Lompat ke isi

Daftar bahasa di Jawa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bahasa Jawa[sunting]

Bahasa Jawa adalah bahasa yang tanah asalnya berada di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Jawa yang di antaranya tinggal di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten. Selain dituturkan di Pulau Jawa, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, seperti Lampung, Aceh, Riau, Kepulauan Riau (Kepri), Bengkulu, Jambi, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Bahkan Bahasa Jawa juga dituturkan di luar Indonesia.

Di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta[sunting]

Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang paling banyak dituturkan masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Bahasa Jawa di Pulau Jawa dituturkan oleh etnik Jawa yang di antaranya tinggal di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten. Selain dituturkan di Pulau Jawa, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, seperti Lampung, Aceh, Riau, Kepulauan Riau (Kepri), Bengkulu, Jambi, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Bahkan Bahasa Jawa juga dituturkan di luar Indonesia. Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi DIY merupakan Bahasa Jawa dialek Solo-Yogya. Dialek Solo-Yogya menyebar di seluruh DIY.

Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Jawa Tengah terdiri atas lima dialek, yaitu

  1. Dialek Solo-Yogya menyebar di seluruh DIY dan sebagian besar wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian timur yang meliputi empat eks-Karesidenan, yaitu Karesidenan Surakarta, Karesidenan Semarang, Karesidenan Kedu, dan Karesidenan Pati.
  2. Dialek Pekalongan dituturkan di Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang.
  3. Dialek Wonosobo dituturkan di Kabupaten Wonosobo, di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang; Desa Candirejo, Kecamatan Mojotengah; Desa Balekambang, Kecamatan Selomerto; Desa Rejosari, Kecamatan Kalikajar; Desa Jlamprang, Kecamatan Leksono; Desa Rogojati, Kecamatan Sukoharjo; Desa Beran, Kecamatan Kepil; dan Desa Karangsambung, Kecamatan Kalibawang.
  4. Dialek Tegal dituturkan masyarakat di Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes.
  5. Dialek Banyumas dituturkan masyarakat di Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Purbalingga.

Persentase perbedaan kelima dialek tersebut sekitar 60%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jawa yang dituturkan di Solo dan Yogya dibandingkan dengan Bahasa Jawa yang terdapat di wilayah lainnya di Indonesia memiliki perbedaan dialek dan subdialek.

  • Bahasa Jawa di Solo dan Yogya memiliki perbedaan dialek dengan Bahasa Jawa di Provinsi Riau (Kabupaten Indragirihulu), Provinsi Aceh, Provinsi Kalimantan Selatan, Lampung, Provinsi Jambi, Provinsi Bali (Kabupaten Buleleng), Provinsi Bengkulu (Kabupaten Rejang Lebong), Provinsi Sumatra Utara, Provinsi NTB, dan Provinsi Sulawesi Utara dengan persentase perbedaan berkisar 51%--80%,
  • Bahasa Jawa di Solo dan Yogya memiliki perbedaan subdialek dengan Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Kalimantan Timur berkisar 31%--50%.

Di Provinsi Jawa Timur[sunting]

Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Jawa Timur terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. Dialek Jawa Timur menyebar di sekitar Surabaya, ke arah timur sampai ke Jember, ke arah utara sampai Kabupaten Malang, dan ke arah Barat sampai Bojonegoro.
  2. Dialek Osing dituturkan di Kabupaten Banyuwangi, khususnya di kecamatan Banyuwangi, Srono, dan Kalipuro.
  3. Dialek Tengger dituturkan oleh masyarakat di Tengger, khususnya di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
  4. Dialek Solo-Yogya dituturkan oleh masyarakat di Madiun dan sekitarnya sampai ke arah barat (ke Jawa Tengah).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan keempat dialek itu berkisar 52%--64%.

Di Provinsi Jawa Barat dan Banten[sunting]

Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Jawa Barat dan Banten terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. Dialek Pantura dituturkan di sepanjang pesisir utara Jawa Barat dan Banten mulai dari timur sampai ke barat, yaitu Cirebon, Majalengka, Indramayu, Karawang, Subang, Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Serang. Secara historis, wilayah Pantura pada zaman dahulu merupakan jalur pendaratan pasukan Mataram yang hendak menyerang Belanda di Batavia. Sisa-sisa laskar Mataram itu kemudian ada yang tinggal dan menetap di pesisir utara Pulau Jawa dan membentuk komunitas dengan Bahasa Jawa Dialek Pantura.
  2. Dialek Cikoneng dituturkan oleh masyarakat di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan Dialek Pantura dan Cikoneng tersebut sebesar 55%.
  3. Dialek Cirebon dituturkan masyarakat di Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
  4. Dialek Ciamis dituturkan di tiga daerah di Kabupaten Ciamis, yaitu Desa Ratawangi, Kecamatan Banjarsari; Karangcengek, Desa Pamarican, Kecamatan Pamarican; Desa Sukanagara, Kecamatan Lakbok; dan Desa Mekarharja, Kecamatan Purwaharja, Kabupaten Kota Banjar. Kelompok penutur ini berbeda dengan kelompok penutur Bahasa Jawa lain yang berada di wilayah Pantura sebab secara geografis berada di daerah selatan Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Perbedaan wilayah geografis dengan kelompok pemakai Bahasa Jawa di wilayah Pantura menyebabkan banyak perbedaan leksikal dan fonologis sehingga membentuk dialek tersendiri.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51--60,75%.

Di luar Pulau Jawa[sunting]

Di luar wilayah Pulau Jawa, Bahasa Jawa merupakan subdialek atau dialek jika dibandingkan dengan dialek Solo-Yogya.

Di Provinsi Bali[sunting]

Bahasa Jawa yang terdapat di Bali dituturkan di Kabupaten Buleleng.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Jawa di Bali merupakan dialek yang berbeda dengan persentase perbedaan lebih dari 51% jika dibandingkan dengan Bahasa Jawa di Pulau Jawa terutama dialek Solo-Yogya. Isolek Jawa di Bali merupakan bahasa yang berbeda jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, seperti Bahasa Bali, Bahasa Melayu, Bahasa Madura, dan Sasak Bali.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat[sunting]

Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi NTB diidentifikasi memiliki tiga dialek, yaitu

  1. dialek Praya dituturkan di Pulau Lombok, tepatnya di Desa Praya, Kabupaten Lombok Tengah; Kelurahan Uma Sima, Kabupaten Sumbawa; Desa Songgaja, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu;
  2. dialek Sakra dituturkan di Desa Sakra, Kabupaten Lombok Timur; dan
  3. dialek Sepayung dituturkan di Desa Sepayung, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa.

Persentase perbedaan antartiga dialek tersebut berkisar antara 51%--79%. Selain itu, Bahasa Jawa yang berada di Provinsi NTB dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di DIY dan Surakarta dengan persentase perbedaan sebesar 60% (beda dialek).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Jawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan Bahasa Sasak, Bahasa Sumbawa (Samawa), dan Bahasa Bima (Mbojo).

Di Provinsi Kalimantan Selatan[sunting]

Bahasa Jawa di Kalimantan Selatan dituturkan antara lain di Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laututara, Kabupaten Kotabaru dan Desa Sari Mulya, Kecamatan Sungai Loban dan Desa Giri Mulya, Kecamatan Kuranji, Kabupaten Tanah Bumbu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, Bahasa Jawa yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Megasari yang dituturkan di Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laututara, Kabupaten Kotabaru;
  2. dialek Tanah Bumbu yang dituturkan di Desa Sari Mulya, Kecamatan Sungai Loban dan Desa Giri Mulya, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu.

Persentase perbedaan antardialek tersebut sebesar 59,14%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jawa merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 94--98% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, misalnya Bahasa Jawa dengan Bahasa Banjar, Bahasa Lawangan, Bahasa Bugis, dan Bahasa Berangas.

Di Provinsi Kalimantan Timur[sunting]

Di luar wilayah Pulau Jawa, Bahasa Jawa merupakan subdialek atau dialek jika dibandingkan dengan dialek Solo-Yogya. Perbedaan subdialek (42%) ditunjukkan oleh Bahasa Jawa di Provinsi Kalimantan Timur.

Bahasa Jawa dituturkan di Desa Segihan, Kecamatan Sebulu; Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kertanegara; Kelurahan Lamaru, Kecamatan Balikpapan Timur; dan Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kabupaten Balikpapan. Selain itu, Bahasa Jawa juga dituturkan di Desa Kayungo, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Bahasa Jawa yang dituturkan di Kalimantan Timur terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. dialek Segihan dituturkan di Desa Segihan, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kertanegara;
  2. dialek Ponoragan dituturkan di Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kertanegara;
  3. dialek Kayungo dituturkan di Desa Kayungo, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser;
  4. dialek Karang Joang dituturkan di Kelurahan Lamaru, Kecamatan Balikpapan Timur, dan Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kabupaten Balikpapan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antarkeempat dialek tersebut berkisar 55,5%--69,4%. Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Kalimantan Timur adalah bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang dituturkan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan persentase perbedaan 42% (beda subdialek).

Bahasa Jawa juga merupakan bahasa tersendiri dengan persentase perbedaan berkisar 90%--97% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya yang ada di Provinsi Kalimantan Timur. Misalnya perbedaan persentase antara Bahasa Jawa dengan Bahasa Punan Long Lamcin sebesar 95%; dengan Bahasa Basap sebesar 91,8%; dengan Bahasa Kenyah sebesar 93%; dengan Bahasa Segaai sebesar 97%; Bahasa Tunjung sebesar 92,8%; dengan Bahasa Bahau Ujoh Bilang sebesar 94%.

Di Provinsi Sulawesi Tenggara[sunting]

Penutur Bahasa Jawa di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dijumpai di daerah transmigran, yaitu di Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Muna, Kabupaten Buton, dan Kabupaten Bombana. Penutur Bahasa Jawa tersebut berasal dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Di daerah sebaran Bahasa Jawa di daerah transmigran tersebut terdapat bahasa penduduk asli, yaitu Bahasa Muna (di Kabupaten Muna), Bahasa Tolaki (di Kabupaten Konawe Selatan), dan bahasa pendatang lain, yaitu Sunda dan Bali (di Kabupaten Konawe Selatan).

Bahasa Jawa yang terdapat di Sulawesi Tenggara (Desa Bangun Sari, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna) merupakan bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang terdapat di Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan persentase perbedaan sebesar 60% (beda dialek). Sementara itu, Bahasa Jawa di Sulawesi Tenggara jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan Bahasa Muna dan Bahasa Tolaki memiliki perbedaan sebesar 81%--100%.

Di Provinsi Aceh[sunting]

Bahasa Jawa yang berada di wilayah Provinsi Aceh dituturkan di Desa Sidorejo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil; Desa Buket Pidie, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara; Desa Alue Ie Itam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur; dan Desa Purwodadi, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya.

Bahasa Jawa di Provinsi Aceh terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. dialek Sidorejo dituturkan di Desa Sidorejo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil;
  2. dialek Bukit Pidie dituturkan di Desa Buket Pidie, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara;
  3. dialek Alue Ie Itam dituturkan di Desa Alue Ie Itam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur; dan
  4. dialek Purwodadi dituturkan di Desa Purwodadi, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektrometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51%--80%. Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Aceh dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di Surakarta dan Yogyakarta sebagai Bahasa Jawa induknya dengan persentase perbedaan sebesar 60% (beda dialek). Isolek Jawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Aceh, Bahasa Devayan, Bahasa Gayo, Bahasa Sigulai, Bahasa Batak, dan Bahasa Nias.

Di Provinsi Sumatra Utara[sunting]

Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Sumatera Utara dituturkan di Kota Medan, Kota Binjai, Kec. Stabat, Kec. Binjai, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Desa Muka Paya, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat; Desa Sengon Sari, Kecamatan Aek Kuasan, Desa Buntu Pane, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan; Desa Kampung Pajak, Kecamatan NA IX-X, Kabupaten Labuhan Batu Utara; Desa Wonosari, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai; dan Desa Mayang, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun.

Bahasa Jawa di Provinsi Sumatra Utara terdiri atas sepuluh dialek, yaitu

  1. dialek Deli dituturkan di Kota Medan dan Kota Binjai
  2. dialek Bukit Mas dituturkan di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat;
  3. dialek Sengon Sari dituturkan di Desa Sengon Sari, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan;
  4. dialek Buntu Pane dituturkan di Desa Buntu Pane, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan;
  5. dialek Kampung Pajak dituturkan di Desa Kampung Pajak, Kecamatan NA IX-X, Kabupaten Labuhan Batu Utara;
  6. dialek Wonosari dituturkan di Desa Wonosari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang;
  7. dialek Tuntungan I dituturkan di Desa Tuntungan I, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang;
  8. dialek Naga Kesiangan dituturkan di Desa Naga Kesiangan, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai;
  9. dialek Mayang dituturkan di Desa Mayang, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun; dan
  10. dialek Muka Payang dituturkan di Desa Muka Paya, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kesepuluh dialek tersebut berkisar 51%--80%. Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Sumatra Utara dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di Surakarta dan Yogyakarta sebagai Bahasa Jawa induknya dengan persentase perbedaan sebesar 52% (beda dialek). Isolek/varietas bahasa Jawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Batak, Bahasa Melayu, Bahasa Gayo, Bahasa Minangkabau, dan Bahasa Nias.

Di Provinsi Jambi[sunting]

Di luar wilayah Pulau Jawa, Bahasa Jawa merupakan subdialek atau dialek jika dibandingkan dengan dialek Solo-Yogya. Perbedaan dialek (52--60%) terdapat dalam perbandingannya dengan Bahasa Jawa di Provinsi Jambi, Provinsi NTB, dan Provinsi Aceh.

Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Jambi dituturkan di Kelurahan Senyerang, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat; Desa Rantau Jaya, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Jabung Timur; Desa Pematang Kancil, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin; dan Desa Semaran, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun; Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun. Bahasa Jawa yang terdapat di Provinsi Jambi terdapat empat dialek yaitu,

  1. dialek Senyerang dituturkan di Kelurahan Senyerang, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat,
  2. dialek Rantau Jaya dituturkan di Desa Rantau Jaya, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Jabung Timur,
  3. dialek Pematang Kancil dituturkan di Desa Pematang Kancil, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin, dan
  4. dialek Semarandan dituturkan di Desa Semaran, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 58%--66,75%. Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Jambi dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di Surakarta dan Yogyakarta dengan persentase perbedaan sebesar 60% sehingga beda dialek.

Di Provinsi Sumatra Selatan[sunting]

Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Sumatera Selatan dituturkan di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Tembingtinggi, Kabupaten Empat Lawang dan Desa Sebubus, Kecamatan Air Kumbang serta Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan.

Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Sumatra Selatan diidentifikasi menjadi tiga dialek, yaitu

  1. Dialek Makarti Jaya dituturkan di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Tembingtinggi, Kabupaten Empat Lawang.
  2. Dialek Gelebak Dalam-Sebubus dituturkan di Desa Sebubus, Kecamatan Air Kumbang, Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin.
  3. Dialek Penyandingan dituturkan di Desa Penyandingan, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 51%--80%. Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Sumatra Selatan dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di Surakarta dan Yogyakarta dengan persentase perbedaan sebesar 60% sehingga beda dialek.

Di Provinsi Bengkulu[sunting]

Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Bengkulu dituturkan di Desa Tunggang, Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Bengkulu, Bahasa Rejang, dan Bahasa Enggano. Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Bengkulu dengan yang berada di Surakarta dan Yogyakarta, sebagai Bahasa Jawa induknya, merupakan bahasa yang sama dengan persentase perbedaan sebesar 68% sehingga berbeda dialek.

Di Provinsi Lampung[sunting]

Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Lampung dituturkan di Provinsi Lampung. Wilayah tutur Bahasa Jawa yang berada di Provinsi Lampung tersebar di beberapa wilayah, antara lain Desa Sri Dadi, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus; Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan; Desa Bumi Nabung, Kecamatan Bumi Nabung, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Sambikarto, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur; Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan; Kelurahan Tugu Sari, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat; Desa Bali Sadar Tengah, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan; Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Cimarias, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah; dan Desa Silidadi, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Jawa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Lampung dan Basemah. Bahasa Jawa di Provinsi Lampung dapat dikatakan sebagai bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa yang berada di Surakarta dan Yogyakarta dengan persentase perbedaan sebesar 61% sehingga berbeda dialek.

Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Bahasa Sunda[sunting]

Di Provinsi Jawa Barat[sunting]

Bahasa Sunda dituturkan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa bagian Barat, terutama di Jawa Barat. Selain di Jawa Barat, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sunda di wilayah Jawa Barat terbagi ke dalam dua dialek, yaitu (1) dialek [h] dan (2) dialek non-[h].

Persentase perbedaan antara kedua dialek itu 60%.

Dialek [h] dituturkan hampir di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat (kecuali wilayah pesisir utara), antara lain Majalengka, Bogor, Tasikmalaya, Kuningan, Bekasi, Garut, Ciamis, Sukabumi, Subang, Purwakarta, Sumedang, Cianjur, Karawang, Bandung, Bandung Barat, dan Cirebon. Dialek ini merupakan dialek standar karena di samping digunakan di pusat kekuasaan (ibukota provinsi), sebaran geografisnya luas, jumlah penuturnya lebih besar, juga digunakan dalam media massa cetak dan elektronik. Dialek ini terdapat realisasi bunyi [h] di segala posisi sebagaimana bahasa Sunda baku pada umumnya.

Berbeda halnya dengan dialek non-[h] yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Pareangirang, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, dialek ini tidak merealisasikan bunyi [h] di segala posisi. Bunyi [h] dalam dialek [h] bervariasi dengan bunyi [Ø] dalam dialek ini, misalnya untu? 'gigi'; EjO' 'hijau', idöh 'hitam', ujan 'hujan', dan sebagainya, di posisi tengah seperti pada bentuk: sa'a' 'siapa', pO'O' 'lupa', kCma'a' 'bagaimana', dan sebagainya, dan di posisi akhir seperti pada bentuk labu' 'jatuh', jau' 'jauh', uta' 'muntah'. Variasi bunyi [h] dengan bunyi [Ø] di segala posisi ini disebabkan oleh inovasi internal yang terjadi di dalam dialek tersebut.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Sunda di Provinsi Jawa Barat dengan bahasa Sunda yang tersebar di Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara, seluruhnya memiliki persentase perbedaan berkisar 51%--80% sehingga dikatakan beda dialek. Bahasa Sunda di Jawa Barat dengan bahasa Sunda di Provinsi DKI Jakarta memiliki persentase perbedaan 51,25%; Banten 60%; Jawa Tengah 56,50%; Lampung 50,50%; Bengkulu 71%; dan Sulawesi Tenggara 64,5%.

Di Provinsi DKI Jakarta[sunting]

Bahasa Sunda dituturkan oleh sebagian besar masyarakat Sunda di kawasan Pulau Jawa bagian barat. Di Provinsi DKI Jakarta, bahasa Sunda dituturkan di Pulau Lancang Besar, Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Administrasi Kepulauan Seribu dan di Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kota Jakarta Timur. Selain di daerah asalnya di Jawa Barat, bahasa Sunda dituturkan juga di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di Banten, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Sunda di Provinsi DKI Jakarta dengan bahasa Sunda di Jawa Barat memiliki persentase perbedaan 51,25% sehingga dikatakan beda dialek.

Di Provinsi Banten[sunting]

Bahasa Sunda dituturkan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa bagian Barat. Selain di Jawa Barat dan Banten, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sunda di wilayah Jawa Barat dan Banten terbagi ke dalam dua dialek, yaitu (1) Dialek [h] dituturkan hampir di seluruh wilayah Provinsi Banten (kecuali wilayah pesisir Utara), antara lain Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Serang, Lebak, dan Pandeglang. Dialek ini memiliki sebaran geografisnya luas, jumlah penuturnya lebih besar, juga digunakan dalam media massa cetak dan elektronik. Dialek ini terdapat realisasi bunyi [h] di segala posisi sebagaimana bahasa Sunda baku pada umumnya. (2) Dialek [o] dituturkan oleh masyarakat di dua daerah di Kabupaten Pandeglang, yaitu Desa Cibingbin, Kecamatan Cibaliung dan Desa Tembong, Kecamatan Carita. Dialek ini memiliki realisasi bunyi [o] yang konsisten, seperti pada bentuk: ngocor 'mengalir'; naon 'apa'; sato 'binatang' lojor 'panjang'; oray 'ular'. Pada umumnya, bahasa Sunda tidak merealisasikan bunyi [o], tetapi bunyi [O].

Persentase perbedaan antara kedua dialek itu sekitar 60%. Bahasa Sunda di Provinsi Banten memiliki persentase perbedaan yang berkisar 51%--80% (beda dialek) jika dibandingkan dengan bahasa Sunda yang tersebar di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara.

Di Provinsi Jawa Tengah[sunting]

Bahasa Sunda dituturkan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa bagian Barat. Selain di Jawa Barat dan Banten, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di Jawa Tengah, DKI Jakarta, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Utara. Di Provinsi Jawa Tengah, bahasa Sunda dituturkan di Desa Ciomas, Kecamatan Bantarkawung; Desa Cikakak, Kecamatan Banjarharjo; Desa Bandungsari, Kecamatan Banjarharjo; dan Desa Pabuaran, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes dan Desa Madura, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Sunda di Provinsi Jawa Barat dengan bahasa Sunda yang tersebar di Provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara, seluruhnya memiliki persentase perbedaan yang berkisar 51%--80% sehingga dikatakan beda dialek.

Di Provinsi Bengkulu[sunting]

Bahasa Sunda yang berada di Provinsi Bengkulu dituturkan di Desa Air Kopras, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sunda merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Bengkulu, Rejang, dan Enggano. Bahasa Sunda yang dituturkan di Provinsi Bengkulu dengan bahasa Sunda yang dituturkan di Provinsi Jawa Barat merupakan bahasa yang sama dengan persentase perbedaan 71%.

Di Provinsi Lampung[sunting]

Bahasa Sunda dituturkan oleh masyarakat di Desa Cimarias, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah dan Desa Sukapura, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sunda merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Lampung dan Basemah. Bahasa Sunda yang dituturkan di Provinsi Lampung dan yang berada di Provinsi Jawa Barat merupakan bahasa yang sama dengan persentase perbedaan 50,5% dan dengan bahasa Sunda di Bengkulu dengan persentase perbedaan 71%.

Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Bahasa Betawi[sunting]

Bahasa Betawi adalah sebuah bahasa asal pulau Jawa yang dituturkan oleh etnis Betawi, utamanya di wilayah Jakarta Raya dan sekitarnya. Bahasa Betawi terdiri dari dua dialek utama, yakni bahasa Betawi Baku (Betawi Kota) dan bahasa Betawi Ora.

Di Provinsi Daerah Khusus Jakarta[sunting]

Bahasa Betawi dituturkan di Provinsi Daerah Khusus Jakarta, yang terdiri dari lima wilayah kota administratif, yakni meliputi Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, dan Kota Jakarta Utara. Ada dua ragam bahasa Betawi utama yang dituturkan di provinsi ini:

  1. Betawi Baku (Betawi Kota)
    dituturkan terutama di wilayah Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Utara, dan sebagian Kota Jakarta Selatan.
  2. Betawi Ora
    dituturkan terutama di wilayah Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Barat, dan sebagian Kota Jakarta Selatan.

Di Provinsi Banten[sunting]

Bahasa Betawi dituturkan di Provinsi Banten. Beberapa daerah di Provinsi Banten dengan penutur bahasa Betawi dominan dapat ditemui di wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor. Ragam bahasa Betawi yang dituturkan di provinsi ini cenderung telah bercampur dengan kosakata bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Dua ragam bahasa Betawi yang dituturkan di provinsi ini, yaitu:

  1. Betawi Baku (Kota)
    dituturkan terutama di wilayah Kota Tangerang.
  2. Betawi Ora
    dituturkan terutama di wilayah Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor.

Provinsi Jawa Barat[sunting]

Bahasa Betawi dituturkan di Provinsi Jawa Barat. Ragam bahasa Betawi utama yang dituturkan di provinsi ini yakni bahasa Betawi Ora yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Jawa (khususnya bahasa Jawa Ngapak):

  1. Betawi Ora
    dituturkan terutama di wilayah Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bekasi.



Bahasa Madura[sunting]

Di Provinsi Jawa Timur[sunting]

Bahasa Madura merupakan bahasa yang berasal dari Pulau Madura. Bahasa ini tersebar di Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Selain itu, bahasa Madura juga tersebar di Kabupaten Malang, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, dan Pulau Bawean (Kabupaten Gresik). Kantong-kantong bahasa Madura yang lain juga ditemukan di pulau-pulau di luar Pulau Jawa, misalnya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Kalimantan Barat.

Bahasa Madura di Jawa Timur terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Pulau Madura dan (2) dialek Pulau Bawean dengan persentase perbedaan sebesar 53%.

Daerah sebaran geografis penutur dialek Pulau Madura tersebar di Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Malang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, dan Banyuwangi, sedangkan dialek Bawean hanya dituturkan di Kecamatan Sangkapura dan Tambak, Pulau Bawean.

Masyarakat Madura yang berada di Nusa Tenggara Barat tersebar di Kelurahan Brang Bara, Bugis, dan Desa Luar. Di Pulau Bali, komunitas penutur bahasa Madura ada di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Selain itu, masyarakat Madura juga terdapat di Desa Rasau, Kecamatan Sui Pinyuh, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Bahasa Madura bukan dialek dari bahasa lain di Indonesia. Hal ini telah dibuktikan melalui penghitungan dialektometri, bahasa Madura di Jawa Timur memiliki persentase perbedaan di atas 90% jika dibandingkan dengan bahasa Jawa, Bajo, dan Bali yang juga terdapat di Provinsi Jawa Timur.

Di Provinsi Bali[sunting]

Bahasa Madura merupakan bahasa yang berasal dari Pulau Madura. Bahasa ini tersebar di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Kalimantan Barat. Bahasa Madura di Pulau Bali dituturkan oleh masyarakat di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, bahasa Madura merupakan bahasa dengan persentase perbedaan di atas 90% jika dibandingkan dengan bahasa Bali, Melayu, Madura, dan Sasak Bali yang terdapat di Provinsi Bali. Hal itu membuktikan bahwa Bahasa Bali merupakan bahasa dan bukan dialek dari bahasa lain di Indonesia.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat[sunting]

Bahasa Madura merupakan bahasa yang bertanah asal di Pulau Madura. Di Provinsi NTB, bahasa Madura dituturkan di Pulau Sumbawa. Penutur bahasa itu tersebar di tiga wilayah Kabupaten Sumbawa, yaitu Kelurahan Brang Bara, Kelurahan Bugis, dan Desa Luar. Secara umum daerah-daerah tersebut terletak di wilayah perkotaan dengan topografi dataran. Jumlah etnik Madura yang berada di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2007 sebanyak 227 kepala keluarga (KK). Bahasa Madura yang dituturkan di Sumbawa berasal dari Dusun Cokolan, Desa Gigir, Kecamatan Belega, Bangkalan, Pulau Madura, dan beberapa daerah lain di Jawa Timur.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Madura di NTB terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Brang Bara yang dituturkan di Kelurahan Brang Bara, dialek Bugis yang dituturkan di Kelurahan Bugis, dan dialek Luar yang dituturkan di Desa Luar.

Persentase perbedaan antardialek tersebut berkisar antara 67,79%--80%. Sementara itu, bahasa Madura di NTB merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Sasak, bahasa Sumbawa (Samawa), dan bahasa Bima (Mbojo).

Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Bahasa Lampung Cikoneng[sunting]

Bahasa Lampung Cikoneng berasal dari Provinsi Lampung. Bahasa itu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Menurut pengakuan penduduk, nenek moyang mereka berasal dari daerah Kalianda di wilayah Lampung Selatan. Secara historis, Lampung dan Banten memiliki kedekatan khusus pada masa Kesultanan Banten dan secara geografis letak Banten dengan Lampung hanya dihubungkan oleh Selat Sunda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lampung di Kabupaten Serang dengan Bahasa Lampung di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan perbedaan bahasa dengan persentase di atas 81%. Bahasa Lampung ini dinamakan Bahasa Lampung Cikoneng. Istilah Cikoneng merujuk nama desa yang dijadikan sebagai daerah pengamatan.

Secara kualitatif, Bahasa Lampung Cikoneng memiliki ciri khas, yakni tidak ditemukan adanya realisasi bunyi [R] di semua posisi. Hal ini berbeda dengan Bahasa Lampung yang merealisasikan bunyi [R] dalam semua posisi, misalnya pada bentuk: Ruwa ~ ruwo 'dua'; jaRi ~ jari 'jari; gelaR ~ gelar 'nama'. Secara konsisten juga terdapat realisasi bunyi [o] pada posisi vokal akhir terbuka. Hal ini berbeda dengan Bahasa Lampung yang merealisasikan bunyi [a], misalnya pada bentuk: dada ~ dado 'dada'; paha ~ paho 'paha'; sapa ~ sapo 'siapa'. Bunyi [R] tidak dikenal oleh masyarakat di pulau Jawa dan perubahan bunyi [a]~[o] juga berhubungan dengan letak Desa Cikoneng yang merupakan enclave 'kantong' Bahasa Lampung di daerah pakai Bahasa Jawa.

Banyaknya pengaruh Bahasa Jawa menyebabkan bunyi [a] pada posisi vokal akhir terbuka berubah menjadi bunyi [o]. Pada awalnya Bahasa Lampung yang dituturkan oleh masyarakat pendatang dari Lampung itu sama dengan bahasa asalnya. Namun, dalam kurun waktu lebih dari lima puluh tahun banyak terjadi perubahan pada Bahasa Lampung yang dituturkan di Desa Cikoneng sehingga menjadi bahasa yang berbeda dengan bahasa asalnya.

Bahasa Tionghoa DKI Jakarta[sunting]

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Bahasa Tionghoa DKI Jakarta yang terdapat di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta dituturkan oleh masyarakat di Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Administrasi Jakarta Barat. Di Provinsi NTB, Bahasa Tionghoa dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Ampenan Tengah, Kota Mataram.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tionghoa di DKI Jakarta dan isolek Tionghoa di Ampenan, Provinsi NTB menunjukkan persentase perbedaan sebesar 88,75%. Isolek Tionghoa di DKI Jakarta disebut sebagai Bahasa Tionghoa dan isolek Tionghoa di Ampenan disebut sebagai Bahasa Tionghoa Ampenan. Bahasa Tionghoa di DKI Jakarta merupakan bahasa jika dibandingkan dengan bahasa lainnya yang ada di DKI Jakarta dengan persentase berkisar 81%--100%, misalnya Bahasa Betawi, Bahasa Sunda, dan Bahasa Jawa.


Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: