Bahasa Melayu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
(Dialihkan dari Bahasa Betawi)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Di Provinsi Sumatra Utara[sunting]

Bahasa Melayu yang berada di Provinsi Sumatra Utara dituturkan di Desa Stabat Lama, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat; Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat; Desa Sei Sakat, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu; Desa Cinta Air, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai; Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang; Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai; Desa Asahan Mati, Desa Bagan Asahan, Desa Bagan Asahan Baru, dan Desa Bagan Asahan Pekan, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan; Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal; Kelurahan Sorkam, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah; Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat; dan Kota Medan.

Bahasa Melayu di Provinsi Sumatra Utara terdiri atas 11 dialek, yaitu

  1. Dialek Stabat Lama dituturkan di Desa Stabat Lama, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat;
  2. dialek Secanggang (Langkat) dituturkan di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat;
  3. dialek Sungai Sakat (Labuhanbatu) dituturkan di Desa Sei Sakat, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu;
  4. dialek Cinta Air dituturkan di Desa Cinta Air, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai;
  5. dialek Hamparan Perak dituturkan di Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang;
  6. dialek Dolok Manampang (Deli Serdang) dituturkan di Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatra Utara;
  7. dialek Tanjung Balai Asahan dituturkan di Desa Asahan Mati, Desa Bagan Asahan, Desa Bagan Asahan Baru, dan Desa Bagan Asahan Pekan, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan;
  8. dialek Muara Sipongi (Tapanuli Selatan) dituturkan di Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal;
  9. dialek Sorkam (Tapanuli Tengah) dituturkan di Kelurahan Sorkam, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah;
  10. dialek Binjai dituturkan di Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat; dan
  11. dialek Medan dituturkan di Kota Medan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kesebelas dialek tersebut berkisar berkisar 51%--71,50% (beda dialek). Isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Batak, Bahasa Jawa, Bahasa Gayo, Bahasa Minangkabau, dan Bahasa Nias.

Di Provinsi Riau[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan di wilayah Provinsi Riau. Isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Banjar dan Bahasa Bugis.

Sekelompok isolek di Provinsi Riau bagian tengah dan barat yang diakui sebagai bahasa Melayu memiliki persentase fonologis dan leksikon yang menggolongkan isolek-isolek tersebut sebagai bahasa berbeda dengan bahasa Melayu berkisar 88,25%.

Di Provinsi Jambi[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan di Provinsi Jambi. Bahasa Melayu yang terdapat di Provinsi Jambi terdiri atas delapan dialek, yaitu

  1. dialek Tanjung Jabung Timur,
  2. dialek Kota Jambi,
  3. dialek Muarajambi,
  4. dialek Batanghari,
  5. dialek Tebo,
  6. dialek Bungo,
  7. dialek Sarolangun, dan
  8. dialek Marangin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketujuh dialek tersebut berkisar 51%--80% sehingga beda dialek. Isolek Kerinci merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Minangkabau, Bahasa Kerinci, dan Bahasa Bajau Tungkal Satu.

Di Provinsi Sumatra Selatan[sunting]

Bahasa Melayu yang berada di Provinsi Sumatra Selatan dituturkan di wilayah Kecamatan Saling, Kabupaten Empat Lawang; Kelurahan Selangit, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas; Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara; Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin; Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II Kota Palembang; Desa Padang Bindu, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatra Selatan.

Bahasa Melayu yang terdapat di Provinsi Sumatra Selatanterdiri atas sembilan dialek, yaitu

  1. dialek Palembang Sukabangun,
  2. dialek Kisam,
  3. dialek Muara Saling yang dituturkan di Kecamatan Saling, Kabupaten Empat Lawang,
  4. dialek Selangit yang dituturkan di Kelurahan Selangit, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas,
  5. dialek Rupit yang dituturkan di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara,
  6. dialek Bentayan yang dituturkan di Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin,
  7. dialek Palembang 16 Ulu yang dituturkan di Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II Kota Palembang,
  8. dialek Padang Bindu yang dituturkan di Desa Padang Bindu, dan
  9. dialek Talang Ubi yang dituturkan di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kesembilan dialek tersebut berkisar 51%--80%. Isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa bahasa Kayu Agung, Ogan, Pademaran, Komering, dan Lematang.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan di Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahasa Melayu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri atas lima dialek, yaitu

  1. Dialek Ranggi Asam dituturkan di Desa Ranggi Asam, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat.
  2. Dialek Tua Tunu dituturkan di Kelurahan Tua Tunu, Kecamatan Gerunggang, Kota Pangkal Pinang.
  3. Dialek Jeriji dituturkan di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
  4. Dialek Tempilang dituturkan di Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.
  5. Dialek Mayang dituturkan di Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut berkisar 51%--80% sehingga berbeda dialek. Sementara itu, isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Kayu Agung.

Di Provinsi Kepulauan Riau[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan di Provinsi Kepulauan Riau. Bahasa Melayu di Provinsi Kepulauan Riau terdiri atas 24 dialek, yaitu

  1. dialek Pesisir,
  2. Dialek Kundur dituturkan di Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
  3. Dialek Bintan-Karimun dituturkan di Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
  4. Dialek Pecong dituturkan di Kelurahan Pecong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
  5. Dialek Karas-Pulau Abang dituturkan di Kelurahan Karas dan Kelurahan Pulau Abang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
  6. Dialek Malang Rapat-Kelong dituturkan di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, dan Desa Kelong, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
  7. Dialek Mantang Lama dituturkan di Desa Mantang Lama, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
  8. Dialek Rejai dituturkan di Desa Rejai, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepualau Riau.
  9. Dialek Posek dituturkan di Desa Posek, Kecamatan Kepulauan Posek, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
  10. Dialek Merawang dituturkan di Desa Merawang, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
  11. Dialek Berindat-Sebelat dituturkan di Desa Berindat, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
  12. Dialek Arung Ayam dituturkan di Desa Arung Ayam, Kecamatan Serasan Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  13. Dialek Kampung Hilir dituturkan di Kampung Hilir, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  14. Dialek Pulau Laut dituturkan di Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  15. Dialek Ceruk dituturkan di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  16. Dialek Pangkil dituturkan oleh masyarakat Desa Pangkil, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
  17. Dialek Sanglar dituturkan masyarakat Desa Sanglar, Kecamatan Durai, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Menurut pengakuan penduduk, dialek Sanglar juga dituturkan di Desa Semenang, Desa Tanjungkilang, dan Desa Ngal.
  18. Dialek Binjai dituturkan oleh masyarakat di Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Menurut pengakuan penduduk, dialek Binjai juga dituturkan di Desa Sedanau Timur, Desa Cemaga, Desa Sedanau Timur, dan Kecamatan Bunguran Timur.
  19. Dialek Bandarsyah dituturkan oleh masyarakat Desa Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Bandarsyah meliputi desa-desa yang berbatasan langsung dengan Desa Bandarsyah, yaitu di sebelah utara dengan Kelurahan Ranai dan Ranai Darat, di sebelah selatan dengan Desa Sungai Ulu, di sebelah barat dengan Sungai Ulu.
  20. Dialek Tanjungpala dituturkan di Desa Tanjungpala, Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Tanjungpala meliputi desa-desa yang berbatasan langsung dengan Desa Tanjungpala yaitu di sebelah selatan dengan Desa Airpayang dan di sebelah barat dengan Desa Kadur.
  21. Dialek Pemping dituturkan oleh masyarakat di Desa Pemping, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
  22. Dialek Melayu Kampung Bugis dituturkan oleh masyarakat di Desa Senggarang, Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kecamatan Tanjungpinang Kota, dan beberapa desa di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
  23. Dialek Suku Laut Kelumu dituturkan oleh masyarakat di Desa Kelumu, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
  24. Dialek Suku Laut Mengkait dituturkan oleh masyarakat di Pulau Mengkait, Desa Kiabu, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antardialek menunjukkan beda dialek yang berkisar 51%--80%. Sementara itu, isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Banjar.

Bahasa Melayu di Indonesia memiliki 87 dialek. Adapun bahasa Melayu dituturkan di wilayah Provinsi Sumatra Utara terdiri atas 11 dialek, yaitu

  1. dialek Stabat Lama,
  2. dialek Secangang (Langkat),
  3. dialek Sungai Sakat (Labuhan Batu),
  4. dialek Cinta Air,
  5. dialek Hamparan Perak,
  6. dialek Dolok Manampang (Deli Serdang),
  7. dialek Tanjung Balai Asahan,
  8. dialek Muara Sipongi (Tapanuli Selatan),
  9. dialek Sorkam (Tapanuli Tengah),
  10. dialek Binjai, dan
  11. dialek Medan.

Bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah Provinsi Riau terdiri atas satu dialek, yaitu dialek Pesisir.

Bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah Provinsi Jambi terdiri atas delapan dialek, yaitu

  1. dialek Tanjung Jabung Timur,
  2. dialek Kota Jambi,
  3. dialek Muarajambi,
  4. dialek Batanghari,
  5. dialek Tebo,
  6. dialek Bungo,
  7. dialek Sarolangun, dan
  8. dialek Marangin.

Bahasa Melayu dituturkan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri atas lima dialek, yaitu

  1. dialek Ranggi Asam,
  2. dialek Tua Tunu,
  3. dialek Jeriji,
  4. dialek Tempilang, dan
  5. dialek Mayang.

Bahasa Melayu dituturkan di wilayah Provinsi Sumatra Selatan terdiri atas sembilan dialek, yaitu

  1. dialek Palembang Sukabangun,
  2. dialek Kisam,
  3. dialek Muara Saling,
  4. dialek Selangit,
  5. dialek Rupit,
  6. dialek Bentayan,
  7. dialek Palembang 16 Ulu,
  8. dialek Padang Bintu, dan
  9. dialek Talang Ubi.

Bahasa Melayu yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Betawi Pusat dan
  2. dialek Betawi Pinggiran (Ora).

Bahasa Melayu di Provinsi Jawa Barat mempunyai satu dialek, yaitu dialek Betawi.

Bahasa Melayu di Provinsi Bali juga hanya mempunyai satu dialek, yaitu dialek Loloan.

Bahasa Melayu di Provinsi NTB juga mempunyai satu dialek, yaitu dialek Kampung Melayu.

Bahasa Melayu di Provinsi Kalimantan Timur terdiri atas tujuh dialek, yaitu

  1. dialek Banua,
  2. dialek Banjar Samarida,
  3. dialek Kutai Kota Bangun,
  4. dialek Badeng,
  5. dialek Kutai Muara Lesan,
  6. dialek Kutai Muyup Ulu, dan
  7. dialek Kahala.

Bahasa Melayu Kalimantan Tengah terdiri atas tiga dialek, yaitu

  1. dialek Mendawai,
  2. dialek Kumai (Sei Konyer), dan
  3. dialek Kotawaringin Hulu.

Bahasa Melayu di Provinsi Sulawesi Utara terdiri atas satu dialek, yaitu dialek Malalayang Satu.

Bahasa Melayu di Provinsi Maluku Utara terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Ternate dan
  2. dialek Gorap.

Bahasa Melayu di Provinsi Maluku terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. dialek Ambon (Kayeli, Bula),
  2. dialek Ambon Teon,
  3. dialek Luang Timur, dan
  4. dialek Teranggan Timur.

Bahasa Melayu juga dituturkan di wilayah Provinsi NTT dan Provinsi Papua.

Di Provinsi DKI Jakarta[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan oleh masyarakat Betawi DKI Jakarta. Bahasa itu oleh masyarakat Betawi disebut bahasa Betawi atau Melayu Betawi. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. Dialek Betawi Pusat dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah DKI Jakarta bagian tengah.
  2. Dialek Betawi Pinggiran (Ora) dituturkan di masyarakat yang tinggal di daerah DKI Jakarta bagian pinggiran terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan penutur bahasa Sunda.

Bahasa Melayu Betawi merupakan dialek dari bahasa Melayu di Riau dengan persentase perbedaan sebesar 75,75%. Jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya yang ada di Pulau Jawa, persentase perbedaannya di atas 81%, misalnya dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda.

Di Provinsi Bali[sunting]

Di Pulau Bali bahasa Melayu dituturkan di Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Bahasa itu disebut juga sebagai bahasa Melayu Loloan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu yang terdapat di Bali merupakan bahasa yang sama dengan bahasa Melayu di Kepulauan Riau dengan persentase perbedaan sebesar 78,50% sehingga beda dialek.

Di Provinsi Kalimantan Barat[sunting]

Bahasa Melayu merupakan bahasa yang terbanyak penuturnya di Kalimantan Barat. Ada sebagian masyarakat di Kalimantan Barat yang menyebutnya bahasa Melayik. Penutur bahasa Melayu ini tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota serta di kampung-kampung pedalaman di Kalimantan Barat.

Daerah-daerah yang masyarakatnya menggunakan bahasa Melayu antara lain yaitu Desa Pesaguan Kiri, Kecamatan Matan Hilir Selatan; Desa Benawai Agung, Kecamatan Sukadana; Desa Sungai Matamata, Kecamatan Simpang Hilir; Desa Batu Pahat, Kecamatan Nanga Mahap; Desa Selaup, Kecamatan Bunut Hulu; Desa Nanga Boyan, Kecamatan Bunut Hilir; Desa Mengkiang, Kecamatan Sanggau; Desa Inggis, Kecamatan Mukok; Desa Mungguk, Kecamatan Ngabang; Desa Temoyok, Kecamatan Air Besar; Desa Sungai Nipah, Kecamatan Siantan; Desa Teluk Empening, Kecamatan Terentang; Desa Teluk Belong, Kecamatan Teluk Belong; Desa Sungai Ambawang, Kecamatan Sungai Raya; Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap; Kelurahan Pal Lima, Kecamatan Pontianak Barat; Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur; Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur; Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Hilir; Desa Sungai Kunyit Dalam, Kecamatan Sungai Kunyit; Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur; Desa Perapakan, Kecamatan Pemangkat; Dungun, Kecamatan Tebas; Desa Lumbang, Kecamatan Sambas; Desa Piantus, Kecamatan Sejangkung dan Desa Samustida, Kecamatan Teluk Keramat; Desa Jelemuk, Kecamatan Bika dan Lawik, Kecamatan Embaloh Hilir; Kekurak, Kecamatan Badau; Desa Sepiluk, Kecamatan Ketungau Hulu; Desa Margahayu, Kecamatan Ketungau Tengah; Desa Kenuak, Kecamatan Ketungau Hilir dan Desa Kebong, Kecamatan Kelam Permai; Desa Landau Kodah, Kecamatan Sekadau Hilir; Desa Pawis Hilir, Kecamatan Ngabang; Desa Selutung, Kecamatan Mandor; Desa Ringo Lojok, Kecamatan Menyuke; Desa Saham, Kecamatan Sengah Temilah; Desa Korek, Kecamatan Sui Ambawang; Desa Terap, Kecamatan Toho; Desa Sepakat, Kecamatan Menjalin; Desa Sempat, Kecamatan Mempawah Hilir; Desa Bilayuk, Kecamatan Mempawah Hulu; Desa Marunsu, Kecamatan Samalantan; Desa Pajintan, Kecamatan Tujuh Belas dan Desa Capkala, Kecamatan Sungai Raya; Desa Nanga Nuak, Kecamatan Ella Hilir dan Desa Bedaha, Kecamatan Serawai; Desa Senangak, Kecamatan Nanga Taman dan Desa Boti, Kecamatan Sekadau; Penyarang, Kecamatan Jelai Hulu; Desa Lamon Satong Kelurahan Matan Hilir Utara dan Desa Randau Jungkal, Kecamatan Sandai; Desa Mungguk Kedakal, Kecamatan Nanga Sokan; Desa Tumbang Titi; Betenung, Kecamatan Nanga Tayap; dan Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu.

Wilayah-wilayah tutur bahasa Melayu di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ribun (Rihun) dan Galik (Golik), di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bakatik, di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu dan bahasa Uud Danum (Ot Danum), sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Taman.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Melayu di Kalimantan Barat memiliki 15 dialek, yaitu

  1. dialek (Melayu) Kapuas meliputi daerah pengamatan Pesaguan Kiri, Kecamatan Matan Hilir Selatan; Benawai Agung, Kecamatan Sukadana; Sungai Matamata, Kecamatan Simpang Hilir; Batu Pahat, Kecamatan Nanga Mahap; Selaup, Kecamatan Bunut Hulu; Nanga Boyan, Kecamatan Bunut Hilir; Mengkiang, Kecamatan Sanggau; Inggis, Kecamatan Mukok; Mungguk, Kecamatan Ngabang; Temoyok, Kecamatan Air Besar; Sungai Nipah, Kecamatan Siantan; Teluk Empening, Kecamatan Terentang; Teluk Belong, Kecamatan Teluk Belong; Sungai Ambawang, Kecamatan Sungai Raya; Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap; Kelurahan Pal Lima, Kecamatan Pontianak Barat; Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur; Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur; Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Hilir; Sungai Kunyit Dalam, Kecamatan Sungai Kunyit; Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur; Perapakan, Kecamatan Pemangkat; Dungun, Kecamatan Tebas; Lumbang, Kecamatan Sambas; Piantus, Kecamatan Sejangkung dan Samustida, Kecamatan Teluk Keramat;
  2. dialek Kantuk daerah sebarannya meliputi daerah Jelemuk, Kecamatan Bika dan Lawik, Kecamatan Embaloh Hilir;
  3. dialek Iban tersebar di daerah pengamatan Kekurak, Kecamatan Badau;
  4. dialek Lunjuk daerah sebarannya meliputi Sepiluk, Kecamatan Ketungau Hulu; Margahayu, Kecamatan Ketungau Tengah; Kenuak, Kecamatan Ketungau Hilir dan Kebong, Kecamatan Kelam Permai;
  5. dialek Ketungau daerah sebarannya di Landau Kodah, Kecamatan Sekadau Hilir;
  6. dialek Ketungau daerah sebarannya Parwas Hilir, Kecamatan Ngabang;
  7. dialek Kanayatan daerah sebarannya meliputi Selutung, Kecamatan Mandor; Ringo Lojok, Kecamatan Menyuke; Saham, Kecamatan Sengah Temilah; Korek, Kecamatan Sui Ambawang; Terap, Kecamatan Toho; Sepakat, Kecamatan Menjalin; Sempat, Kecamatan Mempawah Hilir; Bilayuk, Kecamatan Mempawah Hulu; Marunsu, Kecamatan Samalantan; Pajintan, Kecamatan Tujuh Belas dan Capkala, Kecamatan Sungai Raya;
  8. dialek Nanga Nuak daerah sebarannya di Nanga Nuak, Kecamatan Ella Hilir dan Bedaha, Kecamatan Serawai;
  9. dialek Taman Sekadau tersebar di daerah Senangak, Kecamatan Nanga Taman dan Boti, Kecamatan Sekadau;
  10. dialek Tunjung daerah sebarannya meliputi Penyarang, Kecamatan Jelai Hulu;
  11. dialek Laman Satong sebarannya di daerah desa Lamon Satong Kelurahan Matan Hilir Utara dan Randau Jungkal, Kecamatan Sandai;
  12. dialek Sokan daerah sebarannya meliputi Mungguk Kedakal, Kecamatan Nanga Sokan;
  13. dialek Natai Panjang di daerah pengamatan Tumbang Titi;
  14. dialek Kayong daerah sebarannya meliputi Betenung, Kecamatan Nanga Tayap; dan
  15. dialek Suruk daerah sebarannya meliputi desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat, seperti bahasa Taman, Uud Danum (Ot Danum), Galik (Golik), Ribun (Rihun), Bukat, Punan, Kayaan, dan Bakatik menunjukkan persentase perbedaan sebesar 81%--100%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa di Kalimantan Barat.

Di Provinsi Kalimantan Tengah[sunting]

Bahasa Melayu di Kalimantan Tengah dituturkan di sebagian wilayah Kabupten Kotawaringin Barat. Bahasa Melayu di Kalimantan Tengah juga dituturkan di Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat; Desa Sungai Konyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat; Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Bahasa Melayu Kalimantan Tengah terdiri atas tiga dialek, yaitu

  1. Dialek Mendawai dituturkan di Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat.
  2. Dialek Kumai (Sei Konyer) dituturkan di Desa Sungai Konyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.
  3. Dialek Kotawaringin Hulu dituturkan di Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antardialek menunjukkan beda dialek yang berkisar 51%--80%. Sementara itu, isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Banjar, Bahasa Bayan, dan Bahasa Maanyan.

Di Provinsi Kalimantan Timur[sunting]

Bahasa Melayu di Kalimantan Timur dituturkan di Desa Banua Baru, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur; Kecamatan Samarinda Kota, Kota Samarinda; Desa Kota Bangun Ulu, Kota Bangun Ilir, Kota Bangun I, Kota Bangun II, Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kertanegara; Desa Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau; Desa Muyub Ulu, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat; dan Desa Kahala, Kecamatan Kenoham, Kabupaten Kutai Kertanegara.

Bahasa Melayu di Provinsi Kalimantan Timur terdiri atas tujuh dialek, yaitu

  1. Dialek Banua dituturkan di Desa Banua Baru, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur.
  2. Dialek Banjar Samarinda dituturkan di Kecamatan Samarinda Kota, Kota Samarinda.
  3. Dialek Kutai Kota Bangun dituturkan di Desa Kota Bangun Ulu, Kota Bangun Ilir, Kota Bangun I, Kota Bangun II, Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kertanegara.
  4. Dialek Badeng
  5. Dialek Kutai Muara Lesan dituturkan di Desa Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.
  6. Dialek Kutai Muyup Ulu dituturkan di Desa Muyub Ulu, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat.
  7. Dialek Kahala dituturkan di Desa Kahala, Kecamatan Kenoham, Kabupaten Kutai Kertanegara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antardialek menunjukkan beda dialek yang berkisar 51%--80%. Sementara itu, isolek Melayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Banjar, Bahasa Bayan, dan Bahasa Maanyan.

Di Provinsi Sulawesi Utara[sunting]

Bahasa Melayu tersebar di Desa Malalayang Satu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, dan di seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, bahkan sampai ke Sulawesi Tengah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Melayu di Pulau Sulawesi merupakan dialek dari bahasa Melayu di Riau karena persentase perbedaannya di bawah 80%.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat[sunting]

Bahasa Melayu merupakan bahasa yang tanah asalnya berada di Pulau Sumatra. Bahasa ini memiliki daerah sebaran yang cukup luas di Indonesia, seperti di Provinsi Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Lampung, Bandung, Bali, Ternate, Riau, Sumatra Utara, Ambon, Manado, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Di Provinsi NTB bahasa Melayu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kampung Melayu, Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Hasil penghitungan dialektometri yang membandingkan bahasa Melayu di NTB dengan bahasa Melayu di Provinsi Riau (Kepulauan Riau) memperlihatkan perbedaan dialek dengan persentase perbedaan berkisar antara 65,50%--79,75%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu di NTB merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Sasak, bahasa Sumbawa (Samawa), dan bahasa Bima (Mbojo).

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur[sunting]

Persebaran bahasa Melayu sangat luas di Indonesia, seperti di Provinsi Sumatra Utara, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Ternate, Riau, Ambon, Manado, NTB, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Di Provinsi NTT, bahasa Melayu dituturkan, antara lain, di Kelurahan Solor, Kecamatan Kota Lama, Kotamadya Kupang; Kelurahan Pohon Sirih, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur; Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek-isolek Melayu yang dituturkan di Kupang, Larantuka (Nagi), dan Wure berada pada tingkat beda dialek dengan persentase perbedaan sebesar 51%--80%.

Di Provinsi Maluku[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan oleh masyarakat di Desa Layeni, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah; Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, Kabupaten Buru; Desa Bula, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur; Desa Luang Timur, Kecamatan Mndona Hiera, Kabupaten Maluku Barat Daya; dan Desa Salarem, Kecamatan Aru Selatan Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Bahasa itu mempunyai empat dialek, yaitu

  1. dialek Teon di Desa Layeni, Kecamatan Teon Nila Serua;
  2. dialek Melayu Ambon di Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely dan Desa Bula, Kecamatan Bula;
  3. dialek Luang di Desa Luang Timur, Kecamatan Mndona Hiera;
  4. dialek Tarangan Timur di Desa Salarem, Kecamatan Aru Selatan Timur.

Persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 72--77%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku dan isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku Utara termasuk satu bahasa dengan persentase perbedaan di bawah 80%. Begitu pula jika dibandingkan dengan bahasa Melayu di Provinsi Kepulauan Riau. Semuanya termasuk satu bahasa dengan persentase di bawah 80%.

Di Provinsi Maluku Utara[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate dan Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Bahasa Melayu di Provinsi Maluku Utara terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Melayu Ternate dan dialek Gorap dengan persentase perbedaan antardialek sebesar 70%. Sementara itu, dialek Melayu Ternate dan Gorap termasuk dialek bahasa Melayu Riau yang diduga sebagai tanah asal bahasa Melayu dengan persentase perbedaan berkisar 63,52--70%.

Dialek Melayu Ternate dituturkan di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate. Adapun dialek Gorap dituturkan di Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara. Dialek Gorap berasal dari bahasa kreol atau pijin yang merupakan campuran antara bahasa Melayu setempat dengan bahasa pendatang dari Sulawesi Tenggara. Wilayah tutur dialek Gorap sebelah timur dan utara berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo, sebelah barat dengan wilayah tutur bahasa Ternate, dan sebelah selatan dengan wilayah tutur bahasa Makian.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku dan isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku Utara termasuk satu bahasa dengan persentase perbedaan di bawah 80%. Begitu pula jika dibandingkan dengan bahasa Melayu di Provinsi Kepulauan Riau. Semuanya termasuk satu bahasa dengan persentase di bawah 80%.

Di Provinsi Papua[sunting]

Bahasa Melayu dituturkan oleh masyarakat Kampung Waena, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan pula di Kampung Abepura dan Sentani. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Melayu Papua dituturkan pula di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Kampung Waena.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu Papua merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Mooi, Bahasa Elseng, dan Bahasa Kaureh.

Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia-logo.png
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: