Lompat ke isi

Mesir Kuno/Agama

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Seperti di wilayah lainnya di Afrika, orang Mesir kuno menganut politeisme selama Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan, hingga Kerajaan Baru. Ini artinya mereka meyakini banyak dewa, beberapa di antaranya adalah Ra, Anubis, Osiris, Isis, dan Horus. Para dewa ini disembah dengan kurban hewan serta dengan sesajen dan banyak prosesi dimana orang-orang mengarak patung dewa dari satu tempat ke tempat lain. Mereka meyakini bahwa seluruh Mesir dimiliki oleh para dewa, dan bahwa firaun merupakan perwakilan dewa di bumi atau bahkan mungkin merupakan perwujudan dewa itu sendiri, sehingga segala yang ada di Mesir merupakan milik firaun. Setelah seseorang meninggal, dipercaya bahwa Anubis menimbang jiwanya terhadap sehelai bulu, jika jiwanya lebih berat, maka itu artinya semasa hidupnya orang tersebut lebih banyak mlakukan perbuatan jahat. Dengan demikian arwah orang itu akan dihukum. Orang Mesir percaya bahwa setelah meninggal, arwah manusia pergi ke dunia yang baru, yang mirip dengan dunia saat ini, oleh karena itu di makam ditaruh berbagai benda yang kira-kira bakal diperlukan di alam lain.

Akan tetapi, seperti di Mesopotamia, ada pula sedikit monoteisme di Mesir. Pada Kerajaan Baru, firaun Akhenaten memulai penyembahan dewa baru yang disebut Aten. Ia tampaknya ingin membuat rakyatnya percaya bahwa Aten adalah satu-satunya dewa yang sesungguhnya, atau mungkin satu-satunya dewa yang pantas disembah. Setelah Akhenaten meninggal, orang-orang kembali menyembah bermacam-cam dewa seperti sebelumnya.

Invasi Persia ke Mesir pada 539 SM tampaknya tidak memberikan banyak perubahan terhadap agama Mesir. Rakyat Mesir tetap menyembah dewa-dewi mereka sendiri. Dalam hal ini, bangsa Persia membanggakan diri karena menganggap telah memberikan toleransi beragama kepada bangsa Mesir. Ketika Ptolemaios menguasai Mesir pada 323 SM, terjadi perubahan. Di bawah kekuasaan Yunani, bangsa Mesir mulai menyembah dewa-dewi Yunani, meskipun mereka juga tetap menyembah dewa-dewi lama Mesir. Pada masa ini pula, orang Yunani di Athena mulai menyembah dewi Mesir, Isis. Mereka mengenal isis dari para pedagang yang berlayar ke Mesir.

Ketika Romawi menaklukan Mesir pada 30 SM, bangsa Mesir tetap menyembah dewa-dewi mereka sendiri sambil, pada saat yang sama, menyembah dewa-dewi Yunani, dan kali ini ditambah lagi dengan dewa-dewi Romawi juga.

Ketika Kristen mulai tersebar di Romawi, sejumlah orang Mesir juga ikut berpindah agama menjadi Kristen. Pada masa Penyiksaan Besar pada 313 M, sudah ada banyak orang Kristen di Mesir. Setelah para kaisar Romawi menjadi Kristen dan penyiksaan berakhir, sebagian besar rakyat Mesir tampaknya telah menganut agama kristen. Pada masa ini pula terjadi konflik besar Arius dan Athanasius, yang berlangsung di Aleksandria, Mesir.

Sekitar masa ini, gagasan mengenai pertapa mulai muncul di Mesir, dimana orang-orang suci meninggalkan keluarga, pekerjaan, ladang, lalu berkelana ke gurun yang jauh dari Nil, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Kristus. Ketika ada cukup banyak pertapa, mereka pun berkumpul dan mendirikan biara.

Seiring menyebarnya Islam di Mesir pada akhir 600-an M, sebagian besar orang Mesir dengan cepat berpindah ke agama Islam. Beberapa orang Yahudi dan Kristen yang tinggal di Mesir tetap menganut agamanya masing-masing, dan orang Mesir Kristen disebut Koptik.

Dewa-Dewi

[sunting]

Aspek lain

[sunting]