Lompat ke isi

Sejarah Internet Indonesia/Jaringan Komputer di Bandung

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Jaringan Komputer di Bandung

[sunting]

Jaringan computer pra-internet di Bandung dimulai dari salah satu lembaga pendidikan besar di Bandung, ITB. Ketika itu sejumlah mahasiswa yang memiliki hobby elektronika, khususnya di bidang computer dan radio amatir memiliki ide untuk menghubungkan computer local antar jurusan. Ide ini banyak juga dipengaruhi oleh sejumlah akademisi ITB yang kembali setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, dan mereka sangat mengharapkan adanya sambungan internet, minimal di lingkungan kampus ITB. Ketika itu satu-satunya sambungan internet yang bisa dilakukan adalah melalui UI, dengan biaya yang mahal karena menggunakan sistem dial up / via line telepon dengan sambungan interlokal. Sementara jaringan/network sambungan antar computer di lingkungan ITB sendiri belum terbentuk. Satu-satunya jaringan / network yang ada adalah di PIKSI (Pusat Ilmu Komputer Seluruh Indonesia) ITB.

Akhirnya, pada tahun tahun baru 1993, seorang anggota Amateur Radio Club (ARC) ITB, Suryono Adisoemarta kembali dari Texas, Amerika Serikat, setelah menyelesaikan studi S2-nya. Bersama-sama dengan beberapa anggota ARC ITB, antara lain Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, Arman Hazairin dan didukung oleh Adi Indrayanto, mereka mencoba mengembangkan gateway packet radio di ITB, dan akhirnya mereka berhasil membuat jaringan sambungan internet dengan menggunakan Radio Paket ke IPTEKNET melalui LAPAN, dengan menggunakan modem Terminal Node Control (TNC) pinjaman dari Muhammad Ichsan, alumnus ITB yang bekerja di LAPAN. Pemilihan teknologi radio paket ini dengan pertimbangan bahwa menggunakan gelombang radio jauh lebih murah dibandingkan menggunakan dial up dengan sambungan interlokal; walaupun kecepatan / speed sambungannya lambat sekali.

Akhir tahun 1993, Onno W. Purbo kembali setelah menyelesaikan studi Ph.D.nya di Canada. Ia membawa banyak pengetahuan, antara lain tentang dasar-dasar pengembangan jaringan computer dan teknologi paket radio. Kemudian bersama sejumlah anggota ARC ITB, Ia mendirikan hobby group baru yang kegiatannya difokuskan pada riset dan pengembangan jaringan computer dan upaya untuk membuat sambungan ke jaringan internet global. Group ini kemudian dikenal dengan Computer Network Research Group (CNRG).

Dengan bantuan Onno W. Purbo, ide untuk membuat jaringan computer local ITB mulai diwujudkan. Dengan menggunakan paket radio, jaringan dimulai dengan menghubungkan computer antar Himpunan mahasiswa di ITB. Pengetahuan mengenai adanya jaringan computer / computer network ini cepat menyebar karena anggota-anggota CNRG terdiri dari akademisi yang berasal dari berbagai jurusan, sehingga semakin banyak Himpunan yang kemudian ikut bergabung dengan jaringan tersebut.

Kemudian pada pertengahan 1994, setelah melalui proposal serta sejumlah pembicaraan, CNRG memperoleh bantuan sambungan internet melalui Leased Line dari Telkom, melalui direktur RisTi Telkom, Suryatin Setiawan, yang juga merupakan alumnus Teknik Elektro ITB. (Lim, 2005). Speed / kecepatan sambungan leased line seharusnya 64Kbps, namun saat itu speed yang didapat hanya 28.8 Kbps; masih tetap lambat, namun sedikit lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan radio. Sambungan dengan leased line ini sangat membantu perkembangan jaringan local ITB. Ketika jaringan semakin padat/crowded, mulai dipikirkan cara lain untuk membangun sambungan. Akhirnya dipilih sambungan dengan kabel, yang kemudian dikenal sebagai Yellow Cable Network, menyambungkan lebih banyak jurusan dan himpunan mahasiswa di ITB. Albarda, salah seorang staf pengajar Jurusan Teknik Elektro (Dept. of Electronics Engineering) memprakarsai penginstalasian jaringan ‘Kabel Kuning’ tersebut dengan ijin dan pendanaan dari Ketua Jurusan Teknik Elektro.

“…Karena udah mulai bisa pakai internet, pake web browsing. Oh udah, yang lain2 ikut! “Gimana caranya?”…Ya itu awalnya, gotong royong…Kamu punya apa, punya apa, ya sama2 ngejalanin. ... Jadi memang disitu akan terjadi perubahan budaya juga, karena kita apa ya, meminta, bukan meminta, ya, me...me-anukan orang, apa ya, mengajak orang, tapi juga “’Nih, punyamu ini! Ini punya kalian ini, barangnya barang kalian tapi barang kalian ini juga harus bisa dilewatin orang lain ini. Bolehlah orang lain ikut juga!” Jadi gotong royong, sambung-menyambung gitu. Nah, mulai dari situ berkembang…” (Basuki Suhardiman; Interview DR. Joshua Barker 4 Juli 2005)

Selain mengembangkan Local Area Network ini, CNRG juga banyak membantu para anggotanya dalam mengembangkan kemampuan teknis seputar aplikasi dan pengetahuan teknis komputer. Ketika jaringan lokal ITB berkembang ke Himpunan Mahasiswa, sejumlah user/pengguna jaringan secara tidak langsung mendapatkan masukan teknis dan aplikasi komputer; dan hal ini tidak terbatas pada user laki-laki (tanpa bermaksud berbicara gender disini). Pernah ada seorang mahasiswi yang menggunakan jaringan untuk chatting dengan rekannya melalui IRC, kemudian tiba-tiba sambungan putus karena urusan teknis: ada salah satu kabel (komponen?) yang putus. Ketika mahasiswi tersebut complaint (mengeluh) karena keasyikannya chatting terganggu, seseorang (yang kelihatannya anggota CNRG) kemudian menyuruhnya untuk memperbaiki sendiri kabel/komponen yang putus.

"Kau jangan protes-protes! Hayo sini, bawa. Kau lihat ini putus kan?! Kau bor ini, caranya gini, nah sekarang kamu nyolder!" Ketika si user mahasiswi terlihat keberatan melakukannya, "Ngga? Kamu mau chatting ngga?!" sehingga akhirnya mahasiswi tersebut terpaksa melakukannya juga. Dari sana ia sedikit banyak belajar mengenai teknis komputer, sehingga berikutnya ketika ada kesulitan semacam itu, ia bahkan turun tangan membereskannya, dan kecakapannya menjadi tidak kalah dengan mahasiswa/laki-laki.

Kemudian ketika itu anggota CNRG memang didominasi mahasiswa ataupun tenaga akademis dari jurusan Elektro, namun ketika kemudian sejumlah orang dari jurusan Informatika ikut bergabung, kadang terjadi friksi/pertentangan pemikiran dalam pengembangan jaringan ataupun programming. Namun para senior CNRG kemudian mempergunakan perbedaan tersebut dengan memfokuskan kerja seorang anggotanya untuk kasus/jenis pekerjaan tertentu. Misalnya seorang anggota memiliki kemampuan lebih dalam hal programming, maka orang tersebut akan lebih banyak diberi tugas yang berhubungan dengan programming, dengan tetap memberi kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuan teknisnya dalam hal-hal yang lain.

Para senior CNRG kala itu memang tidak mengindahkan gender maupun dasar keahlian (dilihat dari jurusan mana orang yang bersangkutan berasal) dalam mengembangkan kecakapan teknis, karena keinginan para senior di CNRG untuk tidak membatasi transfer ilmu pada kalangan manapun yang ikut terlibat dalam pengembangan pengetahuan dan kecakapan komputer dan jaringan / network. Justru latar belakang yang berbeda tersebut yang sedikit banyak membantu dalam pengembangan Local Area Networking di kampus ITB. (Basuki Suhardiman, Interview DR. Joshua Barker 4 July 2005)

Publikasi / Tulisan

[sunting]