Lompat ke isi

Asia Barat Kuno/Agama/Zoroastrianisme

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Faravahar, lambang Zoroastrianisme
Zoroaster

Sekitar 1000 SM, kira-kira pada masa yang sama ketika orang India menulis Rig Weda, seorang pria bernama Zoroaster (disebut juga Zarathustra) merupakan pendeta di kuil kecil di bagian timur Asia Barat, di area dengan banyak kerajaan kecil dan tidak ada kekuasaan besar. Zoroaster meyakini bahwa ia mendengar suara tuhan utamanya, Ahura Mazda, yang berbicara kepadanya dan menyuruhnya memulai sebuah agama baru. Zoroaster lalu memberitahu orang-orang bahwa tuhan berbicara kepadanya dan apa yang sang tuhan inginkan, namun orang-orang tak mempercayai ucapan Zoroaster. Orang lainnya di kota mengira ia mengalami kelainan mental. Mereka menertawakannya dan mengolok-olonya. Zoroaster pun meninggalkan kota dan berkelana di Asia Barat, mencari orang yang mau mempercayainya. Akhirnya, ia menemukan seorang raja yang mempercayainya. Tidak diketahui bagaimana caranya, namun Zoroaster berhasil meyakinkan raja baru Persia, Koresh, untuk mendukung agama Zoroastrianisme. Dengan dukungan raja, agama ini pun berkembang pesat.

Ada beberapa kepercayaan utama dalam Zoroastrianisme yang dipraktikkan oleh bangsa Persia. Ada satu tuhan utama, Ahura Mazda. Ia memiliki anak kembar, dan salah satunya adalah Kebenaran sedangkan yang lainnya adalah Dusta. Dalam Kebenaran ada Terang, Tuhan, Keadilan, dan parap emukim. Sementara di sisi Dusta ada Kegelapan, Kejahatan, dan para pengelana. Jika memilih Kebenaran, maka manusia akan memperoleh kehidupan yang baik, dan akan mendapat cinta, harta, dan kejayaan. Setelah meninggal, orang yang mengikuti Kebenaran akan menyeberangi jembatan menuju tempat yang baik. Akan tetapi, orang yang mengikuti Dusta akan mengalami hal-hal buruk, dan setelah meninggal akan terjatuh dari jembatan dan terdampar di tempat yang buruk, yang gelap dan dingin dan tanpa makanan

Zoroastrianisme menjadi agama utama di Persia selama 200 tahun, hingga Persia ditaklukan oleh Aleksander Agung pada 330 SM. Bangsa Yunani yang memerintah Asia Barat setelah Aleksander tidak terlalu peduli terhadap Zoroastrianisme, begitu pula bangsa Parthia. Namun kemudian bangsa Sasan berkuasa setelah menaklukan Kekaisaran Parthia pada 227 M. Bangsa Sasan merupakan penganut kuat Zoroastrianisme, dan berusaha membuat semua orang di kerajaannya menganut agama tersebut. Akibatnya Zoroastrianisme kembali berkembang pada masa Sasan, dan bahkan agama ini menyebar hingga ke Tiongkok.

Ketika Asia Barat ditaklukan oleh bangsa Arab sekitar 650 M, sebagian besar orang scara berangsur-angsur memeluk agama Islam. Namun masih ada beberapa penganut Zoroastrianisme di dunia, bahkan hingga masa kini, terutama di India utara, di mana penganutnya disebut Parsees ("orang Persia").