Pembenahan Transportasi Jakarta/Revitalisasi angkutan massal berbasis rel

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pengembangan jaringan dan layanan kereta api regional pada kota-kota aglomerasi seperti : Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Depok, Tangerang) merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan jaringan Kereta Api perkotaan untuk angkutan umum, dengan metransformasikan pelayanan sebagaimana dilaksanakan dalam urban railway system atau yang juga disebut sebagai Metro system ataupun MRT system seperti dilakukan di negara-negara maju. Peluang transformasi dari sub urban railway kepada urban railway system sangat besar dengan hanya melakukan beberapa langkah yang dapat dengan investasi yang tidak terlalu besar.

Kondisi Kereta Api Jabodetabek[sunting]

Kondisi pelayanan kereta api Jabodetabek

Kondisi kereta api Jabodetabek saat ini tidaklah terlalu baik, dengan kapasitas angkut hanya bisa mencapai 600 000 orang penumpang perhari dan tidak jauh berbeda dengan keadaan 10 tahun yang lalu. Permasalahan yang ditemukan antara lain menyangkut hal-hal sebagai berikut:

  • Pelayanan angkutan dilakukan dengan frekuensi pelayanan yang rendah, kapasitas angkut sangat terbatas, penumpang banyak yang duduk diatas atap yang sangat berbahaya karena sangat dekat dengan jaringan aliran atas.
  • Angka kecelakaan dengan kendaraan bermotor tinggi terutama pada persilangan sebidang yang arus lalu lintasnya sangat padat.
  • Kemacetan lalu lintas kendaraan pada persilangan sebidang sangat tinggi, dan akan semakin parah bila frekuensi kereta api tinggi.
  • Stasiun tidak steril sehingga kebocoran pendapatan tinggi yang diperkirakan bisa mencapai 30 – 50 persen.
  • Kumuh karena banyaknya pedagang asongan yang berjualan diatas kereta, pengamen yang beraksi dan masih ditambah lagi banyak pencopet yang beroperasi diatas kereta.

Dasar Pemikiran[sunting]

Jaringan kereta api Jabodetabek merupakan jaringan dengan mengikuti pola ring radial, suatu pola yang ideal untuk dikembangkan sebagai jaringan angkutan kota dengan 1 ring (loop line) dan 5 buah radial (Tangerang line, Serpong line, Bogor line, Bekasi line dan Tanjung Priok Sebagian dari lintasan sudah di segregasi dari lalu lintas kendaraan, yaitu lintas layang Manggarai – Kota

Dtkj revitalisasi.jpg

Hampir seluruh lintasan telah merupakan lintasan rel ganda yang dapat ditingkatkan kapasitas angkutnya bila dilakukan pembenahan dengan Menambah jumlah armada, headway pada jam sibuk, pelayanan setara mobil pribadi, sehingga diharapkan menjadi angkutan umum masal jarak sedang, dan dapat memindahkan sebagian pengguna kendaraan pribadi dari suburban area.

Peningkatan penumpang dapat dilakukan dengan menjadikan Busway, angkutan umum lainnya sebagai pengumpan/feeder yang sedapat mungkin, dioperasikan dari/ke stasiun kereta (memperpendek rute, memperbanyak armada), dengan jadwal waktu yang disesuaikan, sehingga diharapkan akan menjadi angkutan umum jarak pendek, dan dapat memindahkan sebagian pengguna kendaraan pribadi dari urban area.

Persyaratan Angkutan Massal[sunting]

Angkutan Umum Massal DKI Jakarta, membutuhkan :

  • Kapasitas angkut besar bila dioperasikan pada frekuensi pelayanan yang tinggi/ headway yang pendek.
  • Diperkirakan akan memindahkan pengguna kendaraan pribadi keangkutan umum sehingga merupakan solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang saat ini sudah memprihatinkan. Peralihan ke angkutan kereta api diharapkan dapat “dapat bersaing” dengan kendaraan pribadi atau paling tidak masyarakat mempunyai pilihan yang kompetitif
  • Dapat segera diwujudkan dengan mengeluarkan biaya yang tidak terlalu besar karena memanfaatkan / mengoptimalkan prasarana dan sarana yang ada dengan melakukan beberapa langkah untuk mengurangi persilangan sebidang, menambah rolling stock serta menambah catu daya listrik.
  • Peningkatan pelayanan kereta api Jabodetabek dapat dilakukan secara bertahap
  • Memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan, kereta api merupakan salah satu angkutan yang paling kecil menghasilkan emisi gas rumah kaca per orang yang diangkut.

Dtkj revitalisasi2.jpg

Apa yang dapat dilakukan[sunting]

Untuk memecahkan permasalahan transportasi dikota-kota besar dibutuhkan komitment yang kuat dari pemerintah pusat maupun daerah serta didukung dengan leadership yang kuat sebagai persyaratan pertama yang harus dipenuhi pemerintah. Kedua dibutuhkan perencanaan jangka panjang yang baik yang didukung dengan pendanaan untuk pembangunan dan pengoperasian sistem angkutan masal ini; yang juga diperlukan adalah pengawalan dan penggendalian jalannya rencana tersebut agar dapat diselesaikan sesuai waktu dan rencana yang dibuat. Ketiga optimalisasi infrastruktur yang sudah ada semaksimal mungkin diantaranya yang penting adalah bagaimana memanfaatkan secara maksimal jaringan kereta api Jabotabek dengan meningkatkan kualitas pelayanan termasuk meningkatkan frekuensi pelayanan, kerjasamakan lahan disekitar stasiun KA Komuter dengan pengembang, tiketing yang modern dan terpadu dengan moda lainnya termasuk dengan busway serta untuk persilangan sebidang perlu dilakukan pembangunan flyover ataupun underpass untuk mengatasi antrian kendaraan yang panjang dipersilangan sebidang.

Rencana strategis pengembangan KA Jabodetabek[sunting]

Untuk mempercepat revitalisasi Kereta api Jabodetabek maka dapat dilakukan secara bertahap yang telah sejalan dengan Peraturan Presiden No 83 Tahun 2011 Tentang Penugasan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menyelenggarakan prasarana dan sarana kereta Bandara Soekarno-Hatta dan Jalur Lingkar Jabodetabek, selanjutnya dengan pentahapan sebagai berikut:

  • Tahap 1: Tangerang Line (Pilot Project)
  • Tahap 2: Loop Line (Pilot Project)
  • Tahap 3: Serpong Line
  • Tahap 4: Bogor Line
  • Tahap 5: Bekasi Line

Justifikasi Tangerang dan Loop Line[sunting]

Justifikasi Tangerang dan Loop Line sebagai Pilot Project:

  • Kesiapan sarana prasarana, antara lain:Peluang untuk mengembangkan fasilitas park and ride, double track, stasiun, rute / halte busway
  • Jumlah penumpang yang tinggi dengan adanya beberapa kantong penumpang seperti di Tangerang dan dipusat kota Jakarta
  • Peluang peran serta swasta dalam pembangunan sebagian infrastuktur seperti pembangunan Stasiun yang dikaitkan dengan bisnis di kawasan disekitar stasiun
  • Rute radial dari luar kota (hinterland) ke pusat kota (kawasan Kota, Sudirman,Senin, Kemayoran)
  • Potensi perkembangan wilayah: Perkembangan Kawasan Tangerang, Manggarai dan Kota dalam bentuk Pengembangan Kawasan TOD
  • Berpeluang besar untuk membangun fasilitas Parkir dan Menumpang (Park n Ride) disekitar stasiun untuk lebih mendorong masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam melakukan perjalanan bekerja, bisnis dan wisata.

Pada gambar berikut ditunjukkan kawwasan yang dilalui oleh Lintas Tangerang dan Loop Line, dari gambar bisa dilihat bahwa kawasan yang dilalui merupakan kawasan terbangun sehingga akan membangkitkan perjalanan dengan menggunakan kereta api dalam jumlah yang tinggi, dan keadaan ini masih bisa dikembangkan lebih lanjut dengan mengembangkan kawasan disekitar stasiun yang dikenal sebagai Transit Oriented Development (TOD).

Jaringan KA Jabotabek sebagai pilot project

Airport Link[sunting]

Pemanfaat lintas tangerang untuk disambung ke Bandara Sukarno Hatta merupakan suatu pendekatan yang efisien karena panjang jalan rel yang harus dibangun tidak terlalu besar lagi, hanya berkisar 5 km. Dibanding bikin jalur baru, kita cuma perlu bangun sepur simpang dari Tanggerang menuju bandara. Direktorat Jenderal Perkeretaapian akan berpartisipasi membangun double track. Percepatan pembangunan tersebut, didukung dengan terbitnya Perpres No 83 Tahun 2011 Tentang Penugasan PT KAI Untuk Menyelenggarakan Prasarana dan Sarana Kereta Api Bandar Udara Soetta dan Jalur Lingkar KA Jabodetabek. Pemanfaatan lintas tangerang ke Bandara Sukarno Hatta akan menambah kelayakann pengembangan jalur Tangerang.

Peningkatan Pelayanan[sunting]

Peningkatan Pelayanan angkutan KA Jabotabek merupakan nilai yang harus diperoleh dari revitalisasi yang dapat dilakukan dengan:

1. Peningkatan pelayanan dilakukan melalui peningkatan frequensi pelayanan yang dilakukan dengan:
  • Memperkecil headway menjadi minimal 5 menit pada puncak pagi dan sore,
  • sedang headway 10 menit pada periode off peak
2. Waktu pengoperasian sepanjang 18 jam dalam sehari kerja antara jam 05 00 pagi sampai dengan jam 23 00 malam, malam minggu bisa diperpanjang sampai jam 24 00 dan malam senin diperpendek sampai jam 22 00
3. Waktu puncak dengan pelayanan
  • Puncak pagi antara jam 06 00 sampai dengan jam 09 00 dan
  • puncak sore antara jam 16 00 sampai dengan jam 19 00,
4 Jumlah rangkaian KA yang dibutuhkan bila kecepatan jelajah rata-rata (average journey speed) sebesar 30 km/jam maka waktu putar kereta (round trip time) 120 menit dan adalah sebesar 24 set,

Penyempurnaan Infrastruktur[sunting]

Beberapa langkah penyempurnaan infrastruktur yang harus dilakukan untuk dapat meningkatkan frekuensi pelayanan kereta api dengan headway 5 menit adalah dengan melakukan:

  1. Menghilangkan semua persilangan sebidang dengan membangun jalan layang (flyover) diatas persilangan ataupun dengan membangun terowongan dibawah persilangan (underpass).
  2. Membangun beberapa buah jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda (sepeda motor) di perkampungan padat penduduk yang dipisahkan oleh rel kereta api
  3. Menutup persilangan sebidang lainnya termasuk persilangan tidak sebidang tidak resmi secara phisik.
  4. Pemagaran seluruh lintasan untuk menutup kemungkinan persilangan-persilangan liar.
  5. Peningkatan dan penambahan stasiun dilokasi konsentrasi penumpang dengan jarak anatara stasiun sekitar 1 sampai 2 km
  6. Penambahan catu daya listrik (feederline) untuk mensuplai listrik bagi penambahan frekuensi pelayanan.
  7. Penyempurnaan sistem persinyalan untuk mendukung frekuensi pelayanan pada puncak dengan headway 5 menit.

Modernisasi Pelayanan[sunting]

Melakukan modernisasi pelayanan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, menghilangkan kekumuhan kereta api jabodetabek yang dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • Peron di semua stasiun dibuat satu level dengan lantai kereta api sehingga mempercepat naik turun penumpang, serta memungkinkan penderita cacat untuk menggunakan
  • Stasiun tertutup, sehingga semua penumpang keluar masuk stasiun melalui gate resmi. Dengan demikian semua penumpang hanyak bisa masuk kedalam stasiun/peron kalau melakukan pembayaran.
  • Ticketing diusulkan dengan menggunakan sistem kartu electronik yang bisa diisi ulang, untuk itu dapat dikerjasamakan dengan kartu elektronik multi fungsi yang saat ini sudah beredar dimasyarakat seperti ETollCard dari Bank Mandiri atau Flash dari BCA ataupun dapat digunakan keduanya.
  • Frekuensi dipertahankan pada jadwal yang tetap dan teratur, penyimpangan jadwal diusahakan seminal mungkin.

Kemitraan Pemerintah, BUMN, Swasta[sunting]

Untuk meminimalkan investasi pemerintah dalam revitalisasi kereta api Jabodetabek dengan menugaskan BUMN PT Kereta Api dan membuka peluang swasta untuk bisa ikut investasi.

Peran Pemerintah Pusat[sunting]

Keterkaitan antar instansi pemerintah pusat

Peran pemerintah masih bisa dibagi dalam beberapa Kementrian, yaitu:

  1. Kementerian Perhubungan bertugas untuk melakukan penyempurnaan infrastruktrur KA, termasuk pembangunan stasiun-stasiun baru, pembangunan short-cut Antara Stasiun Palmerah dengan Stasiun Karet
  2. Kementerian Pekerjaan Umum bertugas untuk membangun grade separation: Fly over dan underpass pada jalan nasional, serta ikut membantu Pemerintah Daerah dalam melakukan pembangunan grade separation pada jalan Propinsi dan jalan Kabupaten/Kota
  3. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan reformasi lebih lanjut PT KAI Commuter Jabodetabek dan membentuk joint venture dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta Swasta yang berminat; Memperbesar suplly listrik dari PLN untuk peningkatan kapasitas lintas Kereta Api Serpong dan pada tahap berikutnya diseluruh jaringan Kereta Api Jabodetabek.
  4. Kementerian Enerji dan Sumber daya Mineral (ESDM) bersama Perrusahaan Listrik Negara(PLN) bertugas untuk meningkatkan catu daya listrik agar mampu melayani peningkatan Frequensi.

Peran PT Kereta Api Indonesia[sunting]

Reformasi operator Kereta api

  1. PT KAI Commuter Jabodetabek harus membentuk membentuk suatu joint venture dengan Badan Usaha Milik Daerah DKI Jakarta, Badan Usaha Milik Daerah Banten dan Swasta lainnya
  2. PT KAI harus memperluas hak pengelolaan asset kepada PT KAI Commuter Jabodetabek untuk mempermudah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan asset diseputar stasiun kereta api
  3. PT KAI Commuter Jabodetabek mengoperasikan dan mengelola kereta api komuter khususnya dalam hal:
    1. Redevelopment kawasan di sekitar stasiun yang bekerja sama dengan sektor swasta dan pemerintah daerah
    2. Untuk menurunkan investasi pemerintah/PT KAI Commuter harus melakukan outsourcing pengadaan dan pengoperasian Rolling Stock kepada pihak ketiga
    3. Outsourcing Ticketing kepada pihak ketiga terutama dengan memanfaatkan sistem yang sudah digunakan masyarakat luas seperti Etollcard dari bank Mandiri atau Flash dari bank BCA

Peran Pemerintah Daerah[sunting]

Jaringan pengumpan ke Lintas KA Jabodeabek

Peran masing-masing Pemerintah Daerah

  1. Pemerintah Daerah DKI Jakarta bertugas untuk membangun grade separation: fly over dan underpass pada jalan Provinsi, ikut berpartisipasi membangun stasiun-stasiun yang berada diwilayah DKI Jakarta
  2. Melakukan restrukturisasi Pajak Bumi dan bangunan di sekitar stasiun yang digunakan khusus untuk peningkatan pelayanan dan subsidi kereta api dan
  3. Mereformasi jaringan trayek angkutan jalan raya agar menjadi pengumpan kereta api,
  4. Pemerintah Daerah Banten dan Kabupaten Tangerang bertugas untuk membangun grade separation:
a. Fly over dan underpass pada jalan Provinsi, jalan Kabupaten/Kota, serta
b. ikut berpartisipasi dalam membangun stasiun-stasiun diwilayahnya dengan memanfaatkan peran serta swasta yang diberi hak untuk iklan serta peluang bisnis di stasiun

Peran Swasta[sunting]

Pentingnya peran swasta

Sektor swasta lainnya mempunyai peran dalam:

  1. Pengadaan Rolling stock dapat dikerjasamakan dengan pihak ke III dengan pemanfaatan KA ex Jepang yang dimodifikasi seperti yang sudah pernah dilaksanakan sebelumnya oleh PT KAI dan Pemerintah
  2. Ticketing dapat dikerjasamakan dengan swasta. Tiket yang digunakan dikereta api Jabodetabek diharapkan dapat juga digunakan untuk angkutan busway serta bus pengumpan (feeder), pendekatan yang dapat digunakan menggunakan cash card seperti EToll Card dari Bank Mandiri ataupun Flash dari Bank BCA
  3. Pelayanan angkutan Feeder bus ke stasiun KA Jabodetabek dapat dilaksanakan dengan mengajak sektor swasta yang dapat dilakukan dengan mengajak Organda untuk ikut berpartisipasi dalam penyediaan dan rerouting angkutan yang ada agar menjadi feeder dari kereta api Jabodetabek. Feeder service dapat berupa angkutan dengan rute tetap dan teratur seperti busway, bus besar, bus sedang serta angkot dan angkutan umum tidak dalam trayek seperti taxi dan angkutan jenis keIV (bajaj dan sejenisnya)

Transit Oriented Development[sunting]

Pengembangan kawasan disekitar stasiun

Bersama dengan PT KAI Commuter membangun stasiun yang dikaitkan dengan kegiatan bisnis tertentu:

  1. Swalayan kecil, kios majalah, kantin/restorant, toko di stasiun
  2. Pembangunan apartemen disekitar stasiun bila diperlukan menjadi satu dengan stasiun (diatas stasiun) dalam rangka pengembangan Transit Oriented Development (TOD)
  3. Mengembangkan akses menuju stasiun dari kawasan pemukiman maupun bisnis yang digunakan oleh angkutan feeder serta pengguna kendaraan pribadi yang akan parkir di stasiun, atau mengantar menjemput penumpang (Kiss n ride)
  4. Ikut mengembangkan fasilitas parkir dan menumpang (park & ride) dengan biaya murah serta aman yang disediakan untuk:
a. Mobil
b. Sepeda Motor
c. Sepeda diberikan gratis dalam rangka untuk mendorong program transportasi hijau yang berwawasan lingkungan