Lompat ke isi

Romawi Kuno/Agama/Kultus Imperial

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pemujaan pemimpin

[sunting]
Pompeius

Jenderal Romawi Pompeius, ketika menaklukan Asia Barat sekitar 50 SM, merasa malu ketika menyadari bahwa orang-orang di sana menyembahnya sebagai dewa. Mereka berdatangan dari kota untuk berdoa padanya, bersujud di depannya, membuat patungnya dan menaruhnya di kuil, serta melakukan persembahan untuknya. Ketika Pompeius bertanya, mereka menjawab bahwa mereka sudah biasa menyembah penguasa sejak masa Aleksander Agung, sekitar 300 tahun sebelumnya.

Setelah Pompeius terbunuh dan Augustus berkuasa, Augustus membiarkan pemujaan kaisar berlanjut, sehingga orang-orang di Asia Barat dan Mesir terus menyembah kaisar Romawi sebagai dewa sampai nantinya mereka dikristenkan pada 300 M. Pada kenyataannya, penyembahan kaisar adalah salah satu tradisi pagan yang paling sulit dihilangkan dan baru benar-benar berhenti pada 400 M.

Kita mungkin akan merasa heran pada orang-orang yang menyembah manusia sebagai dewa, namun sebenarnya praktik ini tidak seaneh itu. Bangsa Romawi menyembah banyak dewa, beberapa dewa lebih kuat dari beberapa yang lain, namun tidak ada satupun dari dewa-dewa itu yang lebih berkuasa daripada Tuhan yang disembah oleh orang Muslim, Nasrani, atau Yahudi pada saat ini. Selain itu, banyak pula dewa yang kurang berkuasa. Karena itu kaisar dipercaya bisa mencapai derajat dewa. Bagi rakyat jelata, kaisar sama jauhnya dengan para dewa, kaisar sulit ditemui dan tidak sembarang orang bisa bertemu atau berbicara dengannya. Kaisar juga berkuasa, dia bisa mengirim makanan jika rakyat menderita kelaparan, dia bisa membangun kanal jika dibutuhkan, dia bisa membuat seluruh kota dihancurkan jika mau. Pada kenyataannya, dia melakukan semua hal tersebut lebih sering daripada para dewa. Karena itulah orang-orang menyembahnya.