Bahasa Indonesia/Verba

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Wikipedia-logo-id.png
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Verba atau kata kerja adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan.

Ciri[sunting]

Verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari ../Adjektiva, karena ciri yang berikut:

  • berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat, walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain
  • mengandung makna dasar perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas
    • semua verba perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah, tetapi tidak semua proses dapat dipakai dalam kalimat perintah.
    • verba yang mengandung makna keadaan umumnya tidak dapat menjawab pertanyaan "Apa yang terjadi pada <subjek>?" atau "Apa yang dilakukan oleh <subjek>?", dan tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat perintah.
    • verba, khususnya yang bermakna keadaan, sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan, namun verba tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti paling, sementara adjektiva dapat.

(Sumber: TBBBI)

Pengelompokan verba[sunting]

Menurut perilaku semantis[sunting]

Pengelompokan verba menurut perilaku semantis adalah menurut makna inheren yang terdapat di dalamnya.

  1. Perbuatan, menjawab pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek?
  2. Proses, menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek?
  3. Keadaaan, menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu.
  4. Pengalaman, peristiwa yang terjadi pada subjek begitu saja, tanpa kesengajaan dan kehendaknya.

Menurut perilaku sintaksis[sunting]

Pengelompokan verba menurut perilaku sintaksis ditentukan dari adanya nomina sebagai objek dari kalimat aktif serta kemungkinan objek tersebut berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif (verba transitif dan taktransitif).

  1. Verba transitif: memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek tersebut juga berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
    1. Verba ekatransitif: diikuti satu objek.
    2. Verba dwitransitif: diikuti dua nomina, satu sebagai objek dan satunya sebagai pelengkap.
    3. Verba semitransitif: objeknya boleh ada dan boleh tidak (manasuka/opsional).
  2. Verba taktransitif: tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
    1. Verba taktransitif tak berpelengkap
    2. Verba taktransitif berpelengkap wajib
    3. Verba taktransitif berpelengkap manasuka
    4. Verba taktransitif berpreposisi
Paradigma inti verba transitif
Tanpa reduplikasi Dengan reduplikasi
Aktif meng-D meng-D-ku meng-D-D meng-D-D-ku
meng-D-mu meng-D-D-mu
meng-D-nya meng-D-D-nya
Pasif D ku-D D-D ku-D-D
kau-D kau-D-D
di-D di-D-nya di-D-D di-D-D-nya
Imperatif D D-D

Menurut bentuk[sunting]

Dasar pembentukan verba:

  • dasar bebas: tanpa afiks apa pun, dan telah memiliki makna yang independen
  • dasar terikat: dasar yang kategori sintaktis maupun maknanya dapat ditentukan hanya setelah ditambahkan afiks. (bersifat prakategorial

Berdasarkan kedua macam dasar di atas, di dalam bahasa Indonesia terdapat dua macam bentuk verba:

Selanjutnya verba turunan dibagi lagi menjadi tiga, karena sifat wajib dan manasuka afiks mempunyai pengaruh dalam sintaksis:

Dalam kalimat imperatif, afiks pada kelompok pertama di atas harus dipertahankan, sebaliknya, afiks meng- pada kelompok kedua malah harus dihapuskan dalam kalimat imperatif, kecuali jika tidak berobjek. Selain itu, tiadanya afiks itu ataupun afiks ber- bergantung pada keformalan gaya bahasa yang dipakai. Bila gaya bahasanya formal, maka afiks dipertahankan, tetapi bila informal, afiks itu dapat ditiadakan untuk kelompok kedua. Sementara untuk kelompok pertama, gaya bahasa yang informal pun afiks masih tetap dipertahankan, baik dalam bentuk utuhnya, maupun dalam bentuk yang sudah sedikit diubah.

Di samping itu, verba turunan 3 subkelompok di atas juga dapat berupa dua bentuk berikut:

Penurunan verba[sunting]

Proses penurunan verba bisa melalui empat cara:

  1. Pengafiksan/afiksasi: penurunan verba dengan penambahan afiks pada dasar.
    • dengan prefiks / awalan
    • dengan sufiks / akhiran
    • dengan konfiks / awalan dan akhiran yang mengapit kata dasar dan membentuk satu kesatuan
    • dengan klofiks / awalan dan kata dasar yang sudah berakhiran, atau sebaliknya
    • dengan infiks / sisipan (tidak produktif lagi)
  2. Reduplikasi: penurunan verba dengan pengulangan kata.
  3. Pemajemukan: penurunan verba dengan penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih.
  4. Transposisi: penurunan verba dari kelas kata lain.
sufiks →
prefiks ↓
(mandiri) -kan -i -an
(mandiri) -kan -i
meng- meng- meng-kan meng-i
ber- ber- ber-kan ber-an
ter- ter- ter-kan ter-i
di-
kau-
ku-
di-
kau-
ku-
di-kan
kau-kan
ku-kan
di-i
kau-i
ku-i

Beberapa afiksasi lain: prefiks memper- (diper-, terper-), bersi-, memper-i (diper-i, terper-i), memper-kan (diper-kan, terper-kan), se-, ke-an

Urutan penurunan verba[sunting]

Urutan penurunan verba mengikuti kaidah tertentu:

  1. Jika prefiks tertentu mutlak diperlukan untuk mengubah kelas kata dari dasar non-verba menjadi verba, maka prefiks itu tinggi letaknya dalam hierarki penurunan kata.
  2. Jika prefiks tertentu terdapat bersama dengan sufiks tertentu dan kehadiran kedua afiks itu terpadu dan maknanya pun tak terpisahkan, maka baik prefiks maupun sufiks mempunyai tempat dalam hierarki penurunan kata yang sama tingginya. Dengan kata lain, prefiks dan sufiks itu merupakan konfiks.
  3. Jika prefiks tertentu terdapat pada verba dengan dasar nomina yang bersufiks tertentu, maka sufiks itu lebih tinggi letaknya daripada prefiks dalam hierarki penurunan kata.
    Mis: nomina berakhiran -an yang diberi awalan ber-
  4. Jika prefiks tertentu terdapat bersama dengan akhiran tertentu, hubungan antara sufiks dan dasar telah menumbuhkan makna tersendiri, dan penambahan prefiks tidak mengubah makna leksikal, mak atempat sufiks dalam hierarki penurunan kata lebih tinggi daripada prefiks.
    karena dalam gaya bahasa yang tidak formal, prefiks itu ditanggalkan, dan dalam kalimat tertentu prefiks harus ditanggalkan (mis. kalimat imperatif) atau diganti dengan prefiks lain (mis. kalimat aktif menjadi kalimat pasif)
  5. Jika prefiks tertentu terdapat bersama dengan akhiran tertentu, hubungan antara prefiks dan dasar kata telah menghasilkan perubahan kelas kata, dan penambahan sufiks tidak mengubah kelas kata lagi, maka dalam hierarki penurunan kata prefiks itulah yang lebih tinggi daripada sufiks.
    Mis: nomina berawalan ber- yang diberi akhiran -kan
  6. Jika prefiks tertentu terdapat bersama dengan sufiks tertentu, dan kedua-duanya menentukan makna leksikal tanpa menjadi konfiks, maka maknalah yang kita anggap menentukan hierarki pembentukan.
    berhentikan, misalnya, kita anggap diturunkakn dari berhenti, bukan dari hentikan, karena maknanya 'menyebabkan berhenti', bukan 'ditandari oleh hentikan'.

Dari keenam kaidah di atas tampaklah bahwa yang menjadi patokan utama adalah wajib-tidaknya afiks. Jika wajib, maka hierarkinya tinggi. Kecuali untuk sejumlah verba yang terkelompokkan pada nomor 5, pada umumnya sufiks dalam hierarki penurunan kata lebih tinggi letaknya daripada prefiks.

Bahasa Indonesia: BunyiAksaraKataKalimatWacanaKetidakkonsistenan KBBI
Kelas Kata: VerbaAdjektivaAdverbiaNominaPronominaNumeraliaPartikel (PreposisiKonjungsiInterjeksiArtikelPenegasFatis)
Lain-lain: Kata ulangRingkasan EYD
Rujukan