Lompat ke isi

Seratus Hari/Menyelaraskan Titik Terendah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

"Tak terasa sudah sebulan berlalu..," ucap Pambuka suatu saat, ".. dan tidak terjadi apa-apa seperti yang aku takutkan..." Mengambang kata-katanya dalam kalimat yang tidak selesai itu.

Arme yang mendengarkan mencoba untuk mengerti. "Apa yang seharusnya terjadi, guru?" tanyanya hati-hati. Ya, telah berulang kali ia mencoba bertanya, akan tetapi selalu Pambuka, gurunya, mencoba utuk tidak menjawab tuntas.

"Orang itu -- yang betempur denganku -- memiliki sebuah ilmu simpanan yang aku belum tahu pasti, sampai mana ia telah menguasainya. Ilmu untuk mengobati luka dalam dirinya dengan memanfaatkan kehidupan lain..," jelasnya dengan nada seakan-akan sedang bicara pada dirinya sendiri.

"Memanfaatkan kehidupan lain, guru?" tanya Arme kembali. Kali ini dengan penekanan dalam kata-kata 'kehidupan lain' itu.

"Lupakanlah... lupakanlah!!" ucap gurunya sambil menggoyang-goyangkan tangannya. "Bila aku sudah pasti, aku akan jelaskan kepadamu sejelas-jelasnya. Sejauh yang aku tahu," katanya kemudian. "Sekarang tetaplah dengar kabar-kabar yang berseliweran dan tidak normal."

"Baik, guru!" jawab sang murid patuh.

Setelah terdiam sesaat kemudian Pambuka mengajak Arme untuk melatih kembali Mengendalikan Air. Ia telah melihat bahwa muridnya telah bisa sedikit-sedikit menirunya. Tapi baru dalam keadaan duduk. Yang perlu malah orang harus dapat melakukan itu dalam keadaan apa saja, duduk, berdiri, berlari. Bila telah bisa, barulah ilmu itu dapat dimanfaatkan untuk bertahan dari atau menyerang lawan.

"Sekarang kita melatihnya dengan berdiri," perintahnya kemudian setelah Arme berhasil memperagakan dengan baik Mengendalikan Air sambil duduk.

"Baik, guru!" jawab Arme yang segera melaksanakan perintah Pambuka.

Dalam posisi kuda-kuda sejajar, posisi kuda-kuda paling dasar dalam hampir tiap aliran beladiri, Arme mencoba lagi ilmu yang telah berhasil ia rapalkan dalam posisi bersila tadi. Gagal!

"Sulit, guru!" katanya, ".. tenagaku tak mau keluar.. ini.."

"Itu karena engkau masih menghimpunnya dalam ketinggian pusat saat engkau bersila tadi," jelas gurunya yang melihat jelas kesalahan muridnya. "Saat berdiri, pusat tenaga tetap di bawah pusat, bukan sejengkal dari atas tanah. Ingat sifat air yang selalu mencari titk terendah. Engkau harus angkat sedikit titik terendahnya sehingga sejajar dengan dua jari di bawah pusarmu!"

Mengangguk Arme atas penjelasan gurunya. Ia pun segera mempraktikkannya. Sedikit mulai menampakkan hasil walaupun belum sesempurna hasil sebelumnya dalam posisi bersila. Tapi terlihat bahwa Arme mulai dapat mengerti. Lebih sulit ternyata karena ia harus memusatkan pikiran pada dua hal, menjaga titik terendah hawa dalam tubuhnya dan juga bentuk air yang dikendalikannya.

"Bagus!" ucap gurunya, "Terus rasakan dan lakukan!"

Beberapa saat pun berlalu dan Arme terlihat semakin bisa menjaga bentuk air yang diubah-ubahnya mengambang di udara. Menandakan bahwa ia telah bisa mengeluarkan dan mengandalikan tenaganya.

Tiba-tiba gurunya datang mendekat dan menekan pundaknya. "Pyesss!!" hancur berantakan bentuk air yang tadinya mengambang, lepas kendali dan membuyar menghantam tanah.

"Lakukan lagi, tapi aku akan mengubah-ubah tinggi rendah berdirimu!" perintah gurunya.

Arme pun mengangguk mengerti. Dan mulai melakukannya lagi. Saat bentuk air yang dikendalikan mulai teratur, gurunya menekan perlahan pundaknya sehingga kaki-kakinya membentuk kuda-kuda yang rendah. Ia pun berusaha kembali menggeser titik terendah hawa air dalam tubuhnya. Saat telah berhasil kembali, pundaknya pun diangkat sehingga kembali ia sulit mengendalikan tenagannya. Berulang-ulang sampai ia mulai dapat merasakan posisi titik terendah hawa air dalam tubuhnya dan mulai dapat mengendalikannya sesuka hati lepas dari posisi tinggi rendah kuda-kudanya.

"Bagus sekali, Arme!" ucap gurunya yang terlihat amat puas dengan kemajuannya hari itu. "Bila begini terus, minggu depan bisa kita mulai dengan kuda-kuda bergerak dan melompat."

Arme hanya mengangguk. Pikirannya masih terpusat pada hawa air yang mengalir keluar masuk tubuhnya melalui tangan turun ke titik di bawah pusar dan kembali menggelung keluar dari tangan pada sisi yang berlawanan.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!