Sejarah Kekaisaran/Ayyubiyah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bendera Ayyubiyah

Dinasti Ayyubiyah adalah dinasti Muslim dengan asal-usul Kurdi, didirikan oleh Salahuddin dan berpusat di Mesir. Dinasti ini menguasai sebagian besar Timur Tengah selama abad ke-12 dan ke-13. Salahuddin adalah wazir Ftimiyah sebelum ia mengakhiri kekuasaan Fatimiyah pada 1171. Pada 1774, ia menyatakan diri sebagai Sultna menyusul kematian penguasa Ayyubiyah terdahulu, sultan Zengiyah, Nuruddin. Ayyubiyah menghabiskan dasawarsa berikutnya melancarkan penaklukan di seluruh kawasan tersebut dan pada 1183 M, wilayah kekuasaan mereka meliputi Mesir, Suriah, Mesopotamia utara, Hejaz, Yaman, dan pesisir Afrika hingga perbatasan Tunisia modern. Sebagian besar Kerajaan Yerusalem direbut Salahuddin setelah kemenangann dalam Pertempuran Hattin pada 1187, akan tetapi pasukan salib kembali merebut pantai Palestina pada 1190-an.

Wilayah terluas Ayyubiyah

Setelah kematian Salahuddin, para putranya memperebutkan kendali atas kesultanan namun akhirnya saudaranya Al-Adil yang menjadi Sultan pada 1200. Pada 1230-an, para penguasa Ayyubiyah di Suriah berusaha memerdekaan diri dari kendali Mesir dan terus terpecah hingga Sultan As-salih Ayyub mempersatukan kembali Ayyubiyah dengan menaklukan sebagian besar Suriah, kecuali Aleppo, pada 1247. Pada saat itu, dinasti-nasti Muslim lokal telah mengusir para penguasa Ayyubiyah dari Yaman, Hejaz, dan sebagian Mesopotamia. Setelah kematiannya pada 1249, As-Salih Ayyub digantikan di Mesir oleh Al-Mu'azzam Turansyah, akan tetapi ia digulingkan oleh para jenderal Mamluk yang sebelumnya sukses memukul mundur invasi pasukan salib di Delta Nil. Peristiwa ini secara efektif mengakhiri kekuasaan Ayyubiyah di Mesir dan sejumlah upaya para penguasa Suriag, dipimpin oleh An-Nasi Yusuf dari Aleppo, untuk memulihkannya berakhir dengan kegagalan. Pada 1260, Mongol menghancurleburkan Aleppo dan setelahnya merebut sisa-sisa wilayah Ayyubiyah. Mamluk yang berhasil menghalau Mongol setelah penghancuran dinasti Ayyuibiyah, tetap mempertahankan kepangeranan Ayyubiyah di Hama hingga akhirnya menggulingkan pemimpin terakhirnya pada 1341.

Selama kekuasaan yang relatif singkat, Ayyubiyah menciptakan kemakmuran di wilayah mereka dan fasilitas serta sokongan yang diberikan Ayyubiyah berujung pada kebangkitan kegiatan keilmuan di dunia Islam. Periode ini juga ditandai oleh proses Ayyubiyah dalam secara keras menguatkan dominasi Muslim Sunni di kawasan tersebut dengan mmebangun banyak sekali madrasah di kota-kota besar mereka.