Abad Pertengahan/Sejarah/Tinggi/Perang Salib

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pertempuran Ager Sanguinis

Perang Salib adalah serangkaian perang yang berlangsung di Asia kecil dan Levant antara 1095 dan 1291 M, yang mana bangsa-bangsa Eropa terlibat menggunakan propaganda perang ekspedisi keagamaan. Perang Salib Pertama diserukan oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama memulihkan akses kaum Nasrani menuju tempat-tempat suci di dan dekat Yerusalem. Latar belakang dari Perang Salib adalah Perang Arab-Bizantium selama berabad-abad dan kekalahan telak yang belum lama sebelumnya dialami pasukan Bizantium oleh Turk Seljuk di Manzikert pada 1071 M. Penakluk Norman, Robert Guiscard, yang menaklukan sejumlah wilayah Bizantium semakin menambah permasalahan Kekaisaran Bizantium. Dalam upaya mengatasi kedua bahaya ini, Kaisar Bizantium, Alexios I, berusaha menyatukan bangsa-bangsa Kristen melawan musuh bersama, meminta bantuan barat, dan pada gilirannya urbanus II menyeru para pemimpin barat untuk merebut kembali Tanah Suci.

Pasukan salib terdiri atas satuan militer Kristen dari seluruh Eropa Barat, dan tidak berada di bawah komando tunggal. Rangkaian utama Perang Slib, terutama melawan Muslim di Levant, terjadi antara 1095 dan 1291 M. Para sejarawan telah menunjukkan bahwa ada banyak perang salib yang sebelumnya telah dilancarkan. Setelah beberapa kesuksesan awal, rangkaian perang salib berikutnya gagal dan pasukan salib dikalahkan serta terpaksa pulang. Beberapa ratus ribu orang menjadi tentara salib dengan mengucapkan sumpah; kepausan memberi mereka indulgensi penuh. Lambang mereka adalah salib. Banyak tentara salib berasal dari Prancis dan menyebut diri sebagai "orang Franka," yang menjadi istilah umum di kalangan Muslim. Orang Eropa sejak lama menyebut penghuni Tanah Suci sebagai Sarasen, dan terus menggunakan istilah ini dalam artian buruk selama Perang Salib dan seringkali dalam buku-buku sejarah Eropa hingga abad ke-20.

Persaingan, baik di dalam kalangan Kristiani dan Muslim sendiri, berujung pada persekutuan antara faksi keagamaan melawan musuh mereka, misalnya persekutuan Kristen bersama Kesultanan Islam Rum pada Perang Salib Kelima.

Perang Salib memberikan pengaruh politik, ekonomi, dan sosial yang besar di Eropa barat. Konflik ini mengakibatkan melemahnya Kekaisaran Kristen Bizantium, yang beberapa abad kemudian ditaklukan oleh Turk Muslim. Reconquista, periode panjang peperangan di Spanyol dan Portugal (Iberia), di mana pasukan Kristen merebut kembali semenanjung di dari Muslim, amat berkaitan dengan Perang salib.