Lompat ke isi

Electric-Man/11

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Seketika itu juga ruang sistem keamanan dipenuhi para opsir yang menjaga hotel. Dan Kapten Rian menunjukkan sebuah bungkusan serta memberi penjelasan.

“Oke, para anak buahku...! Ini ada bungkusan berisi duit sebesar seratus juta lebih yang diberikan oleh Letnan Parto kepada kita atas ucapan terima kasihnya kepada kita yang telah menyelamatkan nyawa pada waktu operasi penyelidikan sindikat penyelundupan. Masing-masing dapat empat juta...”, jelas Pak Kapten.

“Empat juta...??? Horee....”, merasa heran dan bersorak-sorak dengan girang. Maklum saja, gaji mereka tidak ada sampai segitu.

Pak Kapten mulai membagi-bagi uang tersebut sementara Parto melangkah pela-pelan menuju Komputer sistem keamanan dengan pura-pura mendekati operator dan menyalami komputer.

“Thanks, Letnan...”, ucap salah satu opsir polisi yang menjadi operator. “Sama-sama...”, balas Parto berpura-pura senyum.

Di saat operator lengah dan yang lainnya sibuk dengan menghitung-hitung uang, Parto langsung menekan beberapa tombol khusus tanpa diketahui. Dia berhasil melumpuhkan sistem keamanan dengan dengan cara tetap menampilkan gambar luar dan dalam hotel pada monitor, namun itu hanya gambar mati.

Parto mangambil seluler-nya dari saku kiri celananya, lalu segera meng-SMS Jarot : Sistem Keamanan Lumpuh...! Segera Menyerang. Tapi, ia bingung menekan tombol OKE.

Sebenarnya Parto tidak berniat untuk melakukan hal itu dan tidak tega melihat orang-orang hotel dianiaya. Ternyata Parto masih memiliki hati yang baik dan mau menolong orang. Ia bingung, ibarat sebuah malakama yang diperhadapkan di antara dua pilihan yang harus dipilihnya. Ia ingin menyelamatkan nyawa orang, namun ia juga harus membalas jasa-jasa Jarot terhadapnya. Akhirnya....

“Tuhan, maafkan aku....”, terpaksa Parto menekan tombol OKE, dan SMS pun terkirim.

Seluler Jarot bergetar tanpa suara, dan ia melihat pesan masuk serta langsung memberikan perintah.

“Rogan, pimpin serangan....”, perintahnya

“Oke bos....”, jawabnya. “Oke, ayo semua bergerak”.

Tepat pada pukul 10.00 WIB, para gerombolan keluar dari mobil dan berlari-lari menuju Hotel.

Orang-orang sekitar tidak terkejut, tapi terkagum-kagum. Mereka tidak curiga karena gaya mereka mirip dengan pasukan polisi khusus.

Di saat Rogan masuk pintu tiba-tiba alram berbunyi. Rogan tiba-tiba terkejut. Dia segera mencari tahu siapa yang melakukan itu. Ternyata seorang satpam yang akan siap-siap menembak karena curiga melihat kedatangan dan tampang mereka. Sebab setahu dia bahwa polisi yang ditugaskan di hotel tidaklah berperalatan sangat lengkap.

Di saat sang satpam ingin menembak, namun ia lebih dahulu ditembak Rogan sebanyak tiga kali.

“Dor...!!! Dor...!!! Dor...!!!”

“Akhh...”, sang Satpam tersungkur bersimbah darah di dada dan kepalanya.

Suara Alram membuat para polisi yang ada di dalam hotel terkejut. Termasuk juga para tamu. Apalagi suara tembakan membuat orang-orang di dalam hotel panik seketika dan berlari kucar-kacir mencari tempat berlindung.

Kapten Rian, Letnan Dido dan yang lainnya segera menuju lokasi kejadian penembakan. Parto juga bergerak ke tempat. Ia heran. Koq bisa alaram bunyi. Ia tidak sempat menyelediki hal tersebut karena memang tidak sampai kepikirannya.

Di saat para polisi melihat mereka, langsung para gerombolan itu menembaki para polisi tersebut. Susana semakin memanas dan hampir semua benda-benda yang ada di dalam ruangan hancur berantakan. Orang-orang yang masih ada di lokasi hanya bisa merunduk dan berteriak histeris.

“Hei..., kalian cepat cari tempat perlindungan...”, teriak Dido kepada mereka yang berada di tengah-tengah lokasi kejadian.

Suasana kembali hening, melihat ada kejadian yang tidak beres, sang ketua, Jarot langsung bergerak menuju hotel dengan mengeluarkan Pistolnya dari balik baju.

Sambil merunduk, dia mendekati tempat perlindungan Rogan.

“Koq kalian menembak tanpa kuperintahkan...”, tanya Jarot.

“Maaf bos, tiba-tiba satpam menekan tombol aalram...dan akan menembak kami. Ya terpaksa aku tembak...”, jelas Rogan dengan merunduk.

Letnan Dido mulai panas, lalu ditembaknya ke arah gerombolan tersebut sekalipun tidak kena. Dia mencoba menggertak dengan cara menembak.

Jarot segera mencari siasat untuk menyerang. Dia menyuruh Janus dan lainnya menyerang lewat pintu belakang hotel.

“Nus..., kamu lewat dari belakang”, perintahnya. “Bawa temanmu...”.

“Oke bos..., hei kalian berlima ikut aku...”, segera mememinta teman-temannya ikut dia.

Janus dan teman-temannya, namun hal itu terlihat oleh Parto dan membiarkan mereka masuk lewat tangga luar yang ada di belakang hotel.

“Eh, Parto...”, kata Janus. “Kamu koq di situ aja, bantu kami dong...”. Ajaknya sambil berlari menuju belakang Letnan Dido dan teman-temannya.

Para polisi itu hampir terkepung dan beberapa anggota polisi terkena tembakan dari belakang tanpa diduga.

Ternyata sifat kemanusiaan Parto masih ada, dia tidak tega melihat rekan-rekannya mati konyol.

Kapten Rian sudah tidak punya tempat perlindungan, dan Rogan telah bersiap-siap untuk menembak Rian dengan Magazine-nya, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya.

Untuk menjaga dan melindungi diri, Kapten Rian hanya bisa menembakkan senjatanya ke arah Janus dan teman-temannya.

Janus dan beberapa temannya terkena peluru panas. Janus dan yang lainnya terjatuh, namun kembali bangkit berdiri. Kapten Rian terkejut.

“Ha...? Mereka pake rompi anti peluru...”, gumamnya.

Dido dan yang lain mencoba untuk melindung Rian, namun tak bisa karena mereka juga harus berusaha untuk melindungi diri dari tembakan para anak buah Jarot.

Setelah bangkit berdiri, Janus dan yang lainnya mengacungkan senjatanya ke arah Kapten Rian. Dan siap untuk menembak. Melihat kejadian tersebut, Parto segera berlari untuk melindungi Kapten Rian dengan memeluk tubuhnya sembari membelakangi mereka yang mereka. Peluru pun dimuntahkan....!

“Dor...! Dor..! Dor...!”

“Dor...! Dor...! Dor...!”

“Dor...!”

“Akh....”.

“Gedebugh....!!!”

Parto berhasil melindungi Kapten Rian, meski ia memeluknya sampai terjatuh. Namun naas bagi Letnan Parto. Punggungnya telah berlumuran darah oleh beberapa besi panas yang telah menembus tubuhnya. Tak pelak, ia akhirnya tersungkur namun masih tetap memeluk tubuh sang kapten.

Kapten Rian terkejut, dan segera berteriak. Ia tidak perduli dengan yang lain.

“Parto, kau tidak boleh mati...”, ucapnya dengan mata berair.

“Letnan....”, teriak Letnan Dido seraya meraya menuju Kapten Rian untuk menghindari tembakan.

Tidak hanya Letnan Dido dan teman-temannya yang terkejut, tapi Janus dan yang lainnya ikut terkejut.

Sebenarnya Janus dan teman-temannya tidak panik, namun terkejut setelah punggung Parto berlumuran darah.

“Hahh, setahuku si Parto tadi pake rompi anti peluru”, gumamnya perasaan. “Tapi tubuhnya koq berlumuran darah...! Ide apalagi ini...”, semakin gusar.

Sementara waktu hening seketika....