Habis Gelap Terbitlah Terang/Surat-surat dalam tahun 1903

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Kartini, diterjemahkan oleh Armijn Pane
Surat-surat dalam tahun 1903

3 Januari 1903 (VII)[sunting]

Bagaimanalah saya akan meminta terima kasih kepada tuan tentang isi surat dan pidato tuan dalam kerapatan Tweede Kamer pada 26 November yang baru lalu ini; sesungguhnya tidak dapatlah kami dengan cukup meminta terima kasih kepada nyonya atas segala kebajikan tuan bagi kami. Berutang budilah kami kepada tuan, tidak dapat kami akan membayar, ialah yang akan kami bawa kedunia yang baka. O, bagaimanalah saya dapat menceriterakan kepada tuan, apa yang terasa dan telah mengalir dihati dan dipikiranku ketika membaca surat tuan dan sebagian dari pidato itu, yang bergaris dibawahnya. Tercucurlah air mata kami membacanya. Tuhan itu mahabesar, Tuhan itu mahakuasa dan Tuhan itulah yang pengasih dan penyayang. Itulah suatu rahmat Tuhan. Kamipun melihat seorang akan seorang, tetapi tiadalah tampak suatu juapun, karena pikiran kami telah memandang sejauh-jauhnya, mengenangkan tanah-tanah seberang yang jauh itu, dan sahabat-sahabat kami yang bertempat disana, lagi kami kenangkan pula akan waktu dan kejadian yang akan timbul pada hari yang akan datang. Kami kedua sama memikirkan dan mengenangkan sekalian itu pada waktu itu. Sedang hati yang penuh dengan perasaan yang meminta terima kasih pada ketika itu, timbullah pula didalamnya kesedihan dan kepiluan yang amat sangat.

Hati kami menjadi sayu, karena kami tidak dapat ketika itu juga meminta terima kasih kepada sahabat-sahabat kami yang setia dan mulia hati itu, menjabat tangannya atau memeluknya, yang telah memberi kami kegirangan hati itu.

Sayu hati kami mengenangkan orang-orang tua kami, kekasih hati kami, jantung hati kami itu, bahwa kepada me­reka kedua suatu tanda kedukaan yang akan menghancurkan hatinya, jikalau mendengar kabar yang membesarkan hati kami itu.

Wahai orang tuaku yang malang!

jikalau maksud kami sarnpai, maka hal itu artinya bagi meréka, bahwa mereka akan bercerailah dengan anak-anaknya, dan ditambah lagi dengan berduka hati. Betapalah remuk dada dan hancurnya hati meréka itu, jikalau kapallah yang akan memperceraikannya dengan anak-anak yang amat dikasihinya dan membawa si anak itu ketanah asing yang sejauh itu. Adakah meréka akan kembali lagi dengan selamat?........

Adakah lagi meréka akan bertemu pula dengan orang tuan ya nanti?

Mereka itu amat kasih akan kami, lebih-lebih bapakku kepadaku, sebab apabila bapak melihat wajahku, teringatlah ia akan ibunya, pun amat dikasihinya; apalagi mukaku itu serupalah pula dengan porteretnya sendiri.

Moga-moga Tuhan akan melembutkan hati mereka yang amat pilu, susah dan menanggung percintaan itu apabila cita-cita kami akan kami sampaikan. Keadaan itu memanglah suatu kelobaan hati benar, tetapi kami berharap sekali yang waktu itu akan lekas datang.

Saudaraku, Stella dan sahabat-sahabatku yang lain tentulah akan bersuka hati benar, kalau sekiranya pekerjaan tuan yang mulia itu sampai berhasil. Dengan besar hati kami telah membaca pidato tuan, meminta pertolongan kepada Pemerintah akan membantu beberapa orang anak negeri yang amat tuan kasihi; setelah itu kami baca pula penjawaban menteri jajahan, dan kemudian ucapan terima kasih tuan!

Kepada tuan saya berkata dengan tulus dan ichlas hatiku, meminta terima kasih. Kepada nyonya tuan, kami berharap yang sejauh itu, tempat kami berharap akan mengusahakan kepada tuan-tuan kedua, bahwa kesayangan tuan, telah berusaha dengan sejadi-jadinya untuk kami. tiadalah tercurah kepada orang yang kurang terima kasih. Berhati tetaplah tuan bekerja untuk pekerjaan yang mulia, wahai sahabatku!

Bukan sedikit rasanya peperangan dan penanggungan kami karena cita-cita hati itu. Dan kami percaya, bahwa banyaklah lagi kesusahan yang akan kami tanggungkan,

sebelum kami dapat meninggalkan sekalian hal yang akan menyedihkan hati, dan dalam pada itupun lebih banyak pula hal keadaan yang kami sayangi dan kasihi, akan pergi kenegeri yang sejauh itu, tempat kami' berhanap akan mengusahakan diri kami, supaya cakap dan pandailah kami kelak dalam pekerjaan yang hendak kami tanggung itu.

Akan dapat musuh yang ganas, kita sekali-kali tiada perlu berbuat jahat ataupun mengganggu orang lain. Sekarang umpaman ya banyaklah orang sedang mengasut-asut kaum keluarga kami, supaya kami seboleh-bolehnya jangan dapat menyampaikan maksud kami. "tidak pantas," kata mereka itu yang kami mau pergi kenegeri Belanda. Dan berapa pula malu yang akan ditanggung nanti karena pergi kesana itu "dengan ongkos orang lain".

Dan ada pula di antara mereka itu yang bersedih hati melihat saya mengarang, dan diberinya saya isyarat, supaya saya berhenti memperbuat hal itu. "tidak pantas, seorang anak gadis," mengarang surat untuk orang banyak. Bah, seorang perempuan yang belum kawin, namanya terbebar kesana sini: kalau ia ada bersuami tidak mengapalah, boléhlah dimaafkan kalau ia berbuat demikian!

Dari Dr. Adriani baru-baru ini saya mendapat sepucuk surat yang amat panjang, membicarakan berbagai-bagai hal yang tentu akan menyukakan hati tuan juga. Saya menceriterakan kepadanya, apa yang telah tuan perbuat untuk kami, dan ia amat berbesar hati mendengarnya. Ia menulis kepadaku: "Apa yang telah dikatakan nyonya van Kol kepada tuan, itulah ujud segala agama; pengakuan atas mempercayai Tuhan seperti seseorang, tidaklah suatu pengertian, tidaklah pula suatu kebaikan, melainkan itulah yang sebenar-benarnya Maliku'rrahman!"

Banyak lagi hal-hal yang bagus dan berpaódah didalam suratnya. Betapa suka hatiku hendak membacanya bersama-sama dengan tuan, dan memperkatakan isinya dengan tuan. Saya perlu lagi membalas surat itu.

Adalah pula dikatakannya kepadaku: "Tetapi sepanjang penglihatanku, bahwa agama Serani itu ujudnya tiadalah akan memberi orang berbahagia, hanya akan menjadii jambatan antara manusia dengan Tuhannya, itulah mak­ sud agama Serani."

14 Januari 1903 (IX)[sunting]

Adikku yang kecil, sekali-kali tidak mau menjadi priayi, apalagi priayi dalam golongan pemerintah negeri; dan jikalau nyonya sekali-kali ada memperkatakan surat-suratku dengan tuan, tentulah tuan akan mengetahui, bahwa saya tiadalah bersedih hati dalam hal itu, melainkan mémanglah amat besar hati kami mendengar maksud dan hajat adik kami itu. Senang hati kami, yang adikku tidak ada bermaksud seperti maksud beribu-ribu mereka bangsa kami; mereka itu menyangkakan, bahwa menjadi priayi itulah bahagia yang setinggi- tingginya dalam dunia ini, sebab mereka mema'lumi keenakan seperti raja kecil, berbaju berkancing letter W., dan berpayung emas!

Girang hati kami, bahwa segala cahaya dan upacara itu ta masuk dihatinya; lebih senang lagi hati kami mengingatkan hal itu karena ia semuda itu telah ada berpengakuan yang demikian, dan ia hendak mencahari jalan sendiri, tiadalah seperti jalan yang telah pasar ditempuh oleh beribu-ribu orang.

Lebih baik menurut pikiranku, ia berusaha untuk menolong mereka yang dilanggar oleh kesakitan, dan pergi bersekolah untuk menjadi dokter. Boleh jadi juga dalam hal itu masuklah kelobaan diri saya sedikit; karena saya suka melihatnya menjadi dokter, sebab dalam hal itu amat banyak dan bagus yang patut diperbuat dan.......... karena dapatlah pula ia menyampaikan kenang-kenangan kami. Berapalah banyak paedahnya nanti, kalau bangsa Eropa dan bangsa Bumiputera timbal-balik dapat hormat-menghormati. Ia boleh berusaha supaya anak negeri akan mempercayai obat-obat Eropa, dan dokter Eropa boléhlah pula memperhatikan obat- obat Bumiputera yang amat mudah itu, yang telah dipastikan mujarrabnya.

Saya telah bercakap-cakap dengan adikku itu tentang kol ah Dokter D.Jawa, tetapi tidak adialah niatnya hendak pergi belajai kesana, dan kainipun tidak suka pula menggagahinya dalam hal itu.

17 Januari 1903 (VII)[sunting]

Telah tiga pekan lamanya disini tidak turoèn hujan sedikit juapun. Sekarang disini terlampau panas. Belum pernah kami merasai panas sebagai itu, baikpun ketika musim kemarau yang sekeras-kerasnya.

Bapakku telah putus asa, bibit padi disawah telah merah, karena kepanasan.

Wahai bangsaku yang malang! Dahulu anak negeri di afdeeling ini cukup makannya, dan tidak tahulah meréka itu akan kesengsaraan kekurangan makanan. Tetapi apa yang tidak ada, tentulah boléh datang; dan kekeringan yang amat sangat didalam musim penghujan itu telah memberi tanda, bahwa bermacam-macamlah kesengsaraan yang akan tiba. Bagaimanakah gerangan halnya nanti, jikalau sekiranya hari selalu saja panas seperti itu? Sudah datangkah sekarang pertukaran musim? Alangkah lekasnya kalau demikian, karena telah dua kali pagi bertiuplah angin, yang biasanya datang dalam bulan Mei. Dan telah mulaikah sekarang mu­sim kemarau?

Betul susah sekali hati kami sekarang; seorang juapun tidak berkuasa akan mengubahnya. Amat pilu hati melihat sekalian bibit-bibit, yang telah ditaburkan dan ditanam orang, semuanya sekarang telah mérah karena kekurangan air, semuanya hampir mati dan tidak dapat ditolong sedikit juapun. Sayang tidak pandai orang membuat hujan! Dan hari yang sepanas itu melesu dan meletihkan badan pula, tidak suka bekerja. Apa pikiran tuan tentang ratap tangis seorang anak negeri di tanah panas ini! O, betapa susah hati meréka yang bekerja disawah dan diladang didalam panas seperti disini sekarang.......... apalagi namanya saja disebutkan didalam musim hujan! Kirimilah kami sebagian dari hawa dingin negeri tuan itu dan tuan ambillah panas disini sebanyak tuan suka. Sekiranya dapat kita berbuat dimikian, betapalah bagusnya!

25 Januari 1903 (IX)[sunting]

Lamalah saya duduk memandang kekertas ini dan tidak tahulah saya apa yang hendak saya tuliskan lain dari pada permulaan kata; banyaklah pikiran yang merawankan hatiku, banyaklah pula perasaan yang timbul dalam ingatanku. Pada waktu itu terkenanglah oléhku sekalian hal yang terjadi didalam hidupku, dalam beberapa tahun yang lalu.

Dalam kegirangan dan sukacita datanglah pula kedukaan yang amat sangat, keputusan asa dan waswas yang menyedihkan hati. Bagi kami rasanya pada waktu yang sudah-sudah, telah bermacam-macam hidup didunia yang kami tanggungkan. Tahun-tahun yang kami ini tidak bersuka ria lagi sebagai anak-anak, telah jauh benar rasanya terletak di belakang kami. Tiap-tiap hari dalam pekan yang baru ini, ba­nyaklah pula hal-hal yang kejadian seperti dahulu bagi kami. Adalah hal yang merayukan hati, dan ada pula yang menyuruh kami minta terima kasih. Sekalian perasaan pada ketika itu adalah didalam hatiku; tetapi perasaan yang memilukan hati itulah yang berkuasa benar di antara sekaliannya.

Ketika saya menulis surat ini terasalah pula dalam hatiku sekalian perasaan itu; karena itu lemaslah saya rasanya. Tetapi sekali-kali saya tidak suka menurutkan hatiku ini; sekalian kata-kata tuan yang pagi tadi, hendak saya pegang sungguh-sungguh didalam hatiku. Saya tidak suka dikuasai oleh pikiran yang menyusahkan hatiku itu, tetapi sekalian kepiluan hati itu, wajiblah sekarang dibawah perintah saya.

Atas sekalian yang tuan katakan ditepi pantai dan dikeréta tadi pagi kepada kami, o, betapalah hendaknya kami akan minta terima kasih kepada tuan? [1] tidak adalah kata-kata bagiku, akan menyatakan perasaan kami itu kepada tuan. Ia hanyalah terasa Saja, tetapi tidak dapat dikatakan! Kami amat mengucap syukur dan amat beruntung, karena telah berbincang dengan tuan. Demikianlah sedapnya kata-kata dan seorang sahabat yang berhati tulus. Kemarin semalam-malaman itu saya selalu mengenangkan kata-kata tuan, dan sekaliannya menguatkan hatiku. Kami berdua lama memperkatakan hal itu kemarin dan hari inipun juga; dan jikalau bapak telah bertambah sembuh sedikit dari pada sakitnya, kamipun hendak mengabarkan hal itu kepadanya. Sekarang boléhlah kami angsur memberi tahu dahulu kepada ibuku, dan memulai perlahan-lahan menulis keringkasan permintaan kami itu.

jikalau perkara itu telah selesai, kami tulislah nanti beberapa pucuk surat kenegeri Belanda. Sekarang amat tetaplah hati kami. Itulah yang perlu sekali bagi kami dahu­lu; kata yang lurus, benar dan menetapkan hati dari pada seorang sahabat yang tulus hatinya, telah teguhlah melekat dihati kami.

Kami ingin benar dahulu hendak berbincang dengan tuan kedua. Dengan segala suci hati saya meminta terima kasih kepada tuan atas kata-kata dan nasihat tuan kedua.

yang menyuruhkan kami lagi berniat hendak pergi kenegeri Belanda, ialah cita-cita hati kami hendak menjauhi untuk sementara dunia, yang telah melukai hati kami dengan ganasnya itu. Sengsara yang seperti dinaraka itu tidak patut kami tanggungkan lagi. Negeri Belandalah yang akan membuangkannya dan akan menggantinya pula dengan kesukaan lain, yang bergunung-gunung banyaknya.

Terimalah ucapan terima kasih kami, karena tuan telah menunjukkan hal itu kepada kami.

27 Januari 1903 (X)[sunting]

Saya mengenangkan waktu yang telah lalu, ketika kami dengan ayah bundamu bersuka hati, berjalan-jalan ditepi laut disini, laut kami! Itulah waktu yang mulia, tidak dapat dilupakan! Dan waktu yang baru lalu ini, yakni waktu kami duduk ditepi pantai bersama-sama dengan ayahmu, akan tinggallah pula selalu dalam kenang-kenangan kami. Disanalah bapakmu berbincang dengan kami tentang maksud-maksud kami.

Berapalah besar harganya perbincangan itu, yang keluar dari hati seseorang yang amat kami muliakan dan kami kasihi, apalagi ia seorang dari pada sahabat kami, yang kami ketahui berhati tulus dan ichlas.

Apakah hasilnya perbincangan itu bagi kami? Saya semalam-malaman itu tidak dapat tidur. Saya tidur pada malam itu berguling kekanan berguling kekiri, karena kepalaku penuhlah dengan kata-kata bapakmu yang sungguh-sungguh, lagi terbit dari hatinya yang kasih sayang itu!

Itulah yang amat perlu bagi kami, itulah yang telah lama kami kenang-kenangkan, yakni kami hendak mendengar kata yang sesungguhnya, yang keluar penuh dengan kasih sayang, dari hati masuk kehati, bertentangan mata dengan mata.

Bésoknya pagi-pagi benar bapakmu mesti berangkat pula. Sedihlah hati kami memikirkan itu. Kami pergi mengantar-antarkan yang mulia itu, dan dikeréta kami hubunglah pula percakapan yang ditepi pantai kemarin. Achir kalam, ialah kami hendaklah selekas-lekasnya mengirim sepucuk surat permintaan kepada Gubernur jenderal, dengan seizin orang-orang tua kami, supaya Pemerintah akan membantu kami, menyampaikan pendidikan kami, berguna untuk perempuan Jawa pada waktu yang akan datang dan pendidikan itu akan kuterima di........................Betawi!

Tidakkah engkau héran mendengar kabar itu, saudaraku? Saya tidak tahu bagaimana pendapatanmu tentang hal itu. Tetapi tiadakah engkau akan mengatakan, yang saya selalu berputar pikiran? Mula-mula dengan segala kekuasaan hati hendak pergi kenegeri Belanda; bumi dan langit telah bergerak supaya maksudnya itu dapat disampaikan, dan karena usaha sahabat-sahabatnya, dapatlah meréka pergi kesana; tetapi sekarang meréka berkata: "Saya tinggal disini!" 333

Apakah katamu tentang pikiran yang selalu bertukar-tukar itu. Tetapi lebih baik, jika sesat berbalik surut, dari pada sesat telanjur, yang kadang-kadang karena kesombongan hati tidak mau mengaku akan kesalahan itu.

Tahukah engkau apabilakah maksud kami hendak pergi ketanah Belanda itu telah bulat?

Dalam bulan December tahun 1901, ketika kami sedang menanggung kesusahan hati, yang tidak tepermanai itu. Ketika itu timbullah dihati kami maksud yang buas hendak pergi berjalan jauh, berpisah diri dari tempat yang telah meracun menyakiti hati kami itu. Berjalan, berjalan ja­uh pergi ketempat yang berudara lain, bernapas, hidup pada hawa yang lain, dan jikalau hati kami yang luka parah telah sembuh, pikiran serta barangkali juga badan kami telah kuat, berbaliklah kami menjelma seperti lahir kembali kedunia, ke dalam pergaulan yang lama akan bekerja untuk perubahan yang baik...............

Kesusahan yang seperti dinaraka itu, tidak boléh kami tanggungkan lagi. Tanah Belandalah yang akan menjaga, supaya kesusahan itu tiada akan datang kembali, dan orangpun tidak akan mengenangkan kami lagi; sayang sekali hendak melupakan kami itu lekaslah akan kejadian. Demikian ju­ga oléh sebagian dari dunia bangsa Bumiputera lekaslah pula kami dilupakannya, yakni oléh Bumiputera, yang hendak kami usahakan, kalau nanti kami kembali dari negéri Belanda.

Apakah yang menanti kami di tanah Belanda? Kesusahan yang bergunung-gunung, yang belum sedikit jua kami ma'lumi hal keadaannya. Bapakmulah yang menerangkan sekalian hal itu kepada kami, dan ditunjukkannyalah pula kesengsaraan yang akan kami tanggung nanti disini, yang datangnya dari pada meréka yang akan kami tolong itu, jikalau kami kembali kelak dari tanah Belanda.

Sekalian itu sungguh benar, o cita-citaku yang malang! Engkau tahu, bahwa itulah suatu cita-cita kami yang amat besar hendak belajar ketanah Belanda, untuk pekerjaan yang hendak kami tanggung kelak....................... Demikian pula keadaan bapakku yang baru-baru ini telah sakit keras menyuruh kami pula lebih lanjut berpikir. yang mulia itu amat sayang kepada kami...........

Segala yang kejadian baru-baru ini di tempat sakitnya itu masih tergambar dimataku. Disanalah kami lihat betapa sayangnya si jantung hati kami itu kepada kami. Tetapi bertanyalah saya kepada diriku sendiri, dapatkah kami akan mengubah maksud kami itu, jikalau sekiranya bapakmu tidak datang kemari, dan yang mulia tidak berkata sedemikian kepada kami? tidak tahulah saya............... tetapi sesungguhnyalah kataku ini, bahwa orang tuaku keduanya patut benar banyak meminta terima kasih kepada bapakmu. Dan kamipun sendiri sangatlah terima kasih kepada yang mulia itu!

Lamalah kami berdua beradik memperbincangkan kata-kata bapakmu itu, serta memikirkannya. Achir kalam ialah: Pergi ketanah Belanda itu biarlah kami lupakan dahulu dalam hati, dan sekarang kami berharap, supaya kami boléh lekas pergi ke Betawi.

Sekalian itu ialah kemauan diriku sahaja. Tetapi dalam hal itu haruslah kami ma'lumi baik-baik, apakah kebaikannya yang terutama benar, jikalau kami belajar di Betawi. Tentulah di Betawi kami boléh lekas mulai bekerja, tetapi jikalau kami pergi ketanah Belanda, tentulah kami masih lama akan menanti. Saya selalu memikirkan kata bapakmu: "Apakah sebabnya tidak dibuat lekas apa-apa yang dapat dikerjakan? Pekerjiaan itu lekaslah habis kalau dikerjakan; tetapi dengan jalan pergi kenegeri Belanda, masih jauh tempatnya pada waktu yang akan datang." Bapak­mu berkata sambil mengambil umpama: Adalah seorang yang luka parah meminta pertolongan, maka datanglah seseorang, dan berkata: "O, sahabatku, sekarang saya tidak suka menolongmu, karena saya akan belajar dahulu, bagaimana orang memalut luka." Orang itupun berjalanlah pergi belajar; dan jikalau telah diketahuinya kepandaian palut-memalut luka itu, maka orang yang luka tadi telah lama mati.

Bapakmu berkata pula: "Adalah sebuah mutiara yang terletak dilaut yang amat dalam. Engkau tahu bahwa ia ada disana, tetapi engkau tidak tahu dimana benar tempatnya itu. Engkaupun masuklah kelaut, hendak mengambilnya cara begitu saja. Air laut sementara itu telah sampai kedagumu, kemudian datanglah seorang berkata: "Hai sahabatku, janganlah berbuat demikian, janganlah pergi lebih jauh, air telah sampai kedagumu, kalau engkau tenggelam, tidak dapatlah mutiara itu oléhmu. Baiklah kembali dan masuk­lah engkau ke dalam sebuah perahu, ajuklah dahulu laut itu, dan kemudian baharulah engkau pancing mutiara itu."

Bapakmu berkata, jikalau benar-benar kami suka, dengan segera kami boléh membuka sebuah sekolah, ta usahlah kami membuat ujian suatu apapun. tidak adalah tersebut dalam undang-undang negeri, bahwa orang harus membuat ujian dahulu, maka boléh memberi pengajaran kepada anak-anak gadis Bumiputera. Kami boléh mengambil lagi beberapa orang guru-guru perempuan Belanda, hal itu perkara kecil. Tetapi bagaimanakah pikiranmu, dapatkah kami membuka sebuah sekolah, kalau tidak dipelajari dahulu bagaimana hal keadaan mengajar? Benarlah juga bahwa kami mendirikan sekolah kami itu............(tertawa kita mendengar kata itu, lagi sombong bunyinya) hanyalah terutama maksudnya untuk pendidikan budi pekerti, lebih dari pada pendidikan untuk 'ilmu kepandaian. Sebab itulah kami tidak suka sekolah itu didirikan oléh Pemerintah, melainkan baik didirikan oléh orang partikulir saja, kalau tidak tentulah wajib kami menurut beberapa undang-undang peraturan sekolah. Kami hendak membuat sekolah kecil seperti kehendak kami sahaja, mengajar anak-anak tiada seperti disekolah biasa, melainkan seperti seorang ibu mendidik anak-anaknya.

Sekolah itu tidak boléh dibandingkan dengan sekolah biasa, melainkan dengan sebuah rumah-tangga yang besar, dan segala anggotanya akan berkasih-kasihan, yang seorang mengajari yang lain, dan ibunya tiadalah seperti ibu dimulut sahaja, melainkan ibu sebenar-benarnya ibu......... perempuan yang mendidik badan dan pikiran anak-anaknya.

Maksud bapakmu itu acap kali kami pikirkan, tetapi begini: jikalau kami tidak dapat pergi belajar, haruslah kami tinggal di rumah sahaja; dalam hal itu tidak dapatkah kiranya kami mengambil beberapa orang anak gadis regén-regén di rumah seberapa kebupatén kami dapat menerima? Meréka itu disuruh bersekolah disini seperti biasa, dan di rumah kamilah akan menanggung pendidikan budi pekertinya, sambil bermain-main membela anak-anak itu memperbaiki tingkah lakunya; dan ketika anak-anak kami itu pergi kesekolah, kami ambil lagi anak-anak kepala negeri yang lain, kami ajari meréka itu di rumah merénda, menjahit d.s.b.

Sementara itu dlengan tiada setahu meréka itu kami ketuk-ketuklah hatinya, supaya maulah meréka itu mengambil buah pikiran yang tersimpan dalam maksud kami itu. Tetapi jikalau dapat kami mendirikan sebuah sekolah, kami lebih suka dahulu belajar. Benarkah atau tidak pendapatanku ini, saudaraku? Sekolah itu tentu akan didirikan di Magelang atau di Salatiga. Bapakmu telah memperkatakan hal itu dengan bapakku, dan tidak adalah alangannya lagi; alangannya hanyalah pergi ketanah Belanda itu sahaja. Senanglah hati, bukan?

cara yang seperti tersebut di atas itu, demikianlah halnya nénékku yang laki-laki dahulu mendidik anak² kepala negeri. Nénékku dahulu menyuruh datang kemari seorang guru untuk mendidik anak-anaknya dan lagi pengéran-pengéran dari Solo, dan seorang regén di Jawa Tengahpun mengirimkan pula anak-anaknya yang laki-laki kepada nénék untuk pendidikan itu. Lihatlah pendapatan itu bukanlah pendapatan baru; jadinya maksud kami yang dikatakan orang baru benar itu, ialah yang sebenarnya pendapatan yang telah tua, berasal dari nénék kami. Maksud dan buah pikiran kami itu pusaka dari nénék kamilah. Nénék kami itulah orang yang menebas jalan; kami ini hanyalah melanjutkan pekerjaannya sahaja. Nénékku yang laki-laki dan yang perempuan itu keduanya orang baik hati.

Bapakmu telah menunjukkan kepada kami apa yang akan jadi isi surat permintaan itu; hanyalah sebaris perkataan sahaja, tetapi kami perlu mengirim sepucuk surat peringatan bersama-sama dengan surat permintaan itu. Didalamnya wajib kami tuliskan seterang-terangnya maksud dan kenang-kenangan kami. Surat peringatan itu haruslah keluar dari hati kami sendiri, tidak boléh sedikit juga dipikirkan, bahwa ia akan dihadapkan kepada Gubernur jenderal, melainkan kami tuliskan sahajalah apa yang terasa dihati kami.

Bapakmu suka membacanya lebih dahulu jikalau kami kehendaki, tetapi menurut pikiran yang mulia tidak usahlah kami menyerahkan surat itu kepadanya.

Kami wajib menulis dengan seada-adanya apa yang keluar dari dalam hati kami sahaja.

31 Januari 1903 (X)[sunting]

Hari ini suratku wajib habis, karena bésok pos ditutup. Dengan pos itu ia akan kukirimkan. Sungguhlah waktoé itu lekas sekali melayang! Pada hari ini telah sepekan lamanya bapakmu datang kemari.

Marilah sekarang kita perkatakan keperluan kita. Maukah, engkau? Méja kecil dan papan tempat kitab-kitab itu telah kusuruh kerjakan kepada tukang ukir. Ia masih bekerja juga. Tetapi engkau tentu akan sabar sedikit dulu, bukan? Tukang itu amat banyak kerjanya untuk perserikatan "Oost en West." Méja kecilmu itu kami buat bersegi delapan dan berukir seperti contoh kain batikku, lukisan Jawa sejati! Kayunya seperti méja itu juga, dari kayu sana (berwama hitam), itulah kayu yang sebaik-baiknya yang boléh didapat disini. Papan tempat kitab-kitab itu kami suruh buat dari dua bilah papan, tidaklah terlalu besar betul seperti permintaanmu kepadaku. ukur- an yang sebenarnya saya telah lupa. Sekarang dua buah méja saya suruh buat, berlain-lainan bangunnya. Marilah kuterangkan keadaannya sedikit. Méja itu berkaki tiga berukir-ukir, dan ditengah-tengahnya itulah terletak papan méja itu.

Sekeram kecil yang baru-baru ini kami kirimkan kepada Gubernur jenderal, betul amat bagus. Bapakmu yang telah melihatnya disini, memuji benar kehalusan perbuatannya. Sekarang kami suruh buat lagi dua buah sekeram api, yang sebuah bangunnya seperti lokan, terbuat dari pada tiga bilah papan seperti akar yang berlipat tiga, dan sebuah lagi bangunnya seperti garuda dan sayapnya boléh digerak-gerakkan.

Selalu keluarlah dari kepala kami pikiran yang baru-baru, dan sangatlah kami bersenang hati, yang perserikatan "Oost en West" mau menyuruh memperbuat sekalian itu. Kadang-kadang terbitlah pikiran itu ketika kami telah terguling di tempat tidur, dan sebentar itu juga melompatlah kami dari tempat tidur, terus memasang lampu, dan buah pikiran itu kami gambarkanlah; karena boléh jadi bésok paginya kami lupa, jadi sayanglah kalau tidak digambarkan lekas.

Katakanlah kepada ibumu, bahwa kami telah memperkatakan dengan orang tua kami tentang maksud hendak pergi ke Betawi itu, dan tentang sekolah di Meester Cornelis atau di Salemba itu. tidak ada alangannya lagi bagi meréka itu. Telah senanglah hati, bukan? Meréka itu amat bergirang hati yang kami masih tinggal di tanah Jawa. "Susah hatiku, jika engkau pergi," kata bapakku, "saya harus selalu hendaknya dapat melihatmu," kasihan, bapakku itu! Sekarang telah baiklah begitu. Meréka amat mengucap syukur kepada orang tuamu. Kami wajib berjanji kepada ibuku supaya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Boléhkah lebih bagus lagi dari itu? Itulah kemauan kami benar.

Bukankah baik dahulu itu yang kami hanyalah suka pergi ketanah Belanda sahaja? Sekarang meréka itu bersuka hati dengan Betawi. jikalau kami dahulu itu hendak pergi ke Betawi sahaja, tentulah ada pula alangannya. Sekarang dengan mudah dan lekas surat permintaan kami berlayar beserta dengan surat peringatan kami, dan surat keterangan dari bapakkupun menerangkan tidak ada beralangan tentang maksud-maksud kami.

Betapalah akan girangnya hati Annie Glaser nanti! Tentulah kami akan berkumpul bersama-sama pula, dan sebagai sahabat yang setia akan bersama-samalah kami merasai pahit dan manis, sakit dan senang. Kemarin kami mendapat sepu- cuk surat dari padanya, cobalah pikir oléhmu, bersama-sama dengan surat itu ada dikirimnya sebuah daftar pertanyaan yang patut kujawab dari seorang tuan. Tuan itu amat suka menyelidiki hal-hal yang perlu sekarang untuk pendidikan bangsa Jawa. Ia amat suka hendak mendengar pertimbangan kami tentang hal itu. Tuan itu ialah Mr. Slingenberg yang bekerja digedung ministerie van Koloniën. Ia disuruh Pemerintah kemari akan membuat undang-undang hukuman baru. Annie berkata, bahwa tuan itu sungguh-sungguh hendak bertanya, dan ia bekerja dengan sekuat-kuatnya serta hendak mencahari daya upaya yang dapat diperbuatnya untuk kami. Ia tidak dapat lagi akan datang kemari, karena pada pertengahan bulan Februari yang akan datang, ia hendak berangkat kembali ke Eropa. Sebab itulah maka pertanyaan itu wajib lekas dijawab dengan seterang-terangnya!!!

Pertanyaan yang diberikannya kepada kami itu sungguh amat berharga, yakni pertanyaan yang selalu terkandung dalam hati kami. Sebab itulah pula maka kami tidak mau dan tidak dapat menjawabnya dengan lekas dan tidak senonoh sahaja. Marilah kusebutkan umpamanya: Pertanyaan yang pertama begini bunyinya: "Atur-aturan manakah yang baik dilakukan penambah kepandaian dan kema'muran bangsa Jawa?"

Itulah suatu pertanyaan yang diselidiki oléh orang pandai-pandai yang telah putih rambutnya, dan dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan satu, dua, tiga sahaja lagi dengan terangnya!

Kedua: "Dengan jalan manakah pengajaran wajib diperbaiki dan diluaskan?" Dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan sepatah kata sahaja? Tentulah sekurang-kurangnya beberapa lembar kertas berguna penjawab.

Pertanyaan yang kelima dapat dijawab dengan lekas atau dengan sepatah kata sahaja: "Tiadakah harga atau arti kemanusiaan perempuan dalam hal memajukan bangsa Jawa terlalu sedikit sekali diperhatikan oléh orang besar-besar negeri?"

Tuan yang membuat pertanyaan itu, tentulah seorang yang baru memikirkan hal itu. Pertanyaan yang penghabisan amat senang hati menjawabnya. "Dengan cara bagaimanakah yang sebaik-baiknya dilakukan supaya dapat dimulai menambah kesopanan dan kepandaian perempuan Jawa, baik bangsawan ataupun orang banyak? jikalau hal itu sampai kejadian tiadakah nanti akan bersalahan dengan adat istiadat negeri?" Sekalian pertanyaan itu bagus-bagus benar, kami akan memperbincangkannya lebih terang: baikkah? Meréka itu telah menyuruh kami mengeluarkan pikiran dan perasaan hati kami. Kalau sekiranya tidak ada diperbuatnya pertanyaan itu tiadalah kami akan berpikir dan merasa sebagai itu. Kami malam kemarin sampai larut malam menuliskan sekalian peringatannya itu dan akan kami beri keterangannya baik-baik.

Sungguh ganjillah perjalanan dunia ini! yang satu menjolok yang lain. Dan yang sebenarnya sekalian itu tali-bertali. Adalah lagi pikiran yang timbul dihati kami, yang barangkali tiadalah akan menyenangkan hati Pemerintah, jikalau buah pikiran kami itu dapat didengarnya, karena Pemerintah yang sekarang kuat akan agama Serani.

Apa pikiranmu tentang soatu utusan (zending) yang tiada bermaksud hendak menyuruh orang masuk agama Serani, dan menjauhkan sekalian agama, tetapi maksudnya hanyalah hendak berbuat baik akan bangsa Jawa, percintaan kepada yang baik sahaja? Apakah sebabnya maka tidak dapat pada tempat-tempat yang lain di tanah Jawa dibuat sekolah-sekolah seperti di Mojowarno, dengan tiada dilindungi oléh soatu bendéra agama? Dengan hal yang demikianlah dapat orang mengélakkan tombak yang diacukan oléh orang Islam kepada dirinya. Orang Islam senantiasa menghinakan meréka yang mula-mula seagama dengan dia, tetapi kemudian meninggalkan agama itu, dan masuk kepada agama yang lain. Dalam pemandangan orang Islam berbuat yang sedemikian, ialah suatu dosa yang sebesar-besarnya. Orang Islam yang sekarang beragama Serani menghinakan pula meréka yang beragama Islam, karena ia sekarang telah beragama sebagai orang Belanda. Disangkanyalah bahwa darajatnya karena itu sama tinggi dengan Belanda. tidak gunalah lagi saya uraikan benar, apa kesudahannya hal yang seperti itu dalam hidup bersama-sama.

jikalau orang sungguh-sungguh hendak mengajar bangsa Jawa sesuatu agama, baik, dan ajarkanlah kepadanya supaya ia tahu mengenal Tuhan yang satu, Tuhan yang pengasih dan penyayang, Tuhan segala machluk, Tuhan bagi orang Serani, orang Islam, orang Budha, orang Yahudi d.s.b. Ajarkanlah kepada mereka agama yang sebenarnya, yakni: agama dihati. Agama itu mémanglah dapat dipakai oléh orang Serani, oléh orang Islam d.s.b. Pikiran kami negeri Belanda hendaklah mengirim ke Hindia ini orang-orang yang berbudi pekerti, yang berpelajaran, yang tinggi kemanusiaannya, yang mau hidup bersama-sama dengan bangsa Jawa, karena kasih akan sesamanya manusia; hidup dengan bangsa itu berkasih-kasihan serta mengajar, mengobat dan menolong meréka itu didalam segala hal apabila perlu. Anak negeri itu hendaklah dibiarkan hidup dengan sederhana, dan jangan diajar boros, tetapi perlu ditegur meréka itu baik-baik, bila meréka itu mengerjakan adat dalam negeri yang bersalahan dengan kasih dan cinta! Pekerjaan itu nanti boléhlah ditanggungkan kepada anak negeri sendiri, pada waktu ini, belumlah ada di antara anak negeri yang kuat mengerjakannya………………… Péndéknya, adakanlah pekerjaan utusan itu, tetapi tidaklah dengan air serani.

Boléhkah dikerjakan demikian? Sebenarnya amatlah susah mencari orang yang cakap-cakap mengerjakan kerja itu. Tetapi nantilah saya ulangi lagi memperkatakan hal itu kembali. Lebih dahulu mestilah diadakan sendiri kesucian hati, dan pada sekalian pengajaran harus hal itu diperhatikan. Bagaimanakah memasukkan kepada orang yang telah balig dan yang hampir balig sendi kesucian hati itu? Pada pikiranku dangan kitab-kitab ceritera. Orang haruslah mengeluarkan surat-surat kabar yang banyak berisi dengan ceritera yang menarik hati, supaya banyak orang membacanya, tetapi ceritera itu wajiblah beralasan dengan pengajaran pendidikan. Maksud yang sedemikianlah yang hendak kami ajarkan kepada anak-anak kami, sambil bermain-main meréka itu diajar dan diberi pendidikan. Apakah sebabnya dengan jalan yang demikian tidak dapat pula diajar orang-orang yang sudah balig?

Di Betawi kami berharap nanti banyak kami akan berkenalan dengan murid-murid Sekolah Dokter Jawa, supaya banyaklah kami dapat memperkatakan hal itu dengan meréka itu, dan mencoba-coba barangkali dapatlah beberapa orang yang suka mengerjakannya. Meréka itulah nanti boléh diharap, yang akan mengerjakan pekerjaan jadi utusan tidak dengan air serani.

Adikku yang perempuan yang bungsu, Sumatri, baru-baru ini telah membuat ujian klein-ambtenaar. Ialah anak gadis Jawa yang pertama sekali telah membuat ujian itu! Bagus, bukan?

1 Februari 1903 (IX)[sunting]

Sekarang tentang orang-orang tua kami sendiri. Iba hati melihat kegirangan hati meréka itu oléh karena kami akan tinggal disini. juga meréka itu amat menerima kasih kepada tuan! Kalau dipikir-pikir benar, baik juga kami dahulu meminta sungguh-sungguh hendak pergi kenegeri Belanda. Sekarang kedua orang tua itu berbesar hati dengan ke Betawi dan tiadalah pula ada beralangan untuk maksud-maksud kami yang lain, hanyalah ibuku meminta yang kami berdua selalu hendaknya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Adakah yang lebih bagus dari itu lagi? Itulah pula yang kami kehendaki benar.

Saya wajib meminta terima kasih lagi atas nasihat tuan yang terbit dari hati persahabatan itu. Amat besar kebaikan percakapan tuan itu bagi diriku. Apalah pula sebabnya maka tidak akan saya katakan kepada tuan, bahwa keberatan dari pihak-pihak sanak saudara belumlah kami pikirkan, yakni tentang pergi kenegeri Belanda itu adalah akan memberi berbahaya bagi hal keadaan kami sendiri. Tetapi meréka itu yang dibibirnya menamai sahabat-sahabat kami, tentulah amat suka menyiarkan kabar, bahwa kami tentulah akan menjadi Belanda benar, kalau kami telah pergi kenegeri Belanda itu, dan banyaklah nanti ibu-ibu yang gusar hatinya akan menyerahkan anak-anaknya kepada kami. syukur alhamduli'llah yang tuan lekas membukakan mata kami sebelum hal itu kejadian, sebab itulah maka saya banyak meminta terima kasih kepada tuan!

Tadi pagi, ketika kami dalam keréta, kami telah mempersaksikan lagi dengan mata sendiri suatu kepercaiaan anaknegeri yang benar-benar seperti kepercayaan anak-anak.

Ketika itu meréka ada di tanah lapang. Manusia dan binatang berkumpul bersama-sama meminta doa kepada Tuhan yang mahatinggi, supaya tanah yang dahaga itu akan dituruni hujan.

Dimuka sekali duduklah beberapa orang alim dan di belakang meréka itu senteri-senteri perempuan berpakaian putih, dan sebelah menyebelahnya duduklah beratus-ratus orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Biri-biri, kambing, kuda dan kerbau ditambatkan orang pada beberapa pancang. Seorang 'ulama yang mengepalai sekalian itu berdirilah dimuka dan meminta doa dengan suara yang nyaring. Orang yang banyak itu menjawab "amin", "amin"; sementara itu kambing dan biri-biripun turutlah pula mengembik.

Itulah sembahjang "istira" namanya. Itulah suatu kepercayaan dalam agama yang memilukan hati dan yang dipercayai oléh bangsa kami yang masih bertabiat seperti anak-anak itu.

Sembahjang meminta rahmat itu tiga hari tiga malam lamanya. Tentu mengertilah tuan betapa besarnya hati meréka itu, dan betapa syukurnya kepada Allah, karena sesudah itu haripun hujanlah dengan lebatnya. Doa meréka itu telah berlaku! Tahukah tuan apa kata orang? Oléh karena kami di tempat mendoa itu ada hadir bersama- sama! tidak dapat kami memasukkan kepercayaan dalam hatinya, bahwa kami dalam hal itu tidak ada berbuat apa-apa juapun.

Dahulu dari itu di tempat-tempat lain, adalah pula diadakan oléh meréka itu sembahjang istira, dan setitikpun tidak turunlah hujan; kebetulan pada tiap-tiap tempat itu tidak adalah kami hadir, dan pada persangkaan meréka itu karena kami tidak menghadiri orang sembahjang disanalah, maka tidak turun hujan. Sebab itulah maka anak-anak negeri percaya sungguh, bahwa kamilah yang memberi berkat sembahjang itu. Sebab itulah pula doa itu lekas dikabulkan!

Benarlah amat pilu hati melihat meréka itu mempercayai agama dengan kepercayaan anak kecil itu!

Acap kali saya berharap, supaya saya ada menaruh perkakas porterét dan pandai memporterét, untuk hal-hal yang ganjil yang ada pada bangsa kami itu, lebih-lebih dimana-mana orang Belanda tidak dapat masuk. Banyak benar yang hendak kami perlihatkan dan perkatakan hal-hal bangsa kami dengan sebaik-baiknya, sehingga orang Belanda boléhlah tahu benar-benar nanti akan keadaan bangsa Jawa.

Adalah orang yang berjanji kepadaku hendak memporterét orang menanam padi, sejak dari bermula sampai kesudahannya, kerbau-kerbau dan bocah angonnya (anak kecil tukang gembala), sekaliannya akan diporterétnya. Sayananti akan memberi keterangan porterét-porterét itu, yakni menurut perasaan dan pemandanganku tentang kepercayaan anak negeri, bangsaku sendiri.

Tuan tentulah mengetahui, bahwa saya amat suka membuat apa juapun untuk tuan kedua. Demikianpun untuk keperluan perserikatan "Oost en West" selalu saya mau mengerjakannya, karena dalam hal itu tiadalah orang lain yang saya tolong, melainkan diriku sendiri, sebab sekalian itu berguna untuk bangsa kami, dan perasaanku telah menjadi satu dengan bangsa itu. Sekalian yang saya perbuat untuk bangsaku berguna pula untuk diriku. Minta sajalah apa apanya kepadaku, suruhlah saya acap kali, janganlah tuan takut, bahwa sekalian itu akan memberati saya. Hanyalah dalam hal itu yang saya minta atas kesudian hati tuan sekalian, jikalau sekiranya kehendak tuan itu tidak lekas datang seperti kemauan tuan, tuan akan sabar sediikit.

Saya telah bercakap dengan pandai emas, tentang pergi ke Solo, supaya ia disana boléh belajar mengerjakan kulit penyu. Si tukang itu mau sekali, ketika kukatakan hal itu kepadanya. Ta telah pandai membuat sisir dan adalah perkakas baginya, tetapi mencat belumlah ia pandai benar, dan kepandaian ito pun nanti akan dipelajarinya pula di Solo, Dan lagi disana orang pandai pula mengerjakan tulang dan mutiara, pekerjaan itu harus pula dipelajarinya dan iapun suka pula mempelajarinya.

Kami sekarang dalam waktu permulaan benar hendak memajukan kembali kepandaian bangsa kami yang bagus itu. Dan sekalian pekerjaan itu tentulah tidak lekas akan sempurna seperti patutnya.

Saya mendapat sepucuk surat yang baik isinya dari tuan Dr. Piyzel, seorang dari kepala pengarang surat kabar "Eigen Haard” beserta beberapa buah gambar tentang pekerjaan mengukir. Gambar-gambar itu sungguh bagus cétaknya, bukan? Saya peroléh adalah beberapa buah, dicétak di atas kertas tebal yang bagus. Tahukah tuan lagi apa yang menyukakan hatiku? Karena nyonyalah yang mula-mula sekali menyuruh saya mengarang dengan nama sejati. Tetapi tidak senang pula hati kami, sebab adalah orang yang membuat kami untuk menjadi perkakas melakukan barangnya. Rupanya hal itu tela menjadi adatlah kepadanya.

Senang hati kami mendengar kabar, bahwa di tanah Minahasa ada pula seorang anak gadis Bumiputera yang mempunyai cita-cita "gila” seperti cita-cita kami. Lihatlah, rupanya bukanlah kami saja orang yang "gila”. jikalau bangsawan disini tidak berkenan akan kami, dan anak negeripun tidak pula suka kepada kami, maka kami pergilah lari kepada saudara jauh yang sepikiran itu, kami pisahkanlah diri kami dari pada tempat yang ramai ini ketempat yang tidak dikenal orang, dan disana mencari kerja untuk kepala, hati dan tangan, Tentulah ada tempat didunia yang amat luas itu, yang orangnya suka akan menerima kami.

Saudaraku perempuan yang sulung baru-baru ini ada disini. kemarin ia telah berangkat kembali, tetapi ia tiada akan terus pergi ke Kendal, melainkan singgah dahulu ke Kudus kepada mentuanya yang perempuan, akan mempertahankan diri kami pada mentuanya itu. Sekalian hal yang kami tanggungkan baru-baru ini, menyebabkan kami menjadi pendiam dan insaf. Lihatlah ke Kudus, telah pergi seorang yang hendak mempertahankan diri kami, ialah yang dahulunya sangat melawan pikiran kami. Sekali-kali tiadalah kami pecahkan kepala kami akan membuat sebuah pidato, yang dapat mengibakan hatinya kepada kami. Kami hanyalah berkata dari hati kehati, dan tiba-tiba pilulah hati kami melihat saudara kami itu, dengan air matanya berlinang-linang, dan dengan suara yang gementar, berkata: "Baik, sampaikanlah maksud-maksudmu itu, sampaikanlah cita citamu, saya akan memintakan engkau doa kepada Tuhan, supaya Ia akan memberi engkau rahmat!"

Kami bertanya lagi kepadanya: "Tiadakah engkau akan merasa hati, jikalau orang-orang lain menghinakan dan menyalahi kami?" Ia menjawab: "Orang-orang yang berkata sekarang sekeras-kerasnya itu, nanti akan menutup mulutnya juga!" Saudaraku menyangka, yang mentuanya itu mau, dan suaminyapun mau juga memperkenankannya.

Bagaimanakah hal kami sekarang di rumah? Dahulu tidak boléh kami memperkatakan maksud kami dengan orang lain; sekarang meréka itu sendiri memperkatakannya. Kami baru-baru ini memperkatakan bermacam-macam hal keadaan dengan seorang asing; berapalah besarnya hatiku melihat, karena ketika itu selalu saya berdiri dekat bapak. Dalam dunia pikiranpun, saya anaknya juga, itulah nyanyian dalam hatiku ketika itu! Bapak meminta orang itu datang kemari, ialah akan menguji pikiran seorang dengan yang lain, karena hal yang seperti itu berpaédah untuk kami. O! adalah akan sampai rupanya mimpi kami itu, bahwa permulaan perjalanan kami itu dengan segala berkat meréka itu!

O, cobalah tuan pikir, sebelum kami mengirim surat kepada tuan Siythoff, kami pekan yang lalu telah mendapat surat yang baik isinya dari padanya. Dalam surat itu ia mengatakan, bahwa ia menyesal karena telah mengatakan kami keras kepala, dan kekerasan kepala itulah, yang memaksanya menghormati kami serta berjanjilah pula ia dengan segala suka hati mau menolong kami. Apabila kami perlu akan pertolongan itu, boléhlah kami segera memberi tahukan kepadanya.

4 Maart 1903 (VIII)[sunting]

Saya baru-baru ini sangat sakit. Beberapa hari lamanya orang bersusah hati oléh karena saya, dan penanggunganku waktu itu bukan buatan sakitnya. syukurlah, kesengsaraan itu telah hilang, dan kesusahan itu telah ditanggung. O! dengan obat yang amat mudah saja orang membuangkan penyakit itu. Kami telah menuliskan nama-nama obat itu dalam kitab peringatan kami, yang berguna nanti untuk anak-anak kami.

Kemarin telah saya mulai lagi bekerja, adalah baik saja, dan hari ini saya mula-mula berkeréta sesudah sakit. Pilu hatiku melihat betapa bapak meminta syukur atas kesembuhan diriku ini. Saya tentulah duduk dekatnya, dan bapak selalu memegangku seakan-akan takutlah ia yang saya akan hilang. Itulah waktu yang amat berbahagia, kenang-kenangan yang berharga bagiku, itulah mestika untuk waktu yang akan datang! O, kami berdua telah banyak menanggung, dihati dan dibadan.

9 Maart 1903 (VIII)[sunting]

Kami telah mendapat surat, bahwa didalam sedikit hari lagi penyu itu akan tiba disini, setelah itu barulah pandai emas itu akan pergi ke Solo. Senang hatiku sekarang, karena telah tiga cabangnya kepandaian anak negeri di tempat tumpah darahku, yang telah mulai hidup kembali, dan kami sekarang bekerja akan mencari juga cabangnya yang lain, hendak menghidupkannya. Meréka itu tahu dan ma'lum sekarang, bahwa maksud kami ialah hendak menyelamatkan meréka itu; meréka itu mengerti sekarang akan keuntungannya; dan dihormatinya kerja kami. Dengan segala suka hati dan rajin meréka itu sekarang bekerja bersama-sama dengan kami. Sekalian apa yang kami buat untuk meréka itu, tentulah akan menjadi sia-sia saja, jikalau sekiranya meréka tidak tahu, bahwa kami bermaksud baik dan memandang untuk keselamatannya. Saya mengucap syukur sebab meréka itu telah mengerti akan hal itu.

Senanglah hati melihat betapa sekarang cabang-cabang kepandaian itu telah hidup kembali. Perempuan-perempuan yang menenun kain "dringin” telah banyak sekarang mulai bekerja, sampai dikampung, berkeliling kampung Melayu banyaklah anak Bumiputera yang bekerja. Sekaliannya adalah maju saja. Pandai emas itu sekarang telah banyak orang upahannya dan murid-muridnya. Dan lagi ada pula budak-budak yang minta belajar untuk mengukir kayu. Itulah suatu hal yang menggirangkan hatiku. di antara anak² itu adalah seorang anak dari kota, jadi tidaklah anak kampung Belakang Gunung, kampung orang pandai-pandai ukir. Murid-murid yang lain kami sendiri mencaharinya; tetapi murid yang seorang, yang datang dari kota itu, ia sendiri memintanya kepada kami. Itulah yang sebenarnya. suatu tanda akan menyenangkan dan menyukakan hati! syukur hatiku dalam hal itu!

Anak-anak yang masih kecil di rumah, nanti akan menyambung pekerjaan kami itu, jikalau kami tidak ada di rumah lagi; kami akan menunjuki meréka itu dari jauh, kalau sekiranya mereka itu patut ditunjuki.

Adalah seorang mengadu kepada kami tentang orang yang tiada terima kasih, dan tentang dengki chianat kepada sesama manusia. Kami katakan kepadanya, bahwa jikalau ia kesal hati, karena manusia tidak terima kasih itu, tentulah kesalahannya sendiri.

Ia melihat kami tercengang dengan matanya yang besar, serta bertanya: "Kesalahanku jikalau orang kurang terima kasih kepadaku?”

"ya, kesalahan tuanlah itu, kalau tuan bersusah hati karena itu; janganlah sekali-kali kita berbuat baik karena hendak mendapat terima kasih dari orang lain: kita berbuat baik maksudnya hanyalah karena pekerjaan itu baik, dan kita sendiri bersuka hati mengerjakannya.”

Menurut pikiran dan sangkaku obat yang sebaik-baiknya, supaya diri kita jadi bersenang hati, dan hidup orang lain dapat kita perbagus, hendaklah kita mencoba dengan sebanyak-banyaknya mema'lumi berbagai-bagai hal. Makin banyak kita ma'lumi, makin kurang kesakitan hati kita, makin kasih dan makin adil timbangan kita untuk orang lain. Hal yang achir itu menyebabkan hidup orang lain menjadi bagus, dan hal yang pertama itu memperbagus hidup diri sendiri; tidak bersakit hati akan sesuatunya, itulah artinya berbahagia.

Ia bertanya kepada kami lagi:

"Apakah yang akan engkau perbuat, jika engkau bertemu dengan seorang yang menarik hatimu?”

"Saya akan berbesar hati dan mengucap syukur, karena keadaan itu artinya, yang saya telah bertemu dengan seorang saudara sepikiran, dan makin banyak saudara sepikiran itu kita peroléh, makin baiklah hal kita, dan makin senanglah hati kita.”

"Saudara-saudara sepikiran ta” pernah akan engkau peroléh!”

Keras sekali katanya itu; tentulah ia menyangka, bahwa sekalian laki-laki bangsa kami amat rendah budi pekertinya, atau boléh jadi juga ia menyangka, yang kemanusiaanku amat tinggi!

Sekiranya diketahuinya betapa saya telah bergirang hati, karena menerima sepucuk surat dari pada seseorang yang tidak kami kenal, seorang muda, saudara sepikiran, niscaya berubahlah. persangkaannya itu! Saya hendak mengirimkan surat itu nanti kepada tuan, kalau ada sempat. Surat itu surat dari seorang murid Sekolah Dokter Jawa. Dan isinya surat itu ialah suatu tanda bersuka hati, yang timbulnya tiada disangka-sangka, karena ia membaca karanganku didalam surat kabar "Eigen Haard”, yang bepermulaan dengan kata pendahuluan dari tuan itu. Seperti laku anak-anak betul............amat muda kesukaan hatinya yang bercahaya-cahaya itu, tetapi bocah pikirannya seperti kepunyaan orang kebanyakan saja............sendi yang teguh tampak dalam dirinya.

Itulah keindahannya orang pandai mengarang, meréka yang tiada dikenalnya mengatakan sahabat ke padanya, karena segala katanya berkenan dihati meréka itu! Saya berbesar hati memikirkan, bahwa tuanlah yang mula-mula membawa saya kesana dengan memakai nama sendiri. Tentulah ada berkatnya, jikalau kami dibela orang yang amat kami kasihi, sebagai tuan.

jikalau karangan itu ada memberi paédah, maka keadaan itu menurut kepercayaanku, terjadinya sebab tuanlah yang membawanya kedunia yang terang ini. Banyak pendapatanku bertambah karenanya, dan iapun telah sampai pula ketempat yang dimaksudnya.

untuk tukang-tukang ukir kami, karanganku itu amat menyenangkan hatinya. Oléh karena karangan itu telah bertimpalah pesanan datang.

19 April 1903 (IX)[sunting]

Menahan hati sendiri, itulah yang perlu benar saya pelajari.

Baik benar banyaklah meréka itu dalam waktu yang achir ini telah memberi saya nasihat dalam hal itu.

Saya acap kali melihat tempat penyimpanan kertas tulisku dengan hati kasihan; tetapi saya harus menyabarkan hatiku; kesukaanku hendak menulis ta? boléh selalu saya manjakan; kesukaanku hendak menulis tidak boléh kuperbuat akan melepaskan lelahku saja.

Sedikit kabar yang menyenangkan hati. Mentua saudaraku Sulastri yang perempuan, suka benar hendak menolong kami, dimana juapun; yang sebaik-baiknya baginya tentulah di Magelang, karena disanalah kaum keluarga dan sahabat-sahabatnya diam, dan sekalian meréka itu menyukai pendidikan yang bel Iparku lekas sekali menyukai maksud itu.

25 April 1903 (I)[sunting]

Penakut, itulah kesalahan yang ta? dapat diampuni, karena kami sendiri tiadalah dengan selekas-lekasnya mengirim surat kepadamu, ketika telah putus mupakat, bahwa kami untuk sementara tidak dapat memetik buah dari hasil pekerjaanmu yang mulia itu…………tidak adalah orang lain yang lebih heran lagi tentang keputusan itu, lain dari pada kami sendiri. Sekaliannya telah kami sangka akan datang, tetapi tidak pernah sekali-kali kami menyangka dahulu, bahwa kami akan berkata dengan kemauan kami sendiri: "Kami tinggal disini!”

janganlah engkau pikirkan untuk diri kami, kaupikirkanlah sahaja keperluan kami itu, dan apa daya upaya yang sebaik-baiknya untuk menyampaikannya; bagaimana yang akan baiknya, kami serahkanlah diri kami.

O, janganlah engkau menyangka, bahwa kami telah bertukar pikiran; tidak sekali kali. Sedangkan sekarang surat permintaan kami telah terkirim kepada Gubernur jenderal, kami masih percaya sungguh-sungguh, bahwa untuk murid-murid kami kelak, pendidikan di tanah Eropa itulah yang sebaik-baiknya bagi kami. Tetapi ada lagi kebenaran yang lain, yang melintanginya; untuk keperluan kami pada waktu ini lebih baik kami tinggal di Hindia!

Engkau tahu bahwa dahulu itulah suatu cita-citaku yang terbesar, dan sekarangpun masih begitu juga yakni menyempurnakan pendidikan kami mestilah hendaknya di Eropa. Mengertikah engkau betapa susah hati kami hendak bercerai dengan cita-cita itu, apalagi pada waktu sekarang, waktu yang boléh menyampaikannya? Sekiranya kami berbuat seperti kesukaan hati saja, tentulah kami dengan hal yang demikian hendak mencahari kesukaan untuk kami sendiri, karena kamipun tahu, bahwa keperluan yang besar itu dengan jalan yang lain dari pada pergi ke Belanda, lebih baik boléh dikerjakan. Kami sekarang bekerja tiadalah untuk diri kami sendiri, melainkan untuk keperluan itu saja. Pada waktu ini terbaiklah kami mengerjakannya tinggal disini. Maksud kami yang terutama sekali, hendak bekerja untuk orang banyak. Meréka itu harus tahu dahulu kepada kami; jikalau kami sekarang pergi saja dari sini, tentulah kami akan menjadi orang asing kepadanya. Dan jikalau beberapa tahun sesudah itu kami balik kemari, meréka itu melihat kami seperti perempuan Eropa. Apabila orang tidak suka menyerahkan anak-anaknya kepada orang Eropa, tentulah kesukaan meréka itu bertambah kurang lagi akan menyerahkan anaknya kepada seorang perempuan Jawa, yang dipandangnya telah menjadi orang Belanda.

Maksud kami ialah untuk bangsa kami. jikalau bangsa kami tidak menyukai kami, apakah paédahnya Pemerintah membantu kami? Lebih baik sekarang dengan selekas-lekasnya

mulai bekerja, dan mengatakan kepada orang banyak suatukeadaan yang benar: lihatlah, sekarang adalah sebuali sekolali untuk anak gadis Bumiputera!

Pada waktu ini orang sedang asyik memperkatakan kami, diseluruh tanah Jawa orang tahu kepada kami, dan api itu harus selalu kami nyalakan. Kalau kami pergi dari sini, lama merantau, tentulah kesukaannya kepada kami itu makin la­ma makin kurang, kesudahannya hilang sama sekali. Kami se­karang dengan badan sendiri perlu memberi tahukan diri kami kepada orang banyak, dan mencoba mengambil hatinya serta mengajar meréka itu mempercayai kami. Sekiranya kami telah mendapat hati dan pekerjaan itu, barulah boléh kami maju berjalan kemuka.

Maksud pergi kenegeri Belanda itu tidaklah sekali-kali kami buang habis, Stella. Kami selalu boléh pergi kesana. Dan 'Iyikalau kami dari Betawi pergi kesana, lebih baiklah dari pada kami pergi dari sini kenegeri Belanda. Pertama-tama: untuk orang-orang tua kami. Tentulah meréka itu boléh biasa nanti berjauhan tempat dengan kami, dan dengan hal itu meréka itu. lama-lama tiadalah akan canggung lagi mengenangkan yang kami telah pindah lebih jauh ketempat lain. Bagi kamipun baik pula begitu. Lihatlah, kami belum pernah keluar rumah. Sekarang tiba-tiba tempat yang baik ini, tanah air kami, ditukari dengan tanah asing, jauh dari sekalian yang kami kasihi. Perubahan itui amat besarlah bagi kami.

Tetapi sekalian hal itu ialah perkara kecil, dalam hal itu kami tahu selalu melakukan diri, dan tiadalah kami takuti. Perkara yang terutama, ialah: kebencanaan untuk maksud kami sendiri. Hal itu tidak pernah kami pikirkan, barangkali lupa kar"na kepongahan dan keberanian, atau karena terlampau berani dan terlampau pongah; pilihlah mana yang enerkau sukai!

Oléh karena kebesaran hati kami atas cita-cita itu tiadalah lagi kami mengenangkan sedikit juga pikiran orang banyak, ya, kehormatanlah bagi kami dahulu jika dapat melawan pikiran meréka itu yang bersalahan dengan pikiran ka­mi , pikiran kami itu; kami muliakan sendiri, dan tiadalah kami mengacuhkan celaan orang, karena kami percaya sungguh acas kebaikan kemauan hati serta kenang-kenangan dan pekerjaan kami itu. Kami sampai sekarang masih mengatakan pikiran kami baik, tetapi dalam hal itu tidak boléh kami berl>uat de.mikian. Kami harus mendengar buah pikiran orang banyak. Bukantah kami hendak bekerja untuk bangsa kami, sebab itulah perlu kami berbuat supaya meréka hendaknya jangan melawani kami, artinya: kami tidak boléh dengan kasar mencela buah pikirannya, yang sejak kecil sampai besar bersama-sama hidup dengan dia, yakni pikiran meréka yang kuno itu.

Sabar! Kata orang-orang yang budiman kepada kami, kami adalah mendengarnya, tetapi sekaliannya kami tidak mengerti. Sekarang barulah kami mengerti, Stella, sekarang barulah kami tahu, maksud kata yang selalu dipakai si pengubah dunia: Sabar!

Kami tidak dapat mempercepat perjalanan keadaan itu, melainkan boléh jadi memperlambatnya, karena tergesa-gesa itu. Kalau orang banyak tiada menyukai kami, tentulah keperluan itu akan menjadi lambat. Sebab tentulah orang akan bergusar hati memberi anak-anak gadisnya pendidikan yang bébas, takut yang meréka itu nanti akan menjadi seperti kami, menjadi contoh yang tiada disukai oléh meréka itu.

Sabar, sabar sampai achir zaman, Stella! Saya amat bersedih hati ketika kebenaran itu masuk ke dalam hatiku. Kami harus menahan hati, menjaganya, supaya karena kesukaan hati itu maksud kami jangan terganggu. nyonya van Kol menulis dalam suratnya kepada kami: "Akan mencapai cita-cita itu, haruslah orang membunuh beberapa kenang-kenangan."

Kenang-kenangan yang pertama telah kami bunuh; memberikan diri kami seperti seadanya kepada orang banyak.

Tidak, tidak boléh orang banyak tahu, apa yang kami perangi. Nama musuh yang akan kami perangi itu tidak boléh didengar orang. "Beristeri banyak," itulah namanya. jikalau diketahui orang nama musuh kami itu, tentulah tidak ada seorang juga yang akan menyerahkan anaknya kepada kami, untuk diberi pendidikan. Saya amat bersedih hati memikirkan hal itu; seperti dengan dustalah kami memulai mengerjakan pekerjaan kami itu.

Kenang-kenangan kami ialah supaya orang mesti tahu benar-benar kepada kami, dan karena kepercayaannya kelak, barulah meréka itu mau menyerahkan anaknya kepada kami. Hal itu tidak boléh jadi.

Kami masih berdiri dihadapan kerja kami, dan kami lihat kenang-kenangan kami telah berangsur sebuah2 telah hilang..........! O, Stella, janganlah engkau memberati menyalahi kami, karena membuangkan kenang-kenangan yang besar itu dengan berdukacita atas kehilangannya itu. Dukacita seperti sekarang telah mencukupilah. Engkau selalu mengetahui, bahwa itulah suatu kenang-kenangan kami yang besar: hendak pergi ketanah airmu dan disana kami hendak mengumpulkan pengetahuan untuk bangsa kami. tidak usahlah saya memperkatakan itu lagi. Saya banyak meminta terima kasih, dan orang tuakupun demikian juga kepadamu atas sekalian jerih payahmu bagiku,.................dan yang tidak berhasil itu! Tidak, Stella, pekerjaanmu itu tidak hilang, pekerjaan tuan-tuan sekalian, tidak kami memakan buahnya sekarang; tetapi untuk keperluan kami ia amat berguna. Pikiran orang banyak telah memandang keperluan itu, dan ahli pikiranpun telah memikirkan pula hal itu. Hasil pikiran sekalian itu tentulah nanti akan memberi berkat bagi bangsa kami.

Sekarangpun telah adalah orang yang berkuasa bertanyakan kepada kami tentang pendidikan bangsa Jawa.

Adakah mustahil orang-orang itu akan berbuat demikian, kalau tuan sekahan tiada menarik hati ahli-ahli pikiran kami? Adakah Pemerintah dan orang banyak itu mau bekerja menolong kami, kalau tuan-tuan lebih dahulu tiada bekerja untuk kami? Stella, seribu kali saya meminta terima kasih atas hatimu yang berkasih sayang sebanyak itu.

Tidak kekasihku pekerjaan dan kepandaianmu tiadalah hilang. Atas nama bangsaku saya meminta terima kasih kepadamu. Bagi orang Jawa sekalian jerih payahmu itu akan berbahagia.

Maksud kami ialah kalau surat permintaan itu dikabuldengan segera kami akan berangkat ke Betawi. Rukmini untuk belajar menggambar, menjahit dan merénda, 'ilmu kesehatan tubuh, membela orang sakit dan memalut orang luka. untuk menggambar ia akan belajar kepada seorang guru sekolah gymnasium; untuk 'ilmu keséhatan tubuh ia belajar di Sekolah Dokter Jawa. Saya belajar akan menjadi guru. 'Ilmu itu telah saya pelajari beberapa bulan lamanya kepada seorang guru kepala. Saya hanyalah hendak membuat sebuah ujian saja. Kalau sudah kubuat itu sekolah kami pun akan dibukalah di Magelang atau di Salatiga, keduanya negeri yang berhawa sejuk dan banyaklah dokter-dokter opsir bertempat disana. Maksud-maksud kami amat tinggi: kalau sekolah itu telah sedia dan sekaliannya baik perjalanannya, maka kami hendak mengadakan pelajaran untuk tabib-tabib perempuan, perempuan pembela orang sakit dan dukun beranak. Dokter-dokter opsir itu akan mengajar mereka itu dan Rukmini akan mengepalai pelajaran itu. Pekerjaan yang seperti itu hanyalah dapat ditanggung oléh seorang perempuan, yang berbudi pekerti yang baik dan berpengetahuan.

Kami telah meminta kepada Pemerintah uang bantuan untuk mendirikan sekolah itu. Kalau permintaan itu tiada diperlakukan, kami akan meminta tolong kepada orang partikulir. Barangkali permintaan itu akan diperkenankan juga, kalau sekiranya kami meminta pertolongan kepada Seri Baginda Maharaja Wilhelmina.

Demikianlah juga dahulu pikiran bapakku: belajar di Hindia, sesudah itu untuk meluaskan pemandangan pergi ketanah Eropa. Tidaklah seperti maksud kami dahulu, belajar di Eropa dan tinggal disana beberapa tahun lamanya.
Telah setahun sampai sekarang yang saya amat bersukacita berkirim surat kepadamu atas kedatangan tuan van Kol. Dan betul setahun sesudah itu, engkau mendapat surat ini. Stella, kasihilah saya sedikit lagi! Oléh karena hormatmu kepada segala sayang yang telah engkau tumpahkan kepadaku itu, saya berharap sungguh-sungguh kepadamu: Kasihilah saya sedikit lagi.

14 Mei 1903 (IX).[sunting]

Baru-baru saya mendapat porterét-porterét sawah yang amat bagus; saya nantikan dahulu sampai padi masak, supaya boléhlah saya bermimpi-mimpi. Kalau karangan mimpi itu ada baik, akan saya kirim bersama-sama dengan porterét-porterét itu pergi ketanah Belanda untuk dicétak.
Kami kemarin pergi ke Belakang Gunung. Berapa senangnya hati kami melihat kepandaian meréka itu yang amat bagus dan melihat keselamatan hidup tukang-tukang kami itu! Kami lihat rumah si Singo telah berubah sejak kami pergi baru-baru ini kesana. Ia sekarang telah mempunyai sebuah rumah kayu dan sebuah rumah batu! Senang hati melihatnya! Rupanya meréka itu amat berbahagia! O, cobalah tuan pergi melihatnya sedang bekerja! Kanak-kanak yang diajarnya itu sekarang telah pandai pula. Senang hati melihat kanak-kanak bekerja! Kami kemarin pergi kesana dengan beberapa orang kenalan baik kami. Betullah seperti sangkaku dahulu; sebab sekarang meréka itu telah pergi kesana, maka kepandaian tukang-tukang yang hina itu bertambah tinggilah pada mata meréka itu.

7 Juni 1903 (VIII)[sunting]

Baru-baru ini saya telah berkenalan dengan seorang perempuan yang masih muda remaja; wajahnya hampir serupa dengan anak gadis yang akan menjadi menantu tuan. Ia amat bagus, o, amat bagus benar dan memandang kemana-mana dengan berbesar hati serta berbahagia; meskipun demikian telah banyak penanggungan si muda itu! Lihatiah begitu hendaknya sekalian anak-anak gadis tuan ini! Kalau demikian tentulah meréka itu akan sepadan dengan ibunya yang manis itu. Kami menyangka anak muda itu baru berumur 15-16 tahun, dan hampir tidak percayalah kami bahwa ia telah menjadi ibu. Tubuh yang lemah lampai dan ha­lus itu telah menjadi ibu! Sayang benar saya duduk berjauhan dengan dia, sehingga tidak dapatlah saya bercakap-cakap dengan dia.

GUNUNG MURIA DILIHAT DARI SAWAH DÉSA BATE, JEPARA.

Kami bertemu dengan dia dan dengan beberapa orang lain di rumah bapak muda.

Kami lebih dahulu telah berniat, pada malam itu akan menjawab sekalian tanya-tanya dan kata-kata orang kepada kami dengan kata "ia" atau "tidak" saja, karena kami berharap, kalau demikian diperbuat, tentulah orang tiada mau mendekati kami.

Hal itu baik jalannya, sampai seorang muda. suami si ibu yang bagus itu, datang duduk bersama-sama dengan kami. Ia mula-mula menceriterakan yang ia berkenalan baik de­ngan Kartono, dan bersama-sama dengan dia membuat ujian. Dengan tiada disengaja tertariklah hatiku mendengarkan katanya itu, tetapi saya lawani juga sedapat-dapatnya. Tiba-tiba ia memperkatakan kepandaian kami, bermacam-macam kepandaun bangsa Jawa, hal bangsa kami, agama Islam dsb dan tiada dengan disengaja saya telah asyiklah berbincang-bincang dengan dia.

nyonya, lihatlah bagaimana maksud kami yang sungguh tadi, sekarang telah menjadi sia-sia saja!

Pada malam itu banyaklah saya mendengar hal yang indah-indah, yang dahulu ta pernah saya ketahui!

Betapa girangnya hati kami melihat tari wayang sebagus itu. Demikian bagusnya ia menari, sehingga tidak dapat kita memahalingkan mata dari padanya. Ia menari amat halus dan amat bagus. Ia yang sebenarnya seorang perempuan, tetapi ketika ia menari itu perlu ia menarikan tari seorang laki-laki. Senang hati melihat apa-apa yang dipertunjukkannya itu! Pertunjukan yang menyatakan kekuatan dan keberanian, tetapi berapalah halus dan moleknya yang ditarikannya. Itulah kebagusan dan keindahan kepandaian kami, tiap-tiap gerakan badan dan tiap-tiap garisannya itu halus dan mulia dipandang!

Saya tidak akan melupakan keramaian di Demak yang dua hari itu. Tahu benar saya akan hal itu! Kami telah larut malam baharulah pergi tidur, tetapi kami tidakdapat tidur nyenyak.

Dimanakah boleh?.... Karena diluar rumah kedengaran orang bermain gamelan yang amat merdu bunyinya dan lebih-lebih suara orang bernyanyi yang amat indah. Kami tidak dapat tidur..... nyanyi yang amat merdu seperti buluh perindo itu menarik hati kami, dan dalam hati kami timbullah pikiran: Itulah barangkali kesudahannya kami mendangarnya.

Gamelan dan nyanyian tidak dapat kami dengar di Betawi sebagus itu.

Pada hari itu sebagai bermimpilah saya memberi selamat tinggal kepada 'umurku yang sedang remaja, demikianlah perasaan hatiku ketika itu.

Tiap-tiap perubahan dalam dunia hidup kami, adalah kebagusannya masing2 dan tiap-tiap perceraian mendukakan hati kami.

Wahai ibu yang kukasihi, maukah nyonya menolong kami nanti lalam waktu yang baru-baru 'di tempat asing itu.

Tambahlah kasih tuan kepada kami, jikalau telah datanglah waktunya nanti yang kami tidak dapat lagi melihat wajah-wajah kekasih kami sekalian, karena meréka itulah yang perlu untuk menyenangkan hati kami.

Kami pandai, banyak menanggung kekurangan, tetapi "ka­sih sayang" tidak. nyonya telah tahu bukan, bahwa surat permintaan kami telah berjalan beberapa lamanya? Apakah akan jawabnya nanti?

27 Juni 1903 (IV)[sunting]

Tentulah segala pekerjaan tuan kepada kami telah hilang, karena tidak adalah sepucuk juga surat yang datang dari padaku. Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik budi. Adikku tentu telah mengatakan kepada tuan, yang saya da­lam bulan Februari dan Maart sakit keras, dan kemudian segala waktuku habis dirampas oléh pengajaran. Banyak pekerjaan yang telah saya tinggalkan dahulu. Telah banyak benar kesalahanku, apalagi kepada sahabat-sahabatku. tidak adalah saya mengirim kepada meréka itu sepatah katapun. Sekarang saya ma'lumi betapa salahnya perbuatanku yang dahulu itu; sepatah kata selamanya lebih baik dari pada berdiam diri saja. Dalam waktu beistirahat tidak mau saya dahu­lu mengambil témpoh itu untuk kesenangan diriku, melainkan makin keraslah saya mau bekerja, karena banyaklah lagi yang hendak saya pelajari.

Tetapi hidupku sendiri telah memberi saya témpoh dengan cara yang tiada senang.

Hari inilah saya baru bangun dari tempat tidur, sesudah sakit yang dua pekan lamanya terbaring saja. Hampir sekalian penyakit telah datanglah kepadaku. Selesma, demam, sakit béngék, pusing kepala, sakit perut dan kesudahannya sakit puru campak dan sakit cacar air (ketumbuhan). Benar-benar sekalian itu telah mengancam saya. Orang tuaku dan adik-adikku tidak pernah keluar dari tempat tidurku; kekasih saya itu semuanya amat sungguh menjaga dan memeliharaku. Penjagaan meréka itu boléh benar menjadi contoh. Adikku Rukmini seperti bidadari kasihnya menjagaku. O! tidak tahulah tuan betapa sayangku kepada anak itu; setiap hari rupanya makin teguhlah ia terikat dihatiku. Ia selalu mengatakan, bahwa saya lebih mulia dari padanya, tetapi itu tidak benar; ialah yang lebih mulia dari padaku; tentulah pengakuan tuan tentang hal itu demikian juga.

Baru-baru ini kami mendapat sepucuk surat yang panjang isinya dari nyonya van Kol, yang telah membesarkan hati kami benar, karena mendengar kabar yang tuan telah mengirim surat kepadanya tentang hal kami. Disanalah kami melihat kesayangan tuan yang sungguh dan persahabatan tuan yang tulus bagi kami. Saya banyak meminta terima kasih kepada tuan, wahai sahabat yang kusayangi dan yang berhati suci!

Sekarang tuan tentu tidak bergusar hati lagi, karena kami akan tinggal di Hindia juga. Kami harus menyampaikan terima kasih dan salam kepada tuan dari tuan dan nyonya van Kol. Waktu ini amat banyak kerjanya, kalau ada témpoh ia akan berkirim surat kepada tuan. Sekarang biarlah kami saja membalas surat yang kepada tuan dan nyonya itu. Ten­tang hendak pergi kenegeri Belanda itu, sebenarnya sama pikirannya dengan tuan. Bahwa sebenarnyalah tidak pernah nyo­nya van Kol membayang-bayangkan kepada kami, bahwa kami akan bersenang-senang hati nanti kalau telah tinggal dinegeri Belanda, tetapi sejak dari semulanya ia menunjukkan ke­pada kami dengan sungguh-sungguh akan keberatan, kesusahan, kecéwaan dan kesedihan hati yang bergunung-gunung itu, yang menanti kami dinegeri Belanda. Tetapi ka­rena sedemikian harapan kami dahulu, maka iapun berbuat sedapat-dapatnya, supaya harapan kami yang besar itu dapat disampaikan.

Betul héran kita karena ialah, yang berusaha dengan sedapat-dapatnya, supaya kami dapat pergi kenegeri Belanda, dan ialah pula sekarang dengan lemah lembut dan kasih sayang yang telah menimbang maksud kami yang bertukar itu.

Dunia hidup bersama-sama ini telah banyak mengajar ka­mi, lebih-lebih dalam beberapa bulan yang baru lalu ini. Ialah pula yang mengajar kami membédakan antara persahabatan yang benar dengan persahabatan yang pura-pura.

Tentulah saja pengajaran itu kami peroleh dengan meiuKakan hati kami. Bukan buatan banyaknya kami telah berutang budi kepada Nellie. Ia telah mengajar kami menimbang de­ngan lemah lembut. Doakanlah kami! Kami selalu memandang dan mengingat kepada Tuhan. Sekalian kemauannya mestilah menjadi!

Harapankoa besar benar hendak borkirim surat kepada tu­an, sebab itu berbaringlah saya di atas sebuah kursi panjang menulis surat ini dengan pinsil. Saya berharap yang tuan laki isteri menerima surat ini dalam segala keselamatan. Terimalah dari adikku hormat yang terbit dari hati yang suci dan salam tidakzim dari anak tuan,

KARTINI.

Kami belum mendapat jawab tentang surat permintaan kami itu. Kami amat ingin hendak menerimanya.

4 Juli 1903 (VIII)[sunting]

Telah banyak benar kami berperang dan menanggung kesengsaraan. Pada pikiran kami telah cukuplah itu, dan oléh karena penanggungan dan peperangan itu telah patutlah rasanya kami mendapat bagianya: Menjadi pengantin bangsa kami, bangsa yang kami cinta itu! Maksud hati kami itu rupanya akan sampai benarlah, tetapi sekarang tiba-tiba telah terjauh pula kami dari maksud itu. Ibu, wahai ibuku! Diamlah tuan, janganlah meratap, janganlah mengeluh, janganlah menangis.

Saya mau mendoa, mendoa sampai keachir zaman, meminta sungguh-sungguh; walaupun apa jua yang akan kami peroléh pada waktu yang akan datang, tetapi tetaplah kami meminta, moga-moga kami dapatlah tinggal seperti biasa: berhati berani, percaya dan berserah diri!

Acap kali benar kami mengatakan kepada orang lain: ja­nganlah berputus asa, dan janganlah menyumpahi kesengsaraan karena putus harapan. Dalam kesengsaraan itu adalah terletak kesenangan. tidak adalah sesuatu hal yang terjadi, yang bersalahan dengan kata kasih-sayang.

Apa yang disumpahi sekarang, bésok akan menjadi rahmat. Percobaan itu ialah pendidikan dari Tuhan yang mahakuasa. Siapa yang mengatakan dan mempercayai hal itu dihatinya sendiri, haruslah pula pandai menanggungkannya. Sekarang gilirankulah pula menanggungkan dengan diri sendiri sekalian nasihat-nasihat yang telah kuajarkan dahulu itu.

Saya sekarang sekali-kali tiada mau lagi memikirkan peperangan, penanggungan, kesusahan dan percobaan itu; sekaliannya membuat kepalaku pusing dan hatiku sakit; saya hendak bernapas sekarang dalam hawa bunga-bungaan yang semerbak baunya, dan mandi dalam cahaya matahari; sekaüan itu adalah pula tersedia dan itulah pula yang akan jadi pembujuk dan penyenangkan hatiku.

Sekarang saya ceriterakan kepada tuan bunga-bungaan yang semerbak baunya dalam taman kami itu.

Ibuku, kami telah mulai mengerjakan pekerjaan kami yang menyenangkan hati itu.

Sampaikanlah kepada suami nyonya terima kasihku atas nasihatnya, menyuruh kami bekerja selekas-lekasnya dengan tiada menaruh surat ujian. O! cobalah tuan pikirkan. Sekolah kami telah bermurid tujuh orang, dan selalu datang permintaan hendak menjadi murid. Senang hatiku sekarang!

Kami dahulu tidak berani berharap yang pekerjaan itu akan begini jadinya.

Anak-anak itu amat senang hatinya, dan orang-orang tuanya bergirang hati! Murid-murid yang pertama ialah anak seorang pegawai yang amat saléh dalam jajahan negeri kami. Kami telah bercakap-cakap dengan ibunya. Karena telah terang kepadanya sedikit-sedikit, maka maulah ia kesudahannya menyerahkan anak gadisnya kepada kami. Adik si gadis itu yang perempuan belum lagi ber'umur lima tahun, tidak suka tinggal di rumah, ia suka benar dan harus turut pula bersekolah. ya Allah, sekian kecilnya, sehingga ia hampir tidak dapat melihat keatas méja. Kalau saya tidak menyuruhnya duduk di atas bangku-kaki, saya ambillah ia di atas pangkuanku. Anak kecil itu dengan segala kekerasan hatinya hendak turut beker­ja bersama-sama. Kemudian dari pada anak-anak itu, datanglah pula gadis-gadis anak soorang collecteur dan seorang lagi gadis anak assistén collecteur. Dua hari yang telah sudah, jaksa di Karimun Jawa mengirim anaknya kemari belajar. cobalah ibuku pikirkan, meréka itu mengirimkan anaknya kemari, dan diséwakannyalah disini tempat tinggal dengan membayar makan! Kami amat mengucap syukur! Orang tua anak-anak itu amat berbesar hati akan maksud kami itu, sehingga adalah beberapa orang yang memberikan anak­nya benar-benar kepada kami...... tetapi kami belum suka menerimanya.... nanti, dengan segala suka hati kami menerimanya. Pada hari ini telah datanglah adik perem­puan si Husin, murid Sekolah Dokter Jawa, mau belajar disini. Kemarin telah datang pula seorang ibu yang masih muda kepada kami, dengan sesalnya mengatakan kepadaku, yang rumahnya amat jauh dari tempat kami, kalau tidak, maulah ia sendiri datang belajar. Sekarang ia tidak dapat belajar, sebab itulah sekalian pengajaran yang tidak dapat diterimanya akan diserahkannyalah kepada anaknya. Dan coba pula tuan pikirkan, anaknya itu belum lagi ber'umur setahun. Kalau ia telah ber'umur enam tahun akan diserahkannya anak itu kepada kami, meskipun dimana juga kami tinggal; iapun meminta sungguh-sungguh supaya kami akan menerima anaknya itu.

Anak-anak murid kami itu datang kemari empat kali sepekan dari pukul 8 sampai pukul 12 1/2. Meréka itu bela­jar menulis, membaca dsb., menjahit dan merénda serta belajar masak-memasak. Kami mengajar meréka itu bukanlah seperti aturan yang biasa disekolah, melainkan menurut pendapatan kami sendiri, sebagaimana kesukaan anak-anak Jawa belajar.

O! ibuku, tuan kedua baiklah datang melihat anak-anak itu, tentulah tuan akan berbesar hati melihatnya. Meréka itu datang dengan berpakaian bagus, dan amat manislah rupanya, tubuhnya segar dan hatinya masih suci. Meréka itu memudahkan pula pekerjaan kami, sebab kencang otaknya, lekas dapat menerima pengajaran dan cakap, apalagi lekas mau menurut apa yang dikatakan. Meréka lekas percaya kepada kami dan bébas bercakap-cakap dengan kami.

Adalah pula di antara meréka itu seorang anak yang bagus, mula-mula amat banyak tingkahnya, tetapi sekarang besar hati kami melihatnya, tidak bertingkah lagi. Ia tidak mau lagi menjilat-jilat bibirnya, dan tidak mau lagi bermain-main dengan matanya yang bagus itu, melainkan bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Rupanya tingkahnya yang buruk dahulu itu asalnya karena tidak ada kerjanya!

Betapa bagusnya meréka itu bercampur gaul bersama-sama. Meréka bercakap-cakap seorang dengan seorang, dalam bahasa Jawa tinggi dengan halusnya, sedikitpun tidak adalah kakunya.

Pada hari ini adalah seorang di antara kami dalam rumah yang akan merayakan hari lahirnya. Kami hendak menjamu meréka itu dengan cara yang amat ganjil. Meréka itu pagi ini patutnya merénda dan menjahit, tetapi kami buat hari ini hari memasak-masak. Berapalah sikapnya tangan-tangan yang kecil dan yang halus-halus itu bekerja! yang seorang membuat kué putu, yang seorang lagi membuat kué lapis dan yang seorang membuat kué serikaya. Mérah padam muka meréka itu mengerjakannya.

Lihatlah pula mata meréka itu bercahaya-cahaya! Dengan besar hati meréka itu pulanglah kerumah masing-masing memperlihatkan masakannya itu kepada orang tuanya. Lihatlah, itulah suatu rahmat, rahmat yang besar bagi kami. Kamilah yang membuat pekerjaan itu yang mula-mula sekali untuk adik-adik kami yang perempuan itu.

Kardinahlah nanti yang akan mengajar menjahit, merénda dan masak-memasak dan Sumatri akan mengajarkan kepandaian yang lain.

Beruntunglah kami masih ada lagi menaruh perkakas un­tuk menjahit dan merénda; selama barang-barang itu masih ada juga, meréka itu akan memperoléhnya dari kami dengan tiada membayar; dan kemudian anak-anak, yang orang tuanya berada, tentulah harus menyediakan sendiri perkakas untuk anaknya. Tetapi perkakas sekolah yang lain tidak adalah pada kami. Dimanakah dapat kami membeli kitab-kitab bacaan bahasa Belanda dan bahasa Jawa? Maukah ibu memintanya kepada tuan? Kalau sekolah itu tinggal baik dan murid-muridnya bertambah banyak, maka adalah harapan kami...... akan meminta uang bantuan. Boléhkah hal itu pada pikiran nyonya? Bantuan itu bukanlah untuk kami sendiri, tetapi berguna untuk pembantu ongkos-ongkos sekolah itu. Pegawai-pegawai negeri yang berpangkat rendah, sekali-kali tidak dapat sedikit juga mengeluarkan uangnya. Kepala-kepala negeri yang bergaji ƒ 50.— hanyalah dapat memelihara anak isterinya saja, dan kadang-kadang isterinyapun turutlah pula bekerja keras; tidak adalah lagi uangnya berlebih untuk pembeli apa-apa yang lain. Dan kamipun tidak dapat pula selamanya memberi sekalian keperluan anak-anaknya itu. nyonyapun tentulah ma'lum hal itu.

Kalau saya telah boléh berjalan, kami akan pergi ke Semarang; saya harus diperiksa oléh dokter disana. Penyakit béngék dan pusing kepala itu haruslah hendaknya hilang benar-benar, tidak boléh datang lagi berulang-ulang kepadaku. Dan waktu itu kami akan pergi pula membeli barang-barang yang perlu untuk anak-anak kami. Kami disini sekarang tiadalah mempunyai jarum rénda dan batu-tulis barang sebuah juapun.

5 Juli 1903 (VI)[sunting]

Berapalah baik dan sayangnya tuan kepada kami, selalu tuan hendak menggirangkan hati kami. Dan jikalau saya pikirkan betapa kami, apalagi saya, hendaknya membalas se­kalian kebaikan dan kesayangan tuan itu. Rupanya amat kurang terima kasih kami, hampir tidak adalah ubahnya, seakan-akan saya tidak menghargai sekalian kebaikan dan kesayangan tuan..... Anakanda K. betul pandai benar berdiam diri seperti orang bisu.

Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik hati!

Pada dua hari yang terlampau, tuan berkirim salam dengan mengirimkan sebuah kitab "Album Kern", ketika itu pikiran sayapun melayanglah ke Sonder, dan saya berjanji akan mengikut pikiran itu dengan tutur kataku. Dan saya sekarang amat berbesar hati karena janjiku dapat kusampaikan.

Kami meminta terima kasih kepada tuan atas salam yang terbit dari hati tuan yang kasih-sayang lagi amat berharga itu; dan kitab itu telah saya baca dengan girang hati.

jikalau sekiranya sekalian buah pikiranku perihal tuan saya tuliskan, tentulah bergunung-gunung surat yang akan tuan terima dari sini!

nyonya van Kol dengan ramahnya dan baik hatinya memperbincangkan tuan, itulah yang membesarkan hati kami, ka­rena itulah suatu cita-tiita kami benar, bahwa sekalian meréka yang kami kasihi dan kami hormati itu, hendaknya akan bertemu satu dengan yang lain, dengan hati yang baik.

Bagaimanakah tuan keduanya sekarang. mamanda? Adakah tuan keduanya didalam séhat dan baik-baik saja di Sonder? Adakah pernah tuan melihat disana orang-orang dari Toraja? Saya dapat memikirkan sungguh-sungguh yang tuan bersusah hati, karena tuan harus meninggalkan pekerjaan tuan beberapa lamanya. Dimana hati kita telah tertumpah, tidak mudah kita meninggalkan tempat itu; disitulah adanya nasib kita yang akan datang, dan disanalah dun ia hidup kita.

Sekarang saya ceriterakan kepada tuan kabar yang menyenangkan hati. Sambil menanti-nanti apa-apa yang akan datang, kami telah memulai juga pekerjaan kami itu. di rumah telah kami dirikan sebuah sekolah, dan telah ada bermurid tujuh orang banyaknya, anak-anak gadis kepala-kepala negeri. Tapi kami mendapat kabar, bahwa ésok akan datang lagi tiga orang anak-anak dari luar negeri.

Kami bermula sekali bermurid hanyalah seorang saja, tetapi tidak berapa lamanya murid itu telah menjadi lima orang dan keésokan harinya menjadi delapan orang, dan beberapa hari lagi murid kami akan menjadi sepuluh orang.

Selalu kami berbesar hati melihat anak-anak kami itu. Segar tubuh meréka, lagi suci hatinya, dan betapalah pula bagusnya meréka itu bercampur-gaul bersama-sama. Me­réka itu lekas percaya kepada kami; meskipun meréka itu perlu memperhatikan adat tertib sopan, tetapi meréka itu selalu bébas, tiadalah ada perbédaan pangkat dan darajat dalam pergaulan kami. Kesanalah pula kami hendak pergi. Betapalah pula anak-anak itu memudahkan kerja kami, karena kencang otak meréka itu, lekas masuk pengajaran kepadanya, lagi cakap dan mau menurut sekalian apa yang dikatakan. Belumlah sekali juga kami terpaksa mesti menghukum meréka itu.

Anak-anak itu amat suka datang dan belajar dengan riang hati lagi rajin, dan orang-orang tuanya sangat bersukacita dalam hal itu. Sekalian itu menunjukkan kepada kami, bahwa kami hanyalah mengerjakan apa-apa, yang sepatutnya telah lama dibuat orang. Besar rahmat yang dicurahkan oleh Tuhan yang pengasih penyayang kepada kami. Bagus dan berbahagia benar pekerjaan yang diberikannya ke­pada kami itu. Moga-moga dapatlah kami mengerjakannya dengan sepatutnya, dapatlah pula kiranya kami selalu memuliakan kepercayaan orang kepada kami!

Itulah yang kami kehendaki benar-benar, yang kami minta sungguh-sungguh, supaya boléh kami mendidik hati kecil mereka itu, yang suci, segar dan yang belum ada bernoda itu, hati yang putih seperti kaca, dan dapatlah kiranya kami membentuk budi pekerti didalamnya.

Mendoalah tuan untuk kami. Moga-moga tuan akan memberi rahmat akan maksud dan pekerjan kami itu!

O! adalah pula orang nanti hendaknya, yang suka berbuat seperti kami. Mémang banyaklah orang sekarang yang cakap berbuat demikian, tetapi meréka itu patut digocoh dahulu supaya bangun. Kami telah mencoba menghubungkan salatu'rrahim kami dengan anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang sama banyak pengetahuannya dengan kami, tetapi maksud itu tidak berlaku. Membebarkan kemauan itu, biarlah kami bekerja sendiri. Seperti perbuatan kami seka­rang ini barangkali lebih mustajab. Dan..... tidak adalah usaha yang lebih baik dari pada memberi contoh yang bagus dan berani bekerja dahulu.

Seorang anak muda yang tidak kami kenal, murid Sekolah Dokter, telah mengirim sepucuk surat kepada kami, menyerahkan dua orang adiknya, anak mamak mudanya kepada kami.

Ia minta kalau boléh kami akan membentuk dengan sebaik-baiknya budi pekerti anak-anak itu. Kami wajib mengirim surat kepada anak gadis-gadis itu. Kami suka sekali mengerjakan kerja itu, tetapi tidak tahulah kami entah maksudnya itu adalah akan sampai.

Anak muda itu amat gembira dan banyak cita-citanya. Ada­lah lagi seorang anak muda tempat saya berkirim-kiriman surat. Anak itu ialah anak paman kami. Berapalah besar hatinya ketika ia boléh berkirim surat kepadaku!

Kami lebih banyak berbahagia dari pada orang-orang lain, oléh karena asal kami dan pangkat bapakku. Itulah yang terutama sebabnya, dan ada pula lagi hal yang lain-lain, yang menyebabkan kami mudah membuat barang sesuatunya.

Apa yang kami perbuat sekarang semuanya baru. Dahulu tidak pernah anak-anak gadis berkirim-kiriman surat dengan anak-anak muda. Sekarang seperti biasa sajalah kami berbuat sedemikian, dan seakan-akan begitulah biasanya. Ka­mi bercampur-gaul dengan meréka itu seperti orang bersahabat, dan meréka itu memandang kami seperti saudara-saudaranya yang perempuan.

Itulah suatu keadaan bagi meréka itu yang baru benar; karena kami yang berasal tinggi, sekali-kali tiadalah hina bagi kami akan bercampur-gaul seperti bersahabat dengan meréka yang berasal rendah.

Saudara sepupu kami itu telah mempercayai kami dan memandang kami seperti saudaranya yang lebih tua dari padanya, tempat ia meminta nasihat, dan iapun amat suka mendengarkan kata kami. Selalu saya méminta, kepada Tuhan sungguh-sungguh, moga-moga kami tiadalah akan mendapat malu atas kepercayaannya itu; kami berharap supaya kami selalu boléh memberi apa-apa yang dimintanya dan yang dicarinya pada kami.

Besar bukan buatan hati kami berkenalan dengan budi pekerti yang muda, suci dan gembira itu! O! kami berharap moga-moga dunia hidup bersama-sama ini tiadalah akan merusakkan cita-citanya itu!

tidak pernah rasanya kami lebih besar berbahagia, lain dari pada bahagia yang kami peroléh karena membantu orang lain.

Héranlah kami memikirkan, karena kami selalu merasa yang kami lebih tua dari pada meréka, yang sebaya dengan kami, dan kadang-kadangpun dari pada orang-orang yang mémang lebih tua dari pada kami. Tentulah itu sebabnya karena kami telah banyak merasai penanggungan, dan telah banyak pula hal yang telah dipikirkan dan diurungkan.

Amat sombong bunyinya, jikalau kami disini menyebutkan anak-anak kami, pada hal meréka itu patutlah kami namai adik-adik kami yang tiada sebegitu muda dari pada kami. Tetapi meréka itu sendiri telah menyangka kami seperti ibunya, dan tidaklah seperti saudara-saudaranya.

Ibu dan saudara perempuan dari orang bersama-sama, ba­nyak-banyak, o, moga-moga Tuhan akan menjadikan juga kami yang demikian!

Sekolah kami kalau boléh janganlah keadaannya seperti sekolah benar-benar, dan kamipun janganlah seperti guru sekolah, melainkan sekolah itu haruslah keadaannya betul-betul seperti sebuah rumah tangga yang besar, dan kami menjadi ibu-ibu anak-anak itu.

Kami akan mengajar meréka itu bersipat kasih sayang dengan berbukti sekali, seperti yang telah kami ma'lumi dan kami pakaikan.

Ketika kami masih muda adalah suatu pedóman yang kami pakai dan yang mudah sekali diikut: Apa-apa yang tidak engkau sukai diperbuat orang di atas dirimu, janganlah sekali-kali engkau perbuat di atas diri orang lain.

nyonya van Kol banyak menceriterakan kepada kami ceritera nabi Isa dan rasul2 Petrus dan Paulus. Sekalian itu menyenangkan hati kami mendengarnya.

Apa pedulinya kita agama mana yang dipakai orang, dan bangsa apa dia. Orang berhati tinggilah ia menjadi orang baik, dan budi pekerti yang bangsawan, tinggal bangsawan juga. Hamba Allah yang bersipat demikian adalah didalam tiap-tiap agama dan segala bangsa.

Saya telah membaca kitab "Quo Vadis,"-dan héranlah saya memikirkannya, dan saya kasihilah orang-orang yang bersengsara karena agama itu, sebab dalam penanggungan yang seberat itu meréka masih mengucap syukur dan amat percaya kepada Tuhan yang mahatinggi, serta menghormati Tuhan dengan nyanyian yang bagus-bagus. Saya telah turut berpilu hati dengan meréka itu, ataupun bersukacita bersama-sama.

Tahukah tuan kitab "Wiy beidén" karangan Edna Lyall? Itulah kitab yang amat bagus juga. Ia memperkatakan me­réka yang tiada mengaku akan keadaan Tuhan dan orang-orang Serani, pun jua memperkatakan, bahwa agama Serani itulah agama yang sebenar-benarnya, dan keadaan agama Serani yang telah diputar-putar dan diubah-ubah orang, seperti yang telah acap kali kejadian didunia ini. Luke Raeburn ialah seorang yang mulia hatinya, meskipun ia tiada mengaku kepada Tuhan, dan anaknya Frica Raeburn, bagus dan mulia hati, yang mula-mulanya tiada mengaku kepada Tuhan, tapi kemudian menjadi orang Serani yang percaya sungguh kepada Tuhan dengan tulus dan saléh.

Bapak dan anak yang berkasih-kasihan satu dengan yang lain, sehidup dan semati bersama-sama.

Telah kami baca pula: "De ziel van een volk" tentang aga­ma Budha. Itulah pula hikayat yang amat bagus. Sekarang kami amat suka benar hendak membaca tentang agama Yahudi. Barangkali kitab-kitab karangan tuan Zangwill yang akan memberi kami apa yang kami cari itu: "Droomen van het Ghetto."

7 Juli 1903 (VIII)[sunting]

Bésok kami akan mengajar pula..... itulah yang menyenangkan hati kami kedua..... sembilan orang murid-murid, dan banyak pula lagi meréka yang meminta masukkan anak-anaknya, di antaranya ada pula anak-anak orang Melayu. Itulah suatu kemenangan! Demikianlah dunia hidup ini, ada yang jatuh ada yang berdiri, ada yang tertarung ada yang berjalan, ada yang kalah ada yang menang.

Antara surat ini dengan surat yang akan datang, adalah surat-surat yang tidak dapat disiarkan. Dalam surat-surat itu adalah diterangkan juga, bahwa pengarang surat itu dan adiknya Raden Ajeng Rukmini telah menolak besluit Gubernemén, tidak suka menerima uang bantuan yang ƒ 4800.— itu untuk belajar di Betawi itu; dan demikian lagi dikabarkannya tentang perkawinannya yang akan terjadi seperti tersebut dalam surat 1 Augustus 1903 (VII).

24 Juli 1903 (VIII)[sunting]

Sekarang adalah pengharapanku yang besar sekali kepada nyonya, tetapi yang sebenarnya kepada tuan. Maukah nyonya menyampaikan permintaanku itu kepada suami nyonya yang mulia itu? Hati kami sangat tertarik kepada seorang anak muda, dan kami suka benar melihatnya, supaya hidupnya berbahagia.

Anak muda itu bernama Salim[2], anak Sumatera datang dari Riau. Pada tahun ini ia telah membuat ujian penghabisan di H.B.S. di antara sekalian murid-murid yang membuat ujian itu, dari ketiga H.B.S. di Hindia ini, ialah yang mendapat nomor satu dalam ujian. Anak itu amat suka sekali hendak pergi belajar kenegeri Belanda untuk menjadi dokter. Sayang sekali maksudnya itu tidak dapat disampaikannya, karena kekurangan belanja. Bapaknya hanya bergaji ƒ 150.— saja.

Meskipun ia akan menjadi kelasi, maulah ia asal dapat pergi ke Belanda. Tanyakanlah tempatnya kepada Hasim. Ia kenal kepada anak itu, dan iapun telah mendengarnya bercakap-cakap di Stovia. Anak itu berani dan pandai, patut benar ditolong!

Ketika kami mendengar keadaannya serta cita-citanya itu, timbullah hasrat dihati kami yang sebesar-besarnya hen­dak menolongnya akan memudahkan menyampaikan cita-ci­tanya itu. Waktu itu terkenanglah kepada kami akan bes­luit Gubernemén yang terbit pada 7 Juli 1903 itu...... bes­luit penjawaban yang kami nanti-nanti dengan hati yang pilu, dan demikianpun menerima dengan hati yang pilu pula.

Wajibkah hasil daya upaya sahabat kami yang mulia itu, dan hasil harap-harapan, doa dan cita-cita kami akan hilang lenyap saja, tidak dipergunakan?

tidak dapatkah orang lain mempergunakannya? Gubernemén telah memberi kami uang bantuan ƒ 4800.— untuk menyempurnakan pendidikan kami. tidak dapatkah uang itu diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih perlu, tetapi sekali-kali tidak kuranglah dari pada kami, yang harus pula ditolong?

Berapalah baiknya jikalau sekiranya Pemerintah suka membayar ongkos pengajarannya itu semuanya yang besarnya kira-kira f 8000.—; kalau tidak dapat sekian banyaknya, kamipun akan mengucap syukur, apabila Salim boléh kiranya menerima uang yang ƒ 4800.— yang telah diberikan kepada kami itu. Dan berapa kekurangannya, biarlah kami mintakan pertolongan kepada orang lain.

O! berilah ia merasai lazat cita kesukaan, yang telah lama menjadi cita-cita dihati kecil kami, dan yang tidak dapat ka­mi peroléh itu.

jadikanlah kami berbahagia, dengan memberi orang lain, yang mempunyai kenang-kenang, perasaan dan maksud yang sama dengan kami itu, bahagia. Kami telah mengetahui bagaimana halnya menyimpan perasaan yang hidup dalam hati, cita-cita seperti api dalam dedak didada yang busung. O! janganlah hidup yang muda sebagus itu, dan kekuatan yang sesegar itu dibiarkan saja hilang melayang! Ia wajib diusahakan dengan sebaik-baiknya untuk keperluan bangsa Bumiputera, karena kekuatan yang demikian amat berguna be­nar bagi meréka itu.

jika Salim nanti sampai menjadi dokter, alangkah ba­nyaknya kebajikan yang boléh dibuatnya untuk bangsanya! cita-cita Salimpun: bekerja untuk bangsa kami.

Permintaan kami ini ialah suatu permintaan yang gila, hal itu kami ketahui; tetapi ya Allah, jika sekiranya ia dapat dikabulkan! Wahai ibuku, tentulah peperangan yang telah berbulan-buelan, bertahun-tahun yang telah kami tanggungkan, tiadalah akan hilang lenyap, tiadalah akan menjadi sia-sia saja.

Berilah kiranya kami merasai kelazatan hadiah yang jarang-jarang bertemu itu, melihat dalam hidup kami hasil penanggungan kami itu, yakni: cita-cita Salim wajib disampaikan.

Moga-moga Tuhan akan mengabulkan doa kami ini!

Salim sendiri tidak tahu akan kerja kami ini; sedangkan bahasa kami ada didunia inipun ia tidak tahu. Ia hanyalah mengetahui, bahwa ia dengan segala kesungguhan hatinya bermaksud hendak menyampaikan pelajarannya, supaya dapatlah ia nanti bekerja untuk bangsanya, tetapi sekalian itu tidak dapat dilakukan, karena ia tidak beruang.

Kami hidup, berharap dan berdoa untuk Salim[3]

1 Augustus 1903 (VII)[sunting]

Inilah sepucuk warkah yang pandak akan mengabarkan kepada tuan dengan selekas-lekasnya, tentang perubahan yang baru dalam nasib hidupku. Saya tiadalah lagi akan menjadi seorang perempuan yang berdiri sendiri saja un­tuk menyampaikan maksud kami; seorang laki-laki yang kuat dan mulia hatinya akan berdiri disisiku, menolong menyam­paikan usahaku, yang berpaédah untuk bangsa kami!

Dalam hal itu usahanya telah jauh, dan telah adalah buktinya padanya, sedang saya ini ialah baru memulai.

O, ia seorang yang baik, pengasih dan penyayang, selainnya dari pada berhati mulia, ia berkepala terang dan cakap.

Ia telah pergi kesana, ketempat yang dicintai oléh tunangannya ini, tetapi Ni tidak boléh pergi, karena tidak diizinkan oléh bangsanya: kenegeri Belanda.

Itulah suatu perubahan yang amat besar, kami berdua bantu-membantu, dan tambah-menambah mana yang kurang, akan berjalan terus, menempuh jalan yang singkat, pergi menyampaikan cita-cita kami, untuk keselamatan bangsa kami.


Banyak buah pikiran kami yang sama. Tetapi sekarang nyonya belum juga tahu, siapakah tunanganku itu: Radèn Adipati joyo Adiningrat, Regén di Rembang. Hingga inilah dahulu! Dengan lekas di belakang ini saya akan menulis lagi, dan harapanku lebih panjang dari pada surat ini.

1 Augustus 1903 (VIII)[sunting]

Saya ber'hajat, hendak menghargakan benar-benar nama yang diberikan orang kepadaku itu: anak kekasih Allah.

Bukankah sudah kami katakan kepada tuan, bahwa kami telah lama menjauhkan diri dari sekalian bahagia untuk diri sendiri? Sekarang hidupku yang mencinta demikian itu telah meminta supaya saya menyampaikan janjiku itu. Sekarang suatupun tiadalah hal yang akan teramat sedih menyusahkan hati kami, yang teramat berat, dan yang teramat keras, asal saja kami dengan hal yang sedemikian dapat menolong dengan sebutir pasir untuk membuat mercu yang amat bagus itu, yang bernama: bahagia Bumiputèra.

Sekarang saya hendak menguji: berapakah harga kemanusiaan diriku?

Kemarin, betul-betul suatu hari yang penting pula bagi kami...... Kami mendapat surat dari Departement van Onderwiys, Eeredienst en Niyverheid menanyakan kepada kami, sudikah kami menerima pemberian Pemerintah itu, yakni kami akan diajar untuk menjadi guru dll. Sekiranya kami tidak sudi, haruslah kami memberi keterangannya hitam di atas putih, supaya dapat dikirim kepada Gubernur jenderal.

Bagaimanakah hendaknya keterangan yang diminta itu patut diaturkan? Dengan péndék dan buang kulit tampak isi sajakah, yaitu dikatakan saja yang saya tidak dapat menerima pemberian itu, karena saya telah bertunangan; atau saya tidak sudi menerima karena saya sekarang telah mendapat jalan bekerja yang lebih baik akan menyampaikan cita-citaku untuk bangsaku? Berusaha disisi seorang laki-laki yang cakap dan berhati mulia, yang saya hormati tinggi, dan bersama-sama dengan saya amat cinta akan bangsanya, dan yang sudi pula monolongku dengan sungguh-sungguh dalam usahaku, tentulah dalam hal itu saya boléh bekerja berbuat baik untuk bangsa kami itu, lebih banyak dari pada jika kami berdua sama-sama perempuan saja, yang masing-masing berdiri sendiri, mengerjakan pekerjaan itu.

Dan Rukminipun tidak mau pula menerima pemberian itu, karena ia tidak dapat, tidak cakap dan tidak mau berjalan sendiri. la bermaksud dengan jalan yang lain hendak menyampaikan cita-citanya. Kemudian tentulah kami meminta banyak terima kasih dan menghormati Pemerintah, yang telah menunjukkan lagi sebenar-benarnya terutama bermaksud mau memajukan keperluan yang berguna untuk anak Bumiputera; asal saja seseorang dari pada anak Bumiputera mengeluarkan suaranya, tentulah suaranya itu akan didengar oléh Pemerintah; dan jika sekiranya anak Bumipute­ra mengeluarkan suaranya untuk bahagia anak negeri pada waktu yang akan datang, tentulah maksudnya itu akan disampaikan oléh Pemerintah. jika Pemerintah telah berbuat begitu, niscayalah tanah Belanda akan bertambah dekat didalam hati anak negeri. Sekarang kami telah mengaku, bahwa Pemerintah mau berbuat demikian; dan tanah Belanda mau memberi bahagia akan tanah Hindia. Sekalian kataku itu bukanlah kata yang bohong, kami percaya benar-benar. ............

Sekalian anak negeri yang kenal kepadaku telah berharap dan memintakan doa: "Bendoro Ajeng Tini tidak boléh pergi kelain tempat lain dari pada kekabupatén."

Dan meréka yang berhati sederhana itu, sekarang telah bergirang hati, karena maksudnya akan sampai. Dan anak negeripun berbesar hati, karena begitulah pula niatnya untuk "bendoronya." Lihatlah oléh tuan betapa sahabat-sahabatku itu bergirang hati. Vox populi vox dei. (Suara Bumiputera itulah suara Tuhan). jikalau benar kata itu maka ialah akan menjadi suatu kenyataan, bahwa Tuhan telah mengubah jalanku, lain dari pada jalan yang hendak kutempuh dahulu.

Moga-moga tuan akan menjadi suatu rahmat, tempat orang banyak akan bernaung, seakan-akan sebuah pohon yang rindang, tempat orang banyak bernaung melepaskan lelahnya dalam panas terik. Begitulah niat beberapa orang tua akan saya.

Mudah-mudahan dapatlah kiranya saya menyampaikan niat orang-orang tua yang berhati sederhana itu.

Adalah sekarang sebuah pekerjaan yang berat menanti saya; benar-benar terlampau beratnya; tetapi jika saya dapat menyampaikannya, maka tiadalah ada kebajikan yang lain, yang sebaik-baiknya dapat kuperbuat untuk bangsaku.

Suruhan atas diriku, bekerja hendaklah sampai-sampai, karena itulah perbuatan yang sebaik-baiknya untuk hidup didunia.

Meski bagaimana juapun halnya untungku sekarang ini, itulah untung bahagia yang sebaik-baiknya dan yang se- bagus-bagusnya dalam hati anak Bumiputera. Perkawinanku itu akan memberi kebaikan hagi cita-cita kami itu. Ialah akan memajukan pikiran orang-orang perempuan, ibu anak-anak, supaya meréka akan menyuruh anak-anak gadis diberi pendidikan. Keadaanku ini lebih berharga dari pada seribu kata-kata yang menggembirakan hati, sebab keada­anku ini teius masuk ke dalam hati meréka itu sendiri. Me­réka itu sekarang telah mendapat kebenaran, bahwa kebagusan" dan kekayaan terlipurlah oléh budi pekerti dan pikiran yang sempurna.

Sekarang teringat oléhku akan kataku sendiri, ketika seorang bertanya kepadaku, bagaimana patutnya orang mendidik anak-anak gadis dan perempuan bangsa Bumiputera maka sayapun berkata: Bangsa Jawa itu samalah dengan bangsa-bangsa lam di Hindia ini, yang suka akan cahaya dan pancawarna, karena meréka itu sekalian anak yang bercahayakan matahari. Kalau demikian berilah meréka itu kehendaknya itu; tetapi apa yang diberikan kepadanya itu, haruslah baik dan sejati.

tidak boléh kami seka.rang berkasar-kasar mengubah adat isti adat tanah kami ini; anak Bumiputera bangsa kami ini tentu akan mendapat cahaya dan cemerlang yang dikenendakmja itu. Kebébasan perempuan tentulah akan datang ia sungguh akan datang; tetapi kami tidak dapat melekaskan kedatangannya itu.

Kami tidak dapat menolak kedatangan sesuatu kecelakaan; ia mesti datang, tetapi sesudah itu datanglah kemenangan!

Kami tiadalah akan hidup lagi apabila kemenangan itu da­tang; tetapi biarlah, apatah salahnya?

Kami telah turut menolong membuka jalan, yang pergi menuju ketempat itu ingatan itupun telah membesarkan hati kami!

janganlah tuan bersusah hati; suamiku itu tiadalah akan melemahkan sayapku; karena saya pandai terbanglah, maka saya tmggi dilihatnya dalam pemandangannya. Ialah yang akan memberi saya waktu banyak-banyak, supaya saya dapat membebarkan sayapku kian kemari; ialah yang akan meluaskan padang kerjaku.

Ia sudi menerima anak tuan ini, dan tiadalah ia akan menyuruhku akan menjadi orang didapurnya saja.

8 Augustus 1903 (VIII)[sunting]

Tahukah tuan hari ini, apakah? Hari inilah hari yang menyatakan, bahwa kita telah tiga tahun bersahabat. Tiga tahun yang telah lalu kita mula-mula bertemu. Tiga tahun yang telah lalu, ketika itulah pula tiga orang anak-anak gadis bersuka raya atas pemberian Tuhan kepadanya: sahabat-sahabat yang disukai oléh hatinya! Anak-anak gadis itu sekarang telah menjadi perempuan besar, keningnya te­lah berkerut dan hatinyapun telah seperti keluar dari dalam api. Telah angus dan menjadi debukah hati itu, atau telah menjadi sucikah dia sekarang, karena telah mandi dalam api itu? ............... Kami tahadi amat bergirang hati, berkeliling méja tempat saya duduk sekarang; tadi kami berlima duduk disana sama-sama bekerja. Yustinah, dukun beranak dan kami berempat. Ia datang kemari tadi pagi dan menumpang disini sampai pekan yang akan datang. Kami sayang sekali kepadanya, sebab ia seorang yang baik dan bagus. Ia mempergunakan waktunya disini dengan sebaik-baiknya, dan belajar kepada kami menjahit dan merénda; tahadi ia sedang menekat selop. cepat sekali ia belajar, dengan sebentar saja telah pandai ia mengerjakan pekerjaan itu. Berapalah besarnya hati dan senang perasaanku tadi pagi, ketika ia merebahkan kepalanya seperti seorang saudara kandung kebahuku, ketika saya menerangkan kepadanya kerja me­rénda dan menjahit itu. Sekarang ia merasa seperti dirumahnya sendiri. Saya amat suka melihat matanya yang selalu riang dan bercahaya-cahaya itu, dan banyaklah pula berarti. Ia anak orang désa. O, berapalah banyak berkatnya, jika pengajaran itu datang dari hati yang penuh dengan kasih cinta! nyonya tentulah akan berbesar hati melihatnya. Ia selalu berhati gembira mendengarkan kata saya, dan betapa suka hatinya bertanya-tanyakan apa yang tidak diketahuinya itu. Sekiranya tuan ada dekat kampu-ng halaman kami, maulah saya membawanya kepada tuan nanti.

Perempuan itu telah menolong 48 orang perempuan yang bersalin. Wah, ia masih kecil, hampir serupa anak-anak.

Regén Rembang akan datang kemari pada tanggal 17 bulan ini; saya telah meminta kepadanya yang ia akan membawa anak-anaknya sekali; saya suka benar hendak berkenalan dengan meréka itu, karena merékalah yang akan menjadi bahagia bagi kami pada waktu yang akan datang. untuk meréka itu, jikalau perlu, maulah saya bekerja dan hidup, berperang dan menanggung kesengsaraan. Saya berharap yang meréka akan cinta dan kasih kepadaku. Itulah yang saya minta kepada bapanya, yang ia akan memberikan anak-anak itu sekaliannya kepadaku. Kenang-kenangan saya: banyak-banyak meréka itu hendaknya yang akan menj-adi anak kepadaku, rupan ya cita-cita itu sekarang akan sampai.

Banyak lagi orang yang hendak memberikan anaknya ke­ padaku, ump: assistén collecteur disini, yaitu seorang anak regén yang kaya. Ia berkata kepadaku: "jadikanlah anak saya bujang tuan, suruhlah ia menyapu lantai rumah tuan, mengambil air, dan kerja lain-lain, asal saja ia boléh tinggal dengan tuan." Saya mendengar katanya itu sambil teisenyum, tetapi dalam hatiku saya menangis.

Saya tidak berkata sepatah juapun kepadanya, dan saya tidakmau berjanji apa-apa kepadanya, melainkan saya meminta doa moga-moga sekalian anak-anak yang diserahkan orang Kepadaku itu, dapatlah saya peluk dalam hatiku, dapatlah saya pehharakan dengan kasih sayang.

Hanyalah seorang anak kecil saja yang akan saya bawa ke Rembang, seorang gadis yang kira-kira ber'umur delapan tahun, yang telah diberikan orang tuanya kepadaku. Ia anak seorang guru dan telah pergi kesekolah. Anak itu betul-betul baik, tajam pikirannya dan cakap. Kalau ada kecakapannya, maka sayapun hendak menyerahkannya untuk belajar suatu kepandaian yang disukainya. Sekarang ia lianya mendapat pengajaran menjahit dan rnerénda dari pada adik-adikku.

Dikeiesicténan Rembang adalah gadis-gadis dan perempuanpererapuan yang sama pelajarannya dengan kami; dengan mereka itulah saya hendak berkumpul bersama-sama.

Iparku yang perempuanpun, seorang yang telah kena penyakit kesopanan" Eropa, sangatlah menyenangkan hati­ ku. Waktuku tinggal di rumah orang tuaku, tidak berapa lagi; hanyalah tinggal dua bulan saja, kemudian datanglah oiang yang akan melindungiku itu menjemput saya. Ia Bersama-sama dengan adiknya, Regén Tuban, baru-baru ini datang kemari. Harinya telah ditentukan pada tanggal 12 bulan November yang akan datang; sekalian itu akan dilakukan dengan diam diam, hanyalah kaum keluarga saja yang akan menghadirinya, kami keduanya tiada akan memakai pakaian pengantin, ia akan berpakaian angkatannya, dan saya akan berpakaian seperti yang biasa tuan lihat. Sekalian itu lalah permintaanku dan permintaannya. Anak-anaknya sayang tidak dapat datang kemari bersama-sama, meréka masih kecil dan perjalanan kemari amat susah.

25 Augustus 1903 (VIII)[sunting]

Di Rembang nanti banyak dan luaslah pekerjaanku, dan syukurlah saya tiada akan bekerja seorang diri saja; ia telah berjanji akan menolongku dengan sungguh-sungguh. Itulah kehendak, harapan dan maksudnya: akan menolongku yang berkehendak akan berbuat jasa bagi anak Bumiputera. Ia sendiripun telah bertahun-tahun bekerja membuat sedemikian. lapun berkehendak akan memberi anak-negeri pendidikan dian pengajaran; oléh sebab ia sendiri tidak dapat memberi, sebab itulah ia menyuruh orang lain mengerjakannya. Banyaklah kaum keluarganya yang disuruhnya belajar, dan ialah yang memberi meréka belanja pengajaran.

yang diharapkannya kepadaku ialah: yang saya akan mem­beri rahmat kepada anak-anaknya dan anak-anak negerinya.

Moga-moga maksudnya itu dapat saya sampaikan dan janganlah ia menjadi kecéwa.

Saya mengucap lagi karena kaum keluarganyapun suka benar akan pilihannya itu. Meréka itu mengharapkan yang saya akan memberi anak-anaknya pendidikan. Dengan beker­ja seperti pendidik, itulah saya akan datang kesana, dan pekerjaan yang lain tiadalah saya acuhkan lagi.

Kadang-kadang lupalah saya, bahwa berbuat seperti sekarang ini banyaklah cita-citaku yang akan hilang; saya berpikir, bahwa sekarang jalan lainlah yang akan saya turut, lain dari pada jalan yang telah saya rentangi dahulu. Dan sayapun memikirkan dan mengenangkan hal itu selalu, karena ialah yang memberi saya hati yang sabar dan yang membesarkan hatiku.

Suatupun tidak adalah yang sempurna didunia ini, dan suatupun tidak boléh pula sempurna benar dalam alam ini.

Saya dahulu berharap, bermaksud dan meminta doa supaya saya akan menjadi ibu bagi orang banyak atau men­jadi saudara bagi meréka, dan sekarang Tuhan telah memberi saya kurnianya itu, meskipun kurnia itu sedikit dari maksudku dahulu itu.

lapun bermaksud demikian juga hendak memajukan darajat bangsa kami. Ia sungguh amat baik bagi anak Bumiputera dan pegawai-pegawainya; meréka itu kasih kepadanya seperti menatang minyak yang penuh.

Dua hari yang lalu assistén collecteur itu semalammalaman duduk dekat bapak memperkatakan anak gadisnya itu. Ia hendak memberikannya, supaya dapat beroléh pendi­dikan. Isterinyapun telah memperkatakan hal itu pula dengan saya, dan sekarang suaminya pula yang datang meminta kepada bapak.

Anak-anak yang lain dari sini ada pula yang menurut dengan daku; tidak tahulah saya, entah akan saya bawalah anak-anak itu sekaliannya atau tidak; sedih hatiku menolak permintaan meréka itu, dan sayapun tidak mau menjanjikannya. Biarlah kita lihat dahulu, bagaimana keadaanku nanti disana.

Saya sekali-kali tiadalah bermaksud hendak membuang-buang témpoh, untuk tandang-bertandang. untuk keperluan itu akan kami tentukan hari-harinya, dan pada hari-hari yang lain tiadalah orang akan saya terima, kecuali dalam hal yang perlu. Orang tentulah akan memaafkan saya, jika diketahuinya, bahwa saya berbuat demikian, bukanlah karena sombong saya, melainkan karena waktu amat berguna kepadaku untuk menolong orang banyak, barangkali juga untuk menolong anak-anaknya sendiri.

untunglah negeri Rembang negeri yang sunyi; dan betapalah senang hatiku karena iapun tidak suka pula berjalanjalan seperti saya.

Besar hatiku lagi karena residén disanapun suka pula akan cita-cita kami itu. Tentulah saya tidak akan canggung tinggal disana.

Tahukah tuan siapa yang akan saya dapati lagi disana yaitu sahabatku yang besar sekali: laut! Laut disana hanyalah 100 langkah saja jauhnya dari rumah kami.

Ketika orang mengatakan kepadanya, bahwa saya amat su­ka memajukan pertukangan emas dan ukir-mengukir, maka iapun berkata, bahwa disanapun ada pula tukang emas dan tukang ukir, meréka itu hanyalah menantikan orang yang akan memberi aturannya saja. Iapun pandai pula bertukang. Kerja itu menyéhatkan badan. Dan dengarlah pula suatu kabar yang baik...... Barangkali Singowirio pergi bersama-sama; itulah tukang ukir yang tinggal di Belakang Gunung.

Ke Betawi tidak mau ia menurutkan bendoronya itu, tetapi sekarang karena jalan kami telah berubah, maulah ia menurutkan saya. Banyaklah maksud kami yang baik untuknya.

Akan memajukan perkara pertukangan, maka haruslah dahulu sedia uang dan petunjuk. Bermula sekali harus dibuat rumah pertukangan yang besar dan mempunyai tukang banyak-banyak, dan anak-anak yang patut diajar untuk menjadi tukang; anak-anak itu harus diperhatikan selalu pekerjaannya, sebab itulah meréka akan bekerja dekat rumah kami. Sekiranya adalah uang untuk mendirikan rumah pertukangan itu, dan untuk membeli perkakasnya dan membayar orang upahan, serta memelihara beberapa orang murid, maka Singo suka menjadi kepala pertukangan itu.

Pada pikiranku pokok untuk mendirikan pertukangan itu dalam setahun, selama-lamanya dalam dua tahun boléhlah dapat kembali.

Saya dahulu hendak mendirikannya disini, tetapi oléh karena maksud hendak pergi ke Betawi itu, maka maksud itupun tiadalah menjadi. Adik-adik kami tentulah boléh juga akan menguruskan pertukangan itu, tetapi pekerjaan itu amat payah untuk anak-anak kecil itu. Lagi amat besar penanggungannya. Tetapi sekarang keadaan itu telah lain. Kami sendiri diapat mengerjakannya, asal kami dapat mengumpulkan uang untuk mengerjakannya, dan ten­tulah pertukangan anak negeri Bumiputera akan maju dan berbahagia.

Baru-baru ini kami berjalan bersama-sama dengan tuan Brandes, adik Dr. Brandes; ia suka sekali mendengar kabar tentang hasil pertukangan anak negeri. Ketika saya berkata tentang hendak mendirikan sebuah toko kecil un­tuk hasil pertukangan anak Bumiputera itu di Semarang, maka iapun suka pula hendak menolong dengan segera. Tuan harus mengetahui pula, bahwa orang di Semarang tidak suka memesan barang-barang ke Betawi, jika barang-barang itu dapat dibeli di Semarang. Banyak orang hendak mendi­rikan toko itu dan meminta pertolongan kepada kami, tetapi kami tidak dapat berjanji, melainkan kami menyuruh meréka pergi minta pertolongan kepada perserikatan "Oost en West". Rupanya orang telah mendapat jalan yang baik. Perserikatan "Oost en West" wajib membuka sebuah toko di Semarang. untuk berbuat sedemikian perlu uang, dan perserikatan "Oost en West" tidak banyak menaruh uang. Ketika saya mengatakan hal itu kepada tuan Brandes, maka iapun berkata: "janganlah tuan bersusah hati tentang perkara uang itu. uang itu boléhlah didapat asal tuan mau menguruskan hal yang lain." Sayapun menjawab: "Sepatutnya orang yang halus perasaannya, yang akan men­dirikan toko di Semarang itu. Orang yang demikianpun boléhlah dapat, asal saja tuan suka menyuruh tukang-tukang itu memperbuat benda-benda yang bagus."

Saya telah mendapat surat dari padanya, ia telah memperbincangkan perkara itu dengan beberapa orang sahabatnya, dan banyaklah meréka yang suka menolong pekerjaan itu dengan uang.

Saya katakan juga kepadanya bermacam-macam daya upaya tentang hendak memajukan kepandaian ukir-mengukir.

Dengan segera ia bertanya berapa banyaknya uang yang perlu bagi kami untuk mengerjakan pekerjaan itu. Saya belum mengatakan kepadanya, berapa uang berguna, karena saya harus bertanya dahulu kepada orang pandai-pandai: berapa upah mendirikan rumah pertukangan itu, dan be­rapa harga kayu, berapa upah orang mengerjakannya, dan berapa upah tukang-tukang ukir itu dibayar, untuk meréka itu bekerja dalam beberapa bulan.

Rumah pertukangan itu mula-mulanya haruslah sederhana saja, tidak usah bagus. Perkara yang terutama, ialah uang mestilah ada sekian banyaknya, sehingga kira-kira lima puluh orang tukang dapat bekerja selalu; artinya meréka itu tidak usah lagi menantikan hasil pekerjaannya laku dahulu, maka dapat upah.

Rembang itulah tempat yang amat baik untuk tukang ukir, sebab disitu banyak tumbuh pohon jati dan pohon sono (sana).

Singopun menyukai maksud itu. Sekiranya ada beruang sekarang! Kalau pekerjaan itu baik jalannya, banyaklah orang nanti yang suka menurutkan saya! Sebab itulah pu­la maka saya menjadi seorang perempuan kaum muda. Sebenarnyalah itu, bahwa saya akan membawa uang jujuran yang ganjil.

Regén Rembang kawin dengan seisi kota. Apa pula sebabnya maka ia akan berdiri antara anak Bumiputera dan isterinya itu?

ya, alangkah malangnya saya ini, karena waktu saya tiba disana nanti dalam waktu banyak keramaian, puasa, lebaran dan tahun baru. Saya telah katakan bahwa saya tidak mau, yang orang akan mencium kakiku. tidak pernah saya mengizinkan orang berbuat demikian kepadaku. Saya suka dikasihi oléh meréka itu dalam hatinya, tetapi tidak suka hormat-hormat diluar sahaja!

tidak dapat saya mengenangkan waktu yang akan datang, kalau tidak bersama-sama dengan Rukmini. Bagaimanakah halku jika ia tidak ada, dan bagaimanakah pula halnya nanti kalau tiada saya? Kalau saya mengenangkan hal itu, maka semalam-malaman mata sayapun tidak mau lelap sedikit juapun.

19 October 1903 (VIII)[sunting]

Sudah tahukah tuan? Tanggal yang susah ditetapkan, sekarang atas permintaannya yang sekeras-kerasnya, telah dilekaskan....... Tidaklah pada 12 hari bulan akan dilangsungkan, melainkan pada 8 hari bulan November, kira-kira pukul 5 petang, dan hari Rabu tanggal 11 hari bulan saya­ pun berangkatlah dari rumah.


3 November 1903 (VIII)[sunting]

Anak nyonya telah hidup kembali, ia hidup benar-benar. Hatinya gembira dan bergerak kembali. Gerakan itu bukanlah karena duka dan sengsara, bukanlah karena keputusan asa yang pedih dan muram, melainkan karena cinta yang penuh dan sejati, mendesir-desir dalam hatiku.

Alangkah kurangnya terima kasihku atas kekayaan yang sebanyak itu dalam diriku! cinta yang sebanyak-banyaknya! ya, cinta yang dapat memberi sekaya-kayanya. Saya sebagai anak kekasih Allah boléh memberikan yang ada padaku, dan sayapun mau memberikannya, penuh dengan cinta dan sayang kepada sekalian yang mengelilingiku. Apa yang telah nyo­nya dan sahabat-sahabat yang lain berikan kepadaku, akan saya berikan pula dengan bunganya sekali kepada orang yang lain. O, amat banyak, ya, amat banyak benar orang yang lapar dan haus kepada cinta!

Alangkah ganjil dan ajaibnya hal keadaan dalam hidup manusia. Terang sekali tampaknya, bagaimana lekat hatinya kepada bapakku, sejak meréka itu mula-mula bertemu, dua tahun yang lalu. Semenjak itu selalulah ia datang-datang kepada kami, dan akhirya bapakku bersahabatlah dengan dia.

Dan kepada isterinya yang malang itu adalah suatu cita-cita hendak datang kepada kami, bersama-sama de­ngan suaminya dan anak-anaknya akan pergi berkenalan dengan kami. Regén Rembang dan isterinya itu keduanya memanggil bapakku "bapak" pula. Si isteri yang suka sekali hendak berkenalan dengan kami itu, sayang sebelum ia dapat menyampaikan cita-citanya itu, maka iapun berpulanglah kerahmatu'llah.

Beberapa hari ia akan berpulang itu, dilihat-nya isterinya dalam mimpi: isterinya sedang duduk tepekur tengah sembahjang dan meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang mahatinggi: "Supaya Allah mempersahabatkannya dengan Radèn Ajeng Kartini dari dunia sampai keachirat tinggal kekal selama-lamanya." Sejak itu maka namakupun tidak dapat dilupakannya lagi dari kenang-kenangannya.

ya, sebetulnya regén itu banyaklah penanggungannya; kematian isteri itu suatu kehilangan yang amat besar kepadanya, ia sangat cinta dan sayang kepada isterinya itu.

Pengharapannya yang terutama untuk dirinya sendiri ialah, supaya biji mata bapaku, "wasiat-jati"nya demikianlah saya dinamai oléh regén itu akan menolongnya dalam kedukaan dan kesengsaraannya itu.

O, ya, berilah saya doa yang berkat, bila saya pada sebelas hari bulan ini menaiki rumahku yang baru itu. Tentulah doa itu akan memberi berkat bagiku, bila hakékatnya tangan tuan yang mulia itulah membimbing saya masuk ke dalam hidup yang baru dan beban yang besar itu!

7 November 1903 (VIII)[sunting]

Bundaku yang dicinta, terimalah salamku pada malam yang achir dari anak tuan, yang masih gadis ini, sebelum ia akan dikawinkan. Bésok pukul setengah enam kawinlah kami. Sayapun tahulah siapa pada hari bésok, semata-mata akan mengenangkan saya dalam hatinya yang penyayang itu.

Wahai kekasihku, sampaikanlah juga salamku kepada suami tuan dan sangkakan dalam ingatan tuan, yang tuan dipeluk dan dicium oléh anak kandung tuan yang sebenarnya.

K.

Rembang, 11 Dec.1903 (VIII dan IX)[sunting]

Sahabat-sahabatku yang baik dan dicinta. Seperti saya tidak tahu, yang tuan mencintai kedatangan suratku ini, surat yang pertama-tama sekali dari rumahku yang baru ini. syukur kepada Allah, rumah dalam segala hal baik untukku dan penuh dengan sekalian yang saya cintai, tempat kami sekalian bersama-sama beruntung dan berbahagia.

Betapalah sedih hatiku, yang saya sebab beberapa alangan, baru sekaranglah dapat menulis surat ini kepada tuan kedua. Maafkanlah saya, hai kekasihku! Baru-baru saya datang amat banyak kerjaku, kemudian anak-anak kami ditimpa oléh penyakit, dan kesudahannya sekali saya sendiri menjadi kurang* séhat, karena lelah dan payah pada waktu yang sudah-sudah. Saya merasa badanku kurang senang dan dalam hal itu saya harus menjaga diriku baik-baik. Sekarang saya telah segar dan rianglah pula kembali seperti dahulu, dan saya lihat waktu yang akan datang dengan pemandangan yang bersukacita. Perlukah juga hal itu saya ceriterakan kepada tuan, o kekasihku? Saya doakanlah hari waktu saya mengunjukkan tanganku kepadanya, kawan yang telah diberikan oléh Tuhan kepadaku, yang akan menjadi sahabat bagiku dalam perjalanan hidupku yang amat berharga dan kerap kali bukan buatan sukarnya itu. Sekalian yang bagus dan mulia yang terbayang-bayang dahulu dimataku boléhlah saya lakukan dan saya sampaikan sekarang disini. Mimpi yang sampai sekarang masih saya mimpikan, kiranya sudah beberapa tahun yang lalu adalah yang telah dilakukan oléh suamiku, tetapi ada pula yang masih dimimpikannya juga. Kerap kali saya menjadi héran dan tidakajub karena karmi dalam segala hal semata-mata boléh dikatakan seperasaan dan sepikiran serta cita-cita kamipun sama pula.

Tuan kedua tentulah akan sayang kepadanya, bila tuan telah kenal kepadanya, tuan tentulah akan tercengang melihatnya betapa terang kepalanya, dan akan menghargakan kebaikan hatinya yang amat suci itu. Karena itulah saya sekarang berpikir, yang orang bangsawan mestilah hendaknya untuk orang banyak; dan itulah pula sebabnya maka saya kehendaki, supaya orang-orang bangsawan itu ma'lum hendaknya akan kewajibannya, dan kewajiban itulah yang patut diperlukan benar-benar oléh orang-orang bangsawan itu; ia, raja-hatiku, telah dahululah melakukan kewa­ jiban itu.

Pada hari ini telah sebulan lamanya saya dibawa oléh suamiku kemari, keafdeelingnya, menaiki rumahnya yang sekarang telah menjadi rumah kami berdua.

Agaknya menerima raja Belanda sekalipun tiadalah akanlebih kehormatan orang disini. Seluruh negeri Rembang bersuka raya; sejak dari batas pada tiap-tiap rumah, terkibarlah bendéra si tiga warna; béndi-béndi séwaanpun berbendéra pula. Anak negeri betul-betul bergirang hati, kegirangan dan kesukaan itu semata-mata terbit dari hatinya yang ichlas. Meréka bersama-sama bersorak dan bersukacita, karena suamiku membawaku keberanda muka; sebab anak negeri mesti pula melihat Gusti Puteri yang baru itu.

Saya duduk atau berdiri senantiasa didekatnya dengan tiada berkata-kata, dengan air mata berlinang-linang, dan dengan hati yang perasaannya melimpah-limpah; dalam hatiku adalah terima kasih, ada kesombongan, sombong karenanya, karena ia tahu benar mengambil hati ra'jatnya yang amat sayang kepadanya itu. Saya mengucap terima kasih karena sebuah cita-citaku yang besar telah menjelma atas dirinya; dan berbahagia besarlah rasanya saya duduk disisinya.

Hendaknya dapatlah tuan melihatku semenjak telah bersuami dan menjadi bunda ini, betapa kesenangan hatiku telah memancar-mancar terbit dimataku, mulut dan pénaku tidak dapat mengatakan atau menuliskan kegirangan hati­ku karena kekayaan ini!

Dan anak-anak kami! Bagaimanalah saya akan menceriterakan kepada tuan betapa kekayaan kami ini? Sekaliannya anak-anak yang manis lakunya, sehingga hatikupun lekaslah melekat kepadanya; dan meréka makin lama makin kuat bergantung dihatiku. Bapaknya telah meletakkan sendi yang kukuh pada hati meréka itu, dan telah mendidiknya seperti pendidikan yang selalu saya ingini, sederhana dan rendah hati. Anak-anakku itu tiadalah menyangkakan dirinya lebih tinggi dari pada orang yang serendah-rendahnya dalam rumah; sekalian orang sama kepadanya. Disini telah saya dapati tanah yang dikerjakan, kerjaku hanyalah akan menanaminya saja lagi.

Saya berharap dalam bulan Januari sekolah kami dapat didirikan. Kami sekarang mencari seorang guru perempuan yang baik. Selama kami belum mendapat guru itu, sayalah yang akan memberi pengajaran untuk sementara; dan apabila saya karena bermacam-macam hal tidak boléh memberi pengajaran itu, maka salah seorang dari padabadik-adikkulah yang akan mengerjakan pekerjaan itu, sampai saya boléh mengajar kembali.

Ada dua tiga orang tua, yang telah meminta kepadaku akan mengajari anak-anaknya. Maksud kami disini bila kami boléh mendapat seorang guru perempuan yang baik, akan membuka sebuah sekolah di rumah kami, untuk anak-anak gadis kepala-kepala negeri.

Kalau sekiranya kami boléh mendapat seorang guru perem­puan yang baik, guru itulah nanti yang akan memberi anak-anak kami pengajaran yang menajamkan pikirannya dan lagi pendidikan untuk budi pekertinya.

jikalau pekerjaan itu telah maju jalannya, dapatkah kami mengharapkan uang bantuan dari Gubernemén? Wang sekolah wajiblah hendaknya serendah-rendahnya, anak-anak itu dapat makan dan tempat tinggal dari kami.

Boléhkah saya membuat peringatan tentang hal itu?

Orang-orang tua anak-anak itu sangat percaya kepada kami, dan meminta kalau boléh sekarang sekolah itu diadakannya dan kamipun wajib memberinya. Sudahlah; nantilah saya tulis lebih lanjut tentang hal itu kepada tuan.

Saya percaya sungguh-sungguh yang di rumah kami akan terdiri sebuah sekolah anak-anak perempuan, yang dipimpin oléh seorang guru perempuan bangsa Eropa dan oléhku sendiri, sebagai guru'yang "tertinggi" sekali!

Maksud kami bersama-sama terlampau besar. Maulah rasanya saya membayar berapa juapun banyaknya, asal kami dapat memperbincangkan sekalian itu dengan tuan kedua.

Saya tulis surat ini pukul lima pagi-pagi. Anak-anakku telah bangun, dan bergantung berkeliling kursiku. Bunda wajib memberi meréka itu susu dan roti.

Tuan hendaknya mesti melihat anakku yang bungsu, ia belum ber'umur 2 tahun, tetapi ia amat cerdik. Bila saya duduk, maka datanglah ia membawa bangku kaki kepadaku. Bangku itu tiadalah terangkat oléhnya, melainkan selalu dihélakannya kepada bundanya. Kaki bundanya tiadalah boléh tergantung. Setelah itu kesayanganku itu memanjatlah dengan segera keatas pangkuanku. jikalau saya sudah membuat barang sesuatunya, maka sekalian anakku itu bereboét-rebut, berduga-duga mengunjukkan ini dan itu kepadaku, dan kesayanganku si Sis yang kecil sekali membawakan saya senduk dan garpu bertambun-tambun. Siapa yang nakal tidak boléh datang kepada bundanya. Keriangan yang sebesar-besarnya bagi anak-anak itu, ialah apabila meré­ka itu mandi bersama-sama dengan saya, dan sayapun bersukacita bukan bóeatan. Suatu kesukaan besarlah kepada­ku melihat muka anak-anak kecil yang bersih dan tertawa-tawa itu.

Sekarang saya selalulah membicarakan hal keadaanku saja. Saya belum lagi mengucapkan terima kasih kepada tuan atas kesayangan tuan yang tiada berhingga, yang telah saya dapati dalam beberapa hari ini. Tuan kedua telah meriangkan hatiku dengan surat-surat tuan yang telah saya terima di Jepara tiada dapat kuperikan. Atas surat tuan itu kupohonkan banyak terima kasih kepada tuan, kekasihku. Dan nyonya, bunda, buah hatiku, saya ciumlah tuan dengan segala sukacita pada kedua belah pipi tuan atas keselamatan tuan menyambut kedatanganku, yang bermula sekali disini. Karena itu saya sangat bersenang hati dan berbahagia!

16 December.[sunting]

Barulah sunyi sekarang. Sekalian kerja telah selesailah.

Saya tidak dapat menghubung suratku sebelum kejadian ini telah lalu.

Tuan sekali-kali tidak dapatlah menerka, siapa yang telah menumpang dengan kami dan siapa yang telah berangkat tadi pagi. nyonya dan tuan Bervuts dari Mojowarno! Meréka itu mula-mulanya pergi ke Jepara kepada orang-orang tuaku dan mereka menyuruhnya datang kemari. Itulah suruhan Tuhan yang amat menyenangkan hati; kami meminta syukur berlipat ganda, karena keadaan yang tiada disangka-sangka telah membawakan kami ni'mat. Amat sangat ingin benar hatiku hendak berkenalan dengan nyonya dan tuan yang mulia. Keinginan hatiku itu telah sampai dan cara bagaimana pula sampainya! Dahulu selalu saya kenangkan kedua hamba Allah yang berhati mulia ini dengan segala sukacita, sekarang kesukaan hatiku itu telah bercampur dengan syukur dan terima kasih.

Kemarin dahulu suamiku itu sehari-harian itu dalam segar dan riang, dan petangnya itulah datang nyonya dan tuan Bervuts; oléh mereka itu, tampak benar betapa girangnya hati suamiku pada malam itu, dan dengan tidak sedikit juga disangka-sangka, dua jam kemudian ia menjadi sakit keras. Hampir tengah malam waktu kami akan pergi tidur dengan bergirang hati, kami ucapkanlah selamat tidur kepada jamu kami itu. Sejam kemudian dari pada itu suamiku tiba-tiba menjadi sakit keras; dalam waktu tiga menit saja ia merasa amat keras sakitnya se­hingga iapun menyangka yang ia ésoknya tiada akan hidup lagi. Bagaimana susahku waktu itu, tentulah dapat tuan pikirkan. Saya suruh orang membangunkan Dokter Bervuts. Mereka itu bermaksud akan berangkat bésok pukul delapan pagi, tetapi ia dan isterinya tidak sampai hati akan meninggalkan kami sendiri dalam kesusahan yang demikian. Sebab itulah mereka itu berangkat pukul satu tengah hari, tetapi maksud itupun tiadalah pula sampai, karena suamiku waktu itu perlu mendapat pertolongan dokter, dan dokter kami tatkala itu pergi komisi. Penyakit itu ialah penyakit memulas-mulas, yaitu suatu penyakit yang belum pernah dirasai oleh suamiku selama hidupnya. Petang kemarin barulah ia berangsur sembuh dan dapat tidur. Betapa syukur saya kepada Allah, tentulah tuan dapat memikirkannya. Tadi pukul delapan pagi baharulah berang­kat sahabat baru kami itu. Suamiku makin lama bertambah sembuh, hanyalah badannya sekarang masih kurang kuat. Pada waktu ini ia telah setengah jam lamanya tidur nyenyak. Saya harap Tuhan akan menyembuhkannya dengan segera!

Héran, héran benarlah yang isteri suamiku yang pertama itu sampai pada hari mautnya selalu memperbincangkan saya. Ia sangat ingin berkenalan dan bersahabat dengan saya. cita-citanya selalu hendak pergi ke Jepara dan membawa anak-anaknya kepadaku. Porterétku tidak sekejap jua lepas dari tangannya, sehingga sampai ia berpulang selalu porterét itu adalah ditangannya.

Sesudah ia berpulang kerahmatu'llah dan dukacita telah hilang, maka sekalian orang, demikianpun kepala-kepala bangsa Bumiputera, mempunyailah satu maksud saja.......... yakni maksud yang telah disampaikan pada 8 Novem­ber. Sebab itulah boléh dikatakan sekalian orang bersukacita, tatkala menerima kedatangan kami.

Suamiku menerima surat tuan sangat berbesar hati. Pakaian kuda untuk perserikatan "Oost en West" telah lama sudah, dan sekarang telah dibungkus, dan apabila su­amiku telah sembuh, maka dengan segeralah akan dikirimkan. Suamiku pun telah memesan pula bermacam-macam tempat rokok terbuat dari bulu burung merak, dan dalam itu kami sedang mencari kain Lasem yang bagus dan sejati. cobalah nanti kita lihat apa yang dapat kami kerjakan untuk "Oost en West."

Akan menyuruh tukang-tukang ukir Jepara bekerja disini, amat bagus menurut timbangan suamiku. Ia akan menolong saya dengan sekuat-kuatnya dalam hal itu, démikian juga dalam segala hal lain-lain yang hendak saya perbuat. Akan mendirikan sebuah sekolah pertukangan untuk Bumiputera, itulah suatu cita-citanya yang telah lama tersimpan dalam hatinya.

Suamiku suka benar melihat, yang saya akan mengarang sebuah kitab ceritera-ceritera dan babad Jawa. Ia hendak mengumpulkan ceritera-ceritera itu untukku, dan kami akan berdaya bersama-sama mengerjakan pekerjaan itu. Maksud itu menyenangkan hatiku!

Adalah banyak lagi kerja yang lain, yang hendak dibuatnya bersama-sama dengan saya; di atas méja tulisku telah ada dua buah karangan bekas tangannya.

  1. Isi percakapan itu adalah tersebut dalam surat yang berikut ini.
  2. H. Agus Ralim seorang anak Minangkabau, anak engku Sultan Muhammad Salim, hoofdjaka Riau pensiun. Tahun yang lalu diangkat oléh Pemerintah menjadi lid Volksraad. Penyalin.
  3. Tuan Salim sampai sekarang sudah empat tahun bekerja pada Nederlandsch Consulaat di judah sebagai secretaris-drogman.