Electric-Man/10

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Electric-Man Sampul.png
Electric-Man
Lahirnya The Crime Buster

Oleh:
B. Marada Hutagalung
Daftar isi:


Sunting daftar isi

Sekitar pukul 9.30 WIB Roselina, Roy, Ricky, dan teman-teman yang lainnya sudah sarapan dan berencana akan berangkat ke kota.

Roy kembali tidak tenang akan kepergian Mario begitu saja, dan Roselina semakin merasa aneh setelah Mario pergi tanpa pemberitahuan.

“Ladys and gentlemen, we go on now....”, peritah Roy sebagai ketua rombongan kepada rombongannya.

Mereka pun menuju bus yang telah dipersiapkan sebelumnya, dan bus tersebut merupakan bus yang mereka pakai kemarin.

Setelah mereka masuk, bus melaju dengan dengan santai ke tujuannya. Di dalam, semua rombongan penuh keceriaan, apalagi Ricky yang duduk di samping Roselina. Ia merasa berhasil menguasai orang yang dia cintai.

Di tempat lain, mobil gerombolan Rojan Gan’k telah berada di lokasi yang sedikit agak jauh dari Diamond Tapanuli Hotel. Sengaja diparkir agak jauh agar tidak dicurigai dan diketahui oleh para tim Keamanan dari Kepolisian yang sedang berjaga-jaga di sekitar Diamond Tapanuli Hotel tersebut.

Semua gerombolon telah siap untuk menyerang yang telah lengkap dengan persenjataan dan alat komunikasi. Tanpa basa-basi, Jarot sang Ketua geng memerintahkan Parto untuk beraksi terlebih dahulu.

“To, segera kamu selesaikan para penjaga yang ada di sekitar hotel”, perintahnya.

“Oke, bos...”, balasnya sambil membuka pintu samping kiri untuk keluar dari mobil.

“Tunggu dulu, kamu harus ingat mematikan kamera sistem keamanan...”, perintah Jarot kembali.

“Oke, bos...”, lalu Parto segera keluar dan pergi mendekati hotel serta tidak lupa memakai tanda pengenal kepolisian pada jas di dada kirinya.

Setiba di depan pintu, ia langsung diberi hormat oleh para opsir polisi yang menjaga pintu hotel. Dan ia membalas penghormatan mereka.


“Eh, kalian semua...”, panggil Parto.

“Siap Letnan..”.

“Tolong datang ke ruang sistem keamanan...”.

“Ngapain Letnan...”.

“Ada sedikit tips dari aku...”.

“Tapi kami harus berjaga-jaga di sini, Letnan...”.

“Kalian ga’ mau, ya sudah...”, Parto pura-pura buka pintu hotel untuk masuk.

“Eh, tunggu Letnan...”.

“Good, panggil teman-teman kalian..., dan suruh datang ke ruang sistem keamanan, oke...”, perintahnya lalu masuk ke hotel.

“Oke, Letnan...”.


Letnan Parto, anggota Satuan Intel Polisi Wilayah Kota Tarutung menuju lift dan segera ke ruang khusus sistem keamanan.

Parto mengetuk pintu ruang sistem keamanan. Pintu dibuka lalu Parto masuk.

“Pagi semuanya...”, sapanya.

“Pagi...”, balas para opsir tim sistem keamanan.

“Eh, Pak Kapten Rian..., maaf saya terlambat...”, ucapnya pada Pak Kapten Rian.

“Ga’ apa-apa, tapi ngomong-ngomong koq kamu panggil para anak buahku masuk ke hotel. Aku lihat di kamera...”, balas Pak Kapten sambil bertanya dengan penasaran.

“O...itu...”, Parto langsung mengambil sebuah bungkusan yang tidak begitu besar dari kantong kiri jasnya.

“Apa itu...”, tanya Pak Kapten Rian.

“Ini, ada sedikit hadiah berupa uang untuk bapak dan kawan di sini...”, jawabnya.

“Untuk apa, dan dari mana duit itu...”, tanyanya kembali.

“Begini, aku sangat bersyukur atas bantuan bapak dan kawan-kawan. Duit ini saya dapat ketika saya mengikuti pemutaran undian rekening nasabah di Medan. Jadi saya dapat mobil Mitsubishi type Land Cruiser seharga lima ratus juta rupiah lebih, lalu saya jual...”, jelasnya secara detil.

“Wah, koq kamu jual....”, kata Pak Kapten.

“Ya saya jual, kan saya sudah mobil Misubishi Land Cruiser dan juga sudah punya Mobil Nissan. Mubazir saya punya mobil banyak. Apalagi aku sangat ingin berterima kasih sama rekan-rekan dan bapak”, jelasnya kembali.

“Emang, apa yang telah kami perbuat...”, tanya Letnan Dido.

“Masih ingat ga’ waktu kita mengadakan operasi penyelidikan sindikat penyelundupan perempuan di wilayah perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Tengah yang akan di bawa ke Singapura...”, tanya Parto.

“Iya, aku ingat..., emang kenapa...”, tanya Letnan Dido kembali.

“Waktu itu aku terlalu ambisius maju ke depan tanpa mendengar perintah Pak Kapten, ya...aku malah tertembak...! Kalau ga’ ada kalian, wah aku sudah mati...”, jelas Parto.

“O..., karena itu kamu bawa duit ini...! Koq malah repot-repot...”, Pak Kapten merasa terharu atas perbuatan Parto.

Memang ada sedikit hubungannya dengan uang yang dibawa Parto terhadap kebaikan mereka kepada Parto di samping sebagai alat untuk melumpuhkan sistem keamanan hotel, yang pada waktu operasi pertamanya di wilayah Tapanuli Utara ia tertembak karena terlalu ambisius. Sebenarnya pada operasi itu ia ingin membalaskan dendam ayah angkatnya, si Jarot, yang telah membunuh beberapa anak buah Jarot demi memperebutkan wilayah kekuasaan.

“To, kamu ga’ usah repot-repot..., sesama teman harus saling tolong-menolong apalagi dalam tugas...”, jelas Dido sedikit agak menolak karena menganggap Parto sebagai sahabat.

“Aku mohon, terimalah pemberianku...! Aku ikhlas koq...! Habis aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian. Hanya ini yang bisa saya lakukan”, kata Parto sedikit memohon.

“Baiklah, aku terima...”, jawab Dido.

“Aku juga...”, sambung Kapten Rian.

Sebelum Parto memberikan bungkusan tersebut, pintu diketuk dari luar ruangan.

“Masuk...”, kata Pak Kapten.

“Lapor...! Kami diperintahkan Letnan Parto datang ke sini...”, salah satu polisi penjaga pintu melapor kepada Kapten Rian setelah mereka masuk.

“Oke, sini semuanya...”, Parto langsung memanggil mereka.

“Nih Bungkusan berisi duit sebesar seratus juta lebih... aku berikan kepada Pak kapten Rian agar dibagi rata ke semua anggota Polisi yang ada di sekitar Hotel...”, Parto memberikan penjelasan.

“Eh, tolong panggil pak, para sniper dan yang lainnya yang belum ada di ruang ini...”, tiba-tiba ia teringat para sniper yang ada di lantai hotel paling teratas. Sebab itu juga bisa mengagalkan rencana mereka.

“Koq harus, kan bisa nanti atau besok aku kasi...”, Kapten Rian heran dengan permintaan Parto. “Kita, kan lagi situasi pengamanan...di dalam hotel ini banyak para tamu-tamu negara....”.

“Aku tau pak! Tapi, apa salahnya dipanggil...kan, hanya sebentarnya...! Ntar, nanti kelupaan...”, jawab Parto tidak kalah.

“Iya juga ya...”, Kapten Rian membenarkan Parto. “Oke, semua tim unit, tolong datang segera datang ke ruang sistem keamananan...”, Perintahnya melalui HT.