Lompat ke isi

Romawi Kuno/Sejarah/Lima Kaisar Baik

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Ketika Domitianus dibunuh pada tahun 96 M, rakyat sangat takut itu akan seperti setelah pembunuhan Julius Caesar, atau setelah bunuh diri Nero, dan akan terjadi perang saudara lagi. Untuk menghadiri hal ini, Senat dengan cepat melakukan rapat dan memilih salah seorang senator menjadi kaisar.

Mereka memilih Nerva, seorang pria tua tanpa putra sehingga mengurangi kemungkinan adanya orang yang akan bernafsu terhadap tahtanya. Nerva tidak punya banyak waktu sebagai kaisar, karena dia meninggal pada tahun 98 M, setelah hanya menjabat selama dua tahun, namun dia memulai sistem baru untuk pemilihan kaisar berikutnya yang terbukti berjalan lebih baik; dia memilih seseorang yang menurutnya akan memerintah dengan baik, dan dia mengangkatnya sebagai putranya.

Nerva.

Orang yang diadopsi oleh Nerva adalah Trajanus, dan Trajanus menjadi kaisar Setelah Nerva meninggal. Trajan memerintah dengan baik. Dia memimpin pasukan Romawi menaklukan Dakia (Romania modern). Dakia memiliki banyak tambang emas, sehingga Romawi menjadi sangat kaya dengan banyaknya emas yang ditemukan di sana. Trajanus juga melarang agama Kristen. Kemudian Trajanus memimpin pasukan Romawi menuju Asia Barat, dan dia berhasil merebut banyak wilayah dari Parthia - hingga sejauh Babilon, tempat Aleksander Agung meninggal. Trajanus tidak memiliki putra dan dia nampaknya mengadopsi keponakannya sebagai putranya. Nama sang keponakan adalah Hadrianus.

Trajanus.

Ketika Trajanus meninggal, Hadrianus diangkat menajdi kaisar. Hadrianus tidak seterkenal Trajanus, karena tidak lama setelah Trajanus wafat, Hadrianus memutuskan bahwa Kekaisaran Romawi tidak mampu lagi menjaga semua wilayah di Asia Barat yang telah direbut oleh Trajanus. Akhirnya Hadrianus mengembalikan banyak wilayah tersebut kepada Parthia. Dia merasa bahwa biaya untuk mengurus wilayah-wilayah tersebut sangat mahal karena jaraknya yang jauh dari Roma. Tentu saja pasukan Romawi tidak senang dengan pengembalian wilayah yang telah mereka perjuangkan. Ditambah lagi Hadrianus tidak berusaha menaklukan tempat baru. Akibatnya pasukan menjadi bosan. Akan tetapi, Hadrian mampu menjaag kedamaian di Kekaisaran Romawi. Seperti halnya Nerva dan Trajanus, Hadrian tidak memiliki putra, dan dia pun mengangkat anak.

Hadrianus.

Setelah Hadrianus meninggal pada tahun 134 M, putra angkatnya, yaitu Antoninus, menjadi kaisar. Antoninus sering dipanggil Antoninus Pius (Antoninus Yang Saleh) karena dia amat tertarik pada masalah keagamaan dan suka melakukan hal yang dianggap benar oleh agama. Seperti Hadrianus, dia tidak terlibat dalam perang apapun. Dia lebih berfokus menjaga kedamaian di Kekaisaran Romawi. Seperti para pendahulunya, Antoninus mengadopsi seorang lelaki bernama Marcus Aurelius.

Antoninus Pius.

Marcus Aurelius adalah yang terakhir dari lima kaisar baik. Dia naik tahta setelah Antoninus Pius meninggal pada tahun 161 M. Seperti halnya Seneca dan banyak orang Romawi lainnya, Marcus Aurelius mempercayai filsafat Stoik. Salah satu hal pertama yang dia lakukan setelah menjadi kaisar adalah berusaha untuk membagi kekasaaan dengan adik angkatnya, Lucius Verus. Lucius Verus sendiri nampaknya tidak terlalu tertarik untuk memerintah. Namun Marcus Aurelius tetap memberinya sebagian kekuasaan untuk membuatnya tetap setia padanya.

Marcus Aurelius.

Tidak seperti para pendahulunya, masa pemerintahan Marcus Aurelius bukanlah masa yang damai. Segera setelah Antoninus Pius meninggal, Parthia menyerang bagian timur Kekaisaran Romawi. Mereka berharap Romawi sedang kacau akibat kematian kaisar mereka. Marcus Aurelius mengirim Lucius Verus, dengan sejumlah pasukan Barat, ke Timur untuk menghadapi Parthia, dan pada akhirnya pasukan Romawi berhasil menang.

Lucius Verus.

Seusai perang, Romawi mendapati bahwa mereka telah tertular wabah penyakit berbahaya dari orang Parthia. Tidak diketahui wabah apa itu, namun diduga itu adalah wabah cacar. Ketika pasukan Romawi pulang kembali ke Kekaisaran Romawi, mereka membuat wabah ini tersebar, dan akibatnya banyak orang yang tewas.

Di utara, orang-orang Jermanik yang tinggal di wilayah yang kini disebut Jerman dan Swiss mengamati bahwa banyak prajurit Romawi telah pergi, dan Kekaisaran Romawi terserang wabah. Mereka merasa bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk menyerang. Marcus Aurelius menghabiskan sebagian besar masa hidupnya memerangi suku-suku Jermanik dan berusaha membuat kesepakatan dengan mereka. Namun ketika hampir menang, dia meninggal. Dia meninggal pada usia 59 tahun pada bulan Maret tahun 180 M. Saat dia meninggal, Kekaisaran Romawi mulai mengalami kemiskinan akibat wabah dan biaya peperangan.