Manajemen Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan/Skema pembiayaan sarana angkutan sungai danau dan penyeberangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Jump to navigation Jump to search

Semua peluang harus dimanfaatkan untuk penyediaan infrastruktur, terutama dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebagaimana di canangkan oleh Pemerintah. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembiayaan sarana ASDP, yaitu:

  1. Pada lintasan keperintisan, armada kapal biasanya diadakan oleh pemerintah pusat ataupun Pemerintah Daerah. Biasanya kalau dilaksanakan oleh pemerintah maka pengadaannya adalah kapal baru yang dibangun didalam negeri. Pemerintah Provinsi Bali pernah mengadakan kapal penyeberangan untuk lintasan penyeberangan Padang Bai – Nusa Penida.
  2. Pada lintasan komersil, armada diadakan oleh sektor swasta, berdampingan dengan PT ASDP yang telah merintis lintasan tersebut. Kapal yang digunakan pihak swasta biasanya menggunakan kapal bekas yang dibeli dari Jepang, Eropah ataupun Philipina. Dalam hal pengoperasian kapal bekas berbagai hal harus dipertimbangkan seperti kedalaman alur, kemampuan dermaga, panjang kapal maksimum, lebar kapal maksimum, jenis kapal yang sesuai dengan lintasan sehingga kapal yang mau dijual dipasar international harus diteliti terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan kondisi dan situasi lintasan yang akan diisi.

Pilihan kapal baru vs kapal bekas[sunting]

Pilihan membeli kapal baru vs kapal bekas terutama terletak pada harga kapal, kapal baru cenderung lebih mahal sehingga di industri ASDP Indonesia sangat jarang digunakan kapal baru, umumnya membeli kapal bekas dari berbagai negara seperti Jepang, Korea. Di Indonesia[1] faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

  • Sisa life-time kapal
  • Harga Pasar Kapal Baru
  • Harga Pasar Kapal Bekas Sejenis (nasional dan internasional)
  • Penilaian teknis kapal per item
  • Level biaya scrapping (pembesi-tuaan kapal)

Namun di samping harga patokan, yang dipengaruhi faktor-faktor di atas, harga kapal bekas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non-teknis yang dapat dinegosiasikan. Faktor-faktor tersebut adalah; biaya atau fee agensi (broker), aturan-aturan suatu wilayah atau negara, dan tingkat kebutuhan pembeli. Kapal-kapal yang berumur 20 tahunan biasanya bisa dibeli dengan kisaran harga 20 sampai 25 persen dari harga kapal baru.

Komponen utama dalam pembuatan kapal baru meliputi:

  1. Konstruksi bangunan kapal, yang meliputi Lunas Kapal, Plat Kulit, Gading-gading (frames), Geladak, Konstruksi Bawah, Kemudi & Tongkat Kemudi, Bangunan Atas, Rumah Geladak dan Bulwark
  2. Peralatan kapal yang terdiri dari Peralatan tambat, Peralatan Keselamatan, Ruang Akomodasi & Gudang, Ventilasi Ruangan Akomodasi, Peralatan Navigasi & Komunikasi, Peralatan Pemadam Kebakaran, Peralatan Bongkar/Muat (Ramp door), Peralatan Instalasi Listrik Kapal, Sistem Perpipaan, Sundry
  3. Permesinan yang digunakan di geladak kapal yang terdiri dari Steering gear, Windlass, Capstain
  4. Sistem penggerak kapal yang terdiri dari Motor Induk, Sistem Kontrol Motor Induk, Gearbox, Poros Antara & Poros Propeller, Tabung Poros, Bantalan Poros dan Propeller
  5. Sistem permesinan bantu yang terdiri dari Generator, Sistem Udara Start, Peralatan Sundry Kamar Mesin

Umur kapal[sunting]

Untuk menetapkan sampai seberapa lama suatu kapal dipertahankan untuk memberikan pelayanan merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Secara praktis dapat dilakukan atas pengamatan yang menerus terhadap pengoperasian kapal. Untuk beberapa aspek biaya perawatan atau perbaikan menjadi acuan apakah lebih ekonomis kalau diganti. Pergantian kapal tergantung kepada beberapa faktor diantaranya

  1. kapal telah ketinggalan zaman,
  2. harga kapal bekas yang menarik sehingga lebih menguntungkan untuk menjual kapal dan membangun kapal baru,
  3. Perubahan tehnologi yang menyangkut paralatan dan perlengkapan kapal
  4. melampaui umur ekonomis ataupun umur teknis kapal

Untuk memperhitungkan umur optimal kapal dapat menggunakan pendekatan biaya tahunan rata-rata (Average Annual Cost). Dalam metoda ini dibutuhkan informasi mengenai besarnya biaya investasi awal, biaya operasi tahunan, eskalasi dari pengeluaran, nilai sisa setiap tahun dan tingkat suku bunga yang berlaku.

Dalam metoda ini harus dilakukan :

  1. merubah biaya investasi ke biaya tahunan menggunakan Capital recovery (CR) method
  2. merubah nilai akhir dengan metoda Sinking fund method
  3. Merubah biaya operasi kedalam nilai tahunan dengan menggunakan nilai sekarangnya (PW)
  4. Menjumlahkan semua elemen setiap tahunnya, penjumlahan terendah menujukkan tahun dimana umur ekonomis kapal tercapai

Bab5.1.jpg

Harga kapal vs umur[sunting]

Harga kapal bekas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

  • Riwayat penggunaan kapal
  • Riwayat perawatan kapal
  • Material yang digunakan
  • Kondisi kapal
  • Mesin utama dan mesin bantu yang digunakan

Pendanaan[sunting]

Perbankan nasional diharapkan mendukung pembiayaan melalui skema khusus bagi industri galangan kapal nasional. karena, belum ada kebijakan suku bunga khusus bagi pelaku usaha di sektor perkapalan. Inilah menjadi salah satu hambatan dalam investasi kapal adalah besarnya suku bunga pinjaman yang saat ini berlaku.

Keterkaitan antara suku bunga dengan jumlah pengembalian uang dapat dilihat dalam gambar berikut:

Bab5.2.jpg

Pilihan Kapal[sunting]

Pilihan kapal yang digunakan tergantung kepada besarnya permintaan angkutan, semakin besar permintaan angkutan semakin besar ukuran kapal yang digunakan dan hal itu masih perlu dikaitkan lagi dengan frekuensi pelayanan.

Pada pelayanan penyeberangan diwilayah perkotaan biasanya dibutuhkan frekuensi yang tinggi, seperti yang dilakukan pada pelayanan penyeberangan antara Ujung-Kamal yang merupakan fasilitas penyeberangan yang sangat penting sebelum Jembatan Sura-madu dioperasikan, penyeberangan Poka-Galala di Ambon. Dalam kasus seperti ini ukuran kapal yang digunakan cenderung kecil agar frekuensi pelayanan bisa lebih kerap.

Ukuran kapal optimum[sunting]

Ukuran kapal[2] untuk pelayanan penyeberangan yang digunakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

  • Besarnya arus kendaraan dan penumpang yang melalui lintasan penyeberangan
  • Tren pertumbuhan arus kendaraan dan penumpang
  • Kecepatan bongkar muat
  • Daya dukung dermaga, moveble bridge
  • Jarak pelayaran
  • Frekuensi pelayanan
  • Biaya operasi kapal

Geladak kendaraan Tunggal Vs Geladak majemuk[sunting]

Besarnya kapal tergantung kepada demand yang dilayani, berikut disampaikan dimensi berbagai kapal[3]. Semakin besar demand semakin besar kapal yang digunakan dan atau semakin tinggi frekuensi pelayanan yang diberikan untuk memenuhi pelayanan. Kapal yang besar efisien untuk demand yang tinggi, namun waktu bongkar muat yang dibutuhkan juga lebih lama, untuk mengatasi hal tersebut masih bisa dioptimalkan dengan menggunakan side ramp door disamping ramp door utama kapal.

Bab5.3.jpg

Optimalisasi[sunting]

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengoptimalisasi kapasitas angkut kapal, seperti memperpanjang, menambah atau merubah geladak kapal. Dalam pemesanan kapal baru dapat digunakan pendekatan dengan desain kapal dengan bentuk lambung yang efisien. Selain itu masih dapat dilakukan optimalisasi pada penggerak kapal.

Kiat memperpanjang kapal[sunting]

Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kapasitas angkut kapal roro adalah dengan melakukan perpanjangan kapal dengan menambah panjang lambung dibagian tengah kapal. Untuk melakukan hal ini beberapa hal yang harus dilakukan diawali dengan kajian untuk mengukur stabilitas kapal, penambahan kemampuan mesin kapal dan berbagai detail lainnya[4].

Biaya ekonomi pertambahan panjang kapal sebesar 25 persen akan menambah biaya sebesar 10 persen (SC1) dan penambahan panjang kapal sebesar 50 persen akan menambah biaya sebesar 28 persen (SC2), sedang biaya operasi meningkat 8 pesen untuk SC1 dan 18 persen untuk SC2.

Bab5,4.jpg

Parameter ESC-0 ESC-1 ESC-2
Pertambahan panjang (%L) 0 25 50
LOA (m) 166,77 206,18 244,97
LPP (m) 157,65 206,18 235,85
BMLD (m) 23.40 23.40 23.40
T(m) 5,8 4,97 4,5
KB (m) 3,26 2,69 2,36
BM (m) 9,01 10,25 11,35
KG (m) 10,42 10,83 10,87
MG (m) 1,85 2,11 2,84
Cb (-) 0,61 0,64 0,66
Depth to main deck (m) 8,6 8,6 8,6
Depth to upperdeck (m) 14,40 14,40 14,40
Lightshipweight (t) 7417 9126 11176
Deadweight (t) 6020 6020 6020
Displacement (t) 13437 15146 17196
Speed (kn) 22 22 22
Propulsion power (kW) 24480 25700 33500
Passengers (-) 120 120 120
Lane length upperdeck (m) 930 1190 1450
Trailer capacity 40t(-) 156 165 1165
Gross tonnage (t) 17464 21452 25396
Net tonnage (t) 5239 6436 7619

Optimalisasi operasi kapal[sunting]

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pemilik dalam meningkatkan optimalisasi kapal untuk menurunkan biaya operasional kapal yang antara lain dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Propeler[sunting]

Bentuk dan bahan yang digunakan pada propeler kapal yang digunakan sangat mempengaruhi keekonomian kapal yang berpengaruh kepada kecepatan kapal[5]. Berikut beberapa faktor yang diperhatikan dalam desian propeler yang digunakan:

  • Diameter propeler yang lebih besar yang mempengaruhi :
    • Efisiensi propeler yang lebih baik
    • Kecepatan propeler yang lebih rendah
  • Jumlah daun propeler yang lebih sedikit yang mempengaruhi :
    • Peningkatan efisiensi propeler
    • Meningkatkan kecepatan propeler optimum

Untuk itu biasanya digunakan sofware yang khusus untuk membuat desain propeler kapal.

Mesin[sunting]

Kriteria yang penting dalam pemilihan mesin kapal antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut: Besarnya tenaga kuda (HP atau KW) yang dibutuhkan untuk menggerakkan kapal, berat mesin, ruang yang dibutuhkan, biaya operasi mesin, kebutuhan tenaga listrik, kehandalan dan kemudahan perawatan, kemampuan manuver, kemudahan pemasangan, getaran yang ditimbulkan, kebisingan dan kemudahan untuk mendapatkan mesin tersebut untuk itu lebih disarankan untuk menggunakan mesin kapal yang populasinya tinggi sehingga mempermudah dan mempercepat pengadaan suku cadang kapal.

Selain itu beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan mesin utama kapal yang perlu diperhatikan seperti:

  • Meningkatkan ratio tekanan pmax/pmep
  • Memperbesar Rasio Stroke/Bore untuk meningkatkan efisiensi mesin,
  • Penggunaan perangkat pengendali elektronik seperti penggunaan Common rail untuk meningkatkan efisiensi mesin karena pembakaran bisa dilakukan dengan lebih optimal.

Informasi mengenai kriteria tersebut diatas penting untuk diketahui dalam rangka mengukur besaran gaya-gaya yang dikibatkan oleh mesin yang bekerja pada kapal (lambung, struktur kapal).

Kecepatan[sunting]

Biaya operasi yang sangat berpengaruh dalam keekonomian kapal adalah kecepatan kapal. Oleh karena penetapan kecepatan yang paling sesuai harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti nilai dari barang yang diangkut, biaya operasi kapal.

Bab5.5.jpg

Kecepatan kapal diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Kecepatan optimal, yang merupakan kecepatan dimana diperoleh keuntungan yang paling besar, pada harga pasar tertentu.
  2. Kecepatan keuntungan nihil, merupakan kecepatan pada biaya angkut terendah, tanpa memperoleh keuntungan.
  3. Kecepatan ekonomis, adalah kecepatan dimana biaya per ton-mil yang terendah, kecepatan tidak tergantung kepada tarip angkutan, pada tarif ini adakalanya menuntungkan tapi dapat juga merugi, terbaik digunakan bila muatan ayang diangkut stabil dan tidak ada lonjakan muatan yang besar yang biasanya terjadi pada kondisi pasar yang lagi depresi.

Bab5.6.jpg

Pendanaan Sarana Angkutan Sungai dan Penyeberangan[sunting]

Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk pendanaan pengadaan sarana ASDP, antara lain melalui pendanaan dengan modal sendiri, melalui pinjaman dari lembaga keuangan, sewa guna usaha yang lebih dikenal dengan leasing, menerbitkan obligasi, menerbitkan surat berharga, penjualan saham dan berbagai bentuk yang lazim digunakan oleh perusahaan pelayaran.

Pinjaman dari lembaga Keuangan[sunting]

Merupakan salah satu metoda yang lazim digunakan oleh perusahaan pelayaran dengan meminjam sebagian dari kebutuhan anggaran pengadaan kapal dari lembaga keuangan. Besarnya pinjaman berkisar antara 50 samai 70 persen, sedangkan modal sendiri berkisar antara 30 sampai 50 persen. Untuk meyakinkan pihak lembaga keuangan perlu mempersiapkan kelayakan dari pinjaman tersebut yang dilengkapi dengan jaminan kalau kajian tersebut tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lembaga keuangan:

  • Reputasi lembaga keuangan
  • Suku bunga pinjaman, masa pengembalian, masa tenggang (grace period)
  • Persyaratan yang ditetapkan lebaga keuangan
  • Bank yang menjadi nasabah perusahaan

Sewa Guna Usaha[sunting]

Leasing atau sewa-guna-usaha[6] adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.Metoda ini sangat populer untuk pembelian kendaraan bermotor demikian juga dalam pengadaan pesawat terbang.

Penjualan Obligasi[sunting]

Salah satu cara lain yang dilakukan dalam pendanaan sarana ASDP adalah melalui Obligasi. Obligasi[7] didefinisikan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran. Ketentuan lain dapat juga dicantumkan dalam obligasi tersebut seperti misalnya identitas pemegang obligasi, pembatasan-pembatasan atas tindakan hukum yang dilakukan oleh penerbit.

Referensi[sunting]

  1. Ir. Surjo W. Adji, M.Sc Workshop Bank Indonesia, Jakarta, 7 – 8 Juni 2004, Prospek Dunia Usaha dan Potensi Pembiayaannya Oleh Perbankan, Industri Perkapalan Indonesia : Menyongsong Masa Depan, Surabaya, 2 0 0 4
  2. Schneekluth,H.,V. Bertram, Ship Design for Efficiency & Ekonomy, Second edition, Butterworth-Heinemann, London, 1998
  3. Ro-ro ships Compared http://www.globalsecurity.org/military/ systems/ship/ro-ro-comp.htm
  4. Journée, J,M.C., Jakob Pinkster and S.G. Tan, Conference on Practical Design of Ships and Mobile Structures, Developments in Marine Technology, Enlarged Ship Concept, Applied to Ro-Ro Cargo/Passenger Vessels, The Hague 1998
  5. Clausen, N.B., Marine Diesel Engines How Efficient can a Two-Stroke Engine be?, MAN Diesel A/S, Copenhagen/Denmark
  6. Afandi Kusuma, Ingin berbagi saja [1] diunduh pada tanggal 13 Juni 2013
  7. Wikipedia [2], diunduh pada tanggal 13 Juni 2013