Daftar bahasa di Sumatra

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Bahasa Aceh[sunting]

Bahasa Aceh dituturkan di wilayah pesisir Provinsi Aceh yang terbentang dari Selat Malaka sampai ke pantai barat menghadap Lautan Hindia. Bahasa Aceh secara umum dipakai di Kota Langsa, Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan juga di daerah Kota Sabang. Sebagian penduduk Kabupaten Aceh Timur tepatnya di wilayah Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Barat tepatnya di Kecamatan Jaya, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, dan Nagan Raya juga menggunakan Bahasa Aceh.

Bahasa Aceh terdiri atas tiga dialek, yaitu

  1. dialek Baet Lambuot dituturkan di Kabupaten Aceh Besar dengan beberapa subdialek,
  2. dialek Mesjid Punteut dituturkan di wilayah Kecamatan Simpang Ulim, dan
  3. dialek Panthe Ketapang dituturkan di Kecamatan Jaya, wilayah Aceh bagian barat yang dikelilingi subdialek Baet Lambuot.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara dialek Mesjid Punteut dan dialek Panthe Ketapang sebesar 54%, antara dialek Baet Lambuot dan dialek Mesjid Punteut sebesar 51%, serta antara dialek Baet Lambuot dan dialek Panthe Ketapang sebesar 51%. Isolek Aceh merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Gayo, Bahasa Devayan, dan Bahasa Sigulai.

Bahasa Devayan[sunting]

Bahasa Devayan dituturkan di wilayah Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil (pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan) dan di Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Bahasa Devayan terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. dialek Singkil Pulo dituturkan di Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil dan
  2. dialek Lugu dituturkan di Kecamatan Simeulue Timur, Pulau Simeulue, berbatasan dengan Bahasa Sigulai di Ujung Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara dialek Singkil Pulo dengan dialek Lugu berkisar 51%--80%. Isolek Devayan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 82,75% jika dibandingkan dengan Bahasa Sigulai, Bahasa Gayo, dan Bahasa Aceh.

Bahasa Gayo[sunting]

Bahasa Gayo dituturkan di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara; Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang; Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues; Kecamatan Silih Nara, Laut Tawar, Bebesan, Bintang, dan Linge, Kabupaten Aceh Tengah; Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah (pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah); dan Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

Bahasa Gayo terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. dialek Sarah Raja dituturkan di wilayah Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Menurut pengakuan penduduk, dialek Sarah Raja berbatasan dengan dialek Kaloi di sebelah timur dan dialek Kuta Lintang di sebelah selatan,
  2. dialek Kaloi dituturkan di wilayah Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Wilayah tutur dialek Kaloi berbatasan dengan wilayah dialek Remesan di sebelah barat,
  3. dialek Kuta Lintang (Gayo Lues) dituturkan di wilayah Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Dialek ini disebut juga dialek Gayo Lues karena wilayah sebarannya berada di Kabupaten Gayo Lues. Wilayah sebaran dialek Kuta Lintang berbatasan dengan wilayah penggunaan Bahasa Batak di sebelah selatan dan dengan wilayah penggunaan dialek Remesan di sebelah utara, dan
  4. dialek Remesan dituturkan di Kecamatan Silih Nara, Laut Tawar, Bebesan, Bintang, dan Linge, Kabupaten Aceh Tengah dan Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah.

Bahasa Gayo dialek Kaloi juga dituturkan di wilayah Provinsi Sumatra Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51%--80%. Isolek Gayo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Aceh, Bahasa Batak, dan Bahasa Nias.

Bahasa Sigulai[sunting]

Bahasa Sigulai dituturkan di Desa Malasin, Kecamatan Simeulu Barat, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Menurut pengakuan penduduk, wilayah Bahasa Sigulai berbatasan dengan wilayah Bahasa Devayan di sebelah selatan Desa Malasin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sigulai merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan Bahasa Devayan sebesar 82,75%, Bahasa Gayo 81%, dan Bahasa Aceh 80%.

Bahasa Bengkulu[sunting]

Bahasa Bengkulu dituturkan di wilayah Kecamatan Ipuh, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu; Desa Pelalo, Desa Taba Tinggi daerah Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong; Desa Tanjung Betuah, Daerah Merpas, Bengkulu bagian Selatan; Daerah Kepahiang; Desa Ketahun (Air Lelangi) dan Muko-Muko Selatan; Kaur Selatan (Jembatan Dua dan Tanjung Bunga), Kaur Tengah (Lubuk Gung), Desa Gading Cempaka (Tanah Patah), Kota Bengkulu.

Bahasa Bengkulu di Provinsi Bengkulu memiliki sembilan dialek, yaitu

  1. Dialek Muko-Muko dituturkan di wilayah Muko-Muko Selatan dan Utara, Kecamatan Ipuh, Bengkulu bagian utara.
  2. Dialek Lembak I dituturkan di wilayah Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu.
  3. Dialek Lembak II dituturkan di wilayah Desa Pelalo, Desa Taba Tinggi daerah Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong.
  4. Dialek Nasal I dituturkan di wilayah Desa Tanjung Betuah, Bengkulu bagian Selatan.
  5. Dialek Nasal II dituturkan di wilayah Daerah Merpas, Bengkulu bagian selatan.
  6. Dialek Serawai-Pasemah dituturkan di wilayah Bengkulu bagian Selatan (Manna, Seginim, Pino Sukaraja, Seluma), Talo, Kaur Utara di Talang Jawi dan Padang Leban, Rejang Lebong tepatnya di daerah Kepahiang (Tapak Gedung).
  7. Dialek Pekal dituturkan di Desa Ketahun (Air Lelangi) dan Muko-Muko Selatan (Lubuk Talang).
  8. Dialek Kaur dituturkan di wilayah Kaur Selatan (Jembatan Dua dan Tanjung Bunga), Kaur Tengah (Lubuk Gung).
  9. Dialek Bengkulu Kota dituturkan di wilayah, Desa Gading Cempaka (Tanah Patah), Kota Bengkulu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bengkulu merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Enggano dan Bahasa Rejang, sedangkan berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kesembilan dialek Bahasa Bengkulu tersebut berkisar 54%--80%.

Isolek Muko-Muko dari segi dialektometri (bukti kuantitatif) mempunyai kedekatan dengan Bahasa Minangkabau, yaitu masih termasuk dialek Bahasa Minangkabau. Namun, karena persentasenya lebih tinggi jika dibandingkan Bahasa Minangkabau dan Bahasa Bengkulu, isolek Muko-Muko dapat dikatakan lebih dekat dengan Bahasa Bengkulu. Oleh karena itu, isolek ini dianggap sebagai variasi dialektal dari Bahasa Bengkulu. Di beberapa daerah lain di wilayah Muko-Muko terdapat bukti bahwa isolek yang dituturkan di daerah tersebut lebih dekat hubungannya ke Bahasa Minangkabau. Hal itu didukung oleh beberapa hasil penelitian, seperti penelitian Kasim dkk. (1987) dan Nadra dkk. (2006). Di samping itu, juga dinyatakan oleh Cipta (ed., 1999) dalam buku Sang Putri: Aspek Historis Syair Muko-Muko bahwa orang Muko-Muko berasal dari Minangkabau. Bukti lain yang mendukung adalah bahwa orang Muko-Muko menganut sistem kekerabatan matrilineal.

Bahasa Enggano[sunting]

Bahasa Enggano dituturkan di Desa Banjar Sari, Malakoni, dan Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Enggano merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Bengkulu dan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang[sunting]

Bahasa Rejang dituturkan di Desa Kuro Tidur, Kecamatan Arga Makmur, Desa Durian Amparan, Kecamatan Batik Nau, Kabupaten Bengkulu Utara; Desa Kelindang, Kecamatan Merigi Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah; Desa Kelilik Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang; Desa Pelabi, Kecamatan Lebong Utara, Desa Kesambe Lama, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong; Desa Embong, Kecamatan Uram Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Lebong Selatan, Desa Ujung Tanjung 1, Desa Ujung Tanjung II, Desa Ujung Tanjung III, Kecamatan Lebong Sakti, Kabupaten Lebong.

Bahasa Rejang yang berada di Provinsi Bengkulu memiliki lima dialek, yaitu

  1. Dialek Arga Makmur dituturkan di Desa Kuro Tidur, Kecamatan Arga Makmur, Desa Durian Amparan, Kecamatan Batik Nau, Bengkulu Utara dan Desa Kelindang, Kecamatan Merigi Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah.
  2. Dialek Curup dituturkan di Desa Kelilik Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang dan Desa Pagar Agung di Kecamatan Lebong Tengah, Kecamatan Berbani Ilir, dan Kecamatan Merigi Sakti.
  3. Dialek Kepahiang menyebar di Desa Embong, Kecamatan Uram Jaya; Desa Bandar Agung, Kecamatan Lebong Selatan; Desa Ujung Tanjung 1, Desa Ujung Tanjung II, Desa Ujung Tanjung III, Kecamatan Lebong Sakti, Kabupaten Lebong.
  4. Dialek Lebong Utara dituturkan di Desa Kesambe Lama, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong.
  5. Dialek Lebong Selatan dituturkan di Desa Pelabi, Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Rejang Lebong.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Rejang merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Bengkulu dan Bahasa Enggano, sedangkan berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut berkisar 51%--80%.

Bahasa Bajau Tungkal Satu[sunting]

Bahasa Bajau Tungkal Satu dituturkan di Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bajau Tungkal Satu merupakan sebuah bahasa dengan persentase berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Kerinci. Bahasa Bajau Tungkal Satu berbeda dengan Bahasa Bajo yang terdapat di Pulau Sulawesi dengan persentase perbedaan sebesar 85,5%.

Bahasa Kerinci[sunting]

Bahasa Kerinci dituturkan di Desa Pengasih Lama, Kecamatan Bukitkerman; Desa Koto Tuo Ujung Pasir, Desa Seleman, Kecamatan Danau Kerinci; Desa Hiang tinggi, Kecamatan Sitinjau Laut; Desa Koto Lebu dan Desa Koto Lolo, Kecamatan Pondong Tinggi; Desa Sungaiabu, Kecamatan Kerinci; Desa Belui, Kecamatan Air Hangat Timur; serta Desa Mukai Tinggi dan Desa Sung Betung Ilir, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur Bahasa Kerinci di sebelah timur berbatasan dengan wilayah Bahasa Melayu dialek Jambi; di sebelah barat berbatasan dengan Bahasa Minangkabau; di sebelah utara Bahasa Melayu dialek Bungo; di sebelah selatan berbatasan dengan Bahasa Bengkulu.

Bahasa Kerinci terdiri atas tujuh dialek, yaitu

  1. Dialek Gunung Raya dituturkan di Desa Pengasih Lama, Kecamatan Bukitkerman.
  2. Dialek Danau Kerinci dituturkan di Desa Koto Tuo Ujung Pasir, Kecamatan Danau Kerinci dan di Desa Seleman, Kecamatan Danau Kerinci.
  3. Dialek Sitinjau Laut dituturkan di Desa Hiang tinggi, Kecamatan Sitinjau Laut.
  4. Dialek Sungai Penuh dituturkan di Desa Koto Lebu, Kecamatan Pondong Tinggi dan Desa Koto Lolo.
  5. Dialek Pembantu Sungai Tutung dituturkan di Desa Sungaiabu, Kecamatan Kerinci.
  6. Dialek Belui Air Hangat dituturkan di Desa Belui, Kecamatan Air Hangat Timur.
  7. Dialek Gunung Kerinci dituturkan di Desa Mukai Tinggi serta Sung Betung Ilir Kecamatan Gunung Kerinci.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketujuh dialek tersebut berkisar 51%--65,50%. Isolek Kerinci merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Bengkulu dan Bahasa Minangkabau.

Bahasa Basemah[sunting]

Bahasa Basemah dituturkan di wilayah Desa Juku Batu, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kana; Desa Way Petai, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat; Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan; Desa Sungai Badak, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji; dan Desa Cabang Empat, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara.

Bahasa Basemah yang terdapat di Provinsi Lampung terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. Dialek Semende dituturkan di Desa Juku Batu, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan; Desa Pagar Alam Ulu Belu, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus; Desa Way Petai, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat.
  2. Dialek Palas Pasemah dituturkan di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.
  3. Dialek Pegagan dituturkan di Desa Sungai Badak, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji.
  4. Dialek Ogan dituturkan di Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan dan Desa Cabang Empat, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara.

Dari segi penamaan, tiga dari empat variasi dialektal Bahasa Basemah tersebut berasal dari penutur bahasa yang berbeda yang terdapat di Sumatra Selatan. Dialek Palas Pasemah berasal dari Bahasa Basemah, dialek Pegagan berasal dari Bahasa Pegagan, dan dialek Ogan diduga berasal dari Bahasa Ogan. Akibat interaksi antarpenutur bahasa itu di wilayah baru (Lampung) dengan bahasa lokal (setempat), bahasa itu berkembang ke arah lebih mirip sehingga antara satu dan yang lain menjadi beda dialek, bukan bahasa yang berbeda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Basemah merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan yang berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Lampung, sedangkan berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51%--80%.

Bahasa Lampung[sunting]

Bahasa Lampung dituturkan oleh masyarakat di wilayah Desa Belambangan, Kecamatan Abung Selatan, Desa Cahaya Negeri, Kecamatan Abung Barat, Desa Gunung Cahaya, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan; Desa Banjar Agung, Kecamatan Menggala, Desa Pulau Panggung, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara; Desa Bojong, Kecamatan Jabung, Desa Gedong Wani, Kecamatan Sukadana, Desa Gunung Batin Ilir, Kecamatan Terusan Nunyai, Desa Bumi Ratu, Kecamatan Gunung Sugih, Desa Segala Mider, Kecamatan Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Wana, Kecamatan Melinting, Desa Jepara, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Desa Kunyir, Kecamatan Kalianda, Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan; Desa Pasar Liwa, Kecamatan Sebalik Bukit, Desa Kotabesi, Kecamatan Batu Brak, Desa Batu Raja, Kecamatan Pesisir Utara, Desa Wayjambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Kabupaten Lampung Barat; Desa Banjaragung, Kecamatan Banjaragung, Kabupaten Tulang Bawang; Desa Negeri Olok Gading, Kecamatan Telukbetung Barat, Kabupaten Bandar Lampung; Desa Sukamernah, Kecamatan Gunung Alip, Desa Negeri Ratu, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus; Desa Suka Ratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu; dan Desa Pasar Pulau Pisang, Kecamatan Pulaupisang, Desa Wayjambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat; dan Desa Pampangan, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Bahasa Lampung terdiri atas empat dialek, yaitu

  1. Dialek Abung dituturkan di Desa Belambangan, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara; Desa Cahaya Negeri, Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara; Desa Gunung Cahaya, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Waykanan; Desa Banjar Agung, Kecamatan Menggala, Kabupaten Lampung Utara; Desa Bojong, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Gedong Wani, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Gunung Batin Ilir, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah; Desa Wana, Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur; Desa Jepara, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur; Desa Bumi Ratu, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah.
  2. Dialek Pesisir dituturkan di Desa Sukamernah, Kecamatan Gunung Alip, Kabupaten Tanggamus; Desa Suka Ratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu; Desa Negeri Ratu, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus; Desa Kunyir, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan; Desa Pasar Liwa, Kecamatan Sebalik Bukit, Kabupaten Lampung Barat; Desa Kotabesi, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat; Desa Banjaragung, Kecamatan Banjaragung, Kabupaten Tulang Bawang; Desa Batu Raja, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Lampung Barat; Desa Pasar Pulau Pisang, Kecamatan Pulaupisang, Kabupaten Pesisir Barat; Desa Wayjambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat; Desa Negeri Olok Gading, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung; Desa Pampangan, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.
  3. Dialek Pubian berada di Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, dan Desa Segala Mider, Kecamatan Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah.
  4. Dialek Komering berada di Desa Pulau Panggung, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara. Dialek Komering ini diduga berasal dari Bahasa Komering di Sumatra Selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lampung merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 86%--93,4% jika dibandingkan dengan Bahasa Jawa, Bahasa Bugis, Bahasa Bali, Bahasa Sunda, dan Bahasa Basemah. Persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 60,8%--76,2%. Dialek Abung dengan Pesisir mempunyai perbedaan sebesar 68%; dialek Abung dengan Pubian sebesar 74%; dialek Pesisir dengan Pubian sebesar 63%; dialek Abung dengan Komering sebesar 68%; dialek Pesisir dengan Komering sebesar 76,20%; dialek Pubian dengan Komering sebesar 60,8%.

Bahasa Mentawai[sunting]

Bahasa Mentawai dituturkan di Desa Monganpoula, Kecamatan Siberut Utara; Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan; dan Desa Sioban, Kecamatan Sipora, dan Desa Makalo, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat.

Bahasa Mentawai terdiri atas tiga dialek, yaitu

  1. dialek Siberut Utara dituturkan di Desa Monganpoula, Kecamatan Siberut Utara,
  2. dialek Siberut Selatan dituturkan di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, dan
  3. dialek Sipora Pagai dituturkan di Desa Sioban, Kecamatan Sipora, dan Desa Makalo, Kecamatan Pagai Selatan.

Dialek Sipora-Pagai merupakan dialek standar karena sebaran geografisnya paling luas dan paling banyak jumlah penuturnya serta berada di pusat pemerintahan kabupaten.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 51%--69%. Isolek Mentawai merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Batak dan Bahasa Minangkabau.

Bahasa Minangkabau[sunting]

Di Provinsi Sumatra Barat[sunting]

Bahasa Minangkabau di Provinsi Sumatra Barat terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Pasaman dituturkan di Kabupaten Pasaman Barat dan Pasaman, (2) dialek Agam-Tanah Datar dituturkan di Kabupaten Agam, Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Padang Pariaman, Solok, Kota Solok, Solok Selatan, dan Pesisir Selatan, (3) dialek Lima Puluh Kota dituturkan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh, Tanah Datar, Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, dan Dharmasraya, (4) dialek Koto Baru dituturkan di Kabupaten Dhamasraya, dan (5) dialek Pancung Soal dituturkan di Pesisir Selatan.

Dari kelima dialek tersebut, dialek Agam-Tanah Datar merupakan dialek dengan jumlah penutur terbanyak dan memiliki sebaran geografis yang terluas. Dialek ini digunakan sebagai bahasa Minangkabau umum di pusat kota Sumatra Barat dengan menghilangkan ciri-ciri dialektal (ciri-ciri kedaerahan) yang ada pada beberapa subdialek. Pada wilayah tutur bahasa ini juga terdapat bahasa lain, yaitu bahasa Batak dialek Mandailing yang terdapat di bagian utara Provinsi Sumatra Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut berkisar 51%--69%. Isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Batak dan Mentawai.

Bahasa Minangkabau juga dituturkan di wilayah provinsi lain, yaitu Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu. Bahasa Minangkabau di Provinsi Aceh terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Tamiang, (2) dialek Sunting, dan (3) dialek Aneuk Jamee.

Bahasa Minangkabau di Provinsi Riau terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Rokan, (2) dialek Kampar, (3) dialek Basilam, (4) dialek Indragiri, dan (5) dialek Kuantan

Di Provinsi Sumatra Utara[sunting]

Bahasa Minangkabau dituturkan di Desa Panggautan, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal dan Kelurahan Sorkam Kanan, Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan bahasa Minangkabau dengan dialek Natal berkisar 55,75% dan dengan dialek Sorkam berkisar 71%. Dialek Sorkam (Sumatra Utara) merupakan varian dari bahasa Minangkabau. Dialek ini memiliki kedekatan dengan beberapa dialek Melayu di Sumatra Utara, misalnya dengan dialek Melayu di Desa Asahan Mati, Tanjung Balai sebesar 55,25%. Hal itu berarti secara linguistik, dialek Sorkam lebih dekat dengan bahasa Melayu di Asahan Mati, Tanjung Balai. Isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Batak, Jawa, Gayo, Melayu, dan Nias.

Di Provinsi Aceh[sunting]

Bahasa Minangkabau yang berada di wilayah Provinsi Aceh dituturkan di Desa Seruway/Peukan, Kecamatan Seruway; Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang; Desa Pisang, Kecamatan Labuhan Haji; Desa Lubuk Kayu, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan; Desa Gosong Telaga Barat, Desa Gosong Telaga Timur; Desa Gosong Telaga Utara; Desa Gosong Telaga Selatan, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil; dan Desa Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh.

Bahasa Minangkabau di Provinsi Aceh terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Tamiang dituturkan di Desa Seruway/Peukan, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang; (2) dialek Sunting dituturkan di Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang; dan (3) dialek Aneuk Jamee dituturkan di Desa Pisang, Kecamatan Labuhan Haji; Desa Lubuk Kayu, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan; Desa Gosong Telaga Barat, Desa Gosong Telaga Timur, Desa Gosong Telaga Utara, Desa Gosong Telaga Selatan, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil; dan Desa Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektrometri, persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 51%--80%. Persentase perbedaan bahasa Minangkabau dengan dialeksebarannya di luar Sumatra Barat seperti dengan dialek Aneuk Jamee di Aceh sebesar 56,50%. Isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Aceh, Devayan, Gayo, Sigulai, dan Nias.

Di Provinsi Riau[sunting]

Bahasa Minangkabau yang berada di Provinsi Riau dituturkan di Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kuantan Singigi (Kuansing), Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kabupaten Indragiri Hulu. Bahasa Minangkabau di Provinsi Riau terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Rokan dituturkan di Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu, (2) dialek Kampar dituturkan di Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Kota Pekanbaru, Pelalawan, Kuantan Singigi (Kuansing), dan Indragiri Hulu, (3) dialek Basilam dituturkan di Kabupaten Rokan Hilir, (4) dialek Indragiri dituturkan di Kabupatan Rokan Hulu, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir, dan (5) dialek Kuantan dituturkan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektrometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut berkisar 51%--69%. Selanjutnya, isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu, Batak, Bugis, dan Banjar.

Di Provinsi Jambi[sunting]

Bahasa Minangkabau yang berada di Provinsi Jambi dituturkan di Desa Pelawan, Kecamatan Pelawan; Desa Tanjung Raden, Kecamatan Danau Teluk; dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan bahasa Minangkabau dengan dialek sebarannya di luar Sumatra Barat, seperti dengan dialek Sarolangun di Jambi persentase perbedaan berkisar 62,25%. Isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu, Kerinci, dan Bajau Tungkal Satu.

Di Provinsi Bengkulu[sunting]

Bahasa Minangkabau yang berada di Provinsi Bengkulu dituturkan di Kabupaten Muko-Muko, Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan bahasa Minangkabau dengan dialek sebarannya di luar Sumatra Barat, seperti bahasa Minangkabau dengan dialek Muko-Muko di Bengkulu berkisar 65,48% sehingga berbeda dialek. Isolek Minangkabau merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Bengkulu, Rejang, dan Enggano.

Bahasa Komering[sunting]

Bahasa Komering dituturkan di wilayah Desa Negeri Batin, Desa Sriwangi, Kecamatan Semendawai Suku III; Desa Campang Tiga, Kecamatan Cempaka; Desa Sukaraja, Desa Pulau Negara, Kecamatan Lubuk Linggau Timur; Desa Batu Raja Bungin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU), Kabupaten Ogan Komering Ulu, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatra Selatan.

Bahasa Komering yang terdapat di Provinsi Sumatra Selatan terdiri atas dua dialek, yaitu

  1. Dialek Pulau Negara dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Sriwangi, Kecamatan Semendawai Suku III; Desa Campang Tiga, Kecamatan Cempaka; Desa Sukaraja, Desa Pulau Negara, Kecamatan Lubuk Linggau Timur; Desa Batu Raja Bungin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU).
  2. Dialek Aji dituturkan di Desa Negeri Batin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU).

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kedua dialek tersebut berkisar 51%--80%. Isolek Komering merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Pedamaran, Bahasa Ogan, Bahasa Melayu, Bahasa Lematang, dan Bahasa Kayu Agung.

Bahasa Lematang[sunting]

Bahasa Lematang dituturkan di wilayah Desa Serdang Menang, Desa Sungai Ceper, Desa Suka Cinta, Kabupaten Ogan Komering Ilir; Desa Ulak Kerbau Lama, Desa Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir; Desa Kota Dalam, Desa Muara Sindang Tengah, Desa Kuripan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur; Desa Gunung Megang, Desa Gedung Agung, Talang Akar, Kabupaten Lahat; Desa Muara Lematang, Desa Ujan Mas Lama, Desa Tanjung Raman, Desa Pagar Gunung, Desa Sugihan, Desa Jemenang, Desa Pajar Bulan, Kabupaten Muara Enim; Desa Rambutan, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatra Selatan.

Bahasa Lematang yang ada di Provinsi Sumatra Selatan, terdiri atas lima dialek, yaitu

  1. Dialek Pegagan dituturkan di Desa Serdang Menang, Desa Sungai Ceper, Desa Suka Cinta, Kabupaten Ogan Komering Ilir; Desa Ulak Kerbau Lama, Kabupaten Ogan Ilir, Desa Kota Dalam, Desa Muara Sindang Tengah, Desa Kuripan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur; Desa Pajar Bulan, Kabupaten Muara Enim; Desa Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir, dan Desa Gunung Megang, Kabupaten Lahat.
  2. Dialek Lematang Lahat dituturkan oleh penduduk Desa Gedung Agung, Talang Akar, Kabupaten Lahat; Desa Muara Lematang, Kabupaten Muara Enim.
  3. Dialek Lematang Ujan Mas Lama dituturkan oleh penduduk Desa Ujan Mas Lama, Kabupaten Muara Enim.
  4. Dialek Rambutan dituturkan oleh penduduk Desa Rambutan, Kabupaten Banyuasin.
  5. Dialek Rambang dituturkan oleh penduduk Desa Tanjung Raman, Desa Pagar Gunung, Desa Sugihan, Desa Jemenang, Kabupaten Muara Enim.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut berkisar 51%--80%. Isolek Lematang merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Kayu Agung, Bahasa Ogan, Bahasa Pademaran, Bahasa Komering, dan Bahasa Melayu.

Bahasa Ogan[sunting]

Bahasa Ogan dituturkan di Desa Karang Dapo, Kecamatan Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu; Desa Talang Akar, Kabupaten Muara Enim; Desa Simpang Bayat, Supat, Sindang Marga, dan Bumi Ayu, Kabupaten Musi Banyuasin; Kelurahan Bingin Teluk, Rantau Kadam, Lubuk Pandan, Muara Lakitan, Lubuk Besar, Kelurahan Lubuk Kupang, Kelurahan Batu Urip Kota Lubuk Linggau, Muara Kulam, dan Lesung Batu, Kabupaten Musi Rawas Utara; Desa Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir; Desa Peninjauan, Tanjung Dalam, Ulak Pandan, dan Belandang, Kabupaten Ogan Komering Ulu; dan Desa Pelabuh Dalam, Desa Parit, Sakatiga Seberang, Desa Tebing Gerinting Selatan dan Desa Tebing Gerinting Utara Nagasari dan Lubuk Tunggal, Kabupaten Ogan Ilir.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ogan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Komering, Bahasa Lematang, Bahasa Pedamaran, Bahasa Melayu, dan Bahasa Kayu Agung.

Bahasa Pedamaran[sunting]

Bahasa Pedamaran dituturkan di Desa Pedamaran 5, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Pedamaran merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Komering, Bahasa Lematang, Bahasa Melayu, Bahasa Ogan, dan Bahasa Kayu Agung.

Bahasa Kayu Agung[sunting]

Di Provinsi Sumatra Selatan[sunting]

Bahasa Kayu Agung dituturkan di wilayah Kecamatan Tanjungsakti Pumu, Kabupaten Lahat; Desa Landur, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang; Desa Rekimai Jaya, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim; Desa Pagar Dewa, Kecamatan Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur; Desa Pematang Panggang, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI); Desa Lubuk Karet, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin; Desa Gedung Agung, Jati, Gunung Kembang, dan Lubuk Layang Ulu, Kabupaten Lahat; Desa Niur Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang; Desa Talang Taling, Lembak, Lubuk Nipis, Seleman, Talang Akar, Kabupaten Muara Enim; Desa Tanjung Kurung, Provinsi Sumatra Selatan; Desa Telang, Epil, Rantau Panjang, Kelurahan Sukomoro, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA); Desa. Meranjat Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Kelurahan Pancur Pungah, Rantau Nipis, Blambangan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur; Desa Perigi, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OK); Desa Babatan Baru, Kecamatan Kikim Barat, Kabupaten Lahat; Desa Lubuk Rumbai, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas; dan Kelurahan Ngulak I dan Kelurahan Ngulak, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin.

Bahasa Kayu Agung yang terdapat di Sumatra Selatanterdapat sembilan dialek, yaitu (1) Dialek Lintang dituturkan di Kecamatan Tanjungsakti Pumu, Kabupaten Lahat; dan Desa Landur, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang. (2) Dialek Kimak dituturkan di Desa Rekimai Jaya, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim. (3) Dialek Pagar Dewa dituturkan di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. (4) Dialek Pematang dituturkan di Desa Pematang Panggang, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). (5) Dialek Penesak dituturkan di Desa Lubuk Karet, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin; Desa Gedung Agung, Jati, Gunung Kembang, dan Lubuk Layang Ulu, Kabupaten Lahat; Desa Niur Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang; Desa Talang Taling, Lembak, Lubuk Nipis, Seleman, Talang Akar, Kabupaten Muara Enim; Desa Tanjung Kurung, Provinsi Sumatra Selatan; Desa Telang, Epil, Rantau Panjang, Kelurahan Sukomoro, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA); Desa. Meranjat Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Kelurahan Pancur Pungah, Rantau Nipis, Blambangan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. (6) Dialek Kayu Agung Perigi dituturkan di Desa Perigi, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). (7) Dialek Kikim dituturkan di Desa Babatan Baru, Kecamatan Kikim Barat, Kabupaten Lahat. (8) Dialek Lubuk Rumbai yang dituturkan di Desa Lubuk Rumbai, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas. (9) Dialek Ngulak dituturkan di Kelurahan Ngulak I dan Kelurahan Ngulak, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kesembilan dialek tersebut berkisar 51%--80%. Isolek Kayu Agung merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81--100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu, Komering, Lematang, Ogan, Pedamaran, dan Melayu.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung[sunting]

Bahasa Kayu Agung yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dituturkan di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka dan di Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah. Bahasa Kayu Agung yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari atas dua dialek, yaitu (1) Dialek Kimak dituturkan di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. (2) Dialek Sarang Mandi dituturkan di Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kedua dialek tersebut berkisar 51%--80%. Sementara itu, isolek Kayu Agung merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu.

Bahasa Nias[sunting]

Bahasa Nias (Li Niha) dituturkan di Desa Simaluaya, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Desa Pasar Teluk Dalam, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan; Desa Hilimboe, Kecamatan Susua, Desa Olora, Kecamatan Gunung Sitoli Utara, Kota Gunungsitoli; dan Kelurahan Pasar Lahewa, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias. Orang Nias menyebut bahasa ini dengan nama Li Niha.

Bahasa Nias di Provinsi Sumatra Utara memiliki empat dialek, yaitu

  1. dialek Simaluaya dituturkan di Desa Simaluaya, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan;
  2. dialek Pasar Teluk Dalam dituturkan di Desa Pasar Teluk Dalam, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan;
  3. dialek Hilimboe dituturkan di Desa Hilimboe, Kecamatan Susua, Kabupaten Nias; dan
  4. dialek Nias Utara dituturkan di Desa Olora, Kecamatan Gunung Sitoli Utara, Kota Gunungsitoli dan Kelurahan Pasar Lahewa, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51%--69%. Isolek Nias merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan Bahasa Batak, Bahasa Jawa, Bahasa Gayo, Bahasa Minangkabau, dan Bahasa Melayu.

Bahasa Batak[sunting]

Di Provinsi Sumatra Utara[sunting]

Bahasa Batak dituturkan di Kabupaten Asahan, Kota Tanjung Balai, Kabupaten Simalungun (khususnya bagian pesisir barat), Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, dan bagian utara Kabupaten Deli Serdang. Bahasa Batak yang berada di Provinsi Sumatra Utara terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Toba dituturkan di Kabupaten Asahan, Kota Tanjung Balai, Kabupaten Simalungun (khususnya bagian pesisir barat), Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, dan bagian utara Kabupaten Deli Serdang, (2) dialek Mandailing dituturkan di bagian selatan Danau Toba, wilayah perbatasan Sumatra Barat (Kabupaten Pasaman Timur dan Barat), di daerah perbatasan Provinsi Riau (Kabupaten Rokan Hulu), dan di daerah perbatasan Provinsi Aceh, (3) dialek Simalungun dituturkan di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Tanjung Balai, (4) dialek Pakpak (Dairi) dituturkan di Kabupaten Dairi dan Kabupaten Tapanuli Utara, dan (5) dialek Karo dituturkan di Desa Parit Rindu, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat; Desa Samura, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo; Desa Pengambaten, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo; Desa Kutagaluh, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo; Desa Lau Kesumpat, Kecamatan Mardingding, Kabupaten Karo; Desa Lau Sireme, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi; Desa Suka Makmur, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang; Desa Kutalimbaru, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang; Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun; dan Desa Pasar VIII Namo Terasi, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat; dan Kota Medan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan bahasa Batak dialek Toba dengan dialek Simalungun memiliki persentase perbedaan sebesar 69,25%; dengan dialek Mandailing sebesar 71,25%; dan dialek Pakpak (Dairi) sebesar 75,25%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Batak merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya, dengan bahasa Gayo, Melayu, dan Nias.

Bahasa Batak juga dituturkan di wilayah provinsi lain. Bahasa Batak juga dituturkan di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Riau. Bahasa Batak yang dituturkan di Provinsi Aceh terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Alas, (2) dialek Angkola, (3) dialek Mandailing, (4) dialek Kluet, dan (5) dialek Dairi.

Bahasa Batak yang dituturkan di Provinsi Sumatra Barat dan Riau memiliki satu dialek, yaitu dialek Mandailing.

Di Provinsi Aceh[sunting]

Bahasa Batak dituturkan di desa Kampung Baru, Kecamatan Badar, Desa Pulo Sepang, Kecamatan Lawe Alas, Desa Kampung Melayu Gabungan, Kecamatan Babussalam, Desa Lawe Sigala Barat, Kecamatan Lawe Sigala-Gala, Kabupaten Aceh Tenggara; Desa Krueng Kluet, Kecamatan Kluet Utara dan Desa Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur, Aceh Selatan; Aceh Singkil; Simeulu, dan Desa Penanggalan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam.

Bahasa Batak di Provinsi Aceh terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Alas dituturkan di Desa Kampung Baru, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara dan Desa Pulo Sepang, Kecamatan Lawe Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, (2) dialek Angkola dituturkan di Desa Kampung Melayu Gabungan, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, (3) dialek Mandailing dituturkan di Desa Lawe Sigala Barat, Kecamatan Lawe Sigala-Gala, Kabupaten Aceh Tenggara, (4) dialek Kluet dituturkan di Desa Krueng Kluet, Kecamatan Kluet Utara dan Desa Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan dan (5) dialek Dairi dituturkan di Desa Penanggalan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektrometri, persentase perbedaan kelima dialek tersebut 51%--80%. Persentase perbedaan bahasa Batak dengan bahasa-bahasa sekitarnya berkisar 81%--100%. Sebagai contoh, bahasa Aceh, Devayan, Sigulai dan Gayo.

Di Provinsi Sumatra Barat[sunting]

Bahasa Batak yang berada di Provinsi Sumatera Barat dituturkan di Desa Simpang Tiga Cubadak, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Bahasa Batak yang digunakan di daerah ini adalah dialek Mandailing.

Persentase dialektometri antara dialek Mandailing yang berada di Provinsi Sumatra Utara dan di Provinsi Sumatra Barat sebesar 65,81%. Selanjutnya, berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Batak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Nias dan Melayu.

Di Provinsi Riau[sunting]

Bahasa Batak dialek Mandailing dituturkan di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Isolek Batak merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa Melayu dan Minangkabau.


Referensi dan pranala luar[sunting]

Wikipedia-logo.png
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: