Seratus Hari/Di Tepi Hutan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo-100hari.png
Ubah daftar isi

Bergegas Arme berjalan sepulangnya dari ia belajar hari itu di perguruan tulis-menulis. Biasanya ia pulang bersama-sama dengan Reiche, sahabatnya, berjalan bersama-sama sampai persimpangan jalan menuju rumah masing-masing tiba. Hari ini ia beralasan ada keperluan sehingga perlu buru-buru pulang. Untung saja Reiche pun mempunyai hajat yang mirip, yaitu kenalan ayahnya akan berkunjung sore ini. Orang yang boleh dikatakan sebagai pamannya. Dengan demikian Reiche tidak terlalu mempermasalahkan bahwa mereka hari ini tidak pulang bersama-sama.

"Sebentar lagi sampai..," ucap Arme pada dirinya sendiri. Entah mengapa, ia bersemangat sekali akan tawaran orang yang baru dua kali ditemuinya itu mengenai sebuah buku yang tidak saja sulit dimengerti tetapi juga sulit dibaca. Suatu tantangan yang tidak akan ia lewatkan begitu saja.

Ringkasan yang ia berikan kepada Reiche, sesuai dengan pesanannya, memuaskan temannya itu. Suatu ringkasan yang rapi dan terstruktur. Gembira rekannya itu menerima 'laporan' dari Arme. Demikian pula dengan sang penulis rangkuman, upahnya pun sudah berada di tangannya. Sebuah buku baru yang dua minggu lalu mereka beli bersama.

"Sebuah buku baru..," demikian gumam Arme yang memang minat bacanya gila-gilaan. Teman-temannya, sesama murid perguruan tulis-menulis sudah pasti memiliki minat baca di atas kebanyakan orang, akan tetapi Reiche ini lebih dari itu. Untung saja ia terhalang kendala ekonomi, bila tidak, sudah dipastikan rumahnya akan penuh dengan tumpukan buku-buku.

Akhirnya langkah-langkah kecil Arme membawanya tiba di tepi hutan yang ada di desanya. Dicarinya dengan mata kecilnya sungai yang ia tahu berada di suatu tempat dekat situ yang segera ditemukannya. Sekarang ia hanya perlu menyusurinya sedikit ke hulu sampai bertemu sebatang pohon yang tumbang, yang digunakan sebagai jembatan untuk menyeberang.

"Nah itu dia..," gumam sang bocah. Segera ia celingak-celinguk mencari orang yang berjanji akan menemuinya di tempat itu. Tapi tak sesosok bayanganpun ada.

"Apa di seberang sana ya...," ucapnya lagi pada dirinya sendiri. Ya mereka, ia dan orang tua itu, memang tidak mengatakan di sisi mana mereka akan bertemu di tempat ini.

Tapi sebelum ia sempat menaiki batang kayu dari pohon tua yang telah rebah melintang di tengah sungai itu, tampak si orang tua dengan santainya duduk di tengah-tengah batang pohon dan tersenyum kepadanya.

"Eh, paman... tadi 'kan...," ucapnya bingung.

"Maksudmu tadi paman belum ada di sini?" ucapnya jenaka sambil memperhatikan wajah bocah yang kebingungan itu.

"Err.., iya begitu maksudku," ucapnya masih dengan wajah sedikit bingung.

"Tidak, sedari tadi paman telah berada di sini. Hanya mungkin engkau saja yang tidak melihat aku duduk di sini," ucap orang tua itu serius.

Arme terdiam sambil mengingat-ingat apakah memang tadi ia agak melamun sehingga tidak benar-benar memperhatikan apakah memang tidak ada orang yang duduk di tengah-tengah batang pohon melintang itu. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, paman. Saya yakin tadi. Paman belum berada di sini saat saya datang."

"Yakin?" tanya orang tua itu lagi. Dan sebelum Arme berbantahan, saat ia mengedipkan mata, suatu gerakan normal mata yang mulai kering, ia tidak lagi melihat orang tua itu duduk di tempatnya semula.

"Paman...?" tanyanya.

Dan kembali saat ia mengedipkan mata secara alami, orang tua itu muncul kembali.

"Bagaimana bisa...?" tanyanya ingin tahu. Benar-benar tertarik ia pada peragaan menghilang dan muncul yang diperagakan orang tua itu di hadapannya.

"Mau mempelajarinya?" tanya orang tua itu kemudian setelah memberikan beberapa saat Arme mencerna peragaan 'ilmu' yang baru ia lakukan.

"Mau, paman!" ucap bocah itu dengan sorot mata yang bersemangat.

"Baik, jika begitu. Kita bisa segera mulai," ucap orang itu. Ia pun berjalan dengan asal di atas batang pohon melintang yang telah ditumbuhi lumut itu. Tak terpeleset ataupun tergelincir. Segera ia tiba di depan sang bocah.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!