Manajemen Lalu Lintas/Transportasi hijau

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Transportasi hijau atau bisa juga disebut dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai Green Transport merupakan perangkat transportasi yang berwawasan lingkungan. Merupakan pendekatan yang digunakan untuk menciptakan transportasi yang sedikit atau tidak menghasilkan gas rumah kaca. Gas rumah kaca di tengarai sebagai pemicu terjadi pemanasan suhu dunia (Global Warming). Sedangkan pangsa gas rumah kaca yang diakibatkan Transportasi[1] berada pada kisaran 15 sampai 20 persen, sehingga cukup nyata langkah yang bisa dilakukan dalam sistem transport untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tersebut. Pendekatan yang paling mudah dalam menciptakan transportasi hijau[2] adalah dengan menggunakan angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi, walaupun tidak senyaman menggunakan kendaraan pribadi.

Bagaimana menciptakan transportasi hijau[sunting]

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menciptakan transportasi yang berwawasan hijau, yang dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil yaitu:

Bahan Bakar Hijau[sunting]

Bus TransJakarta yang menggunakan Bahan Bakar Gas

Bahan bakar hijau yang bisa digunakan dalam transportasi meliputi:

  1. Listrik, merupakan bahan bakar yang yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca yang minim, apalagi bila menggunakan sumber dari tenaga air, angin, sel surya ataupun nuklir. Listrik ideal digunakan untuk transportasi yang melalui jalur tetap seperti Bus Listrik, Kereta rel listrik (KRL), tetapi selain itu saat ini sudah diperkenalkan mobil/motor yang digerakkan dengan listrik yang disimpan dalam batere.
  2. Bahan bakar nabati, merupakan bahan bakar yang diolah dari bahan-bahan nabati, dapat diperoleh dari Minyak Nabati, ataupun alkohol, ataupun dalam bentuk padat. Minyak nabati seperti minyak jarak, minyak kelapa sawit digunakan untuk campuran minyak diesel yang diberi nama BioDiesel, sedang alkohol yang berasal dari hidrat arang dari tetes tebu ataupun lainnya dicampurkan ke bahan bakar premium/pertamax yang diberi nama BioPertamax di Indonesia.
  3. Sel bahan bakar, merupakan konsep baru yang dikembangkan dimana prosesnya adalah penggunaan gas H2 yang direaksikan dengan O2 yang menghasilkan air dan listrik, listrik yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan kendaraan. Selain gas H2 juga bisa digunakan gas methan. Permasalahan yang ditemukan pada kendaraan yang berbahan bakar H2 adalah belum adanya jaringan stasiun pengisian bahan bakar gas hidrogen.
  4. Bahan bakar gas, dapat berupa LPG (liquefied Petroleum Gas) ataupun CNG (Compressed Natural Gas) yang saat ini sudah digunakan untuk angkutan bus TransJakarta di Jakarta, sumber gasnya terdapat dibeberapa daerah di Indonesia yang ditransportasi melalui pipa dan tangki bertekanan.

Kendaraan hijau[sunting]

2010 Toyota Prius, kendaraan hibrida yang populer

Kendaraan yang ramah lingkungan seperti mobil listrik, kendaraan hibrida yang merupakan gabungan antara mesin mobil konvensional yang menggerakkan generator yang mengisi baterai dan kendaraannya sendiri dijalankan dengan motor listrik. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah harga kendaraan yang relatif mahal, sehingga di banyak negara diberikan berbagai insentip bila menggunakannya diantaranya penurunan bea masuk, pajak kendaraan bermotor yang lebih rendah, pembebasan pembayaran retribusi pengendalian lalu lintas (London).

Toyota merupakan salah satu produsen mobil yang giat menciptakan kendaraan yang hemat bahan bakar, salah satu diantaranya adalah Toyota Prius yang kemudian diikuti dengan produsen lainnya di Jepang maupun negara-negara Eropa dan Amerika.

Infrastruktur cerdas[sunting]

Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk menghemat bahan bakar adalah menggunakan infrastruktur cerdas yang dikenal sebagai Intelligent Transport System, dimana semua pengaturan lalu lintas dilakukan dengan cerdas dengan menggunakan paket program transportasi dan lalu lintas yang bisa mengoptimalkan penggunaan infrastruktur. Sistem ini selain dapat menghemat penggunaan bahan bakar juga akan menurunkan angka kecelakaan termasuk menurunkan stress pengemudi.

Angkutan umum[sunting]

Salah satu pendekatan yang banyak didorong dikota-kota adalah pengembangan angkutan massal dan untuk itu akan lebih baik bila dikaitkan dengan tata ruang. Ukuran alat angkut yang digunakan harus disesuaikan dengan permintaan angkutan yang ada, kalau permintaannya sangat besar maka sebaiknya digunakan kereta api kota.

Perhitungan Gas Rumah Kaca[sunting]

Untuk menghitung besarnya emisi Gas Rumah Kaca[3] dapat digunakan rumus berikut:

Emisi GRK = LPK x VKT x FI

dimana:

Emisi GRK = Gas rumah kaca (ton/tahun)
VKT=jumlah kilometer tempuh per tahun
LPK = Liter per km
FI = GRK bahan bakar (GRK Kg/liter bahan bakar)

Pada tabel berikut ditunjukkan besarnya Gas Rumah Kaca yang dihasilkan untuk setiap liter bahan bakar yang digunakan/dibakar[4]:

Jenis Bahan Bakar Kg GRK/liter BB
Premium 2,3
Diesel 2,7
LPG 1,6


Dengan menggunakan rumus dan data tersebut diatas. maka bila sebuah mobil dijalankan 20 000 km/ tahun dan konsumsi bahan bakarnya adalah 0,08 liter primium/km maka Emisi GRK yang dihasilkan dalam satu tahun adalah 0,08 x 20000 x 2,3 adalah sebesar 3680 kg GRK/tahun atau 3,68 Ton GRK/tahun. dan kalau menggunakan mobil yang lebih boros bahan bakar misalnya 0,13 liter/km maka gas rumah kaca yang dihasilkan untuk jarak tempuh yang sama adalah sebesar 5,98 ton GRK/tahun.

Bila mau menghitung besarnya carbon yang emisikan ke udara dapat ditempuh perhitungan Carbon Footprint Calculator yang banyak ditemukan di Internet salah satu diantarannya yang dikeluarkan oleh WWF pada alamat: http://rafflesia.wwf.or.id/cfootprint/?l=id

Konsumsi bahan bakar moda angkutan[sunting]

Berikut ditampilkan konsumsi bahan bakar beberapa moda transportasi:

Moda Pnp rata2 Konsumsi BB ml/Km Konsumsi ml/orang/km gr GRK/orang/km
Sepeda motor 1,3 20 15,4 35
Mobil pribadi kecil 1,8 80 44,4 102
Mobil pribadi besar 1,8 120 66,7 153
Bus kecil/mikrolet 6 120 20 46
Bis 3/4 20 200 10 27
Bus besar 40 350 8,75 24
Bus Tempel 60 500 8,66 23

Dari tabel diatas jelas terlihat bahwa upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah dengan menggunakan kendaraan yang lebih besar sepanjang faktor muatnya tinggi, bila faktor muatnya rendah maka emisinya akan menjadi tinggi per km orang nya. Langkah yang penting yang perlu didorong adalah bagaimana mengalihkan masyarakat dari kendaraan yang konsumsi bahan bakar per orang yang diangkut paling kecil. Angka ini akan menjadi lebih tinggi kalau kecepatan lalu lintas menurun karena kemacetan lalu lintas. Kemacetan sudah menjadi masalah sehari-hari dikota-kota besar, yang cenderung mengakibatkan emisi GRK yang lebih tinggi daripada kalau jalannya lancar.

Referensi[sunting]

  1. Anggiawan, Green Transport di tengah Global Warming Era, [1]
  2. How to Go Green: Public Transportation, [2]
  3. Anup B,et all, On the Road in 2035,Reducing Transportation’s Petroleum Consumption and GHG Emissions, Report Laboratory for Energy and the Environment Massachusetts Institute of Technology, July 2008
  4. Reducing greenhouse gas emissions [3]