Habis Gelap Terbitlah Terang/Surat-surat dalam tahun 1900

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Kartini, diterjemahkan oleh Armijn Pane
Surat-surat dalam tahun 1900

12 Januari 1900 (I)[sunting]

Pergi ke Eropa. Itulah suatu cita-cita saya, yang akan tinggal sampai hari mautku. Sekiranya saya dapat memperkecil tubuhku sampai saya dapat menyuruk dalam bungkusan surat ini, pergilah saya bersama-sama dengan surat ini mengunjungi engkau, Stella, dan kepada saudara saya laki-laki yang kucintai dan kepada......Diam, padalah hingga ini. Bukan kesalahan saya, Stella, jikalau saya disana sini menulis perkataan yang tidak berguna. Gamelan kaca dipendopo lebih tahu menceriterakan hal itu kepadamu dari pada saya. Ia menyanyikan lagu kami bertiga. Ia bukan nyanyian, bukan lagu, melainkan bunyi dan suara, amat lemah, amat lembut dan bertukar-tukar, mendengung-dengung tidak berketentuan, tetapi bagus, sehingga merawan dan membimbangkan hati orang. Bukannya bunyi gelas atau bunyi kuningan dan kayu, yang terdengar dipendopo itu; bunyi itu ialah suara nyawa manusia, yang berkata-kata kepada kita. Buah katanya sebentar keluh kesah, sebentar lagi ratap tangis dan sekali-sekali tertawa kegirangan. Maka semangat sayapun rasa terbanglah bersama-sama dengan bunyi yang lembut dan merdu itu keatas udara yang tinggi, biru dan renggang itu pergi keawan yang putih dan kebintang-bintang yang bercahaya-cahaya. Sementara itu suara yang lembabpun naiklah pula keudara; sayapun merasa diri saya dibawa pula oléh bunyi itu melalui lembah yang gelap, jurang yang dalam, melalui hutan rimba yang muram, semak belukar yang tidak dapat diarungi. Maka hati saya gementar dan lisut rasanya, karena ketakutan, kesakitan dan kedukaan. Sungguhpun demikian, héran sekali, meski telah beribu kali terdengar oléh saya "Ginonjing”, tetapi satu bunyi dan suara gamelanpun tidak dapatlah saya artikan. Apabila gamelan telah diam, tidak sebuah lagu yang saya ketahui lagi; semuanya hilang dari ingatanku. Saya tidak dapat mendengar Ginonjing lagi, dengan tiada merawankan hati. Bila saya mendengar bunyi yang pertama saja dari lagu yang bagus itu, maka melayanglah semangatku. Saya sebenarnya tidak suka mendengar lagu yang murung itu, tetapi tidak dapat saya tahan hati saya mendengarkan suara yang lemah lembut itu, yang menceriterakan kepada saya, hal keadaan dulu kala dan yang akan datang. Rupanya seperti bunyi-bunyian yang merdu itu bernapas mengembuskan kain selubung, yang menyelubungi barang sesuatu yang sulit-sulit yang akan datang. Terang seperti bulan, siang seperti hari rupanya dimata saya segala sesuatu yang akan datang itu. Gementar sekalian tulang sendiku, bila saya lihat seolah-olah orang-orangan yang muram dan gelap itu lalu dimuka saya. Saya tidak suka melihatnya, tetapi apa hendak dibuat, mataku tidak mau dipejamkan, ia selalu terbuka. Pada kaki saya terbentang sebuah jurang yang amat dalam, yang amat memusingkan kepala dalamnya. Bila saya melihat keatas, ter­bentang langit yang hijau di atas kepalaku. Sinar matahari yang sebagai emas itu memancar dengan manjanya seolah-olah bermain-main dengan awan yang putih dan bagus itu; dalam hati sayapun terbitlah pula suatu cahaya.

Nah, lihatlah betapa gila dan bodoh saya. Semata-mata perbuatan bodoh, bukan, yang saya suratkan di atas ini. Tetapi cukuplah tentang hal itu. Sekarang saya cobalah bercakap benar-benar seperti seorang yang séhat. Segala kegilaan dan kebodohan itu kita buangkan jauh-jauh, bukan, Stella?

Tanah airku yang panas, tanah yang engkau ingini melihat­nya itu, telah berapa hari lamanya sekali-kali tidak panas. Setiap hari turun hujan lebat; minggu yang terlampau sungai Jepara telah melimpah airnya. Banyak kampung-kampung dan kota Jepara sendiripun penuh diliputi oléh airnya yang mérah dan bercampur lumpur itu.

Pagi-pagi tadi badai kencang sekali disini. Dalam pekarangan kami dua tiga pohon licin tandas ditumbangkannya. Dahan-dahan kayu habis patah-patah seperti kayu api-api. Batang kubis Belanda kami yang bagus itu telah serupa pokok ka­ju yang putih dan bulus. Tentulah kampung-kampung binasa amat sangat. Dengan atap-atap rumah habis diterbangkan angin. Pada hari menulis surat ini bapaku pergi komisi. Banyak lagi kampung-kampung yang jauh-jauh yang dibawah perintah bapa' yang diliputi air sekali lagi. Bapa sangat banyak kerjanya dalam beberapa hari ini; hari ini datang ban­jir, bésok tanah yang runtuh dan lusa badai yang amat hébatnya. Sepohon randu yang besar baru-baru ini ditumbangkan pula oléh angin. Pohon itu berdiri ditepi jalan besar. Waktu ia tumbang itu dua orang perempuan yang lalu disitu ditimpanya. Keduanya luluh lantak dibawah po hon kayu itu. Sehari-harian dan semalam-malaman itu tidak lain yang kami dengar hanyalah bunyi laut yang menderuderu dan mengaum-aum. Di Klein-Scheveningen badai yang amat kencangnya. jalan pergi kerumah mandi ditepian itu habis dipukul oléh gelombang. Pantai dimuka tepian itu telah hilang lenyap ditelan oléh laut yang tidak pernah kenyang itu. jikalau hari petang nanti tidak hujan lebat, saya hen­dak meminta izin kepada bapa', akan pergi kesitu.

Beberapa pekan yang lalu kami di "Klein Scheveningen.” Ka­mi tegak bertiga di atas sebuah batu besar, yang terlantar ditepi pantai. Kami melihat pada permainan gelombanog yang bagus itu. Karena pemandangan itu sangat menarik hati kami, sehingga tidak tampak oléh kami, tempat kami berdiri itu telah didekati oléh gelombang yang bergulung-gulung itu. Kami baru tahu, tatkala anak-anak kecil ditepi pantai dengan ketakutan memanggil kami, sebab kami telah dilingkungi oléh air laut yang berbuih-buih. Dengan basah pakaian sehingga lutut kamipun sampailah kembali kepada tempat anak-anak kecil itu.

Belum beberapa lama dulu dari pada itu engkau bertanya kepadaku hal keadaan orang kecil pada masa sekarang. Tetapi oléh karena surat saya ketika itu sudah panjang sekali, saya lampaui saja pertaniaan itu dulu; sebab akan menjawab tidak cukuplah sepatah dua patah kata saja. Tetapi saya dulu berjanji kepadamu, yang saya kemudian hari akan kembali memperkatakan hal itu dan sekarang saya hendak menyampaikan janji itu. Tetapi sebelum saya menceriterakan perkara itu, saya hendak menjawab lebih dulu suratmu yang ke­mudian sekali. Terima kasih, Stella, atas penghiburanmu untukku. Saya harap bicaramu itu terjadi jualah hendaknya. Tahukah engkau pepatah yang saia pegang? "Saya mau. Dua patah kata yang pandak itu telah beberapa kali menolong saya melalcei gununyr kesusahan. "Saya tidak cakap." Ketiga patah kata itu menghilangkan keberanian. "Saya mau,” menggembirakan orang. Saya berani sungguh-sungguh dan selalu gembira. Stella, nyalakan selalu api keberanianku itu. jangan kaupadami ia. Gembirakan hatiku, gembirakan dia sampai bersinar-sinar, Stella, saya sembah engkau, jangan lepaskan saya.

Saya pohonkan terima kasih pada Allah, yang pertanyaanmu: "Betulkah keadaan anak negeri sekarang sangat buruk seperti yang dikatakan Multatuli?” dapat saya jawab dengan: "Bukan.” Menurut sepanjang pengetahuan saya, ceritera seperti Saijah dan Adinda sekarang tidak terjadi lagi. Betul kadang-kadanp ada kelaparan, yang ditanggungkan oléh anak negeri, tetapi hal itu bukannya kesalahan kepala-kepala negeri.

Kepala-kepala negeri tentulah tidak dapat menanggung, bila hari lama tidak hujan-hujan, yang sangat berguna untuk sawah-sawah "orang kecil.” Meréka itupun tidak sanggup menolakkan air yang amat banyak, yang diturunkan oléh langit kesawah-sawah orang kecil itu. Bila kehasilan padi dirusakkan oléh binatang-binatang yang kecil, atau oléh kekurangan air, atau karena musim panas terlalu lama, maka negeri yang ditimpa kecelakaan itu, dibébaskan oléh Pemerintah dari membayar uang kepala (pajak). Waktu musim kelaparan kepala-kepala negeri membagikan wang dan makanan untuk orang-orang yang dapat celaka itu. Kalau sawah-sawah itu dibinasakan oléh tikus, maka Pemerintah memberi hadiah ke­pada siapa yang membunuh binatang yang kecil-kecil. Kalau musim hujan seperti sekarang, maka air sungai menjadi banjir dan segala tambak-tambak sungai menjadi pecah. Ketika itulah kepala-kepala negeri mencari daya upaya, akan memperbaiki sekalian yang rusak-rusak itu.

Tahun yang lalu sepekan lamanya sebuah kampung yang banyak berkolam ikan diliputi oléh air, waktu itu siang dan malam bapa' tinggal di tempat yang kena sengsara itu. Dengan wang partikulir dibayar segala kerja akan memperbaiki kerusakan tambak-tambak sungai itu. Kemudian wang parti­kulir itu dibayar kembali oléh Pemerintah. Tetapi siapa yang akan membayar sekalian kerugian anak negeri yang disebabkan oléh air itu? Sebelum banjir 100.000 ékor ikan dalam kolam-kolam itu, sesudah banjir hanya tinggal 15 ékor saja lagi. Setelah beberapa lamanya sesudah kecelakaan yang besar itu, datang seorang dari Insinyur Waterstaat berceritera kepada bapa, bahwa ia yang salah maka kampung itu diliputi air. Ia salah menghilirkan air itu.

Kemudian afdeeling Demak, afdeeling yang dibawah perintah bapa' muda saya. Afdeeling itu tidak dapat dima'murkan, bagaimana sekalipun orang mengerjakannya. Kaiau tidak kesengsaraan ini kesengsaraan itu yang mengganggunya. Waktu musim panas sekalian sungai-sungai menjadi kering dan waktu musim hujan negeri itu digenangi oléh air bah. Telah beribu-ribu wang dikeluarkan oléh Pemerintah, supaya ia mendapat air waktu musim kemarau dan supaya jangan kedatangan banjir pada musim penghujan, tetapi semuanya tidak menolong. Banyak saluran dan sérokan yang bagus-bagus digali disitu, tetapi rupanya tidaklah sedikit jua berguna. Menggaii sérokan dan saluran itu mendatangkan suatu pencaharian pula kepada beribu-ribu manusia. Sungguhpun demikian, pada musim kemarau selalu negeri itu kehausan dan pada musim hujan semuanya terapung-apung di atas air. Bukan, Stella, Pemerintah ada menjaga baik-baik untuk keselamatan anak negeri Jawa. Tetapi, aduh, Pemerintah terlampau banyak menyuruh meréka itu membayar uang bia[...].

Bukan, Stella, anak negeri tiadalah lagi dengan sengaja dirampas oléh kepala-kepala negeri. Bila seperti itu sekali-sekali kejadian, maka kepala negeri yang bersalah itu diperhentikan, atau diturunkan pangkatnya. Tetapi yang masih terjadi, lebih baik dikatakan, yang masih bercabul ialah kejahatan ini: "Menerima persembahan dan pemberian, yang menurut pendapatan saya, sama keji dengan merampas harta benda orang kecil," sebagai tersebut dalam Max Havelaar. Tetapi saya tidak boléh menyalahi meréka itu, sungguhpun saya ketahui kejadian hal itu, tetapi saya patut pula menimbang peri keadaan orang yang bersalah itu. Pertama-tama sekali bangsa Bumiputera memandang pekerjaan mempersembahkan suatu pemberian kepada orang yang lebih tinggi,' seperti suatu kehormatan dan kemuliaan baginya. Menerima persembahan itu dilarang oléh Pemerintah pada orang-orang yang berpangkat. Tetapi kepala-kepala negeri yang lebih rendah mendapat gaji sedikit, sehingga kadang-kadang mendatangkan kehéranan, yang meréka itu dapat hidup dengan gaji yang kecil itu. umpamanya, seorang jurutulis kampung, yang menjadi bungkuk karena menulis setiap hari sepanjang waktu, bergaji tiada tepermanai banyaknya, yaitu ƒ 25 sebulan. Dengan wang itu ia wajib hidup dengan anak bininya, dengan wang itu ia membayar séwa rumah, membeli pakaian yang sederhana dan dengan wang itulah ia memperlihatkan kemegahannya, supaya kehormatannya dimata orang yang lebih rendah jangan kurang. (Saya harap, jangan engkau menyalahi meréka itu amat sangat, karena keadaan yang achir itu; lebih baik kasihanilah meréka itu, karena ia masih anak-anak yang besar, dan begitulah kebanyakan bangsaku itu). Bila kepada jurutulis kampung yang seperti itu dipersembahkan sesisir pisang atau yang sebagainya oléh seorang-orang kampung, maka pertama kali tiadalah diterimanya, kedua kalipun tiada diambilnya, tetapi ketiga kali dua hatinya menolak persembahan itu dan keempat kalinya diterimanyalah persembahan itu dengan tiada bimbang. Karena menurut pikirannya, tidaklah salah, bila ia berbuat yang sedemikian; barang itu bukan dimintanya, tetapi diberikan kepadanya; tentulah ia gila dikatakan orang, bila pemberian itu ditolaknya, apalagi pemberian itu boléh dipergunakannya. Memberi persembahan itu bukannya tanda kehormatan saja, tetapi juga seperti suatu pagar untuk si pemberi, bila ia bésok atau lusa dapat kesusahan dengan kepala negeri. umpamanya bila ia ditangkap oléh wedana, karena ia membuat kesalahan sedikit. Dalam hal itu diharapnya pertolongan sahabatnya, jurutulis kampung itu. Gaji pegawai-pegawai negeri sungguh tidak cukup. Seorang asistén wedana kelas dua bergaji delapan puluh lima rupiah sebulan. Dengan delapan puluh lima rupiah itu harus ia menggaji seorang jurutulis. Asistén-asistén wedana itu tidak diberi jurutulis oléh Pemerintah, sungguhpun ia banyak dapat kerja tulis menulis sama banyak dengan wedana-wedana, jaksa-jaksa dan lain-lain). Lain dari pada kuda tunggang, yang berguna untuk pergi memeriksa hutan-hutan, haruslah ia mempunyai sebuah béndi atau sado dengan kuda, rumah dan perkakasnya harus pula dibelinya; tambahan pula ia harus membelanjai rumah tangganya. Akhirya ia harus menerima kemendur-kemendur, regén dan kadang-kadang asistén residén, bila meréka itu datang ke dalam jajahannya untuk mengerjakan barang sesuatu hal. Dan kalau asistén wedana jauh tinggal dari kota, maka tuan-tuan yang tersebut tadi tinggal dipesenggerahan. Dengan hal yang demikian, asistén wedana merasa mendapat suatu kehormatan yang tinggi, karena ia boléh menyediakan makanan orang besar-besar itu. cerutu, air Belanda, bermacam-macam minuman keras dan makanan dalam kaléng. Saya dapat mensahkan kepadamu, yang semuanya itu berharga mahal dan sekalian itu suatu belanja yang banyak bagi asistén wedana yang begitu. Engkau mengerti, yang ia tidak mau menyediakan barang² yang ada padanya untuk jamunya yang tinggi itu. Segala sedap-sedapan itu haruslah semuanya dijemput ke kota. Yang sebenarnya hal itu tidak perlu begitu, tetapi si penjamu memandang suatu kewajiban akan menyediakan yang terbaik untuk tuan yang besar itu, biarpun barang itu tidak ada padanya. Dalam afdeeling bapa beruntung tidak kejadian seperti itu. jikalau bapa' pergi komisi dan iapun harus bermalam di tempat lain, maka selalu ia membawa makanan untuk dirinya sendiri. Kemendur dan asistén residénpun membuat pula begitu. Kalau sekadar semangkuk air téh yang diminum tuan-tuan itu pada asistén wedana, tiadalah menjadikan ia miskin. Kalau kejadian pembunuhan atau pencurian dalam jajahan asistén wedana itu, wajiblah ia mencari keterangan yang sesungguhnya dalam perkara itu, karena itu suatu kewajiban baginya. Akan menyelidiki orang yang bersalah haruslah ia banyak mengeluarkan wang dari kantungnya. Kerap kali telah kejadian yang kepala-kepala negeri menggadaikan perhiasan anak isterinya, akan mendapat uang yang wajib ada untuk mencari keterangan sesuatu perkara yang gelap. Dapatkah ia menerima uang itu kembali dari Pemerintah, untuk mencari keterangan kehendak Pemerintah itu? Mengucap syukurlah saya bila benar begitu.

Oléh sebab tiada demikian halnya maka banyak pegawai-pegawai itu menjadi orang minta-minta. Allah, apakah yang harus dibuat oléh pegawai-pegawai, yang tiada bergaji cukup dan tiada beribu bapa' dan bersanak saudara, yang boléh menolong mereka itu dengan wang? Anak negeri senantiasa membawa persembahan kepada meréka itu dan ia melihat yang anak istermja berjalan dengan pakaian robék-robék............ jangan disalahi amat, pegawai-pegawai itu, Stella.

Saya tahu kesusahan kepala-kepala negeri dan saya tahu akan kesukaan dan kedukaan anak negeri. Apa akan diperbuat Pemerintah sekarang? Pemerintah hendak mengadakan perubahan dalam hal pemerintahan negeri. Pegawai-pegawai Bumiputera hendak disusuti, untuk keuntungan.......... pegawai-pegawai bangsa Eropa. Oléh karena kesusutan itu adalah wang tersimpan setahun ƒ 164800. Wang itu akan diberikan untuk pegawai-pegawai bangsa Eropa, dalam pemerintahan negeri, karena pegawai-pegawai bangsa Eropa itu diberi gaji seperti anak tiri, pada hal pegawai-pegawai bangsa Eropa dalam golongan lain diberi gaji seperti anak kandung. Tetapi, mengapa Pemerintah merugikan pegawai-pegawai Bumiputera akan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu? Betul akan pengganti kesusutan yang di atas itu, pegawai-pegawai Bumiputera yang bergaji sedikit ditambah gajinya dan asisten wedana mendapat jurutulis dari Pemerintah. Tetapi apakah artinya perubahan sedikit itu, jika diperbandingkan dengan penghapusan pangkat-pangkat yang tinggi itu? Dan lagi belum ada kenyataannya, yang pangkat-pangkat itu tiada berguna. Karena peraturan Pemerintah itu banyak orang bersungut. Peraturan untuk perubahan itu dikabulkan oléh majelis persidangan kedua di tanah Belanda dan bulan Juli j.a.d. dijalankan perubahan pemerintahan negeri itu. Hampir sekalian residén-residén melawani peraturan itu, tetapi Gubernur jenderal mengehendaki begitu. Meskipun kehendak itu dilawani oléh residén-residén, maka perubahan itu dimajukan juga. Saya berharap, yang Pemerintah nanti tidak akan memetik buah kelat dari perbuatannya itu.

Sekarang tengtang hal anak negeri, terutama keadaan penduduk tanah Jawa. Bangsa Jawa itu boléh disamakan dengan anak yang telah besar. Apa yang telah dibuat oléh Pemerintah untuk kemajuan anak negeri? untuk anak² orang berbangsa dalam negeri diadakan Sekolah Ménak, Sekolah Raja dan Sekolah Dokter Jawa. Dan sekolah Bumiputera untuk sekalian orang ada terdapat dalam tiap-tiap distrik sebuah saja. Sekolah Bumiputera dibagi atas dua jenis oléh Pemerintah; yaitu: Sekolah kelas satu, yang didapatinya hanya pada ibu-ibu negeri saja; disekolah itu diajarkan pengajaran, yang seperti pengajaran dalam sekolah Bumiputera sebelum ia terbagi dua, tetapi dalam sekolah kelas dua anak-anak diajari hanya menulis dan membaca bahasa Jawa dan berhitung sedikit. Bahasa Melayu tidak boléh diajarkan lagi seperti dahulu; apa sebabnya, tidak tahulah saya. Menurut pertimbangan saya Pemerintah menyangka, bila anak negeri mempelajari itu, maka ia tidak mau lagi mengerjakan tanah.

Tentang hal pengajaran bapa' telah mempersembahkan sepucuk surat nota kepada Pemerintah. O, Stella, saya suka engkau dapat membaca surat itu. Engkau harus tahu yang sebagian besar dari pada orang-orang berbangsa sangat berbesar hati karena perbuatan Pemerintah itu. Bangsawan bangsa Jawa makin lama makin mundur tenaganya. Pemerintah di Hindia dan di tanah Belanda dan beberapa orang Jawa yang berbangsa suka menolong bangsawan itu dan mau memajukan meréka itu. Dengan hati kurang senang dipandang oléh bangsawan itu anak-anak orang kebanyakan memajukan dirinya dan karena pengetahuan, kepandaian dan kerajinannya iapun disamakan duduknya oléh Pemerintah dengan anak-anak bangsawan. Anak-anak orang kebanyakan memasuki sekolah Belanda dan disitu ia menunjukkan, yang ia didalam segala hal dapat berlumba-lumba dengan anak-anak orang berbangsa tinggi. Sekalian orang bangsawan suka alam ini untuknya saja; pangkat yang tinggi-tinggi dalam negeri dalam tangannya saja dan ia sendiri hendak berkepandaian dan berbudi pekerti seperti bangsa Eropa. Pemerintah menolong dan membantu meréka itu, lebih-lebih karena Pemerintah sendiri mendapat untung dalam hal itu. Pada tahun 1895 ia telah memberi perintah, bunyinya: "Anak-anak Bumiputera (ber'umur dari 6 sampai 7 tahun) tidak boléh diterima masuk sekolah Belanda kalau anak itu belum tahu bercakap bahasa Belanda atau kalau tidak seizin Gubernur jenderal.” Bagaimana anak-anak Bumiputera yang ber'umur 6 atau 7 tahun akan belajar bahasa Belanda? Akan boléh begitu hanyalah bila anak itu mempunyai seorang pengasuh bangsa Belanda. Tambahan lagi, biarpun ada waktu untuk mempelajari bahasa Belanda itu, anak Bumiputera itu wajib mengetahui bahasanya lebih dulu, sebelum ia belajar bahasa Belanda; dan haruslah ia tahu menulis dan membaca dalam bahasa Jawa lebih dulu. Hanyalah regén-regén yang memohonkan permintaan, supaya anak cucunya boléh dimasukkan kesekolah Belanda. Kepala-kepala yang lebih rendah takut yang permintaannya tidak akan dikabulkan, oléh karena itu tiadalah dimintanya. Pongahkah bapaku sebab ia menunjukkan kepada Pemerintah hal yang sesungguh-sungguhnya terjadi, yaitu anak-anak orang Afrika dan Ambon segera dimasukkan kesekolah Belanda dengan tiada mengerti bahasa Belanda sepatah kata juapun? Stella, waktu saya masih sekolah, saya sendiri tahu betul, bahasa banyak anak-anak Belanda sendiri yang sama banyak kepandaiannya dalam bahasa Belanda dengan saya, waktu saya mula-mula sekolah.

Bapa mengatakan dalam notanya itu: "Pemerintah tidak cakap menyediakan nasi untuk segala orang Jawa akan dimakannya, tetapi Pemerintah sanggup memberi ra'jat upaya akan mencari suatu tempat dan di tempat itu didapati makanan, maka upaya itu ialah "pengajaran”. Memberi anak negeri pengajaran yang baik samalah keadaannya seperti Pemerintah memberikan sebuah suluh ketangannya. Dengan suluh itu cakaplah ia sendiri mencari jalan yang baik dan jalan itu membawa dia ketempat yang ada bernasi.

Tidak, Stella, tidak usahlah saya panjangkan perkara itu lagi, barangkali bésok atau lusa dapat saya mengirimkan nota bapaku itu kepadamu, dan disitu dapatlah kaulihat, bagaimana hal keadaan anak negeri pada masa sekarang. Bapa akan bekerja dengan keras, hendak memajukan anak negeri dan sayapun hendak bekerja bersama-sama dengan dia.

Bapa seorang yang setia sekali juga pada asal usulnya, tetapi hak tinggal hak, dan mana yang adil diadilkannya.

Dalam hal kepandaian dan budi pekerti, kami hendak sama tinggi dengan bangsa Eropa. Hak yang kami tagih untuk diri kami sendiri itu harus kami berikan pula kepada siapa yang memintanya. Mengalangi kemajuan anak negeri samalah keadaannya dengan perbuatan Czaar tanah Ruslan, yang mengucapkan perdamaian bagi seluruh dunia, pada hal ia menganiaya dan menginjak anak ra'jatnya sendiri. Itu namanya menyukat dengan dua buah gantang, bukan? Bangsa Eropa sakit hati melihat sipat-sipat bangsa Jawa, ump. sipat-sipat yang lalai dan malas dll. Hai orang Belanda, bila sekaliannya itu menyakitkan hati tuan, mengapakah tuan tidak sedikit juga mengichtiarkan diri tuan hendak memusnahkan segala kejahatan itu? Mengapa tidak tuan unjukkan tangan tuan akan memajukan saudara tuan yang hitam itu? Percayalah kepadaku, yang kejahatan itu dapat dihapuskan. Buangkanlah dari otaknya selimut kebodohan itu, bukakan matanya, nanti dapat tuan lihat, bahwa padanya ada sipat-sipat yang lain didapati lain dari pada kesukaan hendak berbuat jahat yang asalnya sebagian besar oléh karena kebodohan dan kekurangan pengetahuan.

Contohpun terlampau banyak, Stella, tidak usahlah kucari jauh-jauh contoh itu dan engkaupun demikian, Stella. Disini dimukamu sendiri kaudengar buah pikiran, yang masuk bilangan bangsa kulit hitam yang dihinakan itu. Apa yang dapat disalahkannya tentang hal kami dan tingkah laku kami? Kenalkah meréka itu kepada kami?

Meréka itu tidak mengenal kami, sebagai kami tidak mengenal mereka itu. jikalau engkau suka mengetahui hal itu, lihatlah surat bulanan Neerlandia nomor bulan October. Di situ ada sebuah pidato saudara saya pada suatu persidangan tentang bahasa dan 'ilmu kitab Belanda di kota Gent, di tanah Belgia. Professor Kern membawa dia kesitu dan memintanya bercakap disitu. Perasaan yang diuraikannya disitu samalah dengan perasaan saya dan kami semua.

Engkau bertanya kepadaku: "Banyakkah kekuasaan bapamu?” Apakah yang sebenarnya kekuasaan? Bapa betul ada mempunyai kehormatan yang besar; tetapi kekuasaan itu hanya ada pada bangsa yang memerintah. Saudara saya berkata didalam pidatonya itu, yang bahasa Belanda wajib dijadikan bahasa dalam pekerjaan. Bat ya, Stella, bacalah pidato itu, sungguhpun bukan untuk kesukaan hatimu, tentu akan kesukaan bagiku. Orang-orang Belandla mentertawakan dan mengéjékkan kebodohan kami, tetapi bila kami mencoba hendak memajukan diri sendiri, maka iapun memandang kami seperti musuhnya. Alangkah banyak dukacita saya dulu, waktu saya masih dalam sekolah. Guru-guru dan kawan-kawan saya sesekolahpun memandang kami seperti musuhnya. Tetapi, tetapi bukan sekalian guru-guru dan murid-murid yang membencii kami. Banyak pula yang mengenal kami dan yang menyayangi kami seperti menyayangi anak-anak yang lain. Banyak guru-guru yang kurang sudi memberikan nomor yang tertinggi kepada anak Jawa, sungguhpun anak itu berhak mendapat itu.

Saya hendak menceriterakan kepadamu ceritera seorang anak Bumiputera yang budiman dan terpelajar. Anak itu telah membuat ujian penghabisan H.B.S. di Jawa. Anak muda itu bersekolah di kota Semarang dan membuat ujian di Betawi. Waktu ia di Semarang ia diterima oléh segala orang yang ternama dan mulia di rumah meréka itu. Ia seorang anak muda yang beradab dan sopan, yang tahu akan adat sopan santun serta peramah. Tiap-tiap orang bercakap bahasa Belanda dengan dia, dalam bahasa itu iapun dengan mudah dan baik mengeluarkan pikirannya. Baru-baru keluar dari dunia yang tersebut di atas, datanglah ia kerumah orang tuanya. Disitu menurut pikirannya tidak lain yang lebih baik akan dibuatnya, lain dari pada pergi menghadap orang besar-besar dinegerinya.

Waktu ia berhadapan dengan residén, yang bercakap dengan dia, sahabat saya itu membuat suatu kesalahan. Bagaimanakah ia seorang-orang Jawa, berani mencoba, menjawab perkataan tuan besar itu dengan bahasa Belanda? Itulah kesalahannya itu. Bésoknya ia dapat surat angkatan untuk menjadi jurutulis kemendur digunung-gunung. Disitulah si anak muda itu tinggal memenungkan "dosanya itu” dan melupakan segala 'ilmu yang dahulu dikumpulkannya dalam sekolah. Beberapa tahun kemudian datang kesitu seorang kemendur baru, yang sebenarnya aspiran kemendur, yang akan mencukupkan sengsaranya sampai melimpah-limpah. Kepalanya yang baru itu seorang dari pada kawannya masa disekolah dulu dan si kepala itu bukanlah seorang ternama karena ketajaman otaknya. Si anak muda tadi, yang dahulu selalu nomor satu dalam segala hal, wajiblah jongkok di tanah kepada kawannya yang bodoh dulu itu dan iapun mesti bercakap bahasa Jawa tinggi dengan dia, sedang tuan itu dengan bahasa Melayu tangsi menjawabnya. Dapatlah engkau memikirkan penanggungan dan sengsara si muda remaja, yang sangat dihinakan itu? Betapalah banyak kekuatan hati yang tersembunyi dalam perbendaharaan si muda itu, akan menahan segala azab dan ancaman selama itu. Tetapi akhirnya tidak dapatlah ia menanggungkan lagi; ia berangkat ke Betawi dan mohon permintaan hendak menghadap Gubernur jenderal; permintaan itu dikabulkan. Keputusan permintaannya itu ia dikirim ketanah Priangan dengan perintah akan mempelajari hal perusahaan bertanam padi. Disitu ia berbuat suatu kebaktian, oléh karena ia menerjemahkan surat-surat tentang perusahaan tanam-tanaman dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Karena itu ia dapat anugerah dari Pemerintah dua tiga ratus rupiah. Pada Sekolah Kemendur di Betawi terbuka pangkat seorang guru untuk bahasa Jawa. Guru bahasa Jawa disekolah itu pulang kenegeri Belanda. Banyak sahabat-sahabatnya, bangsa Eropa yang suka kepada bangsa Jawa, mencari daya upaya, supaya ia diangkat kesekolah itu jadi guru bahasa Jawa, tetapi daya upaya itu tiadalah berhasil. Tidakkah pikiran yang amat gila, seorang Bumiputera mengajar bangsa Eropa, apalagi bangsa Eropa bakal jadi pegawai-pegawai Pemerintahan negeri? Buang saja permintaan yang gila itu. Saya mau bertanya: Siapa yang lebih pandai mengajarkan bahasa Jawa lain dari pada orang Jawa sejati? Si muda itupun kembali kenegerinya; dan sementara itu datang ketempatnya seorang residén yang lain, lalu si muda kulit hitam yang cerdik dan pandai itu diangkat kesudahannya menjadi asistén wedana. Bukannya sia-sia saja ia dibuang ketempat yang jauh tadi itu, karena disitulah ia menghimpunkan 'ilmu hidup, misalnya: bekerja pada bangsa Eropa, wajib berjongkok di tanah pada meréka itu dan dekat meréka itu tidak boléh sekali-kali orang bertutur bahasa Belanda. Sekarang orang lain yang memegang perintah. Tatkala pangkat juru-basa dalam bahasa Jawa terbuka, maka pangkat itu diserahkanlah bagi sementara kepada si muda itu.

Stella, saya kenal seorang asistén-residén yang bercakap bahasa Melayu dengan seorang regén, sungguhpun ia tahu bahasa regén itu tahu betul bertutur bahasa Belanda. Lagi pula tiap-tiap orang berbincang-bincang dengan kepala negeri itu dalam bahasa Belanda, hanyalah asistén-residén itu saja yang tidak suka. Saudara-saudara saya laki-laki ber­cakap bahasa Jawa tinggi kepada orang-orang di atasnya, meréka itu menyahut dalam bahasa Belanda atau Melayu. yang menyahut dalam bahasa Belanda itu, orang-orang yang bersahabat dengan kami dan beberapa orang di antaranya meminta kepada saudara-saudaraku, supaya ia memakai bahasa Belanda dengan meréka itu, tetapi saudara-saudaraku tidak mau dan bapapun tidaklah mengizinkan itu. Bapa dan anak-anaknya lebih tahu, apa yang lebih baik baginya tentang hal itu. Pegawai-pegawai bangsa Eropa pada pemerintahan negeri yang menyangkakan dirinya diawan tinggi itu, takut sekali rupan ya kehormatannya akan hilang, sebab itu sebentar-sebentar meréka itu mengingatkan kehormatan itu. Saya tidaklah mempedulikan ancaman meréka itu. Sebenarnya saya selalu suka tertawa melihat kelakuan meréka itu hendak memeliharakan kehormatannya itu terhadap kepada kami, bangsa Jawa. Dengan beberapa pegawai pemerintahan negeri bangsa Eropa yang bersahabat dengan saya selalu saya memperbincangkan perkara itu. Perkataan saya itu tidaklah dibantahinya dan tidak pula diiakannya, sungguhpun saya tahu betul, bahasa dalam hatinya ia membenarkan perkataanku itu. Menyembunyikan kebenaran itu tentulah untuk ke­ hormatannya pula. Mengertikah engkau sekarang, apa sebabnya saya kadang-kadang tidak dapat menahani gelak saya? Suatu keriangan melihat bagaimana tuan-tuan besar itu mencari daya upaya hendak meninggikan kehormatannya itu ke­ pada kami.

Saya gigit bibirku, akan menahani gelakku, waktu saya baru-baru ini didalam perjalanan, melihat seorang asisténresidén dari kantor pergi kerumahnya berpayung emas di atas kepalanya yang mulia itu yang dipegang oléh opasnya. Lucu sekali rupanya.

O, junjungan, tahukah tuan betapa orang banyak, yang sekarang menghindarkan payung bagus itu dengan hormatnya, mentertawakan engkau nanti dibelakangmu? Bagaimanakah timbanganmu, Stella, tentang kelakuan kepala2 negeri bangsa Eropa, yang banyak, ya, amat banyak suka menyuruh mencium kaki atau lututnya kepada kepala2 negeri bang­ sa Bumiputera? Mencium kaki suatu tanda kehormatan yang tertinggi padia bangsa Jawa kepada ibu bapa dan kaum keluarga yang lebih tua atau kepada kepala2 negeri kami sendiri. Kepada bangsa asing, hanya kami lakukan dia dengan hati yang enggan, bila ia wajib dilakukan. ya, bangsa Eropa yang demikian menjadikan tertawa sekali, jika meréka itu menagih kehormatan itu dari pada kami; karena yang berhak akan kehormatan itu, hanyalah kepala-kepala negeri Bumipu­tera saja. Kalau residén-residén dan ass.-ass. residén menamakan dirinya "kangjeng" sudahlah layaknya, tetapi jika mandur2 kebun dan jambatan dan bésok barangkali setasiun chef menyuruh bujangnya memanggilkan "kangjeng" kepadanya, bukankah pekerjaan yang sebodoh-bodohnya itu? Tahukah orang-orang itu arti kata "kangjeng?" Meréka itu menagih kepada orang-orang dibawahnya kehormatan, yang diberikan anak negeri kepada kepala-kepalanya sendiri saja.

O, o, saya sangka hanyalah si Jawa bodoh itu saja yang suka melihat orang mengambil muka. Tetapi sekarang saya lihat, bangsa Eropa yang beradab dan terpelajar itu tidak pula membencii dia, ya, lebih gila lagi akan itu.

tidak pernah saya izinkan, perempuan yang lebih tua dari saya, biar bangsanya kurang dari sayapun, bila ia hendak memberi hormat kepada saya, sungguhpun saya berhak menagih itu. Saya tahu, bahwa ia suka sekali mengerjakan itu. meskipun saya jauh lebih muda dari padanya, saya seorang keturunan dari orang bangsawan asal yang telah biasa disembah dijunjungnya, dan akan guna orang bangsawan itu maulah me­réka itu menyerahkan harta benda dan nyawanya. Sangat merawankan hati, melihatkan kesetiaan orang yang rendahrendah kepada orang-orang besarnya. Menyembur darah didada saya, bila orang-orang yang lebih tua dari saya jongkok di tanah bagi saya.

Dengan sedih hati banyak bangsa Eropa di Hindia melihat­kan, bangsa Jawa, orang yang diperintahinya, perlahan-lahan memajukan dirinya dan acap kali timbullah seorang kulit hitam, yang menerangkan, bahwa ia sama berotak baik dikepalanya dan sama berhati terang ditubuhnya seperti orang kulit putih.

Tetapi cobalah, hal bangsa kulit putih; akan menahani kemajuan zaman sekarang tentu tuan-tuan tidak akan sanggup. Saya amat sangat menyayangi orang Belanda dan banyaklah terima kasih saya kepada meréka itu atas sesuatu yang keér.akannya telah saya rasai. Banyak, ya, amat banyak di antara meréka itu boléh kami namakan sahabat karib kami, tetapi banyak, ya, sangat banyak pula orang Belanda, yang memandang kami seperti musuhnya. Hal itu tidak lain sebabnya melainkan karena kami mencoba berlumba-lumba kepadang kemajuan dan kebaikan budi pekerti dengan dia. Dengan jalan yang kasar diperlihatkannya kepada kami: "saya orang Eropa, kamu orang Jawa", maksudnya: "saya orang memerintah, kamu orang terperintah."

Bukan sekali saja, tetapi beberapa kali orang Eropa menegur kami dengan bahasa Melayu tangsi, sungguhpun ia tahu betul, bahasa kami tahu bercakap bahasa Belanda. Saya tidak peduli, dalam bahasa apapun orang menegur kami, asal ia memakai sebuah bahasa yang sejati. Baru-baru ini ada seorang raden ayu ditegur oléh seorang tuan; dengan cakap jawab raden ayu itu: "Tuan, beri maaf saya, yang saya meminta kepada tuan, supaya tuan memakai bahasa tuan sendiri, bila tuan hendak menegur saya. Saya mengerti dan ber­cakap bahasa Melayu, tetapi saya hanya tahu bahasa Melayu sejati, bukan bahasa Melayu tangsi."

Maka si tuan itupun menjadi malu saja. Mengapa ba­nyak orang Belanda tidak sudi bercakap-cakap dengan kami dalam bahasanya sendiri? O, ya, sekarang tahulah saya sebabnya itu; bahasa Belanda terlampau bagus akan dituturkan oléh mulut orang yang berkulit hitam. Beberapa hari yang lalu kami mengunjungi orang Belanda totok. Orang-orang yang bekerja padanya, sahabat-sahabat lama kami. Kami tahu bahasa meréka itu mengerti dan bercakap bahasa Belanda. Hal itu saya ceriterakan kepada orang baru itu dan apakah jawab tuan penjamu kami itu? "Tidak, ia tidak boléh ber­cakap bahasa Belanda." "Mengapa tidak?" tanyaku kepadanya. jawabnya: "Anak Bumiputera tidak boléh mengetahui bahasa Belanda." Tercengang saya memandang kepada orang yang berkata itu. Dengan segera kehéranan saya hilanglah, dan ujung mulut sayapun bergerak-geraklah oléh karena hendak tertawa. Muka tuan itu menjadi mérah seperti api, dan iapun bersungut-söengut dengan janggutnya serta ia merasa apa-apa yang ajaib pada sepatunya, yang gunanya barangkali akan menghilangkan tutur katanya yang telanjur tadi.

Sekarang ada sebuah ceritera lagi, yang kejadian di tanah Priangan. Pada suatu malam regén anu menerima jamu dikabupaténnya. jamu itu ialah seorang partikulir dan residén di tempat itu. Tiada berapa lamanya datang seorang aspiran kemendur ke dalam perkumpulan itu. Anak regén itu seorang murid H. B. S., yang sedang di rumah karena wak­tu témpoh. Anak itu berjalan dipendopo. Tatkala dilihatnya, bukan bapanya saja duduk, maka iapun hendak menjauhkan dirinya, tetapi residén melihat daa memanggil dia datang kepadanya. Tuan besar itu menyahuti tabik anak muda itu dengan suka hati, dan lama dan ramah bercakap-cakap dengan dia. Tatkala percakapan itu telah habis, maka anak muda itu datang kepada aspiran kemendur itu dan memberi tabik dengan hormat. Tuan kecil itu menimbang tidak perlu, akan menjawab tabik hormat itu, hanyalah dianggukkannya kepalanya sedikit dan matanya dengan pemandangan yang menghmakan mengamat-amati anak muda itu dari puncak kepala sampai kekakinya serta merungutkan kata ini dari mulutnya: "Tabee. Anak muda itu menjadi pucat, dan bibirnya bergerak-gerak dan tangannya ditinjukannya.

Beberapa lamanya kemudian dari pada itu diceriterakannya kepada orang partikulir, yang duduk bersama-sama pada waktu hal itu terjadi: "Saya suka sekali kepada orang Belanda, tuan, banyak sahabat kenalan saya orang Belanda, sahabat-sahabat karib, tebapi "tabee" aspiran itu sekali-kali tidakdapat saya lupakan, hal itu menggorés hati saya."

O, Stella, saya sudah kerap kali menujukan pemandangan saya pada segala hal keadaan dalam dunia kehidupan di tanah Hindia; dengan tiada sengaja terlihat oléh saya di belakang-belakang dunia pegawai-pegawai itu lubuk2 yang amat dalam. O, Stella, melihat sekalian itu saja telah boléh memusingkan kepalamu. O. Allah. Alangkah banyak perbuatan yang jahat dan ngeri didunia ini! Ada residén-residén dan asistén-asistén residén yang jauh kurang baik lagi dari pada tuan Slymering dalam Max Havelaar. Tidak, saya tidak suka menjadikan surat saya ini sepucuk surat kejahatan.

O, sekarang saya mengerti, mengapa orang Belandla tidak suka. kami bangsa Jawa menjadi maju. Apabila si Jawa telah berpengetahuan, tentulah ia tidak akan mengia dan mengaminkan saja lagi akan barang sesuatu yang dipikulkan orang yang lebih tinggi di atas bahunya.

Lihatlah, sekarang surat chabar Belanda "Locomotief", surat chabar yang terutama di Hindia, telah memasukkan karang-karangan, yang ditulis oléh anak Bumiputera dalamnya. Dalam karang-karangan itu dibukakannya buah pikirannya, yang telah bertahun-tahun bercabul didalam hati pegawai-pegawai anak negeri, sungguhpun bukan pada segala pegawai-pegawai, tetapi pada sebagian besar dari pegawai-pegawai anak negeri itu. Buah pikiran itu dulu selalu didiamkan saja. Bukannya pegawai-pegawai yang berpangkat tinggi saja didalam negeri, sedangkan pegawai-pegawai yang lebih rendahpun sekarang membukakan suaranya pula. Surat chabar hari-hari menamakan hal itu suatu tanda yang baik dan menyorakkan keadaan itu amat sangat. Bagaimana pikiran pegawai-pegawai Eropa tentang hal itu, tiadalah saya ketahui; hanyalah yang saya ketahui, bahwa seorang kemendur meminta perubahan dalam golongan pemerintahan negeri. Perubahan itu tiada sedikitpun mendatangkan kerugian kepada Pemerintah, tetapi mendatangkan keuntungan, bukan saja keuntungan untuk pegawai Belanda, tetapi memberi keuntungan pula kepada pegawai Bumiputera. Kemendur itu menegaki kegunaan pemerintahan anak negeri, ditangan kepala-kepalanya sendiri. Pikiran itu telah dihadapkan dimuka majelis kamer kedua di tanah Belanda. Iapun meminta, supaya didalam pekerjaan pegawai-pegawai Belandia diwajibkan memakai bahasa Pelanda dengan pegawai-pegawai Bumiputera. Bagus! kakakku tiada berdiri sendiri saja menegaki perkara itu.

Seperti dinegerimu bangsa perempuan bergerak meminta disamakan haknya dengan laki-laki, demikian pula bangsaku hendak memerdehékakan dirinya. Sebagai dinegerimu perempuan dan gadis-gadis selalu dirintangi oléh meréka, yang berzaman-zaman telah menjadi tuannya, demikian pula bangsa Jawa dalam pergerakannya diganggu oléh bangsa yang lebih tinggi.

Pergerakan bangsa Jawa itu baharu mulai. Beruntung benar orang-orang ternama dan terpandang memperhatikan pe'kara kami. Tentulah pergerakan itu akan menjadi peperangan yang hébat, orang yang memperperang-perangkannya bukannya akan berlawan dengan musuhnya saja, tetapi ia akan berjuang pula dengan kebodohan bangsanya sendiri, yaitu orang yang diperperangkannya itu. jikalau peperangan si laki-laki sangat hébatnya, maka perempuan-perempuanpun tentulah akan terbangun. Aduhai bangsaku laki-laki, betapakah banyak kerjamu nanti.

Beruntung sekali rasanya kami hidup pada zaman sekarang. Perubahan dari zaman kuno kepada zaman kaum muda. Belum selang berapa hari ini saya membaca: "janganlah engkau cela, hai orang tua-tua, barang sesuatu yang baru. Pikirkanlah bahasa barang yang tua sekarang, dulu muda juga." (Kata-kata itu saya sebutkan dari kepala saya saja). Alangkah panjang surat ini, Stella; kuharap, surat ini jangan terlampau memayahkan engkau, oléh karena membaca dia. Dan maafkan saya, bila ada dalam surat ini kata-kata saya yang menyedihkan hatimu, saya tulis sekalian itu oléh karena kegembiraan saya.

Stella, maafkan, yang semata-mata lupa, kepada siapa saya sekarang menulis surat. Pada dirimu saya dapati seorang yang sepikiran dengan saya. Kepadaku telah kaukatakan, yang saya tidak lain dari pada seorang saudara sepikiran bagimu. Dan begitu pula saya memandang engkau. Pada pemandanganmu saya bukan orang Jawa, bukan anak bangsa kulit hitam yang dihinakan itu; maka begitu pula engkau dalam pemandanganku bukan seorang bangsa kulit putih, yang membencii, mentertawakan dan menghinakan si Jawa. Padaku, engkau putih sebenar-benarnya putih, putih kulit dan putih hatimu. Engkau saya pandang tinggi; engkau saya cintai amat sangat. Tentulah banyak bangsaku membenarkan kataku itu, bila meréka itu mengenal engkau. O, kalau sekalian orang Belanda seperti engkau dan sahabat kenalanku bangsa kulit putih yang lain, yang saya hormati tinggi dan cintai amat sangat.........!

Kitab Carthold Meryan telah dijanjikan kepada saya, tetapi sampai sekarang belumlah juga datang, boléh jadi si penayual kitab-kitab itu harus memesan lebih dulu kenegeri Belanda.

Tetapi selang beberapa hari ini saya membaca kitab "Moderne Vrouwen", yang diterjemahkan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Belanda oléh Jeanette van Riemsdyk. Dengan kecéwa saya letakkan kitab itu kembali. Banyak surat-surat chabar mengatakan kitab itu suatu kitab yang bagus sekali dan ceriteranya didalam segala hal jauh lebih tinggi dari pada hikayat Hilda van Suylenburg, serta iapun sebuah hikayat yang sempurna yang tidak kecelaan dan kekurangannya.

Tetapi menurut pikiranku, kitab H. v. S. masih selalu ratee dan sekalian kitab-kitab yang telah tercétak tentang kemerdekaan perempuan. Biarlah saya nantikan dahulu mengeluarkan bandingan saya perihal kitab "Moderne Vrouwen," tetapi sepanjang pendapatan saya kitab itu tidak menghidupkan dan menggembirakan hati seperti kitab H. v. S.

Percayakah engkau bahasa saya tidak berhenti-henti membaca kitab H.v. S. sehingga tammat? Saya tutup diriku dalam bilik kami, saya lupakan sekalian pekerjaan saya, saya tidakdapat menjauhkan kitab itu dari tangan saya. Kitab itu menarik saya amat sangat.

Sayang, yang kitab peringatan saya telah hilang. Saya hendak menyuruh baca kepadamu, sebuah karangan yang baru-baru ini saya baca. Ia itu sebuah karangan dalam bahasa Inggeris, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan bernama "Het dul der Vrouwenbeweging" = "Maksud gerakan perempuan-perempuan". Saya tidak tahu betul lagi karangan itu dimuatkan, entah dalam surat chabar de "Gids", entahkan dalam surat chabar "Wetenschappeliyke bladen". Dan lagi harus engkau baca, bila engkau belum membaca karangan "Wayang-Wong" dikarangkan oléh Martine Tonnet dalam surat chabar de "Gids" nomor bulan November. Karangan itu amat bagus tentang keadaan orang Jawa dan kepandaiannya dan hal keadaan dalam istana di jokjakarta. Engkau tentu akan merasa kesedapannya, bila engkau membaca itu. Baru-baru ini telah dua kali saya membaca "Minnebrieven" (surat cinta-cinta) yang dikarangkan oléh Multatuli. Alangkah pandainya Multatuli itu. untunglah, tidak lama lagi akan dikeluarkan, segala karangan-karangan dengan harga murah. untuk hendak mendapat buku-buku itu saya hendak membujuk-bujuk bapa. Bapa Asistén Residén kami seorang sahabat baik Multatuli dan dari padanya kami mendengar beberapa keajaiban hidup orang yang pandai itu. Couperus selalu masih di Hindia; bila ia kembali ke Belanda, tentu ia menurut pikiranku, akan mengeluarkan sebuah kitab, yang bagus perihal tanah airku. Alangkah bagus dan molék kalimat dan susunan kata-katanya.

Rimba bambu dengan kandang kerbau dekat Depok.

Permulaan 1900 (II)[sunting]

nyonya tahu, bagaimana ingin kami hendak pergi ke Eropa. Karena tanah Eropa tidak dapat kami capai, maka kamipun bersenang hatilah, belajar disini saja. Tahun yang lalu kami telah berbesar hati akan pergi ke Betawi, meskipun kenang-kenangan kami tatkala itu telah terbang ke Eropa. Kami minta kepada Pemerintah Hindia, supaya kami dikirim ketanah Eropa atas tanggungan Pemerintah. Apabila permintaan itu diperkenankan, maka Rukmini akan belajar untuk perkara gambar menggambar dan membuat patung, supaya kemudian ia dapat mengajari bangsanya, akan menghidupkan kepandaian Bumiputera kembali tentang perkara itu; kepandaian itu salah suatu mata pencaharian untuk anak negeri. Kleince, adikku pergi kesekolah perkara rumah tangga; ia nanti akan mengajar segala perempuan yang menjadi ibu dan perempuan rumah, dan mengajarkan harga wang dan kehématan serta kebajikan, yang berguna untuk bangsa Jawa yang lalai, sia-sia dan yang suka kebagusan dan keindahan itu. Dan saya untuk jadi pengajar, akan menunjuki perempuan-perempuan yang akan menjadi ibu itu, pengertian kata cinta dan adil, serta 'ilmu yang lain-lain, yaitu kata-kata yang telah ditunjukkan bangsa Eropa kepada kami. Pemerintah suka mema'murkan tanah Jawa, hendak mengajar bangsa Jawa berhémat. Kalau hendak membuat itu wajiblah Pemerintah mulai mengajar pegawai-pegawainya berhémat. Apa guna Pemerintah memaksa si laki-laki menyimpan wang, kalau si perempuan yang memegang wang untuk rumah tangga, tidak tahu menghargakan wang itu?

Pemerintah hendak memajukan bangsa Jawa. Akan memulai pekerjaan itu dipaksa orang-orang bangsawan Jawa mempelajari bahasa Belanda dulu. Karena sekarang, bila Pemerintah hendak mengangkat seseorang, maka Pemerintah menilik kepandaian meréka itu. Tetapi kepandaian saja cukupkah untuk menjabat suatu pangkat?

Jika Pemerintah betul-betul hendak mengajar dan membaiki bangsa Jawa, haruslah ia jangan memajukan kepandaian saja, tetapi budi pekerti juga.

Siapakah yang terutama dapat mengerjakan perbuatan yang achir itu, ialah pula yang banyak menolong meninggikan kadar kelakuan manusia? Orang yang sanggup mengerjakannya ialah perempuan. Karena si ibulah, yang memberikan pendidikan yang pertama-tama sekali kepada manusia. di atas pangkuan si ibu, anaknya manusia yang kecil itu mulai belajar merasa, berpikir dan berkata. Pendidikan yang bermula-mula sekali adalah baktinya untuk se'umur hidup. Sebuah kelakuan yang tidak baik, yang wajib dihilangkan dari bangsa Jawa ialah kesombongan. Hal itu banyak akan menolong keselamatan bangsa Jawa. Akan menghapuskan itu hanyalah pendidikan budi pekerti yang baik.

Banyak kekuatan, yang boléh menjadi keuntungan dan keselamatan pada bangsa dan negeri, yang tiada dipergunakan, karena orang yang empunya dia tidak mau memakainya, karena kesombongannya. Orang-orang bangsawan lebih suka menanggung kemiskinan dan kesengsaraan, dari pada mempunyai harta benda, asal payung emas menudungi kepalanya yang bangsawan itu. Orang-orang bangsawan menghinakan segala barang yang tidak ditudungi oléh barang yang dicintainya, yaitu payung keemasan itu.......................

Bangsa kami tidak ada mempunyai keinginan yang banyak dan kenang-kenangan yang tinggi. Kami harus menghérankan dia dengan sebuah contoh, yang menarik hati dan memaksa meréka itu menirunya; kami hendak menyampaikan maksud kami untuk menjadi pembuka jalan dan suluh. Sebab itu kami hendak pergi kenegeri Belanda; untuk sekaliannya, untuk pengajaran dan bagi kami sendiri amat baik, jika kami pergi kesitu; nyonya, bantulah maksud kami ini.

Jikalau kami telah tammat belajar dan kembali ketanah Jawa, kami akan mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan orang bangsawan; kalau dapat, sekolah itu, sekolah Gubernemén. Kalau tidak dapat, kami coba mendirikan sekolah partikulir dengan wang loterai dan lain-lain.

Bila maksud kami telah sampai, dapatlah pula akal pendirikan sekolah itu. Sekarang yang amat mengalangi kami akan pergi ke Eropa itu, hal keadaan kami di rumah; izin yang akan diberi bapa, lebih besar dari izin yang dikabulkan raja. O, bila kami boléh mendapat izin itu?

Wah, nyonya, sakit, ya, sengsara yang amat besar yang dii asai, bila oiang seorang gadis Jawa dan mempunyai perasaan yang halus. Kasihan nasib ibu bapa yang mempunyai anak seperti kami. Kami berharap akan meminta pada Allah, supaya 'umur usia orang tua kami dipanjangkannya dan meréka itu nanti akan beriang hati karena kami, meskipun kami tiada berjalan dibawah payung keemasan.

Hai sahabat kami, tolonglah kami, supaya kami berangkat dari negeri Jawa, pergi bekerja untuk menyampaikan cita-cita dan kenang-kenangan kami. Déwasa inilah mula keadilan dan achir kelaliman, yang telah beribu-ribu melukai hati perempuan dan gadis-gadis. Akan pembéla itu saya akan mempelajari bahasa Belanda sebaik-baiknya dan sesempurna-sempuraanya, supaya saya dapat bekerja dengan bahasa itu, dan dapat saya pergunakan menurut kesukaan saya. Dengan pénaku boléh saya coba mengambil hati orang yang dapat membantu dan bersama-sama dengan dia akan memperbaiki untung nasib bangsa perempuan Jawa. Tentu nyonya akan berkata kepada kami bila membaca surat ini: "Hai anak-anak gila dan malang. Engkau dengan kedua adikmu hendak menggoyangkan gudang adat yang besar itukah, mau engkau merobohkannya?"

"Ya, nyonya," jawabku, "kami hendak menggoyang gudang adat itu dengan segala kekuatan kami; biarpun sebuah batu saja yang jatuh, kamipun berbesar hati. Karena dengan cara begitu, tiadalah kami hidup sia-sia didunia ini. Sebelum kami memulai pekerjaan itu, kami coba dulu mencari pertolongan seorang laki-laki Jawa yang terpelajar sekali. Kami hendak berhubung dengan bangsa kami laki-laki yang terpelajar dan suka akan kemajuan; dan dengan hal yang demikian hendak mencahari persahabatan dengan meréka itu dan kemudian meminta pertolongannya. Kami tidak hendak berlawan dengan laki-laki, tetapi hanya berhadapan dengan orang kaum kuno, yang berpikiran bodoh, beradat yang tidak baik lagi untuk tanah Jawa zaman sekarang dan yang akan datang. Sekarang telah ada orang yang lain, yang bersama-sama dengan kami menjadi si penebas jalan setiap hari sepanjang waktu, dan dimana-mana akan menanggung kesusahan dan kesengsaraan. Amat bagus, bila seseorang ada mempunyai cita-cita dan kemauan hati. Namakanlah kami gila, bodoh dan apapun juga nyonya suka menamakan kami; kamipun tiadalah akan berubah; karena kemauan itu telah masuk dalam darah daging kami.

Nénék sayapun seorang si penebas jalan pula dulu. Setengah abad yang lalu ia telah memberi anaknya laki-laki perempuan pendidikan cara Eropa. Kami tidak berhak akan menjadi bodoh dan akan menjadi orang tidak berharga sedikit jua. Orang bangsawan itu ada kewajibannya. Demikian pula bangsawan yang tertinggi harus maju kemuka.

Sekarang kami belum dapat berhubung dengan laki-laki bangsa Bumiputera yang berhaluan kemajuan. jika kami buat pekerjaan itu, dengan segera orang tentu membencanakan kami, karena persahabatan antara perempuan-perempuan yang tidak bersuami dengan laki-laki suatu pekerjaan yang tidak pernah kejadian; biarpun si laki-laki sudah atau belum kawin sekalipun.

Nanti, apabila kebébasan telah kami peroléh, niscayalah pekerjaan itu kami lakukan. Saudara saya laki-laki kenal kepada meréka itu oléh karena berkirim-kiriman surat atau sebab bertemu sendiri. Kami tahu bahwa ada laki2 yang menghargai perempuan yang pandai berpikir dan bersopan santun. Saya mendengar seorang Bumiputera berpangkat tinggi mengatakan, bahwa perempuan yang terpelajar dan tahu adat sopan santun suatu pertolongan dan bantuan yang besar bagi lakinya.

13 Augustus, 1900. (VIII)[sunting]

Kami merasa diri kami celaka, sungguh celaka, karena kebenaran yang sesungguh-sungguhnya itu mengancam hendak menghapuskan cita-cita kami. Budi yang tawar itu menyuruh membuang dan menguburkan mimpi dan cita-cita itu, karena cita-cita yang seperti itu tidak berguna dalam dunia kami Bumiputera..........................................

Dan tiba-tiba bertemulah nyonya dengan kami............. tidak sanggup kami rasanya mengeluarkan dengan kata-kata, apa yang bercabul dalam hati kami. Perkataan yang semanis-manisnya dan setulus-tulusnya tidak dapat menggambarkan perasaan hati kami itu.

Ketahuilah, nyonya yang berbudi, bahasa selama hidup kami, kedua nama tuan itu selalu akan tinggal pada kenangkenangan kami dengan banyak terima kasih.

Tatkala bapa bulan yang lalu berceritera, bahwa tuan Direeteur v.O.E. en N. akan datang kemari, dan maksud kedatangan itu kami dengar, maka kamipun segera sangat menghormati dan memuliakan s.p.j.m. suami nyonya itu, sungguhpun yang mulia itu belum kami kenal. Kami telah tahu, bahwa y.m. menaruh kasih pada orang Jawa, laki-laki dan perempuan. Dengan keinginan yang tidak terkira, kami menantikan kedatangan beliau y.m. datang dan disisinya berjalan seorang nyonya yang lemah lembut pekertinya, tangannya yang pengasih menaburkan bunga-bungaan ditaman hati nurani kami. Tutur katanya yang manis dan baik itu keluar dari bibirnya seperti lagu yang merdu bunyinya pada telinga kami dan masuk ke dalam hati jantung kami. Kata-katanya itu adalah semisal sinar matahari, yang menerangi kalbu kami serta meriang dan menghiburkan hati kami.

Kami ucapkan terima kasih kepada' Allah, karena Allah telah menggerakkan nyonya pergi kepada kami dan kamipun mendapati nyonya seorang pengasih dan penyayang. Dua, tiga hari y.l. kami belum sedikit juga tahu kepadla nyonya dan sekarang kami mencintai nyonya sebagai kami telah se'umur hidup berkenalan dengan nyonya. Alangkah ganjil dan ajaibnya percintaan itu. Ia tidak mau dipaksa dan tidak mau terikat dimana juapun; ia datang tidak dipanggil dan tidak disangka-sangka. Dengan sepatah kata saja ia mengikat dua kalbu, yang permulaannya tidak berkenalan, dengan tali tambatan yang erat dan kuat dan ialah memandang dengan pemandangan yang terus pada hati kedua belah pihak meréka itu!

Alangkah amat lazat, amat berbahagia rasianya mengetahui, bahwa perasaan dan kenang-kenangan, yang terasa oléh kita dan yang kita cintai terdapat pula pada orang lain. Itulah suatu tali yang tidak kelihatan, tetapi yang kukuh, yang terentang dari suatu hati kehati yang lain dan itulah akhirya yang membawa kita berhampiran, yang menyebabkan pergaulan yang bertahun-tahun.

O! kami suka bersorak-sorak karena kegirangan dan mau bernyanyikan lagu-lagu pujian dan terima kasih bersama-sama dengan burung-burung di atas pokok kayu kepada Tuhan sarwa sekalian alam, dan dengan si penyanyi yang bersayap itu bersorak-sorak terbang kelangit kepada Tuhan yang esa mengucap terima kasih atas kehidupan yang bagus dan indah ini. Biarpun hidup itu banyak pula kecelaannya, tetapi iapun indah dan bagus dan dalam kecelaannya itu barulah terang kelihatan kebaikan dan kebagusannya itu. Allah selalu bermaksud yang baik kepada kita. Hidup diberikan kepada kita sebagai rahmat dan bukan seperti beban. Kita manusia sendiri membuat hidup itu menjadi tonggak gantungan.

Kebaikan dan rahmat Allah pada kita itu yang terbaik kita rasai dan ketahui, bila kita memandang kemuliaan alamnya. Di Klein Scheveningen kami acap kali tidak puas merasai bahagia kami. Sekalian yang kami pandang disitu bernapaskan rahmat Tuhan, kesentosaan dan keselamatan. Rasanya hidup kami seolah-olah bertukar, yaitu semakin lama, semakin bagus.

O! alangkah besar kekuasaan dan kebesaran bangsawan pikiran dan bangsawan, yang setiap masa dan ketika sanggup mendatangkan perubahan dalam hidup manusia.

Augustus 1900 (VIII)[sunting]

"Tidak adalah didunia ini bahasa, bagaimana sekalipun pandai kita memakainya, yang dapat menceriterakan perasaan itu dengan baik. Bahasa seperti itu sungguh-sungguh tiadalah ada." Sayapun berpikir demikian pula seperti nyonya itu, bahasa yang sedemikian tidak ada didapat; yakni tidak ada dalam bahasa-bahasa yang ditutur dan dituliskan orang. Tetapi ada sebuah bahasa yang ganjil dan ajaib, yang tidak mempergunakan kata-kata dan huruf-huruf, tetapi dapat dikenal dan diketahui oléh masing-masing yang merasai dia. Dan bahasa itu boléh dipercaya amat sangat, karena perkataan "dusta" tiadalah didapat dalam kitab kamusnya.

Bahasa itu bahasa mata yang suci dan terpilih dan ialah cermin kalbu manusia! Dan jika nyonya dapat melihat saya pada petang, waktu kertas yang lima helai yang harum dan sedap baunya gementar ditanganku dan air mata yang panas jatuh berlinang-linang dipipiku, maka akan mengertilah nyonya, apa yang terasa dihatiku, sungguhpun tidak sepatah kata juapun nyonya dengar dari mulutku.

Apa yang tidak dapat oléh mulut mengatakan dan oléh péna menuliskan, dapatlah nyonya melihat pada mataku, yang basah oléh air mata menéngok keatas seperti mencari seorang di antara bidadari disitu, yang akan turun kebawah, akan membujuk hati kami yang pilu dan berdukacita oléh karena kesengsaraan, yang banyak didunia ini dan dialah yang akan membujuk kami sebagai didalam surga nanti.

Syukur, syukur, syukur, kata hatiku, setiap kali darah turun naik dan tiap-tiap napasku, itulah menjadi ucapan mohon terima kasih.

Kami hanya anak-anak manusia biasa saja, yakni orang berbudi buruk dan baik sebagai berjuta-juta orang yang lain. Boléh jadi pada masa ini lebih banyak yang baik dari yang buruk ada pada kami, tetapi sebabnya maka begitu tidak usahlah dicari lebih jauh. Bila orang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tentulah tiada akan susah ia menjadi orang baik. Dengan tidak disangka ia akan baik juga yang sebenarnya bukan kepandaian, bukan jasa, akan membuat yang tidak jahat, kalau orang tidak sempat membuat kejahatan itu dan jika ia masih didalam penjagaan orang tuanya.

Nanti, jikalau kami keluar dari rumah orang tua kami yang baik dan sentosa itu, dan sudah berdiri sendiri dalam penghidupan yang luas ini, serta tidak kami rasai lagi lengan orang tua kami yang lemah lembut memangku kami akan melindungkan kami, kalau badai kehidupan datang menyerang menggoda kami. jika tangan yang pengasih tiada lagi membimbing dan memegang kami, supaya kaki kami jangan jatuh tergelincir dalam kehidupan....................Pada déwasa itulah baru kami akan menyatakan, siapa kami!

Saya minta pada Allah, supaya kami jangan akan mempertinggi pula gunung kecéwaan, yang telah menyusahkan kehidupan nyonya. Oléh sebab itu kami minta pada nyonya amat sangat, supaya nyonya jangan menyangkakan kami orang yang semanis dan semolék itu juga. Karena pekerjaan itu tidak dapat tidak akhirya mengecéwakan nyonya dan kalau demikian tentulah hal itu akan mendukacitakan kami.

Dengan perlahan-lahan saya hendak menceriterakan kepada nyonya berdikit-dikit peri hal keadaan kami yang sebenar-benarnya, supaya nyonya dapat mengetahui tingkah laku kami, supaya nyonya, karena baik hati nyonya, jangan memandang kami bersipat-sipat baik, karena sipat yang demikian tidak adalah pada kami.

Kami masih muda, kami lagi boléh hidup, 'biar nanti kita lihat, apa yang dapat kami perbuat. nyonya menulis kepada saya: "Saya menaruh kasihan kepada perempuan-perempuan, nasibnya menarik hati saya, ia masih dihina dan dianiaya didalam kebanyakan negeri-negeri dibumi ini dalam abad "kemajuan" seperti sekarang. Dengan suka dan setia saya menegaki dan melindungi meréka itu."

Saya mohon banyak terima kasih kepada nyonya atas tutur kata nyonya yang manis dan pengasih itu. Dalam kata-kata yang di atas itu nyata kepada kami, bahasa nyonya menyayangi sesama manusia dan dapat merasai penanggungan berjutayuta perempuan, yang telah berzaman-zaman 'dianiaya oléh sesamanya manusia, yaitu si laki-laki.

Syukur! Mengucap syukur banyak-banyak kepada Allah, karena ada rupanya orang yang berhati dan pikiran yang mulia, yang menaruh kasih kepada nasib perempuan-perempuan Bumiputera yang duka itu. Orang-orang itulah hendak menerangi dunia perempuan yang gelap dan muram itu.

Perempuan-perempuan Bumiputera telah padalah disiksa dan si gadis-gadis muda remaja itu telah banyaklah penanggungannya. Hai saudara perempuan bangsa kulit putih, yang berhati pengasih dan penyayang, unjukkanlah tanganmu kepada kami, dengan pemandanganmu yang luas, otakmu yang tajam dan hélakanlah kami dari pada lumpur kesukaran dan kesakitan ini. Kelobaan si laki-lakilah yang memasukkan dan menahani kami kelumpur yang celaka itu. Tolong kami memerangi dajal kelobaan si laki-laki yang ganas, yang telah beratus-ratus tahun menyiksa dan menginjaki kami itu, dan yang menyangka perbuatannya itu perbuatan yang biasa dan tiadalah ia memikirkan bahasa perbuatannya itu lalim adanya. Serta ia dengan sabar memandang perbuatannya itu sebagai hak yang patut bagi si laki-laki, atau seperti suatu pusaka akan kedukaan si perempuan.

Sungguhpun saya masih muda, saya tidak pekak dan buta, sehingga saya telah banyak mendengar dan melihat, ya, barangkali telah terlampau banyak penglihatan dan pendengaran, yang menyakiti kalbuku, dan menyuruh saya melawan dengan gagah kepada adat-adat kuno yang buruk itu, yang menjadi suatu la'nat kepada perempuan-perempuan dan anak-anak!

Dengan putus asa dan berdukacita amat sangat, saya perpulaskan tangan saya memikirkan diri sendiri, seorang yang tidak berdaya akan berhadapan dengan suatu kejahatan yang amat besar itu. Kejahatan yang dilindungi oléh agama Islam dan dihidupi oléh kebodohan perempuan yang jadi kurban kejahatan itu!

Aduh, bila kukenangkan untung nasibku yang akan memaksa saya............menjalani aturan 'hidup yang bernama permaduan, kelaliman yang bengis itu: "Saya tidak mau!" teriak lidah saya dengan kerasnya, dan hati sayapun mengulang teriak itu beribu-ribu kali.............Kemauan! adakah kita manusia mempunyai kemauan?

Semenjak hari lahir kita sampai kepada hari maut, kita mesti............mesti, tidak boléh tidak.

Hai, hidup, alangkah banyak keajaiban dan masaalah yang sukar-sukar dalam dirimu!

Kami menyangka, yang kami telah mengenal engkau dan keadaanmu, tetapi sebenar-benarnya kami tidak tahu peri halmu sedikit juga! Kami menyangka mempunyai kemauan, 'suatu kemauan yang 'keras sebagai besi dan kami sangka diri kami kuat dan sanggup memindahkan gunung............Tetapi, bila kami melihat air mata orang yang berdukacita itu,maka lemahlah kekuatan kami.

Boléhkah saya menceriterakan kepada nyonya suatu ceritera, yang tidak menarik dan menyukakan hati, melainkan menjemukan, panjang dan berulang-ulang, dan memaksa nyonya berhati sabar? Lebih dulu saya minta kepada nyonya, supaya nyonya memberi maaf saya, bila ceritera itu nanti membosankan nyonya dan menghabiskan waktu. Saya berani menceriterakan itu kepada nyonya, karena nyonya telah menulis kepada saya: "Tulislah surat kepada saya sebanyak-banyak dan sepanjang-panjang engkau dapat membuatnya."

Ah, kalau nyonya ketahui lebih dulu, yang kebaikan nyonya itu akan dirusakkan, tentulah tutur kata yang merdu di atas itu tidak akan nyonya keluarkan.

ceritera itu suatu hikayat tiga orang perempuan bangsa kulit hitam; anak orang sebelah Timur, dinegeri yang amat panas. Ketiga anak itu lahir dengan bermata buta, kemudian, sesudah matanya diobati, dapatlah meréka itu melihat, sekarang dapat ia merasa dan mengucap kemolékan dan kemuliaan dunia. Setelah mata meréka itu telah biasa pada cuaca dan kebagusan dan mencintai matahari, yang menerangi seluruh alam dan tempat sekelilingnya yang bagus itu, maka datanglah perasaan pada dirinya, bahwa kain penutup matanya akan terikat kembali dan meréka itupun ditolakkan kembali ketempat yang gelap, tempat asal datangnya, yaitu tempat segala kaum keluarga dan nénék moyang meréka itu dipeliharakan!

Orang mempersalah kitab-kitab yang penuh dengan "perkataan sia-sia," yang datang dari tanah sebelah Barat, tanah yang jauh itu masuk ketengah-tengah negeri, tempat yang suci dan damai dipesisir tanah Jawa yang hijau itu. Disitulah tinggal ketiga anak perempuan yang tersebut tadi; ketiganya itu bersaudara. Ketiga saudara itu tidak suka dan tidak mau memikul dibahunya beban yang biasa dipikul oléh nénék moyangnya yang perempuan dengan sabar dan kesukaan: Sekarang beban itu tergantung dan terbanting diudara, setiap saat'ia boléh jatuh di atas bahu orang yang tidak menyukainya itu.

Perkataan orang yang mempersalah kitab-kitab itu tiadalah sekaliannya benar. Bukan kitab-kitab saja yang menyuruh dia melawan, dan menyuruh ketiga anak itu membencii hal keadaan dinegerinya, yang sejak dulu kala telah terdiri dan yang jadi suatu la'nat kepada segala manusia yang bernama perempuan atau gadis!

Kehendak kepada kebébasan, kemerdékaan, dan mau tegak sendiri, bukannya kehendak masa sekarang.

Tetapi kehendak itu telah ada waktu meréka itu masih kecil, sebelum ia mengetahui "kemerdékaan", dan waktu kitab-kitab dan surat-surat yang berisi tentang hal itu belum ada dalam capaian meréka itu, waktu itupun kehendak yang tersebut telah ada dalam kalbu seorang dari ketiga saudara itu; keadaan yang dilihatnya dan didengamja sehari-hari membangunkan kehendak itu padanya.

Kedatangan kehendak pada anak yang seorang itu, beginilah kissahnya.

Pada waktu bermain-main disekolah Belanda dinegeri kecil Jepara, dibawah pohon baru yang berdaun kuning, yang terdiri dalam pekarangan sekolah, duduklah bertumpuk-tumpuk anak-anak perempuan kecil dan besar di atas rumput yang sebagai pennadani hijau rupanya dan lembut rasanya. Waktu itu hari sangat panasnya dan seorangpun tidak suka hendak bermain-main.

Déwasa itu berkata anak perempuan bangsa kulit 'hitam yang di atas itu; bukan saja karena kulitnya hitam, tetapi pada pikirannyapun tampaklah, bahasa ia seorang anak Bumiputera, katanya: "coba, Letsy, berceritera sedikit atau bacakan apa-apa kepadaku!" Seorang anak perempuan bangsa kulit putih, yang besar dan duduk bersandar dipokok kayu membaca sebuah kitab kecil menéngok pada si anak tadi dan menyahut, katanya: "Ah, tidak, saya harus menghafalkan pengajaran bahasa Perancis."

"Di rumah dapat kamu menghafalkan itu, karena kita tidak ada kerja. Sekolah untuk bésok", kata anak kulit hitam tadi lagi.

"Betul, tetapi kalau saya tiada mempelajari bahasa Perancis baik-baik, tidak boléhlah saya dua tahun pergi kenegeri Belanda. Saya ingin hendak pergi belajar kesekolah guru perempuan, barangkali saya di tempatkan disini, jika demikian saya tidak duduk dibangku lagi, melainkan dikursi dimuka kelas.

Tetapi, Ni, coba ceriterakan kepadaku; mau jadi apa engkau nanti? Hal itu belum pernah kauceriterakan kepadaku," tanya anak Belanda itu. Kedua mata si kulit hitam yang besar itu memandang kepada yang bertanya dengan hérannya.

"Nah, ceriterakanlah", kata si Belanda lagi. Anak Jawa itu pun menggéléngkan kepalanya serta berkata dengan ringkas: "'ndak tahu". Ia betul-betul tidak tahu, ia belum pernah memikirkan hal itu, ia masih amat kecil masih melompat-lompat. Pertanyaan sahabatnya bangsa kulit putih itu termakan dalam hatinya. tidak dapat ia melupakannya dan selalu mendesus ditelinganya perkataan: "Mau menjadi apa engkau nanti?"

Dimenung-menungkannya sehingga kepalanya menjadi sakit. Pada hari itu ia beberapa kali mendapat hukuman menulis disekolah, ia menjadi bingung, dan memberi jawab yang bodoh bila orang bertanya barang sesuatu kepadanya dan membuat kesalahan yang bodoh sekali dalam kerjanya. Tentu sajalah begitu, karena pikiran dan otaknya tidak pada pengajaran; pikirannya selalu pada 'kata-kata yang didengarnya waktu bermain-main tadi. yang mula-mula dibuatnya, setiba ia di rumah, ialah pergi kepada bapanya, akan 'menceriterakan pertanyaan yang tergorés dihatinya itu: "Hendak menjadi apa saya nanti?"

Si bapa tiada berkata apa-apa, melainkan ia tertawa saja dan memijit pipi si anak itu. Tetapi dengan cara demikian tidaklah si anak itu bersenang hati dan selalu merengut menantikan jawab. Kakaknya laki-laki lalu disitu, mendengar pertanyaan si anak itu, telinga si anak yang tajam itu mendengar jawab ini: "Akan menjadi apa anak-anak perempuan? Tentulah menjadi raden ayu!" Si anak itu bersenang hati dan berlari dengan kesukaan. "Raden ayu," diulangnya kerap kali dalam hatinya. Apa itu "radèn ayu?" Pikiran yang baru itu tidak dapat pula dilupakannya, selalu pikirannya pada kedua patah kata "radèn ayu" itu saja.

Ia wajib menjadi itu pula. Ia menéngok kiri kanan, ia melihat dan beramah-ramahan dengan kebanyakan radèn ayu.

Sejak itu selalu diperhatikannya beberapa radèn ayu dan dipelajarinya kehidupan meréka itu.

Apa yang dapat diketahui si anak itu dari pada kehidupan perempuan-perempuan itu, menimbulkan kedurhakaan dalam hatinya kepada kata "radèn ayu", kepada adat yang telah berzaman-zaman dijunjung-junjung bangsanya itu: "Anak-anak perempuan wajib kawin, wajib menjadi milik seorang laki-laki dengan tiada boléh bertanyakan, apa, siapa dan bagaimana 'si laki-laki itu!"

Beberapa lama kemudian dari pada itu si anak perempuan tadi telah ber'umur dua belas setengah tahun dan waktupun datanglah, ia akan meninggalkan kehidupan anak-anak yang selalu manja itu; bangku sekolah, bangku yang sangat disukainya haruslah ditinggalkannya dan iapun harus bercerai dengan sahabat kenalannya bangsa Eropa, sungguhpun ia suka amat 'bermain-main dan bercampur gaul dengan meréka itu. 'umurnya telah cukuplah akan tinggal di rumah, akan menyerahkan dirinya kepada sekalian adat-adat tanah airnya; adat-adat yang menyuruh anak-anak gadis tinggal di rumah, menyuruh hidup berchalwat yang amat sangat dalam dunia yang sunyi sampai datang seorang laki-laki, yang dijadikan Allah untuk tiap-tiap anak gadis menagihnya akan membawanya kerumahnya.

Apakah yang tidak ada pada kepala si anak itu dan tidak timbul dalam hatinya, tatkala ia kesudahan sekali menempuh jalan dari sekolah pergi kerumah. Matanya yang hitam itu diliputi oléh air mata, dadanya yang ramping menjadi kembang kempis dengan hébatnya. Bibirnya yang kecil itu bergerak-gerak akan menahani sedan-sedannya. Ia tahu betul bahwa segala sesuatu yang dicintainya telah tertutup baginya, sebagai pintu sekolah. Perceraian dengan guru yang menyayanginya, yang berkata manis dan merdu padanya, waktu ia akan berangkat itu, perceraian dengan kawan-kawannya, yang berjabat tangan dengan dia dengan mencucurkan air mata, dan perceraian dengan tempat duduknya, tempat yang telah banyak memberi kesukaan kepadanya, semuanya mendukakan dia tiada berhingga; tetapi kedukaan itu tiadalah sebesar kesedihan hatinya karena hendak berhenti belajar. Ia sangat suka dan cinta akan belajar dan ia tahu, bahasa lain dari pada pelajaran disekolah rendah tiada tepermanai banyaknya lagi yang akan diketahui dan dipelajari orang. Ia agak loba akan kehormatan, tentang "kepandaian", ia tidak suka tertinggal di belakang kawan-kawannya bangsa Eropa, yang berangkat ke Eropa itu dan tidak mau tercécér pada kakak-kakaknya, yang memasuki sekolah menengah (H. B. S.).

Disembahnya bapanya, meminta, supaya ia dikirim ke Semarang bersama-sama dengan anak laki-laki memasuki sekolah menengah dan ia berjanji akan belajar dengan serajin-rajinnya, dan orang tuanya tidak lah akan bersusah hati padanya. Ia berlutut dimuka bapanya, tangannya yang tersimpul terletak di atas lulut bapa' itu, dan matanya yang besar dan seperti mata bonéka itu terbukalah menentang si bapa' dengan penuh keinginan dan pengharapan, serta dengan hati berdebardebar dinantinya jawab si bapa' itu. Dengan kasih sayang, si bapa mengurut-urut kepala si anak yang hitam itu, dan rambut yang kusut pada dahi si anak dihindarkan oléh si bapa' dengan jarinya dari dahi itu, semuanya itu kejadian dengan lemah lembut, tetapi dari mulut si bapa' berbunyilah perkataan "tidak!" Ia tidak boléh belajar ke Semarang. Ia melompat, ia tahu, arti kata "tidak," yang keluar dari mulut bapaknya. Ia berlari kebiliknya, menyuruk kebawah tempat tidur akan menyembunyikan dirinya, supaya jangan kelihatan oléh orang lain. Ia mau sendiri saja, dengan kedukaan, yang menjadikan ia tersedu-sedu keras, sedu yang tidak dapat disabarkan. Pada suatu ketika guru bertanya, kalau-kalau ia suka pergi kenegeri Belanda bersama-sama dengan Letsy, anak guru itu, sahabatnya akan meianjutkan pengajaran. Dengan gemar dan mata yang bercahaya-cahaya didengarnya perkataan guru itu: "Bagaimana, maukah engkau?"

"Jangan tanyakan pada saya, saya suka? Tanyakan saja: "saya boléh?" jawab si anak itu waktu itu dengan suara yang lembut, yang keluar dari bibir yang gementar itu.

Tatkala ia dibawah tempat tidur itu, ia berpikir, yang guru itu seorang baik, dan guru itu bermaksud baik dengan dia.

Sebentar lagi si anak itu berpikir lain pula: Orang asing seperti dia, yang tidak tahu adat-adat Bumiputera, tidak tahulah akan kekejaman, bertanyakan pertanyaan yang sedemikian kepada si anak itu.

Menghadapkan makanan yang énak dan lazat, yang melaparkan si anak itu melihatnya, tetapi si anak tadi tidak dapat dan tidak boléh mengecap makanan itu.

Si anak itu anak perempuan yang gila. Ia tidak tahu, bahasa maksud orang tuanya yang baik itu, menyuruh ia pergi kesekolah, bukannya hendak membuat pikirannya menjadi huru-hara. Ia pergi kesekolah lain tidak melainkan akan belajar bahasa Belanda dan adat-adat Belanda, tentulah ia kemudian akan terhinaar dari kesengsaraan yang banyak itu.

Tetapi anak 'kecil dan bodoh itu bukanlah membuat dirinya sendiri sengsara, ia tidak dapat menolong, yang Allah memberinya hati yang demikian, hati itu memandang segala pengajaran yang bagus dikatakan bahasa Belanda padanya.

Anak yang malang! Dalam kalbunya pikiran bangsa Barat berarak dengan tempik soraknya, tetapi kaki tangannya terikat pada adat-adat bangsa Timur. Kaki dan tangannya itu masih lemah dan lembut, untuk memutus mematahkan ikatan dan belenggu, yang mengikatnya itu. Dan kemudian bila ia merasa dirinya kuat akan memecahkan belenggu dan ikatan itu dengan sekali renggut, waktu itulah...........tetapi janganlah kita terlampau hendak lekas, karena hal itu belumlah kejadian.

Pintu sekolah dibelakangnya telah tertutup dan rumah orang tuanya suka dan riang menerima dia.........Rumah itu besar, pekarangannya luas sekali, tetapi dinding yang mengelilingi pekarangan itu tinggi dan tebal. Tempat yang empat segi dan tertutup itulah yang akan datang menjadi dunia dan alamnya.

Bagaimana 'sekalipun luas dan bagus serta penuh kesenangan sebuah sangkar, maka ia tinggal SANGKAR juga pada pemandangan burung yang dikurung dalamnya!

Telah lalu! hari mudanya yang manja itu telah lalu! sekalian keriangan yang dikecapnya pada masa kecilnya, telah lalu. Tetapi dirasanya dirinya masih anak-anak, sebenarnyapun ia masih anak-anak; tetapi adat negerin ya membilang dia dengan segera masuk bilangan seorang yang telah sampai 'umur. Padanya tidak ada sérokan yang lébar yang tidak dapat dilompatinya, dan tidak ada pohon tinggi yang tidak dipanjatnya dan iapun tidak pernah berjalan, melainkan selalu melompat-lompat sebagai anak kuda yang man ja ditengah padang; sekarang ia harus jadi pendiam dan sopan seperti layaknya pada anak-anak gadis orang bangsawan tinggi.

SEKOLAH RENDAH DI JEPARA.

Pada mata bangsa Jawa, anak gadis dinamakan sebuah permata dari 'segala gadis-gadis, bila ia pendiam dan tidak ber­gerak seperti bonéka, berkata ketika perlu saja dengan suara yang halus, sehingga semutpun tidak dapat mendengar, berjalan haruslah selangkah dua sebagai siput, tertawa jangan kedengaran dan bibirpun selalu tertutup, tidak senonoh lakunya bila giginya kelihatan sedang tertawa, jika kelihatan maka dikatakan rupanya seperti "luak" atau musang.

Ni, yaitu si anak tadi, setiap waktu melanggar adat sopan santun itu.

Hidup yang sunyi dan yang sama saja berkepanjangan hari itu mulailah. Dari sehari kesehari ia harus membuat pekerjaan yang tidak bertukar-tukar dalam lingkungan yang tidak berganti-ganti, serta bergaul dengan orang-orang yang selalu dilihat juga.

Dalam hidup yang sedemikian yang dapat membesarkan hatinya hanyalah kedatangan sahabatnya Letsy. Keriangan besar baginya, jika Letsy ada padanya, ia kembali menjadi seorang anak yang manja dan lupalah ia akan penjaranya, yaitu penjara yang akan membalas kelupaannya itu dengan kesedihan yang bertambah lebih lagi, bila Letsy pulang kerumahnya.

Keriangan itupun tidak lama, kemudian lenyaplah dari hidupnya yang sunyi itu, karena Letsy, sahabatnya itu, berangkat kenegeri sebelah utara yang jauh itu. jadi tidak adalah sa­habatnya lagi. Akan persahabatannya itu tidaklah putus, surat dapat juga memperhubungkan meréka itu, sungguhpun meréka itu berjauhan. Tetapi hidupnya karena itu makin bertambah-tambah sunyi dan tidak bercahaya...........

Dengan keinginan yang amat sangat Ni melihat kepada adik-adiknya perempuan, bila meréka itu lengkap dengan batu dan kitabnya, keluar dari rumah akan pergi kegudang 'ilmu hendak mengumpulkan pengetahuan disitu.

Ada beberapa lamanya ia sendiri memajukan pengajarannya dengan kitab-kitab; tetapi kemudian ia ma'lum, bahasa belajar dengan tiada guru, pekerjaan yang sia-sia adanya; maka disimpannyalah kitab-kitabnya dengan keluh yang amat sangat.

jikalau sekiranya ban tal dan guling tahu bertutur, pastilah ia akan dapat berceritera banyak; dan tentu ia akan menceriterakan kesengsaraan seorang anak kecil, yang dari semalam kesemalam mencucurkan air mata yang amat sedih!

Si anak itu tidak dapat menyabarkan dirinya! Dalam kepalanya yang gila dan hatinya yang rawan itu timbul silih berganti dengan tiada berhenti-hentinya beratus-ratus pikiran yang huru-hara. Ia merasa dirinya di tempat yang sunyi senyap, sungguhpun ia dikelilingi beberapa orang yang selalu hari bersama-sama diam dan hidup dengan dia. Betul ia bersaudara dengan meréka itu, dan setiap hari bersama-sama dengan dia, tetapi perasaannya dan pendapatannya berlainan sekali dengan perasaan dan pendapatan meréka itu dan rupanya keadaan itu akan tinggal demikian.'

Ia ada mempunyai seorang kakak perempuan, yang sama-sama dalam penjara itu dengan dia. Benar ia sayang pada kakaknya itu, tetapi tali persahabatan yang memperhubungkan si kakak dan si adik itu, tiadalah berapa teguhnya, karena perasaan dan buah pikiran kedua saudara itu berbéda amat sangat. Si kakak itu pendiam, penyabar, tenang dan suka sendiri-sendiri saja. Tetapi si adik, seorang anak yang semata-mata berhati manja dan riang. Buah pikiran, yang terdapat pada si adik semuanya pikiran yang salah pada pemandangan si kakak, yang suka dan keras pada adat-adat yang lama.

Telah kerap kali si adik itu datang kepada si kakak dengan mata yang bercahaya-cahaya dan berhati yang besar menceriterakan pendapatannya dan meminta pertimbangan dalam beberapa hal. Kalau si adik telah habis berceritera, betul si kakak tiada melarang si adik itu, tetapi si kakak selalu menjawab dengan tiada peduli: "Turutlah kehendakmu, aku ORANG Jawa!" Hati si Ni menjadi kecut, sebagai diraba oléh tangan yang kasar dan seluruh tubuhnya menjadi gementar. Adik-adiknya yang perempuanpun telah menjauhkan diri dari padanya. Kakaknya yang tua tidak suka melihatkan adikadiknya 'yang kecil kerap bercampur gaul dengan si Ni, ka­rena si Ni mempunyai buah pikiran yang gila-gila. Si kakak itu keras sekali. Adik-adiknya yang kecil amat takut kepadanya.

Hal itu merusakkan hati si Ni sekali, tetapi ibunya lebih lagi dari itu mendukacitakan hatinya.

Hati ibunya itu lebih-lebih lagi tertutup kepada si Ni, ka­rena pikiran si Ni berlainan sekali dengan pikiran ibunya itu.

Ni, anak yang malang benar, hati nuraninya mencintai kasih sayang, tetapi seorangpun tidak hendak memberikan kasihnya kepadanya, pada hal ia sendiri selalu menghamburkan kasih mesra kepada orang lain.

Itu sebenarnya bukan salah orang, mengapa si Ni selalu asing dan lain, ya, berlain benar dengan orang-orang lain?

Iapun sebenarnya telah kerap kali mencoba mengubah di­rinya, supaya ia menjadi serupa saudaranya yang lain-lain juga, tetapi tiap-tiap kali bila ia akan hampir berubah itu, 59

Maka tiba-tiba datanglah pikiran dalam hatinya yang dibangunkan oléh pengetahuan bahasa* Belandanya melarang dia memperturutkan yang baru itu, seolah-olah 'ia tidak setia pada pengetahuannya. Sesudah itu ia biasanya menyesal, lalu me­megang pikirannya yang lama itu lebih keras lagi dari sampai pada waktu itu.

Dalam pada itu hidupnyapun tiada terlampau sunyi senyap benar. Karena dalam antara keluarganya adalah juga dua orang yang menyayanginya, sebagai ia menyayangi meréka itu, yang mencintainya seperti yang dicita-citanya sendiri, yaitu dengan kesayangan dan percintaan yang sungguh dan suci.

Kedua orang itulah pula yang dicintainya dengan percinta­ an yang sampai ke dalam hati nuraninya. Kedua orang itu ialah bapanya dan seorang saudaranya yang laki-laki yaitu kakaknya yang ketiga, yakni yang bungsu dari kakaknya yang bertiga itu. Betul bapa'nya tidak dapat memenuhi kehendaknya yang sangat dicintainya itu, yaitu: memberi dia kebébasan! Betul bapanya itu tidak cakap mencukupi .keinginannya akan kepandaian; tetapi bapaknya itu sungguh baik kepadanya dan menyayangi dia, si gadis gila itu dengan sehabis-habis kasihnya. Bahwa bapanya mencintainya itu diketahui dan dirasai oléh si anak. Bapa itu pandai benar memandang dia dengan pemandangan kesayangan dan setiawan. jarinya yang lemah itu sungguh pandai meraba pipi anaknya itu dengan lembutnya serta menyelisik rambutnya, rambut yang hitam dan pand yang itu, serta tangannya yang kuat itupun pandai nian memeluk léhér dan bahu si anak itu.

Si adik itu tahu, bahwa kakaknya tadi sayang padanya, meskipun si kakak tidak pernah menampakkan sayangnya itu dengan tutur kata yang manis dan tidak sekali jua membujuk menghiburkan dia! Tetapi hiraunya akan adiknya itu menyatakan kepada si adik, bahwa kakaknya itu menaruh kasih sayang kepadanya. Kakaknya itu tidak mentertawakan dia bila ia mengeluarkan buah pikirannya padanya, melainkan selalu didengarkannya dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah ia menggementarkan si adik itu dengan perkataan: "Turutlah kehendakmu, akan aku tinggal orang Jawa." Sungguhpun ia tidak mengatakan, yang ia menyetujui cita-cita adiknya itu, tetapi si adik tahu, bahwa kakaknya itu dalam hatinya membenarkan pikirannya. Si adik tahu, menilik kitab-kitab yang diunjukkan si kakak ketangannya. Ni, merasa dirinya kaya beroléh kasih sayang kedua orang itu dan karena pikirannya disetujui pikiran kakaknya itu.

Bapanya tidak selalu dekatnya, karena bapa' itu banyak kerjanya, ketempat ia bekerja itu tidak boléh si Ni datang, karena ia tidak boléh keluar dari dalam biliknya yang tertutup itu dan kakaknya yang dicmtainya itu hanya beberapa kali boléh datang kerumah, karena ia bersekolah di Semarang. yang tetap tinggal di rumah ialah kakaknya yang sulung, sebab sekolahnya telah tammat;,ia telah mendapat pangkat dinegerinya dan diam bersama-sama dengan orang tuanya. Kediamannya ber­sama-sama dengan orang tuanya itu tiadalah meriangkan hati si Ni melainkan kebalikannya yakni mendukacitakannya.

Dahulu sebelum kakaknya yang sulung itu datang, Ni telah banyak penanggungannya, sebab tidak diindahkan oléh hampir segala orang serumahnya, sebab ia dipenjarakan itu, sebab melihatkan adat-adat kuno, yang tidak dapat disetujuinya itu. Kini datang pula usikan dan gangguan kakaknya yang sulung itu menambahi penanggungan yang menyakiti hatinya itu.

Ni tidak suka dan tidak dapat menurut segala kehendak kakak­nya itu. Selalu dikatakan kepadanya: "yang lebih muda harus menurut perintah yang lebih tua; lebih-lebih anak-anak perempuan wajib menurut kehendak kakak-kakaknya yang laki-laki."

Tetapi Ni, seorang anak yang memakai pikiran sendiri, ia tidak mengelti mengapa hal itu wajib demikian. Ni berkata: "Bu­kan salah saya, yang sa ya kemudian dilahirkan dari kakakkakak saya itu." Sepanjang pikirannya bodoh sekali, yang ia karena itu wajib menurut kehendak kakak-kakaknya itu. Sepanjang pikirannya, tidak seorangpun mesti diturutnya, lain dan pada pikiran dan hatinya sendiri.

Dan ia tiada akan membenarkan perkataan kakaknya itu, kalau ia tak yakin, bahwa si kakak berkata benar dan bermaksud baik. Adapun kakaknya yang sulung itu seorang anak yang telah rusak, anak kesayangan ibunya. Tiap-tiap orang berlumba-lumba memujinya dan memperlakukan kehendaknya, karena orang malu akan pangkat bapanya yang tinggi itu. Sebab itu sepanjang pikirannya telah adatnya tiap-tiap orang, yang dipandangnya rendah dari padanya, wajib menu­rut kehendaknya.

Mula-mula ia héran, kemudian jadi marah ia, tatkala dilihatnya adiknya perempuan, yang setengah lusin tahun lebih muda dari padanya itu, berani menyanggah "kemauannya". Ia berjanji kepada dirinya, bahwa anak yang tidak beradat itu harus, ya, mesti ditidaklukkannya. Pada pemandangannya sekalian yang diperbuat si Ni salah. Bila Ni bersalah sedikit saja dimarahinyalah dengan keras. Hampir setiap hari si kakak dan si adik berselisih, si kakak dengan muka asam dan tutur kata yang kasar, menyakiti hati si adik sampai berlumur darah, dan si adik dengan bibir yang bergerak-gerak dan suara yang gementar membéla dengan perkasa hak miliknya, yang hendak diinjak oléh si kakak itu. Si adik tegak sendiri melawan kelaliman kakaknya itu, kakaknya yang nanti akan melindunginya, bila celaka datang atasnya, yakni bila orang tuanya tidak ada lagi, sebelum ia dibawa kerumahnya oléh seorang laki-laki yang dijadikan Allah untuknya!!!

Tetapi dekat bapanya tentulah si kakak tiada berani menggoda si adik tadi, karena bapa' sekali-kali tidakkan mau mengizinkan hal yang demikian, dan lagi si kakak itu tahu, yang si Ni tidak mau mengadukan dia, sebab Ni bukannya si pengumpat. Akan orang-orang lain yang serumah dengan dia dan melihat perselisihan itu setiap hari, membiarkan saja de­ngan berdiam diri, meskipun meréka itu tahu, yang 'si adik menurut jalan yang benar. Si adik perempuan itu menjadi kasar dengan tiada berhingga, karena si kakak selalu menerbitkan kekerasan itu padanya. Kekasaran si adik amat sangat, sehingga ia berani mengatakan "tidak", bila si kakak menyebutkan "ia" biarpun ia masih muda, dan si kakak jauh lebih tua. Seorang anak perempuan tidak boléh mempunyai hak yang akan merugikan seorang laki-laki dalam sebarang perkara. Hak seorang anak perempuan hanyalah barang sesuatu yang diizinkan baginya oléh kakak laki-lakinya yang tidak loba. Beberapa tahun kemudian, ketika Ni teringat akan perselisihan itu, mengertilah ia, mengapa laki-laki sangat loba. Mulai dari waktu kecilnya, si laki-laki telah diajar menjadi loba, mula-mula sekali oléh ibunya. Sejak kecilnya diajar ia memandang anak perempuan sebagai seorang machluk yang rendah kedudukannya dari padanya. Bukankah selalu didengar oléh si Ni, ibunya, atau saudara perempuan ibunya atau sahabat kenalannya peirempuan-perempuan mengatakan de­ngan suara yang menghinakan: "seorang gadis, hanya seorang anak perempuan saja?" jadi perempuan sendiri yang mengajar si laki-laki menghinakan perempuan. Darah Ni pun mendidih, bila ia mendengar seorang perempuan memperbincangkan seorang gadis dengan suara yang merendah dan menghinakan itu.

"Perempuan-perempuan tidak ada harganya."

"Perempuan-perempuan dijadikan untuk laki-laki, akan kesukaan meréka itu; si laki-laki boléh memperbuat perem­puan-perempuan menurut kesukaannya."

Bila Ni mendengar itu, matanya berapi-api, dengan marah ditinjukannya tangannya dan dikatupkannya bibirnya akan menahani kemarahannya yang tidak berhingga-hingga itu. "Sekali-kali bukan begitu," teriaknya dalam hatinya. "Tidak, tidak, kamipun manusia juga sebagai laki-laki itu. Berilah aku menunjukkan, bahwa kamipun orang juga. Bukalah belengguku! dan izinkan saya, tentu saya tunjukkan, yang sayapun seorang manusia, manusia yang sama dengan seorang laki-laki." lapun berpusing-pusing menarik dan merenggutkan.rantai itu amat sangat kuatnya, rantai itu mengikat kaki tangannya dengan seerat-eratnya. Rantai itu tidak dapat diputuskannya melainkan kaki dan tangannya yang luka karena itu!

Dapatkah ia menyabarkan dirinya? Dalam kepalanya yang muda bercabul beratus-ratus pikiran dengan tidak berhenti-hentinya. Dalam hatinya telah masaklah pikiran yang hendak melawan keadaan yang kuno-kuno itu; ia suka, ia wajib mengikut jalan yang baru. Bagaimana akan mencari jalan itu, belumlah diketahuinya; hal itu masih gelap, dan kusut dalam otaknya yang bodoh itu, tetapi ia tahu, yang ia mau menempuh jalan itu.

Itulah nasib anak yang lekas berakal! Anak-anak yang berumui sebagai dia itu, biasanya tidaklain dalam kenang-kenangan, melainkan bermain-main dan bermanja-manja, tetapi si anak ini selalu memikirkan hal yang pelik-pelik dalam kehidupanitu, yang selalu menyakitkan hatinya dan mendukacilaKan dia.

Hal itu tidak boleh tidak tentu terjadi begitu; ia tidak pekak dan tidak buta, dan ia hidup dalam dunia yang pincang dan timpang, yaitu didunia bangsa Bumiputera, yang tidak menaruh kasihan kepada anak-anak muda dan tidak mempuinyai perasaan yang halus. Dengan mendadak mata yang muda dan halus itu telah terbuka melihat kehidupan manusia yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang penuh berisi kekasaran, kekotoran dan kebengisan yang ganas. Dari orang tuanya sendiri tidakpernah ia mendengarkan perkataan yang kasar, yang menghuru-harakan kalbunya yang suci dan melukakan hatinia yang berperasaan halus itu; tetapi ia hidup tidak hanya bersama-sama dengan orang tuanya; ia hidup didunia manusia; dunia yang ta menaruh kasih kepada anak-anak muda dan perasaannya yang halus itu.

O, maut! mengapakah engkau dinamakan orang musuh yang amat ditakuti? Bukankah engkau yang meiepaskan ma­nusia dan hidup yang bengis itu? Ni tentu akan memohonkan terima kasih padakau dan dengan sukacita mengikutmu!

Tidak seorang jua, yang menunjukkan kepada Ni, kemdahan dan kemuliaan hidup diluar kejahatan dan kekejiannya itu. Adat-adat Bumiputera mengharuskan, supaya anak dan orang tua jangan «terlalu beramah-ramahan. Mereka itu boléh dan dapat 'juga berjinak-jinakan dan bera­mah-ramahan, tetapi berjinak-jinakan yang sungguh-sungguh seperti pada kebanyakan bangsa Eropa antara anak dan orang tuanya, tidak boléh jadi. Ni mencinta dan menyayangi bapanya dan iapun tiadalah akan membuat barang sesuatunya dengan tiada sepengetahuan orang tuanya; sungguhpun tidak dapatlah ia membukakan sekalian yang tersembunyi dalam hati nuraninya kepada meréka itu. Keras dan kasar berdiri adat-adat kuno bangsa Jawa itu menceraikan si bapa dari si anak.

Ni melarikan dirinya sedapat-dapatnya dari pada meréka yang merendahkan dia dari pada kelakuan meréka itu. Karena adat lembaga negerinya tidak mengadakan dia mencari penghiburan hatinya pada pangkuan orang tuanya, terpaksalah ia mencari penghiburan «hatinya yang duka nestapa itu pada sahabat-sahabatnya yang tidak pandai berkata-kata, yaitu: "kitab-kitab." Dahulu juga ia suka membaca-baca, tetapi sekarang kesukaan itu menjadi keasyikan.

Kalau sekiranya ia tidak ada kerja, atau kerja yang disuruh buat kepadanya telah sudah, maka dengan segera ia mencapai sebuah kitab atau sehelai surat chabar. Semua dibacanya, apa saja yang terlihat oléh matanya, dibacanya, masak mentah kabar-kabar itu seolah-olah ditelannya kesemuanya. Kadangkadang ada pula terjadi, yang ia membuangkan sebuah kitab dari padanya karena bencinya. Bukankah ia membaca itu hendak melupakan barang yang hidup, barang-barang yang seperti itu tidak perlu dicarinya dalam kitab-kitab, sebab didalam hidup yang sebenar-benamja sudah sampai banyak benda keji-keji, dan yang men jemukan orang? Oléh karena hal itulah ia melarikan dirinya dari dunia yang keji itu, dan memasuki dunia kitab-kitab, dunia yang didirikan oléh akal dan budi manusia. Ada kitab-kitab yang bagus, yang tiada terkatakan lazatnya. Kebagusan dan kelazatan itulah yang menghilangkan kesusahan dan kemelaratan hidupnya. Budi pekerti yang baik, pikiran yang tinggi orang mulia dan budiman dalam kitab-kitab itu menggembirakan hatinya dan menglipurkan laranya. Ia hidup bersama-sama dengan sekalian apapun yang dibacanya dan iapun tiada kekurangan kitab-kitab yang akan dibacanya. Ia hanya perlu menjulurkan tangannya dan men­capai kitab-kitab dan surat chabar dalam teromol pembacaan yang tiap-tiap pekan selalu membawa perbekalan yang barubaru baginya. Bapanya yang selalu berusaha akan menyukakan hatinya dan yang bersukacita sendiri melihat anaknya su­ka baca membaca itu merusakkan dia dengan kitab-kitab yang dihadiahkannya kepadanya. Ia tidak mengerti semua, apa yang dibacanya, tetapi itu tidak menghilangkan gemar hatinya. Bila ia pada pertama kali tidak mengerti isi sebuah kitab, maka pada kedua kali mengertilah ia sedikit-sedikit, dan pada ketiga atau keempat kali membaca kitab itu mengertilah ia semuanya.

Tiap-tiap kata yang tidak diketahuinya, dituliskannya dalam kitab peringatannya, supaya nanti bila kakak kesayangannya ada di rumah, boléh ia bertanyakan arti kata-kata itu kepadanya. Si kakak itu setia sekali kepadanya dan dengan segala suka hati menolong adiknya.

O, betapakah besar hatinya, bila kemudian hari diketahuinya, yang membaca kitab-kitab itu bukan saja memberi ni'mat yang lazat citarasanya padanya, melainkan memberinya pengajaran yang tidak berhingga juga.

O, bila ia tidak mempunyai bapanya yang dicintainya itu dan kakak yang setia, dan kitab-kitab yang indah-indah, tentulah ia akan berhati duka setiap hari, sepanjang waktu. Ia ten­tulah akan merasa dalam kesengsaraan, yang merusakkan hidupnya yang muda remaja dan nyawanya yang lemah itu de­ngan kesedihan yang amat sangat. Bapa' dan kakaknya itulah yang memuaskan kelaparan hatinya kepada kecintaan dan ki­tab-kitab itulah yang memberi makanan untuk pikirannya yang lapar, pikiran yang telah dibangunkan olëh bahasa Belanda!

Kemudian ibunya melahirkan seorang anak laki-laki. Kejadian itulah yang menarik dia kembali dari jalan yang salah, membawanya kejalan yang baik, jalan yang telah lama tidak diturutnya lagi. Ia hampir-hampir menjadi anak yang durhaka kepada ibunya. Dulu hatinya sudah hampir tertutup kepada bundanya itu. Sekarang adiknya yang baru lahir itu membukakan pintu hatinya itu kembali. Adiknya yang kecil itu mengajar dia apa yang sebenarnya Ibu itu dan apakah kewajiban si anak pada ibunya.

Keliling pelupuk mata ibunya berwarna hijau.dan rupanya seperti orang tidak kuat dan lelah; adiknya yang kecil itu yang menyebabkan sekalian itu. Karena, adiknya itu selalu mengusik bunda dan yang semalam-malaman berteriak-teriak, sehingga ibu tidak dapat tidur. Sungguhpun adik sangat menyusahkannya, tetapi bundapun ta" pernahlah memasamkan mukanya barang sedikitpun karena usikan itu. Apabila adik berteriak dan ,menangis menjerit-jerit, maka dengan sekediyap mata iapun telah ada dekat adik dan dengan lemah lembut diambilnya adik, dipangkunya, dan sebelum adik tertidur nyenyak dipangkuannya, belumlah dilepaskannya dari tangannya.

Bukankah Ni seorang anak yang kecil dan tidak berdaya seper­ti adiknya itu dulu?

Tidakkah bundanya tatkala dulu bersusah payah pula karenanya? Awan yang meliputi hati Nipun hilang dan kalbunya gembira lagi akan mencinta menyayangi perempuan, yang me­lahirkan dia kedunia ini! Pada tahun yang pertama adikpun séhat dan walafiat dan kemudian dari pada itu ia menjadi sakit-sakit, dan tiga tahun lamanya ia tidak pernah senang, yang sebenar-benarnya seolah-olah ia berperang yang hébat hendak mempertahankan nyawanya.

Melihat adik-adiknya sakit itu, Ni belajar dengan sebaik-baiknya arti anak bagi si bunda.

Dengan cara demikian tahulah Ni, bahasa ia kurang pengetahuan tentang hal itu, sekaranglah ia mengenangkan dirinya sendiri dan barulah ia tahu, bahwa sampai waktu itu ia hanya selalu memikirkan kesusahan sendiri, dan tidak pernah memikirkan kesengsaraan orang lain.

Waktu itulah baharu ia insaf akan kesalahannya sendiri. Iapun dulu seperti adiknya itu pula, ia tidak akan datang kedunia ini kalau ia tidak ada berbunda. Lalu teringat pula oléhnya kelakuannya dengan kitab-kitab tadi, yang menjauhkan dia dari ibunya.

Ibunya itu tentulah banyak penanggungan waktu itu dan Darangkali sekarangpun masih ada penanggungannya itu. Nipun tentu tidak dapat menolong, yang mula-mulanya berselisih pikiran dengan bundanya, tetapi sungguhpun begitu, iapun sangat menyesali dirinya dulu berkelakuan yang sedemikian.

Adiknya yang kecil itu mengajar Ni, menyebabkan dia insaf akan dirinya dan mengajar dia berhati sabar serta mengucap terima kasih, lagi mengajar dia memberi orang lain dengan tiada mengharap pemberian orang yang lain itu kembali.

Empat tahun lamanya waktu telah lalu; orang yang tiada dalam pikirannya tentulah menyangka, bahwa waktu itu berjalan senang dan sentosa saja, tetapi meréka yang tajam penglihatannya tentu mema'lumi, bahwa waktu itu bagi Ni waktu peperangan adanya, lahir dan batin. Dalam tiga tahun itu banyaklah yang dipelajarinya, yakni: memerintah diri sen­diri, berhati sabar dan tidak lebih dulu memikirkan untuk diri sendiri saja, tetapi berserah diri belumlah dipelajarinyadan iapun tidak sanggup mempelajari itu. Dalam kepalanya selalu bercabul dan berkacau pikiran yang bimbang dan gundah gulana disertai oléh penglihatan yang berkelilingnia dan yang terjadi pada tempat yang lain-lain.

Sekalian itu menyedihkan hatinya dan menjadikan darahnya mendidih. Suara yang datang dari tanah Eropa yang jauh itu yang tertera dalam kitab-kitab, surat-surat bulanan dan surat-surat kabar serta warkah-warkah dari sahabat-sahabatnya bangsa Belanda menambahi bimbang pikirannya itu dan suara itu masuk ke dalam hati nubarinya.

Dalam empat tahun itu hanya beberapa kali ia keluar dari rumah orang tuanya.

Waktu bulan puasa jikalau orang tua pergi kekuburan maka saudara-saudaranya perempuan dan Nipun boléh pergi bersama-sama dan pada .suatu hari orang tuanya membawa saudaranya perempuan yang sulung dan Ni sendiri pergi kepada bapak mudanya yang tinggal dinegeri lain.

Setahun lamanya ia bersama-sama dengan saudara-saudaranya perempuan mendapat pengajaran dalam jahit-menjahit dari seorang perempuan Belanda, sejam lamanya pada tia-ptiap petang. untuk Ni jam itu suatu saat yang memberi kesenangan, karena ketika itu ia dapat bercakap-cakap bahasa Belanda, bahasa yang dicintainya itu.

Sementara itu kakaknya yang sulung dipindahkan ketempat lain. Kepindahan itu membesarkan hati Ni. yang sebenarnya Ni malu mengatakan yang ia berbesar hati karena itu, sebab yang pindah itu kakaknya, betul si kakak itu tidak sayang kepadanya.

Waktu dan perantaraan telah berbuat pekerjaan yang ajaib. Kedua hal itu menghapuskan dendam chasumat dari hati Ni. Ia telah sayang kepada kakaknya itu kembali dan menaruh kasihan pada kakaknya yang mulutnya manis dan berkata merdu itu. Betapa suka hati Ni, tatkala ia melihat ka­kaknya itu lama kelamaan insaf akan kesalahannya itu.

Sungguhpun hal itu tidak dikabakannya kepada Ni, tetapi laku dan perangainya menyatakan yang ia menyesali dirinya ber­buat yang tidak adil pada adiknya. Dengan air mata yang bercucuran Ni mengucapkan terima kasih dan syukur pada Allah, sebab kakaknya sekarang menyayanginya. Dahulu Ni dibenci dan digoda oléh ,kakaknya itu, sekarang Ni menjadi kesayangannya. Orang lain-lain, biarpun isterinya sekalipun, tidak dapat mengambil hati si kakak itu, tetapi Ni selalu dapat mengambil hatinya.

Telah setengah tahun datang adiknya, Bemi mengawani Ni dalam penjara itu. Bemi beruntung, karena ketika Ni ber'umur sebagai Bemi, ia telah lama dikurungkan di belakang dinding yang tebal dan tinggi itu, tetapi Bemi waktu ber'umur sedemikian masih bébas melompat kian kemari dan boléh berjalan-jalan membuat barang yang lain-lain yang dahulu tidak boléh dibuat Ni. Bemi telah ber'umur empat belas sete­ngah tahun, baru harus tinggal di rumah. Déwasa itu Ni telah ber'umur enam belas tahun, saudaranya perempuan yang tertua telah dipersuamikan. Perkawinan itu mendatangkan perubahan dalam hidup Ni. Ia mengajar kenal adik-adiknya yang sebelum dari waktu itu disangkakannya seperti orang asing saja. Dengan adik-adiknya itu ia hidup berjinakjinakan. Saudaranya perempuan yang tertua itu tidak ada lagi yang akan memperceraikan meréka itu. Ni menjadi saudara yang tertua dalam rumah, tetapi ia tidak suka dituakan seperti kedua kakaknya laki-laki dan pe,rempuan itu...ia mau disayangi, tidak ditakuti. Kebébasan dan kesamaan dimintanya pada dirinya sendiri. Tiadakah ia memberi kebébasan dan kesamaan kepada orang yang lain-lain? Pergaulan dengan adik-adiknya haruslah bébas dan tidak dipaksa, dibuangnya segala barang sesuatu yang menyangkuti dan menahani kebébasan dan kesamaan itu.

Dengan adik-adiknya, Bemi dan Wi, yang sudah wajib pula tinggal di rumah, ia mendapat bilik saudaranya yang tua itu......... Dibilik itu datang tiga orang machluk yang mula-mulanya tiada berkenalan satu dengan yang lain, disitulah meréka itu sama-sama bertemu dan berkumpul menjadi satu. Serta di tempat itulah permulaan ceritera anak tiga bersaudara itu.

Augustus 1900 (II)[sunting]

Héran benar, kekasih kami yang jauh dari kami, apalah sebabnya maka tidak dapat kami mimpikan, sedang ia selalu dalam kenang-kenangan kami dan selalu kami perbincangkan!

Tetapi adalah pada suatu malam anak nyonya yang tertua ini bermimpikan nyonya. Tuan kedua rasanya datang kembali ke Jepara dan waktu itu kami pergilah menyongsong tuan dan nyonya sampai ke Semarang. Pertemuan kami dengan nyonya itoé sangat merawankan hati kami, dan dengan tiada menghamburkan kata sepatah juapun. Kami masing-masing berganti-ganti nyonya peluk dengan peluk yang sampai kehati nurani dan nyonya pegang kami dengan teguh seperti kami tidak akan dilepaskan lagi rasanya. Dan dalam pangkuan nyonya itu berderailah air mata kami, karena merasa beruntung yang tidak dapat dihinggakan.

Tatkala anak nyonya tersadar dari pada tidurnya, maka bantalnya dilihatnya telah basahlah oléh air matanya. Sehari-harian itu ia berhati sayu, karena mengenangkan perjumpaan di­ atas ini, hanyalah semata-mata suatu mimpi saja.

Kami takut, kami takut benar nyonya dan tuan tidak akan berjumpa lagi dengan kami, anak-anak nyonya, bila kelak nyonya telah meninggalkan kami. Sekarang kami rasa sukacita kami menjadi susut. Makin lama makin kami ketahui, bahwa kami sekarang tidaklah seperti dahulu lagi. Pengetahuan dan keinsafan itulah menjadi suatu benda yang mendukakan hati kami.

0, hidup! apakah yang telah engkau perbuat atas anak-anak perempuan mama Mies, dan apakah jadinya anak-anak gadis itu sekarang? Kemanakah perginya kegembiraan kami yang amat besar itu? Karena kegembiraan yang tidak dapat dinilai itulah maka kami dapat sampai keseberang lautan kesusahan, dan kegembiraan itu wajib kami taruh senantiasa untuk mengarungi rimba raya dalam dunia penghidupan yang akan kami tempuh tentulah dengan susah dan sukar. Kemanakah perginya kerajinan dan kegirangan kami yang menghiburkan hati selalu mau bekerja, dan yang ba­nyak menghasilkan berbagai-bagai percintaan? Kemanakah perginya si penglipur hati yang menghilangkan dan melupakan jemu dan bosan yang tertera dalam kitab kamus?

Tiap-tiapnya, yang selama mi kami indahkan dan menggirangkan hati kami, semuanya sekarang telah meninggalkan kami. Wahai, ma' Mies, dapatkah tuan memikirkan, bahasa tidak adalah orang yang lebih celaka dari pada orang yang tidak tentu tujuan maksud hidupnya?

Niscaya akan menjadi orang sia-sialah kami, kalau tidak ada sesuatu apa-apa terjadi, yang menggembirakan hati kami dalam keadaan tidak berhawa nafsu dan tidak berdaya ini. Begitulah keadaan kami sekarang.

Segala kesukaan kami yang dahulu, telah terlupa terletak, bercendawan di tempat yang sunyi. Gambar-menggambar, musik, jahit-menjahit, masak-memasak, berkirim-kiriman surat, ya, sedangkan baca-membaca yang dahulu menjadi bagian hidup kamipun sekarang telah kami abaikan. Kami boléh dikatakan telah menjadi orang yang semalas-malasnya semasa ini. Wajib kami memaksa diri sendiri akan menghabiskan membaca suatu kitab kecil. Suatu paksalah rasanya bagi kami sekarang baca-membaca itu, sedang dahulunya itulah suatu kesukaan yang amat sangat bagi kami, lebih dari yang lain. O, ma', demikianlah kemunduran kami sekarang. Kemanakah perginya kemauan dan kekuatan kami dahulu itu? Sungguh tidak dapatlah diceriterakan bagaimana penanggungan kami ini, yang disebabkan oléh kelalaian dan kesia-siaan yang menyerang kami.

Kami seolah-olah tidak bekerja sedikit juga. Dan jikalau ada apa-apa yang perlu kami perbuat, maka kami kerjakanlah keperluan itu seperti mesin saja. Apakah kiranya yang ku­rang bagi kami? Sakit kamipun tidak. Boléh jadikah agaknya sekalian itu disebabkan oléh kesengsaraan yang telah kami tanggungkan dahulu? O! Kesedihan hati! Kesakitan itu sungguh kadang-kadang tidak dapat ditahani! Akan penolak bahaya itu wajiblah kami hendaknya menaruh barang sesua­tu, terutama ialah suatu pekerjaan tetap, yang menarik hati kami semata-mata, yakni pekerjaan yang tidak sempat membiarkan diri untuk memikirkan kesengsaraan, meskipun barang sekejap mata sekalipun! Itulah suatu upaya yang baik, yang akan dapat membangunkan pikiran kami yang telah tertidur itu, dan yang sanggup mengembalikan kemauan hati kami yang telah melayang itu. Dalam bekerja, disitulah tersembunyi upaya itu. Kenang-kenangan kepada beringin sangat-sangat akan mendapat kerja yang kasihi, itulah yang mendukakan hati kami benar. Kami sangat beriba hati, bila kami merasa yang badan sendiri berhati mau dab kuat akan bekerja, tetapi oléh karena untung malang, kemauan dan kesukaan itu tidak dapat dilangsungkan !

Sekalian kesusahan dan kesengsaraan itu membawa kami kepadang kelalaian dan kemalasan. Anak nyonya yang tertua héranlah akan dirinya sendiri melihatkan surat yang sepanjang ini dapat ditulisnya........., tetapi mengapa tidak......... karena surat ini ialah untuk ma' Mies yang kucintai akan mengabarkan kesengsaraan, jadi tidak héranlah yang kata-kata itu sebagai mengalir saja dari pénaku ini.

Kami tidak dapat dan tidak suka mempercayai, bahwa hidup kami akhirya akan seperti hidup yang banyak saja; tetapi kamipun tidak mau pula percaya dan sekali-kali tidak dapat memikirkan, yang mimpi kami yang bagus itu akan terjadi. Walaupun demikian makin dekat kami berdiri pada perasaan kejadian cita-cita kami itu, makin sangatlah kami mencintainya! Demikianlah pikiran kami. Ringkasnya, kami menyangka sekarang, bahwa seakan-akan hanya beberapa hari sajalah antara kami tergenggang dari pada hidup yang baru, yang kami ingini benar itu!

Sangat sedihlah hati kami memikirkan hal itu kembali. tidak maulah kami menceriterakan dia lagi disini, sungguhpun demikian kami berdiam diri, bukanlah pula artinya mau membiarkan seja penanggungan kami atau mengizinkannya. Oléh karena kami sekarang dengan pelajaran kami telah sampai sejauh itu berjalan, tidak maulah kami membuangkan apa yang telah tertaruh bagi kami, dan sejak dari dahulu, sekali-kali tiadalah kami berhajat hendak membuangkannya.

Baik tidakja perbuatan kami tidak tahulah kami, tetapi kami tidak dapat dan tidak suka menurut kehendak suara yang lain, lain dari pada suara hati kami sendiri. Sesuatu cita-cita kami yang besar sekali, yakni hendak mengasihi orang dan dalam hal itu mencoba, supaya mendapat kasih sayang orang, yang dapat kami harapkan akan mempertinggi pikiran kami. Bulan Juni yang lalu, ketika kami di rumah tuan Sythoff, bertanyalah tuan residén itu kepada anak nyonya yang sulung ini, kalau-kalau si anak itu telah tahu, bahasa Directeur van Onderwiys ada mencari seorang guru kepala perempuan untuk sebuah sekolah gadis, yang bakal didirikan. Sebelum anak nyonya ini menjawab, tuan residén memutar tanya itu kepada bapa: "Sudahkah tuan ceriterakan hal itu kepada anak-anak tuan, regén?" Dan setelah mendapat jawab, ia bertanya lagi kepada anak nyonya ini: "Sukakah engkau menjadi guru kepala sekolah itu?" Si anak tiada berkata apa-apa melainkan dibuangnya mukanya ketempat lain, supaya bapa dan residén yang duduk berhadapan dekat kami, tidak dapat melihat mata si anak, yang telah siap dengan segala gambar cita-cita yang tersembunyi dihatinya itu. Ia tiada berjanji akan mendiamkan kehendak dan cita-citanya itu, tetapi ia tidak tahu, bahwa bapanya tidak suka, yang si anak memperbincangkan hal itu dengan orang lain. Dalam segala hal harus nama bapa' dipeliharakan, dan percakapan yang tersebut di atas ini ialah sebagai suatu mimpi, yang menakuti dan mengerikan bapa.......

"Kami sedianya wajib menjadi anak laki-laki, dan kalau demikian boléhlah kami menjadi laki-laki yang kukuh," itulah perkataan yang acap kali kami dengar, sehingga jemulah telinga kami mendengarnya. jikalau benar hal itu dan ada bagi kami sifat-sifat yang boléh menjadikan kami laki-laki yang kukuh, apakah sebabnya maka kami sebagai keadaan kami sekarang ini, tidak boléh menjadi perempuan yang kukuh dan perkasa? Atau mestikah hendaknya orang menaruh otak, yang asing zat-zat yang menjadikannya, untuk cétakan lakilaki yang kukuh dan perkasa itu? Atau barangkali tidak bergunakah perempuan yang berani dan kukuh didunia ini?" Tetapi mémanglah sudah jadi nasib kami perempuan yang sedemikian; yakni kami perempuan Jawa ini harus terutama bersifat patuh, penurut dan mesti berserah diri saja. Kami sebenarnya boléh disamakan dengan tanah liat, yang dapat diperbagai-bagaikan orang bangunnya, menurut seperti kehendak laki-laki sahaja. Tetapi apakah gunanya kita memperbincangkan keadaan itu? Kalau demikian tidak adalah ubahnya seperti orang menyayangi kapal yang tenggelam, dan mengatakan apakah sebabnya maka kapal itu tiada ditinggalkan saja dipelabuhan? Karena kalau demikian tentulah ia tidak akan tenggelam. Dan lagi dengan salah-menyalahi dan membongkar segala kesalahan dan menyelidiki siapa yang bersalah, sekali-kali tidak dapatlah kita menolong, supaya kapal itu jangan tenggelam. Tetapi bila kita membanting tulang, bekerja keras memberi pertolongan dan memompa air pada tempat yang bocor, niscaya boléhlah kecelakaan itu tertolak; kalau tidak demikian dilakukan terbaiklah orang membiarkan dirinya mati lemas saja......................................................................

Pada setahun yang baru lalu ini saja perasaan hidup kami lebih banyak dari pada perasaan pada tahun-tahun yang lain, sama sekali dikumpulkan.

Adalah anak sulung nyonya ini menaruh sangka, yang bapa' berniat hendak mengatakan barang sesuatunya padaku, tetapi bapa' enggan hatinya mengatakan itu, karena hal itu pastilah akan menyedihkan hati si anak. Dapatkah ma' memikirkan betapa beraitnya hal itu, sehingga dapat menyedihkan hati bapa serta anaknya itu?

Telah berapa lamanya kemudian dari padia itu, tatkala si anak menyesak bapa', meminta menyelesaikan ketetapan keduaukan kami, maka dapatlah si anak melihat pada mata bapa' dengan penglihatan yang pilu kepada si anak, seperti ia hendak berkata: "O, suka benarkah engkau dengan selekas-lekasnya hendak memnggalkan sa ya, hai anakku?" Si anak memalingkan mukanya.........hatinya menjadi pilu, pilu yang amat sangat!

O, Allah, benarlah cinta itu suatu benda yang amat ajaib, jalan surga dan naraka pada manusia. Mencintai dan menghormati bapak, itulah suatu keperluan dalam hidup bagi kami. [Jan cmtanya itulah pula bagian yang besar dari pada bahagia kami. Kalau hidup kami tiada dengan kecintaannya, tentulah hidup kami selalu gelap. Sebab itulah maka bahagia itu dengan sukacita kami menerima dari tangannya. bahagia yang tidak datang dari bapa sendiri, kami pandang tidaklan sebagai bahagia yang menyelamatkan kami. Lebih jauh kamipun percaya pula, bahwa hidup dengan tiada mempunyai kasih cinta bapa', tidak pennahlah kami akan hidup selamatcian hidup beserta dengan kasih cintanya, tidak pemahlah akan membawa kami sama sekali kepada hidup melarat.

23 Augustus 1900 (I)[sunting]

Stella, percayalah engkau kepadaku, jikalau cita-cita saya atau cita-cita kami sampai, "sampai" seperti menurut maksudmu atau seperti maksud saya, maka keadiaan itu tentulah torayadi °léh karena pekerjaanmu. Saya menulis kata ini tidaklah dengan semena-mena saja, tetapi kata ini kukatakan, keluaniya dan hatiku. Telah banyak engkau mengajari saya, betul-betul amatlah banyaknya, dan ajakanmu itulah sua­ tu bantuan yang teguh dan suatu kekuatan bagiku. feaya suka sekali hendak menuntut kebébasanku. Kerja itu akan kukerjakan. Saya suka..........saya mesti......... terdengarkah oléhmu kataku itu? Bagaimanakah saya akan menang, jika saya tidak pergi berperang menuntutnya? Bagaimana saya akan mendapat, kalau saya tidak mencari? dengan tidak berperang tidak adalah kemenangan. Saya suka berperang Stella, sebab saya mau mendapat kebébasan. tidak gentar saya akan bertentangan dengan keberatan dan kesusalian. Menurut perasaanku diriku sama kukuh akan menurut kebébasan; tetapi adalah suatu hal yang amat kutakuti, yakni bapa' saya. O, Stella! telah kerap kali saya ceriterakan kepadamu yang saya cinta dan sayang kepada bapaku. tidak tahulah saya entah adalah kiranya keberanian dalam diriku hendak memajukan kemauanku itu, bilamana saya ketahui, yang saya kelak dengan keberanian itu akan merusakkan hatinya yang cinta dan sayang padaku itu.

Saya mencintai bapakku dengan cinta yang tiada berhingga. Bapaku telah tua, telah berambut putih, putih rambutnya itu ialah karena .memeliharakan kami, dan memeliharakan saya. Dan jika sekiranya adalah seorang di antara kami yang patut mendapat celaka, biarlah saya yang menanggung celaka itu. Demikianlah kerélaan yang tersembunyi dalam hatiku; karena mustahillah saya akan beruntung, meskipun saya men­dapat kebébasan, kemerdékaan dan tegak sendiri, kal au sekira­nya saya dalam hal itu mencelakakan dan merusakkan hati bapaku. "Adakah engkau maium benar bahwa hal itu ialah hal keadaan yang amat sukar?" katamu kepadaku. O ya, de­ngan sebenarnya! Saya sendiripun telah membayang-bayangkan kepadamu dahulu, betapa mudahnya berbuat demikian, dan dengan girang hatiku mangatakannya témpoh itu, tetapi sekarang

Maukah engkau mendengarkan kataku? Perjalanan hidup anak-anak perempuan Jawa telah ditentu dan dihinggakan, serta dengan kukuh lagi dibatasi oléh adat yang kuno. Kami tidak bolch mempunyai cita-cita hati. cita-cita yang boléh saya mimpikan ialah: bésok atau lusa saya akan menjadi isteri yang kesekian dari seorang laki-laki. Saya mau menentang keras meréka itu, yang dapat menidakkan bicara itu. jikalau dipikirkan dan dibandingkan hal keadaan Hindia dan Eropa, tentulah engkau akan membenarkan, bahwa tingkah laku lakilaki disitu tiadalah sedikit juga lebih baik dari pada lakilaki disini, dan perempuan-perempuan disitu sama menang­ gung nasib celaka seperti perempuan-perempuan disini. Hanyalah ini saja perbédaannya: kebanyakan perempuan-perempuan disana bersuami dengan seorang laki-laki, yang bekal diturutnya menumpang bersarpa-sama dikapal perkawinan, yang berhaluan bébas; tetapi perempuan-perempuan disini tiada menaruh kebébasan yang demikian, melainkan ia dikawinkan saja, karena menurut kemauan orang tuanya atau walinya. Meréka itu kawin dengan laki-laki yang disetujui oléh pikiran orang tua atau .wali itu, yang memandang bahwa si lakilaki itu orang baik dan patut. Dalam agama Islam mengawinkan orang tiadalah dengan izin si perempuan, ya, tidaklah dihadapannya kejadian hal itu. Boléh saja umpamanya: Bapa datang hari ini kerumah dan berkata kepadaku: "Ni, engkau telah dikawinkan dengan si Anu." Sekarang saya wajib menurutkan suamiku itu. Boléh juga tidak saya turutkan, tetapi hal itu memberi si laki- itu berhak boléh merantai saya se umur hidup, dengan tiada mengindahkan dan mempedulian saya sedikit juapun. Meskipun saya tidak menurutkannya, maka sayapun tinggal isterinya juga; sebab ia tidakmau menceraikan saya, dan sayapun dengan hal itu selama hidup selalulah terikat kepadanya, sedang ia sendiri boléh ting­gal bébas membuat barang sesuatunya. Ia boléh beristeri seberapa sukanya saja, dengan tiada mempedulikan saya sedikit juapun. jikalau sekiranya bapak mempersuamikan saya seperti itu, maka maulah rasanya saya membunuh diriku sendiri, tetapi bapakku tentulah tiada akan membuat seperti itu. Allah menjadikan perempuan untuk menjadi kawan si laki-laki dan untoéng nasibnya ialah akan dikawinkan. Betul pikiran itu tiadalah akan saya bantahi, dan dengan suka hati saya mengaku bahasa untung perempuanlah kelak, yang sebesar-besarnya, biarpun untung itu akan terjadi pada zaman-zaman yang akan datang, yakni bilamana si perempuan dengan suaminya hidup dengan berjinak-jinakan dan damai. Mustahillah akan dapat diperoléh hidup yang berjinak-jinak­ an dan damai itu, jikalau undang-undang untuk kami perempuan masih berlaku sebagai upaya, yang telah saya uraikan kepadamu di atas ini. tidak patutkah saya membencii dan menghinakan perkawinan yang sedemikian itu, sebab si perem­puan dengan hal yang sedemikian terang dianiayanya?

Syukurlah, tidak tiap-tiap orang Islam beristeri empat orang. Tetapi masing-masing perempuan. Islam yang bersuamipun tahulah, bahwa tiadalah ia seorang saja yang berhak menjadi isteii si laki-laki itu. Bésok atau lusa boléhlah lagi suaminya membawa isterinya, perempuan yang lain, kerumahnya itu. Perempuan yang baru itu sama banyak haknya dengan dia tentang kepada suaminya, karena menurut rukun Islam perempuan itupun isteri gahara juga. Dalam negei'i-negeri Gubernemén tiadalah begitu banyak kesengsaraan perempuanperempuan, seperti penanggungan saudara-saudaranya di tanah Solo dan jokja. Disitu banyak benar perempuan-perempuan yang celaka bersama-sama dengan satu, dua, tiga, empat perempuan yang lain yang bemama "selir" suaminya. Dinegerinegeri Solo dan jokja itulah perempuan-perempuan disebutkan permainan anak-anak!

Pada negeri-negeri itu tiada seorang juga laki-laki yang beristeri seorang. Dalam ling'kungan orang-orang bangsawan lebih-lebih dalam lingkungan Susuhunan, ada banyak lakilaki yang beristeri lebih dari pada dua puluh enam orang.

Boléhkah keadaan yang demikian itu dibiarkan saja, Stella?

Meréka itu telah biasa memakaikan keadaan yang demikian, sehingga rupanya tiadalah dirasainya kesengsaraan itu lagi, tetapi sungguhpun demikian, yang sebenaniya banyak juga perempuan-perempuan -yang menanggungkan kesakitan itu dengan diam-diam. Hampir sekalian perempuan yang saya kenal disini semuanya menyumpahi hak si laki-laki yang menganiaya itu. Tetapi dengan sumpah itu siaja tidaklah akan menolong melainkan sekalian itu wajiblah diperangi benar-benar.

Hai perempuan-perempuan dan gadis-gadis! Bangunlah engkau, marilah kita bersungguh-sungguh dan bekerja bersama-sama untuk mendatangkan perubahan dalam hal menolak bahaya yang telah menular selama itu.

Ya Stella, saya tahu bahasa dibenua Eropa budi pekerti si laki-lakipun keji pula. Saya bersama-sama dengan engkau menghormati anak .muda laki-laki yang •membelakangi adatadat kuno dan penggodaan itu. Dan saya hormati lagi akan gadis-gadis zaman sekarang, yang tidak mau menurutkan lakilaki yang tidak senonoh kelakuannya, dengan hidup cemar lagi tiada berpengetahuan. Tentulah ibu-ibu yang masih muda lebih pandai menjaga kejahatan itu. Kepada saudara-saudaraku telah acap kali saya beri tahukan hal itu.

Saya suka beranak laki-laki dan perempuan yang akan dipelihara dan diberi pendidikan seperti kehendak hatiku. Mulamula saya hendak menghapuskan adat-adat kuno, yang memandang anak.laki-laki lebih tinggi darajatnya dari pada anak perempuan. Saya tidak héran melihat kelobaan si laki2, bila saya ingat bagaimana si laki-laki itu masa kecilnya, dilebihi pemeliharaannya dari pada anak perempuan, saudaranya. Waktu kecil si laki-laki telah diajar menghinakan anak perempuan. Bukankah kerap sekali saya dengar si polan berkata kepada anaknya yang laki-laki, bila si anak itu terjatuh dan menangis: "cis, anak laki2 menangis sebagai anak perempuan!" Sa­ya akan mengajar anak-anak saya memandang anak laki-laki dan perempuan sama rata, dan memberi meréka itote pendidik­an yang sama benar, menurutkan kekuatan otaknya masingmasing. umpamanya, saya tidak akan menyuruh seorang anak perempuan belajar, jika ia tidak suka dan tidak mempunyai otak untuk belajar, biarpun maksud saya hendak menjadikan si anak itu seorang perempuan muda; tetapi haknya akan saya kurangkan dari pada hak saudaranya yang laki2 sekali-kali tidak! Dan sayapun akan berichtiar menyuruh meruntuhkan dinding yang membatasi si laki-laki dan si perem­puan itu. Saya mengaku bahasa, jika dinding itu telah runtuh, adalah kebaikannya, lebih2 kepada si laki2. Saya tidak dapat dan tidak akan percaya, bahasa laki2 yang berpengetahuan dan bersopan santun, dengan sengaja akan menyisihkan perkumpulan perempuan-perempuan, yang sama tinggi kedudukannya dalam hal pengetahuan dan sopan santun, atau akan pergi menyamarkan dirinya ke dalam tangan perempuan yang tidak ada kehormatannya. Apakah yang melarang si laki-laki bercampur gaul dengan perempuan perempuan yang berbudi pekerti, dan apakah yang menegahkan jika seorang laki-laki hendak bergurau .dengan seorang anak gadis yang tiada berhajat hendak kawin?

Sekalian itu boléhlah hilang lenyap, bila pergaulan laki-laki dan perempuan boléh bébas, yakni seperti pergaulan yang telah biasa bagi anak-anak yang telah ber'umur.

Engkau berkata: "Kita anak-anak perempuan sanggup membuat anak laki-laki selalu menurut jalan yang baik, tetapi sayang amat sedikit benar kita mengetahui jalan hidup meréka itu/' Pada waktunya tentulah sekaliannya akan berubah, tetapi dalam itu kami harus bekerja keras, dan kalau tiada demikian, waktu itupun tiadalah pula akan datang. Kami disini, di tanah Jawa, sekarang baru berdiri dimuka pintu perubahan itu. Harus pulakah kami menempuh sekalian jalan-jalan yang engkau sekalian telah arungi, supaya sampailah pula kami kepada waktu yang dipakai oléh bangsa Eropa dalam zaman ini?

Di antara kitab-kitab yang baru sa ya terima, terdapatlah oléhku kitab "Het Jongece", dikarangkan oléh tuan Borel. Benarlah katamu itu bahasa kitab itu yang bagus sekali. Kebanyakan orang disini .memikirkan yang isi kitab itu terlampau dilebih-lebihi dari pada keadaan yang sebenarnya.

Tetapi saya tidak sepakat dengan pikiran meréka itu. Isinya itu tiadalah berlebih-lebihan. Betul, banyak hal keadaan yang tiada sesuai dengan kitab "Het Jongece" itu, tetapi dinegeri saya ini adalah saya ketahui hal-hal yang seperti itu. Demikianlah halnya seorang anak tuan asistén-residén disini umpamanya telah menjelma menjadi "het jongece" dalam kitab tuan Borel itu. Pada suatu kali ia berkata kepada Kardinah: "Ma' muda, saya suka benar kepada anak perempuan-perempuan, karena anak-anak itu pandai tertawa gelak-gelak, .dan meréka berlainan betul dengan anak-anak laki-laki; anak-anak perempuan manis dan lemah lembut kelakuannya." yang mengatakan seperti itu ialah seorang anak yang ber'umur lima tahun. cobalah pikir oléhmu, dirabanya dan diamat-amatinya tangan Kardinah, kemudian ia berkata lagi: "Ma' muda, apakah sebabnya maka anak-anak perempuan lemah lembut?" Kemudian dirabanya tangannya sendiri dan sudah itu berkata pulala: "Sungguhpun saya masih kecil, tetapi saya laki-laki, sebab itulah saya kasar." O, anak itu seorang anak yang sangat manis tingkah lakunya dan bermata bulat dan besar, rambutnya hitam dan ikal. Sebelum ia datang kemari ia telah melihat gambar kami pada seorang sahabat kenalan kami di Surabaya. Ibunya menceriterakan kepadanya, bahasa dinegeri, kemana ia hendak pergi, adalah tinggal disana ma'-ma' yang penyayang. Anak itu berpikir, bahwa .ia harus kawin dan bertanya: "Bundaku! haruskah saya kawin dengan ketiganya, atau dlengan salah satu dari pada meréka itu?"

Tatkala ia datang kemari dan berkenalan dengan kami, maka ibunya bertanya: "Hai anakku, sudahkah engkau pilih siapa yang kausukai? Dengan ma' muda yang manakah engkau suka kawin?"

"O, ma', saya tidak dapat memilih, karena ketiganya sama-sama manis," jawab si anak kecil itu, dan katanya kepada masingmasing kami: "Saya suka kepadamu, kepadamu dan kepadamu, ya, saya suka kepada segala yang baik dan manis didunia ini!" Kalau orang lain menceriterakan hal itu kepada saya, tentulah saya tidak akan percaya, tetapi hal itu saya lihat dengan mata sendiri dan saya dengar dengan telinga sendiri....................................................................

Perkara yang diingini oléh nyonya van Zuylen-Tromp melihatnya, ialah tentang, "hidup anak2 Bumipuetera." Tentang hal itu lebih baik tidak usah saya tuliskan sekarang. Tentang perkara itu banyak yang akan saya ceriterakan dan sekarang mustahillah saya akan dapat membuat ceritera yang senonoh tentang hal itu. Barangkali dua tiga tahun lagi, jikalau saya telah berpikiran yang lebih sempurna dan menjadi agak sabar, barulah saya membuatnya. Sekarang pikiran saya terpusing-pusing, tiada berketentuan, adalah semisal daun-daun yang jatuh, yang dihambus oléh angin. Alangkah bagusnya perbandingan itu bukan? ....................................................................

Pagi-pagi hari disini sangat bagus, malampun demikian pula, dan waktu tengah-tengah hari maulah saya selalu berendam dalam air, jikalau sekiranya air waktu itu tiadalah ngilu-ngilu kuku seperti sekarang.

Alangkah énaknya perasaan disini waktu pagi-pagi; sebab hari masih sejuk dan pemandanganpun amat bagus. Kami pergilah berjalan-jalan keliling kebun, yang penuh berisi dengan bunga-bungaan yang harum dan sedap baunya. Ber­jalan-jalan pagi-pagi dikebun itu suatu kesedapan yang sebenar-benarnya. Kebun kami yang kami buat dan tanami sendiri, sekarang telah mulai berbunga. Betapa bagusnya, bila engkau dapat sama-sama berjalan-jalan dengan .kami dalam kebun itu; sukakah engkau pada bunga-bungaan dan pohon-pohonan? Ma' berkebun sayur-sayuran dan berkebun bunga ros. Kebun kami letaknya dimuka bilik kami. Bila malam purnama, maka pemandangan disana seperti pemandangan didusun-dusun, yang sangat menarik hati. Saudara-saudara saya yang perempuan membawa kecapinya keluar, dan duduk di antara pokok-pokok yang rendah, sambil memetik kecapinya dengan lagu yang merdu. Sesudah berlagu-lagu itu baharulah kami bersuka-suka, berbincang-bincang dan tertawa.

..........................................................................

Kemarahan hatimu kepada perbuatan bangsa Eropa yang telah ditanggung oléh dua bangsaku yang berpengatahuan dan bersopan-santun menyenangkan hatiku. Percayalah engkau bahwa bukannya orang yang bodoh saja, yang berhati tinggi kepada orang Jawa. Beberapa kali saya telah bertemu orang kulit putih, yang semata-mata tidak bodoh, ya, meréka itu sungguh terpelajar dan bangsawan pikiran, tetapi o, sangat tinggi hatinya dan sombong, sombong bukan kepalang. Hal itu menyakiti hatiku bukan buatan, dan acap kalo saya bertemu dengan kebanyakan bangsa kulit putih, jan memperlihatkan dan menyuruh kami merasa, yang kamo bangsa Jawa bukannya manusia. Bagaimanakah kami akan dapat mencintai orang Belanda, bila meréka itu selalu memperbuat kami sedemikian? cinta membangunkan cinta yang lain. Tetapi dengan kehinaan yang hina itu sekali-kali tidaklah akan dapat orang membangunkan cinta. Kami banyak mempunyai sahabat-sahabat di antara orang Belanda, yang kami cintai dan sayangi, ya, lebih dari pada sahabat kenalan bangsa kami sendiri. Meréka itu telah berusaha mengenal dan mengetahui kami, dan meréka itupun mengertilah maksud kami, serta mencintai dan menyayangi kami pula dengan setulus hatinya.

Kami suka sekali kepada bangsa Belanda yang demikian, dan kami ucapkan banyak-banyak terima kasih atas segala kebaikannya, karena kami telah diajarnya. Kami tidak akan melupakan meréka itu, yang telag membangunkan kami dari dunia kebodohan dan telah menolong memajukan kami. Orang Belanda mémang boleh membuat yang tidak adil pada kami, dan saya sendiri akan mencintai meréka itu juga serta mengucapkan terima kasih tentang perbuatan-perbuatan meréka itu yang baik untuk kami.

Orang Belanda mémang boléh mengatakan apa saja sukanya tentang bangsa Jawa, tetapi dalam hal itu tidak percaya saya, yang bangsa Jawa tidak berbudi. Bangsa Jawa sebenar-benarnya ada berbudi, dan meréka itu pandai mengucapkan terima kasih atas kebaikan tentang pemberian harta benda, ataupun pemberian 'ilmu kepadanya. Sungguhpun tanda terima kasih tidak kelihatan dimukanya, tetapi dalam hati meréka itu sangatlah ia sukur dan terima kasih. tidak usahlah hal itu sa ya terangkan kepadamu, Stella, karena engkau memandang sekalian manusia dibumi ini sama rata saja, biarpun ,hitam atau putih kulitnya seperti engkau.

O, saya bergirang hati, ya, bergirang hati amat sangat, sebab saya boléh menaruhmu. Saya tiadalah akan meiepaskan engkau, Stella. Saya sayang sangat akan engkau, sehingga tidak dapatlah saya memikirkan betapa nanti kesudahannya, bila hidup yang diberikan Allah datang menceraikan kita.

Kalau hidup masih dalam diri kita masing-masing, maka lautan yang besar dan luas itu tidak dapatlah menceraikan kita. Rupanya, pikiranlah yang menerbitkan persahabatan dan cinta mencintai, dengan tiada mengindahkan perantaraan yang jauh. Bersesuaian pikiran itulah titian antara laut-lautan yang besar dan tanah-tanah yang luas, itulah titian yang memperhubungkan kita. Berkirim-kiriman surat itulah pendapatan yang amat baik! Selamatlah hendaknya orang yang mula-mula mendapatnya! Pekan yang sudah, datang kepada kami Directeur van O. E. en Niyverheid bersama-sama dengan isteri yang mulia dari Betawi.....................

Stella, saya sangat bersukacita, sebab Directeur itu datang sendiri kemari dengan maksud akan mendengarkan pikiran bapak, tentang buah pikiran kami, hendak memintia kepada Pemerintah, supaya didirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan! Saya ketika itu sakit, saya merasa diri saya sebagai sengsara, karena bukan saja badanku yang sakit, te­tapi hatikupun menjadi pilu. Stella, saya percaya yang mimpi saya untuk kebébasan segera akan hilang. Kepercayaan itu datangnya tatkala bapak memberikan surat dari tuan Direc­teur kepada saya. Dalam surat itu ia meminta kepada bapak memperbincangkan dan menguraikan hal itu. Surat itu sa­ngat membesarkan dan menghiburkan hati saya. Sekalian itu memberi tahu kepadaku bahasa adalah seorang dari pegawaipegawai Pemerintah yang berpangkat tinggi di Betawi kiranya, yang berhati kasih kepadia bangsa Jawa dan perempuan bangsa Jawa. Tatkala mama' datang kebilikku melihat saya sebentar, maka didapatinya saya sedang dengan air mata berlinanglinang dimata. O, saya amat beruntung dan mengucap banyak terima kasih waktu itu! Saya harus dan tentu akan sembuh bila .tuan Directeur itu datang, karena saya hendak berbicara dengan yang mulia itu.

Tuan Directeur datanglah........................tiada sendiri saja......,isterinyapun datang bersama-sama. O, Stella, belum pernah se'umur hidup kami berkenalan dengan orang yang meriangkan dan membesarkan hati kami seperti sekarang. Saya telah mencintai y.m. tatkala saya tahu maksud kedatangannya itu. Percitaanku jadi bertambah-tambah, tatkala saya melihat yang mulia masuk berkeréta ke dalam pekarangan kami, y.m. duduk dibangku dimuka dan isterinya dengan bapak saya duduk dibangku belakang. Bapak saya pergi menjemput kedua y.m. kesetasiun. Saya tahu yang bapak tidak mau duduk dekat isteri y.m. itu, kalau y.m. tidak meminta yang sedemikian dengan sesungguh-sungguhnya. Bagimu, Stella, tentulah hal itu tidak lain dari pada suatu kehormatan yang biasa saja, te­tapi, Stella, tertawakanlah saya oléhmu bila saya mengatakan bahwa itu membesarkan hati saya, dan itulah menyatakan pula kepada saya kerendahan hati y.m. itu. Ketinggian yang ditaruh oleh hampir sekalian pegawai-pegawai disini, tidaklah dapat dalam tubuh yang mulia itu. Saya biasa melihat bapak disini bertempat disebelah kiri dari residén, asistén-residén, biarpun tuan² itu lebih jauh muda dari bapak saya. Bukan saja saya, sedangkan bangsa Eropahpun sakit hatinya melihat keakuan orang berpangkat yang gila akan kehormatan. Diperumpulan kepala-kepala negeri, hanyalah pegawai-pegawai bangsa Eropa dan regén-regén saja yang boléh duduk dikursi, sedang wedana-wedana yang telah berambut putih, harus duduk dilantai yang dingin, beralas dengan tikar bam­bu saja, kadang-kadang tidak pula beralas. Bangsa Eropa biarpun berpangkat rendah sekali berhak duduk dikursi; tetapi pegawai-pegawai. Bumiputera yang tidak seberapa kurang pangkatnya dan pada pangkat regén, telah tua lagi bangsawan dan pandai, wajib duduk dilantai yang dingin itu. Aturan hina itu wajib diturut, bila pegawai bangsa Eropa ada hadir disitu. Sungguh naik benar darah dihati melihat, bagaimana seorang wedana yang telah tua berambut putih jongkok di tanah untuk kangjeng tuan aspiran, seorang anak kecil yang kemarin baru keluar dari sekolah. .Tetapi padalah hal ini............. Berbéda sungguh dengan kehormatan y.m. itu seorang yang berpangkat tinggi, itulah sebabnya maka ia meriangkan hatiku bukan buatan.

Kami dengar tuan Directeur itu berkata kepada bapak: "Saya. telah pergi kemana-mana di tanah Jawa dan telah bermusyawarat dengan kepala-kepala negeri, regén.

Tuan sendiri telah memberi contoh menyuruh anak-anak perempuan pergi belajar kesekolah. Saya bertanya kepada anak-anak perempuan yang masih bersekolah, ada sukakah meréka itu meneruskan pengajarannya. Sekalian meréka itu menjawab dengan bersukacita: "ya!" Tuan Directeur itu bertanya kepada bapak, bagaimana patutnya sekolah untuk anak-anak peiempuan itu akan diaturkan, dan dimana baik didirikan dahulu untuk percobaan, di Jawa Barat, Tengah atau Timurkah?

O, Stella, mataku menjadi bercahaya-cahaya, telingaku menjadi tajam dan kalbuku berdebar-debar, karena keriangan tatkala mendengar sekalian itu. Tentulah akan datang suatu cahaya, yang akan menerangi dunia perempuan lagi, yang gelap .gulita dan celaka itu. Waktu tuan Directeur itu bercakap-cakap dengan bapak, maka nyonyapun berbincang-bincang dengan kami. Alangkah besar hati kami mendengarkan tuturnya!

Nyonya menceriterakan kepadaku, apa-apa maksud suaminya dan bertanyakan bagaimana pikiranku dalam hal itu. "nyo­nya, pikiran kami bila disampaikan, tentulah akan menjadi berkat bagi dunia perempuan bangsa Bumiputera. Berkat itu bertambah besar bila anak² perempuan itu dapat pula mempelajari .suatu 'ilmu pekerjaan, yang kemudian hari kelak dapat menolong dirinya, untuk mencari penghidupan sendiri, kalau-kalau meréka itu nanti mendapat kesusahan, karena kemajuannya itu; jadi 'ilmu itu boléhlah menolongnya untuk mencari rezeki. Anak perempuan yang telah berpengetahuan dan luas pemandangan tiadalah lagi dapat hidup senang dalam dunia nénék moyangnya yang kuno itu. Setelah orang mengajarnya bébas sedikit, teruslah ia dimasukkan orang ke dalam penjara, dan seteliah ia diajar orang terbang, lalu ia dimasukkan orang dalam sangkar. Tidak mungkin perempuan yang sebenarnya terpelajar, mustahillah akan merasa senang dalam dunia bangsa Bumiputera, kalau sekiranya dunia ini masih tinggal seperti sekarang ini. Sampai sekarang hanyalah sebuah saja jalan yang terbuka yang boléh ditempuh oléh anak² perempuan Bumiputera un­tuk masuk ke dalam hidup bersama-sama yakni "kawin." Bagaimana caranya perkawinan dalam dunia Bumiputera, ten­tulah nyonya telah tahu. nyonya telah sekian lama di tanah Jawa. Kami merasa beruntung, yang suanyi nyonya akan memberi pendidikan dan pengetahuan untuk anak-anak pe­rempuan, tetapi dalam sekolah itu baiklah diajarkan pula barang sesuatu 'ilmu pekerjaan. Kalau demikian tentu bertambahlah kebajikan, yang diberikan oléh suami nyonya dalam dunia bangsa Bumiputera, ya, itulah suatu berkat yang sebenar-benarnya."

"Hai suamiku, adakah kaudengar katanya itu?" tanya nyonya itu kepada suaminya dengan bersukacita. "Si gadis ini meminta sekolah yang berpengajaran bermacam-macam 'ilmu pekerjaan untuk anak-anak perempuan bangsa Bumi­putera."

Dengan héran tuan Directeur itu bertanya kepadaku: "Betulkah Radèn Ajeng meminta sekolah yang demikian? Bagaimanakah kemauan tuan? cobalah ceritakan kepadaku, hendak jadi apakah tuan?, dokter?" Saya merasai ketika itu segala mata terhadap kepadaku, lebih-lebih mata orang tuaku serasa membakar mukaku, maka sayapun lalu menundukkan kepala. Dalam telingaku mendengung-dengung dan mendesir-desir sebagai suramu, Stella, yang mengatakan kepadaku: "Kartini, beranikan dirimu, jangan gentar!"

Cobalah tuan katakan, hendak menjadi apa yang tuan sukai? O, Saya tahu tuan hendak menjadi pengarang, tetapi untuk hal itu tidak lah usah diajari lagi. Sebab kalau tuan hendak menjadi pengarang, dapatlah tuan menolong diri sendiri!" kata tuan Directeur itu pula.

Untuk belajar, sayang waktunya itu bagiku telah lalu; walaupun demikian dalam hal itu saya tidak boleh mengejapkan mata, tetapi saya wajib berani memandang keatas dan menentang kemuka.

Stella, Stella, janganlah kiranya engkau lepaskan saya, genggamlah tanganku dalam tanganmu dan bimbinglah saya! Dari engkaulah datangnya kekuatan yang memberanikan hatiku, janganlah engkau biarkan saja saya seorang diri! Bila sampai kiranya maksudku, maka kejadian itu ialah oléh karena kerjamulah, wahai kekasihku! nyonya itu lama memperbicangkan ini dan itu dengan saya, yaitu memperbicangkan perkara yang telah acap kali kita berdua memperkatakannya, "perkara perempuan."

Tatkala kami malam itu hendak pergi tidur, nyonya itupun mengambil tangan saya dengan kedua belah tangannya, dan digenggamnya tanganku sampai panas, seraya berkata: "Sahabatku, tentang hal itu nanti kita hubung lagi percakapan kita. Saya suka menulis panjang dan kerap kali kepada tuan, maukah tuan berbuat sedemikian pula kepadaku? ceriterakanlah banyak-banyak kepadaku, ceritakan semua!"

Bésok paginya kami antarkan meréka itu berangkat. Tiga jam lamanya kami duduk bersama-sama dengan nyonya dan tuan itu dalam keréta dan dikeréta api, maka sementara itu nyonya dan sayapun senantiasa bercakap-cakap saja. Sungguhpun kemarin malam sudah pukul dua belas kami baru bercerai pergi tidur, tetapi nyonya rupanya malam itu juga telah menceritakan sekalian yang diketahuinya tentang hal kami kepada suaminya.

"O regén", berkata nyonya itu acap kali, "berikanlah anak-anak tuan ini kepadaku, suruh dia pergi ke Betawi. Lepaslah si gadis ini datang kepadaku, saya sendiri suka datang menjemputnya." Bapak berkata kepada nyonya, yang ia sungguh telah bermaksud, dalam tahun ini akan melepaskan dia pergi ke Betawi: "Tetapi tinggal disana tentulah di rumah ibunya, bukan, nyonya?" Maksud bapak mengatakan "dia" yaitu saya sendiri. tidak tahulah saya akan maksud perkataan itu, entah main-main saja, entah sebenar-benarnya?

Nyonya suka yang kami mestilah hendaknya pergi ke Betawi, ialah akan bercakap-cakap sendiri dengan orang-orang besar disitu, untuk membéla untung nasib perempuan bangsa Bumiputera. O, Stella, saya berharap yang saya dapat dan boléh membéla itu dengan baik. nyonya akain pergi ke Bogor, pergi bertanya kepada nyonya Roseboom, kalau-kalau nyonya besar itu ada sempat akan mendengarkan ceritera keadaan bangsa Jawa.

Ketika akan bercerai, nyonya itu berkata kepadaku: "jangan takut2, selalu berani dan percaya. Keadaan yang hina itu tidak boléh lebih lama dibiarkan begitu saja, sekalian itu wajib dan patut akan diperangai. jangan cemas." Stella, sedang bermimpikah atau sedang bangunkah saya? Adakah sungguh2 akan datang perubahan bagi kami? Boléhkah kami berharap, yang mimpi kami itu dapat disampaikan dengan sebenarnya? Banyak lagi yang saya dengar. Banyak lagi nyonya Directeur menceriterakan kepadaku; tetapi saya tidak berani menceriterakannya kepadamu. Karena sekalian hal itu masih jauh tempatnya, tetapi cahayanya dan sinarnya telah sampailah kemukaku. Nanti, nanti, Stella, kekasihku, kalau keadaan itu telah ada dalam tanganku dan telah kupegang teguh2, sehingga ia tidak dapat lari lagi, pada waktu itulah engkau dapat mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah kurahsiakan itu. Saya telah bertanya kepada saudara-saudaraku, masih hidupkah saya karena hatiku sekarang merasa amat beruntung dan berbahagia yang tiada berhingga! Berdoalah engkau untukku, Stella, moga-moga sekalian itu jangan hendaknya tinggal cita-cita dan kenang-kenangan saja! Karena ma'lumlah, kalau sekiranya harapan itu putus, mémanglah sematamata ia akan mendukakan hati benar! Oléh sebab itu tidak usahlah saya sekarang terlalu bersukacita benar, karena hal itu belum ten tu, dan lagi dalam. hal itu boléh pula salah jalannya dan buruk kesudahannya.

Guru sekolah nomor dua akan segera pergi ke Eropa; tidak baikkah menurut pikiranmu, yang guru itu diganti dengan seorang guru perempuan? Tuan Directeur akan menyuruh seorang guru perempuan Belanda kemari, tua atau muda samalah saja bagi kami; tetapi ia wajib hendaknya seorang berpengetahuan dan bersopan santun, yang boléh tempat kami bertanya dan belajar. Itulah yang mula-mula dapat dibuat tuan Directeur itu untuk kami dan kemudian; o, Stella, fcatkala ia melihat-lihat di rumah hasil pekerjaan kami seperti: gambar-gambaran, patung-patung dan sebagainya, maka tiba-tiba bertanyalah ia: "Dapatkah dalam témpoh setahun lamanya menyediakan sekaliannya itu, untuk dipertunjukkan pada pasar malam?" Ia merasa sayang sekali yang kami tidak lagi mengirim barang-barang untuk pertunjukan besar di Perancis. Bésoknya ia berkata, yang ia akan memperbincangkan dengan meréka yang berkuasa di Betawi, supaya pada tahun yang akan datang dapat diadakan pertunjukan perusahaan anak Bumiputera di Betawi. "Raden Ajeng mesti mengirim sekalian barang-barang yang telah kami lihat disini."

O, Stella, tidak dapat saya berkata ketika itu, hanya saya pandang saja tuan dan nyonya dengan air mata yang berlinangé-linang dimataku, oléh karena kebesaran hati.

Apakah kiranya sebabnya maka kami mendapat sekian banyaknya kasih sayang dan bahagia? Dahulu dari pada itu belumlah kami mengetahui nyonya dan tuan Directeur itu. Kami hidup sekarang sebagai dalam mimpi. Bagi kami tidak adalah hari kemarin atau hari bésok, hanyalah yang kami ketahui ialah hari sekarang, yang bersinar-sinar dengan untung dan bahagia! Kebagusan yang banyak itu memeningkan kepala dan menakutkan hatiku. O, kebalikannya akan menyedihkan hati kami bila mimpi dan cita-cita, yang ada pada kami itu akan hilang lenyap seperti asap saja. Setiba saya di rumah, dengan segera saya ambillah kertas dan péna, lalu menulis sepucuk surat yang riang dan bersukacita kepada sahabat kami, nyonya Ovink, karena dua tiga hari yang lalu tentulah ratap tangisku telah sampai kepadanya, dan ma'lumlah yang nyonya itu, ialah seorang ma'ku yang baik budi, haruslah pula mengetahui bahwa saya, anaknya, telah tiba-tiba beruntung kembali. tidak sedikit juga saya berceritera kepadanya, sekalian apa yang telah saya ceriterakan ketika ini kepadamu; hanyalah saya kabarkan dengan ringkas, yang saya sekarang ada merasa diriku sangat beruntung, hidup bergirang hati dan penuh dengan kesukaan. Tetapi kepadamu semuanya saya ceriterakan, kecuali yang satu tadi. Engkau berhak mendengar dia, karena sekalian kerja itu yang sebenarnya ialah kerjamu, tetapi untuk kebaikanku. jikalau saya putus asa tentulah pertolonganmu yang 'umum itu akan memimpinku, ajakan dan bujukanmu itu akan menguatkan hatiku, sekiranya saya merasa yang saya tidak berdaya lagi. Stella bila saya pernah-pernah dapat membuat barang sesuatu untuk saudara-saudara saya dipulau Jawa, tentulah keadaan itu semata-mata oléh karena pertolonganmu.

Saya telah menceriterakan kepadamu, bahasa nyonya Ter Horst telah berjanji kepadaku, yang saya boléh mengarang dalam surat kabarnya, untuk pembéla untung nasib perempuan bangsa Bumiputera, dan ia berjanji pula akan menyembunyikan nama saya, dan akan memperbuat karang-karanganku nanti sebagai percakapan dua orang anak regén perempuan. nyonya itu suka membuat segala apa, yang dapat dikerjakannya untuk memajukan perkara-perkara yang baik, asal saya suka mengatakan bagaimana patut dibuat. O! Stella, Stella, alangkah banyaknya sekarang keriangan yang telah diberikan orang ketanganku. Bapakkupun telah mengizinkan saya pula membuat itu. Saya berharap yang Tuhan akan memberi saya kekuatan untuk mengerjakannya.

Bantu serta kuatkanlah saya ini, wahai sahabatku! Kirimlah surat panjang-panjang kepadaku, Stella! Saya belajar karang-mengarang itu dengan mengarangkan barang sesuatu, yang biasa kejadian pada hidup kami sendiri. Sebuah dari pada karanganku telah keluar dalam surat chabar "Echo." Nama samaran yang saya pilih, ialah "tiga saudara", karena kami bertiga menjadi satu. Tetapi dengan segera diketahui orang siapa "tiga saudara" itu. Dalam surat kabar Hindia "Locomotief" adalah suatu pujian tentang karangan itu. Hal itu menggaduh hatiku. Sedianya saya lebih suka yang orang merahsiakan sekalian yang saya karangkan. Kurang senang hatiku, bila saya diperkatakan orang seperti itu. Barangkali orang menyangka yang saya mempermain-mainkannya, tetapi betul-betul saya tidak suka kepada puji-pujian itu. Tetapi kabar yang didalam surat kabar itu ada kebaikannya, ya, adalah kebaikannya yang amatsangat. Lihatlah, bulan yang lalu dua helai surat bulanan yang baru, untuk bangsa Bumiputera dikirimkan orang kepada bapa, serta berikut dengan sepucuk surat, yang isinya meminta supaya "tiga saudara" sudi membantu surat bulanan itu. Itulah surat bulanan yang pertama-tama kali dalam bahasa Belanda, yang telah didirikan untuk bangsa Bumiputera. ucapkanlah selamat kepadaku, karena surat bulanan yang sedemikian te­lah terbit. Saya berharap, banyaklah hendaknya keselamatan "bahasa Belanda" untuk bangsaku, untuk kami bangsa Bu­miputera. Surat bulanan yang baharu itu haluannya seperti s.b. Lelie! Bunga Belanda, yang telah menébarkan baunya dan kebagusannya sampai ketanah Hindia, tanah yang sejauh itu! Sekarang surat kabar "Echo," bertukar dengan "Nederlandsche Taal"! Engkau tentu boléh ma'lum, bahasa saya sekarang telah menulis sepucuk surat, dengan bergirang hati, kepada juru kabar dan orang yang mendirikan surat kabar itu (Directeur sekolah Ménak di Probolinggo) dan mengabarkan yang saya mau mengarang dalam surat kabarnya. Baru sebentar ini orang datang membawa balasan surat itu kepadaku. Dalam surat itu ia memberi pokok-pokok yang disukainya, yang akan, saya karangkan. Stella, cobalah engkau ketahui apa yang mula-mula saya baca dalam surat bulanan itum yaitu: "Pengajaran Bumiputera untuk anak-anak perempuan,” kemudian "Adat² Bumiputera,” dan akhirya "Kepandaian bangsa Jawa.” Tentulah engkau akan berkata kepadaku: "Kartini, janganlah engkau mengatakan engkau tidak pandai dan tidak cakap, tetapi katakanlah: "saya suka.” Sayapun suka, Stella, saya suka dan mau sekali mencobanya. Saya berharap amat sangat yang engkau akan menghargai kekuatanku, biarlah jangan berlebih-lebihan. Kalau demikian tentulah saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya. yang hendak saya ceriterakan sekarang lagi, ialah bahasa kami bertiga telah mulai mempelajari bahasa Perancis dengan memakai kitab-kitab pelajaran karangan Servaas de Bruiyn. Telah kami tammatkan tiga empat buah kitab itu, dan sekarang kami hendak meminta kepadamu, supaya engkau mengatakan kepada kami nama-nama kitab pembacaan dalam bahasa Perancis yang mudah-mudah yang akan kami baca-baca periangkan hati. Bapak telah memberi izin kami boléh belajar lagi bahasa jérman, tetapi bila pelajaran bahasa Perancis kami habiskan, kemudian kami berharap akan memulai pula mempelajari bahasa Inggeris. Tetapi pikiran kami bahasa jérman kemudian sekalilah. bila kami masih hidup juga. Sekarang kami mencoba membaca surat-surat kabar bergambar dalam bahasa Peran­cis, tetapi membaca dan mengerti itu dua macam, bukan? Mula-mula sekali kami telah membuat salinan yang segila-gilanya, tetapi sukurlah, makin lama adalah makin bertambah baik. Masih banyak harapan kami. Rukmini adalah berceritera pada suatu hari yang ia bermimpi dalam bahasa Perancis, ia bersama-sama dengan Chateaubriand di Louisiana, suatu tanah ajaib, yang diceriterakan oléh Chateubriand itu. Bahasa Perancis banyak bersamaan dengan bahasa kami, tentang susunan kata-kata dan hurufnya sama benar dengan bahasa kami. Sahabat baharu kami, nyonya Directeur, berkata kepada suaminya: "Saya suka belajar bahasa², wahai suamiku, betapalah suka hatiku kalau sekiranya saya sendiri dapat mengajarkan bahasa-bahasa itu kepada si gadis itu!” Kemarin saya telah mendapat sepucuk surat yang 20 halaman panjangnya. Alangkah manis isi surat itu. Ia berkata, bahasa menurut perkataannya, ia akan bercakap-cakap lagi dengan kami nanti sekali lagi, dan iapun percaya yang perasaan itu akan terjadi. Sayapun bersama-sama berharap demikian. "Bertanyalah pada waktu yang akan datang!" kata suratnya kepadaku. Dan sayapun percaya sungguh, sekiranya engkau dan nyonya itu ada selalu disisiku. Suratnya selalu membuat saya menjadi kemalu-maluan seperti suratmu juga, engkau dan nyonya itu selalu berpikir baik untuk hal keadaanku. O, moga² janganlah hendaknya saya akan mengecéwakan meréka itu, yang sekian mudahnya telah mempercayai saya! Perasaan itu datangnya dari hati kecilku, sebagai suatu doa dalam waktu yang sunyi dan baik. Sungguhpun begitu, Stella, mémanglah kita ini penuh dengan lingkungan teka-teki dan rahsia, apalagi manusia tiada berhati tetap. Hal itu bukanlah menunjukkan manusia berpekerti buruk. Bahwasanya amat banyak hal keadaan yang boléh mendatangi hidupnya itu. Adalah hal itu yang menjadikan seorang berani dan ada pula menjadikan seorang penakut. janganlah lekas disalahi seseorang yang rupanya telah membuat kelakuan yang hina, sebelum engkau ketahui sebab-sebabnya.

Saya amat banyak merasa dalam beberapa hari yang achir ini. Kebanyakan perasaan itu merawankan hatiku. Mula-mula saya hampir putus asa, karena saya menyangka bahasa mimpi kebébasanku rasanya dengan tiba-tiba telah dikuburkan de­ngan sedalam-dalamnya, dan saya wajib dengan sekuat-kuatnya mengangkat kembali keatas. Setelah itu datang sahabatsahabat dari Betawi, dan perasaan yang berbahagia meliputi segenap tubuhku, sehingga menjadikan saya pening dan pingsan karena sukacita. Waktu itu mémanglah saya dalam mabuk kesukaan yang amat sangat, hampir saya tidak dapat bernapas lagi. Terperanjat besarlah yang membangunkan saya dengan ganas dari mabuk kesukaan itu. Dalam hal itu diriku sendiri tidaklah kuingat lagi, karena ingatanku, tujuannya hanyalah kepada seseorang yang saya cintai amat sangat. Sayapun lalu mengeluh dan dipapah.

O, mengapa? Mengapakah suka dan duka itu wajib selekas itu berturut-turut? Saya tidak dapat memikirkannya, hanyalah merasa saja kesakitan yang amat sangat itu dalam hatiku. Sekarang darahku telah pulang kembali seperti semula dan boléhlah berpikir sebagai biasa.

Kasihan bapaku yang dicinta itu, ia telah banyak benar menanggung dukacita, sebab hidupnya selalu membawa kecéwa yang menyakitkan hatinya. Stella, bapaku tidak ada lain yang disayanginya lain dari pada anak-anaknya, kami semuanya buah hatinya dan penglipur dukanya. Saya dalam hal itu sa­ngat mencintai kebébasan. O, itulah yang berguna untuk hidupku dan untuk hidup saudara-saudaraku perempuan. Saya sungguh suka sekali menolong adik-adikku dan maulah saya menjadi kurban masing² meréka itu, bila kurban itu mendatangkan kebaikan untuknya. Saya pandang keadaan yang seperti itu sebagai suatu kewajiban yang berbahagia. Tetapi dari pada ketiga saudara itu, bapakkulah yang lebih saya cintai dan saya sayangi dan badankupun terserahlah kepadanya. Stella, engkau tentu mengatakan penakut, dan tidak berpikiran yang tetap, benarlah itu, tidak dapat saya ubah lagi. Sebab bila bapak tidak mau, yang saya akan mengurbankan diriku, betapa sekalipun ratap tangis dalam hatiku, mestilah saya akan menurut kata bapaku. Saya tidak berani lagi melukai hatinya yang setia, yang selalu mencintai dan menyayangi saya. Hatinya yang setia itu telah padalah hendaknya mengeluarkan darah. Sungguhpun hal itu terjadinya bukannya karena kesalahanku. Engkau berkata yang engkau tidak dapat mengerti apa sebabnya orang wajib kawin. Engkau selalu memperlawankan mesti dengan "mau". Itu benar, tetapi saya sendiri tidak dapat memperlawankan itu, karena cintaku kepada bapakku bukan sedikit. Apalagi tidak sanggup saya, karena saya tahu, perboaatan itu boléh mendatangkan sengsara yang amat berat kepadanya. Apa-apa saja yang hendak saya buat sekarang, bukanlah saya pandang seperti suatu "kewajiban", te­tapi hanyalah kerja itu mendatangkan suka "bapak." Saya menulis, menggambar, dan bekerja sekalian itu karena bapak berbesar hati sebab itu. Saya akan bekerja keras dan dengan sungguh hati akan membuat barang sesuatu yang baik, yang boléh meriangkan hatinya. Stella, engkau tentu akan mengatakan saya gila, berlebih-lebihan, tetapi itulah yang dapat saya perbuat, supaya bapakku tetap menyayangi dan mengasihi saya. Saya tentulah akan berdukacita amat sangat, bila bapak­ku melawani maksudku untuk mencari kebébasan, tetapi lebih-lebih lagi dukacitaku, bila sekiranya kehendakku sampai, dan dalam hal itu kasih sayang melayang dari tubuhku. Kasih sayang itu mémanglah tiada akan hilang, saya tidak percaya ia akan lenyap sama sekali, perbuatanku itu tentulah merusakkan hatinya. Dari perbuatan orang lain barangkali dapat ia menahan kecéwa itu, tetapi dari saya tentulah akan melukai hatinya, karena ia lebih menyayangi dan mengasihi saya dari pada orang yang lain. Kepada bapaku, cinta dan sayangku bukan buatan! Stella, alangkah ajaibnya halku ini? Seorangpun boléh dikatakan tidak pernah menggoda dan mendukacitakan saya, tetapi saya selalu ada berpenanggungan. O! perasaan yang dalam, itulah penanggunganku, tetapi tidak lain lagi kehendakku ialah penanggungan itu. Meskipun penanggungan itu melukai hatiku, tetapi iapun kadang-kadang memberi bahagia yang tidak ada hingganya kepadaku. Betapa besarnya bahagia itu tidak dapatlah pula dikira-kirakan oléh jauhari dan bijaksana.

Augustus 1900 (II)[sunting]

Saya bertanya kepada bapak: "Sekarang kalau kami tidak boléh pergi kenegeri Belanda, boléhkah saya pergi ke Betawi belajar 'ilmu dokter?" Bapak menjawab dengan ringkas dan baik: "Anakku wajib, tidak boléh melupakan yang engkau anak Jawa dan sekarang belum boléh anak perempuan menurut jalan itu ............ boléh jadi 20 tahun lagi keadaan itu akan bertukar, ............ tetapi sekarang belumlah boléh ............atau kalau diturut juga tentulah engkau akan mendapat kesusahan, ............ karena dalam hal ini tentulah eng­kau anak perempuan pertama-tama sekali." Bapaku tentulah tidak dapat menentukan hal itu dengan sekejap mata. Bapakku tentulah lebih dahulu akan memikirkannya pand yang lébar dan bermusyawarat dengan orangorang lain. Itulah suatu tanda yang menyatakan, bahasa bapa semata-mata tidak menolak buah pikiranku? dan bapapun tahu juga yang saya setiap masa dan ketika selalu hendak jadi bébas, merdéka dengan tegak sendiri, ia pun tahu juga yang saya tidaklah akan beruntung dalam hidup perkawinan seperti adat yang lazim sekarang. Setelah itu saya bertanya lagi: "Tetapi apabila sekolah anak perempuan Bumiputera yang akan dibuat oléh tuan Mr. Abendanon itu sampai terdiri, boléhkah saya menjadi guru disitu?"

Dan lagi saya ceriterakan pula lebih panjang, apa-apa yang telah diminta oléh nyonya Abendanon kepadaku, dan apa-apa yang lain, yang dikenangkannya juga.

O, ma', sebagai mendapat gunung intanlah saya rasanya, dan seakan-akan terbanglah rasanya saya diawang-awangan, karena kegirangan hati, tatkala kudengar bapak menjawab: "Itu baik, itu bagus! Itu mémang boléh engkau kerjakan!"

Kalau demikian perlulah saya lebih dahulu pergi belajar untuk pekerjaan itu. Saya wajib tiga empat tahun belajar disekolah geréja, dan kemudian terus membuat ujian. Sebab kalau sekiranya tiada mempunyai surat tammat belajar, tidak maulah saya menjadi guru sekolah.

Bapapun membenarkan hal itu, dan meluluskan kehendakku. O, ma', alangkah beruntung saya sekarang ini, tidak pernahlah saya sangka-sangka hal itu dengan mudahnya saja dapat diperkenankan oléh bapa. Sepatah juapun tidak ada kata-kata yang keras, pedih dan tajam dari bapa, meskipun telah banyaklah yang terpikir diotakku karena hendak menyampaikan maksud ini ............. biarlah, saya terima sukurlah sekalian itu dengan hati yang ichlas. Tetapi bapa berlaku dalam hal itu nyatalah benar-benar dengan lemah lembut dan dengan kasih sayang.

O, sekali-kali tidak adalah sedikit jua salah sangka-sangkaku tentang kesayangan bapak kepadaku, ia merasa dan hidup betul-betul bersama-sama dengan anaknya. Sayapun ma'lum kalau saya menanggungkan suatu kesusahan, maka bapak sendiri lebihlah menanggungkan hal itu dari pada saya; dan harapannya sama-sama besar dengan pengharapanku, tentang menantikan suatu keputusan yang memberi kebajikan di­ atas diriku.

O, ta dapat saya rencanakan betapa hatiku bersuka raya, bersimaharajaléla, waktu saya mendapat ketentuan yang berbahagia itu, yakni ketika saya mengetahui, bahasa bapakku yang kucintai dan aku sayangi itu meluluskan buah pikiran, kehendak dan keinginanku dengan tidak mendukakan dirinya sendiri!

Oléh karena memikirkan bapaklah maka saya merasa diriku putus asa, dan berbulan-bulan lamanya pikinanku bimbang dan lemah, ya, takut-takutan, karena saya sekali-kali tidak sampai hati akan merawankan hatinya. Sekalian itu mestilah saya lakukan demikian, karena saya sekali-kali tidak mau, tidak suka merendahkan kehormatan hati dan darajat kemanusiaan pelempuan yang ada dalam diriku. Saya harus melawani segala maksud meréka itu yang akan menghinakan perempuan. Saya perlu sekali dalam hal itu, dan tidak boléh berdiam diri saja. Sebenar-benarnya mémanglah keras dan hébat peperangan dalam hatiku pada masa itu. O, bapak sekarang telah berkawanlah dengan saya, karena itulah kesusahan yang sebesar-besarnya sekarang telah terhapus pula, dan alangan yang sebesar-besarnyapun telah lenyaplah. Karena saya tahu bahasa bapa ada disisiku, sekarang saya tidak gentar dan tidak ngeri lagi, melamkan dengan suka dan riang, dengan langkah yang ringan dan tersenyum-senyum dapat pergi menentangi musuh.

Sekarang hanya tergantung kepada kemauan dan kesanggupanku sendiri saja lagi, untuk akan menyampaikan maksud-maksudku itu! Harapanku sangat besar dan keberanianku tidak kurang. Ma', tolonglah beranikan hatiku selalu! De­ngan segera telah saya minta kepada bapak, boléhkah saya kabarkan kabar baik ini kepada nyonya Abendanon, jawabnya: boléh. Pada malam itu juga saya tulislah sepucuk surat kepada nyonya Abendaaion dan sepucuk kepada ma' sendiri.

Sekarang tinggallah lagi suatu angan-anganku, dapatlah kelak didirikan sekolah anak perempuan itu, tetapi dalam hal itu saya putus asa. Beberapa tanda-tanda telah membayang, menyatakan bagaimana susah orang-orang' yang berpangkat tinggi, hendak mempertinggi kedudukan dunia bangsa Bumiputera dan hendak memancarkan cahaya ke dalam alam perempuan bangsa Bumiputera dan hendak mengeluarkan perempuan-perempuan itu dari keadaan yang penuh berlumur dengan kesengsaraan. Biarlah orang-orang yang berpangkat tinggi seperti itu sekarang masih belum banyak didapati.

Di jokja kami pergi mengunjungi nyonya Ter Horst sebagai yang telah saya kabarkan, kepadla nyonya. Ia amat baik dan peramah, dijemputnya kami dari setasiun, tetapi ia tidak bertemu dengan kami disetasiun itu, karena kami telah turun dari keréta disetasiun lain, dan dirumahnya disediakannyalah makan-makanan untuk kami. Kami datang kepadanya hanya hen­dak berjabat tangan saja, tetapi ia banyak hendak berbincang dengan saya. Ia berceritera kepadaku bahasa residén de B, yang belum lagi mendengar maksud tuan Mr. Abendanon, telah bermaksud dengan sungguh-sungguh, hendak mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan daii kepala-kepala bangsa Bumiputera. Maksud itu seboléh-boléhnya dilangsungkan dengan pertolongan Pemerintah, kalau tidak dapat, dengan pertolongan partikulir saja. Residén itu meminta kepadanya akan mengaturkan maksud itu, dan setelah itu boléhlah residén itu sendiri nanti meneruskan pekerjaan itu, lalu saya terangkan, bahwa barang sesuatu yang baik tentang pengajaran dan penge.tahuan untuk anak-anak perempuan hendaklah disama ratakan saja, meski untuk anak-anak kepala-kepala yang berpangkat tinggi, atau yang berpangkat rendah, sóepaya kema'muran dan budi pekerti anak negeri jadi bertambah-tambah dalam dan lébar.

Bahwasanya mémang adalah orang yang berhajat dengan sungguh-sungguh hendak memberi pengajaran untuk anak-anak perempuan bangsa Bumiputera. Bila usaha tuan Mr. Abendanon untuk mendirikan sekolah anak perempuan itu tidak sampai, tetapi saya harap Allah akan menolongnya akan menyampaikan jua maksudnya, dan tentulah saya tidak akan menjadi guru, saya minta kepada nyonya, yang nyonya tidak membiarkan saya sendiri saja, bukayn ma'? Dan sukakah nyonya pula menolongku memintakan saya izin kepada bapak, supaya saya boléh belajar menjadi dokter? Atau tidak sukakah tuan kedua saya menjadi dokter itu? Kalau tuan suka maka tuan kedualah yang dapat memintakan itu kepada bapak.

Semenjak petang yang tidak mudah dilupakan itu, kasih bapak dua kali lebih ganda kepadaku. Bicaranya sangat lemah lembut, dirabanya kepalaku dan dipeluknya dengan kedua tangannya, seolah-olah tangannya itu hendak melindungi saya dari kecelakaan yang akan datang.

Saya ketahui sekali itu, dan saya rasa kasih sayangnya yang tiada berhingga itu, sebab itulah saya menjadi manja dan berbahagia benar!

Sejak kami kembali dari Betawi, adalah perasaan kami sekarang, seolah-olah kami pulang kerumah, hanyalah akan melepaskan lelah dan pergi berjabat tangan saja, setelah itu hendak terbang kembali ............ Kemana????? Saya sekarang hendak merasai benar-benar kesedapan tinggal di rumah, karena dimana juapun dialam ini tiadalah sebaik tinggal di­rumah orang tua sendiri, dan hal itulah yang telah menimbulkan terima kasih dalam hatiku, apabila ésok atau lusa saya meninggalkan rumah orang tuaku; pergi itu tentulah dengan berkat doa bapaku. Saya harap sungguh-sungguh, demikianlah pula hendaknya dengan saudara-saudaraku yang lain.

Dahulu saya belajar adalah dengan mudah............. saya tidak pernah tercécér di belakang............. tetapi antara dahulu dengan sekarang telah amat lama. Sekalian yang telah saya pelayari disekolah perubel, saya telah lupa. Waktu 'umurku dua belas setengah tahun, tatkala itulah saya meninggalkan sekolah itu. Tetapi kalau mau, hampir semuanya boléh dapat, bukan, ma'? Dalam segala hal saya akan mengusahakan diri dan akan bekerja keras. Doakanlah saya oléh tuan kedua. Moga-moga hatiku tetap selalu, cukup dengan kemauan dan keberanian yang hidup, hai kekasihku! Sekarang semuanya dengan tulus dan ichlas telah saya ceriterakan kepada tuan, o, ma'ku! Bagaimana pikiran tuan ke­ dua tentang sekalian hal itu? Katakanlah dengan terang kepadaku buah pikiran tuan kedua, saya semata-mata anak tuan, dan tuan tahu, betapa besarnya saya hargai buah pikran tuan kedua.

Saya menulis surat dengan kepercayaan sesungguh-sungguhnya, bahasa tidak adalah orang yang lain, yang lebih mengindahkan hal keadaanku, hanyalah tuan kedua. Hal itu berhubung kuat dengan nasibku piada waktu yang akan datang. Lain dari itu sayapun tahu juga, bahasa saya setiap wak­tu boléh datang kepada tuan kedua, akan meminta nasihat, pertolongan dan pergi melipurkan hati. Oléh karena itulah kelak saya akan datang kerap kali kepada tuan.

7 October 1900 (VIII)[sunting]

Saya menanti waktuku dengan sabar. Apabila waktu itu datang kelak, disitulah nanti orang akan melihat, yang saya bukanlah suatu benda yang tidak ada bernyawa, tetapi ialah sebenarnya seorang manusia, yang berotak dan berhati, ada berpikiran dan ada berperasaan. 92

Mémang menjadi suatu kelobaan yang terlampau kepadaku, karena saya akan menjadikan nyonya seorang kawan yang sama-sama bepercintaan. Percintaan itu kutaruh, kusembunyikan dalam kalbuku dan mendatangkan keriangan kepadaku, tetapi kepada nyonya, nyonya menjadi..........................kedukaan! jadi dukacita itulah yang saya berikan kepada sekalian meréka yang sayang kepadaku! O, sekarang maulah saya berteriak keras mengatakan kepada nyonya, karena saya sangat cinta kepada nyonya: "Lepaskanlah saya, dan tariklah diri serta kasih nyonya kembali dari saya! Buanglah saya dalam ingatan tuan! dan dari hati nyonya! Biarkanlah saya berperang sendiri! O, Allah Tuhan yang kaya, rupanya tiadalah nyonya tahu berapa dalamnya dan besarnya lubang, yang nyonya hamburi karena nyonya mengasihiku! Biarkanlah saya sendiri! Biarkanlah saya selalu sukur kepada Allah, karena saya telah menerima kasih sayang dan pertolongan dari nyonya; bahwa nyonyalah jua yang menyimpangkan jalan hidupku kejalan yang telah nyonya taburi dengan intan permata dan bunga-bungaan. Misalkanlah perjumpaan kita yang sudah² sebagai kapal-kapal yang bersabung dilautan luas, pada malam gelap gulita. Kita berjumpa dalam kelam, beri-memberi selamat dengan riang, kemudian tampaklah jediak kapal dimuka air, dan sesudah itu hilanglah sekaliannya! Tetapi saya takut, saya tahu bahasa nyonya tidak sanggup berbuat sedemikian, meskipun nyonya boléh berbuat laku begitu. Lebih baik tidak usahlah saya panjangkan kalam tentang itu. ..................................................................................

Belum berapa lamanya telah lalu ibu dengan siaya mempercakapkan hal ihwal perempuan, dan dalam percakapan itu saya nyatakanlah kepadanya, bahasa tidak adalah yang lebih menghiburkan serta menarik hatiku, dan tidak lain yang saya ingini, lain dari pada maksud hendak mencari penghidupan untuk diri.

Ibu berkata: "Tetapi sampai sekarang belum seorang juga di antara kita yang berbuat sedemikian."

"Kalau begitu mémang telah datang waktunya sekarang, yang kita akan berbuat sedemikian," jawabku pula.

"Tetapi engkau telah tahu, bahasa segala permulaan itu sukar adanya, tahukah engkau lagi bahwa tiap-tiap oiang yang bermula membuat sesuatu pekerjaan, amat susah untung nasibnya? Kecelaan, kecéwa, datang berganti-ganti dan banyaklah pula penggodaan yang akan menimpanya, tahukah engkau sekaliannya itu?" kata ibu.

"ya, tahu keadaan itu! Hal-hal yang sedemikian bu­kan kemarin dan sekarang saja telah terkandung dalam kalbuku, tetapi telah bertahun-tahun lamanya," jawabku pula.

ALUN-ALUN DI JEPARA.

Apakah kebaikannya kepadamu? Adakah ia mencukupi nafsumu? Dapatkah ia menjadikan engkau beruntung?" sahut ibu pula.

Saya tahu bahasa jalan yang akan tempuh itu banyak kesukarannya, penuh dengan batu, duri dan ranjau, banyak berlubang-lubang berisi dengan benda yang runcing dan tajam, lagi berkélok-kélok dan berlumpur, ya, sebab jalan itu ........... masih belum ditebas orang! Meskipun saya karena menempuh jalan itu tiada akan beruntung, ataupun karena itu saya akan meninggal dunia ditengah jalan, biarlah, senanglah hatiku berpulang kerahmatu'llah dengan cara sedemikian. Apabila jalan itu kelak terbuka dengan usahaku, meskipun dalam hal itu diriku sendiri akan menjadi kurbannya, sayapun akan bersukacita, karena saya ketahui, yang saya telah membukakan suatu jalan, yang boléh membawa perempuan-perempuan bangsa Bumiputera kepadang kebébasan dan pandai tegak sendiri dalam hidup bersama-sama. Alangkah syukurnya saya kepada Allah, jika orang-orang tua anak-anak perempuan yang lain, menggemari pula hendak tegak sendiri, tidak pernah akan berkata kepada anak perempuan: "Belum ada seorang juga di antara kaum keluarga kita yang telah berbuat seperti itu."

Sungguh ajaib sekali, karena waktu saya mengeluarkan kata-kata itu, saya tidak sedikit juga merasa takut atau ngeri dan gentar, melainkan hatiku ketika itu betul-betul berani dan sabar, sayang hatiku yang bodoh dan gila ini menyebabkan pula dalam hal itu kepiluan yang amat sangat.

October 1900 (II)[sunting]

Saya suka belajar untuk menjadi guru, hendak mendapat dua buah diploma yaitu diploma guru bantu dan diploma guru kepala dan dalam itu hendak saya pelajari lagi perkara keséhatan tubuh, barut-membarut orang luka dan menjaga orang sakit.

Dan kemudian sekali baharulah kehendak saya belajar untuk memperoléh diploma yakni diploma bahasa, bahasaku sendiri. Dan setelah kami tammat belajar, maka kami berdua akan mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan kepala-kepala negeri. Saya terlalu suka belajar dinegeri Belanda, karena tanah Belandalah yang sanggup melengkapkan saya dalam segala hal, untuk pikulan yang' berat dan besar, yang hendak saya pikulkan kebahuku.

..............................................................

Telah kerap kali selama hidupku, saya merasai bahwa lalunya kehendak hati itu kebiasaan bersama-sama dengan kelukaan hati.

Rupa-rupa kejadian dalam waktu-waktu yang lalu telah menyatakan, yang kita manusia hanya memikirkan, dan Allah jualah yang menjadikan. Sekaliannya itu hendaknya menjadi kiasan bagi kita manusia, yang tidak luas pemandangan, yakni kiasan, supaya manusia itu jangan terlampau berbesar hati sekali mempercayai dirinya sendiri saja, mengirakan bahasa kita betul-betul mempunyai "kemauan" sendiri sambil melupakan Allah.

Mémang adalah suatu kekuasaan, yang lebih keras dan lebih kuasa dari pada kemauan sekalian manusia, dialam ini. Sungguh sia-sialah orang yang membesarkan dirinya dan menyombong mengatakan: kemauannya besar dan keras sekeras besi!

Hanyalah sesuatu saja kemauan yang wajib dan patut kita punyai yakni: kemauan memuliakan dia, Tuhan yang baik!

Tidak usahlah saya katakan kepada nyonya, karena nyonya sendiri telah tahu bahasa kami kedua sangat berharap dan beringin hendak bertemu lagi dengan tuan kedua di Semarang atau di tempat lain. Pertemuan itu sangat kami ingini, o, kekasih kami yang dicinta, tetapi keinginan kami tidak dapatlah kami mengharapkan sungguh-sungguh. Hanyalah kami berharap dan meminta, Allah akan mengabulkan cita-cita kami itu! Tentulah telah banyak perubahan dalam hati kami, maka kami berkata sedemikian.

Ya, amat banyaklah sudah, yang berubah dihati kami, bukan buatan banyaknya!

O, ma', kami tidak dapat mengatakan kepada tuan betapa girang dan terima kasih kami, karena kami telah berkenalan dengan nyonya van Kol.

"Orang yang sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya, ialah machluk yang lemah dan murah hatinya," kata nyonya itu...

Dan kami tambah lagi: "Manusia itu bersifat fana!" jangan harap kepada manusia!............ Bukantah tidak salah sekalian itu saya katakan kepada nyonya, karena tempat kami berharap ialah manusia?........... kami mencari kekuatanpun pada manusia juga............ Segala kejadian-kejadian yang kami rasai dalam hidup kami pada tahun-tahun yang achir ini, menyatakan kepada kami betapa kami telah menempuh jalan yang sesat.

Kami banyak mengucap terima kasih kepada Nellie van Kol, karena ia telah menunjukkan kepada kami jalan yang sebenar-benarnya kepadang kebébasan.

Tidak ada seorang manusia yang bébas apabila kasihnya telah tertumpah kepada seseorang yang lain. Berharap kepada seseorang artinya menyerahkan dirinya jadi tawanan kepada orang itu. jalan kepada Allah dan kepadang kebébasan yang sebenarnya hanyalah sebuah saja. Siapa yang memperhambakan dirinya kepada Allah, tidaklah ia menjadi tawanan orang, melainkan ialah sebenar-benarnya orang yang bébas.

Dalam beberapa hari ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan hatiku, yang menjadikan kami putus asa, sebelum perubahan Allah datang.

Tetapi sekarang kami pegang teguh-teguh tangan perubahan itu, dan kepadanya kami tentangkan benar-benar mata kami, dengan tiada menoléh-noléh kekiri dan kekanan. Ia tentulah akan mengemudikan kami pula......... menimbang hal keadaan kami dengan kasih sayang.......... Waktu itulah waktu yang gelap akan menjadi terang, dan angin ribut akan menjadi angin yang lemah lembut.

Sekalian yang mengelilingi kami tinggallah seperti sediakala, tetapi bagi kami tidaklah rasanya dia seperti dahulu lagi. Perubahan yang sebenarnya telah ada dihati kami, perubahan itu menyinari sekaliannya, dengan cahaya yang terang. Damai dan sentosa timbullah dihati kami.......... Ma', kami sekarang beruntung dan berbahagia.

Bahagia itu bukanlah dengan bergila-gila dan bersorak-sorai, tetapi ialah dengan damai, sabar dan insaf.

Bukan kepalang suka hati kami hendak memperbincangkan hal itu sekaliannya dengan nyonya. Tuan van Kol........telah mengirimkan kepada kami secarik kecil koyakan surat isterinya dan tersebutlah dalamnya "tetapi sekali-kali janganlah mau mengangkat diri! karena segala kemuliaan semata-mata ialah rahmat Allah!" Sesuailah dengan yang telah acap kali dikatakan ibu kepada kami. Peringatan itu amat berguna kepada kami, sebab semenjak kecil kami selalu hidup didunia dengan manja dan penuh pujian.

Kepada kami, terutama kepada kami berguna amat peringatan itu untuk menjauhkan kami dari penyakit mengangkat diri itu, karena ialah suatu gosong tempat kapal terdampar dan berbahaya, bila nyawa manusia berpulang; kerahmatu'llah!

Kami selalu mendoa meminta kodrat dan kekuatan, supaya dapatlah kami dengan sempurna menanggung suka dan duka. Lebih-lebih untuk kesukaan hati, karena dalam suka itu biasanya adalah penggodaan yang besar. Kebanyakan kapal-kapal yang bermuat dengan hidup anak-anak muda berubah haluannya, bila saja angin ribut kesukaan telah datang menghambusnya, dan pada waktu itulah pula ia kerap kali segera tenggelam! Alangkah sombongnya perkataanku, bukan. Bila nyonya bertemu dengan saya nanti, hélakanlah telingaku.

Betapalah gerangan perasaan kita kedua belah pihak, bila kita nanti dapat bertemu lagi! Saya tahu rasanya apa yang mula-mula akan nyonya katakan kepadaku: "Hai 'nak, alangkah gemuknya engkau sekarang!" Saya menjawab dengan berbisik kepada nyonya: "Dimukaku rupanya saya telah menjadi tua, tetapi dihatiku adalah tertulis dengan huruf emas, kata: cinta, yang senantiasa tinggal tetap, selalu muda."

1 November 1900 (VIII)[sunting]

Kabar baik!

O, saya amat beruntung dan berbahagia! dan saya tahu untuk menjadi guru! ucapkanlah kepadaku selamat! Peluklah saya dalam kenang-kenangan nyonya, pandanglah bahagia yang bercahaya-cahaya yang keluar dari mataku! Saya telah bercakap dengan bapak dan berceritera kepadanya, apa yang telah nyonya minta kepadaku dahulu, ketika nyonya masih tinggal disini! Bapakpun suka memperkenankan hal itu! Suka sekali mengabulkannya! Sekarang boléhlah saya duduk dibangku sekolah, supaya nanti saya boléh lagi berdiri dimuka bangku itu, bila telah ada berhak memperbuat demikian.

Boléh dan mau! mau dan boléh! tidak ada yang sebagus susunan kedua kata itu! dan dengan kata "cakap" sempurnalah dia menjadi tiga sejoli!

Mau artinya cakap, bukan?

O, saya boléh! saya boléh, saya boléh pergi belajar yang tuan kedua akan beriang hati mendengarkan untung bahagiaku itu.

Sekarang betullah saya belum menjadi apa-apa, tetapi nanti boléh saya menjadi barang sesuatunya, sungguh senang sekali! "Berharaplah, percayalah dan hendaklah berani!"

Ketiga kata-kata itu, yakni kata-kata nyonya yang selalu saya kenang-kenangkan, dan selalu kata-kata itu setia mengiringkan saya, ketika saya tadi pergi menghadap bapak dan bercakap dengan dia.

Saya amat sabar dan riang sedikit waktu itu, sungguh pun lebih dahulu saya telah merasa, yang percakapan itu akan baik kesudahannya. Bapak menyukai benar pikiranku, hendak menjadi guru disekolah untuk anak-anak perempuan itu. Alangkah lemah lembut bapak berkata ketika itu dengan saya! O, tiadalah saya salah sangka akan dia, yang ia menyanyangi anaknya dan mengerti benar-benar akan kehendak si anak itu.

Dahulu saya telah berdiri ditepi tebing yang amat curam, dan telah menéngok kelurah yang dalam, dengan gelap gulitanya! Sekalian itu waktunya telah terlampau! cinta kasih sayang telah melompatkan saya keseberang lurah yang dalam itu.

Maulah rasanya saya memeluk dunia ini, karena kesukaan hati yang sebenar-benarnya itu.

Izin dan berkat dari bapak itu telah saya junjung tinggi, dan itulah sebabnya maka segala aral besar-besar yang melintang jalan hidupku yang akan datang, sekarang telah hilang dan hapus.

2 November 1900 (II)[sunting]

Suatu rahsia yang penting sekali hendak kubisikkan kepada nyonya, kekasihku yang dicinta, saya berharap sangat dan percaya, yang rahsia ini sedikit hari lagi tidak akan menjadi rahasia lagi! O, saya sangat beruntung! Peluklah saya dengan kedua belah tangan, dan rengkuhlah mukaku kehati nyonya, ciumlah kepalaku dan ucapkan selamat kepadaku, o kekasihku! Bukanlah kenang-kenangan yang hampa dan tidaklah mimpi yang kosong yang saya kejar itu, dengarlah oléhmu, ma', saya telah membebaskan diriku dan boléh tegak sendiri! Saya boléh menjabat pekerjaan! Sejak kemarin saya merasa diriku seakan-akan tidak hidup lagi, tetap, rasanya tempatku jauh dari rumah yakni dalam surga bahagia dan rahmat!

Saya boléh! Saya boléh! Saya boléh! telah beribu-ribu kali saya ulangi kata itu dan selalu hendak saya ulangi lagi'

O sekalian anggotaku turut beriang hati, bersuka raya, hal itu tentu dapat nyonya ma'lumkan, bukan, ma'? nyonyalah yang mengenal saya sampai ke dalam hati kecilku, dan nyonyapun tahu pula bahasa belum lama antaranya angin ribut telah melanggar hatiku, ketika itu betullah dia menjadi suatu kesengsaraan bagiku yang telah saya perangi dengan hebat. Tetapi semuanya itu adalah mendatangkan kebaikan bagiku, peperangan yang hébat dalam hatiku itu telah menguatkan saya!

O, ma', jikalau perkara di Betawi dan di Mojowarno telah selesai, tentulah akan mulai peperangan yang hébat bagiku. Kedua tempat itu menghéla hatiku; pihak yang satu karena dekat pada nyonya, dan dapat bersama-sama dengan saudaraku, yang tentu akan datang ke Mojowarno, bila kabar yang kami terima nanti tentang halku, kabar baik.................. disana negeri kecil, jauh dari riuh rendah seperti di kota, dan jauh dari asung fitnah manusia dan diam ditengah-tengah meréka, yang berhati suci dan bersih, yang hidup dalam udara yang suci, sambil berkasih-kasihan sesamanya manusia........dan pihak yang satu lagi...........?

"Barang suatu dengan mudah dan kemalasan boléh didapat, tidak adalah yang lama boléh berharga dan lama boléh memberi sukacita untuk kita," kata nyonya Abendanon. Tetapi tidak usahlah saya pecahkan kepalaku untuk pemilihan itu. Perlahan-lahan dan dengan sabar boléhlah juga kita sampai ketempat yang kita tujui, apalagi pekerjaan yang gopoh-gapah biasanya melambatkan. Biarlah saya dengar saja suara, yang dibisikkan oléh kalbuku, dan apa-apa kata suara itu akan saya bandinglah dengan pikiran yang keluar dari otakku. Baikkah dilakukan sedemikian, ma'?