Lompat ke isi

Daftar bahasa di Papua

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bahasa Aabinomin dituturkan oleh etnik Aabinomin di |Kampung Baso, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Daerah itu terletak di wilayah pedalaman dan dikelilingi oleh Sungai Mamberamo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Aabinomin merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Batero, Bahasa Dabra, Bahasa Dasigo (Sidoghu), Bahasa Eik (Foau), Bahasa Wari, dan Bahasa Soytai.

Bahasa Abrap dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sawanawa, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Abrap berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Marap di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Meluap di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Biyekwok di sebelah utara, dan wilayah tutur Bahasa Molof di sebelah selatan |Kampung Sawanawa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Abrap merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Biyekwok, Bahasa Aframa, dan Bahasa Molof.

Bahasa Adagum (Citak Wagabus) dituturkan oleh etnik Citak di |Kampung Wagabus, Kecamatan Suator, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa kampung lain yang menggunakan bahasa ini adalah |Kampung Bubis, Soray, Wowi, dan Jinak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Adagum (Citak Wagabus) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Arakam, Bahasa Vamin, dan Bahasa Korowai.

Bahasa Afilaup dituturkan oleh etnik Kawe di |Kampung Kawe, Distrik Awinbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Bahasa Afilaup digunakan juga di sebelah barat |Kampung Kawe, yaitu |Kampung Abuwage, Danokit, Waliburu, dan Biwage. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kawe, yaitu |Kampung Mikir dituturkan Bahasa Nai; di sebelah utara, yaitu di |Kampung Dawelanok dituturkan Bahasa Dawelanok; dan di sebelah selatan, yaitu di |Kampung Firiwage dituturkan Bahasa Wangom.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Afilaup merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tangko, Bahasa Nagi, dan Bahasa Jelako.

Bahasa Aframa (Usku) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Aframa (Usku) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Namla, Bahasa Daikot (Taikat), Bahasa Manem, dan Bahasa Beyaboa.

Bahasa Airo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dabra, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Airo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Aabinomin, Bahasa Batero, Bahasa Dabra, Bahasa Dasigo (Sidoghu), Bahasa A Eik (Foau), Bahasa Wari, dan Bahasa Soytai.

Bahasa Airoran dituturkan oleh masyarakat |Kampung Airoran, Distrik Pantai Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Airoran merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Masep, Bahasa Anus, Bahasa Amati Sarma, dan Bahasa Benerap.

Bahasa Ale dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Tembutka, Distrik Ninati, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Tembutka berbatasan dengan |Kampung Waropko di sebelah timur, |Kampung Timka di sebelah barat, dan hutan di sebelah utara dan selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Waropko menggunakan Bahasa Are dan |Kampung Timka menggunakan Bahasa Jonggom (Muyu).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ale merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebanyak 88% jika dibandingkan dengan Bahasa Are. Bila dibandingkan dengan bahasa lain yang terdekat selain Bahasa Are, isolek Ale juga memiliki persentase perbedaan bahasa jika dibandingkan dengan Bahasa Komela sebanyak 93%, Bahasa Kawiyet 92%, dan Bahasa Mandobo Tengah 98%.

Bahasa Amathamit (Athokhin) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yahoi, Distrik Pantai Kasuari, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Amathamit (Athokhin) berbatasan dengan Bahasa Kaibusene di sebelah timur, Bahasa Ainam di sebelah barat, Bahasa Kawem di sebelah utara, dan Bahasa Wear di sebelah selatan |Kampung Yahoi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Amathamit (Athokhin) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kwerba, Bahasa Tapea, Bahasa Kaigar, dan Bahasa Asmat Bets Mbup.

Bahasa Ambai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ambai II, Distrik Kepulauan Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Berdasarkan pengakuan penduduk, bahasa itu juga dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur, barat, utara, dan selatan |Kampung Ambai II.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ambai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Saweru, Bahasa Ansus-Papuma, Bahasa Yama Onate, dan Bahasa Biak.

Bahasa Amungkal (Amume) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kiliarma, Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Amungkal (Amume) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Augigan, Bahasa Dauga, dan Bahasa Amungme di sebelah timur |Kampung Kiliarma. Di di sebelah barat |Kampung Kiliarma pun, yaitu |Kampung Fakafuka dituturkan juga Bahasa Sempan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Amungkal (Amume) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Unir Sirau, Bahasa Tabahair, dan Bahasa Yamas.

Bahasa Anasi dituturkan oleh etnik Merhahi di |Kampung Anasi, Distrik Sawai, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Anasi berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Bagusa di sebelah timur, Bahasa Banoi yang dituturkan oleh masyarakat Banoi, dan Bahasa Tamakuri di sebelah selatan |Kampung Anasi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Anasi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bonoi (Boni-Bunu), Bahasa Sorabi, Bahasa Burate, Bahasa Biyekwok, dan Bahasa Trimuris Bagusa.

Bahasa Ansus-Papuma dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wimoni Ansus I dan Papuma, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Bahasa Ansus-Papuma terdiri dari dua dialek, yaitu

  1. Dialek Ansus dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wimoni Ansus I dan masyarakat yang tinggal di sebelah timur dan barat |Kampung Wimoni Ansus I.
  2. Dialek Papuma dituturkan oleh masyarakat |Kampung Papuma dan di sebelah utara |Kampung Papuma.

Persentase perbedaan kedua dialek tersebut adalah sebesar 77%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ansus-Papuma merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wooi, Bahasa Maraw, Bahasa Berbai (Woda), Bahasa Wabo, Bahasa Saweru, dan Bahasa Serui Laut.

Bahasa Anus dituturkan oleh etnik Anus di |Kampung Anus, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Anus berbatasan dengan Bahasa Merway di sebelah timur, Bahasa Podena di sebelah barat, Bahasa Pantai Anus di sebelah utara, dan Bahasa Rimbersari di sebelah selatan |Kampung Anus .

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Anus merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bku (Bgu), Bahasa Dinana (Marenggi), dan Bahasa Gufinti.

Bahasa Arakam dituturkan oleh masyarakat |Kampung Karbis, Distrik Suator, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa Arakam juga dituturkan di |Kampung Wowi yang terletak di sebelah barat Karbis. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Karbis adalah |Kampung Vakam, sebelah utara adalah |Kampung Senggo, dan sebelah selatan adalah |Kampung Binam dengan penutur Bahasa Citak. Sebagian masyarakat |Kampung Karbis menuturkan Bahasa Jinak dan Bahasa Wowi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Arakam merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ndarame, Bahasa Jinak, dan Bahasa Adagum (Citak Wagabus).

Bahasa Are dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Upkim, Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Upkim berbatasan dengan |Kampung Wametkopa di sebelah timur, |Kampung Wombon di sebelah barat, |Kampung Ikcan di sebelah utara, dan |Kampung Waropko di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Wametkopa menggunakan Bahasa Are, |Kampung Wombon menggunakan Bahasa Mandobo, |Kampung Ikcan menggunakan Bahasa Komela, dan |Kampung Waropko menggunakan Bahasa Are.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Are merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebanyak 88% jika dibandingkan dengan Bahasa Ale. Selain itu, isolek Are juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 89% dibandingkan dengan Bahasa Komela, 98% dibandingkan dengan Bahasa Wambo Tawe Tiro, dan 99% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah.

Bahasa Armati Sarma dituturkan oleh masyarakat Munuk di |Kampung Munukania, Distrik Sarmi Selatan, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat yang berdomisili di sebelah timur |Kampung Munukamia, yaitu |Kampung Biner menuturkan Bahasa Armati, sebelah barat, yaitu |Kampung Kasukwe menuturkan Bahasa Isiwara, sebelah utara, yaitu |Kampung Sewang menuturkan Bahasa Berik, dan sebelah selatan, yaitu |Kampung Saswapece menuturkan Bahasa Saberi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Armati Sarma merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Berik, Bahasa Anus, Bahasa Isirawa, dan Bahasa Liki.

Bahasa Arubos (Arubkor) dituturkan oleh etnik Arubos di |Kampung Burupmakot, Kecamatan Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Di |Kampung Burukmakot juga dituturkan Bahasa Burukmakot. Menurut pengakuan penduduk, bahasa yang digunakan di sebelah timur |Kampung Burupmakot, yakni |Kampung Firiwage dan sebelah selatan, yakni |Kampung Yaniruma dituturkan Bahasa Korowai. Di sebelah barat |Kampung Burupmakot, yakni |Kampung Kaliwage dituturkan Bahasa Arubos (Arubkor) dan termasuk juga |Kampung Danowage, Abiowage, Ujung Batu, Waina, Sinibru, Kaliwage, Sera, Mapiwage, Apuwage, Mangge, Yahubra, dan Danokit.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Arubos (Arubkor) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awban (Bese), Burukmakot, dan Dajub (Tokuni).

Bahasa Arui-Mor dituturkan oleh masyarakat |Kampung Arui dan Moor, Distrik Moora, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Mor dituturkan di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Arui dan begitu juga di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Moor. Sementara itu, di sebelah selatan |Kampung Arui dituturkan Bahasa Napan dan di sebelah utara |Kampung Moor dituturkan Bahasa Arui.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Arui dan Moor memiliki persentase perbedaan sebesar 13%. Sementara itu, isolek Arui-Mor merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Auye (Ause), Bahasa Damal, Bahasa Keuw, dan Bahasa Mee Ugia.

Bahasa Asmat Bets Mbup terdiri atas tiga dialek, yaitu

  1. Dialek Bets Mbup dituturkan oleh masyarakat |Kampung Atsi, Distrik Atsi, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, bahasa dialek Bets Mbup juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Biwar Laut, Yasiu, Amanam Kay, You, dan Omanasep.
  2. Dialek Bismam dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Bismam-Ewer, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Masyarakat kampung lain yang menuturkan Bahasa Asmat dialek Bismam adalah |Kampung Suru, Yepem, Peer, Us, dan Beriten.
  3. Dialek Simay dituturkan oleh masyarakat |Kampung Amborep, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan Bahasa Asmat dialek Simay adalah |Kampung Warse, Paung, Sakam, dan Ayam.

Persentase perbedaan ketiga dialek tersebut adalah 51--80%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Asmat Bets Mbup merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai), Bahasa Asmat Sirat, Bahasa Asmat Sawa, dan Bahasa Asmat Unir Sirau.

Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai) dituturkan oleh etnik Asmat Safan di |Kampung Aworket, Distrik Safan, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Masyarakat yang berdomisili di sebelah timur, yaitu |Kampung Emene, di sebelah barat, yaitu |Kampung Primapun, dan di sebelah selatan |Kampung Aworket, yaitu |Kampung Kayarin dituturkan juga Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai). Di sebelah utara |Kampung Aworket, yaitu |Kampung Saman dituturkan Bahasa Attojin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Asmat Safan (Asmat Pantai) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 98--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Bets Mbup, Bahasa Asmat Sawa, dan Bahasa Asmat Unir Sirau.

Bahasa Asmat Sawa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sawa, Distrik Sawaerma, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Asmat Sawa berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Asmat Tomor di sebelah timur, Bahasa Asmat Yamas di sebelah barat, Bahasa Asmat Buagani di sebelah utara |Kampung Sawa. Di sebelah selatan |Kampung Sawa digunakan Bahasa Asmat Sawa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Asmat Sawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Bets Mbup, Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai), Bahasa Asmat Sirat, dan Bahasa Asmat Unir Sirau.

Bahasa Asmat Sirat dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yaosakor, Distrik Sirets, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Asmat Sirat juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Awok, Kaimo, Pos, Waganu I, Waganu II, Jinak, Pepera, dan Karpis. Di sebelah timur, yaitu |Kampung Amborep dituturkan dialek Simay, di sebelah barat, yaitu |Kampung Biwar Laut dituturkan dialek Bets Mbup, dan di sebelah utara |Kampung Yaosakor, yaitu |Kampung Kaimo dituturkan Bahasa Asmat Sirat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Asmat Sirat merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Bets Mbup, Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai), Bahasa Asmat Sawa, dan Bahasa Asmat Unir Sirau.

Bahasa Asmat Unir Sirau dituturkan oleh masyarakat |Kampung Paar, Distrik Unir Sirau, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa Asmat Unir Sirau juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Komor, Birip, Amor, Warer, Munu, Abamu, Tomor, Sagapo, Tii, Koba, dan Jipawer. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat |Kampung Paar, yaitu |Kampung Erma dituturkan Bahasa Asmat Kenok dan sebelah selatan, |Kampung Yufri dituturkan Bahasa Asmat Joirat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Asmat Unir Sirau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Bets Mbup, Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai), Bahasa Asmat Sawa, dan Bahasa Asmat Sirat.

Bahasa Asmat Waijens dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Waijens, Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Berdasarkan informasi penutur, di sebelah timur |Kampung Waijens adalah |Kampung Butuketnau yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Korowai, di sebelah barat adalah |Kampung Bor yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Momuna, di sebelah utara adalah |Kampung Woutu Braza yang dan di sebelah selatan adalah |Kampung Patipi yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Asmat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Asmat Waijens merupakan bahasa tersendiri jika dibandingkan dengan Bahasa Bets Mbup yaitu dengan perbedaan sebesar 96% dan dengan Bahasa Citak sebesar 92,75%.

Bahasa Atam (Temma) dituturkan oleh etnik Ti di |Kampung Ti, Distrik Suru-suru, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Koba dan Yensuku. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Asmat Kontre dituturkan oleh masyarakat |Kampung Se di bagian sebelah timur, Bahasa Tomor dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tomor di bagian barat, Bahasa Nale dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nale di bagian utara, dan Bahasa Sambogo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Fim di bagian selatan |Kampung Ti.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Atam (Temma) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 97%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Nalik Selatan, Bahasa Tomor, Bahasa Intamaja, Bahasa Asmat Safan (Asmat Pantai), Bahasa Arakam, dan Bahasa Momuna.

Bahasa Auye (Ause) dituturkan oleh etnik Napan di |Kampung Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Auye (Ause) dituturkan pula di sebelah timur |Kampung Napan. Sementara itu, di sebelah barat dan utara |Kampung Napan dituturkan Bahasa Mor dan di sebelah selatan |Kampung Napan dituturkan Bahasa Ekari.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Auye (Ause) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Damal dan Bahasa Wolani.

Bahasa Awban (Bese) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Awban, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Awban (Bese) juga dituturkan oleh sebagian masyarakat |Kampung Butuketnaw yang terletak di sebelah barat |Kampung Awban dan |Kampung Bayono (Marketun) yang terletak di sebelah utara |Kampung Awban. Di sebelah timur |Kampung Awban, yaitu |Kampung Tokuni yang dituturkan Bahasa Tokuni; di sebelah utara, yaitu |Kampung Bayono (Markertun) dituturkan Bahasa Bayono; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Bondoa dan |Kampung Tuarama dituturkan Bahasa Momuna.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awban (Bese) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ulakin (Ulakuno), Bahasa Arubos, dan Bahasa Silimo.

Bahasa Awera dituturkan oleh masyarakat |Kampung Awera, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Awera, yaitu |Kampung Wapoga dituturkan Bahasa Ansus, sedangkan bahasa di sebelah barat, yaitu |Kampung Pirare belum diketahui namanya. Sementara itu, di sebelah selatan dan utara |Kampung Awera tidak ada bahasa karena berupa lautan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awera merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Burate, Bahasa Keuw, Bahasa Marita, Bahasa Moi Maniwo, Bahasa Sowiwa (Morowa), Bahasa Tause, Bahasa Totoberi, Bahasa Wairate (Debra).

Bahasa Awyu Anggai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Anggai, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Bahasa Awyu juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Meto dan |Kampung Tokompatu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awyu Anggai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Meto dan Bahasa Awyu Tokompatu.

Bahasa Awyu Darat Kotiak dituturkan oleh masyarakat Awyu di |Kampung Kotiak, Distrik Passue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kotiak, yaitu |Kampung Gayu, di sebelah utara, yaitu |Kampung Taim, dan di sebelah selatan, yaitu RT 03 |Kampung Nohon dituturkan juga Bahasa Awyu Darat Kotiak. Sementara itu, di sebelah barat |Kampung Kotiak, yaitu |Kampung Kotup dituturkan juga Bahasa Yaghai.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Awyu Darat Kotiak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Darat dialek Yagatsu dan Awyu Darat dialek Kiki.

Bahasa Awyu Darat Yagatsu-Kiki terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. Dialek Yagatsu juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yagatsu, Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.
  2. Dialek Kiki dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kiki, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Awyu Darat dialek Kiki dituturkan juga oleh masyarakat |Kampung Homang di sebelah utara |Kampung Yagatsu, Katage, Amagatsu, Sagape, Wiyage, Kaisima, Kaibu, Amenda, dan Omuro. Sementara itu, di sebelah timur |Kampung Yagatsu, yaitu penutur di |Kampung Sigare dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Semtaipin berbahasa Bahasa Wiyagar. Di sebelah selatan |Kampung Yagatsu, yaitu |Kampung Arare berbahasa Tamario. Bahasa Awyu Darat dialek Kiki juga dituturkan oleh masyarakat yang berdomisili di sebelah timur |Kampung Kiki, yaitu |Kampung Isage; di sebelah utara, yaitu |Kampung Jufo Besar, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Eci. Selain itu, Bahasa Awyu Darat dialek Kiki dituturkan juga oleh masyarakat |Kampung Aboge, Keru, Khanami, Asaren, Kopi, Kabu, Jufo Besar, dan Homang, Distrik Assue, Kabupaten Mappi.

Persentase perbedaan kedua dialek tersebut adalah 76,25%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awyu Darat Yagatsu-Kiki merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Tokompatu (Awyu Tokhompatu) dan Bahasa Awyu Darat Kotiak.

Bahasa Awyu Laut dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bade, Distrik Edera, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Bade, yaitu |Kampung Orogito; di sebelah barat, yaitu |Kampung Sibi; di sebelah utara, yaitu |Kampung Homlykia; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Banamefe dituturkan juga Bahasa Awyu Laut itu. Bahasa Awyu Laut juga dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Geturk, Gimka, Khobeta, Osso, Bosma, Ogoto, dan Konebi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awyu Laut merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Tokompatu (Awyu Tokhompatu), Bahasa Awyu Anggai, Bahasa Awyu Darat Kotiak, Bahasa Awyu Darat Yagatsu-Kiki, dan Bahasa Awyu Metto.

Bahasa Awyu Meto (Awyu Metto) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Metto, Distrik Ki, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awyu Meto (Awyu Metto) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 88,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Laut, Bahasa Yonggom, dan Bahasa Awyu Tokompatu (Awyu Tokhompatu).

Bahasa Awyu Tokompatu (Awyu Tokhompatu) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tokhompatu, Distrik Passue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dan utara |Kampung Tokhompatu dituturkan Bahasa Awyu, sedangkan di sebelah barat dan selatan dituturkan Bahasa Yaghai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Awyu Tokompatu (Awyu Tokhompatu) merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 99,25%--100,00% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Anggai, Bahasa Awyu Meto (Awyu Metto), Bahasa Awyu Laut, Bahasa Awyu Darat Yagatsu-Kiki, Bahasa Yaghai, dan Bahasa Tamario.

Bahasa Baedate (Nisa) dituturkan oleh suku Baedate, |Kampung Bariwaro, Distrik Waropen Atas, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Sebelah timur |Kampung Bariwaro adalah |Kampung Bensor, sebelah barat adalah |Kampung Marikai, sebelah utara adalah |Kampung Sipisi. Kemudian, dan sebelah selatan adalah |Kampung Barapasi. Kempat kampung tersebut menuturkan Bahasa Baedate (Nisa).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Baedate (Nisa) merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 99,5%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Airo, Bahasa Towe, Bahasa Armati Sarma, Bahasa Dubu (Tepi).

Bahasa Barapasi dituturkan oleh etnik Barapasi di |Kampung Barapasi, Distrik Waropen Atas, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Barapasi dituturkan pula di sebelah barat |Kampung Barapasi, sedangkan di sebelah timur |Kampung Barapasi dituturkan Bahasa Sorabi.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Barapasi merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 88%--90% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Woria dan Bahasa Demisa.

Bahasa Batero dituturkan oleh etnik Kawena di |Kampung Pepasena, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Batero merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dabra, Bahasa Dasigo (Sidoghu), Bahasa Eik (Foau), Bahasa Soytai, Bahasa Wari, Bahasa Aabinomin, dan Bahasa Airo.

Bahasa Bauzi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wakeyadi, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Wakeyadi dituturkan Bahasa Noyadi, di sebelah barat dituturkan Bahasa Waropen, dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Biritai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bauzi merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bawija, Bahasa Biritai, Bahasa Burumeso (Burmeso), Bahasa Kawera, Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Nobuk, dan Bahasa Obokuitai.

Bahasa Bawija dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bawija, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bawija merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bauzi, Bahasa Biritai, Bahasa Burumeso (Burmeso), Bahasa Kawera, Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Nobuk, dan Bahasa Obokuitai.

Bahasa Beneraf dituturkan oleh etnik Waynok di |Kampung Betaf, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat bahasa |Kampung Betaf dituturkan Bahasa Takar, Bahasa Yamna, dan Bahasa Tolikora.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Beneraf merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Berik, Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or), Bahasa Kwinsu, dan Bahasa Sunum.

Bahasa Berbai (Woda) dituturkan oleh etnik Berbai di |Kampung Woda, Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Berbai dituturkan juga oleh penduduk |Kampung Paparu (Serenui), Nunsebai, Wobokompi, dan Korombobi. Di sebelah timur |Kampung Woda, yaitu |Kampung Kororompui dituturkan Bahasa Wansma; di sebelah barat, yaitu Dusun Aisau dituturkan Bahasa Berbai; di sebelah selatan, yaitu |Kampung Kerenui dituturkan Bahasa Berbai; dan di sebelah utara tidak ada bahasa karena berupa lautan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Berbai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kurudu (Myobo), Bahasa Kiri-Kiri, Bahasa Nosaudare, dan Bahasa Fayu.

Bahasa Berik dituturkan oleh etnik Berik di |Kampung Samanente, Distrik Tor Atas, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Samanente berbatasan dengan daerah-daerah sebaran penutur Bahasa Berik.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Berik merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bora-Bora, Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or), dan Bahasa Lik.

Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Betaf, Distrik Pantai Timur dan Finyabor (Takar), Distrik Pantai Timur Bagian Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or) terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Betaf yang dituturkan di |Kampung Betaf dan
  2. dialek Takar yang dituturkan di |Kampung Finyabor (Takar).

Persentase perbedaan kedua dialek tersebut adalah 76,48%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Betaf-Takar (Fitoow Or) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Anus, Bahasa Berik, Bahasa Dabe, dan Bahasa Beneraf.

Bahasa Beyaboa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ubiyau, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, Bahasa Beyaboa juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Skamto. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Beyaboa di sebelah timur |Kampung Ubiyau berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Melap, di sebelah barat dengan wilayah tutur Bahasa Muluh, di sebelah utara dengan wilayah tutur Bahasa Marap, dan di sebelah selatan dengan wilayah tutur Bahasa Abrap.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Beyaboa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Daikat (Taikat), Bahasa Marap, Bahasa Mnanggi, dan Bahasa Abrap.

Bahasa Biak dituturkan oleh etnik Biak di |Kampung Kajasbo, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Biak dituturkan juga oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Wanderbo, Adibai, Son, dan Opiaref.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Biak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Serui Laut, Bahasa Yawa Onate, dan Bahasa Warari Onate.

Bahasa Bian Marind Deg dituturkan oleh suku Marind di |Kampung Muting, Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Bian Marind Deg di |Kampung Muting berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Jawa di sebelah timur dan selatan dan di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Sigabel dan Bahasa Bian Marind Deg.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bian Marind Deg merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Engkalembu, Bahasa Imbuti (Marind), Bahasa Kanum Barkari, Bahasa Kimaam, Bahasa Kimagima, dan Bahasa Komolom (Mombun).

Bahasa Biritai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Biri, Distrik Mamberamo Tengah Timur, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Biri dituturkan Bahasa Obokutai, di sebelah barat dituturkan Bahasa Suhubidai, di sebelah utaranya dituturkan Bahasa Tembako, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Bauzi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Biritai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bawija, Bahasa Burumeso (Burmeso), Bahasa Kawera, Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Nobuk, dan Bahasa Obokuitai.

Bahasa Biyekwok dituturkan oleh etnik Skamto di |Kampung Skanto, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Skamto dituturkan Bahasa Marap dan di sebelah barat, utara, dan selatan dituturkan Bahasa Meluap.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Biyewok merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Abrap, Bahasa Dra, Bahasa Beyaboa, dan Bahasa Marap.

Bahasa Bku (Bgu) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kiren, Distrik Bonggo Tengah, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bku (Bgu) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Anus, Bahasa Dinana (Marenggi), Bahasa Gufinti, Bahasa Kaptau, Bahasa Mander, Bahasa Mawes Dey (Mawesdey), Bahasa Mawes Wares (Maweswares), Bahasa Srum, dan Bahasa Vedan Nus (Ponden).

Bahasa Blue Klesi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dukeno (Dikening) dan Klaisu, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan juga di |Kampung Nimbo Gresi, Iwon, Bangai, dan di kampung-kampung aliran Kali Neibu. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Blue Klesi berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Klisi di sebelah timur (Kampung Bring), Bahasa Namblong di sebelah barat (Sarbey Atas), Bahasa Namblong di sebelah utara (Kampung Sermey Bawah), danBahasa Klisi (Blue Klisi) di sebelah selatan (Kampung Iwon).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Blue Klesi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kapauri (Kapori), Bahasa Elseng, dan Bahasa Elseng Koarjab.

Bahasa Boi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nadofuai (Berai), Distrik Waropen Atas, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Boi juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sawri Sirami dan Rawiwa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Boi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Segar, Bahasa Kapauri, Bahasa Kaptiau, Bahasa Tangko, Bahasa Kwinsu, Bahasa Kwerba, Bahasa Tabahair, Bahasa Tomor, Bahasa Kemtuk, Bahasa Maklew, Bahasa Warion, Bahasa Kamoro, dan Bahasa Asmat Sirat.

Bahasa Bonoi (Boni-Bunu) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bonoi, Distrik Sawai, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Bonoi dituturkan juga oleh penduduk |Kampung Warembori dan Tamakuri. Di sebelah timur |Kampung Bonoi, yaitu |Kampung Anasi dituturkan Bahasa Anasi. di sebelah barat, yaitu |Kampung Poiwai dituturkan Bahasa Rampambrai, di sebelah utara, yaitu |Kampung Kaipuri (Kurudu) dituturkan Bahasa Kaipuri, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Barapasi dituturkan Bahasa Barapasi, Bahasa Bensor, dan Bahasa Sorabi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bonoi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 93,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Warembori dan Bahasa Kurudu (Kaipuri).

Bahasa Bora-Bora dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bora-Bora, Distrik Ismari (Tor Atas), Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bora-Bora merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Segar, Bahasa Kwinsu, dan Bahasa Bku (Bgu).

Bahasa Bouram dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sasime, Distrik Kopay, Kabupaten Asmat. Provinsi Papua. |Kampung Sasime berbatasan dengan |Kampung Kawem di sebelah timur, |Kampung Wagaso di sebelah barat, |Kampung Amaru di sebelah utara, dan |Kampung Hogar di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Kawem menggunakan Bahasa Bouram, masyarakat |Kampung Wagaso menggunakan Bahasa Bouram, masyarakat |Kampung Amaru menggunakan Bahasa Bouram, dan masyarakat |Kampung Hoger menggunakan Bahasa Bouram.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bouram merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 84% dibandingkan dengan Bahasa Kaigar. Selain itu, isolek Bouram juga memiliki perbedaan persentase sebesar 97% dibandingkan dengan Bahasa Waicen dan 98% dibandingkan dengan Bahasa Atokhoim.

Bahasa Buagani dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Bu dan |Kampung Agani, Distrik Sawaerma, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung Bu berbatasan dengan |Kampung Manep di sebelah timur, |Kampung Pupis di sebelah barat, |Kampung Momogo di sebelah utara, dan |Kampung Sawaerma di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Manep menggunakan Bahasa Manep, masyarakat |Kampung Pupis menggunakan Bahasa Pupis, masyarakat |Kampung Momogo menggunakan Bahasa Momogo, dan masyarakat |Kampung Sawaerma menggunakan Bahasa Sawa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Buagani merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 80% dibandingkan dengan Bahasa Joerat. Selain itu, Bahasa Buagani juga memiliki perbedaan persentase sebesar 95,56% dibandingkan dengan Bahasa Yakapis.

Bahasa Burate dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Burate, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Burate, Bahasa Burate juga dituturkan di |Kampung Totoberi. Wilayah tutur Bahasa Burate berdekatan dengan kampung-kampung yang menuturkan Bahasa Awera.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Burate merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sudate (Sehudate), Bahasa Awera, Bahasa Saponi, Bahasa Nubuai, dan Bahasa Waren.

Bahasa Burukmakot (Burupmakot) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Burupmakot, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Burukmakot dituturkan juga oleh penduduk di |Kampung Woman (Yahokimo), Ujungbatu (Asmat), Tanahbaru (Asmat), Muara John (Asmat), Danau Wage (Boven Digul), dan Abiowage (Boven Digul). Bahasa Burukmakot berbatasan dengan Bahasa Kwer di sebelah barat dan Bahasa Una di sebelah utara |Kampung Burupmakot.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Burukmakot merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Korowai Baigun, Bahasa Arubos (Arubkor), Bahasa Momuna, Bahasa Kwer (Kofet, Kwet), Bahasa Ndarame, Bahasa Kanum Barkari, dan Bahasa Dani Atas.

Bahasa Burumeso (Burmeso) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Burmeso, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Burumeso (Burmeso) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bawija, Bahasa Biritai, Bahasa Burumeso (Burmeso), Bahasa Kawera, Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Nobuk, dan Bahasa Obokuitai.

Bahasa Busami dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kamanaf, Distrik Kosiwo, Kabupaten Yapen, Pulau Yapen, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Kamanaf, Bahasa Busami juga dituturkan di |Kampung Panduami, Mariarotu, dan Kaonda. Selain Bahasa Busami, di |Kampung Kamanaf juga dituturkan Bahasa Ansus dan Bahasa Onate oleh sebagian kecil masyarakat. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Kamanaf berbatasan dengan |Kampung Panduami di sebelah timur, dengan |Kampung Mariarotu di sebelah barat, dan dengan |Kampung Kaonda di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Busami merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Munggui, Bahasa Maraw, Bahasa Poom, Bahasa Onate, dan Bahasa Ansus.

Bahasa Citak dituturkan oleh suku Citak di |Kampung Tugumau, Distrik Ti Zain, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa Citak juga dituturkan di |Kampung Kumaban, Sagis, Basman, Abau, Kumasma, Womin, Bidnew, Fomu, Tiau, dan Binerbis. Menurut pengakuan penduduk, di Distrik Senggo terdapat Bahasa Awyu Darat, Bahasa Asmat Darat, Bahasa Korowai, dan Bahasa Kombai. Namun, semua kampung di sekeliling |Kampung Tugumau berbahasa Citak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Citak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yabega, Bahasa Ngguntar 100%, dan Bahasa Tamer Tunai.

Bahasa Dabe dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dabe, Distrik Pantai Timur Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Dabe dituturkan Bahasa Nengke, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kejer, di sebelah utara berbatasan dengan gunung, di sebelah selatan berbatasan dengan lautan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dabe merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kejer Manirem, Bahasa Kwesten Arare, Bahasa Kwinsu, Bahasa Masimasi, Bahasa Sobey Wakde, dan Bahasa Sunu.

Bahasa Dabra dituturkan oleh masyarakat |Kampung Taria, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dabra merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dasigo (Sidoghu), Bahasa Eik (Foau), Bahasa Soytai, Bahasa Wari, Bahasa Aabinomin, dan Bahasa Airo.

Bahasa Daikat (Taikat) dituturkan oleh etnik Brotian di |Kampung Arso Kota, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Bahasa ini dituturkan juga di |Kampung Kwimi, Wor, Bate, dan Bagia. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Arso Kota, yaitu di |Kampung Wambes dituturkan Bahasa Manem, di sebelah barat, yaitu |Kampung Ubiyau dituturkan Bahasa Beyaboa, di sebelah utara, yaitu |Kampung Koya dituturkan Bahasa Melwap, di sebelah selatan, yaitu |Kampung Wembi dituturkan Bahasa Manem.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Daikat (Taikat) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,75%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Marap, Bahasa Mnanggi, dan Bahasa Abrap.

Bahasa Dajub (Tokuni) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Tokuni, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa Dajub (Tokuni) juga dituturkan oleh beberapa orang di |Kampung Marup, Bingi, Kindua, Murup, Togup, Marup III, dan Teret. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Tokuni, yaitu |Kampung Kopet dituturkan Bahasa Kopet, sebelah barat, yaitu |Kampung Bundua dituturkan Bahasa Momuna, sebelah utara, yaitu |Kampung Kindua dituturkan Bahasa Dajub, dan sebelah selatan, yaitu |Kampung Uraken dituturkan menuturkan Bahasa Bese.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dajub (Tokuni) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,25%--99,5% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awban (Bese), Ulakin (Ulakuno), dan Arubos (Arubkor).

Bahasa Damal dituturkan oleh etnik Damal di |Kampung Karang Mulia, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Karang Mulia dituturkan Bahasa Dani, di sebelah barat dituturkan Bahasa Mee dan Bahasa Ekari, di sebelah utaranya dituturkan Bahasa Moni, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Wate.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Damal merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 84%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Moni 84%, dan Bahasa Kamoro.

Bahasa Dani (Hubula) dituturkan oleh etnik Mukoko di |Kampung Wesaput, Distrik Wamena Kota, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Wesaput dituturkan Bahasa Yali Pass Yalley dan di sebelah barat dan utara dituturkan Bahasa Lani.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dani (Hubula) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81,6%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Pass Yalley, Bahasa Lani, Bahasa Dani Atas, Bahasa Dani Bawah, Bahasa Dani Bokondini, dan Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem).

Bahasa Dani Atas dituturkan oleh etnik Dani di |Kampung Piramyd, Distrik Asologaima, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Bahasa Dani Atas juga dituturkan di Kabupaten Tolikara, Kabupaten Timika, Distrik Mulia, dan Distrik Tiom. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Piramyd, yaitu |Kampung Walak dituturkan Bahasa Walak, di sebelah barat, yaitu |Kampung Yonggime dituturkan Bahasa Wano.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dani Atas merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 91%--96,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani Bawah, Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem), Bahasa Dani Bokondini, dan Bahasa Dani (Hubula).

Bahasa Dani Bawah dituturkan oleh Asotipo di |Kampung Putageima, Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, kampung di sebelah timur Putageima adalah Asotipo, sebelah barat adalah Maikelson, dan sebelah utara adalah Air Garam yang masyarakatnya juga merupakan penutur Bahasa Dani Bawah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dani Bawah merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 84%--94% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem), Bahasa Dani (Hubula), dan Bahasa Dani Bokondini.

Bahasa Dani Bokondini dituturkan oleh etnik Dani Bokondini di |Kampung Bokondini, Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Letak geografis daerah ini adalah di wilayah pegunungan, pedalaman, dan berbukit. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Dani Bokondini dituturkan juga di |Kampung Kologume, Marini, Nduduma, dan Galala. Di sebelah timur |Kampung Bokondini, yaitu |Kampung Jawalani; di sebelah barat, yaitu |Kampung Marini; di sebelah utara; yaitu |Kampung Bilu; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Minggangu dituturkan Bahasa Dani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dani Bokondini merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 91%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Arui, Bahasa Momuna, dan Bahasa Korowai Baigun, Bahasa Dani (Hubula), Bahasa Dani Atas, Bahasa Dani Bawah, dan Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem).

Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Pugima, Distrik Walelagama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem) juga dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Asolokobal, Walelagama, dan Tulem. Di sebelah timur |Kampung Pugima terdapat |Kampung Lokaken, di sebelah barat terdapat |Kampung Wesaput, di sebelah utara terdapat |Kampung Kururu, dan di sebelah selatan terdapat |Kampung Popugoba. |Kampung-kampung di sekitar Pugima merupakan kampung-kampung yang menuturkan Bahasa Dani Tengah (Dani Baliem).

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dani Tengah (Dani Baliem) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 84%--96% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani Bawah, Bahasa Dani Bakondini, dan Bahasa Dani (Hubula).

Bahasa Daranto (Deranto) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Deranto, Distrik Ismari, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Deranto, bahasa ini dituturkan di |Kampung Waf. Berdasarkan informasi penutur, di sebelah timur |Kampung Deranto adalah |Kampung Mander yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Rotea, di sebelah barat adalah |Kampung Waf, di sebelah utara adalah |Kampung Togonfo, dan di sebelah selatan adalah wilayah Mamberamo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Deranto mempunyai perbedaan sebesar 96% dibandingkan dengan Bahasa Mander (Rotea).

Bahasa Dasigo (Sidoghu) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dabra, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Di |Kampung Dabra juga dituturkan Bahasa Airo.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dasigo (Sidoghu) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dabra, Bahasa Eik (Foau), Bahasa Soytai, Bahasa Wari, Bahasa Aabinomin, dan Bahasa Airo.

Bahasa Dem dituturkan oleh suku Wonda di |Kampung Molu, Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Dem dituturkan juga oleh masyarakat di sebelah barat, timur, utara, dan selatan |Kampung Molu, yaitu |Kampung Bina, Aguit, Wiha, dan Wakme.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dem merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25% jika dibandingkan dengan Bahasa Dani.

Bahasa Demisa (Hoo') dituturkan oleh masyarakat |Kampung Desawa, Distrik Waropen Bawah, Kabupaten Waropen, Pulau Papua, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Desawa dituturkan Bahasa Urfas, di sebelah barat dituturkan Bahasa Burate, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Woria.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Demisa (Hoo') merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 86%--93% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Woria dan Bahasa Mee.

Bahasa Diae dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Bor, Distrik Sumo, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Berdasarkan informasi penutur, Bahasa Diae juga dituturkan di |Kampung Obokain, Distrik Sumo. Di sebelah timur |Kampung Bor yaitu |Kampung Wagabus yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Citak, di sebelah barat yaitu |Kampung Ujin Ajin yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Antamaya, di sebelah utara yaitu |Kampung Mako yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Momuna, dan di sebelah selatan yaitu |Kampung Bubis Serai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Diae merupakan sebuah bahasa tersendiri dengan persentase perbedaan sebesar 97,25% jika dibandingkan dengan Bahasa Citak.

Bahasa Dinana (Marenggi) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tarawasi Marenggi, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dinana (Marenggi) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Vedan Nus, Bahasa Etik (Barto, Maria), dan Bahasa Juvutek.

Bahasa Dintere dituturkan oleh etnik Murop di |Kampung Iwur, Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Dintere dituturkan juga di |Kampung Kurumkim di bagian sebelah barat |Kampung Iwur, yaitu |Kampung Kurumkim; di sebelah barat, yaitu |Kampung Dewok; di sebelah utara, yaitu |Kampung Dipol; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Arin dituturkan Bahasa Dintere.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Dintere merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Nagi, Bahasa Telepe, dan Bahasa Krowai Rawa (Krowai Umum).

Bahasa Diuwe dituturkan oleh mayoritas etnik Obokain di |Kampung Obokain, Distrik Somu, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa Diuwe juga dituturkan di |Kampung Bor, |Kampung Muara Nibun, |Kampung Demi, |Kampung Sumabe, dan |Kampung Najo. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah |Kampung Obokain, yaitu di |Kampung Sumabe, di sebelah barat, yaitu |Kampung Demi; di sebelah utara, yaitu |Kampung Nibun; dan di sebelah Selatan, yaitu |Kampung Najo dituturkan Bahasa Diuwe.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Diuwe merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Arubos (Arubkor) dan Bahasa Soba.

Bahasa Dra dituturkan oleh masyarakat |Kampung Amgotro, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Bahasa lain yang dituturkan di kampung itu adalah Bahasa Pijin dan Bahasa Emem. Sementara itu, wilayah pemakaian Bahasa Dra tergolong luas karena dituturkan di wilayah dua negara yang berbeda. Di wilayah Indonesia, Bahasa Dra dituturkan di |Kampung Yuruf dan Vavembu, sedangkan di wilayah Papua Nugini dituturkan di |Kampung Mengguafi, Nembi, Kembi, Mamora, Kindebai, Yamos, Kuwarmun, Menggawu, dan Wahayi. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Amgotro, yaitu |Kampung Kembi, dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Mengguafi dituturkan Bahasa Pijin dan Bahasa Dra; di sebelah barat, yaitu |Kampung Yuruf dituturkan Bahasa Emem; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Vavembu dituturkan Bahasa Emem dan Bahasa Pijin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dra merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,75% jika dibandingkan dengan Bahasa Emem.

Bahasa Dubu (Tepi) dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Dubu, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Penutur Bahasa. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Dubu, yaitu |Kampung Semografi dituturkan Bahasa Jamrat (Enem); si sebelah barat, yaitu |Kampung Namla dituturkan Bahasa Namla; di sebelah selatan, yaitu |Kampung Towe dituturkan Bahasa Towe; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Waris dituturkan Bahasa Waris.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dubu (Tepi) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Manua (Eritai) dan Bahasa Bagusa.

Bahasa Duvle dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dagai, Mbomban, Soi, dan Gueri, Distrik Dagai, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Di |Kampung Dagai dituturkan pula Bahasa Iau, Bahasa Wano, dan Bahasa Dani. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Dagai, yaitu |Kampung Nanggai, Velide, dan Dibite dituturkan Bahasa Duvle dan sebelah utara, yaitu |Kampung Jei dituturkan Bahasa Wano.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Duvle merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani (Hubula), Bahasa Wano, dan Bahasa Iau.

Bahasa Eik (Foau) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Foau, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Eik (Foau) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dabra, Bahasa Dasigo (Sidoghu), Bahasa Soytai, Bahasa Wari, Bahasa Aabinomin, dan Bahasa Airo.

Bahasa Eipumek dituturkan oleh mayoritas etnik Eipumek di |Kampung Eipumek, Distrik Eipumek, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Selain itu, Bahasa Eipomek juga dituturkan di |Kampung Marigla, Imde, Lumdagna, dan Barice. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Eipumek, yaitu |Kampung Mungona; di sebelah utara, yaitu |Kampung Yawasonom; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Langda dituturkan Bahasa Telepe, sedangkan di sebelah barat, yaitu |Kampung Diruwemna dituturkan Bahasa Perub.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Eipumek) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Afilaup, Bahasa Tangko, dan Bahasa Jelako.

Bahasa Ekari (Mee) dituturkan oleh suku Mee di |Kampung Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Enarotali dituturkan Bahasa Moni, sedangkan di sebelah barat, utara, dan selatannya dituturkan Bahasa Ekari (Mee).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ekari (Mee) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 86%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya, Bahasa Mee Ugia dan Bahasa Mee Wosokuno.

Bahasa Elseng dituturkan oleh suku Koya dan Koso di |Kampung Koya Koso, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Elseng juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Skamto, Benquin, dan Ambes Kori (Kemtuk Gresi).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Elseng merupakan sebuah bahasa dengan persentase di atas 90% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Elseng Koarjab (Elseng Kwarja), Bahasa Nyaw, Bahasa Daikot (Taikat), Bahasa Manem, Bahasa Beyaboa, dan Bahasa Aframa,

Bahasa Elseng Koarjap (Elseng Kwarja) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kwarja (Koarjap), Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Kwarja (Koarjap), Bahasa Elseng dituturkan juga di |Kampung Omon dan Sobun di Gresi Selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Kwarja berbatasan dengan |Kampung Sobum di sebelah timur, dengan |Kampung Omon di sebelah utara, dan dengan |Kampung Usku Molof dan Sia-Sia di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Elseng Koarjap (Elseng Kwarja) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Elseng, Bahasa Kapauri (Kapori), dan Bahasa Blue Klesi.

Bahasa Emem (Emumu) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yuruf, Distrik Yaffi dan |Kampung Semografi dan Yamraf Dua, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Bahasa lain yang dituturkan di kampung ini adalah Bahasa Pijin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Emem (Emumu) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 97,75% jika dibandingkan dengan Bahasa Pijin.

Bahasa Engkalembu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Engkalembu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Smarki Kanum sebesar 92%. Sementara itu, antara Ngkalembu di |Kampung Tomer dan Bahasa Ngkalembu adalah dua bahasa yang berbeda dengan persentase perbedaan sebesar 96,50%.

Bahasa Etik (Barto, Maria) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Komra (Biridua), Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Komra (Biridua), yaitu |Kampung Maweswares dituturkan Bahasa Etik; di sebelah barat, yaitu |Kampung Ansudu dituturkan Bahasa Ansudu; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Anus-Podena dituturkan Bahasa Anus-Podena.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Etik (Barto, Maria) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 88,50%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Juvutek dan Narau.

Bahasa Fakafuku dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Fakafuku, Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. |Kampung Fakafuku berbatasan dengan |Kampung Nakai di sebelah timur, |Kampung Menarari di sebelah barat, |Kampung Otakana di sebelah utara, dan hutan di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Nakai menggunakan Bahasa Fakafuku, |Kampung Manarari menggunakan Bahasa Fakafuku, dan |Kampung Otakana menggunakan Bahasa Fakafuku.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Fakafuku merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebanyak 98% dibandingkan dengan Bahasa Amungkal. Selain itu, isolek Fakafuku juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 97% dibandingkan dengan Bahasa Kamoro, 93% dibandingkan dengan Bahasa Sempan, dan 96% dibandingkan dengan Bahasa Iwaka.

Bahasa Fayu dituturkan oleh masyarakat suku Fayu di Kampung Otodemo, Distrik Inggerus, Kabupaten Waropen, Pulau Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Fayu juga dituturkan di Kampung Dirou, Kawari, Dairi, dan Subohiri (Spoiri). Di Kampung Otodemo dituturkan juga Bahasa Kiri-Kiri, Bahasa Sehudate, dan Bahasa Edopi. Di sebelah timur dan barat Kampung Otodemo, yaitu Kampung Demisa dituturkan Bahasa Demisa; di sebelah utara, yaitu |Kampung Dofo dituturkan Bahasa Edopi; dan di sebelah selatan Kampung Otodemo, yaitu Distrik Kirihi dituturkan Bahasa Fayu.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Fayu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,75%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Kiri-kiri, Sehudate, dan Demisa.

Bahasa Fermanggem dituturkan oleh mayoritas penduduk |Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Ampas dituturkan Bahasa Walsa, sedangkan di sebelah utara dituturkan Bahasa Taikat.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Fermanggem merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain yang ada di sekitarnya, misalnya Bahasa Senggi (Find), Bahasa Jorop, dan Bahasa Walsa.

Bahasa Fokri (Hokli) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Syewa Merare, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. |Kampung Sewa Merare berbatasan dengan |Kampung Yermeki di sebelah timur, |Kampung Pirare di sebelah utara, serta hutan dan lautan di sebelah barat dan selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Yermeki menggunakan Bahasa Demisa dan |Kampung Pirare menggunakan Bahasa Demisa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Fokri merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa Bagusa. Selain itu, isolek Fokri juga memiliki perbedaan persentase sebesar 98,61% dibandingkan dengan Bahasa Barapasi, 100% dibandingkan dengan Bahasa Sehudate, 99,17% dibandingkan dengan Bahasa Oedate, 99,72% dibandingkan dengan Bahasa Sipisi, dan 100% dibandingkan dengan Bahasa Demisa.

Bahasa Gufinti dituturkan oleh etnik Taronta di |Kampung Tarontha Srum, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, utara, dan selatan |Kampung Taronta dituturkan Bahasa Gufinti, sedangkan di sebelah baratnya dituturkan Bahasa Srum.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Gufinti merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Anus, Bahasa Bku (Bgu), Bahasa Dinana (Marenggi), Bahasa Kaptau, Bahasa Mander, Bahasa Mawes Dey (Mawesdey), Bahasa Mawes Wares (Maweswares), Bahasa Srum, dan Bahasa Vedan Nus (Ponden).

Bahasa Hubla dituturkan oleh etnik Siep Aso di |Kampung Obolma, Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Selain itu, Bahasa Hubla juga dituturkan di Seima, Distrik Mugi, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa Hubla terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Obolma dan dialek Seima. Persentase perbedaan kedua dialek tersebut adalah 52,18%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Hubla merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kwerba, Bahasa Damal, dan Bahasa Intamaja.

Bahasa Iau sebagian besar dituturkan oleh suku Iau di |Kampung Fawi, Distrik Fawi Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Suku yang menuturkan bahasa itu di Distrik Fawi adalah suku Bareri, Tayai, Dorei, Vi, dan Bagusi. Bahasa lain yang dituturkan di |Kampung Fawi adalah Bahasa Turu, Bahasa Wano, Bahasa Duvle, dan Bahasa Dani. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Fawi, yaitu |Kampung Dagai dituturkan Bahasa Duvle; di sebelah barat, yaitu |Kampung Turuno dituturkan Bahasa Turu; di sebelah utara, yaitu |Kampung Bareri dituturkan Bahasa Duvle, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Birisari dituturkan Bahasa Wano.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Hubla merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 98,50%--98,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Duvle Wano.

Bahasa Imbuti (Marind) dituturkan oleh etnik Marind |Kampung Samkai, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Imbuti (Marind) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Marori (Morori), Bahasa Engkalembu, dan Bahasa Bian Marind Deg.

Bahasa Intamaja dituturkan oleh masyarakat etnik Intamaja di |Kampung Obio, Distrik Obio, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Intamaja juga dituturkan di |Kampung Munu, Ujin, Batim, dan Katarina di Distrik Obio. Selain di kampung tersebut, di |Kampung Suru-Suru, Dumate, See, dan Jifak, Distrik Suru-Suru dituturkan juga Bahasa Intamaja. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Obio, yaitu |Kampung Sumo dituturkan Bahasa Momuna; di sebelah utara, yaitu |Kampung Bukum dituturkan Ngalik; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Tomor dituturkan Asmat.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Intamaja merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Momuna, Bahasa Diuwe, dan Bahasa Hubla.

Bahasa Irawa dituturkan oleh masyarakat suku Taru Irawa di |Kampung Pirare-Awera, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Pirare ialah |Kampung Somiangga dituturkan Bahasa Serui Laut; di sebelah barat, yaitu |Kampung Ansus dituturkan Bahasa Serui; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Merare dituturkan Bahasa Wairate.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Irawa merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75--100%, seperti dengan Bahasa Diae 97,75%; Bahasa Sough Bohon 98%; Bahasa Lani 98,25%; Bahasa Kenyam Mikena 99,25%; Bahasa Kiwai 99,5; Bahasa Mandobo Bawah 99,75%; dan Bahasa Ngkalembu 100%.

Bahasa Isirawa dituturkan oleh etnik Isirawa di |Kampung Kasukwe, Distrik Sarmi Kota, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Isirawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Airoran, Bahasa Gufinti, Bahasa Liki, dan Bahasa Aabinonim.

Bahasa Jair dituturkan oleh masyarakat |Kampung Jair, Distrik Kouh, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Bahasa Jair juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Jair, yaitu |Kampung Boma; di sebelah barat, yaitu |Kampung Uni; di sebelah utara, yaitu |Kampung Yaniruma; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Wagemaro. Bahasa lain yang terdapat di |Kampung Jair adalah Bahasa Kombai dan Bahasa Mandobo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jair merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,25%--98,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kombai dan Bahasa Nai.

Bahasa Jelako dituturkan oleh masyarakat etnik Luban, |Kampung Luban, Distrik Aboy, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Berdasarkan pengakuan penduduk, Bahasa Jelako juga dituturkan di |Kampung Aboy dan Yuaban. Di sebelah timur |Kampung Luban, yaitu |Kampung Mot dituturkan Bahasa Asbe; di sebelah barat, yaitu |Kampung Borme dituturkan Bahasa Telepe; di sebelah utara, yaitu |Kampung Teraplu dituturkan Bahasa Updukan; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Yupli dituturkan Bahasa Asbe.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jelako merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 87,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Lepki, Bahasa Telepe, Bahasa Awban (Bese).

Bahasa Jinak dituturkan oleh etnik Jinak di |Kampung Jinak, Distrik Suatorsuru, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Wowi di sebelah barat |Kampung Jinak, Waganu I di sebelah timur |Kampung Jinak, dan Waganu II di sebelah selatan |Kampung Jinak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jinak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 97%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Nalik Selatan, Bahasa Atam (Temma), dan Bahasa Arakam.

Bahasa Joerat dituturkan oleh masyarakat di |Kampung As dan |Kampung Atat, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung As dan |Kampung Atat bersebelahan dengan |Kampung Nakai di sebelah barat, |Kampung Kapi di sebelah selatan, |Kampung Weo di sebelah timur, dan |Kampung Esmapan di sebelah utara. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Nakai menggunakan Bahasa Nakai, masyarakat |Kampung Kapi menggunakan Bahasa Kapi, masyarakat |Kampung Weo menggunakan Bahasa Yakapis, dan |Kampung Esmapan menggunakan Bahasa Yakapis.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Joerat merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 95,56% dibandingkan dengan Bahasa Yakapis. Selain itu, isolek Joerat juga memiliki perbedaan persentase sebesar 95,56% dibandingkan dengan Bahasa Buagani.

Bahasa Jorop dituturkan oleh etnik Jorop di |Kampung Warlef, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Jorop di |Kampung Warlef berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Yabanda di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Senggi (Find) di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Walsa di sebelah utara, wilayah tutur Bahasa Emem di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Jorop merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yabanda, Bahasa Walsa, dan Bahasa Emem.

Bahasa Juvutek dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Komra, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Juvutek berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Mawes di |Kampung Maweswares di sebelah timurnya, wilayah tutur Bahasa Ansudu di |Kampung Ansudu di sebelah baratnya.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Juvutek merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,50%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Juvutek, Bahasa Yokari, dan Bahasa Molof.

Bahasa Kadi (Muyu Utara) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Woropko, Distrik Waropko, Kabupaten Bouven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kadi (Muyu Utara) di |Kampung Waropko berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Yonggom di sebelah timur, Bahasa Wambon di sebelah barat, Bahasa Kataut di sebelah utara, dan Bahasa Kapom di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kadi (Muyu Utara) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 86%--88,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Muyu, Bahasa Muyu Selatan, dan Bahasa Yonggom.

Bahasa Kaigar dituturkan oleh masyarakat |Kampung Amagais, Distrik Der Koumur, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Amagais dituturkan Bahasa Okor, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kamur, di sebelah utara dituturkan Bahasa Amara, di sebelah selatan dituturkan Bahasa Suagai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kaigar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tamario, Bahasa Sawi, dan Bahasa Karufo Auf.

Bahasa Kaiya (Kaiy) dituturkan oleh Oitai dan Seritai di |Kampung Kai, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Selain Bahasa Kaiya (Kaiy), di |Kampung Kai dituturkan juga Bahasa Sikari, Bahasa Tebako, Bahasa Papasena, Bahasa Taipe, Bahasa Baso, dan Bahasa Foao. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kai, yaitu |Kampung Papasena dituturkan Bahasa Papasena; di sebelah barat, yaitu |Kampung Obokui dituturkan Bahasa Obokuitai; di sebelah utara, yaitu |Kampung Sikari dan Haya dituturkan Bahasa Sikari dan Bahasa Haya; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Bareri dituturkan Bahasa Tebako.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kaiya (Kaiy) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kaiya (Kaiy), Bahasa Sikari, dan Bahasa Tebako.

Bahasa Kamindip dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sesnuk, Distrik Sesnuk, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Sesnukt berbatasan dengan |Kampung Kanggup di sebelah timur, |Kampung Amboran di sebelah barat, |Kampung Jomkondo di sebelah utara, dan |Kampung Butipiri di sebelah selatan. Menurut pengakuan masyarakat, |Kampung Kanggup menggunakan Bahasa Kamindip, |Kampung Amboran menggunakan Bahasa Kamindip, |Kampung Jomkondo menggunakan Bahasa Kamindip, dan |Kampung Butipiri menggunakan Bahasa Mandobo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kamindip merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99% dibandingkan dengan Bahasa Wambon Kenondik. Selain itu, isolek Kamindip juga memiliki perbedaan persentase sebesar 99% dibandingkan dengan Bahasa Ale, 99% dibandingkan dengan Bahasa Kawiyet, 99% dibandingkan dengan Bahasa Okpari, dan 99% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah.

Bahasa Kamoro dituturkan oleh masyarakat |Kampung Atuka, Distrik Mimika Tengaht, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kamoro dituturkan pula oleh masyarakat di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Atuka.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kamoro merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wabo dan Bahasa Sempan.

Bahasa Kanum Barkari dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kondo, Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kanum Barkari dituturkan juga oleh penduduk |Kampung Kurkari dan Rawa Biru. Bahasa Kanum Barkari berbatasan dengan Bahasa Kanum Smerki di |Kampung Temerau di sebelah barat |Kampung Kondo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kanum Barkari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,3%--99,8% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani Bokondini, Bahasa Yei Bawah, dan Bahasa Kopkaka (Kopgaka Seredala).

Bahasa Kapayap (Soko Benanu) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Kapayap II, Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Berdasarkan informasi penutur, Bahasa Kapayap juga dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Kapayap I dan |Kampung Wutuketnau. Di sebelah timur |Kampung Kapayap II yaitu |Kampung Mabul yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Korowai, di sebelah barat yaitu |Kampung Seradala yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Kopkaga, di sebelah utara yaitu Dekai, Keke, dan Maruku yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Momuna, dan di sebelah selatan yaitu |Kampung Cipenap yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Citak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Kapayap merupakan Bahasa tersendiri dengan persentase sebesar 99% jika dibandingkan dengan Bahasa Citak dan sebesar 98% dengan Bahasa Dajub (Tokuni).

Bahasa Kapori (Kapauri) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pagai, Distrik Airu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa ini juga dituturkan di |Kampung Pagay dan Kamikaru. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Pagay berbatasan dengan |Kampung Benawa di sebelah timur, dengan |Kampung Kamikaro di sebelah barat, dengan |Kampung Lereh di sebelah utara, dan dengan |Kampung Mamberamo di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kapori (Kapauri) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Blue Klesi, Bahasa Elsesng, dan Bahasa Elseng Koarjab.

Bahasa Kaptiau (Kapitiau) dituturkan oleh etnik Kapitiau di |Kampung Kapitiau, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wulayah tutur Bahasa Kaptiau (Kapitiau) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Demta di sebelah timur, isolek Mawes Dey di sebelah barat, dan Bahasa Nimboran di sebelah selatan |Kampung Kapitiau.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kaptiau (Kapitiau) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Mawes Dey (Mawesdey), Bahasa Mawes Wares (Maweswares), dan Bahasa Isirawa.

Bahasa Karufo Auf dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Mabul (Maitali), Distrik Kolof Brasa, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa Karufo Auf juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Baigon, Miyop, Tanah Baru, Ujung Batu, Woman, dan Afiu Mabul. Di sebelah barat Kapung Mabul (Maitali), yaitu |Kampung Baseman dituturkan Bahasa Citak; di sebelah utara, yaitu |Kampung Galeman dituturkan Bahasa Kapayap; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Yaniromo dituturkan Bahasa Korowai Kombai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Karufo Auf merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99,25--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Klufo (Korowai Umum), Bahasa Diuwe, dan Bahasa Soba.

Bahasa Kaureh dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kaureh berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Pagay di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Sause di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Tabu di sebelah utara, dan wilayah tutur Bahasa Tabean di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kaureh merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,86% jika dibandingkan dengan Bahasa Sause.

Bahasa Kawera dituturkan oleh masyarakat etnik Soromaja di |Kampung Kasonaweja, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua. Di bagian timur, selatan, utara, dan barat |Kampung Kasonaweja dituturkan Bahasa Kawera.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kawera merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 88,5%--99,5% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Nobuk (Kuwreha Mamberamo), Bahasa Bagusa, Bahasa Warembori, Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Anasi, dan Bahasa Soytai.

Bahasa Kawiyet dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Wanggatkibi, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Wanggatkibi berbatasan dengan |Kampung Amuan di sebelah timur, |Kampung Langgowan di sebelah barat, |Kampung Kanggewot di sebelah utara, dan |Kampung Kakuna di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Wanggatkibi menggunakan Bahasa Okpari, |Kampung Langgowan menggunakan Bahasa Wanbon, |Kampung Kanggewot menggunakan Bahasa Kawiyet, dan |Kampung Kakuna menggunakan Bahasa Okpari.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kawiyet merupakan sebuah bahasa dengan perbedaan persentase sebanyak 91% dibandingkan dengan Bahasa Ale. Selain itu, isolek Kawiyet juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 97% dibandingkan dengan Bahasa Okpari, 99% dibandingkan dengan Bahasa Kamindip, 98% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah, dan 98% dibandingkan dengan Bahasa Wambon.

Musim hujan dalam bahasa Kayo pulau

Di Provinsi Papua

[sunting]

</noinclude> Bahasa Kayo Pulau terletak di |Kampung Tahima Soroma, Distrik Jayapura Selatan, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kayo Pulau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan yang berkisar 99,25--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Tobati, Bahasa Kemtuk, Bahasa Klesi, dan Bahasa Kaureh.

Bahasa Kejer Manirem dituturkan oleh masyarakat yang berada di |Kampung Keder (Timron), Distrik Pantai Timur Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Keder dituturkan Bahasa Dabe, di sebelah barat dituturkan Bahasa Sobey, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Maniram. Di sebelah utara kampung itu tidak ada bahasa karena daerah itu masuk Lautan Pasifik.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kejer Manirem merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 94%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa, Dabe, Armati, dan Isirawa.

Bahasa Kekawia dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Kekawia, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. |Kampung Kekawia berbatasan dengan |Kampung Mioko di sebelah timur, |Kampung Aikawapuka di sebelah barat, |Kampung Atuka di sebelah utara, dan |Kampung Kekwa di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Mioko menggunakan Bahasa Kekawia, |Kampung Aikawapuka menggunakan Bahasa Kekawia, |Kampung Atuka menggunakan Bahasa Kekawia, dan |Kampung Kekwa menggunakan Bahasa Kekawia.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kekawia merupakan sebuah bahasa dengan perbedaan persentase sebanyak 96% dibandingkan dengan Bahasa Fakafuku. Selain itu, isolek Kekawia juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 98% dibandingkan dengan Bahasa Tauwu Ane, 100% dibandingkan dengan Bahasa Amungkal, 88% dibandingkan dengan Bahasa Kamoro, dan 98% dibandingkan dengan Bahasa Sempan.

Bahasa Kemtuk dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sabeab Kecil, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Kemtuk juga dituturkan di |Kampung Gresi, Distrik Gresi dan |Kampung Kwansu, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dan sebelah barat |Kampung Sabeyap Kecil dituturkan Bahasa Kemtuk Nembut, di sebelah utara dituturkan Bahasa Sentani, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Tabu. Sementara itu, di sebelah timur dan sebelah selatan |Kampung Gresi dituturkan juga Bahasa Gresi, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kemtuk Gresi, di sebelah utara dituturkan Bahasa Kemtuk. Di sebelah timur |Kampung Kwansu dituturkan Bahasa Kemtuk, di sebelah barat dituturkan Bahasa Namblong, di sebelah utara dituturkan Bahasa Warry, di sebelah selatan dituturkan Bahasa Gresi. Bahasa Kemtuk terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek

  1. Kemtuk,
  2. Bring, dan
  3. Mlap.

Persentase perbedaan ketiga dialek tersebut adalah 76%--79%. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kemtuk merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Elseng, Bahasa Sentani, dan Bahasa Namblong.

Bahasa Kenyam Niknene dituturkan oleh masyarakat |Kampung Talma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Bahasa Kenyam Niknene dituturkan juga di |Kampung Kenyam dan Mamugu 2. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kenyam Niknene berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kenyam yang dituturkan oleh masyarakat di sebelah timur |Kampung Talma, yaitu Urugi; sebelah Barat, yaitu |Kampung Kenyam; sebelah utara, yaitu |Kampung Paris; dan sebelah selatan, yaitu |Kampung Wendama

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Kenyam Niknene merupakan bahasa sendiri karena persentase perbedaan bahasa itu dengan Bahasa Dani Bawah sebesar 99,25% dan dengan Bahasa Lani sebesar 98,25%.

Bahasa Ketengban dituturkan oleh masyarakat |Kampung Borme, Distrik Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Borme berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ngalum di sebelah timur |Kampung Borme, Bahasa Ketengban di sebelah barat, Bahasa Lepki di sebelah utara, dan Bahasa Ketengban di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ketengban merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Jelako, Bahasa Kimki, Bahasa Ngalum, dan Bahasa Lepki.

Bahasa Keuw dituturkan oleh etnik Kewete di |Kampung Keuw, Distrik Wapoga, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Keuw, yaitu |Kampung Boaker dituturkan Bahasa Keuw; di sebelah barat, yaitu |Kampung Wapoga dituturkan Bahasa Burate, Bahasa Awera, dan Bahasa Demisa; di sebelah utara, yaitu |Kampung Maniwo dituturkan Bahasa Moi Maniwo; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Totoberi dituturkan Bahasa Burate atau Tototberi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Keuw merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Moi Maniwo, Bahasa Moor, dan Bahasa Ekari.

Bahasa Kimaam dituturkan oleh masyarakat |Kampung Padua, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dan utara |Kampung Padua dituturkan Bahasa Yelmek; di sebelah barat dituturkan Bahasa Riantana; dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Kimaam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kimaam merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,50% jika dibandingkan dengan Bahasa Riantana.

Bahasa Kimagima dituturkan oleh suku Kimagima di |Kampung Turiram, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa Kimagima juga dituturkan di |Kampung Kiworo, Eoner, Mambun, dan Auri. Menurut pengakuan penduduk, si sebelah timur |Kampung Turiram, yaitu |Kampung Deka dituturkan Bahasa Muyu; di sebelah barat, yaitu |Kampung Teri dituturkan Bahasa Kimagima; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kiworo dituturkan Bahasa Kimagima; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Mambun dituturkan Bahasa Kimagima.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kimagima merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 98%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Citak, Bahasa Yabega, dan Bahasa Ngguntar.

Bahasa Kimki dituturkan oleh etnik Kimki di |Kampung Batom, Distrik Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Batom dituturkan Bahasa Biski (PNG), di sebelah barat dituturkan Bahasa Yetfa; di sebelah utara dituturkan Bahasa Murkim, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Ngalum.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kimki merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mukim, Bahasa Namalu, dan Bahasa Warion.

Bahasa Kimyal dituturkan oleh masyarakat |Kampung Korupun, Dagi, Duram, Kwan Dua, dan Debula, Distrik Korupun, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penuturnya, Bahasa Kimyal berbeda dengan bahasa suku lain di sekitar kelima kampung tersebut, yaitu dengan Bahasa Mek Nalca, Bahasa Mek Nipsan, Bahasa Kopkaka, dan Bahasa Una.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kimyal merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--98% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mek Nipsan, Bahasa Kopkaka, Bahasa Una, dan Bahasa Mek Nalca.

Bahasa Kiri-Kiri dituturkan oleh etnik Kiri-Kiri di |Kampung Wafuka, Distrik Kirihi, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kiri-Kiri dituturkan juga oleh penduduk di |Kampung Doufo dan Poira. di sebelah timur |Kampung Wafuka, yaitu |Kampung Doufo dituturkan Bahasa Edopi dan Bahasa Kiri-Kiri; di sebelah barat, yaitu |Kampung Poira dituturkan Bahasa Kiri-Kiri dan Bahasa Fayu; di sebelah utara, yaitu |Kampung Derpor (Derapose) dituturkan Bahasa Derapose; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Iratoli dituturkan Bahasa Edopi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kiri-kiri merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Fayu, Bahasa Kofey, dan Bahasa Nosaudare.

Bahasa Kitum dituturkan oleh masyarakat etnik Kitum di |Kampung Bayanggop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kitum dituturkan juga di sebelah timur, utara, dan selatan |Kampung Bayanggop, yaitu |Kampung Arin, Awaten, dan Ater. Sementara itu, di sebelah timur, |Kampung Buronggap dituturkan Bahasa Naray.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Kitum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,5%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kwer (Kofet, Kwet), Bahasa Namas, Bahasa Ningrum, Bahasa Korowi Selatan, Bahasa Kombali Kali (Tajan), Bahasa Korowai, Bahasa Keuw, Bahasa Moor, Bahasa Burumakot, Bahasa Korowai, Bahasa Jinak, dan Bahasa Moi Maniiwo.

Bahasa Kiwai dituturkan oleh masyarakat RT 3, |Kampung Tomer, Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa Kiwai dituturkan juga di |Kampung Kuler, Nasim, Buti, Tomer, dan Ginggimop. Bahasa lain yang dituturkan oleh masyarakat RT 3, |Kampung Tomer ialah Bahasa Moto dan Bahasa Pijin. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kiwai berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kanum di sebelah timur RT 3, |Kampung Tomer, yaitu |Kampung Tomerau; sebelah Barat, yaitu |Kampung Onggawa; dan sebelah utara, yaitu |Kampung Yangandur.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Kiwai merupakan bahasa sendiri karena persentase perbedaan bahasa itu dengan Bahasa Kanum Barkari sebesar 99,75% dan dengan Bahasa Ngkalembu sebesar 98,25%.

Bahasa Klesi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Iwon, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Klesi berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Gresi di |Kampung Bangai di sebelah timur dan wilayah tutur Bahasa Jawa dan Bahasa Bugis di |Kampung Nawa Mulia di sebelah barat, |Kampung Bumi Sahaja di sebelah utara, dan |Kampung Takwa Bangun di sebelah selatan |Kampung Iwon.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Klesi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yafi, Bahasa Molof, dan Bahasa Tefanma.

Bahasa Klufo (Krowai Rawa, Krowai Umum) dituturkan oleh etnik Korowai di |Kampung Rekortu, Distrik Korowai Timur, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Selain bahasa itu, Bahasa Afilaup dan Bahasa Heiwanop dituturkan juga di |Kampung Rekortu.

Berdasarkan pengakuan penduduk, di bagian sebelah timur |Kampung Rekortu, yaitu |Kampung Kawe dituturkan Bahasa Singgagup; di sebelah barat, yaitu |Kampung Baasman dituturkan Bahasa Citak Mitak; di sebelah utara, yaitu |Kampung Alemso dituturkan Bahasa Kunaukam; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Manggemare dituturkan Bahasa Kombai.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Klufo (Krowai Rawa, Krowai Umum) merupakan sebuah bahasa dengan persentase 98,75%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimki, Bahasa Eipomek, dan Bahasa Afilaup.

Bahasa Kofey dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sauri Sirami, Distrik Waropen Atas, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kofey berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Wonti di sebelah timur |Kampung Sauri Sirami.

Sementara itu, Bahasa Kofey merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92--93% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sauri Sirami, Bahasa Demba, Bahasa Barapasi, dan Bahasa Sorabi.

Bahasa Kokenop dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Bukit, Distrik Arimop, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Bukit bersebelahan dengan |Kampung Anyumka di sebelah timur, |Kampung Ujung di sebelah barat, |Kampung Kuken di sebelah utara, dan |Kampung Iniyandit di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Anyumka menggunakan Bahasa Kokenop, |Kampung Ujung menggunakan Bahasa Kenonden, |Kampung Kuken menggunakan Bahasa Kitum, dan |Kampung Iniyandit menggunakan Bahasa Kenemaf.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kokenop merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 94% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah. Selain itu, isolek Kokenop memiliki perbedaan persentase sebesar 92% dibandingkan dengan Bahasa Wambon Kenondik.

Bahasa Kombai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kombai, Distrik Kouh, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Kombai juga dituturkan di |Kampung Firiwage, Karuwage, Yaniruma, Aifo, dan Kawagit. Bahasa lain yang dituturkan di kampung itu adalah Bahasa Jair. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kombai, yaitu |Kampung Mandobo dituturkan Bahasa Mandobo dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Jair dituturkan Bahasa Jair.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kombai merupakan sebuah bahasa dengan persentase 98,75% jika dibandingkan dengan Bahasa Nai.

Bahasa Kombai Kali (Tajan) dituturkan oleh etnik Kombai Tajan (Kali) di Dusun Viru RT 3, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Basman, Yafufla, Tarua, Wakuma, dan Merokima. Bahasa lain yang dituturkan di Dusun Viru RT 3 adalah Bahasa Korowai Lumpur. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Wanggemalo dan Amburuma di sebelah timur Dusun Viru RT 3 dituturkan Bahasa Kombai Darat, |Kampung Basman di sebelah barat dituturkan Bahasa Citak Mitak dan Bahasa Korowai Kali, |Kampung Bygun di sebelah utara dituturkan Bahasa Korowai Batu, dan |Kampung Boma di sebelah selatan dituturkan Bahasa Awyu, Bahasa Jair, dan Bahasa Kombai Darat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kombai Kali (Tajan) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 97--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Kombai, Bahasa Nalik Selatan, Bahasa Atam (Temma), dan Bahasa Arakam.

Bahasa Komela dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Ikcan, Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Ikcan berbatasan dengan |Kampung Upkim di sebelah barat, |Kampung Okdongbon di sebelah selatan, |Kampung Tutuman di sebelah timur, dan |Kampung Ulkopit di sebelah utara. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Upkim menggunakan Bahasa Are, |Kampung Okdongbon menggunakan Bahasa Komela, |Kampung Tutuman menggunakan Bahasa Komela, dan |Kampung Ulkopit menggunakan Bahasa Are.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Komela merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebanyak 89% dibandingkan dengan Bahasa Are. Selain itu, isolek Komela juga memiliki persentase perbedaan sebanyak 93% dibandingkan dengan Bahasa Ale, 98% dibandingkan dengan Bahasa Kokenop, dan 97% dibandingkan dengan Bahasa Nama.

Bahasa Komolom (Mombun) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Komolom, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Komolom dituturkan Bahasa Marind, di sebelah barat dituturkan Bahasa Riantana, di sebelah utara dituturkan Bahasa Makleu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Komolom (Mombun) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimaam dan Bahasa Ndom.

Bahasa Komyandaret dituturkan oleh masyarakat |Kampung RT 4 Danau Kit, Distrik Firiwage, Kabupaten Boven Digul, Provinsi Papua. Bahasa Komyandaret dituturkan juga di |Kampung Kaway dan bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Bahasa Saukambo. Menurut pengakuan penduduk, dari segi situasi kebahasaan di sebelah timur |Kampung RT 4 Danau Kit, yaitu |Kampung Gawgop dituturkan Bahasa Wambon; di sebelah barat, yaitu Karuwage dituturkan Bahasa Kombai; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kabuage dituturkan Bahasa Korowai; dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Saukambo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Komyandaret merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Korowai, Bahasa Jair, Bahasa Kombai, dan Bahasa Nai.

Bahasa Konerau dituturkan oleh masyarakat |Kampung Konoraw, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Konoraw juga dituturkan Bahasa Konerau; di sebelah barat dituturkan bahasa, dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Kimaam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Konerau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Komolom (Mombun), Bahasa Kimaam, dan Bahasa Ndom.

Bahasa Kopkaka dituturkan oleh masyarakat |Kampung Seredela, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa Kopkaka juga digunakan oleh penduduk di sebelah timur |Kampung Seredela, yaitu |Kampung Yebor, di sebelah barat, yaitu |Kampung Mosomduba, di sebelah utara, yaitu |Kampung Murwedala, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Muruf.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kopkaka merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 85%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimyal, Bahasa Kopkaka, Bahasa Seredela (Kopkaga Seredaea), Bahasa Nyaw, dan Bahasa Busami.

Bahasa Kopkaka Seredela (Kopkaga Seredela) dituturkan di |Kampung Seredela, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Seredela, yaitu di |Kampung Samtung dan Morodara; di sebelah barat, yaitu |Kampung Bingki dan Worof; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Murup II. Sementara itu, di sebelah utara, yaitu |Kampung Kefayap (Kepayap) dituturkan Bahasa Bese.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kopkaka Seredela (Kopkaga Seredela) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 85,00%--99,5% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnyua Bahasa Kopkaka, Bahasa Korowai Baigun, Bahasa Kwer (Kofet, Kwet), dan Bahasa Burukmakot.

Bahasa Korowai Baigun (Atigun) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Baigun (Atigun), Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Bahasa Korowai tersebut juga dituturkan oleh masyarakat dari |Kampung Mabul, Apium, dan Selo. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Baigun (Atigun), yaitu |Kampung Apium dituturkan Bahasa Korowai; di sebelah barat, yaitu |Kampung Kaliman dituturkan Bahasa Kapayap; di sebelah utara, yaitu |Kampung Muara Jon dituturkan Bahasa Korowai Kopkaka; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Mabul dituturkan Bahasa Korowai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Korowai Baigun (Atigun) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Korowai Korowage dan Bahasa Korowai Selatan (Korowai Lumpur/Klufwo Auf Umbale).

Bahasa Korowai Karuwage (Korowage) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Karuwage, Distrik Firiwage, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Bahasa lain yang dituturkan di kampung itu adalah Bahasa Kombai. Dari segi situasi kebahasaan, di sebelah timur |Kampung Karuwage, yaitu |Kampung Firiwage dan sebelah utara, yaitu |Kampung Kabuwage dituturkan Bahasa Kombai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Korowai Karuwage (Korowage) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Jair, Bahasa Kombai, dan Bahasa Nai.

Bahasa Korowai Selatan (Korowai Lumpur/Klufwo Auf Umbale) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yaniruma, Kecamatan Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu dituturkan oleh masyarakat di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Yaniruma, yaitu |Kampung Mangge, Basman, dan Sela. Sementara itu, di sebelah selatan, |Kampung Hibionda dituturkan Bahasa Kombai Darat.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Korowai Selatan (Korowai Lumpur, Klufwo Auf Umbale) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Burukmakot, Bahasa Korowai Baigun, Bahasa Korowai Korowage, Bahasa Momuna, Bahasa Kombali Kali (Tajan), Bahasa Mani, Bahasa Kopkaka (Kopkaga), dan Bahasa Jinak.

Bahasa Kurudu (Myobo) dituturkan oleh etnik Mauri di |Kampung Kororompui, Distrik Raimbawi, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan juga oleh masyarakat |Kampung Dorei Amini, Kurudu, Andesaria, Krindi, dan Poiwai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kurudu (Myobo) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tause, Bahasa Wairate, dan Bahasa Totoberi.

Bahasa Kwari dituturkan oleh masyarakat |Kampung Aipawah (Aepawa), Distrik Oudate, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Bahasa Kwari juga dituturkan di |Kampung Sowiwa. Selain bahasa itu, Bahasa Demisa dituturkan pula di |Kampung Aipawah (Aepawa). Di sebelah timur |Kampung Rasawa, yaitu |Kampung Rasawa dituturkan Bahasa Kwari dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Smiangga dituturkan Bahasa Yapen.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kwari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97%--99,75% jika dibandingkan dengan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mek Nalca, Bahasa Mnanggi, Bahasa Kapauri, Bahasa Bku, Bahasa Kwerba, Bahasa Kapauri, Bahasa Bora-Bora, Bahasa Kwinsu, Bahasa Tangko, Bahasa Namalu, Bahasa Blue Klesi, dan Bahasa Kaptiau.

Bahasa Kwer (Kofet/Kwet) dituturkan oleh etnik Agumatum di |Kampung Koper atau Omakot (Omakol/Kwer/Kuil), Distrik Seredela, Kabupaten Yahokimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kwer (Kofet/Kwet) dituturkan juga di |Kampung Yasif, Bumu, Kolua, Kelapa Satu, Tokuni, Bondua, Masomdua, Bingi, Yawol, Teret, Samtau, dan Marudat. Wilayah tutur Bahasa Kwer (Kofet/Kwet) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kaumtedep, Bahasa Landa, Bahasa Yup di sebelah timur, Bahasa Bayono di sebelah barat, Bahasa Korowai di sebelah utara, dan Bahasa Kopkaka di sebelah selatan |Kampung Koper atau Omakot (Omakol/Kwer/Kuil).

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kwer (Kofet/Kwet) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89,25--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kopkaka, Bahasa Dani Bokondini, Bahasa Kombai, Bahasa Yaur, Bahasa Arui, Bahasa Yei Bawah, dan Bahasa Momuna.

Bahasa Kwerba dituturkan oleh etnik Armati di |Kampung Wamariri, Distrik Apawer Hulu, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kwerba juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Wamariri. Di sebelah barat dan sebelah utara |Kampung Wamariri dituturkan Bahasa Armati dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Isirawa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kwerba merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa sekitarnya, misalnya Bahasa Armati, Bahasa Tapea, Bahasa Amathamit (Athokhin), dan Bahasa Isirawa.

Bahasa Kwesten Arare dituturkan oleh masyarakat |Kampung Arare, Distrik Pantai Timur Bagian Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Arare dituturkan Bahasa Wakde; di sebelah dituturkan Bahasa Kwesten, di sebelah utara dituturkan Bahasa Wakde, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Kwesten dan Bahasa Omte.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kwesten Arare merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wakde dan Bahasa Kwerba.

Bahasa Kwinsu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ansudu, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Ansudu, yaitu |Kampung Komra dituturkan Bahasa Biri; di sebelah barat, yaitu |Kampung Betaf dituturkan Bahasa Bataf; di sebelah utara, yaitu |Kampung Beneraf dituturkan Bahasa Beneraf dan |Kampung Yamna dituturkan Bahasa Yamna; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Mawes Mares dituturkan Bahasa Mawes.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kwinsu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Bora-Bora, Bahasa Segar, dan Bahasa Bku (Bgu).

Bahasa Lani dituturkan oleh etnik Lani di |Kampung Ninabua, Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah barat dan utara |Kampung Ninabua, yaitu |Kampung Wesaput dan di sebelah utara dan barat, yaitu |Kampung Abenaho. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Ninabua juga berbatasan dengan daerah sebaran Bahasa Lani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lani merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dani (Hubula), Bahasa Dani Atas, dan Bahasa Nggem.

Bahasa Lepki dituturkan oleh mayoritas etnik Lepki di |Kampung Luban, Distrik Aboy, Kabupaten Pegunungan Bintang, Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Luban dituturkan Bahasa Kimki; di sebelah barat dituturkan Bahasa Ketengban, di sebelah utara dituturkan Bahasa Yetfa, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Ngalum.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lepki merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimki, Bahasa Jelako, dan Bahasa Yetfa.

Bahasa Liki dituturkan oleh masyarakat |Kampung Liki, Distrik Sarmi Kota, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Liki berbatasan dengan Lautan Pasifik, sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan |Kampung Sarmoi yang penduduknya menggunakan Bahasa Sobei.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Liki merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yamna, Bahasa Wakde, dan Bahasa Dabe 100%.

Bahasa Makleu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Welbuti, Distrik Tubang, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa Makleu juga dituturkan di |Kampung Ilwayap, Bibikem, Woboyu, dan Dudalim. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Welbuti, yaitu |Kampung Nakias dituturkan Bahasa Marind Deg; di sebelah barat, yaitu |Kampung Bibikem dituturkan Bahasa Makleu (dialek Yabega); di sebelah selatan, yaitu |Kampung Yawimu dituturkan Bahasa Bian Marind Deg.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Makleu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bian Marind Deg, Bahasa Engkalembu, Bahasa Imbuti (Marind), Bahasa Kanum Barkari, Bahasa Kimaam, Bahasa Kimagima, dan Bahasa Komolom (Mombun).

Bahasa Mander dituturkan oleh etnik Buknes di |Kampung Rotea, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Bahasa Mander juga dituturkan di |Kampung Bu, Srum, dan Biri II. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Ures juga dituturkan di |Kampung Rotea. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah utara |Kampung Rotea, yaitu |Kampung Anus dituturkan Bahasa Anus dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Rumser Sare dituturkan Bahasa Ures.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Mander merupakan bahasa tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Mawes, Bahasa Marenggi, dan Bahasa Vedan Nus (Podena).

Bahasa Mandobo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Bouven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Persatuan dituturkan Bahasa Muyu, sebelah barat dituturkan Bahasa Awyu, di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Mandobo, dan di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Muyu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mandobo merupakan sebuah bahasa dengan hasil persentase berkisar 99,25%. jika dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Bawah.

Bahasa Mandobo Bawah dituturkan oleh masyarakat |Kampung Selil, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Mandobo Bawah juga dituturkan di |Kampung Kesa, Subur, Aiwat, dan Geten Tiri , Kabupaten Boven Digul, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mandobo Bawah merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 97,75%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Mandobo, Bahasa Mek Nalca, Bahasa Marita, Bahasa Bora-Bora, Bahasa Kwinsu, Bahasa Bku, Bahasa Bian Marind Deg, Bahasa Kamoro Kemtuk, Bahasa Afilaup, dan Bahasa Armati Sarma.

Bahasa Mandobo Tengah (Kop Kambo) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wakeriop (Maju), Distrik Arimop, Kabupaten Beven Digoul, Provinsi Papua. Bahasa Mandobo Tengah (Kop Kambo) dituturkan juga di |Kampung Patriot, Komanik, Kuat Kubun, Aroa, dan Ginggimop yang berdekatan dengan |Kampung Wakeriop (Maju). Bahasa lain yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wakeriop (Maju) ialah Bahasa Wambon dan Bahasa Ketagut.

Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Mandobo Tengah (Kop Kambo) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Wambon yang dituturkan oleh masyarakat di sebelah barat |Kampung Wakeriop (Maju), yaitu |Kampung Ujung dan Bahasa Ketagut di sebelah utara |Kampung Wakeriop (Maju), yaitu |Kampung Bukit.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Mandobo Tengah (Kop Kambo) merupakan bahasa sendiri karena persentase perbedaan bahasa itu dengan Bahasa Mandobo sebesar 95% dan dengan Bahasa Mandobo Bawah sebesar 96%.

Bahasa Manem dituturkan oleh mayoritas etnik Manem di |Kampung Wembi, Distrik Manem, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Wembi, bahasa itu dituturkan juga di |Kampung Kibay dan Yeti. Menurut informasi dari penduduk, di sebelah timur |Kampung Wembi, yaitu Papua Nugini dituturkan Bahasa Mnanggi dan Bahasa Manem; di sebelah barat, yaitu |Kampung Sawanawa dituturkan Bahasa Beyaboa; di sebelah utara yaitu |Kampung Wor dituturkan Bahasa Abrap; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Ampas dituturkan Bahasa Fermanggem.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Manem merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Daikat (Taikat) dan Bahasa Abrap.

Bahasa Manua (Eritai) dituturkan oleh masyarakat etnik Manua di |Kampung Eri, Distrik Mamberamo Tengah Timur, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa Manua dituturkan juga oleh masyarakat |Kampung Kustra dan Haya. Di sebelah Timur |Kampung Eri, yaitu |Kampung Kustra dituturkan Bahasa Baudi dan Bahasa Manua; di sebelah barat, yaitu |Kampung Haya dituturkan Bahasa Siwaya, Bahasa Torweja, dan Bahasa Manua; di sebelah utara, yaitu |Kampung Danau Bira dituturkan Bahasa Baudi; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung dituturkan Bahasa Biritai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bahasa Manua (Eritai) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Airo, Bahasa Towe, Bahasa Armati Sarma.

Bahasa Marap dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kwimi, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Kwimi berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Abrar di sebelah timur, Bahasa Biyekwok di sebelah barat, Bahasa Marap di sebelah utara, dan Bahasa Marap di sebelah selatan |Kampung Kwimi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Marap merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Daikat (Taikat), Bahasa Mnanggi, dan Bahasa Abrap.

Bahasa Maraw dituturkan oleh etnik Wondeu di |Kampung Webi, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan pula oleh masyarakat |Kampung Marabori, Makiroan, dan Worioi. Di sebelah timur |Kampung Waraborijuga dituturkan Bahasa Maraw, di sebelah barat, yaitu |Kampung Aibondeni dituturkan Bahasa Ansus, dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Poom dituturkan Bahasa Poom.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Maraw merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 85%--90,25% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Munggui dan Bahasa Poom.

Bahasa Marita dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wapoga (Wobari), Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Marita dituturkan juga di |Kampung Marare.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Marita merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Mek Nalca, Bahasa Klesi, Bahasa Warion, Bahasa Sunum, Bahasa Kaptiau, Bahasa Mander, Bahasa Namalu, Bahasa Segar, Bahasa Kwerba, Bahasa Bora-Bora, dan Bahasa Afilaup.

Bahasa Marori (Morori) dituturkan oleh etnik Marori (Morori) |Kampung Wasur, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Marori (Morori) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bian Marind Deg dan Bahasa Engkalembu.

Bahasa Masep dituturkan oleh masyarakat |Kampung Masep, Distrik Pantai Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Masep dituturkan Bahasa Karvasea, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kapeso (Apawer), di sebelah utara dituturkan Bahasa Borgea, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Sibhikiya (Subu).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Masep merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Masimasi dan Bahasa Mawes.

Bahasa Masimasi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Masimasi (Artibe Pulau), Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Masimasi merupakan sebuah bahasa dengan persentase sebesar 81%--100% jika dibandingkan sekitarnya, misalnya Bahasa Beneraf, Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or), Bahasa Dabe, Bahasa Etik (Barto, Maria), Bahasa Juvutek, Bahasa Kejer Manirem, Bahasa Kwesten Arare, Bahasa Kwinsu, Bahasa Masimasi, Bahasa Sobey Wakde, dan Bahasa Sunu.

Bahasa Mawes Dey (Mawesdey) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Mawesdey, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu juga dituturkan di Mawes Mukti dan Maweswares. Di sebelah barat |Kampung Mawesdey, yaitu |Kampung Sumasawe dituturkan Bahasa Orya; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kapitaw dituturkan Bahasa Kapitaw; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Tarawasi Maremgi dituturkan Bahasa Maremgi. Sementara itu, nama bahasa di sebelah timur |Kampung Mawesdey tidak diidentifikasi.


Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mawes Dey (Mawesdey) merupakan sebuah bahasa dengan persentase sebesar 91%--99,75% jika dibandingkan sekitarnya, misalnya Bahasa Mawes Wares (Maweswares), Bahasa Dinana (Marenggi), Bahasa Mander, dan Bahasa Podena.

Bahasa Mawes Wares (Maweswares) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Maweswares, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Maweswares dituturkan Bahasa Podena dan di sebelah barat dituturkan Bahasa Biriduwa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mawes Wares (Maweswares) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Mawes Dey (Mawesdey), Bahasa Mander, dan Bahasa Podena.

Bahasa Mee Ugia dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ugida, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Wilayah tutur Bahasa Mee Ugia berbatasan dengan daerah sebaran penutur Bahasa Mee.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Mee Ugia merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 86%--99% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ekari, Bahasa Wolani, Bahasa Damal, Bahasa Auye, Bahasa Sempan, dan Bahasa Mee Wosokuno.

Bahasa Mek Kosarek dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yahukimo, Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Meek Kosarek merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Mek Nalca dan Bahasa Mek Nipsan.

Bahasa Mek Nalca dituturkan oleh suku Mek |Kampung Kosarek, |Kampung Benawa, |Kampung Bari, dan |Kampung Lelambo, sebelah utara Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penutur, Bahasa Mek Nalca sama dengan Bahasa Nipsan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mek Nalca merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 87%--99% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mek Nipsan, Bahasa Kimyal, Bahasa Una, Bahasa Mek Kosarek, Bahasa Kopkaka.

Bahasa Mek Nipsan dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nipsan, Distrik Nipsan, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Nipsan, yaitu |Kampung Nalca, di sebelah barat, yaitu |Kampung Kosarek, di sebelah utara, yaitu |Kampung Pini, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Lelambo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mek Nipsan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 87,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mek Kosarek, Bahasa Mek Nalca, Bahasa Hubla, Bahasa Dajub (Tokuni), dan Bahasa Awban (Bese).

Bahasa Mnanggi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur wilayah tutur Bahasa Mnanggi, yaitu |Kampung Tapos (PNG) dituturkan Bahasa Mnanggi; di sebelah barat, yaitu |Kampung Jangke dituturkan Bahasa Nyau, dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Kriku dituturkan Bahasa Webbi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mnanggi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Pupis, Bahasa Namalu, dan Bahasa Warion.

Bahasa Moi Maniwo dituturkan oleh mayoritas etnik Ayapa di |Kampung Maniwo, Kecamatan Wapoga, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Daerah lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Dabowto, Bami, Menipe, dan Kwi. Di sebelah timur |Kampung Maniwo, yaitu Distrik Kirihi dituturkan Bahasa Mamberamo dan Bahasa Wolani; di sebelah Barat, yaitu |Kampung Aibone dan Siriwadana dituturkan Bahasa Ekari dan Bahasa Siriwo; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Kopekui dituturkan Bahasa Wolani, Bahasa Woni, dan Bahasa Anye. Sementara itu, di sebelah Utara |Kampung Maniwo, yaitu |Kampung Totoberi, Samanui, dan Pirare tidak teridentifikasi bahasa yang dituturkan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moi Maniwo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Moi Sigin, Bahasa Keuw, Bahasa Moor, dan Bahasa Ekari.

Bahasa Molof dituturkan di |Kampung Warley dan Molof, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Warley dan Molof, Bahasa Molof juga dituturkan di |Kampung Purwasi, Tawasi, dan Tiarsi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Molof merupakan bahasa tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya dengan persentase perbedaan sebesar 98%--100%, misalnya Bahasa Tefanma, Bahasa Yafi, dan Bahasa Dubu.

Bahasa Momuna dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ureas, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Ureas berbatasan dengan daerah sebaran Bahasa Momuna yang lain.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Momuna merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Momuna Samboga (Momuna Samboka), Bahasa Una, dan Bahasa Kopkaka.

Bahasa Moni Bibida dituturkan oleh etnik Zonggonau, Kobogau, dan Yatipai di |Kampung Bibida, Distrik Bibida, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Moni dituturkan juga oleh penduduk |Kampung Ugidimi, Dama Dama, Yasiga, Zombandoga, dan Degesiga. Wilayah tutur Bahasa Moni berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ekari di sebelah barat, utara, dan selatan |Kampung Bibida.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moni-Bibida merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 93,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Moni-Kegouda, Bahasa Kanum Barkari, Bahasa Momuna, Bahasa Burukmakot, dan Bahasa Kopkaka (Kopkaga).

Bahasa Moni-Kegouda merupakan bahasa yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kegouda, Distrik Paniai Barat, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Wilayah tutur Bahasa Moni-Kegouda berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ekari di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Kegouda, sedangkan di sebelah utara dituturkan Bahasa Moni.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moni-Kegouda merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92%--94% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya, Bahasa Moni-Bibida, Bahasa Wolani, Bahasa Ekari, Bahasa Kamoro, dan Bahasa Sempan.

Bahasa Momuna Samboga (Momuna Samboka) dituturkan di |Kampung Samboga (Samboka), Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Di sebelah barat Samboga, yaitu |Kampung Sokamu dan sebelah selatan, yaitu |Kampung Kapita dituturkan Bahasa Momuna. Di sebelah timur, yaitu |Kampung Yalmebi dituturkan Bahasa Una dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Awban dituturkan Bahasa Awban.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Momuna Samboga (Momuna Samboka) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 93,5%--98,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Momuna dan Bahasa Kopkaka (Kopkaga).

Bahasa Mooi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Maribu, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mooi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sentani, Bahasa Nafri, dan Bahasa Ormu.

Bahasa Motu dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Tomer, Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. |Kampung Tomer berbatasan dengan |Kampung Kondo di sebelah timur, |Kampung Kuler atau Onggawa di sebelah barat, |Kampung Rawabiru di sebelah utara, dan laut di sebelah selatan. Menurut pengakuan masyarakat, |Kampung Kondo menggunakan Bahasa Kanum, |Kampung Kuler atau Onggawa menggunakan Bahasa Kanum, dan |Kampung Rawabiru menggunakan Bahasa Smarki Kanum.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Motu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa Wambo Tawe Tirop. Selain itu, isolek Motu juga memiliki perbedaan persentase sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa Kokenop, 100% dibandingkan dengan Bahasa Engkalembu, dan 100% dibandingkan dengan Bahasa Kiwai.

Bahasa Munggui dituturkan oleh etnik Wondey di |Kampung Munggui, Distrik Windesi, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Bahasa Munggui dituturkan pula oleh masyarakat |Kampung Natabui, Asai, Windesi, dan Waisani. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Munggui, yaitu |Kampung Kaonda dituturkan Bahasa Busami; di sebelah barat, yaitu |Kampung Natabui dituturkan Bahasa Munggui; di sebelah utara, yaitu |Kampung Makiroan dituturkan Bahasa Maraw; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Papuma dituturkan Bahasa Ansus.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Munggui merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89,50% jika dibandingkan dengan Bahasa Busami.

Bahasa Murkim dituturkan oleh etnik Murkim di |Kampung Kopuni (Mot), Distrik Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Murkim berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa PNG di sebelah timur dan barat, Bahasa Yetfa di sebelah utara, dan Bahasa Kimki di sebelah selatan |Kampung Kopuni (Mot).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Murkim merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimki dan Bahasa Yetfa.

Bahasa Muyu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kamka, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Muyu berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Okpade di sebelah barat, Bahasa Mandobo di sebelah utara, dan Bahasa Kamindip di sebelah selatan |Kampung Kamka.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Muyu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 88,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mandobo, Bahasa Muyu Selatan, dan Bahasa Kadi (Muyu Utara).

Bahasa Muyu Selatan dituturkan oleh masyarakat |Kampung Anggumbit, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Muyu Selatan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 88,50%--92% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yonggom, Bahasa Muyu, dan Bahasa Kadi (Muyu Utara).

Bahasa Nafri dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nafri, Distrik Abepura, Kodya Jayapura, Propinsi Papua.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Nafri merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Skou dan Bahasa Tobati.

Bahasa Nagi dituturkan oleh etnik Nagi di |Kampung Nanum, Distrik Kawor, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Bahasa Nagi juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Umding di bagian timur |Kampung Nanum. Selain itu, masyarakat |Kampung Jamar di sebelah barat dan |Kampung Kawor di sebelah selatan sama-sama menuturkan Bahasa Nagi. Sementara itu, masyarakat |Kampung Arim di bagian utara |Kampung Nanum dituturkan Bahasa Dintere.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Nagi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Klufo (Krowai Rawa, Krowai Umum), Bahasa Eipomek, dan Bahasa Telepe.

Bahasa Nai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Burunggop, Tarkop, Kawor, dan Muturkip, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Bahasa lain yang dituturkan di kampung itu adalah Bahasa Wambon dan Bahasa Nagi. Dari segi situasi kebahasaan, di sebelah timur |Kampung Burunggop, yaitu |Kampung Kawor yang dituturkan Bahasa Nagi; di sebelah barat, yaitu |Kampung Gaguop dituturkan Bahasa Wambon; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kaweyang dituturkan Senggaop; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Bayanggop dituturkan Bahasa Kitumdup.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Nai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99,25% jika dibandingkan dengan Bahasa Pijin.

Bahasa Nalik Selatan dituturkan oleh etnik Nalik Selatan di |Kampung Homhom, Distrik Suru-suru, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Katerina, Krobu, Muaik, Amoma, Momnoak, Pasir Putih, dan Obio. Bahasa Nalik Selatan juga dituturkan di |Kampung Baikma di sebelah barat dan |Kampung Liduk di sebelah utara |Kampung Homhom. Di sebelah timur |Kampung Homhom, yaitu |Kampung Obio dan selatan, yaitu |Kampung Ajin dituturkan Bahasa Momona;

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Nalik Selatan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Asmat Safan, Bahasa Arakam, dan Bahasa Momona.

Bahasa Namak dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kuken RT 2, Distrik Ambatkwi, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, Bahasa Namak dituturkan juga di |Kampung Welapkubun dan Dewok, Distrik Ambatkwi, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Di |Kampung Kuken RT dituturkan juga Bahasa Ketum (Kitum).

Berdasarkan pengakuan penutur, di sebelah timur |Kampung Kuken RT 2, yaitu |Kampung Kaurok, Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang dituturkan Bahasa Nemayo dan sebelah barat |Kampung Kuken RT 2, yaitu |Kampung Manggelum, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoul dituturkan Bahasa Wambon Kenondik (Wombon, Womsi).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Namak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wambon Kenondik, Bahasa Ketum (Kitum), dan Bahasa Nai.

Bahasa Namalu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Muara, Distrik Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. |Kampung Muara terletak di pedalaman dengan topografi tanah yang berbukit. Selain di |Kampung Muara, Bahasa Namalu dituturkan juga di |Kampung Oksip. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Muara berbatasan dengan PNG di sebelah timur, barat, utara, dan selatan yang menggunakan Bahasa Pijin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Namalu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Warion, Bahasa Tangko, dan Bahasa Afilaup.

Bahasa Namas dituturkan oleh masyarakat |Kampung Moukbiran, Distrik Kombut, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Namas berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kakaip di sebelah timur, Bahasa Okbarin di sebelah barat, Bahasa Jonggom di sebelah utara, dan Bahasa Kamindip di sebelah selatan |Kampung Moukbiran.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Namas merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,5%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ningrum, Bahasa Kwer (Kofet/Kwet), Bahasa Korowai Selatan (Korowai Lumpur/Klufwo Auf Umbale), Bahasa Burukmakot, dan Bahasa Jinak.

Bahasa Namblong dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sanggai, Distrik Nambluong, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Namblong dituturkan juga di sebelah timur, selatan, barat, dan utara |Kampung Sanggai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Namblong merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Nafri, Bahasa Ormu, Bahasa Narau, dan Bahasa Orya.

Bahasa Namla dituturkan oleh masyarakat |Kampung Namla, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, Bahasa Namla juga digunakan oleh masyarakat |Kampung Tafanema dan Dubu. Sebagian kecil masyarakat |Kampung Namla juga menggunakan Bahasa Touwe. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dari |Kampung Namla, yaitu |Kampung Dubu dituturkan Bahasa Dubu; di sebelah barat, yaitu |Kampung Tefano dituturkan Bahasa Tefano; di sebelah utara, yaitu |Kampung Usku dituturkan Bahasa Usku; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Touwe dituturkan Bahasa Touwe.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Namla merupakan sebuah bahasa karena memiliki persentase perbedaan berkisar 98,75%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa sekitarnya, misalnya Bahasa Sikari, Bahasa Marau, dan Bahasa Busami.

Bahasa Narau dituturkan oleh masyarakat |Kampung Narau, Harna, Aurina, dan Soskotek, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Saushe dan Kaureh dituturkan juga oleh masyarakat |Kampung Narau.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Narau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25%--99,50% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa Bahasa Klesi, Bahasa Yafi, Bahasa Tefanma, dan Bahasa Molof.

Bahasa Nare dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Yosua, Distrik Suru-Suru, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. |Kampung Yosua bersebelahan dengan |Kampung Tomor di sebelah timur, |Kampung Solok di sebelah barat, |Kampung Jinusugu di sebelah utara, dan |Kampung Rentis di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Tomor menggunakan Bahasa Nare, masyarakat |Kampung Solok menggunakan Bahasa Nare, masyarakat |Kampung Jinusugu menggunakan Bahasa Nare, dan masyarakat |Kampung Rentis menggunakan Bahasa Nare.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Nare merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99% dibandingkan dengan Bahasa Sagapu. Selain itu, isolek Nare juga memiliki perbedaan persentase sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa See.

Bahasa Ndarame dituturkan oleh etnik Agumatum di |Kampung Wowi, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Ndarame dituturkan juga oleh penduduk di |Kampung Yasif, Bumu, Kolua, Kelapa Satu, Tokuni, Bondua, Masomdua, Bingi, Yawol, Teret, Samtau, dan Marudat. Wilayah tutur Bahasa Ndarame berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kaumtedep, Bahasa Landa, Bahasa Yup di sebelah timur; Bahasa Bayono di sebelah barat; Bahasa Korowai di sebelah utara; dan Bahasa Kopkaka di sebelah selatan |Kampung Wowi.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Ndarame merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,50%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kombai, Bahasa Dani Bokondini, Bahasa Kombai, Bahasa Yei Bawah, Bahasa Momuna, dan Bahasa Korowai Baigun.

Bahasa Ndauwa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pogoma, Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Bahasa Ndauwa juga dituturkan oleh masyarakat di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Pogoma, yaitu |Kampung Baksini, Kembru, Gagama. Akan tetapi, di sebelah selatan |Kampung Pogoma, yaitu |Kampung Wiha dituturkan Bahasa Dani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ndauwa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dem, Bahasa Iau, Bahasa Duvle, dan Bahasa Wano.

Bahasa Ndom dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kalilam, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Ndom berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Marind di sebelah timur; Bahasa Kimaam di sebelah barat dan utara; dan Bahasa Konerau di sebelah selatan |Kampung Kalilam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ndom merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimaam dan Bahasa Bian Marind Deg.

Bahasa Ngalum dituturkan oleh etnik Ngalum di |Kampung Kabiding, Distrik Oksibil, dan |Kampung Iriding, Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Bahasa Ngalum terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kabiding yang dituturkan di |Kampung Kabiding dan dialek Iriding yang dituturkan di |Kampung Iriding.

Persentase kedua dialek tersebut adalah 78,25%. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Ngalum di |Kampung Kabiding juga berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ngalum di sebelah timur, Bahasa Una di sebelah barat, Bahasa Ketengban di sebelah utara, dan Bahasa Murop di sebelah selatan |Kampung Kabiding.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Ngalum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Una dan Bahasa Katengban.

Bahasa Nggem dituturkan oleh etnik Winya (Yali) yang tinggal di |Kampung Kobakma, Distrik Kobakma, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Nggem berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Yali di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Lani di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Walak di sebelah utara, dan wilayah tutur Bahasa Bor di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Nggem merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dabra, Bahasa Wari, Bahasa Warry, dan Bahasa Burumeso.

Bahasa Ngguntar dituturkan oleh etnik Ngguntar di |Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, kampung sebelah timur |Kampung Yanggandur, yaitu |Kampung Tamer Kol menuturkan Bahasa Tamer Tunai; di sebelah barat, yaitu |Kampung Wasur menuturkan Bahasa Morari; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Yerew menuturkan Bahasa Smerki.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ngguntar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 95%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tamer Tunai, Bahasa Kimagama, dan Bahasa Citak.

Bahasa Ngkalembu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tomer, Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa Ngkalembumirip dengan Bahasa Ngkalembu. Namun, kedua bahasa tersebut memiliki daerah tutur yang berbeda karena Bahasa Engkalembu dituturkan di |Kampung Sota dan persentase perbedaan kedua bahasa itu adalah sebesar 96,50%.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Ngkalembu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 88%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya.

Bahasa Ningrum dituturkan oleh masyarakat etnik Ningrum di |Kampung Jetetkun, Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu dituturkan juga di sebelah timur dan utara |Kampung Jetetkun, yaitu |Kampung Binkauk dan Detaw. Di sebelah barat |Kampung Jetetkun, yaitu |Kampung Wametkapa dituturkan Bahasa Are dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Inggembit dituturkan Bahasa Jonggom.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Ningrum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kopkaka (Kopkaga), Bahasa Momuna, Bahasa Arubos/Arubkor, Bahasa Kombali Kali/Tajan, Bahasa Korowai Selatan, dan Bahasa Jinak.

Bahasa Nobuk (Kwerba) dituturkan oleh mayoritas etnik Kwerba di |Kampung Kwerba, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kwerba, yaitu |Kampung Babija dituturkan Bahasa Men; di sebelah barat, yaitu |Kampung Eri yang dituturkan Bahasa Manua; di sebelah utara, yaitu |Kampung Sikari dituturkan Bahasa Siwaya; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Marina Valon dituturkan Bahasa Men.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Nobuk (Kwerba) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 91%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Armati Sarma, Bahasa Dubu (Tepi), Bahasa Anasi, Bahasa Baedate (Nisa), Bahasa Airo, dan Bahasa Towe.

Bahasa Nosaudare dituturkan oleh suku Pandori dan Kurukuwe di |Kampung Aniboi, Distrik Demba, Kabupaten Waropen, Pulau Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Nosaudare juga dituturkan di |Kampung Aiwa, Biyati, dan Demba. Wilayah tutur yang berdekatan dengan wilayah tutur Bahasa Nosaudarea adalah Bahasa Tefaro yang dituturkan di |Kampung Urato.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Nosaudare merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 94,25% jika dibandingkan dengan Bahasa Tefaro.

Bahasa Nubuai-Waren dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nubuai, Distrik Urei Faisei dan |Kampung Uri, Distrik Waropen Bawah, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Nabuai yang dituturkan oleh etnik Waropen Kay dan Waren.

  1. Dialek Nubuai dituturkan di |Kampung Nubuai, Distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Dialek Nubuai dituturkan pula di |Kampung Apenabo dan Urfas II. Menurut pengakuan penduduk, dialek Nubuai dituturkan pula di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Nubuai, yaitu |Kampung Urfas I, Paradoi, dan Mambui, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan lautan.
  2. Dialek Waren dituturkan di |Kampung Waren I, Waren II, Sarapambai, dan Nonomi. Dialek Waren dituturkan pula di |Kampung Uri, Distrik Distrik Waropen Bawah, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua.

Persentase perbedaan kedua dialek tersebut adalah 71%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Nubuai-Waren merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sudate dan Bahasa Burate.

Bahasa Nyaw dituturkan oleh masyarakat |Kampung Moso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Nyaw juga dituturkan di |Kampung Sangkil, Skopro, dan di Papua New Guinea.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Nyaw merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Elseng, Bahasa Daikot (Taikat), Bahasa Manem, Bahasa Beyaboa, dan Bahasa Aframa.

Bahasa Obokuitai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Obogai, Distrik Mamberamo Tengah Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Obokuitai berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Hayatai di sebelah timur, Bahasa Biritai di sebelah barat, Bahasa Kustra di sebelah utara, dan Bahasa Kaitai di sebelah selatan |Kampung Obogai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Obokuitai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Biritai, Bahasa Manua (Eritai), dan Bahasa Liki.

Bahasa Oedate (Kerema) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Kerema, Distrik Benuki, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua. |Kampung Kerema berbatasan dengan |Kampung Kamai di sebelah timur, |Kampung Poiwai di sebelah barat, |Kampung Dadat di sebelah utara, dan |Kampung Naohi di sebelah selatan. Menurut pengakuan masyarakat, |Kampung Kamai menggunakan Bahasa Baudi, |Kampung Poiwai menggunakan Bahasa Kaipuri Kurudu, |Kampung Dadat menggunakan Bahasa Oedate, dan |Kampung Naohi menggunakan Bahasa Oedate.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Oedate (Kerema) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99,17% dibandingkan dengan Bahasa Fokri. Selain itu, isolek Oedate (Kerema) juga memiliki perbedaan persentase sebesar 99,44% dibandingkan dengan Bahasa Sipisi, 100% dibandingkan dengan Bahasa Bagusa, 94,17% dibandingkan dengan Bahasa Barapasi, 97,22% dibandingkan dengan Bahasa Demisa, dan 98,89% dibandingkan dengan Bahasa Sehudate.

Bahasa Okpari dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Amuan, Distrik Kombut, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Amuan berbatasan dengan |Kampung Kawangtet di sebelah timur, |Kampung Imko di sebelah barat, |Kampung Kandon di sebelah selatan, dan |Kampung Kanggewot di sebelah utara. Menurut pengakuan masyarakat, |Kampung Kawangtet menggunakan Bahasa Yonggom, |Kampung Imko menggunakan Bahasa Okpari, |Kampung Kanggewot menggunakan Bahasa Kasaut, dan |Kampung Kandon menggunakan Bahasa Okpari.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Okpari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebanyak 97% dibandingkan dengan Bahasa Ale. Selain itu, isolek Okpari juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 99% dibandingkan dengan Bahasa Kamindip, 97% dibandingkan dengan Bahasa Kawiyet, 97% dibandingkan dengan Bahasa Wambon Kenondik, dan 91% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah.

Bahasa Ormu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kendate, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa itu berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Yokari di sebelah timur dan selatan serta wilayah tutur Bahasa Tanah Merah di sebelah barat dan utara |Kampung Kendate.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ormu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Orya dan Bahasa Sause-Ures (Barazre).

Bahasa Orya dituturkan oleh masyarakat |Kampung Beneik, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Orya ini juga tersebar di beberapa kampung di sekitar |Kampung Beneik.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Orya merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Orya, Bahasa Sause-Ures (Barazre), Bahasa Ormu, dan Bahasa Tarfia.

Bahasa Pigapu dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. |Kampung Pigapu bersebelahan dengan |Kampung Mimika Timur di sebelah timur, |Kampung Miyoko Atuka di sebelah barat, |Kampung Timika Kota di sebelah utara, dan laut di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Mimika Timur menggunakan Bahasa Hiropo dan Bahasa Tipoko, serta masyarakat |Kampung Miyoko Atuka menggunakan Bahasa Etame.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Pigapu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90% dibandingkan dengan Bahasa Fakafuku. Selain itu, isolek Pigapu juga memiliki perbedaan persentase sebesar 91% dibandingkan dengan Bahasa Kaugapu.

Bahasa Pijin dituturkan oleh masyarakat |Kampung Akarenda, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, Bahasa Pijin dituturkan juga di |Kampung Emem, Amgotro, Yuruf, Semografi, dan Dubu. Di sebelah timur |Kampung Akarenda, yaitu |Kampung Mamamura, Amgotro, dan Wahai dituturkan Bahasa Dra dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Semografi dituturkan Bahasa Emem.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Pijin merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99%--99,25% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dra dan Bahasa Emem.

Bahasa Poom dituturkan oleh etnik Arui di |Kampung Poom 2, Distrik Poom, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan pula di |Kampung Poom 1, Sarewen, Rarisi, Windesi, Worioi Makiroan, Munggui, Asai, dan Saruman. Menurut pengakuan pendudukan, di sebelah timur |Kampung Poom 2, yaitu |Kampung Serewen dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Awsem dituturkan Bahasa Poom. Sementara itu, di sebelah utara |Kampung Poom 2, yaitu |Kampung Saumara, Distrik Ansus dituturkan Bahasa Poom dan Bahasa Wooi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Poom merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90,50% jika dibandingkan dengan Bahasa Munggui.

Bahasa Pupis dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pupis, Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Bugani, Jawaer, Momogo, Fi, Jakapu, dan Abamu. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Pupis, yaitu |Kampung Momogo dituturkan Bahasa Momogo; di sebelah barat, yaitu |Kampung Eroko (Yakapis) dituturkan Bahasa Eroko; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kenyam dituturkan Bahasa Kenyam; di sebelah selatan, yaitu |Kampung Bogani dituturkan Bahasa Bogani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Pupis merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tabahair (Bipim), Bahasa Tomor, dan Bahasa Yamas.

Bahasa Rarankwa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Necheibe, Distrik Raveni Rara, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Rarankwa dituturkan juga di |Kampung Yawei, Yowari, dan Trong.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Rarankwa merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75--100%, seperti dengan Bahasa Mandobo 97,75%; Bahasa Deranto 98,25%; Bahasa Lani 98,5%; Bahasa Mandobo Bawah 98,75%; Bahasa Asmat Darat Waijens 99%; Bahasa Citak 99,25%; Bahasa Elseng 99,5%; Bahasa Kapayap (Soko Benanu) 99,75%; dan Bahasa Mander 100%.

Bahasa Riantana dituturkan oleh masyarakat |Kampung Suam, Distrik Tabonji, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Dari segi situasi kebahasaan, wilayah tutur Bahasa Riantana berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kimaam di sebelah timur dan barat, Bahasa Yelmek di sebelah utara, dan wilayah tutur Bahasa Kimaam di sebelah selatan |Kampung Suam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Riantana merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Bian Marind Deg dan Bahasa Ngkalembu.

Bahasa Ro (Ru) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Keta, Distrik Passue Bawah, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan juga di sebelah barat |Kampung Keta. Di sebelah timur dan selatan |Kampung Keta dituturkan bahasa U dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Citak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ro (Ru) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Citak.

Bahasa Sagapu dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sagapu, Distrik Suru-Suru, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung Sagapu bersebelahan dengan |Kampung Abamu di sebelah timur, |Kampung Menep di sebelah barat, |Kampung Ujin di sebelah utara, dan |Kampung Buek di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Abamu menggunakan Bahasa Asmat Sirau, masyarakat |Kampung Menep menggunakan Bahasa Menep, masyarakat |Kampung Ujin menggunakan Bahasa Ujin, dan masyarakat |Kampung Buek menggunakan Bahasa Buek.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sagapu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99% dibandingkan dengan Bahasa Nare. Selain itu, isolek Sagapu juga memiliki perbedaan persentase sebesar 92% dibandingkan dengan Bahasa See.

Bahasa Saman dituturkan oleh masyarakat |Kampung Saman, Distrik Safan, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Saman berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Mappi di sebelah timur, Bahasa Asmat di sebelah barat, dan Bahasa Sawi di sebelah utara |Kampung Saman. Di sebelah selatan |Kampung tidak ada bahasa karena kawasan laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Saman merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Sawi dan Bahasa Kaigar.

Bahasa Saponi dituturkan oleh etnik Woria di |Kampung Botawa, Distrik Oudate, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Bahasa Woria atau Demisa dituturkan juga di |Kampung Botawa. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dan selatan |Kampung Botawa, yaitu |Kampung Baino Jaya dan Erawa dituturkan Bahasa Woria; di sebelah barat, yaitu |Kampung Ruambak SP (Satuan Pemukiman) dituturkan Bahasa Saponi, Bahasa Woria, dan Bahasa Demisa; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Sowiwa dituturkan Bahasa Demisa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Saponi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Nubuai.

Bahasa Sasawa dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sosawakwesar, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. |Kampung Sasawakwesar berbatasan dengan |Kampung Murara di sebelah timur, |Kampung Anggreso di sebelah barat, |Kampung Swaseso di sebelah utara, dan |Kampung Muramare di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Murara menggunakan Bahasa Murara, masyarakat |Kampung Anggreso menggunakan Bahasa Kawera, masyarakat |Kampung Muramare menggunakan Bahasa Kawera, dan masyarakat |Kampung Swaseso menggunakan Bahasa Kawera.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sasawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 98% dibandingkan dengan Bahasa Tamakuri. Selain itu, isolek Sasawa juga memiliki perbedaan persentase sebesar 99,5% dibandingkan dengan Bahasa See.

Bahasa Saurisirami dituturkan oleh masyarakat |Kampung Saurisirami, Distrik Masirei, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Saurisirami berbatasan dengan semua kampung yang menuturkan Bahasa Wonti.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Saurisirami merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 87%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Woria, Bahasa Demba, Bahasa Barapasi, dan Bahasa Sorabi.

Bahasa Sause-Ures (Barazre) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Lapua dan Umbron, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Bahasa Sause-Ures (Barazre) terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Sause yang dituturkan di |Kampung Lapua dan dialek Ures yang dituturkan di |Kampung Umbron dengan persentase perbedaan sebesar 62,85%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sause-Ures (Barazre) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Orya, Bahasa Narau, dan Bahasa Kaureh.

Bahasa Saweru dituturkan oleh masyarakat |Kampung Saweru, Distrik Kepulauan Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Saweru berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ambai di sebelah timur, Bahasa Turu di sebelah barat, dan Bahasa Kabuewa di sebelah utara |Kampung Saweru.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Saweru merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ambai dan Bahasa Yawa Onate.

Bahasa Sawi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Saramit, Distrik Pantai Kasuari, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa Sawi dituturkan juga di sebelah timur |Kampung Saramit, Bahasa Asmat dituturkan di sebelah barat dan selatan, dan Bahasa Kaygar dituturkan di sebelah utara |Kampung Saramit.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sawi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Kaigar dan Bahasa Asmat Sawa.

Bahasa See dituturkan oleh masyarakat di |Kampung See, Distrik Suru-Suru, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung See berbatasan dengan |Kampung Katalina di sebelah timur, |Kampung Yosua di sebelah barat, |Kampung Jifak di sebelah utara, dan |Kampung Ajin di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Katalina menggunakan Bahasa See, masyarakat |Kampung Yosua menggunakan Bahasa Nare, |Kampung Jifak menggunakan Bahasa See, dan masyarakat |Kampung Ajin menggunakan Bahasa See.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek See merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa Nare. Selain itu, isolek See juga memiliki perbedaan persentase sebesar 100% dibandingkan dengan Bahasa Sagapu dan 99,5% dibandingkan dengan Bahasa Sasawa.

Bahasa Segar dituturkan oleh masyarakat |Kampung Segar Tor, Distrik Ismari, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Bahasa Segar dituturkan juga di |Kampung Segar Mebor, Sasua Pece, Baguija, Matweja, dan Sormaja Gunung.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Segar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Bora-Bora, Bahasa Kwinsu, Bahasa Bku (Bgu), dan Bahasa Kwerba.

Bahasa Sempan dituturkan oleh masyarakat |Kampung Inauga, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, Pulau Papua, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Sempan juga berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Sempan di sebelah timur, Bahasa Kamoro di sebelah barat, Bahasa Mume di sebelah utara, dan Bahasa Koprapoka di sebelah selatan |Kampung Inauga.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sempan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kamoro, Bahasa Ekari, Bahasa Wolani, dan Bahasa Moni.

Bahasa Senggi (Find) dituturkan oleh mayoritas penduduk |Kampung Senggi, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Wilayah tutur Bahasa Senggi (Find) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Jorop di sebelah timur dan barat dan Bahasa Yabanda di sebelah utara dan selatan .

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Senggi (Find) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Jorop dan Bahasa Yabanda.

Bahasa Sentani dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sentani merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Tabla dan Bahasa Ormu.

Bahasa Serui Laut dituturkan oleh penduduk |Kampung Serui Laut, Distrik Yapen Selatan, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Serui Laut berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Onate di sebelah timur dan utara, Bahasa Onate dan Bahasa Ansus di sebelah barat, dan Bahasa Waropen di sebelah selatan |Kampung Serui Laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Serui Laut merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 82%--94% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ansus, Bahasa Saweru, Bahasa Warari Onate, dan Bahasa Arui.

Bahasa Sikari dituturkan oleh etnik Totow di |Kampung Sikari, Distrik Roufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa Sikari juga dituturkan di |Kampung Iri dan |Kampung Haya. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah utara |Kampung Sikari, yaitu |Kampung Obokui dan Biri dituturkan Bahasa Obokuitai dan Bahasa Biritai; di sebelah selatan, yaitu |Kampung Danau Bira dituturkan Bahasa Baudi; di sebelah barat, yaitu |Kampung Kustra dituturkan Bahasa Kustra, termasuk |Kampung Eri yang berbahasa Eri; dan di sebelah timur, yaitu |Kampung Doyadi dituturkan Bahasa Baudi. Sumber mata pencaharian penduduk |Kampung Sikari adalah nelayan dan petani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sikari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tebako, Bahasa Towirja, Bahasa Obokuitai, Bahasa Soytai, dan Bahasa Biritai.

Bahasa Silimo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Silimo, Distrik Silimo, Kabupaten Yahukimo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Silimo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Soba, Bahasa Awban, Bahasa Diuwe, dan Bahasa Obio.

Bahasa Sipisi dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sipisi, Distrik Waropen Atas, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. |Kampung Sipisi berbatasan dengan |Kampung Bariwaro di sebelah timur, |Kampung Nadofuai di sebelah barat, |Kampung Marikai di sebelah utara, dan lautan di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Bariwaro menggunakan Bahasa Bariwaro, |Kampung Nadofuai menggunakan Bahasa Nadofuai, dan |Kampung Marikai menggunakan Bahasa Marikai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sipisi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 98,89% dibandingkan dengan Bahasa Barapasi. Selain itu, isolek Sipisi juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 88,33% dibandingkan dengan Bahasa Bagusa, 99,72% dibandingkan dengan Bahasa Fokri, 99,44% dibandingkan dengan Bahasa Oedate, dan 99,44% dibandingkan dengan Bahasa Sehudate.

Bahasa Skou dituturkan oleh masyarakat |Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, Kodya Jayapura, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Skou merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Nafri, Bahasa Nyaw, dan Bahasa Daikat (Taikat).

Makan

Di Provinsi Papua

[sunting]

</noinclude> Bahasa Smarki Kanum dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yerew atau Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Smarki Kanum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Bian Marind Deg dan Bahasa Engkalembu.

Bahasa Soba dituturkan etnik Hupla di |Kampung Soba, Distrik Soba, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Situasi kebahasaan di Kabupaten Yahukimo ini di bagian Di sebelah timur |Kampung Soba terletak |Kampung Nilen, di sebelah barat terletak |Kampung Hepinis, di sebelah utara terletak |Kampung Tanda, dan sebelah selatan terletak |Kampung Sinai. Di keempat kampung itu dituturkan Bahasa Soba. |Kampung lain yang menggunakan Bahasa Soba adalah |Kampung Kayo, Kuik, Ibagema, dan Nilen.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Soba merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Silimo, Bahasa Awban, Bahasa Obio, dan Bahasa Diuwe.

Bahasa Sobey dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bagaiserwar, Distrik Sarmi, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Sobey berbatasan dengan Bahasa Sewar di sebelah timur dan barat; Bahasa Isirawa di sebelah selatan; dan Lautan Pasifik di sebelah selatan |Kampung Bagaiserwar.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Sobey merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Isirawa, Bahasa Armati Sarma, dan Bahasa Liki.

Bahasa Sobey Wakde dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wakde, Distrik Pantai Timur Bagian Barat, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Sobey Wakde berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Manirem di sebelah timur, barat, dan selatan |Kampung Wakde.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sobey Wakde merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Sobey, Bahasa Srum, dan Bahasa Sunum.

Bahasa Sorabi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sorabi, Distrik Sawai, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Sorabi berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Barapasi di sebelah timur dan barat; Bahasa Bonay di sebelah utara; dan Bahasa Waropen di sebelah selatan |Kampung Sorabi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sorabi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89%--93% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sauri Sirami dan Bahasa Damal.

Bahasa Sowiwa (Morowa) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sowiwa, Distrik Oudate, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Sowiwa (Morowa) berbatasan dengan wilayah tutur bahasa |Kampung Sowiwa di sebelah timur; Bahasa Rasawa di sebelah barat; Bahasa Wapoga di sebelah utara; dan Bahasa Burate di sebelah selatan |Kampung Sowiwa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sowiwa (Morowa) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 91%--94% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Woria dan Bahasa Yaur.

Bahasa Soytai dituturkan oleh masyarakat |Kampung Taiyeve, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Soytai dituturkan pula di sebelah barat |Kampung Taiyeve, yaitu |Kampung Dou. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di sebelah utara |Kampung Taiyeve dituturkan Bahasa Papaseva dan di sebelah selatan |Kampung Taiyeve dituturkan Bahasa Dabra, Bahasa Airo, dan Bahasa Dasigo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Soytai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,25%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Towerja, Bahasa Anasi, dan Bahasa Towe.

Bahasa Srum dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tarontha Srum, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Srum berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Taronta di sebelah timur; Bahasa Podena di sebelah barat; lautan Pasifik di sebelah utara; dan gunung di sebelah selatan Tarontha Srum.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Srum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,75--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sunum dan Bahasa Wakde.

Bahasa Sudate (Sehudate) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Otodemo, Distrik Inggerus, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Sudate hanya dituturkan oleh penduduk di Otodemo saja. Di sebelah timur dan barat |Kampung Otodemo, yaitu |Kampung Soimiangga dan Syewa dituturkan Bahasa Serui Laut, sedangkan di sebelah selatan dan utara, yaitu |Kampung Aru dan Kirihi dituturkan Bahasa Fayu.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Sudate (Sehudate) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 98%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awera, Bahasa Burate, dan Bahasa Saponi.

Bahasa Sumuri dituturkan oleh masyarakat |Kampung Padang Agoda, Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Tofoi, Tanah Merah, Onar, Seingga, dan Tomage. Bahasa lain di kampung itu adalah Bahasa Timor dan Bahasa Jawa. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Padang Agoda, yaitu |Kampung Babo dituturkan Bahasa Irarutu, Bahasa Kuri, dan Bahasa Wamesa; di sebelah barat, yaitu |Kampung Tomage dan Totoweri dituturkan Bahasa Irarutu dan Bahasa Sumuri; di sebelah utara, yaitu |Kampung Sebyar dituturkan Bahasa Damban; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Aroba dituturkan Bahasa Irarutu.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Sumuri merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tehit dan Bahasa Waruri.

Bahasa Sunum dituturkan oleh etnik Sunum di |Kampung Sunum (Yamna), Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Di sebelah utara |Kampung Sunum adalah |Kampung Yamna Pulau dan di sebelah selatan adalah hutan. Di sebelah timur |Kampung Sunum (Yamna), yaitu |Kampung Betaf dituturkan Bahasa Betaf dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Beneraf dituturkan Beneraf.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sunum merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wakde, Bahasa Liki, dan Bahasa Srum.

Bahasa Tabahair (Bipim, Bipin) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bipim, Distrik Atsy, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Selain di |Kampung Bipin, Bahasa Tabahair dituturkan juga di |Kampung Warkai. Di sebelah timur |Kampung Bipim, yaitu |Kampung Soboni dituturkan Bahasa Awiyu; di sebelah barat, yaitu |Kampung Amanam Kai dituturkan Bahasa Asmat; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Pos dan selatan, yaitu |Kampung Comoro dituturkan Bahasa Sawi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tabahair (Bipim, Bipin) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Pupis, Bahasa Tomor, dan Bahasa Yamas.

Bahasa Tabla dituturkan oleh masyarakat |Kampung Waiya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tabla berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Onusu di sebelah timur, Bahasa Tabla Supa di sebelah barat, Bahasa Yakari di sebelah utara, dan Bahasa Naukura di sebelah selatan |Kampung Waiya.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tabla merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Sentani dan Bahasa Ormu.

Bahasa Tamakuri dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Tamakuri, Distrik Sawai, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. |Kampung Tamakuri berbatasan dengan |Kampung Bagusa di sebelah timur, |Kampung Anasi di sebelah barat, |Kampung Gesa Baru di sebelah utara, dan laut di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Bagusa menggunakan Bahasa Bagusa, masyarakat |Kampung Anasi menggunakan Bahasa Anasi, dan masyarakat |Kampung Gesa Baru menggunakan Bahasa Gesa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tamakuri merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 95,5% dibandingkan dengan Bahasa Bagusa. Selain itu, isolek Tamakuri juga memiliki perbedaan persentase sebesar 98% dibandingkan dengan Bahasa Sipisi.

Bahasa Tamchario dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pagai, Distrik Haju dan |Kampung Magabag, Distrik Nambai, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Tamchario juga dituturkan di |Kampung Tereyemu dan Arare di sebelah barat; |Kampung Kerke di sebelah utara, dan |Kampung Magabak di sebelah selatan |Kampung Pagai. Di sebelah timur |Kampung Pagai, yaitu |Kampung Wairu dituturkan Bahasa Yagay.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tamchario merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Awyu Darat dialek Kiki, Bahasa Awyu Laut, dan Bahasa Wiyagar.

Bahasa Tamer Tunai dituturkan oleh etnik Tamer Tunai di |Kampung Tamer Kol, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Yanggandur, Sota, dan Yerew. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Tamer Tunai, yaitu sebuah kampung wilayah PNG dituturkan Nelma Unauna; di sebelah barat, yaitu |Kampung Yanggandur dituturkan Bahasa Ngguntar; di sebelah utara, yaitu |Kampung Sota dituturkan Bahasa Sota; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Kurkari dituturkan Bahasa Smerki.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tamer Tunai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kimagima, Bahasa Tamer Tunai, Bahasa Citak, dan Bahasa Ngguntar.

Bahasa Tangko dituturkan oleh masyarakat etnik Okdamor di Dusun Okdamor, Distrik Awinbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Selain itu, Bahasa Tangko juga dituturkan di |Kampung Abiowage, Danokit, Burungop, dan Gaguop. Situasi kebahasaan wilayah pemakaian bahasa ini, di sebelah timur Dusun Okdamor, yaitu |Kampung Awinbon dituturkan Bahasa Nagi; di sebelah barat, yaitu |Kampung Danuwage dituturkan Bahasa Korowai; di sebelah utara, yaitu |Kampung Yelobib dituturkan Bahasa Nagi; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Burungop dituturkan Bahasa Wanbon.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tangko merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Jelako, Bahasa Lepki, Bahasa Nagi, dan Bahasa Klufo Korowai.

Bahasa Tapea dituturkan oleh etnik Yapo di |Kampung Samorkena, Distrik Apawer Hulu, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Wilayah tutur Bahasa Tapea berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kwerba di sebelah timur, Bahasa Masep di sebelah barat, Bahasa Airoran di sebelah utara, dan Bahasa Isirawa di sebelah selatan |Kampung Samorkena.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tapea merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Kwerba, Amathamit (Athokhin), dan Vedan Nus (Podena).

Bahasa Tarfia dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kamdera, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tarfia berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ambora di sebelah timur, Bahasa Muaif di sebelah barat, dan Bahasa Genyem di sebelah utara |Kampung Kamdera.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tarfia merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Warry, Bahasa Tobati, dan Bahasa Tevera Pew.

Bahasa Tause hanya dituturkan oleh masyarakat |Kampung Derapose, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Bahasa lain yang dituturkan di daerah ini adalah Bahasa Wairate. Selain itu, situasi kebahasaan menunjukkan bahwa di sebelah timur |Kampung Derapose, yaitu |Kampung Fuli, dituturkan Bahasa Hokli dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Biri, dituturkan Bahasa Biri.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Tause dengan bahasa di sekitarnya, khususnya Bahasa Wairate, dikategorikan berbeda bahasa karena persentase perbedaannya sebesar 94,25% dan perbedaan dengan Bahasa Totoberi sebesar 98,75%.

Bahasa Tawu Ane dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Kaugapa, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. |Kampung Kaugapu berbatasan dengan |Kampung Hiripau di sebelah barat dan hutan di sebelah timur, utara, dan selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Hiripau menggunakan Bahasa Tawu Ane.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tawu Ane merupakan sebuah bahasa yang memiliki perbedaan persentase sebanyak 98% dibandingkan dengan Bahasa Kekawia. Selain itu, isolek Tawu Ane juga memiliki perbedaan persentase sebanyak 99% dibandingkan dengan Bahasa Fakafuku, 100% dibandingkan dengan Bahasa Amungkal, 98% dibandingkan dengan Bahasa Kamoro, dan 98% dibandingkan dengan Bahasa Sempan.

Bahasa Tebako dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bareri, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Tayai, Fauwi, Kordesi, Dofo, dan Foitau. Di sebelah barat |Kampung Bareri, yaitu |Kampung Taroure dan sebelah utara, yaitu |Kampung Pona dituturkan Bahasa Biri. Di sebelah selatan |Kampung Bareri, yaitu |Kampung Obokui, dituturkan Bahasa Obokuitai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tebako merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Torweja, Bahasa Kaiya (Kaiy), Bahasa Biri, dan Bahasa Obokuitai.

Bahasa Tefanma dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tefanma, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Di sebelah timur |Kampung Tefanma, yaitu |Kampung Ksenar, di sebelah barat, yaitu |Kampung Kemblongke, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Liket dituturkan Bahasa Yetfa. Di sebelah utara |Kampung Tefanma, yaitu |Kampung Kembra dituturkan Bahasa Kembra.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tefanma merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,50%--98,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Molof dan Bahasa Yafi.

Bahasa Tefaro (Demba) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Urato (Tefaro), Distrik Masirei, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tefaro (Demba) berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Waropen di sebelah timur dan barat |Kampung Urato (Tefaro).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tefaro (Demba) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Barapasi dan

Bahasa Telepe dituturkan oleh etnik Telepe, Ketengban, dan Yefmum di |Kampung Atembabol, Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Di bagian sebelah barat |Kampung Atembabol, yaitu |Kampung Sabin juga dituturkan Bahasa Telepe; di sebelah utara, yaitu |Kampung Yapil; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Atolbol. Di samping itu, Bahasa Telepe juga dituturkan di |Kampung Borban, Tupopyom, dan Peneli.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Telepe merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Eipomek dan Bahasa Klufo (Krowai Rawa, Krowai).

Bahasa Tefera atau Tefera Pew dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tabla Supa, Distrik Depare, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Juga dituturkan oleh masyarakat kampung Yepase, Kampung Wambena, Kampung Yewena, Kampung Doromena, Kampung Yongsu Spari dan Kampung Yongsu Desoyo/Dosoyo. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tevera/Tefera Pew berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Ormu Pew di sebelah timur; Bahasa Yan Su di sebelah barat; Bahasa Yekari Pew di sebelah utara; dan Bahasa Mingkey Pew di sebelah selatan |Tefera - Yewena - Yosu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tefera Pew merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 93%--97% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tobati, Bahasa Tarfia, dan Bahasa Warry.

Bahasa Tobati dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tobati, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tobati merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Elseng, Bahasa Melayu Papua, dan Bahasa Nyaw.

Bahasa Tomor dituturkan oleh masyarakat |Kampung Tomor, Distrik Suru-Suru, Kabupaten Asmat, Provinsi. Selain di kampung itu, Bahasa Tomor dituturkan juga di |Kampung Munu. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Tomor, yaitu |Kampung Jifak dituturkan Bahasa Jifak; di sebelah barat, yaitu |Kampung Sagapu dituturkan Bahasa Sagapu; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Munu dituturkan Bahasa Ami.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tomor merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Pupis, Bahasa Tabahair (Bipim), dan Bahasa Yamas.

Bahasa Torweja dituturkan oleh etnik Kwersa, Torowu, dan Kasitai di |Kampung Kai, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kay, yaitu di |Kampung Taire dituturkan Bahasa Soytai; di sebelah barat, yaitu di |Kampung Biri dituturkan Bahasa Biritai; di sebelah utara, yaitu di |Kampung Sikari dituturkan Bahasa Siwaya; di sebelah selatan, yaitu di |Kampung Dekey dituturkan Bahasa Fawi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Torweja merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 95,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Manua (Eritai), Bahasa Airo, Bahasa Anasi, Bahasa Armati Sarma, Bahasa Towe, dan Bahasa Baedate (Nisa),

Bahasa Totoberi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Totoberi, Distrik Wapoga, Barat, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Di sebelah timur |Kampung Totoberi, yaitu |Kampung Wainame dituturkan Bahasa Wainame; di sebelah barat, yaitu |Kampung Dokis dituturkan Bahasa Moor; di sebelah utara, yaitu |Kampung Merare dituturkan Bahasa Wairate; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Otedemo dituturkan Bahasa Seudate.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Totoberi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98,25%--98,75% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Kurudu, Bahasa Tause, dan Bahasa Warate.

Bahasa Towe dituturkan oleh masyarakat |Kampung Towe Hitam, Distrik Towe, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Di sebelah timur |Kampung Towe Hitam dituturkan Bahasa Towe Hitam dan Bahasa Bias; di sebelah barat dituturkan Bahasa Tefalma dan Bahasa Terfones; di sebelah utara dituturkan Bahasa Towe Atas; dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Lules dan Bahasa Melki.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Towe merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 96,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Armati Sarma dan Bahasa Dubu (Tepi).

Bahasa Trimuris-Bagusa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Trimuris dan Bagusa, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Trimuris dan Bagusa dengan persentase perbedaan sebesar 78,75%.

  1. Dialek Bagusa dituturkan di sebelah utara dan.
  2. Dialek Trimuris dituturkan di sebelah selatan |Kampung Bagusa.

Sementara itu, di sebelah timur |Kampung Trimuris dituturkan Bahasa Kawera; di sebelah barat dituturkan Bahasa Baudi; di sebelah utara dituturkan Bahasa Dabra; dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Warembori.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Trimuris-Bagusa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya Bahasa Warembori, Bahasa Towerja, dan Bahasa Anasi.

Bahasa Tsaukwambo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Biwage, Distrik Kawagit, Kabupaten Bouven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tsaukwambo berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Wambon di sebelah timur dan utara; Bahasa Tsaukwambo di sebelah barat; dan wilayah tutur Bahasa Kombai di sebelah selatan |Kampung Biwage.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tsaukwambo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Wanggom, Bahasa Mandobo, Bahasa Kadi (Muyu Utara), dan Bahasa Wombon (Womsi).

Bahasa Ulakin (Ulakuno) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ulakin, Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Markatun, Kepayap, dan Tanah Merah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ulakin (Ulakuno) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa Bahasa Karufo, Bahasa Kaigar, dan Bahasa Saman.

Bahasa Una dituturkan oleh masyarakat |Kampung Langda, Distrik Langda, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan oleh suku Una di beberapa distrik dan kampung di wilayah selatan Kabupaten Yahukimo, yaitu Distrik Langda, Distrik Bomela, Distrik Sumtamon, |Kampung Alirji, dan |Kampung Tapasik. Menurut pengakuan penuturnya, Bahasa Una berbeda dengan bahasa suku lain yang berada di sekitarnya, yaitu Bahasa Kimyal, Bahasa Nalca, Bahasa Nipsan, dan Bahasa Korupun.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Una merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Kopkaka, Bahasa Momuna, dan Bahasa Kimyal.

Bahasa Vamin dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bumu (Patipi), Distrik Kolof Brasa, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa Vamin juga dituturkan di |Kampung Wanjes, Boutu Brasa, dan Pira Pinak. Di sebelah timur |Kampung Bumu, yaitu |Kampung Banum, Kapayap, dan Ujung Batu dituturkan Bahasa Korowai juga di sebelah barat, yaitu |Kampung Bor dan sebelah selatan, yaitu |Kampung Wapak. Sementara itu, di sebelah utara |Kampung Bumu dituturkan Bahasa Momuna.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Vamin merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 96%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Korowai Selatan (Klufwo Auf Umbale), Bahasa Jinak, dan Bahasa Asmat Safan.

Bahasa Vedan Nus (Podena) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Podena (Vedan Saw), Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Pulau Podena, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Podena (Vedan Saw), yaitu |Kampung Anus dituturkan Bahasa Korur dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Maweswares dituturkan Bahasa Mawes.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Vedan Nus (Podena) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Anus, Bahasa Gufinti, dan Bahasa Kaptiau.

Bahasa Wabo dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wabo, Distrik Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Pulau Yapen, Provinsi Papua. Dari segi situasi kebahasaan, wilayah tutur Bahasa Wabo juga berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Wabo di sebelah timur; Bahasa Ambai di sebelah barat; dan Bahasa Onate di sebelah utara |Kampung Wabo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wabo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Warari Onate, Bahasa Ambai, dan Bahasa Wooi.

Bahasa Waicen dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sanem, Distrik Kopay, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung Sanem berbatasan dengan |Kampung Sinepit di sebelah timur, |Kampung Saman di sebelah barat, |Kampung Emene di sebelah utara, dan |Kampung Bawor di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Sinepit menggunakan Bahasa Atokhoim, masyarakat |Kampung Saman menggunakan Bahasa Saman, masyarakat |Kampung Eneme menggunakan Bahasa Asmat, dan masyarakat kampong Bawor menggunakan Bahasa Atokhoim.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Waicen merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99% dibandingkan dengan Bahasa Saman. Selain itu, isolek Waicen juga memiliki perbedaan persentase sebesar 92% dibandingkan dengan Bahasa Atokhoim.

Bahasa Wairate (Debra) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Syewa Merare, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Di sebelah timur |Kampung Sewa Merare, yaitu |Kampung Dokis dituturkan Bahasa Waropen; di sebelah barat, yaitu |Kampung Totoberi dituturkan Bahasa Karinako; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Keuw dituturkan Bahasa Keuw.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wairate (Debra) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Aware, Bahasa Burate, dan Bahasa Sudate.

Bahasa Walak dituturkan oleh etnik Walak di |Kampung Wolo, Distrik Wolo, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Walak berbatasan dengan Bahasa Lani di sebelah barat |Kampung Wolo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Walak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Pass Valley, Bahasa Nggem, dan Bahasa Dani Atas.

Bahasa Walsa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pund, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Selain di kampung itu, Bahasa Walsa dituturkan juga di |Kampung Banda, Paw, Mo, dan Kalifam. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Pund, yaitu Papua Nugini dituturkan Bahasa Walsa; di sebelah barat, yaitu |Kampung Ampas dituturkan Bahasa Fermanggen; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Yabanda dituturkan Bahasa Yabanda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Walsa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Fermanggem, Bahasa Yabanda, dan Bahasa Jorop.

Bahasa Wambo Tawe Tirop dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Ujung, Distrik Arimop, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. |Kampung Ujung berbatasan dengan |Kampung Bukit di sebelah timur, |Kampung Niop di sebelah barat, |Kampung Manggelum di sebelah utara, dan |Kampung Maju di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Bukit menggunakan Bahasa Kokenop, |Kampung Niop menggunakan Bahasa Wambo Tawe Tirop, |Kampung Manggelum menggunakan Bahasa Wambo Kenondit, dan |Kampung Maju menggunakan Bahasa Kopwamup (Mandobo Tengah).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wambo Tawe Tirop merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 94% dibandingkan dengan Bahasa Wambon Kenondik. Selain itu, isolek Wambo Tawe Tirop juga memiliki perbedaan persentase sebesar 93% dibandingkan dengan Bahasa Mandobo Tengah dan 90% dibandingkan dengan Bahasa Kokenop.

Bahasa Wambon Kenondik (Wombon, Womsi) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Manggelum, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Mangga 3, Kewam, Gaguop, dan Bayanggop RT 1. Bahasa Wambon Kenondik juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Manggelum, yaitu |Kampung Awakin; di sebelah barat, yaitu |Kampung Gaguop; di sebelah utara, yaitu |Kampung Burunggop; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Niop.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wambon Kenondik merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 98%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Namak, Bahasa Ketum (Kitum), dan Bahasa Nai.

Bahasa Wanggom dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kawagit, Distrik Kawagit, Kabupaten Bouven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Wanggom berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Muyu di sebelah timur; Bahasa Tsaukwambo di sebelah utara; dan wilayah tutur Bahasa Kombai di sebelah selatan |Kampung Kawagit.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wanggom merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Jair, Bahasa Tsaukwambo, dan Bahasa Kombai.

Bahasa Wano dituturkan oleh masyarakat |Kampung Lumo, Distrik Lumo, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Lumo, yaitu |Kampung Gilibe; di sebelah barat, yaitu |Kampung Kilulumo; dan di sebelah utara, yaitu |Kampung Iratoi. Akan tetapi, di sebelah selatan |Kampung Lumo, yaitu |Kampung Mebut dituturkan Bahasa Dani.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wano merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dem (Lem), Bahasa Mdeauwa, dan Bahasa Iau.

Bahasa Warari Onate dituturkan oleh masyarakat |Kampung Warari, Distrik Yapen Selatan, Kabupaten Kepulauan Yapen, Pulau Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Wanari Onate berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Onate di sebelah timur dan utara; Bahasa Ansus di sebelah barat; dan Bahasa Arui di sebelah selatan |Kampung Warari.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Warari Onate merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Serui Laut, Bahasa Yawa Onate, dan Bahasa Ansus.

Bahasa Warembori dituturkan oleh mayoritas etnik Tandarengga di |Kampung Warembori, Distrik Memberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Warembori berbatasan dengan |Kampung Yoke di sebelah timur, |Kampung Tamakuri di sebelah barat, dan |Kampung Bagusa di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Warembori merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Trimuris-Bagusa dan Bahasa Yoke.

Bahasa Wari dituturkan oleh etnik Dasigo di |Kampung Taiyeve, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Aabinomin, Bahasa Batero, dan Bahasa Dabra.

Bahasa Warion dituturkan oleh masyarakat |Kampung Abukerom, Distrik Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan juga di |Kampung Pupi, Distrik Batom. Di |Kampung Abukerom dituturkan juga Bahasa Pijin. Menurut pengakuan penduduk di sebelah timur dan selatan |Kampung Abukerom dituturkan Bahasa Pijin (PNG); di sebelah barat dituturkan Bahasa Kimki (Kampung Batom); dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Murkim (Kampung Mot).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Warion merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Namalu, Bahasa Tangko, dan Bahasa Afilaup.

Bahasa Warry dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ambora, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Warry berbatasan dengan daerah sebaran Bahasa Yokari dan Bahasa Tapia.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Warry merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tarfia, Bahasa Kemtuk, dan Bahasa Gresi.

Bahasa Wate dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kimi, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kimi, yaitu |Kampung Sabarusa dituturkan Bahasa Wate dan Bahasa Biak; di sebelah barat, yaitu |Kampung Lane dituturkan Bahasa Wate dan Bahasa Dani; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Distrik Makimi dan Wafa dituturkan Bahasa Mee. Di sebelah utara |Kampung Kimi tidak ada karena berupa laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wate merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Damal, Bahasa Mee Ugia, dan Bahasa Yeresiam.

Bahasa Weinami dituturkan oleh masyarakat |Kampung Weinami, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat |Kampung Weinami ialah |Kampung Napan dituturkan Bahasa Weinami; di sebelah utara, yaitu |Kampung Mosan dan Maspawa dituturkan Bahasa Mor; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Kamarsano dituturkan Bahasa Waropen.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Weinami merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,5--100%, seperti dengan Bahasa Rarankwa 97,5%; Bahasa Irawa 97,75%; Bahasa Diae 98%; Bahasa Deranto 98,25%; Bahasa Asmat Beets Mbup 98,75%; Bahasa Citak 99,25; Bahasa Dajub/Bahasa Tokuni 99,5%; Bahasa Kanum Barkari 99,75%; dan Bahasa Korowai 100%.

Bahasa Wiyagar dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sigare, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa Wiyagar juga dituturkan oleh masyarakat Kaitok dan Yame di sebelah timur |Kampung Sigare. Di sebelah barat dan utara |Kampung Sigare, yaitu |Kampung Yagatsu dan Homang dituturkan Bahasa Awyu dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Arare dituturkan Bahasa Tamario.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wiyagar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Tamario, Yaghai Mur, dan Yaghai Wairu.

Bahasa Wolani dituturkan oleh etnik Wolani di |Kampung Ipakiye, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Ipakiye dituturkan Bahasa Ekari, sedangkan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Moni.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wolani merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Beneraf, Bahasa Betaf-Takar (Fitoow Or), Bahasa Dabe, Bahasa Etik (Barto, Maria), dan Bahasa Juvutek.

Bahasa Wombon (Womsi) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Winiktit, Distrik Waropko, Kabupaten Bouven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Winiktit dituturkan Muyu Utara, di sebelah barat dituturkan Bahasa Mandobo, di sebelah utara dituturkan Bahasa Iwur, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Kataut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wombon (Womsi) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yonggom, Bahasa Kadi (Muyu Utara), dan Bahasa Mandobo.

Bahasa Wonti (Waropen) dituturkan oleh etnik Wonti di |Kampung Koweda, Distrik Masirei, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Koweda dituturkan Bahasa Saur Sirami, di sebelah barat dituturkan Bahasa Wonti (Waropen), dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Benai atau Kofei.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wonti (Waropen) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Saur Sirami, Bahasa Tefaro (Demba), dan Bahasa Sorabi.

Bahasa Wooi dituturkan oleh etnik Wihiyayawari di |Kampung Woiwani, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Wooi dituturkan juga di sebelah selatan |Kampung Woiwani, di di sebelah timur dituturkan Bahasa Ansus, di sebelah barat dituturkan Bahasa Biak, dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Doom.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wooi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Ansus-Papuma, Bahasa Maraw, dan Bahasa Wabo.

Bahasa Woria dituturkan oleh masyarakat |Kampung Botawa, Distrik Oudate, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Botawa dituturkan Bahasa Wonti, di sebelah barat dituturkan Bahasa Demisa, dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Waren.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Woria merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Demisa (Hoo'), Bahasa Sowiwa (Morowa), dan Bahasa Sorabi.

Bahasa Yabanda (Away) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yabanda, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, wilayah bahasa itu berbatasan dengan wilayah tutur negara Papua Nugini di sebelah timur, Bahasa Jorop di sebelah barat, Bahasa Walsa di sebelah utara, dan Bahasa Dera di sebelah selatan |Kampung Yabanda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yabanda (Away) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Dra, Bahasa Emem (Emumu), Bahasa Jorop, Bahasa Namla, dan Bahasa Molof.

Bahasa Yabega dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bibikem, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Bibikem, yaitu |Kampung Woboyo. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat |Kampung Bibikem, yaitu |Kampung Kalwa (Padua) dituturkan Kimagima; di sebelah utara, yaitu |Kampung Nakiah dituturkan Bahasa Auyu; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Kubis dituturkan Bahasa Ndom.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yabega merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Engkalembu, Bahasa Imbuti (Marind), Bahasa Kanum Barkari, Bahasa Kimaam, Bahasa Kimagima, dan Bahasa Komolom (Mombun).

Bahasa Yafi dituturkan oleh masyarakat |Kampung Warlef sebagai gabungan Dusun Tokondo, Abiu, Sungguar, dan Tainda; Distrik Senggi; Kabupaten Keerom; Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Yafi, yaitu |Kampung Yabanda dituturkan Bahasa Yabanda; di sebelah barat, yaitu |Kampung Senggi dituturkan Bahasa Senggi; di sebelah utara, yaitu |Kampung Kalipao dituturkan Bahasa Walsa, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Dubu dituturkan Bahasa Dubu. Bahasa Yafi dituturkan oleh etnik Jorof.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yafi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 98,75 jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Tefanma dan Bahasa Molof (Waley).

Bahasa Yaghai Mur dituturkan oleh masyarakat |Kampung Mur, Distrik Mambioman Bapai, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa itu dituturkan juga di |Kampung Wairu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yaghai Mur merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar ..%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yaghai Wairu, Bahasa Tamario, dan Bahasa Wiyagar.

Bahasa Yaghai Wairu dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wairu, Distrik Obaa, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yaghai Wairu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Awyu Tokompatu, Bahasa Yaghai Mur, Bahasa Yelmek, dan Bahasa Saman.

Bahasa Yakapis dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Yakapis, Eroko, Esmapan, dan Weo, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. |Kampung Yakapis berbatasan dengan |Kampung Mumugu di sebelah timur, |Kampung As di sebelah barat, dan |Kampung Pupis di sebelah selatan. Menurut pengakuan penduduk, masyarakat |Kampung Mumugu menggunakan Bahasa Mumugu, masyarakat |Kampung As menggunakan Bahasa Joerat, dan masyarakat Pupis menggunakan Bahasa Pupis.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yakapis merupakan sebuah bahasa dengan perbedaan persentase sebesar 96% dibandingkan dengan Bahasa Joerat. Selain itu, isolek yakapis juga memiliki perbedaan persentase sebesar 96% dibandingkan dengan Bahasa Bu.

Bahasa Yali Anggruk dituturkan oleh masyarakat |Kampung Herelaki, Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Kurima, Distrik Yahokimo, Abenaho, dan sebelah timur Kobakma. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Herelaki berbatasan dengan daerah-daerah sebaran Bahasa Yali Anggruk yang lain.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yali Anggruk merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Kosarek, Bahasa Yali Ninia, Bahasa Yali Pass Valey, Bahasa Mek Kosarek, dan Bahasa Mek Nipsan.

Bahasa Yali Kosarek dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wahaldak (Wesaltek), Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Wahaldak (Wesaltek), yaitu |Kampung Wahai dan Malo dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Serkasi dan Temohon; di sebelah utara, yaitu |Kampung Uldam; dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Werengman dan Tible. Bahasa Yali Kosarek juga dituturkan di |Kampung Nuhumas, Wahe, Uldam, Yemalo, Homboka, Mone, Merengman, Tible, Serkasi, Temohon, Walani, Telambela, Konowas, Punum, dan Kwambina di Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo. Selain di Kabupaten Yahukimo, Bahasa Yali Kosarek dituturkan oleh orang-orang Yali Kosarek yang tinggal di Kabupaten Jayawijaya. Salah satu daerah yang menjadi tempat tinggal mereka di antaranya adalah |Kampung Wesaput, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Yali Kosarek merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 86,25%--99,25% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Pass Valley, Bahasa Mek Nipsan, dan Bahasa Yali Ninia.

Bahasa Yali Ninia dituturkan oleh masyarakat |Kampung Somaaba, Distrik Ninia, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Somaaba, yaitu |Kampung Kahol (Babet); di sebelah barat Somaaba, yaitu |Kampung Waeret dan Veloma; di sebelah utara Somaaba, yaitu |Kampung Wahaet, dan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Ninia Han. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Lelegan, Sohwal, Lelegan II, dan Hwe Aloma, Distrik Ninia. Distrik lain yang menuturkannya adalah distrik di bagian utara, yaitu Distrik Sobhan, Kuikma, Hilippu, dan Holluwan. Sebagian Ninia yang tinggal di Dekai, Distrik Dekai menuturkan Bahasa Yali Ninia.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Bahasa Yali Ninia merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 89,75%-99,25% jika dibandingkan dengan Bahasa Yali Pass Valley di Abenaho, Bahasa Yali Kosarek, Bahasa Mek Nipsan, dan Bahasa Yali Anggruk.

Bahasa Yali Pass Valley dituturkan oleh etnik Yali di |Kampung Abenaho, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Abenaho dituturkan Bahasa Mek (Yali), di sebelah barat dituturkan Bahasa Lani (Hubula), di sebelah utara dituturkan Bahasa Lani (Walak), dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Yali.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yali Pass Valley merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Anggruk, Bahasa Yali Kosarek, Bahasa Yali Ninia, Bahasa Lani, dan Bahasa Mek.

Bahasa Yamas dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yamas, Distrik Joerat, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Yufri, Taun, Yeni, Kappi, As, Atap, Au, Pamen, Dacianok, Bumpok, dan Dakai. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Yamas adalah |Kampung Yufri, Jaun, dan Komor; di sebelah barat adalah |Kampung Emari dan Ducur; di sebelah utara adalah |Kampung Waitok; dan di sebelah selatan adalah |Kampung Eroko. Semua kampung tersebut menuturkan Bahasa Yamas.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yamas merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya Bahasa Pupis, Bahasa Tabahair (Bipim), dan Bahasa Tomor.

Bahasa Yaur dituturkan oleh masyarakat |Kampung Akudiomi (Kwatisore), Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Yaur, Napan Yaur, dan Bawei. Di sebelah timur |Kampung Akudiomi (Kwatisore), yaitu |Kampung Sima dituturkan Bahasa Yerisiam; dan di sebelah barat, yaitu |Kampung Yaur dituturkan Bahasa Yaur. Di sebelah utara, yaitu |Kampung Kamara dituturkan Bahasa Yerisiam. Di sebelah selatan tidak ada bahasa karena berupa laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yaur merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 92,5%--99,3% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yaur Rihegure, Bahasa Nalik Selatan, dan Bahasa Asmat Safan.

Bahasa Yaur Rihegure dituturkan oleh Napan Yaur di |Kampung Napan Yaur, Distrik Teluk Umar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, Di sebelah timur |Kampung Napan Yaur dituturkan Bahasa Yaur, di sebelah barat dituturkan Bahasa Umar dan Bahasa Wandamen, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Yamor.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yaur Rihegure merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yaur, Bahasa Yeretuar (Umare), dan Bahasa Wate.

Bahasa Yawa Onate dituturkan oleh etnik Onate di |Kampung Tatui, Distrik Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Tatui dituturkan Bahasa Onate.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yawa Onate merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Busami, Bahasa Serui Laut, dan Bahasa Ambai.

Bahasa Yei dituturkan oleh masyarakat |Kampung Bupul, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di sebelah barat dan selatan |Kampung Bupul. Di sebelah utara |Kampung Bupul dituturkan Bahasa Bian Marind.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yei merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Yei Bawah, Bahasa Engkalembu, Bahasa Imbuti (Marind), Bahasa Kanum Barkari, Bahasa Kimaam, Bahasa Kimagima, dan Bahasa Komolom (Mombun).

Bahasa Yei Bawah dituturkan oleh masyarakat |Kampung Poo, Kecamatan Jagebob, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di |Kampung Torai dan Erambu. Sebelah timur |Kampung Poo adalah |Kampung Erambu dan Torai, sebelah barat adalah |Kampung Angger Permedi; sebelah utara adalah |Kampung Gemunan, dan sebelah selatan adalah Taman Nasional Wasur. Ketiga wilayah kampung tersebut sama-sama menuturkan Bahasa Yei Bawah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yei Bawah merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 97,3%--99,75% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Yei, Bahasa Kitum, Bahasa Namas, dan Bahasa Ningrum.

Bahasa Yelmek dituturkan oleh masyarakat |Kampung Wanam, Distrik Abenaho, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Wanam dituturkan Bahasa Okaha, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kimaam, di sebelah utara dituturkan Bahasa Mappi, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Makleu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yelmek merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yali Anggruk, Bahasa Yali Pass Valey, Bahasa Kimaam, Bahasa Kimagama, dan Bahasa Komolom (Mombun).

Bahasa Yeresiam dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sima, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Sima, yaitu |Kampung Wanggar dituturkan Bahasa Wate; di sebelah barat, yaitu |Kampung Watisore dituturkan Bahasa Yaur; dan di sebelah utara |Kampung Sima dituturkan Bahasa Yeresiam. Di sebelah selatan |Kampung Sima tidak ada penutur bahasa karena kawasan itu berupa laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yeresiam merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Yeresiam Kiruru, Bahasa Yeresiam Pedalaman, Bahasa Yaur-Rihegure, dan Bahasa Wate.

Bahasa Yeretuar (Umare) dituturkan masyarakat |Kampung Yeretuar, Distrik Teluk Umar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yeretuar (Umare) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Yaur, Bahasa Yaur-Rihegure, dan Bahasa Wate.

Bahasa Yetfa dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dules, Distrik Aboy, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Dules, yaitu |Kampung Murkim dituturkan Bahasa Kimki; di sebelah barat dituturkan Bahasa Lepki, di sebelah utara dituturkan Bahasa Tofalma, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Lepki.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yetfa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Jelako, Bahasa Kimki, Bahasa Ketengban, dan Bahasa Lepki.

Bahasa Yokari dituturkan oleh masyarakat |Kampung Meukisi, Distrik Yokari, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu dituturkan juga di sebelah barat |Kampung Meukisi, yaitu |Kampung Sroyena (Buseriyo), Demoy, Kantumilena, Senokisi, dan Bukisi yang terletak. Di sebelah timur |Kampung Meukisi, yaitu |Kampung Kendate dituturkan Bahasa Namblong.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yokari merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Narau, Bahasa Kaureh, dan Bahasa Sause-Ures (Barazre).

Bahasa Yoke dituturkan oleh masyarakat |Kampung Yoke, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yoke merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Anasi, Bahasa Masep, dan Bahasa Trimuris-Bagusa.

Bahasa Yonggom dituturkan oleh masyarakat |Kampung Ninati, Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Ninati dituturkan Bahasa Ninggikum, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kadi, di sebelah utara dituturkan Bahasa Kasaut, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Mandobo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yonggom merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Mandobo, Bahasa Wombon (Womsi), Bahasa Kombai, Bahasa Muyu Selatan, dan Bahasa Kadi (Muyu Utara).

Bahasa Abun dituturkan di |Kampung Wau, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Abun juga digunakan oleh penduduk yang berada di sebelah timur, barat, dan utara |Kampung Wau, sedangkan di sebelah selatan kampung Wau, penduduknya menggunakan Bahasa Meyah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Abun Gii (Abun Jii), Bahasa Abun Ji (Karon Pantai), Bahasa Meyah, Bahasa Maibrat, dan Bahasa Hatam memiliki persentase perbedaan 81%--100%.

Bahasa Abun Gii (Abun Jii) dituturkan di |Kampung Werur, Distrik Bikar, Kabupaten Tambraw, Provinsi Papua Barat. |Kampung Lain yang menuturkan Bahasa Abun Gii (Abun Jii) adalah kampung Baun, Bamusbama, dan Okwari. Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa di sebelah timur |Kampung Werur berbatasan dengan |Kampung Wertam dan Sausapor yang masyarakatnya merupakan penutur Bahasa Abun dan di bagian sebelah barat terdapat |Kampung Durbatan yang masyarakatnya merupakan penutur Bahasa Kalawal.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek Abun Gii (Jii) dengan Bahasa di sekitarnya merupakan bahasa tersendiri karena memiliki persentase perbedaannya 90% dengan Bahasa Abun, 99,67% dengan Bahasa Soon, 99% dengan Bahasa Mare, dan 99,33% dengan Bahasa Maybrat.

Bahasa Abun Ji (Karon Pantai) dituturkan di |Kampung Jokte, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Bahasa ini juga dituturkan di |Kampung Baun, Subun, Bamusbama, serta di sepanjang pantai sampai Moraid. Masyarakat penutur Bahasa Abun Ji (Karon Pantai) antara lain mempunyai fam Yekuan, Yeblo, Yenggren, Yesiam, Yerin, Yeror, dan Yewin. Yekuan dan Yeblo adalah fam besar.

Pada mulanya, penutur bahasa ini tinggal di Baun. kemudian pindah ke Sausapor. Baru pada tahun 2008 mereka pindah ke Jokte. Letak |Kampung Jokte berada pada koordinat lintang 0°31'08.86" Lintang Selatan dan koordinat bujur 132°05'06.83" Bujur Timur.

Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Jokte terdapat |Kampung Sujak yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Karon Gunung, di sebelah barat terdapat |Kampung Kabare yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Biak, di sebelah utara terdapat |Kampung Sakorem yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Amberbaken, dan di sebelah selatan terdapat |Kampung Ayamaru yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Ayamaru.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek Abun Ji (Karon Pantai) dengan bahasa di sekitar menunjukkan angka perbedaan 81%--100%. Angka perbedaan isolek Abun Ji dengan Bahasa Abun menunjukkan perbedaan leksikal dan fonologi sebesar 90%, 91% dengan Bahasa Abun Gii (Abun Jii), 98% dengan Bahasa Maybrat, dan sebesar 91% dengan Bahasa As.

Bahasa Air Matoa dituturkan di |Kampung Rurumo, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Di |Kampung Rurumo dituturkan juga Bahasa Yeresiam dan Bahasa Yuafeta. |Kampung ini terletak di pantai yang penghuninya merupakan etnik Miere. Yang menguasai Bahasa Air Matoa di kampung ini hanya 1 orang dan terdapat 4 orang yang memahami bahasa secara pasif. Penduduk |Kampung ini saat ini berbahasa Yeresiam. Penutur asli Bahasa Air Matoa berasal dari |Kampung Air Matoa (sebuah hutan) yang terletak di sebelah utara Rurumo hingga akhirnya pada tahun 1976 mereka berpindah dan tinggal di |Kampung Rurumo. Menurut pengakuan penduduk, terdapat Bahasa Napiti Pantai yang dituturkan di sebelah timur (Kampung Bamana), sebelah barat (Kampung Ombapamuku), dan sebelah utara (Kampung Hairapara). Sementara itu, di sebelah selatan dituturkan Bahasa Busama (Kampung Boiya).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan perbandingan isolek Air Matoa dengan Bahasa Girimora, Bahasa Irarutu-Bofuer, Bahasa Kamberau (Bauana), dan Bahasa Yeresiam Pedalaman menunjukkan hasil perhitungan dengan persentase perbedaan 81%--100%.

Bahasa Ambel dituturkan di |Kampung Warsamdin, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Pulau Waigeo, Provinsi Papua Barat. Di kampung ini, dituturkan juga Bahasa Langganyam dan Bahasa Biak (Beteu). |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang penghuninya (70%) merupakan etnik Ambel. Bahasa Ambel dituturkan juga di |Kampung Kalitoko, Warimak, Wayfoy, Go, Kabilol, dan Kabare. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur terdapat kampung Yensiner yang merupakan tempat dituturkannya Bahasa Biak, di sebelah utara terdapat |Kampung Pulau Aiayu dan di sebelah barat terdapat |Kampung Waysai tempat penutur Bahasa Melayu Papua, dan di sebelah selatan terdapat |Kampung Yenanas yang merupakan tempat dituturkannya Bahasa Batanta. Bahasa lain yang terdapat di |Kampung.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek Ambel dengan bahasa di sekitarnya menunjukkan perbedaan bahasa. Bahasa Ambel dengan Bahasa Tepin sebesar 96,75%, dengan Bahasa Batanta 95,75%, dengan Bahasa Esaro (Kawit) 96%, dengan Bahasa Efpan 99,75%, dan Bahasa Moi Sigin 99%.

Bahasa Amber dituturkan di |Kampung Kawe, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Amber dituturkan juga di sebelah barat dan timur |Kampung Kawe. Sebagian masyarakat di sebelah timur kampung ini dituturkan juga Bahasa Beser. Di sebelah utara |Kampung ini dituturkan Bahasa Ayau, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Gebe.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek Amber dengan bahasa lain di sekitarnya merupakan bahasa berbeda dengan persentase perbedaan 81%--100%. Jika dibandingkan dengan Bahasa Samate memiliki perbedaan 92%, dengan Bahasa Wardo 97%, dengan Bahasa Selegof 93%, dengan Bahasa Maya 87%, dengan Bahasa Maya Legenyam-Kawei 84%, dan Bahasa Beser 98%.

Bahasa Arandai dituturkan di |Kampung Botonik (Arandai), Distrik Arandai, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Penutur Bahasa Arandai diperkirakan sebanyak 176 orang. Selain penduduk asli kampung ini, etnik lain dengan jumlah yang kecil (etnik Ternate, Jawa, dan Bugis) juga tinggal di kampong ini. Bahasa ini dituturkan juga di |Kampung Kandarin, Kecap, Irira, Baru, dan |Kampung Manunggal Karya.

Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat |Kampung Botonik terdapat |Kampung Wariagar yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Kamberano, sebelah utara dituturkan Bahasa Arandai di |Kampung Baru, dan Bahasa Arandai ini dituturkan juga di sebelah selatan di |Kampung Manunggal Karya.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek Arandai dengan bahasa lain di sekitarnya bahwa isolek ini terbukti sebagai bahasa. Hasil perhitungan leksikon dan fonologi isolek Arandai dengan Bahasa Wamesa, Bahasa Kuri, Bahasa Sumuri menunjukkan angka perbedaan sebesar 95,5--100%.

Bahasa Arguni (Taver) dituturkan oleh masyarakat |Kampung Arguni dan |Kampung Taver, Distrik Arguni, Kabupaten Fak-Fak, Pulau Arguni, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk sebelah timur |Kampung Arguni adalah |Kampung Fior yang menuturkan Bahasa Bedoanas, sebelah barat adalah |Kampung Ugar yang menuturkan Bahasa Sekar Onim, sebelah utara kampung Otoweri yang menuturkan Bahasa Kemberano, dan sebelah selatan adalah |Kampung Andamata yang menuturkan Bahasa Bedoanas. |Kampung Arguni berada pada koordinat lintang 02°39'240" dan koordinat bujur 132°32'846".

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Arguni/Taver merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 93%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Bedoanas 93%, Bahasa Sekar Onim 97%, Bahasa Iha 99%, Bahasa Kemberano 99%, dan Bahasa Irarutu 100%.

Bahasa As dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Asbaken, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. |Kampung Asbaken merupakan daerah pantai dengan jumlah penduduk ± 360 jiwa.

Bahasa As termasuk salah satu bahasa terancam punah. Bahasa ini merupakan bahasa minoritas di Asbaken. Mayoritas penduduk Asbaken menuturkan Bahasa Moi. Bahasa As juga dituturkan di Pulau Mega. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Asbaken, yaitu |Kampung Dela dan sebelah barat, yaitu |Kampung Malaumkarta dituturkan Bahasa Moi. Di sebelah selatan, yaitu Distrik Sayosa dituturkan Bahasa Moi dan Bahasa Moraid.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandingan isolek As dengan bahasa lain di sekitar merupakan bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya Bahasa Moi, Bahasa Moraid, Bahasa Kais, dan Bahasa Palamul.

Bahasa Awe (Maweyo, Kaburi) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Benawa II, Distrik Kokoda Utara, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Penutur bahasa Awe ± 395 orang. Bahasa ini masih digunakan oleh semua kelompok umur. Selain di |Kampung Benawa II, bahasa ini juga dituturkan di |Kampung Benawa I, Kabareme, dan Sumano.

Menurut pengakuan penduduk, di sekeliling |Kampung Benawa II dituturkan bahasa-bahasa lain. Sebelah timur |Kampung Benawa II terdapat |Kampung Udagaga yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Eme, di sebelah barat terdapat |Kampung Puragi yang masyarakatnya merupakan etnik Iwaro, Iwar, Nerage, dan Augama menuturkan Bahasa Iwaro, sebelah utara terdapat |Kampung Benawa I yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Awe (Maweyo, Kaburi), dan sebelah selatan adalah |Kampung Negeri Besar yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Eme.

Masyarakat penutur Bahasa Awe (Maweyo, Kaburi) yang tinggal di |Kampung Benawa II adalah etnik atau suku Mareno (Marane, Kosiriago). Nama Kosiriago dipakai ketika perang Hongi. Nama ini kemudian berubah menjadi Marane dalam pemerintahan. Masyarakat di Benawa II adalah suku yang mempunyai fam Aume, Kabie, Ohame, Yare, Oraite, More, Modupe, dan Bodie.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandinganisolek Awe dengan Bahasa Maibrat yang berada di sekitar menunjukkan bahasa yang berbeda dengan perbedaan leksikal dan fonologi sebesar 98%.

Bahasa Baham dituturkan di |Kampung Kotam, Distrik Fak-Fak Timur, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Baham juga dituturkan di sebelah timur |Kampung Kotam, sedangkan di sebelah barat, Utara, dan Selatan dituturkan Bahasa Iha.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandinganisolek Baham dengan bahasa lain di sekitar, merupakan sebuah bahasa, dengan persentase perbedaan 96%--100%. Perbedaan leksikon dan fonologi isolek Baham dengan Bahasa Sabakor sebesar 99,25%, dengan Bahasa Uruangnirin sebesar 96,75%, dan Bahasa Kamberau sebesar 99,5%.

Bahasa Batanta dituturkan oleh masyarakat |Kampung Pepasena, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Pulau Batanta, Provinsi Papua Barat. |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang mayoritas penghuninya (80%) merupakan etnik Batanta. Selain di |Kampung Yenanas, Bahasa Batanta dituturkan juga di |Kampung Waylebet di sebelah barat. Bahasa lain yang terdapat di |Kampung Yenanas adalah Bahasa Biak. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Batanta berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Biak di sebelah timur (Kampung Amdoi) dan utara (Kampung Waylebet), dan wilayah tutur Bahasa Tepin di sebelah selatan (Kampung Solol).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, yang merupakan hasil perbandinganisolek Batanta dengan bahasa di sekitar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 82,75%--100%. Jika dibandingkan dengan Bahasa Ambel menunjukkan perbedaan leksikon dan fonoligi sebesar 95,75%, dengan Bahasa Tepin sebesar 82,75%, Bahasa Esaro (Kawit) sebesar 89,25%, Bahasa Efpan sebesar 99,75%, dan Bahasa Moi Sigin sebesar 99%.

Bahasa Bedoanas (Baruan-Erokwanas) dituturkan di Distrik Arguni, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Bahasa tersebut terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. Dialek Bedonas dituturkan oleh penduduk |Kampung Andamata, Distrik Arguni, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat.
  2. Dialek Erokwanas dituturkan oleh penduduk |Kampung Darembang, Distrik Mbahamdandara, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat.

Persentase perbedaan kedua dialek tersebut sebesar 77,5%. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bedoanas (Baruan-Erokwanas) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 91%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Irarutu Bofuer, Bahasa Iha, dan Bahasa Baham.

Bahasa Beser dituturkan di |Kampung Saporkren, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur sekitar 120 jiwa. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Beser juga dituturkan oleh penduduk yang berada di sebelah barat |Kampung Saporkren, di sebelah timur dituturkan Bahasa Amber, di sebelah utara dituturkan Bahasa Wardo, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Matbat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Beser merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 94%--99% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Beser-Swaimbon, Bahasa Matbat, Bahasa Matlow, Bahasa Maya, dan Bahasa Maya Legenyan-Kawei.

Bahasa Beser Swaimbon dituturkan di |Kampung Swaimbon, Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Selain di kampung itu, Bahasa Beser dituturkan juga di |Kampung Saporkren dan Yanbeser dan bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Bahasa Biak. Menurut pengakuan penduduk, situasi kebahasaan menunjukkan bahwa |Kampung Sampodance yang terletak di sebelah timur |Kampung Swaimbon menuturkan Bahasa Maya, Bahasa Biak, Bahasa Jawa, dan Bahasa Bugis dan Kota Waisai utara menuturkan Bahasa Biak, Bahasa Ternate, Bahasa Jawa, dan Bahasa Bugis.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Beser Swaimbon merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Maya Legenyam 98,67%, Bahasa Maya 99,33%, dan Bahasa Palamol 92,33%.

Bahasa Damban (Ndamban) dituturkan di |Kampung Aranday dan |Kampung Yakora, Distrik Arandai, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur ± 300 jiwa. Di |Kampung Aranday juga dituturkan Bahasa Arandai. Bahasa Dajub (Tokuni) yang terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Damban yang dituturkan di |Kampung Arandai dan dialek
  2. dialek Ndamban yang dituturkan di |Kampung Yakora dengan persentase perbedaan sebesar 76%.

Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu dituturkan juga oleh masyarakat yang berada di sebelah timur, barat, utara, dan selatan |Kampung Arandai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Damban (Ndamban) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Arandai, Bahasa Kemberano, dan Bahasa Wandamen.

Bahasa Dusner (Usner) dituturkan di |Kampung Siwosawo (Dusner), Distrik Kuri Wamesa, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Jumlah penduduk kampung ini ±380 jiwa. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur dan utara |Kampung Siwosawo dituturkan Bahasa Wandamen, di sebelah barat dituturkan Bahasa Kuri, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Ambumi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Dusner (Usner) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Dusner (Usner), Bahasa Wandamen sebesar 98,97%, dan Bahasa Ron sebesar 99%.

Bahasa Efpan dituturkan di |Kampung Durian Kari, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Sorong, Pulau Salawati, Provinsi Papua Barat. |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang mayoritas penghuninya (70%) merupakan etnik Kawit. Penutur Bahasa Efpan sampai saat ini hanya berjumlah lima orang wanita yang telah berusia di atas 60 tahun. Di kampung itu terdapat juga Bahasa Esaro (Kawit) dan Bahasa Inanwatan. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Efpan berbatasan dengan Bahasa Walian di sebelah timur (Kampung Waliam), Moi Seget di sebelah selatan (Kampung Seget), dan Bahasa Esaro (Kawit) di sebelah barat (Kampung Maralsol) dan utara (Kampung Kalobo).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Efpan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya. Misalnya, persentase perbedaan Bahasa Efpan dengan Bahasa Ambel sebesar 99,75%, Bahasa Tepin sebesar 99,25%, Bahasa Batanta sebesar 99,75%, Bahasa Esaro (Kawit) sebesar 99,75%, dan Bahasa Moi Sigin sebesar 99,75%.

Bahasa Esaro (Kawit) dituturkan di |Kampung Durian Kari, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Sorong, Pulau Salawati, Provinsi Papua Barat. |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang mayoritas penghuninya (70%) merupakan etnik Kawit (Saorof). Selain di |Kampung Durian Kari, Bahasa Esaro (Kawit) dituturkan juga di |Kampung Maralsol di sebelah barat dan Kalobo di sebelah utara. Di kampung itu terdapat juga Bahasa Inanwatan. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Esaro (Kawit) berbatasan dengan Bahasa Walian di sebelah timur (Kampung Walian) dan Moi Seget di sebelah selatan (Kampung Seget).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Esaro (Kawit) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 88,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya. Misalnya, persentase perbedaan Bahasa Esaro (Kawit) dengan Bahasa Ambel sebesar 96%, Bahasa Tepin sebesar 88,5%, Bahasa Batanta sebesar 89,25%, Bahasa Efpan sebesar 99,75%, dan Bahasa Moi Sigin sebesar 99%.

Bahasa Fkour dituturkan di |Kampung Pasir Putih, Distrik Fokour, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Nama bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Bahasa Salkma, Bahasa Maybrat, dan Bahasa Sefa. Menurut pengakuan penduduk, Sebelah timur |Kampung Pasir Putih adalah |Kampung Klamit yang menuturkan Bahasa Salkma, sebelah barat adalah kampung Bemus menuturkan Bahasa Fkour, sebelah utara adalah |Kampung Dasri Krebing menuturkan Bahasa Klaknit, dan sebelah selatan adalah kampung Sawiat menuturkan Bahasa Sefa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Fkour merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Klamolo 97%, Bahasa Tehit 99%, dan Bahasa Maybrat 99,33%.

Bahasa Gebe dituturkan di |Kampung Gag, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Gag dituturkan Bahasa Kawe, di sebelah barat dituturkan juga Bahasa Gebe, di sebelah utara dituturkan Bahasa Beteuw.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Gebe merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Amber, Bahasa Maya Legenyan-Kawei, Bahasa Samate, dan Bahasa Selegof.

Bahasa Girimora dituturkan di di |Kampung Siawatan (RT Avona), Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Bahasa Girimora dituturkan pula oleh masyarakat |Kampung Erega, Kiruru, Etahima, dan Warifi. Masyarakat di |Kampung Siawatan ada juga yang bertutur dalam Bahasa Yuafeta. |Kampung ini terletak di pantai yang penghuninya merupakan etnik Girimora. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Siawatan, dituturkan Bahasa Napiti Pantai dituturkan di |Kampung Warifi. Di sebelah barat dan selatan dituturkan Bahasa Koiwai di |Kampung Namatota dan Kayu Merah. Di sebelah utara, dituturkan Bahasa Irarutu di |Kampung Kasira.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Girimora merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 92,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Air Matoa sebesar 92,25%.

Bahasa Gua dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Erega, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Gua juga dituturkan di |Kampung Etahim. Sebelah timur kampung Erega adalah |Kampung Wosokuna yang berbahasa Mee dan sebelah barat adalah |Kampung Paparo yang berbahasa Napiti.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Gua merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 99%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Windesi 99%, Bahasa Mpur Pantai 99%, Bahasa Ure 100%, Bahasa Mee 100%, dan Bahasa Napiti 100%.

Bahasa Hatam dituturkan di |Kampung Warmare, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Bahasa Hatam di |Kampung Warmare tersebut merupakan bahasa yang berbeda dengan Bahasa Hatam Mole di |Kampung Warmawai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Hatam merupakan bahasa yang berbeda dengan Bahasa Hatam Mole dengan persentase perbedaan sebesar 86,75%. Jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Damban (Ndamban), Bahasa Hatam Mole, Bahasa Mansim Borai, Bahasa Meyah, dan Bahasa Numfor (Mansinam), Bahasa Hatam merupakan bahasa yang berbeda dengan persentase perbedaan 81%--100.

Bahasa Hatam Mole dituturkan di |Kampung Warmawai, Distrik Tanah Rubuh, Kabupaten Monokwari, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Warmawai dituturkan Bahasa Hatam, sedangkan di sebelah barat, utara, dan selatannya tidak ada bahasa sebab berbatasan dengan kawasan pantai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Hatam Mole merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Hatam, Bahasa Damban (Ndamban), Bahasa Menyah, dan Bahasa Nurfom.

Bahasa Iha dituturkan oleh masyarakat |Kampung Baru, Distrik Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat dan selatan |Kampung Baru dituturkan Bahasa Iha, di sebelah timur dituturkan Bahasa Baham.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Iha merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Mor, Bahasa Sekar-Enim, Bahasa Baham, dan Bahasa Uruangnirin.

Bahasa Imiyan dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Sawiat, Distrik Sawiat, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Imiyan juga dituturkan di |Kampung Wensok, Sodrofoil, Eles, Suafiyo, Sasenek, dan Wendi. Sebelah timur |Kampung Sawiyat adalah pantai, sebelah barat adalah |Kampung Klamit yang menuturkan Bahasa Salkma, sebelah selatan adalah |Kampung Wersar yang menuturkan Bahasa Tehit Dit, dan sebelah utara adalah |Kampung Pasir Putih yang menuturkan Bahasa Fkour. |Kampung Sawiyat berada pada koordinat lintang 1°17'45,4" dan koordinat bujur 132°00'33,2".

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Imiyan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 86%--91% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Salkma 91%, Bahasa Tehit 91%, Bahasa Tehit Dit 86%, dan Bahasa Fkour 91%.

Bahasa Inanwatan dituturkan di |Kampung Mate, Distrik Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, bahasa itu dituturkan juga oleh penduduk suku Birau yang mendiami beberapa kampung di wilayah sebelah utara |Kampung Mate, antara lain, di |Kampung Sibae, Wadoi, Mogibi, Solta Baru, dan Serkos. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Inanwatan berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Isogo di sebelah timur, dengan wilayah tutur Bahasa Mugim di sebelah barat.

Sementara itu, Bahasa Inanwatan berbeda dengan bahasa suku lain yang berada di sekitarnya, yaitu Bahasa Mugim, Bahasa Saga, dan Bahasa Kokoda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Inanwatan dan ketiga bahasa itu merupakan bahasa yang berbeda dengan persentase 99,25%--99,75%.

Bahasa Inora dituturkan di |Kampung Saengga, Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Bahasa ini dituturkan juga oleh masyarakat yang berdomisili di |Kampung Kelapa Dua, Tanah Merah, Onar, dan Agoda.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Bahasa Inora dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Irires, Bahasa Mansim, dan Bahasa Pokoro. dikategorikan berbeda bahasa karena persentase perbedaan antara Bahasa Inora dan Bahasa Irires mencapai 100%, dan Bahasa Sumuri sebesar 90%.

Bahasa Irarutu dituturkan di |Kampung Tomage, Distrik Bomberai, Kabupaten Fak-Fak, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang juga menuturkan Bahasa Irarutu adalah |Kampung Aroba, Yaru, Babo, dan |Kampung Foruwar. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Irarutu dituturkan juga di |Kampung Aroba. Di sebelah barat dituturkan Bahasa Kamberano di |Kampung Otoweri, di sebelah utara dituturkan Bahasa Sumuri di |Kampung Saengga, dan di sebelah selatan dituturkan Bahasa Jawa di |Kampung SPS.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Irarutu merupakan bahasa yang berbeda karena persentase perbedaan dengan bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Mare 100%, Bahasa Soon 100%, dan Bahasa Irarutu-Bofuer sebesar 92%.

Bahasa Irarutu Bofuer dituturkan di |Kampung Bofuwer, Distrik Teluk Arguni Atas, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Irarutu-Bofuer merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Irarutu, Bahasa Mairasi, dan Bahasa Koiwai.

Bahasa Irires dituturkan di |Kampung Wausin dan kampung Asiti, Distrik Mawabuan, Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat. Bahasa itu dituturkan juga di |Kampung Moun, |Kampung Meis, dan |Kampung Meid. Bahasa lain yang dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Wausir (Asiti) adalah Bahasa Impur dan Bahasa Miyakh.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Bahasa Irires dengan bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Mansim Borai dan Bahasa Mansinam dikategorikan berbeda bahasa karena persentase perbedaan antara Bahasa Irires dengan Bahasa Mansim Borai mencapai 99% dan Bahasa Mansinam 99%.

Bahasa Jamor dituturkan di |Kampung Senderawoy, Distrik Rasie, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Fam yang menggunakan Bahasa Jamor di antaranya adalah fam Kawieta, Tambawa, dan Abujani. Selain di Sendra Woy, Bahasa Jamor juga dituturkan di kampung Etahema, Paparo, Erega, dan Omba.

Menurut pengakuan penduduk, kampung yang berdekatan dengan Sendra Woy, di antaranya adalah |Kampung Wombu yang masyarakatnya berbahasa Somu dan berada di sebelah timur, |Kampung Jeretuar di sebelah barat yang masyarakatnya berbahasa Umar (Jeretuar), di sebelah utara adalah |Kampung Jamor yang merupakan kampung utama atau kampung asal masyarakat berbahasa Jamor, dan di sebelah selatan adalah |Kampung Kuri yang masyarakatnya berbahasa Kuri.

Dibandingkan dengan bahasa lain di Teluk Wondama, misalnya dengan Bahasa Somu, Bahasa Miere, Bahasa Kuri, dan Bahasa Waruri., isolek Jamor merupakan bahasa tersendiri.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, besarnya perbedaan antara Bahasa Jamor dengan bahasa tersebut 99,25%--100%.

Persentase perbedaan antara Bahasa Jamor dengan Bahasa Waruri sebesar 99,25%, Bahasa Somu (Toru) sebesar 100%, Bahasa Miere (Mer, Muri) sebesar 99,25%, dan Bahasa Kuri sebesar 99,75%.

Bahasa Kais dituturkan di |Kampung Kais, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur |Kampung Kais dituturkan Bahasa Kokoda, di sebelah barat dituturkan Bahasa Inanwatan, di sebelah utara dituturkan Bahasa Maibrat, di sebelah selatan dituturkan Bahasa Tehit.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kais merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 97,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, dengan Bahasa Yahadian-Mugim, Bahasa Kambran, Bahasa Mairat, dan Bahasa Puragi-Saga.

Di Provinsi Papua Barat

[sunting]

</noinclude> Bahasa Kalabra dituturkan di |Kampung Klamono, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kalabra di |Kampung Klamono berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kalabra di sebelah timur dan Selatan, serta wilayah tutur Bahasa Moi di sebelah barat dan Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kalabra merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Kalabra dan Bahasa Tehit persentase perbedaan sebesar 96%.

Bahasa Kalamang dituturkan di |Kampung Antalisa, Distrik Karas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang menggunakan bahasa itu adalah |Kampung Maas. Bahasa lain yang terdapat di kampung tersebut, antara lain Bahasa Soram, Bahasa Kokas, Bahasa Key, dan Bahasa Ternate. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Maas di sebelah timur masyarakatnya juga berbahasa Kalamang, |Kampung Tarak di sebelah utara masyarakatnya berbahasa Four, di sebelah barat Laut Seram, dan di sebelah selatan hutan dan laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kalamang merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Soon 99%, Bahasa Beser 99,67%, dan Bahasa Esaro (Kawit) 99,33%.

Bahasa Kamberau (Bauana) dituturkan di |Kampung Bahumia, Distrik Kambrau, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kamberau (Bauana) di |Kampung Bahumia berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Kamberau (Bauana) di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Irarutu di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Gesira atau Ubia di sebelah utara, di sebelah selatan berbatasan dengan hutan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kamberau (Bauana) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Irarutu, dengan Bahasa Irarutu Botuer, Bahasa Kaimana, dan Bahasa Sabakor (Buruwai).

Bahasa Kambran dituturkan di |Kampung Foug, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Wamba, Atori, Wimni, Fuog Selatan, dan Sanem. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Aisa yang terletak di sebelah timur |Kampung Foug masyarakatnya berbahasa Moskona, |Kampung Kisar di sebelah barat masyarakatnya menuturkan Bahasa Maybrat, |Kampung Taksimara di sebelah utara masyarakatnya berbahasa Mokora (Maybrat), dan |Kampung Mukamat di sebelah selatan masyarakatnya berbahasa Kais (Maysefa).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kambran merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Maisomara 96%, Bahasa Maybrat 100%, dan Bahasa Kembarano 98,67%.

Bahasa Karas dituturkan di |Kampung Faur, Distri Karas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Beberapa kampung lain yang juga menggunakan Bahasa Karas yaitu |Kampung Kiaba, Tuberwasa, Tarak, dan Malakuli. Bahasa lain yang terdapat di kampung tersebut adalah Bahasa Mas Antalisa. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Faur adalah |Kampung Kiaba, sebelah barat adalah |Kampung Antalisa, sebelah utara adalah |Kampung Tarak, dan sebelah selatan adalah |Kampung Mas.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan isolek Karas dengan bahasa lain di sekitarnya 96% dan 98%. Isolek Karas dengan bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Kamran persentase perbedaan 96,33%, Bahasa Beser 96,67%, dan Bahasa Soon 98,33%.

Bahasa Karon dituturkan di |Kampung Siakwa, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Karon di |Kampung Siakwa berbatasan dengan isolek Miun di sebelah timur, dengan Bahasa Abun di sebelah barat dan Utara, dengan isolek Mare di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Karon merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Abun sebesar 99,25% dan Bahasa Moraid sebesar 97,5%.

Bahasa Kemberano dituturkan di |Kampung Weriagar, Distrik Weriagar, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kemberano juga dituturkan oleh masyarakat yang berada di sebelah utara, timur, barat, dan selatan |Kampung Weriagar.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kemberano merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Ndamban memiliki persentase perbedaan sebesar 99,75% dan Bahasa Wandamen sebesar 99,5%.

Bahasa Koiwai dituturkan di |Kampung Anda Air, Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Pada zaman dulu, Bahasa Koiwai disebut sebagai Bahasa Yauru. Sementara itu, orang gunung menyebut Bahasa Koiwai dengan nama Bahasa Yaufeta karena digunakan oleh orang pantai, sedangkan orang pantai menyebut bahasanya dengan nama Bahasa Mias. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Koiwai di |Kampung Anda Air berbatasan dengan Bahasa Kokonaow di sebelah timur, dengan penutur Bahasa Irarutu dan Bahasa Kamberau di sebelah barat, dengan Bahasa Mairasi di sebelah utara, dan dengan Bahasa Koiwai di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Koiwai merupakan sebuah bahasa dengan persentase 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Irarutu sebesar 97,5%, Bahasa Kamberau sebesar 99,5%, dan Bahasa Mairasi sebesar 99%.

Bahasa Kokoda dituturkan di |Kampung Tarof, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Kokoda juga dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur |Kampung Tarof, yaitu |Kampung Tambuni, sebelah barat yaitu |Kampung Siwatori, dan sebelah utara yaitu |Kampung Daubak.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kokoda merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 98,5%--99,25% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Kokoda dengan Bahasa Puragi memiliki persentase perbedaan sebesar 98,5%, Bahasa Inanwatan sebesar 99,25%, dan Bahasa Yahadian sebesar 99,5%.

Bahasa Kuri (Nabi) dituturkan di |Kampung Obo (Nabi), Distrik Kuri, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Penutur bahasa ini sekitar 800 orang. Selain di |Kampung Obo (Nabi), Bahasa Kuri juga dituturkan di |Kampung Simiei, Refideso, Wagurai, Sarbe, Naramasa, Tigo, Tantur, dan Saiware.

Kampung Obo (Nabi) yang masyarakatnya merupakan penutur Bahasa Kuri berdekatan dengan |Kampung Dusner yang merupakan wilayah penutur Bahasa Dusner (Usner). Sementara, di sebelah barat, utara, dan selatan |Kampung Obo adalah kampung-kampung yang masyarakatnya juga menuturkan Bahasa Kuri.

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Teluk Wondama, misalnya dengan Bahasa Somu (Toro), Bahasa Jamor, Bahasa Muri (Mer), dan Bahasa Waruri, isolek Kuri (Nabi) merupakan bahasa tersendiri karena perbedaan hasil penghitungan dialektometri 99%--100%. Besarnya perbedaan antara Bahasa Kuri (Nabi) dengan Bahasa Somu (Toro) sebesar 99,5%, Bahasa Jamor sebesar 99,75%, Bahasa Miere (Mer, Muri) sebesar 100%, dan Bahasa Waruri sebesar 99%.

Bahasa Maibrat dituturkan di |Kampung Ayamaru, Distrik Ayamaru, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Maibrat dituturkan juga oleh masyarakat di sebelah timur, barat, utara, dan selatan |Kampung Ayamaru. Sementara itu, di sebelah utara |Kampung Ayamaru, selain digunakan Bahasa Maibrat juga digunakan Bahasa Sawiat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Maibrat merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Maibrat dan Bahasa Tehit sebesar 99,25% dan Bahasa Kais sebesar 100%.

Bahasa Mairasi dituturkan di |Kampung Marsi (Sisi), Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Mairasi dituturkan juga oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur, barat, utara, dan utara |Kampung Marsi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mairasi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, perbedaannya dengan Bahasa Kamberau memiliki persentase sebesar 98,25%, Bahasa Koiwai sebesar 99%, dan Bahasa Irarutu sebesar 99,25%.

Bahasa Maisomara dituturkan di |Kampung Ayata, Distrik Ayfat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Nama bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Moskona dan Maybrat. Menurut pengakuan penduduk, situasi kebahasaan menunjukkan bahwa sebelah timur |Kampung Ayata adalah |Kampung Aisa, sebelah barat adalah kampung Kamat, sebelah utara adalah |Kampung Aikus yang sama-sama menuturkan Bahasa Maysomara, dan sebelah selatan adalah kampung Kokoda yang menuturkan Bahasa Kokoda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Maisomara merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, dengan Bahasa Kambran 96%, Bahasa Kokoda 99,67%, dan Bahasa Maybrat 88,33%.

Bahasa Mansim Borai dituturkan oleh beberapa orang di |Kampung Anday dan Mupi, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Semula, penutur bahasa ini tinggal di |Kampung Maruti, di daerah Gunung Kapur. Oleh karena pada tahun 1976 |Kampung Maruti tersebut dilanda banjir, mereka berpindah/mengungsi dan memencar ke Andai, Arfai, dan Muni. Setelah ditelusuri ke daerah pengungsian, diketahui bahwa bahasa ini termasuk salah satu bahasa di Papua yang terancam punah karena penuturnya hanya tinggal empat orang. Dua orang tinggal di |Kampung Andai dan dua orang tinggal di Muni.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri membuktikan bahwa Bahasa Mansim Borai merupakan bahasa tersendiri yang berbeda dengan enam bahasa lain yang ada di Papua Barat, yaitu Bahasa As, Bahasa Seget, Bahasa Kapora, Bahasa Inora, Bahasa Irires, dan Bahasa Numfor (Mansinam).

Persentase perbedaan Bahasa Mansim Borai dengan Bahasa As, Bahasa Seget, Bahasa Kapora, dan Bahasa Inora sebesar 100%; dengan Bahasa Irires 99%; dan Bahasa Numfor (Mansinam) 98%.

Bahasa Mare merupakan bagian kecil dari ratusan varian bahasa di Papua dan Papua Barat. Bahasa ini dituturkan di |Kampung Kombif (Suswa), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang juga menuturkan Bahasa Mare adalah |Kampung Sire, Seni, Suswa, dan |Kampung Wabam. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Mare di |Kampung Kombif/Suswa sebelah timur berbatasan dengan Bahasa Mere di |Kampung Waban, sebelah barat dengan |Kampung Suswa, sementara itu, di sebelah utara dengan |Kampung Tambrauw yang masyarakatnya berbahasa Karon, dan sebelah selatan dengan |Kampung Seni wilayah tutur Mare-Fayoh.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mare merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Irarutu 100%, Bahasa Maybrat 93%, dan Bahasa Soon 90,33%.

Bahasa Matbat dituturkan di kampung Biga, Distrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur di kampung tersebut sekitar 350 jiwa. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Matbat juga dituturkan oleh masyarakat yang berada di sebelah timur dan barat kampung Biga, berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Matlouw di sebelah utara, dan di sebelah selatan berbatasan dengan laut.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Matbat merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Maya memiliki persentase perbedaan sekitar 92%, Bahasa Kawei sebesar 92%, Bahasa Gebe 94%, dan Bahasa Amber 95%.

Bahasa Matlow dituturkan di |Kampung Waigama, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. |Kampung Waigama terletak di pantai dengan topografi tanah berupa dataran. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Matlow berbatasan dengan Bahasa Matbat di sebelah timur yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Salafen, Bahasa Matbat di sebelah barat yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Aduwey, Bahasa Beser di sebelah utara, yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kopiaw, dan Bahasa Maya di sebelah selatan yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Dabatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Matlow merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99% jika dibandingkan dengan Bahasa Yaben, 98% jika dibandingkan dengan Bahasa Salafen Matbat, dan 94% jika dibandingkan dengan Bahasa Matbat.

Bahasa Maya dituturkan di |Kampung Sapordanco, Distrik Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Wowiay, Bianci, Sepele, Salio, Arawai, Beo, dan Lapintor. Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa |Kampung Warmasem yang terletak di sebelah timur |Kampung Sapordance menuturkan Bahasa Biak, Bahasa Jawa, Bahasa Bugis, dan Bahasa Ternate dan Kota Waisai utara menuturkan Bahasa Biak, Bahasa Ternate, Bahasa Jawa, dan Bahasa Bugis.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Maya merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Maya Legenyam-Kawei 92,67%, Bahasa Palamol 92,33%, dan Bahasa Seget 99%.

Bahasa Maya Legenyan-Kawei dituturkan di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. Dialek Maya Legenyan dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Beo, Distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.
  2. Dialek Kawei dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Selpele, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Hasil persentase antara kedua dialek tersebut adalah sebesar 79,05%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Maya Legenyan-Kawei merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan bahasa dialek Maya Legenyan dengan Bahasa Maya sebesar 92,67%, Bahasa Samate sebesar 92%, Bahasa Wardo sebesar 95%, dengan Bahasa Selegof sebesar 95%, Bahasa Beser sebesar 98%, dan Bahasa Amber sebesar 85%.

Kemudian, antara dialek Kawei dengan Bahasa Samate adalah sebesar 93,25%, Bahasa Wardo sebesar 97,5%, Bahasa Selegof sebesar 95%, Bahasa Beser sebesar 98,75%, dan Bahasa Amber sebesar 95%.

Bahasa Mee Wosokuno dituturkan di |Kampung Wosokuno, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. |Kampung Wosokuno terletak di pantai. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Wosokuno berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Mee Wosokuno di sebelah timur, utara, dan selatan, serta wilayah tutur Bahasa Kamoro di sebelah barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mee Wosokuno merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99,75%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Misalnya, Bahasa Ekari sebesar 98,50% dan dengan Bahasa Mee Ugia sebesar 99%.

Bahasa Meyah dituturkan di |Kampung Meyes, Distrik Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Meyah dituturkan juga oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur dan barat |Kampung Meyes sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan laut, dan di sebelah selatan adalah penduduk yang mengaku berbahasa Hatam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Meyah merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Hatam sebesar 99,5%, Bahasa Mpur sebesar 99,5%, dan Bahasa Moskona sebesar 96,5%.

Bahasa Miere dituturkan oleh masyarakat |Kampung Miere, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Miere berbatasan dengan |Kampung Urubika yang penduduknya berbahasa Napiti, sebelah barat kampung tersebut berbatasan dengan laut, sedangkan sebelah utara dan selatan berbatasan dengan hutan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Miere merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, persentase perbedaan Bahasa Miere dengan Bahasa Muri sebesar 100%, Bahasa Wau Arak sebesar 99,75%, dan dengan Bahasa Yeresiam sebesar 100%.

Bahasa Moi Sigin dituturkan di |Kampung Katinim, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang mayoritas penghuninya (90%) merupakan etnik Moi. Di kampung itu terdapat juga Bahasa Misol dan Bahasa Seram. Selain di |Kampung Katinim, Bahasa Moi Sigin dituturkan juga di |Kampung Yeflio di sebelah utara, Sakamirin di sebelah selatan, Ninjomor, dan Klasari. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Moi Sigin berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Jawa di sebelah timur (Kampung Majener) dan wilayah tutur Bahasa Moi Maya di sebelah barat (Kampung Kalobo).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moi Sigin merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas 97% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya. Misalnya, persentase perbedaan Bahasa Moi Sigin dengan Bahasa Moi Maniwo sebesar 97%, Bahasa Ambel sebesar 99%, Bahasa Tepin sebesar 98,25%, Bahasa Batanta sebesar 99%, Bahasa Esaro (Kawit) sebesar 97,75%, dan Bahasa Efpan sebesar 99,75%.

Bahasa Mor merupakan bagian kecil dari ratusan varian bahasa daerah di Papua dan Papua Barat. Bahasa ini didominasi oleh penutur beretnik Wagaf, Taruma, dan Sinakum di |Kampung Mitimber, Distrik Mbahamdandara, Kabupaten Fak-Fak, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. Bahasa ini dituturkan juga di |Kampung Tesa, Distrik Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. Di |Kampung Mitimber juga ada masyarakat tutur yang menguasai Bahasa Baham. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, yaitu |Kampung Tesa berpenutur Bahasa Mor, sebelah barat dengan |Kampung Waremo berbahasa Baham, sebelah utara dengan |Kampung Goras berbahasa Goras, dan sebelah selatan dengan |Kampung Otoweri berbahasa Mbraw.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mor merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, seperti dengan Bahasa Kuri 99,67%, Bahasa Maybrat 100%, dan Bahasa Ron 100%.

Bahasa Moraid dituturkan di |Kampung Sailala, Distrik Sayosa, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Moraid di |Kampung Sailala berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Madik (Abun) di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Moi di sebelah barat dan utara, dan wilayah tutur Bahasa Tehit di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moraid merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Abun sebesar 99,5%, Bahasa Kalabra sebesar 96,75%, Bahasa Maibrat sebesar 99,5%, dan Bahasa Tehit sebesar 97,25%.

Bahasa Moskona dituturkan oleh masyarakat |Kampung Moskona, Distrik Merdey, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Moskona merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Menyah 96,50%, Bahasa Wandamen sebesar 99,5%, Bahasa Arandai sebesar 100%, dan Bahasa Maibrat sebesar 100%.

Bahasa Mpur dituturkan di |Kampung Kebar, Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Mpur berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Meyah di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Abun di sebelah barat, dan wilayah tutur Bahasa Maibrat di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Mpur merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan bahasa dengan Bahasa Meyah sebesar 99,5% serta Bahasa Abun dan Bahasa Maibrat sebesar 100%.

Bahasa Mpur Pantai dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Wasarak, Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambraw, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Mpur Pantai juga dituturkan di |Kampung Saukorem, Binasi, Bimak, dan Kabibuwan. Sebelah timur kampung Wasarak adalah |Kampung Saukorem, sebelah barat adalah |Kampung Kabibuwan, sebelah utara adalah kampung Binasi, dan sebelah selatan adalah |Kampung Bimak.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Mpur Pantai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 99%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Windesi 99%, Bahasa Ure 99%, dan Bahasa Gua 100%.

Bahasa Muri (Mer) dituturkan di |Kampung Wosimi, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Selain di Sendra Woy, Bahasa Muri (Mer) dituturkan juga di |Kampung Ure dan Jawore.

Penutur bahasa ini sekitar 295 orang. Selain Bahasa Muri (Mer), masyarakat di |Kampung Sendra Woy juga menguasai Bahasa Wandamen yang merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di Wondama.

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Teluk Wondama, misalnya dengan Bahasa Somu, Bahasa Kuri, Bahasa Jamor, dan Bahasa Waruri, isolek Muri (Mer) merupakan bahasa tersendiri karena berdasarkan hasil penghitungan dialektometri perbedaannya 98,75%--100%. Besarnya perbedaan antara Bahasa Muri (Mer) dan Bahasa Miere sebesar 100%, Bahasa Somu (Toro) sebesar 98,75%, Bahasa Waruri sebesar 99,75%, Bahasa Jamor sebesar 99,25%, dan Bahasa Kuri sebesar 100%.

Bahasa Napiti dituturkan oleh masyarakat |Kampung Urubika, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. |Kampung Urubika terletak di tepi Danau Yamor. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Napiti berbatasan dengan Bahasa Miere di sebelah timur |Kampung Urubika dan Bahasa Yeresiam di sebelah barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Napiti merupakan sebuah bahasa jika dibandingkan dengan Bahasa Napiti Pantai-Busama (Napiti Pantai), Bahasa Miere, dan Bahasa Yeresiam di Provinsi Papua Barat dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100%.

Bahasa Napiti Pantai-Busama (Napiti Pantai) dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Bamana (Warifi) dan Boiya (Lakahia), Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Napiti Pantai Warifi dan dialek Busama Boiya dengan persentase perbedaan sebesar 74%.

  1. Dialek Napiti Pantai Warifi dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Warifi, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.
  2. Dialek Busama Boiya dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Boiya, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Selain itu, masyarakat di |Kampung Warifi ada yang bertutur dalam Bahasa Yuafeta atau Girimora, sedangkan di |Kampung Boiya ada yang bertutur dalam Bahasa Yeresiam. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Napiti Pantai berbeda dengan Bahasa Napiti Pedalaman yang dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur |Kampung Warifi, yaitu |Kampung Hairapara, sedangkan di sebelah barat, yaitu |Kampung Siawatan adalah wilayah tutur Bahasa Koiwai. Sementara itu, di sebelah utara |Kampung Warifi, yaitu |Kampung Ure ialah wilayah tutur Bahasa Miere, sedangkan di sebelah selatan, yaitu |Kampung Boiya ialah wilayah tutur dialek Busama Boiya. Sementara itu, dialek Busama Boiya dituturkan pula oleh masyarakat di sebelah timur dan utara, di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Koiwai, di sebelah selatan berbatasan dengan lautan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Napiti Pantai-Busama (Napiti Pantai) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 96,50%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Napiti sebesar 96,50%, Bahasa Yeresiam Pedalaman sebesar 99,50%, dan Bahasa Air Matoa sebesar 98,50%.

Bahasa Numfor (Mansinam) dituturkan di |Kampung Mansinam, Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. |Kampung Mansinam merupakan kawasan pantai dengan penduduk sekitar 675 jiwa (175 keluarga). Mayoritas penduduk |Kampung Mansinam adalah etnik Numfor dan etnik-etnik minoritasnya bertutur bahasa-Bahasa Ambon, Bahasa Serui, dan Bahasa Biak. Di kampung ini juga dituturkan Bahasa Biak dan Bahasa Serui. Selain di |Kampung Mansinam, Bahasa Numfor (Mansinam) juga dituturkan di kampung-kampung Kwawi, Kenari Tinggi, dan Arkuki. Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa Bahasa Numfor merupakan dialek dari Bahasa Biak.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Numfor (Mansinam) merupakan bahasa tersendiri yang berbeda dengan enam bahasa lain yang ada di Papua Barat, yaitu Bahasa As, Bahasa Seget, Bahasa Kapora, Bahasa Inora, Bahasa Irires, dan Bahasa Mansim Borai.

Persentase perbedaan Bahasa Numfor (Mansinam) dengan bahasa-Bahasa As, Bahasa Kapora, dan Bahasa Irires sebesar 99%; Bahasa Seget dan Bahasa Inora 100%; dan Bahasa Marsim Borai 98%.

Bahasa Palamul dituturkan di |Kampung Sailolof, Distrik Salawati Selatan, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Bahasa Maya Missol, Bahasa Samate, Bahasa Raja Ampat, Bahasa Kolobo, dan Bahasa Seget (Moi). Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa |Kampung Kotlot yang terletak di sebelah timur |Kampung Sailolof masyarakatnya menuturkan Bahasa Moi dan |Kampung Durbatan di sebelah barat masyarakatnya menuturkan Bahasa Kalawal.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Palamul merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Seget 95,33%, Bahasa Esaro (Kawit) 100% , dan Bahasa Maya 93,33%.

Bahasa Pokoro dituturkan di |Kampung Temen Sosian, Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Bahasa itu dituturkan juga oleh masyarakat yang berdomisili di |Kampung Soan dan Danem. Dari segi situasi kebahasaan, di sebelah timur |Kampung Temen Sosian, yaitu |Kampung Siswa dituturkan Bahasa Mare, di sebelah barat, yaitu |Kampung Welek dituturkan Bahasa Pokoro, di sebelah utara, yaitu |Kampung Luwelala dituturkan Bahasa Abon, di sebelah selatan, yaitu |Kampung Segiyor dituturkan Bahasa Maibrat.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Bahasa Pokoro dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa As dan Bahasa Inora dikategorikan berbeda bahasa karena persentase perbedaan antara Bahasa Pokoro dan Bahasa As mencapai 98% dan Bahasa Inora 100%.

Bahasa Puragi-Saga dituturkan di |Kampung Puragi dan Saga, Distrik Matemani, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Bahasa Puragi-Saga terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Puragi dan dialek Saga dengan persentase perbedaan sebesar 76%.

Dialek Puragi dituturkan oleh masyarakat suku Iwaro yang bermukim di |Kampung Puragi, Distrik Matemani, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penuturnya, bahasa itu dituturkan oleh penduduk suku Iwaro yang mendiami beberapa kampung di wilayah utara, selatan, barat, dan timur |Kampung Puragi, antara lain, di |Kampung Tawanggire, Isogo, Bedare, dan Saga.

Dialek Saga dituturkan oleh masyarakat yang bermukim di |Kampung Saga, Distrik Matemani, Kabupaten Sorong Selatan, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. Selain di |Kampung Saga, dialek Saga juga digunakan oleh masyarakat yang tinggal di |Kampung Puragi, Bedare, dan Isogo. Sebelah timur dan barat |Kampung Saga berbatasan dengan |Kampung Atori yang masyarakatnya menggunakan Bahasa Kokoda. Sebelah utara |Kampung Saga berbatasan dengan |Kampung Kais yang masyarakatnya menggunakan Bahasa Kais, sedangkan sebelah selatan |Kampung Saga berbatasan dengan |Kampung Mate yang penduduknya berbahasa Inanwatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Puragi-Saga merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 98,5%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Kokoda, Bahasa Mugim, Bahasa Yahadian, dan Bahasa Inanwatan.

Bahasa Ron dituturkan oleh masyarakat |Kampung Kayob (Pulau Ron), Distrik Wasior Utara, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur sekitar 100 jiwa. Menurut pengakuan penduduk, semua kampung yang ada di sekitar |Kampung Kayob juga menuturkan Bahasa Ron.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ron merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 92,67%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Wandamen, Bahasa Roswar (Saref), dan Bahasa Dusner.

Bahasa Roswar (Saref) dituturkan di |Kampung Waprak, Distrik Roswar, Kabupaten Teluk Wandama, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang menggunakan Bahasa Roswar, yaitu |Kampung Nordiwar, Yomber, dan Syeiwar. Bahasa lain yang terdapat di |Kampung Waprak, yaitu Bahasa Wandamen dan Bahasa Wamesa. Menurut pengakuan penduduk, sebelah timur |Kampung Waprak adalah |Kampung Nordiwar, sebelah utara adalah |Kampung Yomber, dan sebelah selatan adalah Syeiwar.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Roswar merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Ron 92,67%, Bahasa Beser 96%, dan Bahasa Sumuri 98,67%.

Bahasa Sabakor (Buruwai) dituturkan di |Kampung Yarona, Distrik Kaimana, Kabupaten Buruway, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur sekitar 275 jiwa. Menurut pengakuan penduduk, semua kampung yang berada di sekitar |Kampung Yarona juga menuturkan Bahasa Sabakor (Buruwai).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sabakor (Buruwai) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan Bahasa Kamberau sebesar 96,5%, Bahasa Baham sebesar 99,25%, dan Bahasa Kowia 99,5%.

Bahasa Salafen Matbat dituturkan di |Kampung Salafen, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Salafen Matbat berbatasan dengan Bahasa Beser di sebelah timur yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Solal, Bahasa Matlow di sebelah barat yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Waigama, Bahasa Matbat di sebelah utara dan selatan yang dituturkan oleh masyarakat |Kampung Aduwei dan Kapacol.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Salafen Matbat merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Matlow, Bahasa Matbat, dan Bahasa Selegof.

Bahasa Salkma dituturkan di |Kampung Klamit, Distrik Salkma, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Bahasa lain yang terdapat di kampung itu adalah Bahasa Fkour, Bahasa Maybrat, dan Bahasa Tehit. Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa sebelah timur |Kampung Salkma adalah |Kampung Wandu yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Fkour, sebelah barat adalah kampung Klawak yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Salkma, sebelah utara adalah |Kampung Maulu S yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Madik, dan sebelah selatan adalah kampung Sasnek yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Tehit.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Salkma merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Fkour 94,33%, Bahasa Tehit 98,67% dan Bahasa Maybrat 99,67%.

Bahasa Samate dituturkan di |Kampung Samate, Distrik Salawati Utara, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Samate juga dituturkan oleh penduduk di sekitar |Kampung Yefman.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Samate merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan Bahasa Amber sebesar 95%, Bahasa Beser sebesar 92%, dan Bahasa Maya sebesar 91,75%.

Bahasa Seget dituturkan di |Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat dengan jumlah penutur sekitar 256 jiwa. Bahasa itu dituturkan juga oleh masyarakat yang berdomisili di |Kampung Malaban, Kasimle, Klayas, Wasinsan, Wayen Kede, dan Wawenagu.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Bahasa Seget dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa As dan Bahasa Pokoro dikategorikan berbeda bahasa karena persentase perbedaan antara Bahasa Seget dengan Bahasa As mencapai 98% dan Bahasa Pokoro 98%.

Bahasa Sekar-Onim dituturkan di |Kampung Sekar, Distrik Kokas dan |Kampung Patipi Pasir, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Sekar dan dialek Onim dengan persentase perbedaan sebesar 78,75%.

  1. Dialek Sekar dituturkan oleh masyarakat |Kampung Sekar, Distrik Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat.
  2. Dialek Onim dituturkan oleh masyarakat |Kampung Patipi Pasir, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat.

Menurut pengakuan penduduk, dialek Sekar juga dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di sebelah timur dan barat |Kampung Sekar, sedangkan di sebelah selatan adalah penutur Bahasa Iha. Sementara itu, wilayah tutur dialek Onim berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Iha di sebelah timur dan selatan, di sebelah barat berbatasan dengan lautan, di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Iha dan wilayah tutur dialek Onim.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sekar-Onim merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 94,5%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Iha dan Bahasa Baham.

Bahasa Selegof dituturkan di |Kampung Kalitoko, Distrik Teluk Manyalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Selagof juga dituturkan oleh masyarakat yang berada di sekitar |Kampung Keletoko.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Selagof merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Samate sebesar 96%, Bahasa Wardo sebesar 96%, Bahasa Maya sebesar 95%, Bahasa Kawei sebesar 95%, Bahasa Beser sebesar 98%, dan Bahasa Amber sebesar 93%.

Bahasa Somu (Toro) dituturkan di |Kampung Torowar, Distrik Wombu, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Selain di Torowar, Bahasa Somu (Toro) juga dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Orere, Semba, Oya, dan Unduraro. Sementara itu, di sebelah selatan Torowar adalah |Kampung Jawore yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Miere.

Bahasa Somu (Toro) masih memiliki penutur yang banyak, kurang lebih 300 orang. Anak-anak dan generasi mudanya juga masih menggunakan bahasa ini. Wilayah yang terpencil, sulit dijangkau, serta tidak adanya transportasi ke kota (kabupaten) membuat masyarakat Torowar jarang melakukan kontak dengan penutur bahasa lain, misalnya Bahasa Wandamen yang menjadi bahasa sehari-hari masyarakat Wasior, Teluk Wondama. Dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Teluk Wondama, misalnya dengan Bahasa Jamor, Bahasa Muri (Mer), Bahasa Kuri, dan Bahasa Waruri, isolek Somu (Toro) merupakan bahasa tersendiri.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara Bahasa Somu (Toro) dengan bahasa-bahasa tersebut 98,75%--100%. Persentase perbedaan antara Bahasa Somu (Toro) dengan Bahasa Jamor sebesar 100%, Bahasa Muri (Mer) sebesar 98,75%, Bahasa Kuri sebesar 99,5%, dan Bahasa Waruri sebesar 99,5%.

Bahasa Soon merupakan bagian kecil dari ratusan varian bahasa di Papua dan Papua Barat. Bahasa ini dituturkan oleh komunitas etnik Yesnath, Yewen, dan Titit yang mendiami di |Kampung Soon, Distrik Tinggouw, Kabupaten Tambrauw, Pulau Papua, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang juga menuturkan Bahasa Soon adalah |Kampung Snopi, Aibogiar, Rupaiwes, dan |Kampung Miri. Batasan wilayah tutur Bahasa Soon di |Kampung Soon sebelah timur dengan |Kampung Snopi berpenutur Bahasa Soon, sebelah barat dengan |Kampung Feep berpenutur Abun, sebelah utara dengan |Kampung Kwor berpenutur Abun, dan sebelah selatan dengan |Kampung Suswa berpenutur Mare.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Soon merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, dengan Bahasa Mor 99%, Bahasa Maybrat 93%, dan Bahasa Waruri 99,33%.

Bahasa Sou dituturkan di |Kampung Tembuni, Distrik Tembuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Sou berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Moskona di sebelah timur, wilayah tutur Bahasa Miak di sebelah barat, wilayah tutur Bahasa Arandai di sebelah utara, dan wilayah tutur Bahasa Warriagar di sebelah selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sou merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Moskona dan Bahasa Wandamen.

Bahasa Sough (Manikion) dituturkan di |Kampung Bamaha, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Sough (Manikion) juga dituturkan oleh masyarakat yang berada di sekitar |Kampung Bahama.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sough (Manikion) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 90%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Hatam sebesar 99,25%, Bahasa Moskona sebesar 99,25%, Bahasa Wandamen 99,75%, dan Bahasa Meyah 99,25%.

Bahasa Sough Bohon dituturkan oleh masyarakat |Kampung Siwi, Distrik Momiwaren, Kabupaten Monokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Bahasa Sough Bohon dituturkan juga di kampung-kampung Distrik Nenei, Tahota, dan Dataran Isim. Di sebelah utara |Kampung Siwi, yaitu |Kampung Ransiki dituturkan Bahasa Hatam, di sebelah timur, yaitu |Kampung Demini dituturkan Bahasa Sough Bohon, di sebelah selatan, yaitu |Kampung Nij dituturkan Bahasa Sough Bohon, di sebelah Barat, yaitu |Kampung Nenei dituturkan Bahasa Sough Bohon.

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Sough Bohon merupakan bahasa sendiri karena persentase perbedaannya dengan Bahasa Sough sebesar 91,25% dan Bahasa Meyah sebesar 99%.

Bahasa Tandia merupakan satu dari beberapa bahasa yang telah punah di Papua. Bahasa Tandia adalah bahasa yang dulu dituturkan di |Kampung Tandia, Distrik Rasie, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Dua penutur pria terakhir berbahasa Tandia telah meninggal dunia tahun 2001 dan 2002. Anak-anak penutur ini tidak lagi mengerti Bahasa Tandia. Menurut mereka, ketidaktahuan mereka terhadap Bahasa Tandia disebabkan oleh tidak adanya transmisi bahasa dari orang tua mereka. Hanya sedikit kosakata yang diketahui oleh anak-anak dari penutur ini. Dari sekitar 1.089 daftar kosakata yang ditanyakan kepada mereka, hanya 34 kosakata yang mereka ketahui, terdiri atas 23 kosakata dasar Swadesh, 11 kosakata budaya dasar, serta 7 buah kata bilangan. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tandia adalah Bahasa Wandamen yang digunakan oleh hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Wondama (Teluk Wondama). |Kampung Tandia berdekatan dengan kampung-kampung yang masyarakatnya juga menggunakan Bahasa Wandamen, yaitu |Kampung Wondi Boy, Sasirei, dan Webi. Sementara itu, sebelah barat Tandia adalah |Kampung Ambumi yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Waruri.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tandia merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain yang ada di sekitarnya, yaitu dengan Bahasa Wandamen, Bahasa Jamor, dan Bahasa Waruri.

Bahasa Tehit dituturkan di |Kampung Kelurahan Kohoin, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Tehit dituturkan juga di sebelah utara, timur, dan barat |Kampung Kohoin, sedangkan Bahasa Ogit dituturkan di sebelah selatan desa itu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tehit merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 95%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya. Misalnya, dengan Bahasa Tehit Dit 98%, Bahasa Maibrat sebesar 99,25%, Bahasa Kalabra sebesar 97,75%, dan Bahasa Moraid sebesar 97,25%.

Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua) dituturkan di |Kampung Wersar, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Selain di |Kampung Wersar, bahasa ini juga dituturkan di kampung-kampung lain antara lain di Sirbau, Keyen, dan Wermit. Bahasa Tehit Dit ini oleh masyarakat penuturnya juga disebut Tehit Tua. Selain Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua) , di |Kampung Wersar juga dituturkan Bahasa Ayamaru dan Bahasa Ogit. Letak |Kampung Wersar berada pada koordinat lintang 1°27'59.99" Lintang Selatan dan koordinat bujur 132°00'29.6" Bujur Timur.

Di sekeliling |Kampung Wersar dituturkan bahasa-bahasa lain. Sebelah timur |Kampung Wersar adalah |Kampung Wayer yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Maibrat, sebelah barat adalah |Kampung Sayal dan Seremuk yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Tehit Imyan dan Bahasa Tehit Saifi, sebelah utara adalah |Kampung Berau yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Moi, dan sebelah selatan adalah |Kampung Konda yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Ogit (Yaben).

Bahasa Tehit Dit dituturkan oleh ±508 orang penutur dari etnik atau suku Mlakya (Fam Konjol) dan suku Mlafle (Fam Thesia, Kondologit, dan Kemesok). Anak-anak sudah tidak menguasai lagi Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua). Ketika orang tua menggunakan Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua), anak-anak atau generasi muda hanya bisa mendengar; menjawab dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Papua.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua) merupakan bahasa sendiri dengan perbedaan leksikon dan fonologis sebesar 98% dengan Bahasa Tehit dan Bahasa Maibrat.

Bahasa Tepin dituturkan di |Kampung Solol, Distrik Salawati Barat, Kabupaten Raja Ampat, Pulau Salawati Utara, Provinsi Papua Barat. |Kampung itu terletak di pesisir pantai yang mayoritas penghuninya (99,9%) merupakan etnik Tepin. Selain di |Kampung Solol, Bahasa Tepin dituturkan juga di |Kampung Kalyam di sebelah barat, Kapatlap di sebelah timur, Kalobo, dan Waijan di sebelah selatan. Bahasa lain yang terdapat di |Kampung Solol adalah Bahasa Misol dan Bahasa Beser. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Tepin berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Batanta di sebelah utara (Kampung Yenanas).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tepin merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan lebih dari 82% jika dibandingkan dengan bahasa yang ada di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Ambel 96,75%, Bahasa Batanta 82,75%, Bahasa Esaro (Kawit) 88,5%, Bahasa Efpan 99,25%, dan Bahasa Moi Sigin 98,25%.

Bahasa Ure (Mere) dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Ure, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Ure (Mere) juga dituturkan di |Kampung Jabore. Sebelah timur |Kampung Ure adalah |Kampung Eserotnamba yang berbahasa Muri (Anairasi), sebelah barat adalah |Kampung Yaur yang berbahasa Yaur, sebelah utara adalah kampung Jabore yang berbahasa Ure, dan sebelah selatan adalah kampung Urubika yang berbahasa Napiti. |Kampung Ure berada pada koordinat lintang 03°40'63,2" dan koordinat bujur 134°52'19,3".

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Ure (Mere) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 99%--100% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Windesi 99%, Bahasa Gua 100%, Bahasa Napiti 100%, dan Bahasa Mpur Pantai 99%.

Bahasa Uruangnirin dituturkan di |Kampung Tuberwasa atau Nusa, Distrik Karas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Uruangnirin juga berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Uruangnirin di sebelah timur, utara, dan selatan, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur Bahasa Korkoraf.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Uruangnirin merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan Bahasa Baham, Bahasa Iha, dan Bahasa Sekar-Onim.

Bahasa Waliam dituturkan di |Kampung Waliam, Distrik Salawati Selatan, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. |Kampung lain yang menuturkan bahasa itu adalah |Kampung Sakapul dan Warsensan. Situasi kebahasaan menunjukkan bahwa |Kampung Warsensan yang terletak di sebelah timur |Kampung Waliam masyarakatnya menuturkan Bahasa Waliam, |Kampung Sakapul di sebelah barat masyarakatnya menuturkan Bahasa Waliam, |Kampung Wailem (Kalobo) di sebelah utara masyarakatnya menuturkan Bahasa Butlis, dan |Kampung Seget di sebelah selatan masyarakatnya menuturkan Bahasa Seget.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Waliam merupakan bahasa tersendiri karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Seget 96%, Bahasa Esaro (Kawit) 98,67%, dan Bahasa Efpan 100%.

Bahasa Wamesa dituturkan oleh masyarakat di antaranya di |Kampung Modan, Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. |Kampung-kampung lain di sekitar |Kampung Modan adalah Amutu, Kasira, Nusei, dan Irarutu III. Penutur bahasa ini dikelilingi oleh penutur bahasa-bahasa lain, di antaranya Irarutu, Bugis, Timor, dan Jawa.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Wamesa merupakan bahasa sendiri dengan perbedaan leksikon dan fonologis sebesar 94,25% dengan Bahasa Wandamen, 96% dengan Bahasa Kuri (Obo, Nabi) di Teluk Bintuni dan 98% dengan Bahasa Waruri di Distrik Kuri Mawesa.

Bahasa Wandamen dituturkan di |Kampung Wasior I, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, semua kampung di sekitar |Kampung Wasior juga menggunakan Bahasa Wandamen.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wandamen merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan Bahasa Dusner dan Bahasa Ron. Perbandingan dialektometri Bahasa Waandamen dengan Bahasa Wamesa persentase perbedaan sebesar 94,25%.

Bahasa Wardo dituturkan di |Kampung Boni, Distrik Warwarbomi Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur kampung itu juga digunakan Bahasa Wardo.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wardo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Samate, Bahasa Selegof, dan Bahasa Amber.

Bahasa Waruri (Ambumi) dituturkan di |Kampung Ambumi di Distrik Kuri Wamesa, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Oleh karena Bahasa Waruri dituturkan masyarakat di |Kampung Ambumi, bahasa ini juga dikenal dengan nama Bahasa Ambumi. Selain di Ambumi, Bahasa Waruri (Ambumi) juga dituturkan di |Kampung Yerenusi. Sebelah timur dan utara Ambumi adalah |Kampung Isei dan |Kampung Nanimori yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Wandamen, sebelah barat adalah |Kampung Simei yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Kuri, dan sebelah selatan adalah |Kampung Osimo yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Somu (Toro) dan Bahasa Mairasi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Waruri (Ambumi) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Jamor, Bahasa Somu (Toru), dan Bahasa Ron.

Bahasa Wau Arak dituturkan oleh masyarakat |Kampung Nariki, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Wau Arak dituturkan juga oleh masyarakat yang berada di |Kampung Nariki Omba, Etahina, Omba Pamuku, dan Urubika, sedangkan di sebelah timur, barat, utara, dan selatan |Kampung Nariki Lakahiya berbatasan dengan lautan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Wau Arak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Miere, Bahasa Yeresiam Kiruru, dan Bahasa Yuafeta.

Bahasa Windesi dituturkan oleh masyarakat di |Kampung Windesi, Distrik Windesi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk Bahasa Windesi juga dituturkan di |Kampung Anamesi, Sombokoro, Sondey, Warianggi, dan Yopmeos. Sebelah timur kampung Windesi adalah |Kampung Anamesi, sebelah barat adalah |Kampung Sombokoro, sebelah utara adalah kampung Warianggi, dan sebelah selatan adalah kampung Yopmeos. |Kampung Windesi berada pada koordinat lintang 00°34'64,5" dan koordinat bujur 133°09'86,1".

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Windesi merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 82%--99% jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Wamesa 82%, Bahasa Wandamen 87%, Bahasa Ure 99%, Bahasa Gua 99%, dan Bahasa Mpur Pantai 99%.

Bahasa Yaben dituturkan di kampung Wamargege, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Bahasa Yaben juga dituturkan oleh masyarakat |Kampung Konda di sebelah timur |Kampung Wamargege. Sementara itu, di sebelah utara berbatasan dengan |Kampung Teminabuan yang masyarakatnya berbahasa Tehit, dan di sebelah selatan berbatasan dengan kampung Metemani yang masyarakatnya berbahasa Imeyko.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yaben merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Tehit, Bahasa Tehit Dit (Tehit Tua), Bahasa Maibrat, dan Bahasa Kalabra.

Bahasa Yahadian-Mugim dituturkan di |Kampung Yahadian, Distrik Kais, dan masyarakat |Kampung Mugim, Distrik Matemani, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Distrik Matemani Kais merupakan pemekaran dari Distrik Inanwatan.

Menurut pengakuan penuturnya, bahasa itu dituturkan oleh penduduk suku Nerigo yang mendiami beberapa kampung di wilayah timur dan utara |Kampung Yahadian, yaitu di |Kampung Mugim dan Kais.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yahadian-Mugim merupakan sebuah bahasa jika dibandingkan dengan Bahasa Kais, Bahasa Kokoda, Bahasa Inanwatan, dan Bahasa Puragi-Saga. dengan persentase perbedaan sebesar 81%--100%.

Bahasa Yamueti

Bahasa Yeresiam Kiruru dituturkan di |Kampung Kiruru, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Pada umumnya, penduduk di kampung tersebut beretnik Miyere. Menurut pengakuan penduduk, Bahasa Yeresiam dituturkan juga di |Kampung Tahima, Erega, dan Yamor. Di sebelah timur dan selatan |Kampung Kiruru berbatasan dengan hutan, sedangkan di sebelah barat dan utara |Kampung tersebut berbatasan dengan Laut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yeresiam Kiruru merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan 94,5% dengan Bahasa Yeresiam, sebesar 94, 25% dengan Bahasa Yeresiam Pedalaman (Sirise), dan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Yuafeta, Bahasa Wan Arak, dan Bahasa Miere.

Bahasa Yeresiam Pedalaman (Sirise) dituturkan di |Kampung Wagoha, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. |Kampung Wagoha terletak di pedalaman yang penghuninya merupakan etnik Wagoha. Jumlah penutur Bahasa Yeresiam Pedalaman (Siri) di kampung ini lebih kurang lima belas jiwa. Menurut pengakuan penduduk, |Kampung Wagoha di sebelah timur berbatasan dengan |Kampung Urubika yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Napiti (dalam hal ini Bahasa Napiti Pedalaman), di sebelah barat berbatasan dengan |Kampung Wosokuno yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Mee, di sebelah utara berbatasan dengan |Kampung Ure yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Miere, dan di sebelah selatan berbatasan dengan |Kampung Etahima yang masyarakatnya menuturkan Bahasa Yeresiam Pedalaman.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yeresiam Pedalaman (Sirise) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 95,5% dengan Bahasa Yeresiam, sebesar 94,25% dengan Bahasa Yeresiam Kiruru, dan 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dengan Bahasa Girimora, Bahasa Air Matoa, dan Bahasa Napiti Pantai.

Bahasa Yuafeta dituturkan di |Kampung Bamana, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah barat |Kampung Bamana dituturkan Bahasa Yuafeta dan di sebelah utara dituturkan Bahasa Napiti.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Yuafeta merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya sebesar 81%--100%, misalnya dengan Bahasa Air Matoa, Bahasa Girimora, Bahasa Wau Arak, dan Bahasa Miere.


Referensi dan pranala luar

[sunting]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: