Asia Tengah Pra-1500/Sejarah/Sogdiana

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
<< Orang Sogdiana - Asia Tengah Pra-1500 Dinasti Samaniyah >>
Sogdiana, 300 SM
Donor Sogdiana kepada Buddha

Orang Sogdiana datang ke Sogdiana (bagian dari Tajikistan dan Uzbekistan modern) kemungkinan sekitar 150 SM sebagai bagian dari gelombang migrasi India-Eropa ke tenggara di mana banyak orang meninggalkan Georgia dan Armenia pada masa itu menuju Persia dan India utara. Seperti halnya tetangga Persia dan India mereka, orang Sogdiana merupakan suku bangsa India-Eropa, yang bahasanya amat terkait dengan bahasa Persia. Seperti suku bangsa India-Eropa lainnya, mereka membawa serta kuda dan kereta perang. Kota utama Sogdiana adalah Marakanda (kini Samarkand).

Ketika Koresh Agung menaklukan wilayah di sekitar Persia untuk mendirikan Kekaisaran Persia pada 526 SM, salah satu kerajaan yang ia taklukan adalah Sogdiana. Sogdiana dikuasai oleh Persia hingga 325 SM. Sogdiana mmeiliki sebuah benteng besar yang disebut Tebing Sogdiana atau Tebing Arimazes. Di dekat benteng ini, di Takhti Sangin, terdapar banyak sekali emas dan perak yang kini dikenal sebagai Harta Karun Oxos. Banyak pria Sogdiana yang menjadi tentara tangguh yang membantu melindungi Persia melawan bangsa Skythia yang nomad di sebelah utara Persia.

Kemudian pada 328 atau 327 SM penakluk dari Makedonia, Aleksander, menaklukan Sogdiana. Aleksander pergi hingga sejauh sungai Jaxartes (Syr Darya di Tajikistan), di mana ia membangun sebuah kota (Khujand modern) dan meninggalkan beberapa tentara Yunani dan Makedonianya serta sejumlah wanita Persia yang mengikuti pasukannya. Aleksander menamai kota ini Alexandria Eskhate - Aleksandria Terjauh. Para penduduknya menggunakan koin yang mirip koin Yunani. Lebih jauh ke selatan, mereka membangun kuil Yunani-Persia di Takhti Sangin.

Relief orang Sogdiana

Setelah kematian Aleksander, orang Sogdiana dan Baktria mendirikan satu kerajaan yang pada mulanya dipimpin oleh para kolonis Yunani. Namun tanpa dukungan pasukan Persia, orang Sogdiana tak mampu mempertahankan Baktria ketika diserang oleh para penyerbu Skythia, dan sekitar 150 SM, bangsa Skythia berhasil menguasai Baktria serta Sogdiana.

Sejak itu, orang Sogdiana hanya menjadi pedagang. Berdirinya kekaisaran besar Cina Han pada 202 SM membuat para pedagang dapat berdagang dengan aman dari Asia Tengah hingga ke pesisir Pasifik di Cina. Penjelajah Cina Zhang Qian tiba di Sogdiana pada masa pemerintahan kaisar Han, Wudi, sekitar 120 SM. ia menetapkan jaringan perdagangan untuk menjual sutra dan kertas dari Cina dengan Asia Barat. Orang Sogdiana membeli gelas, bulu, serta wol dari Barat lalu membawanya ke Cina Han. Banyak misi perdagangan Cina berkelana ke barat untuk bertemu para pedagang Sogdiana setiap tahunnya.

Perdagangan antara Asia Barat dan Cina terus berlangsung melalui Sogdiana bahkan setelah jatuhnya Dinasti Han. Pada 300-an M, orang Sogdiana tampaknya menjadi pedagang utama tak hanya antara Cina dan Asia Barat tetapi juga antara Cina dan India. Perdagangan Sogdiana terganggu sekitar 435 M ketika suku Hun Putih (Heftalit) menaklukan Sogdiana, namun pada 557 M, Sogdiana kembali merdeka dan melanjutkan perdagangan mereka. Pada 600-an M, peziarah Buddha Xuanzang pergi ke Sogdiana dan menggambarkan orang Sogdiana sebagai para pedagang yang ulung.

Koin emas Sogdiana

Setelah bangsa Arab menaklukan Kekaisaran Sassania pada akhir 600-an M, orang Sogdiana lebih mengikuti kebudayaan Persia. Mereka menuturkan bahasa Persia alih-alih bahasa Sogdiana, meskipun kedua bahasa ini terkait dekat. Dalam hal perdagangan, orang Sogdiana masih tetap berdagang dengan Kekhalifahan Islam dan Cina, bahkan beberapa orang Sogdiana bekerja untuk pemerintah Cina. Sekitar 750 M, orang Sogdiana bernama An Lushan menjadi jenderal penting di Dinasti Tang Cina. Pada 775 M, An Lushan memimpin pemberontakan melawan kaisarn Tang, Hsuan Tsung. Ia berhasil memaksa Hsuan Tsung untuk mundur, dan mengangkat putra Hsuan Tsung sebagai kaisar Cina.

Kaisar Tang, Suzong, putra Hsuan Tsung, menyewa orang Uighur sebagai pasukan bayaran untuk menghentikan pemberontakan An Lushan. Pada 757 M, An Lushan terbunuh, dan sejak itu orang Uighur menjadi pasukan bayaran utama Cina. Suzon tak lagi menggunakan orang Sogdiana, sehingga orang Sogdiana harus mencari dukungan kepada pihak lain. Meskipun orang Sogdiana merupakan pedagang, lama-kelamaan mereka menjadi terlibat dengan Kekaisaran Abbasiyah. Para khalifah Abbasiyah membantu Sogdiana memerangi serangan Tibet dari barat. Secara berangsur-angsur banyak orang Sogdiana yang memeluk Islam. Pada 819 M, keturunan orang Sogdiana mendirikan Dinasti Samaniyah.