Lompat ke isi

Sejarah Internet Indonesia/Membangun dari bawah bertumpu pada jaringan komputer

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tulisan ini di tulis bulan Maret 1993 dan kemungkinan di submit ke media massa di Jakarta, tapi mungkin tidak di muat.


MEMBANGUN DARI BAWAH BERTUMPU PADA JARINGAN KOMPUTER


Onno W. Purbo


Berbagai pendekatan dalam membangun masyarakat di Indonesia telah banyak dikembangkan, pendekatan yang umum digunakan di Indonesia adalah pendekatan dari atas (top-down approach) berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digariskan oleh pemerintah dengan bertumpu pada jalur-jalur birokrasi yang ada. Untuk keperluan evaluasi dari berbagai proyek / program yang berjalan berbagai target dicanangkan pada batasan waktu yang telah ditentukan. Hal yang logis terjadi dalam sistematika pembangunan dari atas, banyaknya proyek / program yang berjalan untuk mengejar target-target tersebut. Pendekatan dari atas tidak terlalu menjadi masalah jika kita membangun sarana fisik. Dalam membangun masyarakat (manusia), hal yang menjadi penting bukan lagi tercapainya target akan tetapi justru kesinambungan (sustainable) dari program / proyek yang berjalan tadi. Evaluasi yang objektif harus dilakukan beberapa tahun setelah program berakhir, seberapa jauh masyarakat terus membangun sesuai dengan target yang ditentukan dalam program sebelumnya.

Berbagai penelitian di perguruan tinggi / lembaga penelitian sosial di Indonesia banyak ditujukan untuk mencari alternatif-alternatif pendekatan untuk membangun yang sifatnya justru membangkitkan partisipasi aktif masyarakat dalam berperan serta untuk membangun dirinya sendiri dengan dukungan minimal dari atas. Penelitian ini banyak dimotori antara lain oleh Prof. Hasan Poerbo (PPLH-ITB), Dr. Widjayono (S2-Pembangunan ITB), Dr. Sugeng Martopo (PSL-UGM) yang bekerjasama dengan berbagai lembaga internasional. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, pendekatan yang dilakukan oleh para peneliti ini ternyata lebih banyak bertumpu pada pendekatan dari bawah (bottom-up approach) dan partisipasi aktif masyarakat. Karena pendekatan dari bawah memang bertumpu pada motivasi dan partisipasi aktif masyarakat, akhirnya kesinambungan pembangunan memang dapat dijaga lebih baik daripada pendekatan dari atas. Pada kesempatan ini, penulis mencoba melihat kemungkinan untuk mengimplementasikan pendekatan dari bawah untuk membangun industri di Indonesia bekerjasama dengan perguruan tinggi dengan bertumpu pada pra-sarana jaringan komputer yang tengah kami kembangkan.

Dengan dimotori oleh rekan-rekan peneliti muda yang berdedikasi seperti R.M.S. Ibrahim (PUSILKOM-UI), Moch. Ichsan (LAPAN), Adi Indrayanto (PAU-Mikroelektronika ITB) dan rekan-rekan di BPPT, saat ini jaringan komputer di Indonesia mulai terbentuk dan antara lain mengkaitkan UI, ITB, BPPT, LAPAN, STT Telkom (Bandung). Sarana komunikasi yang digunakan juga beragam, ITB-UI-BPPT saat ini banyak menggunakan jasa PT. TELKOM, walaupun terasa cukup mahal bagi ITB dan UI yang harus melalukan interlokal ke Jakarta maupun ke Amerika Serikat. Sampai-sampai ITB sempat beberapa minggu terpaksa menghentikan interlokal ke UI karena kesulitan dana. Alternatif lain dimotori oleh rekan R.M.S. Ibrahim (UI), Moch. Ichsan (LAPAN) dan Adi Indrayanto (ITB) menggunakan teknologi paket radio. Usaha sedang dilakukan untuk membuka hubungan antara ITB dengan UGM (Pramono Hadi) dan Polyteknik ITB menggunakan teknologi paket radio. Pada tingkat lanjut, LAPAN, Dr. S. Nasserie (ITB-IPTN), Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana (ITB) berusaha menjajaki pembuatan dan peluncuran satelit mikro pada orbit rendah untuk paket radio sehingga membuka kemungkinan untuk menjangkau seluruh wilayah nusantara. Biaya peluncuran satelit ini sangat murah dibandingkan dengan PALAPA, terutama karena teknologi satelit tersebut tersedia di amatir radio.

Diskusi periodik yang mengarah pada bantuan-bantuan baik berupa perangkat lunak maupun konsultasi teknis terus berjalan dengan kami yang sedang belajar di luar negeri melalui PAU-Mikro-net yang berpusat di University of Manitoba, Canada dengan alamat surat elektronik <pau-mikro@eeserv.ee.umanitoba.ca>. Bahkan bulan Oktober 1992 yang lalu, rekan Marsudi Kisworo, salah seorang anggota PAU-Mikro-net yang telah menyelesaikan tugas belajar-nya di Australia, kembali ke Indonesia dengan membawa mesin komputer-nya yang dipakai untuk menyimpan banyak sekali perangkat lunak yang dibutuhkan untuk pengembangan jaringan komputer di Indonesia. Perangkat-perangkat ini bisa diperoleh secara cuma-cuma, bahkan sebagian dilengkapi dengan program (source code) maupun skema rangkaian yang dibutuhkan.

Usaha membuka hubungan dengan industri terus kami usahakan antara lain dengan rekan-rekan dari IPTN/NSI, PT. USI/IBM dan PT. Metrodata untuk bergabung dalam jaringan komputer tersebut. Pada bulan September 1992 yang lalu, di konferensi Indonesian Aerospace Students in Europe (ISAE) ke 4 di London, Inggris yang dihadiri oleh KSAU Marsekal Siboen Dipoeatmodjo dan dibuka oleh Prof. Dr. Harjono Djojodihardjo (Direktur Pengembangan Metoda Teknologi dan Produksi IPTN) menggantikan Prof. Dr. B.J. Habibie, atas kebaikan panitia, penulis berkesempatan untuk hadir dan membawakan makalah tentang teknologi mikroelektronik untuk ruang angkasa. Dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan dengan teman-teman muda dari IPTN baik yang tengah melakukan tugas belajar di luar negeri maupun yang datang langsung dari IPTN di Bandung sangat terasa pentingnya keberadaan media untuk bertukar informasi untuk mempercepat proses pengembangan teknologi di IPTN baik dari segi teknik mesin (seperti struktur pesawat) maupun untuk mengembangkan teknologi baru seperti teknologi Avionic untuk fly-by-wire yang bertumpu pada teknologi mikroelektronika (yang saat ini sedang giat-giatnya dikembangkan di PAU Mikroelektronika ITB). Pada diskusi penutupan konferensi IASE-4, terasa sekali bahwa para peneliti muda IPTN yang antara lain dimotori oleh rekan A.R. Reksoprojo dan Fetri Miftach sangat merasakan pentingnya kerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya untuk bergerak maju mengembangkan teknologi pesawat terbang di Indonesia. Rekan B.S.Reksoprojo yang dalam perjalanan kembali ke IPTN/NSI, sebelumnya bekerja beberapa tahun di NYNEX sebuah perusahaan telepon yang cukup besar di Amerika Serikat, telah menyatakan niatnya untuk berusaha mengembangkan jaringan komputer di IPTN dan mengkaitkannya dengan jaringan yang saat ini berkembang di perguruan tinggi.

Apa yang bisa kita lihat dalam phenomena di atas? Peneliti-peneliti muda yang berdedikasi ternyata cukup banyak dan tersebar di berbagai perguruan tinggi maupun industri di Indonesia. Didorong oleh kemauan dan dedikasi untuk membangun Indonesia, kami merasakan betapa pentingnya membentuk jaringan komputer sebagai pra-sarana utama untuk berdiskusi dan bertukar pikiran yang pada akhirnya mengarah pada kerjasama-kerjasama antar lembaga maupun kemungkinan untuk mengembangkan teknologi di industri Indonesia bertumpu pada penelitian di perguruan tinggi untuk pembangunan di Indonesia. Berbeda dengan program / kebijaksanaan yang umum berjalan di Indonesia, proses pengembangan jaringan komputer ini lebih banyak bertumpu pada inisiatif dan dedikasi para peneliti muda. Bahkan sebagian dari kami rela meluangkan waktu, tenaga bahkan uang pribadinya untuk keperluan ini di samping menjalankan tugas-tugas yang telah digariskan. Hasil-hasil nyata yang diperoleh dari proses pertukaran informasi yang sangat cepat dibantu komputer, sangat terasa baik bagi teman-teman peneliti di Indonesia maupun kami yang tengah menjalani tugas belajar di luar negeri. Kerjasama antar peneliti dari berbagai instansi terus terbentuk untuk saling mendorong dan membantu dalam membangun. Hal-hal di atas, memungkinan kesinambungan pembangunan di Indonesia tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada pemerintah pusat. Bahkan saat ini United Nation Development Program (UNDP) telah menyatakan minatnya (kepada penulis) untuk membantu pengembangan jaringan komputer ini mengingat sangat pentingnya pra-sarana jaringan komputer untuk membuka kemungkinan bagi bangsa Indonesia untuk membangun dari bawah.

Mungkin ada baiknya dipertimbangkan pada tingkat BAPPENAS, Sekertariat Negara, menteri RISTEK, industri di Indonesia seperti PT. TELKOM dan PT. INTI maupun di lembaga tertinggi negara seperti DPR/MPR untuk memberikan kemungkinan yang lebih luas lagi bagi kami peneliti-peneliti muda di perguruan tinggi dan industri untuk lebih leluasa bergerak membangun negara Indonesia dari bawah dengan bertumpu pada jaringan komputer. Insya Allah, pembangunan di Indonesia dapat berjalan lebih cepat dan berkesinambungan dengan dedikasi dan partisipasi aktif banyak peneliti muda yang tersebar di Indonesia. Akhir kata, penulis ingin menyatakan rasa salut penulis kepada rekan R.M.S. Ibrahim (PUSILKOM-UI), Moch. Ichsan (LAPAN), Adi Indrayanto (PAU-Mikroelektronika ITB) yang dibantu banyak teman muda lainnya sehingga memungkinkan terwujudnya awal sebuah jaringan komputer di perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Amien.

Onno W. Purbo. Staf di jurusan teknik elektro dan PAU Mikroeleknika ITB. Saat ini sedang menempuh program Ph.D di University of Waterloo, Canada.