Lompat ke isi

Makhluk Legenda Yunani-Romawi/Cacing Indus

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Cacing Indus

Cacing indus (helmis indos) adalah cacing putih raksasa pemakan daging yang hidup di Sungai Indus di India.[1]

Cacing indus bisa tumbuh hingga 3 meter bahkan lebih. Tubuhnya juga sangat besar.[2]

Pada rahang atas dan rahang bawahnya, masing-masing terdapat satu buah gigi berbentuk persegi sepanjang lebih dari 45 cm. Gigi tersebut sangat kuat dan mampu menembus bahkan batu sekalipun.[3]

Cacing indus memangsa segala jenis makhluk. Pada siang hari, hewan ini lebih suka berdiam di dasar sungai. Akan tetapi pada malam hari, cacing indus keluar dari sungai dan menerkam makhluk hidup yang ditemuinya, misalnya hewan ternak, hewan liar, atau bahkan manusia, lalu menyeretnya ke dalam sungai dan memakannya di sana. Meskipun demikian, cacing ini juga dapat mencari mangsa pada siang hari jika memang lapar. Makhluk yang sering menjadi korban cacing indus biasanya adalah hewan atau orang yang sedang meminum air sungai Indus.[3] Cacing indus menelan semua bagian tubuh mangsanya kecuali isi perutnya.[2]

Meskipun berbahaya, cacing indus seringkali diburu oleh orang-orang India karena tubuhnya menghasilkan minyak yang dapat digunakan untuk menghasilkan api yang tak mudah padam.[1] Untuk memancing hewan ini, orang India menggunakan rantai besi serta tali yang kuat dengan ujung berupa pengait besar. Rantai dan pengaitnya dilapisi kain tebal supaya tidak digigiti oleh cacing indus. Di ujung pengaitnya dipasang umpan, yang bisa berupa hewan ternak atau bahkan anak kecil.[3] Pengait itu lalu ditenggelemakan ke dalam sungai dan orang-orang India menunggu hingga cacing indus menerkam umpannya. Jika diketahui bahwa cacing indus telah memakan umpan, para pemburu, yang jumlahnya bisa mencapai 30 orang, akan menarik tali hingga cacing Indus terseret keluar dari sungai. Setelah itu, mereka menyereng cacing itu menggunakan tombak, pedang, atau gada, hingga hewan tersebut mati.[2]

Setelah ditangkap, tubuh hewan ini dijemur selama tiga puluh hari. Selama dijemur, dari tubuhnya menetes minyak yang dapat mengisi hingga sepuluh guci kotylai Attika.[2]

Minyak cacing indus dikirim kepada raja India, karena memang hanya raja yang boleh menggunakannya. Minyak tersebut dapat membuat semua benda terbakar, dan apinya hanya dapat dipadamkan dengan lumpur dalam jumlah banyak.[2]

Catatan kaki

[sunting]
  1. 1,0 1,1 Philostratos, Kehidupan Apollonios dari Tyana 3. 1
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 Ktesias, Indika, dalam Photios, Myriobiblon 72
  3. 3,0 3,1 3,2 Aelianus, Mengenai Hewan 5.3