Seratus Hari/Tamu dari Jauh

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo-100hari.png
Ubah daftar isi

Sementara itu di sebuah rumah besar, bila tidak dikatakan terbesar di daerah itu, tampak seorang anak bergegas pulang. Tadi siang selepas bersekolah ia tidak lagi seperti biasanya bersama-sama dengan sahabat karibnya berjalan pulang bersama dan kadang menghabiskan waktu dengan bercerita tentang buku-buku yang mereka baca di bawah pohon teduh atau di pinggir danau jernih.

Ya, hari ini ia harus cepat pulang. Begitulah pesan ayahnya sebelum ia pergi belajar pagi itu ke perguruan tulis-menulis. Akan ada kenalan ayahnya, yang telah dikenalnya baik, sampai ia memanggilnya paman, yang akan berkunjung. Setelah sekian lama tidak melihat dirinya, sang keponakan, sudah tentu sang paman amat ingin bertemu. Dan karena kunjungannya singkat, tidak sampai sore hari, haruslah ia sebagai yang dikunjungi siap sedia segera setelah bersekolah.

"Aku sudah pulang...!!" teriak bocah tersebut saat ia memasuki rumahnya yang megah untuk ukuran orang di tempat itu. Gapura menghadang orang masuk ke dalam pekarangannya. Langit-langit yang tinggi dan dinding batu berukiran menghias rumahnya yang kontras dengan bangunan terbuat dari kayu dan bambu yang tampak di sekelilingnya. Masih dalam lingkungan pekarangan yang berpagar tinggi dan bergapura itu.

"Nak Reiche sudah ditunggu bapak dan tamunya di pendopo..," ucap seorang tua yang bekerja sebagai pengasuhnya di rumah itu.

"Baik, paman. Saya ganti baju dulu," sahutnya gembira. Rupanya sang tamu yang ingin bertemu dengannya telah lama tiba. Segera ia berganti baju yang lebih rapih dan masih bersih, khusus untuk menyambut tamu.

"Memang sebaiknya begitu, nak!" ucap orang tua itu lagi sambil sedikit membungkuk hormat. Ia pun meninggalkan anak asuhannya untuk memberitahu kepada ayah sang anak bahwa anak asuhnya akan segera muncul sehabis salin busana.

"Hahahaha!! Ini rupanya sekarang keponakanku Reiche..., sudah besar engkau sekarang!!" tawa menggelegar dan ungkapan senang yang kasar tampak membahana. Sudah tampak peringai tamu yang berkunjung itu. Kasar akan tetapi jujur.

"Paman..!" ucap Reiche sambil sedikit menunduk hormat. "Apa kabar? Saya lihat paman juga semakin 'besar'," ucapnya balik menggoda. Dan memang sejak tidak lama bertemu sang tamu memang telah bertambah subur.

Kembali tertawa membahana menerjang ruang-ruang dari rumah gedongan itu, menimbulkan gema dan gaung di sana-sini. Orang-orang yang sedang bekerja di dapur atau kandang kuda dan sapi melengak, tapi kemudian kembali bekerja setelah diberitahu bisik-bisik bahwa itu hanya ketawa seorang tamu yang punya rumah.

"Aku dengar engkau sekarang telah bersekolah, Reiche. Di perguruan tulis-menulis. Pintar nanti jadinya! Jangan seperti pamanmu ini, hanya besar tenaga -- hahahaha," ucapnya ceplas-ceplos.

"Ya, paman!" mengiyakan saja Reiche atas wejangan singkat pamannya itu.

Sang paman yang berbadan besar dan subur itu tidaklah hanya berisikan daging dan tulang, ia juga jago berkelahi. Ilmu beladiri dan kanuragan dimilikinya, suatu hal yang mutlak dipelajarinya. Apalagi jika melihat pekerjaan yang ditekuninya, mengantar kiriman barang.

"Ini, aku ada hadiah buatmu!" katanya sambil memasukkan tangannya yang besar dan berbulu ke dalam kantong di dekat ia duduk. Tak lama setelah mencari-cari keluarlah sebuah kitab kusam dan kumuh. Sebuah kitab kuno. "Ini aku dapat sebagai bayaran suatu hantaran barang, katanya bernilai tinggi," jelasnya, "aku terima karena teringat engkau, Reiche, yang katanya bakal jadi sasterawan."

"Terima kasih, paman!" jawab Reiche yang segera matanya berbinar-binar saat melihat kitab kuno tersebut. Suatu kitab kuno sebagai bayaran menghantar barang. Bisa jadi memang suatu barang berharga atau juga tidak. Bila yang terakhir, pastilah pamannya telah dibohongi oleh langganannya itu.

"Jaga baik-baik itu pemberian pamanmu," ucap ayahnya, "siapa tahu itu benar-benar berharga dan bisa dijual kembali."

Reiche kembal mengangguk-anggukkan kepalanya. Belum dibukanya kitab itu. Ia masih menimbang-nimbang dan membayangkan apa yang akan ditemui dibalik kulit muka dari buku yang kusam itu.

Setelah beberapa saat bercerita mengenai perjalanannya dan sang paman juga menanyakan mengenai sekolahnya, akhirnya Reiche pun diminta meninggalkan mereka berdua. Ada urusan pekerjaan yang tidak menarik bagi anak kecil, demikian kata mereka. Bagi Reiche sendiri ia tidak merasa tersinggung, ia lebih tertarik untuk mulai membaca kitab barunya itu.

Sebelum ia beranjak dari pendopo tempat menerima tamu itu, pamannya menanyakan apakah ia berminat untuk belajar ilmu kanuragan darinya. Katanya, walaupun ia berminat jadi sastrawan tak ada salahnya belajar satu dua jurus. Untuk menjaga diri katanya. Reiche yang saat ini hanya senang membaca menolak dengan halus. Sedikit terlihat kekecewaan di wajah sang paman. Ayahnya pun menghiburnya dan mengatakan mungkin sekarang waktunya terlalu cepat. Coba beberap tahun lagi, begitu usulnya. Seketika kembali tawa tersebut membahana ke sana-ke mari. Dan Reiche pun mohon diri untuk pergi ke kamarnya.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!