Lompat ke isi

Makhluk Legenda Yunani-Romawi/Mantikora

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Mantikora
Mantikora

Mantikora (mantikhoras) adalah hewan di India yang memiliki badan singa, wajah manusia, rambut yang lebat, kulit berwarna merah, mulut berisi tiga baris gigi tajam pada masing-masing rahang, mata berwarna biru kelabu, dan telinga yang besar.[1][2] Hewan ini kuat, buas, gesit, dan cepat.[3]

Mantikora memiliki cakar yang tajam, tapi bagian tubuhnya yang paling berbahaya adalah ekornya. Ekor mantikora berbentuk mirip ekor kalajengking dengan sengat di ujungnya sepanjang sekitar 30–45 cm. Beberapa sengat juga terdapat di bagian samping ekornya serta di atas kepalanya.[1] Sengat Mantikora mengandung racun yang amat mematikan.[2] Untuk menyerang musuh pada jarak yang jauh, mantikora dapat melontarkan sengat tersebut dari ekornya.[4] Jangkauan terjauh lontaran sengat mantikora adalah ketika makhluk ini melontarkan sengatnya ke arah belakang, yaitu bisa lebih dari 30 meter. Jika telah melemparkan sengatnya, mantikora dapat menumbuhkan kembali sengat itu pada ekornya.[2]

Mantikora senang memakan manusia, sehingga hewan ini disebut juga anthropophagos ("pemakan manusia").[2] Selain itu, Mantikora juga mampu membunuh semua hewan liar lainnya, dan hanya singa yang tak dapat dikalahkan oleh mantikora.[3]

Orang India membunuh mantikora dengan cara menyerangnya menggunakan tombak dan panah.[2] Mereka biasanya memburu mantikora sambil menunggangi gajah, karena racun pada sengat mantikora tidak mampu membunuh gajah. Sebagian orang India lainnya memburu mantikora yang masih kecil dan belum menumbuhkan sengat. Anak mantikora biasanya dibunuh menggunakan bongkahan batu. Ada pula mantikora yang ditangkap oleh orang India sebagai hadiah bagi raja Persia.[3]

Mantikora memiliki suara mirip terompet.[1][3]

Plinius menulis bahwa di Ethiopia juga terdapat mantikora, dan di daerah tersebut hewan ini dapat meniru suara manusia.[5]

Kisah mantikora kemungkinan merupakan penggambaran berlebihan mengenai harimau.[4]

Catatan kaki[sunting]

  1. 1,0 1,1 1,2 Plinius Tua, Sejarah Alam 8. 75
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 Ktesias, Indika, dalam Photios, Myriobiblon 72
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 Aelianus, Mengenai Hewan, 4. 21
  4. 4,0 4,1 Pausanias, Hellados Periegesis 9. 21. 4
  5. Plinius Tua, Sejarah Alam' '8. 45