Aku Ingin Menjadi yang Terbaik Untukmu, Bukan yang Tercantik Bagimu/Senyuman Pertama Bukan Pandangan Pertama

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Aku Ingin Menjadi yang Terbaik Untukmu, Bukan yang Tercantik Bagimu.jpeg
Aku Ingin Menjadi yang Terbaik Untukmu, Bukan yang Tercantik Bagimu
Oleh:
Tisa Nuraini
Daftar isi:

Pandangan Pertama


Sunting daftar isi

Neza berdiri tengah-tengah kerumunan orang. Semua orang tampak ribut. Terlihat di depan Neza berdiri seorang lelaki yang sudah tak asing lagi. Lelaki itu bernama Akbar. Dengan mata penuh makna Akbar memandang mata Neza. Neza pun tak kalah tajamnya menatap mata Akbar.

“Neza…” Akbar memanggil Neza. Semua orang pun terdiam, sejenak suasana tampak hening. Dari balik kerumunan orang terdengar musik klasik yang mengalun lembut. Suasana mendadak romantis.

Neza mendadak bingung apa yang sedang terjadi. Kenapa Akbar memanggil namanya. Dan sekarang Akbar mau memegang tangan Neza.

“Oh my God… dia mau ngapain??? Jangan-jangan mau nembak gue… duh, tuh tangannya nyentuh tangan gue…” neza berkata dalam hati. Keringat dingin pun keluar dari tubuh Neza.

Neza tampak seperti orang kebingungan. Melihat tingkah Akbar yang menurutnya aneh itu. Akbar pun menggenggam kedua tangan Neza . suasana pun semakin romantis.

“NEZAAAAA, woi bangun…!!!! Udah jam 6, kamu mau sekolah jam berapa? Jam segini belum bangun.” Omel Gina, kakak Neza dari balik pintu.

Neza gadis berkulit kuning langsat ini segera bangun karena mendengar suara kakaknya yang sangat nyaring itu.

“Iya kak,..” Neza yang terbangun menjawab sekenanya.

Neza membuka pintu kamarnya, “yah, kakak nih. Aku lagi mimpi indah-indahnya ma kak Akbar.” Celutuk Neza.

“Yeh, hari gini masih mimpi?? Buat jadi nyata donk, jangan cuma mimpi aje… bisa-bisa gila loh, kebanyakan mimpi sih.” Ucap kak gina.

“Biarin aja mimpi, yang penting senang.” gerutu Neza yang sedang berjalan ke arah kamar mandi.

Tetes demi tetes air yang keluar dari shower membasahi tubuh Neza. Setelah selesai mandi dan mengunakan seragam putih abunya. Neza menuju ruang makan yang disana telah adik kakak dan kedua orang tua Neza.

“Pagi semua…”sapa Neza.

“Eh, anak papah yang cantik ini udah siap.. yuk, ditunggu di mobil ya. Cepetan.” Ucap papah neza.

“Yah, papah Neza baru aja mau sarapan nih.” Neza berlaga manja.

“Makanya, siapa suruh bangun kesiangan… cepet akh, ditunggu dimobil, gak pake lama.” Pintah kak Gina.

“Huh,. Yayaya…” Neza jawab sekenanya.

“Kamu sih, bangun kesiangan. Tidur jam berapa emang semalem??” mamah Neza bertanya.

“Tidur jam berapa ya? Lupa mah gak liat jam sih…hehehe” Neza nyengir.

“Nih, bawa aja. Sarapannya dimobil aja biar gak kesiangan.” mamah Neza memberikan kotak makanan berisi roti pada Neza.

“Thanks ya mam..” Neza mencium tangan ibunya. Neza pun berangkat sekolah di antar oleh ayahnya.

Sesaimpainya disekolah, Neza melihat Akbar yang sedang berjalan di koridor sekolah. Akbar adalah kakak kelas Neza yang sangat dia kagumi. Akbar memiliki tinggi sekitar 165 cm, tidak jauh berbeda dengan Neza yang memiliki tinggi 163 cm. Mata Akbar yang indah berwarna coklat merupakan salah satu alasan Neza menyukainya. Selain itu, suara Akbar yang merdu adalah alasan lain Neza betah dekat-dekat dengannya. Saking terpesonanya oleh Akbar, Neza gak sadar kalo di depannya ada tiang tembok. Dan akhirnya Neza pun terjedot tiang tembok. Hampir semua anak-anak yang ada di TKP Neza terjedot menertawakan Neza. Muka Neza pun merah padam. Dia pun berlari ke arah kelasnya.

“Nez kenapa lu?” tanya Tari.

“Pala gue ka jedot tahu….”

“Wah, pala lo kejedot tahu? Empuk donk..hehe” canda Tari.

“Tahu, tahu… tembok dodol… kebayang kerasnya seperti apa?”

“Oh,.tembok.. Pantesan anak-anak di depan sono pada ketawa, pasti ngeliat lo kejedot ya? Hahaha” tari tertawa tanpa memperdulikan temannya yang sedang kesakitan itu.

“Yeh, lu malah ngetawain gue lagi. Uh, dasar… seneng ya lihat orang pagi-pagi dapet musibah?” neza rada kesel.

“Sorry buw,.. abisnya ngapain lagi pagi-pagi lo pake acara ngejedotin pala lo ke tembok? Gak da kerjaan yang lebih manusiawi lagi apa?”

“Yeh, lo gak tau sih… tadi gue ngelihat kak Akbar.”

“Trus napa gitu kalo ngeliat dia? Tiap hari juga kan sering ngeliat. ” ucap Tari.

“Yah, lo kagak tau ya? Gue kan suka ma kak Akbar. Duh, tau gak sih, tadi tu dia cool banget” Neza begitu antusias bercerita.

“Hah, sejak kapan lo suka ma kak Akbar? Lo kagak pernah ngomong sih… oh, jadi itu tuh yang ngebuat lo kejedot tembok pagi-pagi?... duileh,.. sampe segitunya” Tari dengan akspresinya yang kaget.

“Oh, gue belum crita ya ma lo? Hehe gue lupa. Tapi, sekarangkan gue udah cerita. Gak apa-apa deh gue kejedot tembok tiap pagi. Yang penting gue bisa ngeliat pangeran gue tiap hari.” Ucap Neza puitis.

“Yah, gini nih kalo orang abis ketemu pujaan hati. Serasa melayang di udara. Kalo jatuh baru nyaho tuh.. eh, tapi lo belum cerita gimana lo suka ma kak Akbar?” tanya Tari.

“Oke deh gue certain, tapi sekarang pelajaran siapa sih? Kok gurunya gak dateng-dateng?” Neza bingung.

“Jiaaa, lo ketinggalan info ya? Sekarang kan guru-guru lagi pada rapat getho…”

“Rapat?? Kok gak bilang dari tadi sih…”

“Napa geto?”

“Klo gak da gurunya mending kita ngobrolnya di kantin aja, gue laper nih… tadi sarapan dikit banget” ajak Neza.

“Oh ya udah, yuk ke kantin”

Saat menuju kantin Neza berpapasan dengan Akbar. Lalu Neza pun melemparkan senyum buat Akbar, tapi sayang Akbar berpaling dari Neza. Neza pun kecewa, sementara itu Tari hanya cengengesan.

Sampailah Neza dan Tari di kantin sekolah. Mereka memilih tempat yang strategis dan nyaman buat ngobrol. Mereka memilih tempat d bagian pojok yang rada sepi. Sebelum memulai obrolan yang tampaknya lumayan panjang mereka berdua pun memesan minuman dan makanan terlebih dahulu. Neza memesan semangkok baso dan segelas es jeruk, sedangkan Tari memesan semangkok mie ayam juga segelas es jeruk. Sambil menunggu pesana Tari memulai obrolan dengan percakapan.

“Nez, bukannya Kak Akbar punya adik yang seangkatan ma kita?” Tari memulai pertanyaan.

“Oh, ya.. dia punya adik namanya Halin, yang kelas X-5 itu loh…eh, tapi disini jangan panggil kak Akbar ya! Kita nyebutnya dia aja.. okey?!” kata Neza.

“Okey.. sip-sip..”Tari mengacungkan jempolnya. Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.

“Neng,.. ni pesanannya ya.. selamat menikmati.” Kata mba susi pedagang di kantin sekolah.

“Makasih mba…” kompak Neza dan Tari.

“Nez, sejak kapan sih kamu suka ma si dia?” tari bertanya sembari mengaduk-aduk mie ayamnya.

“Hm,.. sejak kapan ya? Gini deh aku certain dari awal aja ya, biar nyambung..” kata Neza yang kemudian menyeruput es jeruknya.

Neza pun mulai bercerita tentang dirinya yang akhirnya jatuh hati pada Akbar. Neza memulai cerita saat setahun yang lalu waktu dia masih SMP kelas 3. Neza mengikuti sebuah bimbel untuk persiapan UN. Hari-hari yang dilaluinya di bimbel itu biasa-biasa aja.

Lalu suatu hari, saat Neza baru tiba di depan bimbel. Neza melihat seorang cowok yang sedang duduk di dekat pintu masuk ruangan kelas Neza. Cowok itu menggunakan seragam SMA, dari logo yang ada dibaju seragam itu Neza dapat mengetahui kalau cowok itu bersekolah di SMA Putih Abu. Dan cowok itu tak lain adalah Akbar. Tapi saat itu, Neza tak tau siapa nama cowok itu.

Saat melihat cowok itu yang pertama kali terbesit dipikirannya Neza yaitu cowok itu tampak seperti orang penyakitan karena melihat mukanya yang kelihatan lesuh juga cara duduknya yang menyandar pada tembok seperti orang yang baru keluar dari rumah sakit. Selain itu, tidak ada yang membuat Neza suka pada cowok itu karena cowok itu terkesan jutek dan Neza juga gak begitu suka dengan cowok yang jutek seperti itu.

Seperti halnya Neza, saat melihat Neza kesan pertama yang di dapat oleh Akbar yaitu bahwa Neza itu cewek yang jutek, maka dari itu Akbar pun memasang tampang yang jutek pula saat berpapasan di tempat bimbel. Yang kebetulan mereka mimbel di tempat yang sama.

Di tempat bimbel itu Neza sekelas dengan Halin yang ternyata adik dari Akbar. Neza baru tahu kalau cowok itu adalah kakaknya Halin saat waktu istirahat di bimbel teman-teman dikelas Neza pada ribut.

“Eh, coba deh lihat dikantin. Si Halin lagi pacaran tuh..” kata salah seorang anak.

“Ah, yang bener? Masa sih?” kata anak yang lainnya.

“Ye.. lihat aja ndiri..”kata anak yang pertama tadi.

Karena Neza penasaran, siapa pacarnya Halin akhirnya neza pun pura-pura melewati kantin. Dan ternyata cowok yang berada di samping Halin adalah Akbar. Dengan mesranya Halin menyandarkan kepalanya ke bahu Akbar, sedangkan Akbar sendiri juga menyandarkan kepalanya di kepala Halin. Ketika Neza kembali ke kelas salah seorang teman dekat Halin mengklarifikasi gossip yang baru saja beredar.

“Eh,. Itu bukan cowohnya Halin… tapi kakaknya…” kata April temen dekat Halin.

“Oh,… pantesan aja rada mirip” kata anak yang lain.

Sejak saat itu, yang Neza tahu cowok itu adalah kakaknya Halin. Sebelum tahu mereka berdua adalah kakak beradik, Neza memang senang dengan Halin karena Halin terkadang memiliki pemikiran yang sama dengan Neza. Itulah saat-saat pertama kali Neza bertemu dengan Akbar.

“Oh, trus sejak kapan donk kamu suka ma si dia?” Tari bingung bertanya.

“Nah, kalo sejak kapan aku suka ma dia kayaknya sih sejak MOS kemaren deh…” jawab Neza mengawali ceritanya kembali.

Neza mulai menceritakan awal kesukaannya terhadap Akbar. Dimulai dari sebulan yang lalu, saat Neza baru masuk SMA dan mengikuti MOS.

“Kepada seluruh peserta MOSB harap segera berkumpul di tengah lapangan upacara untuk persiapan upacara pembukaan MOSB!!!!” perintah yang terdengar dari pengeras suara.

Para peserta MOSB pun segera berkumpul di lapangan upacara. Neza termasuk diantaranya. Neza mengabil tempat berbaris paling depan dekat dengan Halin. Karena Neza belum kenal banyak teman di sekolah barunya itu. Hanya beberapa yang dia kenal diantaranya teman-temannya yang dulu pernah bimbel bareng.

“Pagi ade-ade….” Sapa salah seorang kakak panitia cewek dengan ramahnya.

“PAGI KAK..” balas para peserta MOSB serempak.

“Mana nih semangatnya?? Kurang kompak nih..” ucap kakak panitia MOSB lagi.

“Pagi ade-ade…” sapa kakak panitia kembali.

“PAGI KAK!!!!” kali ini peserta MOSB tak kalah kerasnya.

“Nah, gitu donk…. Sebelum dimulai upacaranya. Baris yang bener ya… bisa baris kan semuanya?” tanya kakak panitia.

“Bisa kak… “ jawab peserta MOSB.

Para peserta pun berbaris rapih. Lalu diadakan upacara gladi sebelum akhirnya upacara pun dilaksanakan dengan hikmat. Setelah setengah jam kemudian upacara selesai. Dan para kakak panitia MOSB pun mulai beraksi. Diawali dengan perkenalan seluruh panitia MOSB.

“Ade-ade… sebelum kita mulai acara MOSnya, terlebh dahulu kita kenalan dulu donk… kan ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, betul gak ade-ade..” kata kakak panitia yang tadi lagi.

“Iya kak,..” para peserta hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh panitia.

“Oh ya… sebelum memperkenalkan kakak panitia yang lain, kakak mau memperkealkan diri kakak sendiri dulu. Nama kakak lizara, tapi ade-ade bisa panggil kak liza. Disini kakak bertugas sebagai seksi lapangan. Selain itu, kakak juga ditemani oleh kak Akbar yang juga seksi lapangan. Oh ya,. Mana kak Akbarya nih… kak Akbar,.. keluar donk..” kak Liza memanggil kak Akbar yang berada di belakang kakak panitia.

“Halin, kak Akbar bukannya kakak kamu ya?” terdengar suara dari baris sebelah Neza.

“Kak Akbar kakaknya Halin??” Neza bertanya dalam hati.

“Ya, lihat aja deh…” kata Halin singkat.

“Nah, ini dia kak Akbar… sapa dulu kak..” kak Liza memberikan mike pada Akbar.

“Pagi ade-ade….” Akbar menyapa dengan senyumnya yang manis.

“Hah, jadi namanya Akbar??? Kakaknya Halin yang di tempat bimbel itu?? Duh senyumnya tadi manis banget, sumpah gue baru lihat tu orang senyum…” neza terpesona oleh senyum Akbar.

“Mana semangatnya nih… pagi ade-ade..” kali ini Akbar dengan senyumnya kembali menyapa para peserta MOSB.

“Duh, tuh kan dia senyum lagi. Duh kok manis banget ya” Neza mulai kesemsem oleh Akbar.

Akbar pun memperkenalkan kakak panitia yang lainnya. Tapi Neza gak begitu memperhatikan kakak panitia yang lain. Yang dia perhatikan hanyalah Akbar. Entah mengapa Neza jadi selalu ingin memandang wajah Akbar. Setiap kali ada Akbar di depannya pasti Neza tak henti-hentinya memandang.

Akbar yang merasa bahwa ada yang memperhatikannya segera mencari-cari siapa orang yang sedang mempehatikannya tersebut. Sampailah saat mata Neza menatap mata Akbar dan mata Akbar menatap mata Neza. Mereka pun saling berpapasan pandang. Neza yang melihat mata Akbar mengarah kepadanya jadi membuang muka karena kaget.

Mulailah dari situ Neza jadi suka memandang Akbar. Dan akhirnya Neza jatuh hati pada Akbar. Sementrara itu, Akbar yang tahu kalau Neza sering memperhatikannya ingin mencari tahu tentang Neza. Maka Akbar mengutus Halin adiknya untuk mengetahui tentang Neza.

“Halin, boleh minta tolong gak?” Akbar meminta bantuan Halin.

“Minta tolong apa gitu kak?” Halin penasaran.

“Gini loh,… beberapa hari in kan sedang MOS, kamu tau gak ada anak cewe yang gugusnya sebelahan ma kamu? Trus dia juga waktu itu sempat mimbel bareng kamu?”

“Owh,.. yang rambutnya panjang trus ikal itu ya?” Halin menebak.

“Hm,.. iya yang rambutnya panjang dan ikal.. tau kan?”

“Yaya, truz hidungnya mancung. Matanya rada kecil ya?” Halin menambahkan.

“Ya yang itu…” Akbar menunjuk-nunjuk.

“Trus minta bantuin apa donk?” kata Halin.

“Gini loh,.. kakak penasaran ma tu cewe. Abisnya ngeliatin kakak terus sih… siapa sih namanya Lin?” tanya Akbar.

“Ah kakak GR nih…. namanya? Hm,.. siapa ya, lupa lagi.” Halin meletakan jari telunjuknya di keningnya.

“Ya udahlah kalo gak tau namanya, eh tapi kan besok hari terakhir MOS tuh.. coba deh kamu deketin dia. Cari informasi tentang dia donk, dikit aja.” Kata Akbar.

“Oh iya ya, besok kan demo ekskul ya kak? Sip-sip. Urusan gini mah gampang.. eh, btw kok nanyain tu cewe mulu sih? Jangan-jangan naksir ya… ehem-ehem” Halin memancing Akbar.

“Dih, apaan sih?.. kagak kok, Cuma pengen aja nanya-nanya. Lagian anaknya gak cantik-cantik amat deh”

“Ah,.. masa sih gak cantik-cantik amat? Tapi kan lucu… heheh” Halin nyengir. Akbar pun mencubit pinggang Halin, mereka pun main cubit-cubitan.

Keesokan harinya, hari terakhir MOSB di tutup oleh tampilan demo dari seluruh ekskul yang ada. Saat ekskul dari pramuka dan pecinta alam mulai akan mendirikan tower, Halin yang melihat Neza langsung mendekatinya. Neza yang sedang berdiri di dekat tiang bendera tak sadar kalau dibelakangnya ada Halin yang sedang mengawasinya. Dan saat Neza berbalik, Neza gak nyangka sudah ada Halin dibelakangnya. Neza pun hanya melemparkan senyuman. Lalu bergeser pindah di bawah pohon yang rindang.

Namun, ketika Neza kembali menengok ke belakang, ternyata Halin mengikutinya dan kini mereka saling berhadapan. Entah mengapa Neza menjadi deg-degan melihat Halin yang ada di depannya.

“Hai…” sapa Halin dengan ramahnya.

“Eh, hai juga..” balas Neza dengan terbata-bata.

“Eh, perasaan pernah kenal deh… pernah ikutan bimbel ya?” tanya Halin berpura-pura gak kenal.

“Oh iya… pernah, kenapa gitu?” Neza rada bingung, tapi dia berusaha menentralkan suasana.

“Hm,.. nama kamu siapa?” tanya Halin.

“Neza,…” jawab Neza ramah.

“Oh, neza… kenal sama Halin gak” halin pura-pura memancing Neza.

“Halin?.. oh, ya kenal..” kebingungan. “ Kok Halin tanya Halin sih??” tanya Neza dalam hati.

“Hm,… kalo ketemu tolong salamin yaph..” ucap Halin..

“Iya iya..” Neza tersenyum.

“Ya makasih,.. duluan ya..” Halin pamitan.

“Ya…”

“Dih kok Halin aneh banget sih hari ini? ada-ada aja tu anak. Kayanya sih pengen ngajak kenalan kali, tapi kan waktu bimbel udah saling kenal. Tau ah, gelap” Neza berkata dalam hati.

Kemudian sampailah pada puncak penutupan acara MOS. Dimana para peserta MOS diwajibkan untuk memberikan surat kepada kakak panitia tervaforit. Lalu ucapan selamat dari kakak panitia MOS beserta guyuran air kembang yang harus diterima oleh setiap peserta MOS sebagai tanda bahwa mereka telah diterima di SMA tersebut.

“Ayo adik-adik… semua berbaris di lapangan dengan gugusnya masing-masing… dalam hitungan ke lima semuanya harus udah di lapangan ya….” Ucap kak Liza.

“Satu…dua…tiga…empat…lima…” ucap kak Akbar.

Semua peserta MOS pun berlarian karena gak mau terlambat sampai lapangan dan dihukum. Para peserta seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Menuruti semua perintah kakak panitia. Neza tampak sibuk dengan aksesoris yang menggantung dilehernya. Yang sangat meribetkan itu. Semua anak pun berbaris rapih dilapang.

“Duh, ribet banget sih…” gerutu Neza.

“Eh, kamu ngapain?!” suara dari belakang mengagetkan Neza, suara itu dari salah seorang kakak panitia cowok yang bernama Erwin.

“Gak ngapa-ngapain kak, ni Cuma ngebenerin kalung.” Neza menjawab dengan nada yang rendah.

“Emangnya kenapa dengan kalungnya?” Erwin mendekati Neza.

“Gak kenapa-napa kak, cuma gak nyaman aja tadi.” Neza menjawab dengan ekspresiya yang ciut.

“Oh, jadi maksudnya persyaratan MOS ini buat kamu gak nyaman?” Erwin bertanya dengan nada yang tinggi.

“Eh, bikan gitu kak” Neza jadi gugup, temen-temen sekelilingnya melihat Neza yang sedang di omeli oleh kak Erwin.

“Eh, ada apa nih?” Akbar datang bagai sang pahlawan dimata Neza.

“Nih loh Bar, nie anak bilang persyaratan MOS yang kita kasih gak nyaman buat dia” Erwin memojokkan Neza.

“Bukan gitu kak, maksud saya gak enaknya tuh waktu tadi saya lagi lari mau ke lapangan.” Neza membela diri.

“Ah, Cuma masalah itu doank. Udah deh balik lagi ke tempat masing-masing” Akbar menetralkan suasana.

“Lin, kakak kamu cool…” terdengar suara dari gugus Halin.

“Hah, cool? Coolkas kali..” Halin membalas.

“Wah, kak Akbar keren banget tadi… untung tadi ada kak Akbar yang ngebelain aku, duh senengnya… dia baik ma aku..” Neza ngomong sendiri dalam hati.

Kini saatnya para peserta MOS menyerahkan surat untuk kakak terfavorit. Dan setelah itu, mereka akan diberi guyuran air kembang.

“Okey ade-ade… untuk menutup acara MOS ini kita akhiri dengan silaturahmi.” Kata kak Liza pada paserta MOS.

“Nah, sekalian salaman, ntar suratnya langsung kasih aja ke kakak panitia favorit kamu..” kak Liza menambahkan.

“Sip-siplah… aku bakal kasih ke kak Akbar” neza berkata dalam hati.

Para peserta MOS pun mulai berjejer mengantri untuk bersalaman dan memberikan surat pada kakak yang terfavorit. Dimulai dari gugus 1, 2 dan seterusnya. Tibalah saat gugus Neza untuk bersalaman. Saatnya Neza akan memberikan surat itu kepada kak Akbar. Jantungnya makin berdegup kencang, pipi Neza pun menjadi memerah. Akhirnya Neza pun harus memberikan surat itu pada Akbar, karena kini Akbar telah ada di hadapannya. Neza mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Akbar. Ini kali pertama Neza menyentuh tangan Akbar. Akbar pun hanya tersenyum, tapi senyuman itu begitu membuat hati Neza malayang-layang di angkasa. Lalu Neza pun mengeluarkan surat yang akan diberikan pada Akbar.

“Kak ini suratnya, buat kakak” ucap Neza saat memberikan surat itu.

“Oh, thanks ya… “ ucap Akbar dengan senyumnya.

“Ya kak,..” neza berkata dengan senyumnya yang tak kalah manis juga.

Mungkin mulai sejak itu Neza mulai merasakan ada getar-getar dihatinya yang selalu membuatnya ingat pada Akbar. Dan sampai sekarang satu bulan setelah MOS berlalu pun Neza masih merasakan getar itu. Itulah awal cerita cinta Neza yang sampai akhirnya membawa Neza jadi suka pada Akbar.

“Nah, jadi gitu ceritanya Ri,..” kata Neza mengakhiri ceritanya.

“Oh,.. jadi bukan pandangan pertama ya?” tanya Tari.

“Bukan, tapi ini senyuman pertama, hehehe…” canda Neza.