Lompat ke isi

Rekayasa Lalu Lintas/Indikator Unjuk Kerja

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pada bagian ini diidentifikasi unjuk kerja sistem lalu lintas untuk mengukur efisiensi pelaksanaan manajemen lalu lintas. Pada prinsipnya bisa dikelompokkan atas 4 (empat) kelompok[1], yaitu efisiensi lalu lintas, keselamatan lalu lintas, pengurangan pencemaran udara dan dampak sosial serta tata ruang.

Efisiensi lalu lintas[sunting]

Efisiensi lalu lintas merupakan salah aspek yang paling penting dalam sistem lalu lintas baik di perkotaan maupun antar kota, kelemahan untuk menciptakan lalu lintas yang effisien mengakibatkan kerugian ekonomis yang tidak kecil. Efisiensi lalu lintas dibagi atas empat kategori, pertama mobilitas, kehandalan, efisiensi operasi dan kondisi sistem dan unjuk kerja.

Mobilitas[sunting]

Pengertian mobilitas[2] terkait dengan pergerakan orang atau barang, dalam hal ini kemudahan pergerakan dari kendaraan dan moda angkutan umum untuk bisa mencapai tempat kerja, tempat mengikuti pendidikan/sekolah, tempat belanja, rekreasi, tempat perpindahan antar moda/terminal dan tata guna lainnya, dengan kata lain seseorang atau muatan barang dapat dengan mudah mencapai tujuan melalu berbagai pilihan moda ataupun lintasan. Jadi penilaian terhadap mobilitas pada akhirnya adalah waktu perjalan untuk mencapai tujuan perjalanan yang diinginkan.

Kehandalan[sunting]

Kehandalan merupakan mudahnya dalam berlalu lintas tanpa adanya hambatan seperti kemacetan, konflik lalu lintas yang tinggi. Kehandalan dapat diukur dari keseragaman waktu tempuh, kecepatan, kepastian pelayanan melalui ketepatan jadwal, kenyamanan dan lainnya.

Keselamatan[sunting]

Statistik kecelakaan lalu lintas jalan biasanya digunakan untuk menilai dan memprediksi tingkat keselamatan di jalan, dan memperkirakan keberhasilan strategi peningkatan keselamatan baru. Kurangnya akuratnya data kecelakaan yang dimiliki Instansi yang berwenang di Indonesia mengakibatkan tidak dapat diandalkannya statistik pada gilirannya aksn menyebabkan banyak masalah dalam analis untuk mencari sulusi rekayasa lalu lintas.

Komponen unjuk kerja lalu lintas yang dibutuhkan untuk mencari solusi terhadap perubahan geometri ataupun rekayasa lalu lintas lainnya untuk menurunkan angka kecelakaan meliputi[3]:

  1. Risiko kesehatan dalam lalu lintas - Jumlah korban jiwa/cedera per juta jam di lalu lintas
  2. Reesiko kecelakaan - Jumlah kecelakaan per juta kilometer perjalanan per orang
  3. Risiko cedera - Jumlah terluka per juta kilometer perjalanan per orang
  4. Risiko kematian - Jumlah kematian per juta kilometer perjalanan per orang
  5. Rasio kecelakaan - Jumlah kecelakaan per juta kilometer perjalanan per kendaraan
  6. Rasio Cedera - Jumlah terluka per juta kilometer perjalanan per kendaraan
  7. Ratio kematian - Jumlah kematian per juta kilometer perjalanan per kendaraan
  8. Rasio kendaraan / kecelakaan - Jumlah kendaraan terlibat dalam kecelakaan per juta kilometer perjalanan per kendaraan
  9. Rasio akibat dedera - Jumlah terluka per polisi melaporkan kecelakaan
  10. Rasio kesetaraan kematian - Jumlah korban jiwa ditambah sejumlah luka serius ditambah jumlah luka ringan

Dampak lingkungan lalu lintas[sunting]

Polusi udara[sunting]

Polusi udara yang disebabkan oleh gas/partikel beracun yang ikut keluar dalam sisa hasil pembakaran bahan bakar melalui knalpot atau tumpahan bahan bakar akibat kebocoran serta gas rumah kaca yang keluar dari ruang bakar kendaraan.

Gas beracun[sunting]

Pada kecepatan rendah persentase emisi gas buang yang beracun tinggi, semakin tinggi akan semakin rendah tapi pada kecepatan tinggi akan naik lagi seperti ditunjukkan dalam gambar. Oleh karena itu dalam kemacetan lalu lintas kadar gas beracun yang diemisikan tinggi, semakin cepat semakin rendah emisi yang dipancarkan namun kemudian pada NOx meningkat kalau berjalan lebih cepat dari 50 kmj dan hidro carbon dan CO mulai naik [pada kecepatan 80.

Hubungan anatara emisi dengan gas beracun pada emisi kendaraan bermotor

Gas-gas dan partikel beracun yang berasal dari emisi gas buang kendaraan[4] bermotor meliputi gas-gas sebagai berikut:

Gas hidro carbon (HC)[sunting]

Senyawa gas hidro carbon merupakan gas yang dihasilkan karena pembakaran yang tidak sempurna dan ikut terbuang dalam emisi gas buang. Gas Hidro carbon yang tinggi mengakibatkan pemborosan penggunaan bahan bakar. Senyawa hidro carbon merupakan pencemar yang menimbulkan pengaruh racun sistemik.

Gas karbon monoksida (CO)[sunting]

Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan berbau, sehingga kehadirannya tidak diketahui. Gas karbon monoksida bersifat racun, dapat menimbulkan rasa sakit pada mata, saluran pernapasan, dan paru-paru. Bila masuk ke dalam darah melalui pernapasan, gas karbon monoksida bereaksi dengan hemoglobin darah, membentuk karboksihemoglobin (COHb).

Belerang Oksida (SO2 dan SO3)[sunting]

Pada umumnya 2 senyawa belerang oksida yang dipelajari adalah belerang dioksida (SO2) dan belerang trioksida (SO3). Belerang dioksida merupakan gas yang tak berwarna, tak mudah terbakar dan tak mudah meledak tetapi mempunyai bau yang menyengat. Belerang dioksida mempunyai kelarutan yang tinggi dalam air dengan waktu tinggal sebagai gas dalam atmosfer selama 2 – 4 hari serta daya transportasi yang tinggi. Oleh karena itu masalah polusi SO2 dapat menjadi masalah internasional. SO2 relatif stabil di atmosfer dan dapat bertindak sebagai reduktor maupun oksidator. Namun SO2 dapat bereaksi secara fotokimia atau katalisis dengan komponen lain dan membentuk SO3, tetesan H2SO4 dan garam asam sulfat.

Nitrogen Oksida (NO dan NO2)[sunting]

Senyawa nitrogen oksida yang sering menjadi pokok pembahasan dalam masalah polusi udara adalah NO dan NO2. Kedua senyawa ini terbuang langsung ke udara bebas dari hasil pembakaran bahan bakar. Campuran NO dan NO2 sebagai pencemar udara biasa ditandai dengan lambang NOx. Ambang batas NOx di udara adalah 0,05 ppm. NOx di udara tidak beracun (secara langsung) pada manusia, tetapi NOx ini bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asap-kabut). Asbut menyebabkan berkurangnya daya pandang, iritasi pada mata dan saluran pernapasan, menjadikan tanaman layu, dan menurunkan kualitas materi.

Partikel Timah Hitam[sunting]

Senyawa timbel dari udara dapat mengendap pada tanaman sehingga bahan makanan terkontaminasi. Keracunan timbel yang ringan dapat menyebabkan gejala keracunan timbel, seperti sakit kepala, mudah teriritasi, mudah lelah, dan depresi. Keracunan yang lebih hebat menyebabkan kerusakan otak, ginjal, dan hati. Logam berwarna kelabu keperakan ini amat beracun dalam setiap bentuknya ini merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi anak di bawah usia 6 tahun, yang biasanya mereka telan dalam bentuk serpihan cat pada dinding rumah. Logam berat ini merusak kecerdasan, menghambat pertumbuhan, mengurangi kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa, dan menghilangkan konsentrasi. Bahkan pajanan dengan tingkat yang amat rendah sekalipun tampaknya selalu diasosiasikan dengan rendahnya kecerdasan. Karena sumber utama timah adalah asap kendaraan berbahan bakar bensin yang mengandung timah, maka polutan ini dapat ditemui di mana ada mobil, truk, dan bus.

Zat Beracun Lain[sunting]

Banyak sekali zat beracun lain menambah beban kandungan polutan di daerah perkotaan. Zat-zat ini mulai dari asbes dan logam berat (seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel dan zink) sampai bermacam-macam senyawa organik (seperti benzene dan hidrokarbon lain dan aldehida).

Gas Rumah Kaca[sunting]

Ada beberapa sumber yang mengahasilkan gas rumah kaca, satu diantaranya adalah transportasi, yang berasal dari gas CO2 sisa hasil pembakaran diruang bakar kendaraan bermotor, disamping bebeberapa gas lainnya seperti hidro carbon, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta gas CO yang berubah menjadi CO2 dan beberapa gas lainya. Gas rumah kaca mengakibatkan efek rumah kaca.

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) sebesar 70 persen dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Kebisingan[sunting]

Jalan menyumbang sekitar 70% emisi kebisingan total transportasi[5]. Harus dicatat bahwa mode transportasi jalan yang berbeda memiliki skala yang emisi kebisingan yang berbeda. Sumber utama kebisingan berasal dari mesin dan gesekan roda di atas permukaan jalan. Selanjutnya, perjalanan kecepatan dan intensitas lalu lintas secara langsung terkait dengan intensitas kebisingan. Misalnya, satu truk bergerak pada 90 km / jam membuat kebisingan sebanyak 28 mobil bergerak dengan kecepatan yang sama. Ambient kebisingan adalah akibat sering transportasi jalan di perkotaan. Penambahan semua kebisingan yang dihasilkan oleh mobil, truk dan bus menciptakan Ambient kebisingan tetap (berkisar 45-65 db) yang merusak kualitas hidup di perkotaan dan dengan demikian nilai properti tempat tinggal. Permasalahan yang paling besar di Indonesia adalah kebisingan yang diakibatkan sepeda motor yang tidak menggunakan saringan dan digeber oleh pengendaranya.

Referensi[sunting]

  1. Kaparias I., MGH Bell, Key Performance Indicators for traffic management and Intelligent Transport System, Imperial College London, 2011
  2. Todd Litman, Measuring Transportation: Traffic, Mobility and Accessibility, Victoria Transport Policy Institut, 2011
  3. Jeffery Archer, Indicators for traffic safety assessment and prediction and their application in micro-simulation modelling: A study of urban and suburban intersections, Doctoral Dissertation, Royal Institute of Technology, Stockholm, Sweden 2005
  4. Polusi Udara Akibat Pembakaran Bahan Bakar Fosil
  5. The Geography Of Transport Systems: Pollutants Emitted by Transport Systems (Air, Water and Noise) [1]