Electric-Man/14

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Electric-Man Sampul.png
Electric-Man
Lahirnya The Crime Buster

Oleh:
B. Marada Hutagalung
Daftar isi:


Sunting daftar isi

Di tempat lain di jalan tol, pak Anto bersama istrinya yang akan menuju Diamond Tapanuli Hotel dengan mengendari Kijang Jantan untuk menemui direktur untuk memperbaharui instalasi listrik hotel.

Mengingat dirinya sudah terlambat, Pak Anto mengendari mobilnya dengan kencang, sehingga tanpa disadari bahwa di depannya adalah merupakan tikungan untuk belok ke kiri. Akhirnya dia terpaksa menginjak rem namun rem mobil blong. Pak Anto resah dan mencoba membantu stirnya ke kiri namun terlambat. Mobil pun menabrak gerbang pembatas jalan tol dan jatuh. Pak Anto dan istri panik, mereka berteriak dan tutup mata.

“BRMMMM.....”

“BRAK......!!!”

Mobil pun jatuh dari jalan tol, namun E-Man sedang melayang-layang di langit melihat kejadian tersebut dari segara menolong. Bak Superman, E-Man menangkap moncong mobil Kijang tersebut.

Semua orang yang di sekitar jalan tol dan juga di bawah tol takjub melihat E-Man menangkap mobil tersebut. Sebenarnya E-Man sangat keberatan mengangkat mobil tersebut karena kekuatannya tidak sehebat Superman. Namun dengan penuh perjuangan E-Man akhirnya berhasil mendaratkan mobil tersebut ke tanah.

Pak Anto dan istrinya seolah bermimpi di siang bolong, yang sempat merasakan bahwa mereka tidak akan selamat. Pak Anto teringat akan mimpinya bahwa ia akan diselamatkan oleh E-Man dan juga teringat akan kostum yang dipakainya.

“Hore....! Plok...plok...plok”, semua orang kagum dan bertepuk tangan.

Pak Anto dan istrinya membuka pintu mobil dan keluar untuk menemui E-Man, sedangkan orang-orang di sekiar TKP langsung mengabadikan momen tersebut. Ada yang memakai seluler yang berkamera dan juga dengan kamera digital.

“Oh..., E-Man...! Electric-Man”, ucapnya pak Anto dengan kuat. “Terima kasih atas pertolonganmu...”.

“E-Man...! Electric-Man...!!!”

Orang-orang yang kagum itu pun ikut mengucapkan nama E-Man.

“Iya, kalau tidak karena engkau kami tidak akan selamat...”, sambung istri pak Anto dengan mata berbinar-binar.

“Terima kasih kembali pak, itu semua adalah pertolongan dari Tuhan...”, balas E-Man.

“JEPREET...!”

“JEPRET...!”

Orang-orang di lokasi kejadian sibuk mengambil foto E-Man dengan mengambil berbagai macam sudut.

“Bapak dan ibu hendak ke mana...”, tanya E-Man kepada pasutri tersebut.

“Kami mau ke Diamond Tapanuli Hotel, E-Man”, jawab pak Anto.

“Jangan ke sana, pak....”, larang seseorang pria berkemeja putih. “Hotel Diamond lagi dikuasai para teroris.”

“Hahhh...”, E-Man terkejut.

“Iya, pak. Polisi, dan tentara serta PIN sudah ada di sana...”, sambung pria yang lain yang berpakai kaos oblong warna merah. “Sebaiknya E-Man harus ke sana, karena sampai sekarang hotel tersebut belum berhasil diamankan.”

E-Man tersadar, dia teringat Roselina dan teman-temannya menuju hotel tersebut. Ia sempat melihat mereka dari langit. Tanpa pamit E-Man langsung terbang menuju angkasa biru.

“Whuuuussss.....!”

“Wowww....!!!”

Orang-orang sekitarnya termasuk pak Anto dan istri terheran-heran dan kagum melihat E-Man terbang melambung tinggi ke langit.

Di tempat yang berbeda di Tarutung Plaza Center yang tidak jauh dari lokasi, Christine mencoba mengambil selulernya untuk menghubungi Rogan, kekasihnya. Namun seluler Rogan tidak aktif. Dengan penuh sabar Christine kembali menghubungi kekasihnya, tetapi sulelur yang dihubungi “tulalit”. Christine pun kesal.

“Ukhh, dasar cowo...”, Christine kesal.

“Kenapa saat dibutuhkan hpnya tak aktif”, gumamnya dengan kesal. “Kalau hpku tak aktif dia suka-sukanya marah samaku.”

“Gagal dech recanaku belanja...”, gumamnya kembali. “Hmmm, aku coba aja menelepon Mario, siapa tahu dia bisa menemaniku belanja...”, Christine teringat Mario bagaikan dapat ide cemerlang.

Christine membuka nomor kontak selulernya dan mencari nama Mario, namun tak jadi dihubunginya sebab ia disapa seorang perempuan cantik yang berpakain seksi dengan memakai lensa.

“Tin....! Christine...!”

“Hei, Eva...”, balas Christine.

Mereka berpelukan sambil cium pipi kiri dan kanan seolah-olah lama tak bersua.

“Apa kabar tin...”, tanya Eva.

“Baik, va...”, Jawabnya.

“Mana Rogan...”, tanya Eva kembali.

“Udah ah! Nggak usah dibahas. Dia nggak pernah ada di saat aku butuh”, jawab Christine kesal.

“Sabar tin..., mungkin dia lagi ada kerjaan”, hibur Eva.

“Makasih eva...”, balas Christine.

“Oh ya, apa kamu tidak tahu bahwa Diamond Tapanuli Hotel telah dibajak teroris...”, kata Eva memberi informasi terbaru.

“Apa...? Dibajak...”, Christine spontan panik.

“Kenapa, va...”, tanya Eva penasaran.

“Pamanku ada di sana...”, jawab Christine gusar. “Oh my God...”, Eva kaget.

“Kapan dibajak...”, tanya Christien sambil mencari nomor-nomor keluarga di selulernya.

“Tadi pagi, tin”, jawab Eva.

“Ohhh, aku harus menghubungi ayah, bibi dan keluarga lain...”, Christine segera menghubungi ayah dan keluarganya yang lain.

Satu per satu keluarga yang dihubungi oleh Christine spontan kaget, dan mereka akan segera ke tempat kejadian.

“Oke va, kita ke sana aja, plis...”, pinta Christine sambil selulernya ke tas jinjingnya.

“Yup, dari tadi itu mau kubilang samamu...”, pungkas Eva.

Mereka berdua pun segera berangkat ke lokasi hotel tersebut, sementara para pasukan Tim KOPASUS TNI-AD dan PIN sibuk mengatur situasi, serta komandan mencoba memberi perintah kepada teroris dengan menggunakan Toa pengeras suara.

“Kami pasukan TNI-AD dan PIN telah mengepung anda semua, harap menyerah sebelum kami memaksa”, perintah komandan KOPASUS.

“Hahahahahahaha....”, di lantai 10 Jarot tertawa keras dan menarik seorang sandera, pria yang memakai jas warna abu-abu menuju jendela hotel, namun sebelumnya dia memanggil anak buahnya.

“Rogan...”, panggilnya.

“Siap, bos...”, jawab Rogan sambil mendatangi Jarot.

“Ambil HT...”, perintah Jarot.

Rogan pun mengambil HT dan memberikannya kepada Jarot, lalu Jarot mencari sinyal radio HT para pasukan KOPASUS dan PIN.

“Srrrr....”, Jarot melacak sinyal.

“Semua tim, apakah sudah dapat titik lemahnya...”, tanya komandan KOPASUS yang ternyata telah berhasil dilacak Jarot.

“Halo semuanya, apa kabar...”, Jarot berbicara.

“Hahhh...”, Komandan KOPASUS tersontak kaget, termasuk komandan PIN dan semua pasukan yang ada di lokasi kejadian.