Lompat ke isi

Electric-Man/12

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tiba Jarot dan yang lainnya segera menuju suara teriakan Kapten Rian tadi. Ia terkejut melihat Letnan Parto berlumuran darah yang masih dirangkul Kapten Rian sembari menangis. Tubuhnya pun bersimbah darah.

Dido dan yang lainnya berusaha untuk meninggalkan tempat melihat kedatangan Jarot, namun mereka dihadang oleh Janus dan teman-temannya.

“Hei, mau ke mana”, ancam Janus dengan pistolnya.

“Semuanya, jatuhkan senjata kalian masing-masing dan angkat tangan...”, Rogan juga ikut mengancam dan memerintahkan mereka agar meletakkan senjata mereka.

Dido dan rekan-rekannya meletakkan senjata ke lantai dan segera angkat tahan. Para anak buah Jarot yang lainnya tidak tinggal diam. Mereka segara mengambil senjata-senjata yang telah dilantai.

Lain hal dengan Jarot. Dia melangkahkan kakinya menuju Parto, dan menendang Kapten Rian.

“Minggir sana...”.

“Dugh....”.

“Akh...”.

Rangkulan Kapten Rian terlepas, dan iapun tersungkur jauh ke belakang. Janus langsung mengacungkan pistolnya ke arah Rian dan menyuruhnya angkat tangan.

Sementara Jarot merangkul tubuh Parto dan mengusap-usap wajahnya.

“To...! Mengapa kau lakukan ini...”, teriaknya dengan keras

Parto tidak menjawab apa-apa, dia diam saja. Apalagi tubuhnya sudah terbujur kaku dan terasa dingin bila disentuh.

“Andai tak kau lakukan ini, kau tidak akan seperti ini...”, ucapnya kembali sembari meletakkan tubuh Parto ke lantai dengan perlahan-lahan.

Bos Rojan Gan’k pun menyelimutinya dengan taplak meja yang ada di dekatnya. Sedangkan Rian, Dido, dan yang lainnya merasa heran melihat kesedihan Jarot.

“Bah, ternyata dia kenal Parto...”, gumam Rian penasaran. “Tapi, Parto koq melindungi saya...”.

“Ada hubungan apa dia dengan Bos Mafia itu...”, tanya Dido berbisik kepada rekannya.

“Mungkin entah bapaknya, tulangnya, atau saudaranya kali...”, jawab rekannya.

“Tapi, dia koq melindungi Kapten...”, Dido bertanya kembali.

“Mana aku tahu...”, sanggahnya.

“Mungkin Parto satu keluarga dengan Dia, tetapi kepribadiannya tidak sama dengan Bos Mafai itu...”, bisik Dido.

“Mungkin juga...”.

Jarot berdiri dan memerintahkan para anak buahnya untuk mengumpulkan dan menyatukan para sandera.

“Hei, Nus... Rogan....! Satukan para sandera dan bawa mereka ke lantai lima”.

“Satu lagi...! Cari orang-orang yang masih bersembunyi..., termasuk si empunya hotel ini...”, perintahnya kembali sambil melihat-lihat di mana bersembunyi sang pemilik hotel.

“Di mana si Jacob itu bersembunyi...”, gumamnya.

Janus dan Rogan pun membagi tugas. Janus membawa para sandera ke lantai lima melalui tangga sedangkan Rogan mencari orang-orang yang masih bersembunyi. Alhasil, Rogan juga menemukan beberapa pria dan wanita dari persembunyian. Yakni para karyawan dan tamu, termasuk Direktur sekaligus pemilik Diamond Tapanuli Hotel.

Rogan dan teman-temanya pun membawa para sandera ke lantai lima. Namun dia menyuruh beberapa orang temannya tinggal untuk mengamankan pintu utama dan belakang serta menjaga keseluruhan lantai satu.

Di lantai lima, Jarot memerintahkan anak buahnya untuk memonitor keamanan hotel melalui komputer yang ada di ruang sistem keamanan.

Lalu dua orang anak buahnya pun pergi menuju ruang sistem keamanan. Kedua orang tersebut ahli dalam komputer. Baik software maupun hardware.

Sekitar 10.30 WIB bus yang berisikan rombongan Roy dan teman-temannya tiba di depan Diamond Tapanuli Hotel. Sebelumnya mereka telah shopping ke mall. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam hotel karena suara tembakan sudah tidak ada.

Roselina dan teman-temannya pun masuk ke dalam hotel. Dan seketika itu juga mereka terkejut melihat ruang chek in berantakan dan disertai beberapa bekas-bekas tembakan yang di dinding, lantai, maupun barang-barang yang ada di dalamnya.

Melihat hal itu, beberapa anak buah Jarot yang sedang berjaga-jaga di lokasi tersebut segara mengacungkan senjata ke arah rombongan Roy.

“Jangan bergerak...”

“Angkat tangan...”.

Mereka terkejut melihat kedatangan para anak buah Jarot sambil mengacungkan senjata ke arah meraka. Apa boleh buat, Roy dan teman-temannya terpaksa mengangkat tangan.

Ricky tak tahan melihat situasi tersebut, apalagi gadis yang dicintainya didorong-dorong tubuhnya. Dengan hati geram dia langsung melompat menuju orang tersebut.

“Hiaat...”, Ricky menyerang dengan tendangan ke arah orang yang telah mendorong Roselina.

“Dugh...”.

“Akh...”, terlempar ke arah meja ruang chek in.

Melihat hal itu para anak buah Jarot yang ada dilokasi segera mencoba untuk menembak Ricky. Namun Ricky ternyata cukup lihai. Dia mengagalkan mereka yang akan menembak sambil menendang benda-benda yang ada di sekitarnya ke berbagai posisi para anak buah Jarot.

“Pakh..., pakh..., pakh...”.

“Akh...”.

“Hekh....”

“Aukh...”.

Tendangan Ricky memang sangat kuat, sehingga meja, kursi, dan yang lain begitu keras menghantam para penjahat tersebut.

Rupanya hal itu sudah terlihat oleh Janus di ruang sistem keamanan. Sehingga dia segera ke lantai bawah untuk melihat situasi serta mengamankannya.

Ricky dan dan teman-temannya aman sementara. Roselina pun mendekati dan memeluknya.

“Ternyata kamu hebat juga Rick...”, bisik Roselina seraya mencium pipinya. “Cup...”.

Jantung Ricky berdegup kencang karena dia baru saja merasakan ciuman seorang gadis ke pipinya. Dia merasa gembira karena memang baru kali itu dia dicium seorang gadis yang sangat cantik.

“Wow, kamu memang hebat frend...”, puji Roy sambil menepuk punggung Ricky. Seketika itu juga Roselina melepaskan rangkulannya dengan wajah malu.

Teman-teman yang lain pun ikut memujinya. Namun keadaan seperti itu tidak berlangsung lama karena Janus sendiri datang dengan membawa senjata yang lebih hebat lagi.

“Hebat...”, ucap Janus dengan sinis sambil mengarahkan senjatanya ke arah Ricky.

Roselina dan yang lainnya kembali ketakutan. Dan ternyata Si Jarot dan beberapa anak buahnya yang telah mengikuti Rogan tanpa sepengetahuannya. Jarot tahu karena telah diberitahukan oleh salah satu anak buahnya yang sedang memonitor di ruang sistem keamanan. Namun Jarot dan yang lainnya tidak menampakkan diri. Dia ingin melihat sampai di mana kehebatan anak muda tersebut melawan Rogan. Sekaligus juga menguji kehebatan Rogan anak buahnya.

“Trims...! Tapi bagaimana dengan kamu sendiri...”, sambut Ricky juga dengan sinis sambil menunjukkan senjata yang diarahkan Janus kepadanya. “Aku pikir pria itu lebih hebat bila bertarung tanpa senjata, ya..., kan...”, mencoba memancing Janus agar bertarung dengannya tanpa senjata.

“Oh, ya...! Siapa takut...”, Janus terpancing, dan meletakkan senjatanya ke lantai. “Oke, serang aku...”, Janus menyuruh Ricky untuk menyerangnya seraya memberi kode untuk menyerang dengan tangannya.

“Oke...man...”, Ricky mengepalkan tangannya dan menyerang. “Hiiiaat...”.