Seratus Hari/Pembicaraan Menjelang Pagi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo-100hari.png
Ubah daftar isi

"Terima kasih engkau mau menuliskan surat ijin untuk Arme." ucap sebuah suara.

"Terus terang aku kaget melihat lencana batu pipihmu itu," jawab suara yang lain, "tak kuduga engkau akan berlabuh di sini."

"Itu belum semua.. ada yang lain pula..," kembali suara yang pertama berkata.

"Maksudmu?" tanya lawan bicaranya.

"Engkau sudah dengar pertarunganku?" tanya suara pertama tak langsung menjawab pertanyaan tersebut.

"Aku bisa mengira-ngira..," jawab suara kedua mengambang. "Entah engkau terluka atau engkau hendak mewarisi suatu ilmu yang tidak boleh terhenti dan hanya bisa dilakukan malam hari.."

"Aku telah bertarung dengannya," jelas suara pertama. Ia menekankan pada kata "nya" saat mengucapkan.

"Tidak mungkin!" desis suara kedua. "Apa yang dicarinya di ini?"

"Tidak tahu! Aku hanya kebetulan berbenturan saja dengannya. Dan ia memang telah bertambah maju sejak dulu menghilang," jawab suara pertama sambil menghela napas.

"Tong-tong-tong!!" kentungan berbunyi tiga kali. Hari telah menjelang fajar. Satu-dua jam lagi matahari akan mulai nampak.

"Sebaiknya aku pergi sekarang," ucap suara pertama.

"Hati-hati!" ucap yang kedua.

"Engkau juga. Dia walaupun tidak pernah berseteru denganmu dulu, tapi tetap engkau harus berhati-hati!" pesan suara pertama.

Lawan bicaranya hanya mengangguk mengiyakan. Lalu dalam sekelebat orang pertama hilang dari tempatnya melalui jendela yang terbuka. Melesat. Orang kedua semakin kagum atas pesatnya ilmu dari orang yang baru saja pergi, walaupun ia melihat bahwa napas orang tersebut belum benar-benar pulih dari lukanya. Masih terdengar suara deru halus saat ia bernapas. Paru-parunya belum sembuh benar.

Orang kedua pun menutup jendela kamarnya. Memadamkan lilin dan mencoba satu-dua jam tidur. Sebentar lagi murid-murid akan berdatangan untuk menuntut ilmu dan ia masih merasa letih setelah pembicaraan tadi. Perbincangan dengan orang dari dan mengenai masa lalu. Suatu masa dalam hidupnya yang masih mengejarnya sampai saat ini dan ke tempat ini.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!