Mesir Kuno/Lingkungan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Citra satelit sungai Nil

Mesir memiliki lingkungan yang unik, yang memainkan peranan yang penting dalam sejarah Mesir. Pada dasarnya Mesir merupakan bagian dari Gurun Sahara, yang membentang di bagian utara Afrika.

Sahara merupakan gurun yang amat kering, dan tidak banyak yang tinggal di sana, meskipun pada masa kuno Sahara tidak sekering saat ini. Akan tetapi bahkan pada masa itu hujan jarang turun di Mesir. Alasan orang tinggal Mesir adalah sungai Nil yang mengalir di bagian tengah Mesir. Nil merupakan sungai yang besar. Sungai ini bermula di hutan hujan di Ethiopia, sebelah selatan Mesir, dan mengalir ke utara ke Laut Tengah

Air sungai Nil memungkinkan orang Mesir untuk menanam tanaman di Mesir, terutama tanaman pangan seperti gandum dan jelai, serta kacang-kacangan seperti miju-miju dan kacang arab.

Setiap tahun, terjadi hujan deras di dataran tinggi Ethiopia, yang menyebabkan sungai Nil mengalami banjir. Sungai Nil di Mesir biasanya mengalai banjir pada akhir musim panas dan awal musim gugur. Banjir ini membawa tanah hitam (lanau) yang baik dan subur, yang dibawa dari Afrika Tengah. Pada akhirnya, setelah beberapa minggu air banjir mengalir kembali ke sungai, meninggalkan lanau di daratan. Lanau ini merupakan pupuk alami yang amat baik bagi tanaman.

Ketika sungai Nil tidak mengalami banjir, orang Mesir pun dapat bercocok tanam di tanah yang subur itu. Mereka mengairi ladangnya menggunakan air dai sungai Nil melalui kanal dan parit irigasi yang mereka gali menggunakan cnagkul dan sekop.