Lompat ke isi

Mitologi Perbandingan/Naga

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Naga Babilonia
Naga Wales
Naga Bhutan
Naga Jawa

Naga adalah makhluk legenda, biasanya dengan ciri-ciri reptil atau ular, yang muncul dalam banyak mitos dan kebudayaan. Ada dua tradisi kebudayaan berbeda tentang naga. Naga Eropa, berasal dari tradisi rakyat Eropa dan pada akhirnya terkait dengan mitologi Yunani dan Timur Tengah, dan naga Tiongkok, dengan padanannya yang mirip di Jepang, Korea, dan negara-negara Asia Timur lainnya.

Kaitan antara ular dengan musuh monster yang dihadapi oleh dewa pahlawan berakar dari mitologi Timur Dekat Kuno, termasuk Kanaan (Yahudi, Ugarit), Het, dan Mesopotamia. Motif Chaoskampf masuk ke dalam mitologi Yunani dan pada akhirnya ke dalam mitologi Kristen, meskipun motif naga juga mungkin telah menjadi bagian dari mitologi India-Eropa prasejarah, berdasarkan bukti perbandingan dari sumber-sumber India dan Jermanik.

Meskipun naga muncul dalam banyak legenda di seluruh dunia, masing-masing kebudayaan memiliki cerita yang beragam pula mengenai monster yang dikelompokkan sebagai naga. Beberapa naga disebutkan menyemburkan api, seperi dalam sajak berbahasa Inggris Lama, Beowulf. Naga biasanya digambarkan sebagai ular atau reptil, menetas dari telur dan memiliki tubuh bersisik atau berbulu. Mereka terkadang digambarkan menjaga harta karun. Beberapa mitos menggambarkan naga dengan punggung bersirip banyak. Naga Eropa seringkali bersayap, sedangkan naga Tiongkok mirip dengan ular besar. Naga dapat memiliki beragam jumlah kaki, mulai dari tak berkaki, satu, dua, empat, atau bahkan lebih.

Naga seringkali memiliki signifikansi spiritual yang penting dalam berbagai agama dan kebudayaan di seluruh dunia. Dalam banyak kebudayaan Asia, naga disembah sebagai wakil kekuatan alam, agama, dan semesta. Naga dikaitkan dengan kebijaksanaan dan umur panjang. Naga secara umum disebutkan memiliki ilmu gaib atau kekuatan supranatural, dan sering dikaitkan dengan sumur, hujan, dan sungai. Dalam beberapa kebudayaan, naga juga disebutkan mampu berbicara bahasa manusia. Dalam beberapa tradisi, nagalah yang mengajari manusia berbicara.

Kisah tentang naga seringkali menceritakan makhluk ini dibunuh oleh pahlawan. Tema ini kemunginan berasal dari motif Chaoskampf dalam mitologi Timur Dekat Kuno (misalnya Hadad vs. Yam, Marduk vs. Tiamat, Teshub vs. Illuyanka, dll; Leviathan dalam Alkitab dianggap mencerminkan musuh serupa dalam versi awal Yahweh). Motif ini terus berlanjut di Yunani dalam kisah Apollo vs Pithon, dan kisah Kristen awal tentang Malaikat Agung Mikhael serta Santo Georgius. Pembunuhan Writra oleh Indra dalam Rigweda juga masuk dalam kategori ini. Tema ini terus bertahan dalam legenda dan cerita rakyat Abad Pertengahan, dengan adanya pembunuh naga seperti Beowulf, Sigurd, Tristan, Margaret Sang Perawan, Heinrich von Winkelried, Dobrynya Nikitich, Skuba Dratewka/Krakus. Dalam mitos Alkitab, pola ini disinggung dalam kisah keturunan Adam yang menghancurkan kepala Ular.

Darah naga digambarkan bermanfaat atau bisa juga beracun dalam legenda Abad Pertengahan. Dalam legenda Jerman, darah naga memiliki kekuaan untuk membuat tubuh atau zirah menjadi kebal, contohnya dalam kisah Siegfried dan Ortnit. Dalam mitos Slavia, Bumi menolak darah naga karena sifat jahat yang terkandung dalam darah itu. Dalam kisah Beowulf darah naga memiliki sifat asam dan dapat menembus besi. Heinrich von Winkelried diceritakan meninggal setelah tak sengaja terkena tetesan darah naga.


Di bawah ini adalah beberapa mitologi, agama, dan kebudayaan yang memiliki kisah mengenai naga: