Electric-Man/3

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Electric-Man Sampul.png
Electric-Man
Lahirnya The Crime Buster

Oleh:
B. Marada Hutagalung
Daftar isi:


Sunting daftar isi

Mario pun siuman, dan bangkit berdiri. Dia memperhatikan seluruh tubuhnya. Aneh, dia tidak merasakan apa-apa kendati seluruh pakaian yang dikenakannya hangus terbakar.

“Wah..., koq aku masih hidup. Apa ini mimpi”, ia mencubit tangannya. “Auh..., sakit.! Ternyata aku tidak bermimpi”.

Dia melihat tasnya yang tidak jauh darinya. Ia buka tas dan mengganti seluruh pakiannya yang sudah hangus.

Cuaca buruk pun tidak dirasakannya lagi. Lalu kaki dilangkahkan menelusuri jalan raya. Mario merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Dia rasakan tubuhnya sangat ringan dan tidak merasakan capek.

“Koq badanku ringan sekali? Seharusnya aku capek dan lelah. Ah, aku coba dulu berlari apa badanku tetap ringan...”.

Mario pun berlari menelusuri jalan raya, dan ternyata benar, badannya sangat ringan. Bahkan ia mencoba melompat setinggi mungkin. Lompatannya ternyata melampaui batas lompatan manusia biasa.

“Euy...,” takjub.

“Yuhuuiii....! Lompatan tinggi...”, seru Mario kegirangan.

Akhirnya dia menghentikan kegiatan tersebut. Dia melihat jurang yang terjal dan dalam. Dia ingin mencoba apakah dia bisa melompat melewati jurang tersebut ke daratan yang sama tingginya dengan tempat perpijakannya. Jarak antara perpijakannya dengan daratan tersebut yang dipisah oleh jurang ada sekitar 500 meter, dan ke dalaman jurang sekitar 1000 meter. Sebelum dia melompat, Mario terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan.

“Tuhan, semoga ini bukan ajalku...”, ucapnya dengan jantung berdebar, lalu melompat.

“Hiaaat....”

Lompatannya bagaikan peluru yang dimuntahkan dari moncong meriam. Namun, lompatannya tidak sampai. Malah ia jatuh ke jurang dan menabrak pohon-pohon yang tinggi. Dan sebelum sampai kedaratan ia melentangkan tangannya dan menutup mata. Namun pendaratan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung sampai malah badannya nyaris menyentuh tanah.

“Lho, koq aku nggak nyampai ke darat”, ia buka matanya. “Waw..., badanku bisa tertahan di udara yang hampir menyentuh tanah”, katanya sambil memperhatikan tubuhnya.

“Bup...”, akhirnya tubuhnya mendarat menabrak tanah.

“Aduh..., sakit juga”, meringis kesakitan meski tak seberapa.

Ia bangkit berdiri dan membersihkan tanah dari tubuhnya. Sedikit ia merasa heran, dan berpikir sejenak sambil memandang ke atas.

“Aku rasa aku bisa terbang. Coba dulu, ah...”, gumamnya dalam hati sambil melihat-lihat langit. Dia pun mencoba untuk terbang.

“Satu, dua, tiga...! Huup....”, akhirnya ia bisa terbang melayang tinggi di udara. “Waaw..., aku bisa terbang....! Aku bisa terbang....! Yuhuu...”, serunya sambil mengudara menembus awan-awan di langit.

“Aku rasa mungkin masih ada kekuatan lain dalam tubuhku...”, kembali ia penasaran dengan kekuatan dalam tubuhnya. Dan dia pun mencoba mendarat. Hasil pendaratannya berjalan dengan mulus.

“Eh..., aku bisa melihat pada malam hari tanpa bantuan cahaya lain”, dia sadar bahwa penglihatannya dapat menembus ruang gelap. Tidak hanya itu saja, pendengarannya pun cukup tajam sampai-sampai ia bisa mendengar ular di belakangnya yang siap menyerang.

“Sisshhh.....”,

“Hup...”, ia berhasil menangkap kepala ular tersebut dan meremasnya dengan sekuat tenaga. “Hahh, koq bisa pecah...”, Mario terkejut melihat hasil remasannya.

“Jangan-jangan aku bisa mengangkat batu sebesar itu atau juga menendangnnya”, Mario pun mendekati batu yang besar di hadapannya lalu mengangkatnya. Ternyata batu besar itu dapat diangkat kemudian diturunkan tanpa merasa keberatan. Lalu ia mencoba meninju batu itu. Batu pun hancur meski tak seluruhnya. Namun ia masih juga penasaran apakah ada kekuatan yang lain lagi.

“Apakah aku bisa menghancurkan batu itu tanpa harus menyentuh”, tanyanya dalam hati. “Aku coba dulu ah...”.

Dia mengerahkan tenaganya sambil mengangkat tangan kanannya dan diarahkan ke batu yang lain.

“Ah..., ternyata tidak ada apa-apa”, sedikit kesal sambil menggoyangkan tangan kanannya ke berbagai arah.

Tanpa disadarinya tiba-tiba tangannya mengeluarkan sinar-sinar berwarna biru dan menghantam sekitarnya dan cahayanya menerangi sekitarnya seketika.

“Zrrrr...! Bus...! Zrr....! Bus...”.

“Ha...”, Mario spontan terkejut atas kejadian tersebut. “Koq bisa, jangan-jangan aku kurang bisa tadi mengendalikannya. Coba lagi, ah...”.

Dengan penuh konsentrasi, dia coba kembali mengeluarkan sinar dari tangannya.

“Zrrrr...! Pis...”, berhasil dilakukan tetapi tidak mengena pada batu. Lalu dicoba lagi.

“Zrrr...! Pis...”, batu pun dihujam seberkas sinar dari tangan kanannya tapi batu tidak hancur. Kembali ia mencoba.

“Zrrr...! Duaarr...”, batu hancur berkeping-keping dan percikan sinar biru itu merusak dedaunan sekitarnya.

“Waow..., keren...”, tersenyum setelah mengetahui hasil usahanya. “Hmmm, berarti sinar tadi bisa dikendalikan sesuai dengan keinginanku”, ia berpikir dalam hati bahwa pukulan jarak jauhnya juga dapat dikendalikan sesuai dengan tingkatan yang diinginkannya.

“Oh..., aku rasa aku bisa ikut dalam perlombaan. Mungkin aku bisa jadi atlit lari, lompat atau lainnya...”, sembari ia duduk di bawah pohon ia terbayang akan olahraga yang dapat menghasilkan juara dan uang banyak.

“Tidak...! Aku tidak mau melakukan itu kalau hanya karena keinginan belaka saja”, ia menyanggah keinginannya. “Lebih baik aku gunakan kekuatanku untuk membela kebenaran dan menumpas kejahatan”, ucapnya dalam hati sambil mengepalkan tangan kanannya.

Sambil garut-garut kepala, Mario bangkit berdiri lalu berpikir nama samaran apa yang akan digunakannya untuk meumpas kejahatan.

“Blackman...! Bukan...! Superman...! Bukan juga...! Powerman...! Itu juga tidak...”, bingung memikirkan nama samaran.

Dengan melangkahkan kakinya ia kembali ke jalan semula dan tak diduga tiba-tiba angin kencang menghempas kabel-kabel listrik yang sudah putus lama putus serta merta kabel-kabel tersebut terhempas ke arah Mario bagaikan cambuk yang akan menghantamnya.

“Hup...”, dengan sigap ia tangan kanannya menangkap ujung kabel tersebut dan demikian juga tangan kirinya menangkap kabel lain.

Mario merasakan ada sentakan arus di tangannya tapi tidak merasakan apa-apa.

“Wah..., yang kutangkap ‘kan ujung kabel yang masih ada arusnya. Koq aku tidak merasakan apa-apa...”, keheranan atas peristiwa tersebut.

Kedua kabel yang masih memiliki arus ditempelkannya ke lehernya. Mario mersakan sentakan listrik dari kabel-kabel tersebut tetapi tidak juga merasakan apa-apa. Lehernya tetap seperti keadaan semula.

“Electric-Man..., atau E-Man aja...”, akhirnya ia menemukan samaran yang pas baginya. “Bagaimana dengan kostumnya, ya..? Nanti saja deh...”, tukasnya dalam hati sambil menyatukan kabel-kabel listrik tadi dan menegakkan tiang listrik yang sudah tumbang.

“Oh..., Roselina...”, ia teringat akan gadis yang dicintainya. “Aku harus segera ke tempatnya...”, tanpa pikir panjang ia pun terbang menembus langit gelap.

Di saat mengudara Mario berkata-kata dalam hati : “Aku tidak tahu dari mana kekuatan ini datang. Ah..., aku yakinkan saja diriku bahwa kekuatan ini datang dari Tuhan atau suruhan Tuhan. Terima kasih Tuhan...!”

Kekuatan yang didapatnya sebernarnya berasal dari Natan, Malaikat Halilintar. Natan hanya ingin menyelamatkan Mario dari sengatan Api Halilintar Daro dan juga sengatan arus listrik. Dia sebenarnya hanya mencoba untuk menetralisir tubuh Mario dari sengatan sinar dan listrik tersebut Daro. Natan merasa khawatir melihat Mario yang nyaris tak bernyawa, maka dia meningkatkan tenaganya agar Mario bisa sembuh dan tetap Hidup. Namun akibat kekuatan yang dikerahkan Natan telah melebihi kapasitas sehingga Mario mendapatkan kekuatan yang luar biasa dan tak satu pun manusia yang memiliki kekuatan seperti itu, sekali pun manusia itu adalah paranormal.