Abad Pertengahan/Sejarah/Tinggi/Kekaisaran Romawi Suci

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Jump to navigation Jump to search
<< Kekaisaran Romawi Suci Awal Kekaisaran Romawi Suci - Abad Pertengahan Kekaisaran Romawi Suci Akhir >>
Lambang Kekaisaran Romawi Suci
Heinrich IV

Setelah meninggalnya Heinrich III pada 1056 M, dan dengan dibantu oleh Raja Polandia, Paus merasa cukup kuat untuk membebaskan diri dari kendali para Kaisar Romawi Suci. Di bawah Heinrich IV, Paus bersikeras dipilih bahwa para pendeta dan uskup hanya melayani Paus dan tidak dapat dipilih oleh dapat oleh Kaisar. Heinrich IV ingin memilih uskupnya sendiri untuk membantunya memerintah kekaisarannya, namun Paus ingin para uskup hanya melayani gereja. Akibatnya Paus mengucilkan Heinrich IV. Supaya dapat kembali ke Gereja, Heinrich terpaksa melakukan penebusan kepada Paus, dengan cara berlutut bertelanjang kaki di tanah bersalju Canossa, Italia utara pada 1077 M.

Menjelang kematian Henry IV, putranya Heinrich V (yang menikahi Matilda dari Inggris) memberontak melawan ayahnya sendiri, dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan Paus. Akhirnya Heinrich IV dipaksa menyerahkan tahtanya kepada putranya. Tidak lama kemudian pada 1106 M, Heinrich IV meninggal.

Heinrich V

Meskipun Heinrich V kalah dalam suatu pertempuran penting melawan Raja Boleslaw dari Polandia pada 1109, ia dengan cepat mengumpulkan kekuatan. Heinrich V ternyata ingin memilih uskup, sama seperti ayahnya. Ia pun mulai menunjuk uskup yang ia mau. Paus tentu saja keberatan dengan tindakan tersebut. Puncaknya, Pada 1111 M Heinrich V bergerak menuju Italia dan menangkap Paus, meskipun kemudian membebaskannya setelah Paus beredia tunduk kepadanya. Akan tetapi pada 1112 M Paus melanggar janjinya, dan kemudian pada 1118 Paus yang baru, mengucilkan Heinrich V. Akhirnya pada 1122 M mereka mencapai kesepatan yang disebut Perjanjian Worms. Heinrich V tak memiliki putra, sehingga setelah ia meninggal pada 1125 M, para bangsawan Jerman memilih seorang kaisar baru bernama Lothair III.

Lothair III

Lothair III melaksanakan Perjanjain Woems, dan melancarkan kampanye di Italia seperti para raja Jerman lainnya. Namun posisinya lebih kuat, karena saat itu Polandia sedang terpecah menjadi banyak kerajaan kecil. Jadi Lothair III juga melancarkan peperangan untuk memperluas Jerman serta untuk memaksa Polandia dan Denmark tunduk kepada Jerman.

Conrad III adalah cucu Heinrich IV (melalui putri Heinrich, Agnes) dan naik tahta setelah meninggalnya Lothair III pada 1138 M. Conrad ikut serta dalam Perang Salib Kedua. Akan tetapi ia tidak mampu menguasai Italia meskipun terus berusaha. Rakyat Italia sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang berpihak pada Conrad dan merasa bahwa Kaisar Jerman layak memerintah Italia. Kelompok pertama ini dikenal sebagai Ghibelline. Kelompok yang kedua mendukung Paus dan tak ingin Italia dikuasai oleh Jerman. Mereka dikenal sebagai Guelf. Kelompok Guelf didukung oleh Roger II, Raja Norman di Sisilia, sehingga mereka dapat menang.

Friendrich Barbarossa

Akan tetapi pada 1152 M, keponakan Conrad, Friedrich Barbarossa (janggut merah) atau disebut juga Friefrich I, menjadi Kaisar Romawi Suci. Friedrich adalah seorang pemimpin yang cakap, dan ia bersikeras untuk menguasai Italia utara. Pada awalnya gagasan ini berjalan baik, namun akhirnya Friedrich terjerumus dalam perang saudara di Jerman melawan Heinrich Guelf, mantan kawannya. Rakyat Jerman, dan bahkan Italia, pun terbagi menjadi dua. Meskipun demikian Friedrich berhasil meneruskan kekuasaannnya dalam waktu yang lama hingga ia meninggal pada 1190 M akibat tenggelam di sebuah sungai pada Perang Salib Ketiga.

Setelah Friedrich meninggal putranya Heinrich VI naik tahta sebagai Kaisar Romawi Suci. Heinrich hanya memerintah selama tujuh tahun sebelum akhirnya meninggal dan diteruskan oleh putranya. Selama satu abad berikutnya, Para Kaisar Romawi Suci menghadapi banyak perang saudara kecil. Para kaisar tidak mampu mengendalikan seluruh Jerman, dan banyak count serta duke di Jerman yang berupaya untuk menggulingkan kekuasaan kaisar. Selain itu, para kaisar juga tidak mampu menguasai Italia.