Seratus Hari/Pertemuan Terakhir

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo-100hari.png
Ubah daftar isi

"Bagus!! Engkau sudah banyak kemajuan dalam beberapa minggu ini," ucap orang tua itu sambil memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Arme. Mengangguk-angguk puas ia.

Bocah yang dipuji itu tampak kelelahan dengan napas yang terputus-putus. Berat rupanya gerakan-gerakan dasar untuk 'menghilang' yang diajarkan oleh orang tua itu. Orang yang belum mau dipanggilnya sebagai guru, walaupun telah ia menurunkan ilmu-ilmunya kepada bocah itu.

"Jangan pikirkan sebutan-sebutan tak bermakna itu," ucapnya suatu saat waktu Arme bermaksud memanggilnya sebagai guru. "Berlakulah cerdik! Bila engkau suatu saat mendapat keuntungan dengan mengaku guru kepadaku, gunakan. Bila sebaliknya, ingkari saja. Temanmu yang memberimu 'tugas', seperti yang engkau ceritakan itu.., tirulah kecerdikannya."

Arme pun mengangguk-angguk mengiyakan walau ia tidak seratus prosen setuju dengan pendapat orang tua yang berdiri di hadapannya itu. Dari banyak kitab-kitab dituliskan bahwa kita harus menghormati orang tua dan guru kita. Dan sebutan amatlah penting, karena dari situlah sikap hormat ditumbuhkan. Tanpa sebutan yang menghormat sulit sikap-sikap lain mengikuti.

"Untuk ukuran umurmu sekarang, engkau lebih maju dariku saat belajar dulu," ucap orang tua itu setelah mereka sama-sama duduk di atas suatu batu ceper yang banya terdapat di tepi sungai di pinggir hutan tersebut. Orang tua itu menghentikan latihan hari itu karena dilihatnya Arme telah cukup memahami dan juga sudah terlihat lelah.

Arme hanya mengangguk bangga. Pujian orang tua itu bukanlah kosong. Dari sekian lama berinteraksi dengannya ia telah kenal sedikit banyak perangai orang itu. Salah satunya adalah tak banyak peradatan dan bicara apa adanya.

"Kitab ini kuberikan kepadamu..," katanya tiba-tiba setelah terdiam sesaat dan terlihat menimbang-nimbang apakah langkah yang dilakukannya itu benar adanya.

"Tapi, paman..," jawab Arme tak mengerti. Selama ini orang itu benar-benar menjaga kitab itu hati-hati. Ia bahkan hanya boleh membacanya saat benar-benar duduk di depannya. Dengan bingung Arme menerima kitab yang diangsurkan kepadanya itu.

"Aku...," ucap orang tua itu. Tak diselesaikannya percakapannya. Agak ragu-ragu ia terlihat hendak menyampaikan sesuatu.

Hening pun mengisi suasana di antara mereka. Angin semilir bertiup menyejukkan, menyejukkan tubuh-tubuh yang baru menjadi panas akibat berlatih.

"Beberapa saat yang lalu aku melihat seorang yang aku kenal, berbedan besar dan gemuk, bertandang ke tempat ini. Seorang dari masa laluku," ucapnya hati-hati, "Aku tidak tahu apa maksudnya. Hanya mengurusi pekerjaannya atau ada hubungannya dengan aku dan kitab ini."

Arme hanya terdiam mendengarkan. Ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan itu akan berlanjut.

"Jika aku tidak lagi datang ke tempat ini, kau pelajari kitab itu baik-baik," ucapnya serius. Susana pun berubah menjadi tegang dan tidak menyenangkan.

"Maksud, paman?" tanyanya tidak mengerti. Dalam hatinya kira-kira ia telah sedikit dapat menduga sesuatu. Tapi pikiran itu disimpannya dalam hati.

"Jalankan saja apa yang aku minta. Dan berjanjilah jangan ceritakan siapa-siapa pun mengenai kitab ini. Bila engkau berlatih sendiri, pergilah lebih jauh ke dalam hutan. Sekarang-sekarang ini kita berlatih di sini ada aku yang masih bisa merasakan apakah ada orang yang mengintip atau tidak," ucapnya, "Jika engkau sendiri, pastikan tidak ada orang yang mematai. Baik juga apabila kitab tersebut engkau sembunyikan di suatu tempat. Di bawah batu, di dalam lubang pohon atau di sarang ular. Terserah tempat mana yang menurutmu baik dan tidak terpikirkan oleh orang lain."

Arme hanya mengangguk mengiyakan. "Jadi ini mungkin pertemuan terakhir kita...," tanyanya agak sedih. Beberapa minggu ini telah sedikit tumbuh kedekatannya dengan orang tua tersebut.

"Kelihatannya..." ucap orang itu tak pasti. Wajahnya terlihat sedikit mengeras.

"Paman, boleh tahu nama paman..?" tanyan Arme setelah sedikit lama terdiam.

Orang tua itu tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Engkau terlalu banyak membaca ujar-ujar kuno," katanya. Lalu ia berkata lagi, "Aku sendiri sudah tidak lagi memakai namaku, tapi untukmu..., aku... adalah keturunan dari Bayangan Menangis Tertawa..."


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!