Seratus Hari/Panggung Sandiwara

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo-100hari.png
Ubah daftar isi

Dengan cepat Reiche mengikuti tulisan yang pernah dibacanya dalam kitab Seratus Hari, Mencuri Hawa Curian. Perlahan genangan darah yang tadi keluar dari punggung gurunya mengental dan mulai membentuk sesuatu. Hawa kental dalam darah yang menggumpal. Segera ia memusatkan pikirannya pada gumpalan tersebut sebelum hawa saktinya memudar dan kembali ke alam sekitarnya, seperti wajarnya makhluk hidup berpulang kepada yang menciptakannya. Tangannya mengejang dengan keras saat kesepuluh jari-jarinya menyentuh gumpalan tersebut. Sengatan hawa segera menerjangnya. Pusat tenaga dan simpul-simpul dalam tubuhnya telah ia buka sehingga penyerapan aliran tenaga bisa semampunya terjadi.

Mengalir deras rasa hangat dan nyaman. Terus-menerus sampai tidak lagi nyaman dan ia merasakan panas luar biasa. Tangannya terasa melepuh dan wajahnya terasa terbakar, sampai akhirnya tak tahan ia berteriak keras dan terjungkal pingsang. Rubuh tak sadarkan diri tidak jauh dari tubuh gurunya yang telah lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Rupanya teriakan Reiche menyadarkan orang-orang yang sedang menunggu-nunggu dirinya tak jauh dari sana. Mereka menunggu isyarat dari Reiche untuk bersama-sama menyerang orang yang mereka curigai. Juga dengan alasan sebenarnya, bahwa mereka masih merasa jerih terhadap Panutu.

Bergegas orang-orang tersebut berjalan perlahan dan bergerombol. Saat menemukan para pemuda yang kaku dan sebagaian telah mati dengan berdiri dalam lubang seperti kubur, nyali mereka berkurang beberapa bagian. Setelah beberapa saat menunggu dan memanggil-manggil Reiche, akhirnya mereka memberanikan diri untuk terus berlanjut, menuju ke arah yang ditunjukkan oleh kerlingan mata para pemuda yang masih kaku tersebut. Tak ada yang mempu membebaskan mereka dari totokan Panutu. Jadi dibiarkanlah para pemuda itu berdiri kaku seolah dalam calon kubur masing-masing.

Sementara itu tak jauh dari kaki bukit Pambuka dan Arme tampak tergugah saat mendegar teriakan orang kesakitan itu. "Itu suara Reiche, guru!" ucap muridnya. Keduanya bergegas memacu langkahnya menaiki bukit. Menuju tempat di mana sesuatu baru saja terjadi.

"Benar... ia benar-benar melakukannya..!!" ucap Pambuka demi melihat lubang kubur di mana-mana dengan calong pengisi dan pengisinya berdiri kaku. Ia segera mendekati yang masih bernafas dan membebaskan totokan mereka satu demi satu. Segera masing-masing yang baru bebas itu langsung terduduk lunlai di atas tanah. Tiada lagi tenaga karena nyali mereka telah terbang ke langit. Dengan petunjuk suara lemah salah satu dari mereka Pambuka dan Reiche tahu ke mana mereka harus seterusnya menuju.

Di sana di ruang terbuka itu tampak dua tubuh terbujur di atas tanah bergelimpangan darah. Salah satunya tengkurap dengan sebuah bambu berlubang pada punggungnya. Tampak cairan merah pekat telah mengering di lubang bambu tersebut. Bisa diduga darah sang empunya mengalir keluar dari batang itu. Yang satunya lagi tampak masih bernapas dengan napas satu-dua. Beberapa orang berusaha menyadarkannya. Membalikkannya dan membawanya pulang. Sementara yang lain tampak mengikat jasad Panutu dengan kayu dan membawanya seperti membawa binatang hasil buruan.

Pambuka yang tahu bahwa kehadiran mereka belum diketahui oleh orang-orang desa di situ segera mengisyaratkan Arme untuk bersembunyi di belakang semak-semak dan memperhatikan apa yang sedang berlangsung. "Anak Reiche telah bertarung dan berhasil mengalahkan orang ini," begitu kata seseorang.

"Ya, ia seorang yang berani. Lihat sampai terluka seperti ini," timpal yang lain.

Segera orang-orang dari desa itu beranjang pergi dari sana. Masing-masing membantu pemuda yang telah bebas totokannya dan terduduk lemah di lubang masing-masing. Pemuda-pemuda yang telah tiada napasnya dibiarkan dulu, lebih berat membawa orang yang telah tiada nyawa. Beberapa orang tinggal untuk menjaga agar jasad-jasad baru itu tidak diganggu binatang buas.

Seperginya orang-orang itu Pambuka segera mengajak Arme pergi dari sana. Wajah muridnya yang penuh dengan pertanyaan tak diindahkannya. Ia memberi isyarat bahwa ia akan memberikan penjelasan nanti, setelah mereka tiba di hutan sana.

Bulan purnama pun pelan tertutup awan hitam, seakan bersedih terhadap apa yang baru saja terjadi. Pertumpahan darah, penghianatan dan sebuah sandiwara.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!