah banyaknya cita-cita yang dikuburkannya dengan keluh yang dalam, tatkala ia mencelupkan pénanya pertama-tama kali dalam berpangkat klerk itu!

Kadang-kadang adalah pula terjadi, bahwa di antara kawan kawannya, anak-anak Eropa disekolah menengah itu, kemudian harinya dalam hidup bersama-sama menjadi kepalanya; dan kepada kepalanya itu haruslah juga ia jongkok men dekatinya dan menghormatinya, sebagai seorang anak bangsa wan atau seseorang dari pada kaum keluarganya yang tertua, yang sungguh-sungguh berhak menerima kehormatan itu dari padanya.

Anak-anak muda bangsa Bumiputera yang berhati mau dan cakap, seboléh-boléhnya hendaklah diberi kesempatan pergi belajar kesekolah-sekolah tinggi di tanah Eropa untuk melanjutkan pengetahuan meréka itu.

Meester-meester kehakiman bangsa Bumiputera boléh benar mendatangkan kebajikan yang besar untuk negerinya. Bilamana telah tammatlah pengajaran meréka itu disekolah tinggi, suruhlah meréka itu melanjutkan pengetahuannya dinegeri tempat tumpah darahnya masing-masing, didalam dunia bangsanya, yang berbahasa bahasanya sendiri. Suruhlah ia mempelajari undang-undang adat bangsa Bumiputera. Meréka itu tentu dapat menyatakan dan melahirkan barang sesuatu yang berguna untuk Pemerintah dan untuk negerinya.

Karena mereka itu anak-anak bangsa Bumiputera, niscaya dapatlah meréka itu masuk kemana-mana dan mengarungi dunia hidup bangsa Bumiputera lahir dan batin dengan sedalam-dalamnya. Meréka itu kemana-mana boléh datang, biarpun ketempat yang sekali-kali tidak dapat didatangi dan dimasuki oléh orang-orang Eropa. Dan tiap-tiap hal keadaan yang sangat dibatinkan oléh anak negeri kepada bangsa asing, boléhlah dima'lumi oléh meréka itu, karena ia sebangsa dan senegeri.

jikalau mereka itu menjadi presidén Landraad, bertambahlah pula paédahnya. Karena meréka itu tidak guna memakai juru bahasa, meréka itu sendiri dapat dengan segera bersoäl jawab dengan orang yang terda'wa; anak-anak negeri itu kebanyakan hanyalah bercakap semacam bahasa saja, yaitu bahasanya sendiri. Ma'lumlah betapa halnya jikalau dalam sidang pengadilan itu orang wajib memakai bahasa anak negeri, yaitu: bahasa Jawa, atau bahasa Madura, atau bahasa Sunda! Apakah sebabnya maka presidén-presidén Landraad suka sekali bekerja dengan jaksa-jaksa yang pandai berbahasa Belanda? Ialah karena presidén-presidén itu amat mudah bercakap dalam bahasa Belanda, bahasanya sendiri. Tetapi tidaklah sekalian jaksa pandai bertutur bahasa Belanda!

Dokter-dokter bangsa Bumiputera yang telah belajar di Eropa dapatlah pula banyak membuat kebajikan yang ber harga untuk tanah airnya. Kebaikan dan paédah kalau anak negeri sendiri menjadi dokter itu, tentulah akan bertambah terang dimata kita sendiri, lebih-lebih apabila meréka itu perlu menjalankan sesuatu pemeriksaan dalam hidup bersama sama bangsa Bumiputera, atau mengerjakan jabatan meréka itu yang bertali dengan Bumiputera. Dokter-dokter Bumiputera yang telah belajar di Eropa, yang berpengeta huan perkara obat-obatan lebih dalam dari pada dokter-dokter Jawa itu, tentulah lebih banyak boléh mendatangkan kebajikan; sebab dokter-dokter Bumiputera yang belajar di Eropa itu tahu benar-benar bahasanya dan kerjanya. Dan lagi mereka itupun dengan seterang-terangnya boléh pula mempelajari obat-obatan Bumiputera, yang baik dan tidak dibuat-buat saja, supaya obat-obatan itu boléh pulà diaturkan sebagai obat-obatan orang Eropa dan dibawa keduanya pengetahuan Eropa; kalau tidak diperbuat sedemikian, tiadalah akan diindahkan oléh bangsa Eropa!

Bumiputera amat banyak mempergunakan obat-obatan yang mudah-mudah dan yang tiada berbahaya, yang betul-betul adalah memberi berkat. Apabila seorang Bumiputera umpamanya menerangkan kepada seorang dokter, bahwa obat sakit mata yang berkat yang dipakai oléh Bumiputera, yaitu darah lintah dan darah ikan paling, niscayalah dokter itu akan mentertawakan orang itu. Tetapi itulah suatu keadaan yang sebenarnya, dan banyaklah lagi hal-hal lain yang seperti itu. Air nyiur dan pisang batu masing-masing obat yang amat mujarrab.

Hal itu mudahlah dima'lumi, penyakit-penyakit dalam suatu negeri diobatilah dengan obat-obatan yang ada dalam negeri itu sendiri. Didalam obat-obatan yang banyak itu mémanglah banyak pula yang bohong dan dibuat-buat orang saja, tetapi keadaan itu tiadalah menjadi tanda, bahwa di antara obat-obatan itu tidak adalah pula yang sebenar benarnya obat yang berkat.

Bagi orang-orang Eropa yang kena penyakit perut memulas-mulas, ,.diysentrie" namanya, tidak dapat diobati oléh doktor-doktor Eropa yang pandai-pandai, tetapi setelah meréka itu memakan obat Bumiputerá yang semudah-mudahnya, dengan segera sembuhlah meréka itu dari sakitnya.

Belum selang beberapa lamanya yang lalu, adalah seorang dokter Eropa yang terbilang pandai telah mengatakan keputusan pemeriksaannya tentang penyakit kerongkongan yang berbahaya sekali pada seorang anak gadis Bumiputera. Katanya penyakit anak gadis itu akan bertambah-tambah bahayanya dan didalam témpoh dua pekan anak itu mestilah akan meninggalkan dunia. Bunda anak itu sangat berdukacita mendengarkan keputusan dokter itu, pergilah memintakan obat anaknya kepada dukun kampung; obat itupun diperoléhnyalah. Anak gadis itu sampai sekarang masih hidup dengan sehat dan segar, penyakitnya hilanglah sama sekali, dan suaranya timbullah seperti semula. Apabila dokter-dokter Eropa mengetahui apa-apa obat yang telah dimakan anak gadis itu, tentulah meréka itu sekalian dengan sedih hati akan mengangkat bahu. Obat itu, yaitu: rama-rama kecil yang ditangkap orang disawah, ditelannya hidup-hidup dengan pisang mas. Obat bangsa yang biadab!-apakah salahnya? dari dukun kampung adalah ia mendapat pertolongan, tetapi dari dokter yang pandai, tidak.

Dokter-dokter Jawa mémanglah boléh membebarkan bermacam-macam hal keadaan yang seperti itu, tetapi tiadalah dilakukannya. Takutkah meréka itu barangkali akan diter- tawakan oléh dokter-dokter Eropa? Tetapi jikalau sekiranya dokter-dokter Bumiputera itu telah sama dalani pengetahuannya dengan dokter-dokter Eropa, tentulah méreka itu boléh berani membebarkan dan mempertahankan barang suatunya, yang telah dilihatnya dan dima'luminya dengan sebaik-baiknya.

Demikian lagi di antara Bumiputera tentulah boléh didapati juga meréka yang baik dan cakap untuk menjadi insinyur-insinyur dan tuan-tuan rimba, yang kela banyak dapat memberi paédah, baik bagi Gubernemén baik bagi anak negeri!

Sekarang teranglah hendaknya, bahwa jikalau negeri Belanda memberi Bumiputera tanah Jawa laki-laki dan perempuan kesempatan untuk memperoléh bermacam-macam 'ilmu kepandaian, yang akan memajukan ketajaman otak dan kemuliaan hati yang akan membawa bangsanya kepadang keselamatan, — itulah kelak yang akan menjadi "mahkota" dan "kehormatan" bagi negeri Belanda!


  1. Regén itu Kaden Mas Tumenggung utoyo, sekarang Regén Jepara dan Iid Volksraad di Betawi, dan seorang dari saudara-saudara Kartini, Raden Mas Tumenggung Ario Sosro Busono, yang menggantikannya menjadi Regén Ngawi. Penyalin. benar kepada agamanya. Bila orang suka beragama seperti nénék moyang. haruslah pula dibiarkan hal yang sedemikian!
  2. Kehendak itu kebanyakan telah makbul. Sejak itu telah tiga buah didirikan sekolah-sekolah ménak yang baru, yaitu: di Serang, Madiun dan Blitar (Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur). Di Betawi telah didirikan pula sebuah sekolah hakim untuk Bumiputera. Murid-murid dalam sekolah-sekolah itu belajar dalam bahasa Belanda. Penyalin.